5 Pengendalian Erosi

BAGIAN 5
 PENGENDALIAN EROSI  PERTANIAN DAN  KEGUNAAN LAIN VETIVER

1. PENDAHULUAN

Pengalaman bertahun-tahun di banyak negara telah mengkonfirmasikan bahwa, meskipun para petani telah mengadopsi Vetiver untuk melestarikan lahan, penerapan tersebut pada awalnya bukan merupakan alasan utama mereka menggunakan Vetiver. Di Venezuela, misalnya, Vetiver pertama kali ditanam untuk pasokan bahan kerajinan tangan. Sesudah para pengrajin menyukai daun keringnya karena cantik dan mudah untuk dianyam, penerapan konservasi tanah dengan Vetiver jadi lebih mudah untuk diperkenalkan. Tanaman pagar Vetiver pertama kali dihargai di Kamerun sebagai penghalang untuk melindungi lahan dari ular, dan, di tempat lain, Vetiver digunakan untuk menunjukkan garis batas (pembatas dengan pohon sangatlah sulit) Di tempat lain, alasan pertama Vetiver diterima sebagai kendali hama di penyimpanan kacang-kacangan, dan kendali hama pengganggu batang jagung (Afrika Selatan)

Bagian ini membahas beberapa penerapan Vetiver yang paling sering dilakukan petani.

2. KONSERVASI TANAH DAN AIR UNTUK PRODUKSI PANEN BERKELANJUTAN

2.1 Prinsip-prinsip konservasi air dan tanah

Tujuan dari praktek konservasi tanah adalah untuk mengendalikan atau mengurangi erosi tanah yang disebabkan oleh air dan angin. Dalam kasus erosi air, partikel tanah pertama tama dilepaskan oleh volume air yang berlebihan/atau kecepatan   yang tinggi arus air. Erosi angin merupakan akibat dari kecepatan angin yang tinggi di permukaan tanah yang ‘gundul’.

Oleh karena itu tujuan utama dari praktek pengendalian erosi air adalah untuk melindungi permukaan tanah agar tidak terlepas karena dampak curah hujan, untuk mengurangi volume limpasan air dengan menggunakan penutup vegetatif, dan untuk mengendalikan atau memperlambat kecepatan arus. Kontur/pengalihan tepian (terasering) buatan mengalihkan limpasan air ke tempat yang aman, atau alur air, atau jaringan drainase. Pembatas vegetatif seperti pagar Vetiver yang ditanam melintangi lereng atau mengikuti kontur dapat mengendalikan limpasan, menyebarkannya dan memperlambatnya ketika dengan pelan memasuki tanaman pagarnya. Karena kekuatan erosi air dan tanah berbanding proporsional dengan kecepatan arus (kecepatan air yang menurun dan kekuatan angin), dasar utama dari konservasi tanah adalah untuk mengurangi kecepatan air dan angin. Ketika ditanam dengan benar, tanaman pagar Vetiver mampu mengendalikan air dan erosi angin.

Tujuan dari praktek konservasi air adalah untuk meningkatkan infiltrasi air ke badan tanah. Tujuan ini dapat dicapai yang paling mudah dengan penutup vegetatif, khususnya tanaman pagar. Ketika ditanam melintangi lereng atau di sepanjang kontur, tanaman pagar Vetiver yang lebat membentuk penghalang yang
bisa dimasuki air yang dengan pelan menyebarkan limpasan air dan mengurangi kecepatannya. Hal ini memberi lebih banyak waktu bagi tanah untuk menyerap air dan tanaman pagar untuk memerangkap sedimen.

2.2 Karakteristik Vetiver yang sesuai untuk praktek konservasi tanah dan air

Karakteristik unik Vetiver yang sangat penting untuk konservasi tanah dan air adalah:

  • Sistem akar yang mengikat tanah: dalam, menembus, masif, akar berserat.
  • Batang yang tegak dan kaku membentuk tanaman pagar lebat, efektif memperlambat dan menyebarkan arus air, mengurangi kekuatan erosinya.
  • Toleran terhadap segala macam kondisi tanah yang buruk dan tanah yang tidak subur, temasuk lingkungan sulfat asam, alkalin, salin, dan sodik.
  • Kemampuan untuk menahan perendaman yang berkepanjangan.
  • Kemampuan beradaptasi dengan berbagai macam iklim; mampu tumbuh  baik di pegunungan yang dingin di utara dan kondisi kering yang ekstrim di bukit pasir di daerah pesisir tengah.
  • Penggandaan secara vegetatif yang mudah.
  • Steliritas: berbunga tetapi tidak menghasilkan biji. Karena Vetiver (V.  zizanioides) tidak memiliki batang atas atau bawah tanah, dia akan berada  di tempat yang sama dimana dia ditanam dan tidak menjadi rumput liar.Tidak seperti V. nemoralis, tanaman asli Vietnam dan memproduksi benih  subur, V. Zizanioides steril dan memiliki sistem akar yang masif. Bagian 1  dari manual ini menggambarkan perbedaan signifikan antara dua spesies ini.
  • Sistem akarnya vertikal, pertumbuhan akar samping yang sangat kecil. Hal  ini memastikan bahwa tanaman, ketika ditumpangsari, biasanya tidak bersaing mendapatkan hara dan air dengan tanaman lainnya.

Bagian 1 dari buku pedoman ini membahas lebih rinci karakteristik Vetiver. Bagian  ini berfokus pada peran penting dalam pertanian yang diperankan oleh dua  karakteristik pertama: Sistem akar Vetiver yang mengikat tanah dan  kemampuannya untuk membentuk pagar tanaman lebat. Sistem akar Vetiver yang  kuat tidak tertandingi oleh tanaman lain yang digunakan untuk pengendalian erosi di pertanian.

Pada tanah datar dan berparit, dimana kecepatan air banjir bandang dapat  menghancurkan, akar Vetiver yang dalam dan kuat mencegah tanaman tidak tercabut. Rumput ini dapat menahan arus yang sangat kuat.

Selain mengurangi erosi pada permukaan tanah berlereng, akar Vetiver yang masif juga berkontribusi menstabilkan lereng. Sebagaimana digambarkan di Bagian 1, akarnya yang dalam dan berserabut mengurangi resiko longsor atau runtuh.

Batang Vetiver yang kaku membentuk tanaman pagar yang lebat yang mengurangi kecepatan air, memberi lebih banyak waktu bagi air untuk meresap ke dalam tanah, dan, ketika diperlukan, mengalihkan kelebihan limpasan air. Ini adalah prinsip kendali erosi ‘flow-through’ (dimana air terus menerus mengalir) untuk pertanian di dataran banjir dan juga di lereng curam di area dengan curah hujan tinggi.

2.3 Kontur tepian atau sistem teras dibanding sistem Vetiver flowthrough

Peninjauan dilakukan oleh World Bank untuk membandingkan efektivitas dan kepraktisan pada tanah yang berbeda dan sistem konservasi air. Ditemukan bahwa langkah-langkah yang perlu diambil adalah tindakan konstruksi yang harus disesuaikan dengan tempat dan memerlukan teknik dan rancangan yang rinci dan akurat. Selanjutnya, semua sistem perangkat keras memerlukan pemeliharaan rutin. Sebagian besar bukti juga menunjukkan bahwa pekerjaan konstruksi mengurangi hilangnya tanah tetapi tidak mengurangi limpasan air secara signifikan. Pada beberapa kasus, mereka memiliki dampak negatif terhadap kelembaban tanah (Grimshaw 1988). Di sisi lain, ketika ditanam melintangi lereng atau mengikuti kontur, sistem konservasi vegetatif membentuk pembatas pelindung di sepanjang lereng yang mengurangi limpasan air dan menimbun deposit sedimen. Karena pembatas hanya menyaring limpasannya dan sering tidak menyalurkannya, air menembus pagar tanaman, mencapai dasar lereng perlahan-lahan tanpa menyebabkan erosi dan tidak terkonsentrasi di satu area saja. Ini adalah sistem flowthrough (Greenfield 1989) Ada perbedaan yang mencolok dibanding sistem teras kontur/jalur air dimana limpasan air mengumpul pada teras dan dengan cepat dialihkan dari pertanian untuk mengurangi kemungkinan erosi. Karena semua limpasan air terkumpul dan terkonsentrasi di jalur air dimana sebagian erosi terjadi pada tanah pertanian, khususnya ladang berlereng, air akan selamanya hilang dari  pertanian. Sistem flow-through, disisi lain, menyimpan air dan melindungi tanah agar tidak menghilang ke jalur air. Gambar 1.

Praktek konservasi air ini sangat penting di daerah dengan curah hujan rendah seperti Central Highlands dan Pesisir Tengah Vietnam.

Idealnya, spesies yang digunakan sebagai penghalang untuk mengendalikan erosi dan sediman yang efektif harus memiliki fitur dibawah ini (Smith dan Srivastava 1989):

  • Membentuk pagar tanaman yang tegak, kaku dan lebat yang memiliki ketahanan  terhadap arus air permukaan dan memiliki akar yang luas dan dalam yang  mengikat tanah dan mencegah keluarnya air dari kanal buatan dan penghanyutan di dekat penghalang.
  • Mampu bertahan dari stres kelembaban dan hara dan tumbuh kembali dengan cepat sesudah hujan.
  • Meminimalkan berkurangnya hasil panen (penghalang tidak harus berkembang  biak menjadi rumput liar, tidak bersaing untuk kelembapan, hara, dan cahaya, dan tidak menjadi sarang hama dan penyakit).
  • Tidak perlu lebar untuk bisa efektif.
  • Dapat menjadi suplai bahan yang memiliki nilai ekonomis bagi petani.

Vetiver menunjukan semua karakteristik ini. Uniknya, Vetiver tumbuh subur dalam kondisi kering dan lembab, tumbuh di tanah berkondisi ekstrim dan bertahan di berbagai macam suhu (Grimshaw 1988).

2.4 Penerapan pada dataran banjir

VS adalah alat penting untuk mengendalikan erosi banjir di dataran banjir di sungai-sungai utama di Vietnam. Penggunaannya tidak terbatas pada Delta Sungai Merah di utara dan Delta Mekong di selatan. Penerapannya sangat penting di propinsi pesisir tengah, dimana banjir bandang sering terjadi dengan dampak yang merusak, seperti kasus bantaran sungai Liam di propinsi Nghe An.

Tanaman pagar Vetiver di dataran banjir:

  • Memperlambat arus yang dapat menahan tanaman, dan daya kikisan limpasan.
  • Memerangkap tanah aluvial yang subur, yang mempertahankan kesuburan dataran; dan
  • Meningkatkan infiltrasi air di daerah dengan curah hujan rendah seperti propinsi Ninh Thuan.

Penanaman jalur menggunakan sistem “flow-through” seperti yang disediakan tanaman pagar Vetiver, tidak mencegah lepasnya tanaman karena tidak mengurangi kecepatan limpasan. Tidak seperti pagar tanaman Vetiver, metode ini memerlukan urutan rotasi tanaman yang ketat, sehingga tidak bisa dilakukan selama musim kering karena tidak bisa ditanam. Penanaman jalur telah digunakan secara efektif pada dataran banjir di wilayah Darling Downs di Australia untuk mengurangi kerusakan karena banjir pada tanaman dan untuk mengendalikan erosi tanah pada lahan dengan kemiringan rendah yang mudah terkena banjir permukaan yang dalam.

Dalam uji coba skala besar di Jondaryan (Darling Downs, Queensland, Australia), enam baris Vetiver dengan total lebih dari 3000m (900 kaki) ditanam mengikuti kontur dengan jarak tanam 90m (180 kaki). Baris-baris ini menyediakan perlindungan dari air banjir secara permanen. Data yang dikumpulkan dari arus kecil di lokasi tersebut menunjukkan bahwa pagar tanaman dengan signifikan mengurangi kedalaman dan kekuatan air yang mengalir melaluinya. Pada depresi rendah, satu pagar tanaman memerangkap 7,25 ton sedimen. Hasil selama beberapa tahun terakhir, termasuk beberapa banjir besar menunjukkan bahwa VS dengan sukses mengurangi kecepatan banjir dan membatasi pergerakan tanah, dengan pengikisan yang sangat kecil pada strip yang kosong (Truong et al. 1996, Dalton et al. 1996a dan Dalton et al. 1996b). Percobaan ini menunjukkan bahwa VS adalah alternatif yang baik untuk praktek penanaman jalur pada dataran banjir di Australia.

2.5 Penerapan pada tanah berlereng

Di India penanaman pada lahan dengan kemiringan 1,7%, kontur pagar tanaman Vetiver mengurangi limpasan (berbanding dengan presentasi curah hujan) dari 23,3% (kontrol) menjadi 15,5% dan kehilangan tanah dari 14,4 t/ha menjadi 3,9 t/ha, dan panen sorgum meningkat dari 2,52 t/ha menjadi 2,88 t/ha selama waktu empat tahun. Peningkatan panen terutama terjadi pada konservasi tanah dan kelembaban di tempat asal (in situ) di seluruh toposekuen yang dilindungi oleh sistem pagar tanaman Vetiver (Truong 1993). Pada plot kecil di International Crops Research Institute for the Semi-Arid Tropics (ICRISAT), pagar tanaman Vetiver lebih efektif dalam mengendalikan limpasan dan kehilangan tanah dibanding tanaman serai atau stone bunds. Limpasan dari plot Vetiver hanya 44% dari plot kontrol dengan kemiringan 2,8% dan 16% untuk kemiringan 0,6%. Tercatat pengurangan limpasan rata-rata 69% dan tanah yang hilang berkurang 76% pada plot Vetiver, dibanding plot kontrol (Rao et al. 1992).

Di Nigeria, strip Vetiver ditanam pada tanah dengan kemiringan 6% di ujung 20m (60’) plot limpasan selama tiga musim tanam untuk menilai dampaknya terhadap hilangnya tanah dan air, retensi kelembapan tanah dan hasil panen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Vetiver menstabilkan tanah dan kondisi kimia sejauh 20m (60’) di belakang strip. Dibawah pengelolaan Vetiver, hasil panen cowpea meningkat antara 11 dan 26%, dan jagung meningkat 50%. Dibanding dengan 20m plot limpasan tanpa Vetiver (kontrol), hilangnya tanah 70% dan limpasan 130% lebih tinggi. Strip Vetiver meningkatkan kelembapan tanah antara 1,9% dan 50,1%, tergantung kedalamannya. Hara yang baik pada tanah yang terkikis pada plot kontrol terus menerus memburuk dibanding di plot Vetiver, yang juga meningkatkan efisiensi penggunaan nitrogen sebesar 40%. Penelitian ini menunjukkan guna pagar tanaman Vetiver sebagai tindakan konservasi tanah dan air pada lingkungan di Nigeria (Babola et al. 2003).

Hasil serupa telah dilaporkan dalam berbagai kemiringan, jenis tanah, dan jenis tanaman di Venezuela dan Indonesia. Di Natal, Afrika Selatan, pagar tanaman Vetiver telah menggantikan kontur tepian dan jalur air pada ladang tebu yang curam, dimana petani telah menyimpulkan bahwa sistem Vetiver adalah paling efektif membentuk konservasi tanah dan air serta dan murah dalam jangka panjang (Grimshaw 1993). Analisis biaya-keuntungan dilakukan di DAS Maheswaran, India dengan mempertimbangkan baik struktur buatan maupun pembatas vegetatif Vetiver. Sistem Vetiver disimpulkan lebih menguntungkan bahkan selama tahap awal karena efisiensi dan biayanya yang murah (Rao 1993).

Di Australia, Penelitian dan Pengembangan selama lebih dari 20 tahun terakhir membenarkan penemuan-penemuan di luar negeri, khususnya keefektifan Vetiver untuk konservasi tanah dan air, stabilisasi parit, rehabilitasi tanah yang kritis, dan memerangkap sedimen pada jalur air dan depresi. Selain itu, Vetiver telah membuktikan kegunaannya untuk:

  • Pengendalian erosi banjir pada dataran banjir di Darling Downs
  • Pengendalian erosi pada tanah asam sulfat
  • Pengganti kontur tepian pada ladang tebu yang curam di Queensland Utara.

Di Vietnam sebagian besar pengalaman pada lahan pertanian dengan sistem Vetiver didapat dari “proyek singkong”, (sebuah proyek Nippon Foundation: ‘Enhancing the Sustainability of Cassava-based Cropping Systems in Asia’, Peningkatan Keberlanjutan Sistem Tanaman Berbasis Ketela, di Cina, Thailand dan Vietnam, 1994-2003), dilaksanakan berkolaborasi dengan Thai Nguyen University of Agriculture and Forestry (TUAF), National Institute for Soil Fertility (NISF), dan VietNam Agricultural Science Institute (VASI, now VAAS). Proyek ini bekerja sama dengan petani di area pegunungan utara di Yen Bai, Tho, Tuyen Quang, dan Thai Nguyen, di bagian pegunungan propinsi Thua Thien Hue, dan barat daya. Catatan: Singkong (Manihot esculenta) adalah satu dari tanaman pokok paling penting di wilayah tropis yang lembab, tetapi sebagai tanaman berumbi yang biasanya ditanam dengan monokultur, ketela adalah tanaman yang paling erosif di negara berkembang. Karenanya penting untuk lebih memperkenalkan sistem produksi ketela yang berkelanjutan. Dalam proyek ini, petani menguji beberapa kombinasi tindakan termasuk: 1. tumpang sari (misal penanaman kontur dengan kacang tanah), 2. pengenalan terhadap perbaikan bahan penanaman (varietas lowbranching untuk mengurangi dampak hujan) dikombinasikan dengan meningkatnya pupuk (organik dan kimia), dan yang juga penting: 3. pagar tanaman anti-erosi, dan penerapan VS terbukti merupakan tindakan paling efektif untuk mengurangi hilangnya tanah (lihat proyek ketela CIAT)

Dampak hilangnya/terkikisnya tanah

Mengurangi hilangnya/terkikisnya tanah memiliki manfaat sendiri, mempertahankan kesuburan tanah pada pertanian, memiliki nilai sendiri bagi Vetiver, namun petanilah yang menilai penting tidaknya Vetiver. Ketika lahan pertanian mereka dalam, petani mungkin tidak menilai konservasi tanah karena memerlukan usaha dan menggunakan lahan pertanian mereka yang bernilai. Namun, saat pertanian di lahan berlereng menjadi lebih intensif, dan petani menggunakan pupuk kandang dan/atau pupuk kimia, kelebihan utama Vetiver bukan hanya mengurangi hilangnya tanah, tetapi juga mempertahankan kesuburan tanah dan mencegah aliran permukaan (Truong dan Loch, 2004). Di area yang lebih basah, sistem akar Vetiver yang dalam dan luas memiliki kelebihan tambahan: akar ini menyerap hara yang mudah larut yang (jika tidak terserap) akan hilang ke
lapisan tanah yang lebih dalam dan tidak tercapai (oleh akar). Hara ini akan kembali ke tanah ketika Vetiver dipotong dan digunakan sebagai mulsa, karenanya hara ini dapat didaur ulang.

Di wilayah pegunungan Vietnam utara, Tephrosia dan nanas liar secara tradisional telah digunakan sebagai tanaman pagar (kadang dikombinasikan dengan terasering) untuk mengurangi hilangnya tanah. Namun, efektivitas nanas liar cukup rendah. Batangnya yang tebal menciptakan bukit kecil yang dapat meningkatkan erosi dengan mengkonsentrasikan dan mendorong air melalui jarak sempit antar bukitbukit kecilnya. Tephrosia efektif hanya selama tanaman hidup subur; dia akan mati setelah dua atau tiga tahun. Pada lereng menengah, pagar tanaman Vetiver adalah alternatif yang bagus sebagai terasering tradisional, yang sering menjadi insentif tenaga kerja.

Dr. Pham Hong Duc Phuoc, Nong Lam University, memimpin penelitian dalam pengujian sifat konservasi tanah Vetiver di perkebunan kopi di lahan miring di propinsi Dong Ngai (barat daya Vietnam)

Di Indonesia pengenalan VS di pertanian sangat efektif melalui program pendidikan berkebun organik di sekolah. Di East Bali Poverty Project, Vetiver digunakan untuk pembentukan terasering alami di kebun sekolah, juga untuk melindungi sepanjang jalan pedesaan yang curam. Anak-anak kemudian memperkenalkan keahlian dan pengetahuan mereka kepada anggota keluarga di rumah.

 

2.6 Rancangan dan pengembangan: Pertimbangan para petani

Penggunaan Vetiver untuk mengendalikan erosi tanah telah membuat satu hal yang jelas: petani mempertimbangkan banyak faktor sebelum memutuskan apakah dan bagaimana menggunakan Vetiver (Agrifood Consulting International, March 2004). Petani peneliti (petani makmur yang disubsidi untuk melakukan uji coba) membantu memberi gambaran tentang alasan petani. Di antara kekawatiran mereka yang paling tinggi adalah adopsi varietas tanaman yang lebih baik dan pupuk kimia. Prioritas dan kemauan mereka untuk mengadopsi Vetiver sebagai metode konservasi tanah berbeda dengan petani non-subsidi.

Setelah petani memahami prinsip-prinsip Vetiver, dan memiliki kesempatan untuk menilai dampak jangka pendek dan jangka panjang VS, mereka lebih cenderung untuk mengadopsinya. Oleh karena itu, penting untuk menempatkan petani sebagai pusat pendekatan, dan mengantisipasi bahwa masing-masing akan menyesuaikan dengan pedoman (misalnya jarak tanam yang dianjurkan) agar sesuai dengan keadaan lahannya sendiri. Mengetahui hal ini, pekerja lapangan akan lebih mampu memberi saran kepada petani untuk memastikan keberhasilan sistem ini. Penggunaan input bersubsidi atau insentif material lainnya bagi para petani untuk berkolaborasi dalam percobaan VS tidak dianjurkan, karena bisa merusak hasil yang berkelanjutan.

‘Check-list’ berikut menjelaskan isu kunci yang petani pertimbangkan dalam memutuskan penerapan VS.

Check-list kelayakan adopsi Sistem Vetiver skala besar untuk Konservasi Tanah dan Air:

1. Seberapa pentingkah masalah erosi tanah?

  • Seberapa dalam profil tanahnya?
  • Seberapa terlihat hilangnya tanah bagi petani baik di lahan maupun di hilir?
  • Sejauh mana dan seberapakah nilai hilangnya tanah? Jika pupuk telah  diterapkan maka petani lebih bersedia untuk melakukan upaya untuk  melindungi investasi mereka, dan menolak kerugian (tanah) melalui limpasan  atau pelarutan ke lapisan yang lebih dalam (misalnya akar panjang Vetiver  dapat memulihkan Nitrogen yang dengan cepat melarutkan sampai lapisan terbawah yang tidak dapat dicapai)
  • Dengan kemiringan lereng dan tekstur tanah, seberapa rentan terhadap erosi tanah?
  • Bagaimana VS dibandingkan dengan metode kendali erosi lainnya yang tersedia  (misalnya, pembatasan kontur, garis kontur batu, mulsa plastik, dan varietas  tanaman yang memiliki dahan rendah, memiliki kanopi (tajuk) yang menutup dengan cepat)?

2. Seberapa pentingkah sistem tanam dibanding bagian lain dari lahan? Petani lebih tertarik untuk berinvestasi pada cara konservasi yang menghasilkan tanaman yang menguntungkan.

  • Seberapa besarkah nilai relatif sebidang tanah? (keinginan untuk investasi tenaga kerja, uang) dan
  • Bagaimanakah posisi petani secara umum? Berapa tenaga kerja/uang dia bisa  investasikan untuk plot ini? Apa yang bersaing dengan waktu dan uangnya (misalnya sawah atau pekerja diluar pertanian)?
  • Apakah petani yakin akan kepemilikan tanah agar mereka benar benar berusaha dengan baik?
  • Apakah jarak antara rumah dan ladang seimbang dengan investasi tenaga kerja?
  • Bisakah petani menggunakan Vetiver sebagai terapan komplemen/tambahan (lihat bab berikutnya)?

3. Apakah kebun bibit cukup luas untuk mengembangbiakkan atau jika tidak, untuk mendapatkan Vetiver?

4. Kebijakan apa yang menghalangi penerapan konservasi tanah dan air?

5. Batasan ekologi apa yang mempengaruhi penggunaan Vetiver? (misalnya. Vetiver tidak toleran terhadap keteduhan; ketika sudah bertumbuh, keteduhan bukan masalah besar lagi) Petani didesak untuk menguji, membandingkan dan mengkombinasikan Sistem Vetiver dengan cara konservasi tanah dan air yang lain.

3. PENERAPAN LAIN PADA PERTANIAN

3.1 Perlindungan tanaman: mengendalikan hama penggangu  batang jagung dan padi

Hama pengganggu batang menyerang jagung, sorgum, padi dan jawawut di Afrika  dan Asia. Larva/ngengat bertelur pada daun tanaman. Professor Johnnie van den  Berg, ahli serangga, (School of Environmental Sciences and Development,  Potchefstroom University, South Africa.) menemukan bahwa larva/ngengat lebih  menyukai untuk bertelur pada daun Vetiver yang ditanam disekitar tanaman,  ketimbang pada jagung atau padi. Karena itu, 90% telur dikeluarkan pada Vetiver, bukannya pada tanaman lainnya.

 

Karena daun Vetiver yang berambut, larva yang menetaskan telurnya tidak bisa  bergerak dengan mudah. Larva jatuh dari tanaman dan mati di tanah, dengan tingkat  kematian tinggi sekitar 90%. Vetiver juga menjadi sarang bagi serangga yang menguntungkan yang merupakan predator hama yang menyerang tanaman

Bekerjasama dengan Dr. van den Berg, Can Tho University saat ini sedang  mempelajari penerapan praktek pengaruh tersebut pada padi. Hasil awal menunjukkan hal yang menjanjikan.

3.2 Makanan hewan

Daun Vetiver merupakan makanan lezat bagi ternak sapi, kambing, dan domba.  Tabel 2 membandingkan nilai nutrisi Vetiver dibanding dengan rumput sub-tropis  di Australia. Vetiver muda cukup bergizi, sebenarnya sejajar dengan rumput  Rhodes dan Kikuyu dewasa. Tetapi, nilai nutrisi Vetiver dewasa rendah, dan  kekurangan protein kasar.  Sebuah penelitian di Vietnam (Nguyen Van Hon, 2004) menunjukkan bahwa  rumput Vetiver muda sebagian dapat menggantikan rumput Brachiaria mutica dewasa sebagai makanan untuk pertumbuhan kambing.

Daun Vetiver umumnya berguna untuk konservasi tanah dan air, bukan sebagai  rumput makanan ternak. Namun, Vetiver dapat ditanam sebagai makanan ternak  dalam kondisi tertentu. (lihat bagian 4.2, dimana Vetiver digunakan sebagai rehabilitasi tanah di propinsi Ninh Thuan). Tunas Vetiver bergizi ketika dipotong (dirapikan) dengan interval antara 1 dan 3 bulan, tergantung kondisi iklim.

Nutrisinya, seperti banyak rumput tropis, bervariasi tergantung musim, tahap  pertumbuhan dan kesuburan tanah.  Ketika Vetiver digunakan untuk keperluan lain, makanan ternak bisa menjadi nilai  tambah. Setelah musim dingin yang sangat buruk di propinsi Quang Binh, Vetiver  merupakan satu-satunya makanan hijau yang tersedia; suhu dingin telah membunuh  rumput lain. Lebih jauh, rumput Vetiver yang tumbuh pada limbah peternakan babi  memiliki tingkat protein kasar yang tinggi, protein karoten dan lutein, kandungan  relatif rendah Ca, Fe, Cu Mn dan Zn, dan tingkat logam berat Pb, As dan Cd yang bisa diterima (Pingxiang Liu 2003).

 3.3 Mulsa untuk mengendalikan rumput liar dan konservasi air tanah

Karena kandungan silika lebih tinggi dari rerumputan tropis lainnya, seperti  Imperata cylindrica tunas Vetiver perlu waktu lebih lama untuk terurai. Hal ini  membuat Vetiver ideal untuk mulsa dan atap (sebagai atap, Vetiver tidak ditempati serangga).

Pengendalian hama. Ketika tersebar merata di tanah, keseluruhan daun Vetiver  atau carutannya membentuk ‘tikar’ tebal yang menekan rumput liar. Mulsa Vetiver  berhasil mengendalikan rumput liar pada perkebunan kopi, dan kokoa di Central Highland dan perkebunan teh di India.

Konservasi air: Mulsa Vetiver yang tebal meningkatkan infiltrasi air dan  mengurangi penguapan, khususnya penting di kondisi panas dan kering seperti  propinsi pesisir Ninh Thuan. Mulsa Vetiver juga melindungi permukaan tanah dari dampak curah hujan, penyebab terbesar erosi tanah.

4. REHABILITASI LADANG DAN PERLINDUNGAN  TERHADAP MASYARAKAT PENGUNGSI BANJIR

4.1 Stabilisasi bukit pasir

Bukit pasir menutupi lebih dari 70,000 ha (172,974 acres) sepanjang pesisir  Vietnam Tengah. Bukit pasir ini berpindah-pindah karena pergerakan angin dan  sangat mudah terkikis selama musim hujan deras. Tanpa stabilisasi, pasir  menyerang lahan pertanian yang berharga, menghancurkan tanaman, dan  menyumbat sungai dan anak sungai. Petani lokal mengalami kerugian besar  karenanya. Metode tradisional untuk menghentikan pergerakan gundukan pasir,  yang meliputi penanaman pohon Casuarian dan nanas liar, dan membangun tanggul  kecil yang terbuat dari pasir tidak efektif. Penanaman Vetiver menawarkan solusi terbaik untuk saat ini.

Studi kasus berikut menggambarkan masalahnya: Di propinsi Quang Binh kaki  lereng bukit pasir benar-benar terkikis oleh arus sungai berkelok-kelok yang berfungsi sebagai pembatas alami antara bukit pasir dan pembibitan Forest

Enterprise. Arus yang memotong kaki lereng menggerakkan pasir,  mengumpulkannya pada ladang teririgasi di hilir. Para petani, yang berusaha untuk  mengubah pasir-sungai dengan tanggul yang terbuat dari gundukan pasir, hanya  berhasil untuk memindahkan masalah ini ke lahan pertanian lain. Situasi ini  menciptakan konflik diantara petani, dan, karena arus telah dipindahkan dari pembibitan menuju bukit pasir, konflik terjadi dengan Forestry Enterprise.

Empat baris Vetiver ditanam pada garis kontur sepanjang lereng bukit pasir, mulai  dari tepian sungai. Hanya setelah empat bulan Vetiver membentuk tanaman pagar  dan menstabilkan kaki bukit pasir. Forestry Enterprise sangat terkesan sehingga  memutuskan untuk menanam massal rumput ini di sisi lain dan bahkan  menggunakannya untuk melindungi penopang jembatan. Vetiver lebih jauh  mengejutkan penduduk lokal karena bertahan di musim dingin terdingin semenjak  10 tahun terakhir, ketika suhu turun sampai -10oC (50oF), memaksa petani untuk  menanam kembali padi dan Casuarinas mereka. Setelah dua tahun, spesies lokal  seperti Casuarinas dan nanas liar kembali tumbuh dengan baik. Rumputnya sendiri  pelan pelan menghilang karena terkena teduhan pohon pohon tersebut, dengan  menyelesaikan misinya. Proyek ini membuktikan bahwa dengan penanganan yang benar, Vetiver dapat bertahan dari cuaca dan iklim yang sangat tidak ramah.

Beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam menyikapi perlindungan bukit pasir:

1. Menilai dan merencanakan bersama-sama dengan masyarakat lokal sangatlah penting. Supaya masyarakat dapat:

i) Memberikan ide- ide yang berharga selama perencanaan
ii) Kontribusi finansial
iii) Menyediakan tenaga kerja untuk pelaksanaan
iv) Melindungi dan memelihara tanaman
v) Berguna dalam penumbuhan dan pemeliharaan ditempat penanaman

2. Melatih masyarakat lokal: Ketika mengajar masyarakat lokal tentang  penggandaan Vetiver, penanaman dan pemeliharaan, memberikan penjelasan tentang kegunaan lainnya (makanan ternak, kerajinan tangan)

3. Pengembangbiakan: Pembibitan lokal dapat dikontrak untuk
mengembangbiakkan menggunakan slip Vetiver.

4. Pemeliharaan dan pengawasan: Masyarakat lokal dapat mengawasi dan  memelihara penanaman. Pergantian tanah kering, terkadang mengubur atau  membuang rumput muda, jadi perawatan pada tahap awal sangatlah penting.

Foto 15 dan 16 menunjukkan pagar tanaman Vetiver pada bukit pasir di wilayah Le Thuy dan propinsi Quang Binh

Foto 17 menunjukkan bagaimana masyarakat lokal meluaskan apa yang mereka lakukan, dengan dukungan ahli hutan lokal.

Vetiver sangat efektif dalam mengurangi hembusan pasir. Untuk menggunakan ini,  rumput harus ditanam melintangi arah angin, khususnya melalui celah antara bukit  pasir, dimana kecepatan angin biasanya meningkat. Penggunaannya telah diuji pada  bukit pasir pesisir di Senegal (Foto 18), dan juga Pulau Pintang, diluar pantai Vhina Timur.

4.2 Peningkatan produktifitas pada tanah sodik berpasir dan salin dibawah kondisi semi-kering

Di Vietnam Tengah bagian selatan, Ninh Thuan dan Binh Thuan adalah dua  propinsi pesisir yang memiliki kondisi iklim yang sama. Meskipun keduanya  terletak di pesisir, tempat tersebut mengalami kondisi semi-kering, dengan curah  hujan tahunan antara 200-300mm (8-12”). Hal ini menimbulkan kekurangan air bersih yang buruk untuk tanaman dan makanan ternak.

“Tanah” di daerah bukit pasir pesisir adalah tanah salin, alkalin, dan sodik, dengan  lapisan Gipsum yang tipis (sodik-petrokalsik) tepat dibawah tanah permukaan.  Hasil pertanian di wilayah tersebut sangat terbatas, dikarenakan, sebagian, oleh  kondisi tanah yang buruk (permukaan gipsum dengan efektif menghalangi akar  menembus lapisan bawah yang lebih lembab) dan, sebagian dikarenakan kurangnya  curah hujan. Bukit pasir pesisir juga rentan terhadap erosi angin dan air ketika  hujan, sehingga menghasilkan vegetasi dan makanan ternak. Faktor ini manambah sulitnya hidup dan kemiskinan ekstrim bagi masyarakat lokal.

Dari 2003 sampai 2005, Professor Le Van Du dan murid-muridnya dari Ho Chi  Minh City Agro-Forestry University menanam Vetiver pada tanah salin sodik untuk  menentukan apakah Vetiver dapat meningkatkan produktifitas pertanian di kondisi  seperti gurun. Mereka belajar bahwa ditanam dengan irigasi pada awal penanaman,  Vetiver tumbuh sangat baik. Selama dua bulan pertama, Vetiver tumbuh dua sampai  tiga kali lebih cepat dari tanaman lainnya, menghasilkan 12 ton biomas segar pada  tanah berpasir non-salin (96% pasir) dan 25 ton pada tanah alkalik-sodik. Dalam  waktu tiga bulan, akarnya menembus 70cm (26,5”), melalui lapisan gipsum padat, mencapai tanah lembab yang tanaman seperti jagung lokal, anggur dan tanaman lain tidak bisa mencapai.

Para ilmuwan mencatat peningkatan besar dari kesuburan tanah setelah hanya tiga  bulan, khususnya setelah garam yang dapat larut dan pH banyak berkurang.  Meskipun pH tanah sangat sulit berubah selama penanaman anggur, setelah  penanaman Vetiver pH tanah menurun sampai 2 unit dari lapisan permukaan  sampai kedalaman 1m (3’), dan melarutkan kandungan garam. Pengurangan  kandungan natrium lebih dari setengah telah dengan dramatis meningkatkan produktifitas tanaman lokal seperti jagung dan anggur. Foto 19 dan 20.

4.3 Pengendalian erosi pada tanah asam sulfat yang ekstrim

Pengembangan pertanian dan aquakultur untuk wilayah tanah asam sulfat  membutuhkan irigasi dan sistem drainase yang efektif dan stabil. Penduduk di  daerah ini umumnya menggunakan tanah lokal (lempung tinggi, pH rendah,  toksisitas tinggi) untuk membangun infrastruktur, yang rentan terhadap erosi tanah  karena tidak dapat mendukung sebagian besar vegetasi. Karena asam sulfat adalah  zona topografi rendah dan rentan terkena banjir tahunan, masyarakat lokal mengalami kesulitan ekstrim.

Ditemukan di berbagai wilayah, tanah memiliki karakterisitik umum: asam sulfat  yang ekstrim, pH antara 2,0 dan 3,0 di musim kering, dan tingkat Al, Fe, dan SO4 yang tinggi. Kandungan lempung yang tinggi menyebabkannya retak ketika kering,  membuat lubang besar yang membuat air masuk, dan menyebabkan erosi selama  musim hujan dan banjir. Konsekuensinya, sangat sedikit tanaman endemik dapat  bertumbuh dan bertahan selama musim kering, termasuk yang dianggap sebagai spesies lokal yang toleran.

Vetiver telah menstabilkan tanggul dan mengendalikan erosi tepian kanal di lima  tempat berbeda pada tanah asam sulfat ekstrim di Vietnam: satu tanggul pelindung  banjir (melindungi kelompok pemukiman atau komunitas pengungsi banjir) di  propinsi Tien Giang, tiga di propinsi Long An, dan satu bagian tanggul perlindungan banjir di dekat Ho Chi Minh City.

Ditanam di dalam polibag, Vetiver telah tumbuh dalam tanah cukup baik. Meskipun  tidak ada Vetiver yang bertahan tumbuh ketika ditanam langsung ke tanah asam  sulfat yang menggunakan slip Vetiver, Tetapi lebih dari 80 persen Vetiver slip  bertahan dan tumbuh normal di tanah yang sama ketika ditambahkan dengan sedikit  gamping, tanah atas yang baik, atau pupuk kandang.

Hasilnya ada dibawah ini:

  • Setelah diatas empat bulan, ketika sudah tumbuh, Vetiver secara signifikan  mengurangi hilangnya tanah karena erosi. Tepian kanal ‘gundul’ kehilangan  tanah sebanyak 400-750 tons/ha, dibanding dengan hanya 50-100 tons/ha pada tanggul yang dilindungi Vetiver.
  • Sesudah 12 bulan, kehilangan tanah jumlahnya menjadi tidak signifikan.
  • Tepian benar-benar stabil ketika Vetiver dipotong menjadi 20-30cm (8”-12”)  dan tunasnya digunakan  sebagai mulsa menutupi area tepian yang ‘gundul’ (Le van Du and Truong, 2006).

 4.4 Perlindungan komunitas pengungsi banjir atau kelompok pemukiman

Banjir besar terjadi setiap tahun di beberapa propinsi di Delta Mekong, Vietnam selatan. Banjir ini biasanya sampai sedalam 6-8m (18-24’) dan berlangsung selama  tiga sampai empat bulan. Sebagai hasilnya, rumah-rumah terkena banjir setiap  tahun kecuali yang terletak di lokasi yang terlindungi oleh sistem tanggul besar.  Petani yang ingin bertahan harus membangun kembali rumahnya setiap tahun, dengan pengorbanan yang besar.

Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah daerah menentukan area Masyarakat  Pengungsi Banjir atau Kelompok Masyarakat dimana tanahnya sudah ditinggikan  dengan tanah dari daerah sekitarnya. Meskipun area ini cukup tinggi untuk  menghindari banjir tahunan yang berkepanjangan, tepinya mudah terkikis dan  memerlukan perlindungan dari arus kuat dan ombak selama musim banjir. Pagar  tanaman Vetiver sangat efektif dalam melindungi kelompok-kelompok ini untuk  melawan erosi banjir, dengan manfaat tambahan untuk mengolah efluen dan limbah cair komunitas ini selama musim kering.

4.5 Perlindungan terhadap infrastruktur pertanian

VS banyak digunakan untuk melindungi prasarana dengan menstabilkan tanggul  pertanian, pematang akuakultur, dan jalan di pedalaman, juga penerapan lain. Foto  23 menunjukkan Vetiver mengurangi dampak dari parit yang disaluri air dari area  pertanian yang terkena banjir musiman (latar belakang) menuju sungai. Karena parit  juga mengancam tambak udang (kanan), Vetiver juga melindungi tepian tambak,  khususnya area dimana petani menguras air tambak ke parit, yang merupakan tempat yang paling rentan.

Vetiver menstabilkan lereng yang membatasi jalan tidak beraspal dan sungai, mencegah tanah longsor di daerah pegunungan dan erosi tepian pada dataran banjir.

Di Filipina dan India, Vetiver juga digunakan untuk menstabilkan tanggul sempit  yang memisahkan sawah pada lahan berlereng. Penanaman ini menguatkan sisi-sisi  tanggul dengan mengurangi lebarnya tanggul yang menambah besarnya area untuk  penanaman. Bonus tambahannya adalah penanaman ini akan menyediakan makanan bagi sapi dan kerbau selama musim kering.

BAGIAN 3 membahas perlindungan tepian sungai dengan lebih rinci

5. KEGUNAAN LAIN

5.1 Kerajinan tangan

Komunitas pedalaman di Thailand, Indonesia, Filipina, Amerika Latin, dan Afrika  menggunakan daun Vetiver untuk memproduksi kerajinan tangan berkualitas tinggi,  sebagai sarana yang penting untuk memperoleh penghasilan. “Vetiver Handicrafts  di Thailand,” yang diterbitkan oleh Pacific Rim Vetiver Network, merupakan buku  petunjuk yang diilustrasikan dengan baik dan praktis. Acuan di akhir bagian ini  menyediakan detail bagaimana mendapat buku panduan tersebut.  The Royal Development Projects Board – Thailand menawarkan pelatihan gratis tentang pembuatan kerajinan Vetiver untuk peserta dari luar negri.

5.2 Atap anyaman

Daun Vetiver bertahan lebih lama daripada Imperata cylindrica,setidaknya dua kali  lebih lama menurut petani di Thailand, Afrika dan Pulau pasifik selatan,  membuatnya cocok digunakan untuk batu bata dan atap. Pengguna melaporkan bahwa daun Vetiver dapat mengusir rayap.

5.3 Pembuatan batu bata lumpur

Jerami Vetiver digunakan dengan luas di Senegal, Afrika untuk membuat batu bata  lumpur yang tahan retak. Konstruksi rumah di Thailand menggunakan bata dan  kolom yang terbuat dari komposit tanah liat dimana daun Vetiver telah ditambahkan  didalamnya. Bahan ini memiliki konduktifitas panas yang rendah sehingga lebih  nyaman dan efisien energi, juga merupakan teknologi yang memprioritaskan tenaga kerja.

5.4 Tali dan pengikat

Petani yang menanam padi, tanaman utama di Delta Mekong, telah menemukan  penggunaan Vetiver yang lain: sebagai tali untuk mengikat bibit padi dan jerami  padi. Mereka lebih suka tali Vetiver karena lentur dan kuat, bahkan lebih lentur dan kuat dari tali pisang, ilalang air dan nipah yang biasanya digunakan.

5.5 Ornamen

Vetiver dewasa memiliki bunga ungu dan sangat cantik, yang dapat digunakan  sebagai bunga potong, tanaman pot atau lanskap di kebun dan tempat umum yang lain seperi danau dan taman.

5.6 Ekstraksi minyak untuk tujuan pengobatan dan kosmetik

Di Afrika, India dan Amerika Selatan, akar Vetiver digunakan secara meluas untuk  tujuan pengobatan, dari pilek biasa sampai kanker. Penelitian di Amerika  membenarkan bahwa ekstrak minyak dari akar Vetiver memiliki karakter antioksidan  sebagai pengurang/pencegah kanker. Di India dan Thailand, para praktisi  penyembuhan banyak menggunakan minyak Vetiver untuk aroma terapi karena efek penenangnya yang nyata (telah didokumentasikan).

Komposisi kimia dan penerapan minyak Vetiver

Untuk parfum:

  • Minyak esensial (parfum) – Basenote dengan penguapan yang lambat (dikenal sebagai Pure essential oil Ruh Khus, Majmua)
  • Vetiverol – memiliki aroma lembut dan mudah larut dalam alkohol menghasilkan cairan terbaik dan campuran yang berkualitas
  • Bentuk yang lebih ringan – aroma, penyegar dan pendingin(cologne, air toilet)

Obat aroma terapi:

  • Perawatan kulit, kegunaan CNS
  • Menghentikan mimisan dan mengobati sengatan lebah.

6. REFERENSI

Agrifood Consulting International, March 2004. Integrating Germplasm, Natural  Resource, and Institutional Innovations to Enhance Impact: The Case of  Cassava-Based Cropping Systems Research in Asia, CIAT-PRGA Impact Case Study. A Report Prepared for CIAT-PRGA.

Berg, van den, Johan, 2003. Can Vetiver Grass be Used to Manage Insect Pests on  Crops? Proc. Third International Vetiver Conf. China, October 2003. Email: drkjvdb@puk.ac.za

Chomchalow, Narong, 2005. Review and Update of the Vetiver System R&D in  Thailand. Summary for the Regional Conference on Vetiver ‘Vetiver System:  disaster mitigation and environmental protection in Viet Nam’, Can Tho City, Viet Nam, to be held in January 2006.

Chomchalow, Narong, and Keith Chapman, (2003). Other Uses and Utilization of Vetiver. Pro. ICV3, Guangzhou, China, October 2003

CIAT-PRGA, 2004?. Impact of Participatory Natural Resource Management  Research in Cassava-Based Cropping Systems in Vietnam and Thailand. Impact Case Study. DRAFT submitted to SPIA, September 7, 2004?

Greenfield, J.C. 1989. ASTAG Tech. Papers. World Bank, Washington D.C. Grimshaw, R.G. 1988. ASTAG Tech. Papers. World Bank, Washington

Le Van Du and P. Truong (2006). Vetiver grass for sustainable agriculture on  adverse soils and climate in South Vietnam. Proc. Fourth International Vetiver Conf. Venezuela, October 2006

Nguyen Van Hon et al., 2004. Digestibility of nutrient content of Vetiver grass (Vetiveria zizanioides) by goats raised in the Mekong Delta, Vietnam.

Nippon Foundation, 2003. From the project ‘Enhancing the Sustainability of  Cassava-based Cropping Systems in Asia’. On-farm soil erosion control:  Vetiver System on-farm, a participatory approach to enhance sustainable  cassava production. Proceedings from International workshop of the 1994- 2003 project in SE Asia (Viet Nam, Thailand, Indonesia & China).

Pacific Rim Ve iver Network, October 1999. Vetiver Handicrafts in Thailand,  practical guideline. Technical Bulletin No. 1999/1. Published by Department  of Industrial Promotion of the Royal Thai Government (Office of the Royal  Development Projects Board), Bangkok, Thailand. For copies write to: The  Secretariat, Office of the Pacific Rim Vetiver Network, c/o Office of the Royal  Development Projects Board, 78 Rajdamnem Nok Avenue, Dusit, Bangkok 10200, Thailand (tel. (66-2) 2806193 email: pasiri@mail.rdpb.go.th

Pham H. D. Phuoc, 2002. Using Vetiver to control soil erosion and its effect on growth of cocoa on sloping land. Nong Lam Univ., HCMC, Vietnam.

Pingxiang Liu, Chuntian Zheng, Yincai Lin, Fuhe Luo, Xiaoliang Lu, and Deqian  Yu (2003): Dynamic State of Nutrient Contents of Vetiver Grass. Proc. Third International Vetiver Conf. China, October 2003.

Tran Tan Van et al. (2002). Report on geo-hazards in 8 coastal provinces of Central  Vietnam – current situation, forecast zoning and recommendation of remedial  measures. Archive Ministry of Natural Resources and Environment, Hanoi, Vietnam.

Tran Tan Van, Elise Pinners, Paul Truong (2003). Some results of the trial  application of Vetiver grass for sand fly, sand flow and river bank erosion  control in Central Vietnam. Proc. Third International Vetiver Conf. China, October 2003.

Tran Tan Van and Pinners, Elise, 2003. Introduction of Vetiver grass technology  (Vetiver System) to protect irrigated, flood prone areas in Central Coastal Viet Nam, final report, for the Royal Netherlands Embassy, Hanoi.

Truong, P. N. (1998). Vetiver Grass Technology as a bio-engineering tool for  infrastructure protection. Proceedings of North Region Symposium. Queensland Department of Main Roads, Cairns August 1998.

Truong, P. N. and Baker, D. E. (1998). Vetiver Grass System for Environmental  Protection. Technical Bulletin No. 1998/1. Pacific Rim Vetiver Network. Office of the Royal Development Projects Board, Bangkok, Thailand.

Truong, P. and Loch R. (2004). Vetiver System for erosion and sediment control.  Proceedings of 13th Int. Soil Conservation Organization Conference, Brisbane, Australia, July 2004.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s