6 Penerapan di Indonesia

BAGIAN 6
PENERAPAN SISTEM VETIVER DI INDONESIA

1. PENDAHULUAN

Vetiver telah ditanam di Indonesia selama bertahun-tahun, beberapa studi menyatakan telah lebih dari 1.000 tahun (Greenfield, 2002) tetapi setidaknya dari 200 tahun yang lalu (Dafforn, 2002), telah dibudidayakan terutama untuk memproduksi minyak akar wangi untuk di ekspor. Rumput ditanam di lerang-lereng pegunungan vulkanik dan saat dipanen, meninggalkan sisa galian yang dalam yang menyebabkan erosi yang luas. Hal ini memberikan reputasi buruk pada vetiver dan menciptakan kesan bahwa vetiver “menyebabkan erosi”, sehingga budidaya vetiver dilarang di beberapa daerah di Jawa. (National Academy Press. Halaman 16. 1993)

Sistem vetiver telah diterapkan di Kalimantan dan daerah lain di Indonesia pada waktu itu tetapi tidak dipromosikan secara luas mengenai manfaatnya dalam mitigasi erosi dan tanah longsor, perlindungan lingkungan dan konservasi tanah dan air.

Hal ini berubah pada tahun 2000 ketika Yayasan Ekoturin’s East Bali Poverty Project (EBPP) yang berbasis di Bali memperkenalkan rumput vetiver dan Sistem Vetiver (VS) sebagai bagian dari program yang komprehensif untuk mengurangi kemiskinan dan mempromosikan pembangunan berkelanjutan berbudaya di sebuah desa pegunungan terpencil dan miskin di bagian timur lereng gunung Agung dan Abang. Tanah di desa tersebut tertutup abu vulkanik sedalam 30-40 meter dari letusan Gunung Agung pada tahun 1963, dengan penduduk lebih dari 3.000 keluarga di 19 desa adat seluas 7.200 hektar lahan pertanian yang curam dan gersang, tidak memiliki jalan, sungai, pasokan air, toilet, fasilitas kesehatan atau listrik. Rumput Vetiver membuktikan cara yang paling efektif untuk mencegah erosi lebih lanjut pada jalan dengan lereng curam dan berpasir serta berperan  penting bagi pembuatan kebun pertanian sayuran organik di lahan curam dan tandus  yang sebelumnya hanya bisa ditanami singkong dan jagung. Vetiver juga menjadi  alat penyadaran kuat dalam program pendidikan terpadu untuk anak, baik dalam  mengembangkan kebun sayuran organik di sekolah maupun pelajaran kerajinan kreatif dari akar dan daun rumput yang sudah kering. (Booth, DJ. 2003)

Pada tahun 2003, David Booth, pendiri EBPP, ditunjuk sebagai koordinator Indonesia Vetiver Network (IDVN) oleh The Vetiver Network International (TVNI). Penyebarluasan teknologi informasi Sistem Vetiver oleh IDVN dari bukti uji coba lapangan, suksesnya berbagai proyek VS dalam membantu sebagian besar aspek masyarakat sipil dan industri, pers, internet dan berita dari mulut ke mulut dari pelanggan yang puas mengakibatkan penerimaan yang cepat akan Teknologi Sistem Vetiver di seluruh Indonesia .

2. MITIGASI BENCANA DAN PENGEMBANGAN SOSIAL DAN EKONOMI BERKELANJUTAN DI INDONESIA

Indonesia dengan 16.000 lebih pulau dan 129 gunung berapi aktif (Tabel 1), dengan 10% diperkirakan penduduk Indonesia hidup di dekat daerah berbahaya letusan gunung berapi (Sarsito, 2006), memiliki kebutuhan yang vital akan perlindungan lingkungan secara berkelanjutan sebelum terjadinya bencana. Sama pentingnya adalah merehabilitasi lereng gunung setelah letusan gunung berapi, seperti dalam kasus Gunung Agung dan Abang di atas.

 

Letusan gunung berapi, tsunami, banjir, gempa bumi, tanah longsor dan bencana alam lainnya merenggut ribuan nyawa setiap tahun di seluruh kepulauan Indonesia. Ribuan orang bermigrasi ke kota setiap tahun karena, dalam banyak kasus, penurunan produktivitas lahan pertanian, terutama di lereng gunung. Jika lahan pertanian yang marginal, lereng pegunungan vulkanik dan garis pantai ditanami vetiver, tidak hanya lahan pertanian menjadi lebih produktif, meminimalkan erosi serta konservasi tanah dan air sebelum terjadi bencana yang tak terduga, tetapi nyawa manusia juga akan diselamatkan dan lahan pedesaan yang berharga dan sungai akan terlindungi. Lahan pertanian yang lebih produktif akan menghasilkan mata pencaharian yang lebih baik untuk generasi sekarang dan masa depan di daerah pedesaan – dan dapat menjadi insentif bagi para migran perkotaan untuk kembali ke desa-desa mereka.

Teknologi Sistem Vetiver adalah alat sederhana, murah, efektif dan menguntungkan lingkungan yang dapat mendorong pembangunan sosial dan ekonomi yang berkelanjutan di Indonesia. Hal ini sekarang sedang diadopsi oleh Departemen Pekerjaan Umum, Pertanian, Kehutanan dan Industri, serta perguruan tinggi untuk memperbaiki infrastruktur, lahan pertanian, hutan dan DAS yang pasti akan memerangi perubahan iklim dan mempromosikan ketahanan pangan yang berkelanjutan dan kemandirian.

3. PENERAPAN SISTEM VETIVER DI INDONESIA SEJAK TAHUN 2000

Bagian ini menunjukkan aplikasi secara luas dari Sistem Vetiver di Indonesia oleh EBPP/IDVN dari tahun 2000-2011 termasuk lokakarya pelatihan dan demonstrasi bagi masyarakat lokal, LSM asing & Indonesia, Departemen pemerintah di Indonesia, industri besar dan Bank Pembangunan Asia (ADB). Detail desain dan teknik penanaman tidak akan dibahas pada bagian ini karena sudah tercakup dalam bagian lain dari manual ini.

3.1 Aplikasi VS untuk pengembangan masyarakat pedesaan secara berkelanjutan di lereng gunung gersang dengan abu vulkanik: Contoh Desa Ban di Bali bagian timur 

Ban Desa di lereng timur Gunung Agung dan Abang, meliputi 7.200 hektar dari ketinggian 150 meter di atas permukaan laut (dpl) hingga ke puncak kedua gunung tersebut, hutan dan vegetasi menjadi rusak ketika Gunung Agung meletus pada tahun 1963. Tanaman yang bisa tumbuh di lereng curam berpasir tersebut hanya singkong dan jagung, dengan sistem pertanian yang kuno, lereng berbukit dan jalan setapak yang rawan longsor selama setiap musim hujan, tidak ada alat transportasi selain berjalan kaki dan 19 desa adat terpencil hampir tidak ada komunikasi dengan dunia luar. Kemiskinan, kekurangan gizi, tingkat kematian anak dan gangguan akibat kekurangan yodium merupakan endemik. Dengan tidak adanya pasokan air bersih atau akses ke pasar, dokter atau klinik kesehatan/Puskesmas, tidak ada sekolah yang aktif dan tidak ada listrik, masyarakat memiliki sedikit pilihan atau kesempatan untuk berubah.

Kehidupan mereka merupakan typical khas dari ratusan desa pegunungan di Indonesia, dimana bercocok-tanam merupakan satu-satunya keahlian mereka dan bertahan hidup adalah tujuan mereka sehari-hari. Pada tahun 1998 ketika penduduk desa meminta EBPP untuk membantu membina mereka menuju masa depan yang lebih baik, asalkan mereka berjanji untuk mempunyai motivasi dan partisipasi penuh, maka solusi bagi kemajuan pembangunan berkelanjutan mereka adalah akses:

  • Akses jalan yang stabil untuk komunikasi dan barang;
  • Akses ke nutrisi yang lebih baik dan ketahanan pangan yang stabil, bebas erosi dan lahan pertanian yang bisa ditanami;
  • Akses ke dunia luar, terutama untuk perawatan kesehatan;
  • Akses ke pasokan air bersih dari mata air pegunungan yang terpencil;
  • Akses ke pengetahuan dan pendidikan yang komprehensif, dan
  • Akses ke kesempatan untuk pembangunan sosial dan ekonomi yang berkelanjutan untuk generasi sekarang dan masa depan.

Pencegahan erosi secara tradisional diterapkan oleh 19 masyarakat desa adat di masa menggunakan rumput gajah (Pennistum purpureum) di pingir jalan tanah yang curam dan kaliandra (Calliandra callothyrsus) pada lahan pertanian mereka yang mempunyai tipikal kemiringan 30-80 derajat. Meskipin kedua spesies tersebut selalu hijau dan menjadi makanan pokok bagi ternak mereka, tetapi keduanya tidak memiliki akar yang dalam serta tidak bisa mencegah erosi dan tanah longsor tahunan dalam skala besar pada 150km jalan tanah di seluruh desa tersebut. Pada tahun 1998, David Booth, EBPP, seorang insinyur sipil, mengidentifikasi rumput vetiver sebagai solusi teknik yang paling praktis dan bioteknologi yang berkelanjutan untuk menstabilkan tepi jalan dan lahan pertanian dan memecahkan semua kebutuhan akses masyarakat.

Contoh berikut menggambarkan pengenalan rumput vetiver, sebuah spesies yang sebelumnya tidak dikenal, dan aplikasi Sistem Vetiver pada masyarakat pegunungan yang buta huruf dan adopsi yang cepat dari teknologi rumput vetiver sebagai alat penting yang diperlukan untuk pengembangan sosial dan ekonomi masyarakat secara terpadu. Semua proyek dirancang dan didokumentasikan sebagai model untuk direplikasi di wilayah lain, dilaksanakan oleh masyarakat lokal dengan komitmen untuk melatih orang lain: berbasis masyarakat dan dimiliki proyekproyek pemberdayaan “bagi rakyat, oleh rakyat”.

3.1.1 Memperkenalkan kekuatan rumput vetiver pada anak-anak sekolah: “Learning by Doing”

Pada tahun 1998, para orang tua dari semua dusun paling terpencil meminta EBPP untuk memberikan pendidikan bagi anak-anak mereka sehingga mereka akan mampu memimpin kemajuan masyarakat sebagai generasi terdidik pertama dalam sejarah mereka. Setelah membeli 88.000 slip vetiver pada bulan April 2000, kami memperkenalkan budidaya Vetiver melalui kurikulum bagi progam pendidikan baru kami di Dusun Cegi. Vetiver ditanam sebagai penjaga terasering di kebun sayur organik di sekolah tersebut yang curam dan berpasir. Anak-anak menaman sayuran dikebun tersebut yang mana hasil panennya mereka konsumsi sendiri. Pelajaran pertama mereka adalah untuk membuat pot sederhana dari bambu, tinggi 120cm, dilapisi dengan plastik bening, kemudian isi dengan tanah lokal (pasir vulkanik lokal, tanpa pupuk tambahan); tanam slip vetiver dan disiram setiap hari. Masingmasing dari 32 anak akan mencatat pertumbuhan Vetiver setiap harinya meliputi tinggi dan jumlah anakan vetiver dan mereka senang “menonton vetiver tumbuh”,  yang mana rata-rata pertumbuhannya 2-3 cm per harinya. Setelah tepat satu tahun,  pot vetiver itu dibongkar. Secara mengejutkan, akar telah tumbuh secara vertikal ke dalam tanah abu vulkanik sepanjang panjang 2,2: satu meter lebih dalam dari ketinggian pot yang hanya 1,2 meter!

Pelajaran pertama dan paling penting dalam kurikulum sekolah adalah: “Apa vetiver dan bagaimana dia berbeda dengan rumput lain?” Program ini segera direplikasi di semua sekolah EBPP, menciptakan sayuran organik pertama dan kebun herbal di wilayah tersebut dan akhirnya, orang tua dan petani lain mengembangkan kebun masyarakat dan kebun dapur mereka sendiri.

Langkah berikutnya adalah anak-anak untuk mengajarkan VST kepada orangtua mereka untuk menstabilkan akses jalan lokal, mencegah longsornya rumah diperbukitan dan memulai kebun dapur. Sampai tahun 2011, lebih dari 1.200 anak telah dididik, lebih dari satu juta slip vetiver telah ditanam di desa tersebut dan pembangunan ekonomi secara berkelanjutan bagi ribuan keluarga tersebut kini berada di jalur yang benar, berkat kekuatan rumput Vetiver.

3.1.2 Vetiver menstabilkan timbunan pasir vulkanik untuk memfasilitasi pembangunan sekolah

Ketika EBPP memulai program pendidikan, tidak ada bangunan sekolah sehingga tiap-tiap dusun harus menyediakan ruang untuk di masing-masing balai banjar (balai dusun/desa). Ketika dana tersedia, masyarakat harus menyediakan lahan untuk membangun sekolah. Tidak ada tanah datar, hanya bukit, lembah dan lereng yang curam, semua terdiri dari abu vulkanik non-kohesif. Sifat bioteknologi dari akar vetiver terbukti dengan cepat menstabilkan tanah berpasir yang rapuh dan membuat pagar kaku yang kuat sehingga memungkinkan masyarakat untuk memotong tebing bukit atau memotong dan menguruk dari lereng curam menjadi lahan datar yang kuat untuk membangun sekolah, semua distabilkan oleh pagar vetiver. Perkembangan sekolah di Cegi dijelaskan di bawah ini.

Di foto 6, pemuka agama Hindu Bali memberkati tanah masyarakat Cegi pada bulan Januari 2004 sebelum meratakan bukit tersebut menjadi tanah datar untuk bangunan sekolah, yang mana bagian bawahnya menjadi kebun sayur organik anak
Cegi. Masyarakat tidak percaya bahwa memotong tebing bukit tanah berpasir bisa membentuk lahan datar untuk pondasi bangunan sekolah dengan mengisi lahan karena tidak ada tanah liat atau kohesi lainnya. Vetiver datang untuk menyelamatkan! Kekuatan vetiver dalam situasi pengujian mengirimkan pesan yang jelas di seluruh wilayah: “Mempunyai masalah dalam menstabilisasi tanah? Tidak masalah bila anda menggunakan vetiver!”

3.1.3 VS mengubah tanah pertanian curam dan kering menjadi untuk lahan sayuran organik yang sehat

3.1.3.1 Kebun sekolah anak di Cegi menjadi contoh untuk pertanian keberlanjutan: 

Keberhasilan kebun sekolah Cegi dari tahun 2001, dengan 20 jenis sayuran, menaburkan benih antusiasme di masyarakat sedemikian rupa sehingga mereka meminta kebun diserahkan kembali dan mereka menyediakan lokasi lain, kali ini dengan lebih dari 40 derajat kemiringan. Anak-anak yang telah berpengalaman dengan cepat menyiapkan kebun baru mereka, kali ini menggunakan belahan bambu sederhana sebagai penahan tanah pada terasering, kemudian menanam Vetiver di sekitarnya. Ketika bambu membusuk, Vetiver telah tegak terbentuk untuk menahan tanah dan menyediakan sumber mulsa apabila benihsayuran telah ditanam. Kebun ini sekarang menjadi contoh kebun organic di desa lengkap dengan peternakan cacing, pembibitan dan cubang/bak air untuk menampung air hujan. Ini merupakan kebun sayur pertama di wilayah mereka sepanjang tahun sebagai pasokan sayuran bergizi. Kebun menjadi pusat pelatihan untuk program lain dan banyak kelompok lain yang kita telah latih, dari LSM lokal dan internasional, instansi Pemerintah Indonesia dan kelompok tani dari daerah.

3.1.3.2 Meningkatnya kualitas makanan hasil dari kebun dapur sayuran organik yang berkembang:

Menu secara signifikan telah berubah sejak ratusan keluarga belajar mengenai banyak sayuran yang dapat tumbuh di lereng gunung terjal yang sebelumnya hanya bisa ditanami singkong dan jagung. Keluargakeluarga tersebut juga belajar banyak tentang bahaya singkong, tidak cukup garam beryodium dan kurangnya vitamin dan mineral dalam menu makanan mereka. Sayuran segar sekarang dimakan setiap hari oleh lebih dari 2.000 keluarga yang enam tahun lalu belum pernah melihat wortel, tomat atau kentang. Jika tidak tersedia dari kebun mereka, mereka pergi ke pasar yang cukup jauh dengan mobil pickup atau dengan sepeda motor mereka melewati jalan baru yang telah distabilkan dengan vetiver sehingga keluarga mereka bisa makan dengan baik.

3.1.4 Pembibitan Vetiver oleh Masyarakat

Pembibitan Vetiver oleh masyarakat pertama didirikan pada tahun 2002 di empat dusun terpisah, dua di Gunung Agung dan dua di Gunung Abang di ketinggian sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut. Pemuda lokal yang tidak bekerja menjadi pembimbing pembibitan, dan secara ringkas menyebarkan manfaat vetiver kepada masyarakat sekitarnya dan bagi petani untuk melihat sendiri. Dalam hubungannya dengan sekolah EBPP di semua desa, vetiver segera “menghilang” dari kebun pembibitan untuk diuji coba di kebun dapur, menstabilkan rumah dan, dalam banyak kasus, akar vetiver sebagai pengharu m ruangan di rumah mereka yang kebanyakan hanya satu ruangan yang dipenuhi dengan asap dapur. Sekarang ada puluhan, mungkin ratusan pembibitan vetiver di seluruh desa, dan sejak tahun 2003, hampir dua juta slip vetiver telah dipindahkan ke kebun belajar masyarakat, memperluas kebun sekolah, kebun dapur keluarga, program reboisasi gunung, dll

3.1.5 Vetiver untuk menstabilkan dan menghijaukan kembali rumah yang dibangun di lereng gunung curam abu vulkanik

Dalam masyarakat terpencil pegunungan Bali timur, kebanyakan keluarga memulai kehidupan di sebuah rumah kecil satu ruangan dari anyaman bambu dengan lantai tanah, di atas sebidang lahan yang dipotong di tanah bukit yang miring. Plot dibuat cukup besar untuk mengakomodasi erosi lanjutan, umumnya melindungi perimeter baik dengan rumput gajah atau pohon calliandra, yang mana setiap musim hujan kedua jenis akar tanaman tersebut tersapu erosi.

Kehidupan mereka berubah semenjak ratusan anak-anak dan keluarga membawa pulang vetiver untuk ditanam di sekitar bangunan mereka. Selain dari manfaat VS dalam membangun kebun sayur organik, semua orang mengatakan bahwa vetiver telah meningkatkan kehidupan mereka dengan menstabilkan tanah, mempercantik lingkungan sekeliling selama musim kemarau yang panas ketika semua rumput lainnya mengerut dan mati, tapi sebagian besar mengatakan bahwa akar vetiver mereka gunakan sebagai “wewangian” di rumah mereka.

3.1.6 VS untuk menstabilkan mata air pegunungan terpencil untuk air   bersih dan aman bagi ribuan masyarakat

Sebuah mata air pegunungan terpencil yang telah dikembangkan oleh EBPP pada tahun 2003, menyediakan hampir 100.000 liter air per hari, yang merupakan satusatunya
sumber air yang aman bagi lebih dari 500 keluarga di dusun dibawahnya, hampir hancur ketika banjir melanda lereng gunung dan merusak saluran air bersih pada Februari 2004. Ini merupakan musim hujan kedua sejak sumber mata air tersebut selesai dibangun. Curah hujannya lebih tinggi dari musim hujan sebelumnya ditambah dengan erosi permukaan dari jalan aspal dibagian atas lereng. Hal ini menjadi tes yang serius bagi sifat bio-teknologi vetiver.

Kekawatiran utama ketika merencanakan rehabilitasi dengan vetiver selama musim kemarau adalah bahwa akar mungkin akan mengarah ke mata air untuk mencari air selama musim kemarau. Untuk melindungi terhadap ini, tanah di kedua sisi saluran sepanjang 25 meter tersebut digali sedalam satu meter dan dilapisi dengan plasting sebelum diurug kembali. Kedua sisi saluran mata air kemudian dibentuk kembali dengan memberikan efek bertingkat sehingga memperlambat kecepatan aliran air. Selanjutnya 10.000 slip bibit vetiver ditanam dengan pola ziz-zag berjarak 20cm dan 10cm antar barisnya. Vetiver disiram setiap hari oleh penduduk setempat, yang mana sekarang mereka menjadi ahli dalam pembiakan vetiver, dan memastikan vetiver muda tersebut bebas dari gulma. Dalam dua bulan, vetiver tumbuh seperti hamparan karpet hijau dengan akar sedalam lebih dari satu meter.

Ukuran perlindungan tambahan yang paling penting adalah dengan membersihkan semak-semak dari lereng curam di atas mata air dan menjaga dari banjir yang mengancam bak mata air. Pagar vetiver ditanam dilembah diatas mata air secara garis diagonal untuk mengalihkan air banjir dari saluran alami ke bagian belakang dan barat dari bak mata air sambil menunggu terbentuknya perlindungan pengalihan dengan vetiver yang terbentuk setahun lebih awal.

3.2 Proyek PercontohanVS untuk Mengurangi Pencemaran di Daerah Aliran Sungai Citarum, Jawa Barat

Sungai Citarum di Jawa Barat, merupakan sumber air utama bagi Jakarta dan Bandung, dianggap sebagai salah satu sungai yang paling tercemar di dunia. Pada tahun 2007, Bank Pembangunan Asia (ADB), sebagai bagian dari “Cooperation Fund for the Water Sector” mengidentifikasi sistem vetiver sebagai solusi berkelanjutan untuk pengendalian pencemaran di 14.000 km persegi Daerah Aliran Sungai Citarum dan VS proposal EBPP / IDVN telah disetujui untuk Kegiatan Percontohan Demonstrasi (PDA): “Alih Teknologi dalam Penerapan Sistem Vetiver (VS) untuk Stabilisasi Lereng, Pengendalian Erosi dan Sistem Pertanian di Dataran Tinggi Secara Berkelanjutan untuk Kelompok Masyarakat Tepi Sungai Citarum”

Sesuai dengan persyaratan PDA untuk memastikan pemberdayaan lokal dan keberlanjutan, IDVN bermitra dengan sebuah LSM lokal, WPL (Warga Peduli Lingkungan) yang berfokus pada program pengembangan pertanian berbasis masyarakat pada komunitas pemukiman Sungai Citarum bagian atas.

3.2.1 Sasaran yang disepakati dengan ADB dalam memperkenalkan VS sebagai solusi berkelanjutan

Untuk mengkoordinasikan dan memberdayakan para stakeholder (pemangku kepentingan) dan LSM melalui alih teknologi vetiver yang tepat guna dalam periode awal enam bulan, dan tujuan replikasi yang lebih luas selama periode yang lebih lama dalam mengendalikan limpasan dan erosi tanah, melindungi sumber daya alam dan memperkenalkan sistem pertanian dataran tinggi yang berkelanjutan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan pendapatan dengan:

  • Memperkenalkan dan meningkatkan kesadaran tentang efektivitas sistem  vetiver (VS) dalam konservasi air, tanah dan sumber daya alam, tanah dan  pengendalian erosi air, pengelolaan daerah aliran sungai, pertanian  berkelanjutan, stabilisasi lereng, mitigasi bencana, pengendalian pencemaran dan banyak manfaat lainnya;
  • Pelatihan langsung bagi para stakeholder utama tentang karakteristik  vetiver, penanaman vetiver, pembudidayaan, pengelolaan dan pemeliharaan,  dengan prinsip “see by example and learn by doing” (melihat dengan contoh  dan belajar dengan melakukan) dan interaksi dengan kelompok-kelompok  petani di wilayah lain di Indonesia yang telah berhasil menstabilkan dan mengubah lereng gunung tandus menjadi kebun sayuran yang subur;
  • Membentuk proyek percontohan dengan stakeholder utama di beberapa  daerah cekungan yang curam dan pemberdayaan LSM lokal dan para  stakeholder utama guna mensukseskan replikasi/menyebarluaskan pelatihan  VS dan teknologi tersebut ke kelompok tani lain di Daerah Aliran Sungai Citarum;
  • Memulai sistem pertanian organik berkelanjutan di dataran tinggi untuk ketahanan pangan dan pada akhirnya pengembangan ekonomi .

3.2.2 Pelaksanaan proyek

IDVN menunjuk Dr Paul Truong sebagai pimpinan konsultan untuk proyek ini dan setelah survey awal tahun 2008 oleh Paul Truong, David Booth, Ardika Adinata (EBPP/IDVN) dan Yogantara Sunardhie, direktur WPL, dua lokasi percontohan demonstrasi disepakati dan diilustrasikan dalam foto 13 dan 14 di bawah ini:

  • Keberhasilan percontohan VS dalam fitoremediasi air limbah dari sistem  tangki septik dari 150 keluarga di bagian bawah sungai Citarum
  • Menstabilkan teras, memulai pertanian organik berkelanjutan dan  mengembangkan pembibitan vetiver di lahan pertanian bagian atas Daerah Aliran Sungai.

Sementara ADB tidak memperpanjang durasi proyek PDA lebih dari enam bulan, kelompok petani Citarum hulu dengan cepat mengadopsi sistem VS dan melalui telepon mereka memberitahu produktivitas yang lebih besar dari semua tanaman mereka sebagai hasil dari pagar vetiver dan mengambil vetiver dari kebun pembibitan mereka untuk ditanam pada beberapa hektar lahan di bagian atas Daerah Aliran Sungai Citarum sekaligus mempromosikannya kepada kelompok tani lain.

3.3 VS mengurangi erosi di pantai Bali, melindungi properti tepi pantai dan melestarikan terumbu karang

Pada bulan Desember 2001, David Booth dan Komang Kurniawan dari EBPP memberikan respon atas permintaan yang mendesak dalam melindungi sebuah villa di tepi pantai di Bali selatan dari potensi kehancuran abrasi laut dengan menanam polybag vetiver untuk mencegah abrasi yang dengan cepat mengikis bagian depan pantai. Karena tidak ada contoh aplikasi VS dalam situasi seperti ini dari TVN pada waktu itu, maka mereka membuat uji coba di bagian depan vila yang paling rentan dengan penanaman Vetiver dewasa (usia 6 bulan) dalam polybag diameter 15cm sedalam 20cm. Sebelum penanaman, 60-70 gram pupuk organik dicampur dengan pasir, plastik polybag dibuka dan pasir dipadatkan. Vetiver disiram dengan air
bersih setelah tanam hingga 30 hari ke depan sehingga akar dapat tumbuh. Setelah 10 hari, pertumbuhan akar rata-rata sepanjang 25cm untuk setiap tanaman. Dalam waktu 3 bulan, panjang akar 2 meter dan rumput tumbuh dengan baik meskipun tersiram oleh gelombang laut setiap harinya. (The Vetiver Network Newsletter No 24, 2002). Setelah sukses dengan pantai Bali Selatan, perlindungan pantai dengan VS diterapkan di bagian lain di Bali dan Lombok.

Hingga tahun 2007, IDVN juga berhasil memperkenalkan sistem vetiver untuk konservasi terumbu karang guna melindungi laut dan terumbu karang di Pemuteran Bali utara, Gili Eco Trust di Lombok dan Dr Tom Goreau, Presiden Aliansi Global Terumbu Karang dan Koordinator, Komisi PBB untuk Kemitraan Pembangunan Berkelanjutan untuk Teknologi Baru bagi negara-negara kepulauan berkembang.

3.4 VS untuk menstabilkan lereng curam pada hotel baru, villa dan pembangunan perumahan.

3.4.1 VS untuk menstabilkan villa baru dan pembangunan resor liburan

Pembangunan villa dan resort liburan terus berkembang dengan cepat di Bali dan Lombok sejak 1990-an, dengan sebagian besar pengembang tidak menyadari resiko tanah longsor dan erosi serius saat pendirian bangunan pada puncak dan lereng bukit yang memberikan beban berat karena pembangunan struktur tersebut. Penyebarluasan informasi tentang Sistem Vetiver secara reguler oleh IDVN telah menghasilkan banyak permintaan untuk menstabilkan lereng curam dan mencegah erosi serius dan limpasan yang mengakibatkan polusi pada sungai dan lautan, melindungi lingkungan dan meningkatkan lanskap. Solusi VS telah berhasil diterapkan untuk setiap proyek setelah penelitian yang cermat dan desain teknik sipil. Proyek-proyek yang paling menantang secara rinci ada dalam foto di bawah ini.

3.4.2 VS untuk pembangunan perumahan di Kalimantan

 

3.5 VS untuk Perlindungan Lingkungan dan Rehabilitasi Pertambangan Besar di Indonesia

3.5.1 VS untuk tambang batubara

3.5.1.1 Uji coba di lapangan untuk penelitian dan pengembangan oleh salah satu produsen batubara utama Indonesia:

Pada bulan Januari 2010, PT Adaro, salah satu perusahaan penambangan batubara yang terbesar di Indonesia, meminta bantuan dengan teknologi VS dan konsep desain untuk merehabilitasi lereng tambang tailing dan juga untuk percontohan rehabilitasi lingkungan lengkap dan berkelanjutan dari situs pertambangan batubara di Kalimantan Selatan. Mereka menggunakan Vetiver pertama mereka pada bulan April 2010 untuk studi komparatif tailing tambang dan untuk menstabilkan tumpukan dan saluran selokan pembuangan air limbah, dengan sukses besar, seperti yang ditunjukkan pada foto di bawah ini, diambil dari “Peta Jalan Vetiver” mereka. Mereka memilih tiga kategori yang berbeda untuk pilot efektivitas dari sistem Vetiver: Konservasi Tanah dan Air; Perbaikan Kualitas Air, dan Tambak dan Stabilisasi Tanggul dan Saluran Air.

3.5.1.2 Manfaat bagi masyarakat lokal:

Mengikuti saran IDVN untuk memastikan keberlanjutan dan pemberian manfaat bagi masyarakat setempat, mereka berencana untuk memberikan slip bibit vetiver kepada masyarakat lokal untuk mendirikan tempat pembibitan untuk dipasok ke PT Adaro, sehingga PT Adaro akan membeli kembali dari masyarakat lokal untuk kebutuhan mereka selanjutnya.

3.5.2 VS untuk tambang emas

Pada akhir 2010, sebuah pengembangan tambang emas baru di Sulawesi Utara memutuskan untuk mengadopsi sistem vetiver untuk memitigasi masalah lingkungan sebelum menyelesaikan seluruh infrastruktur mereka, setelah senior environmental manager mereka mengikuti 2 hari pelatihan system Vetiver di pusat  IDVN di Bali, termasuk terjun langsung ke desa lokasi proyek EBPP. Pada bulan Januari 2011, PT Meares Soputan Mining membeli 100.000 slip bibit vetiver yang ditanam di lokasi yang paling rentan sesuai rekomendasi dan desain oleh David Booth dan Ardika Adinata dari IDVN. PT Meares Soputan Mining juga berencana untuk melibatkan masyarakat setempat dengan memberikan bibit dan pelatihan tentang vetiver yang mana untuk keperluan selanjutnya perusahaan akan membeli bibit dari masyarakat setempat.

3.6 VS untuk Platform Ladang Minyak di Jawa Timur

Sistem Vetiver telah ditentukan oleh ExxonMobil untuk stabilitas sisi lereng dalam pembangunan platform minyak baru mereka untuk bidang minyak pertama di Indonesia di Bojonogoro, Jawa Timur. Setelah kunjungan lapangan oleh David
Booth pada September 2008, berdasarkan desain yang disetujui oleh kontraktor, maka dilaksanakan proyek oleh tim yang dipimpin oleh Ardika Adinata dari IDVN pada November 2008. Foto-foto yang diambil pada Juni 2009 menunjukkan pertumbuhan yang cepat dari vetiver yang akan menjamin stabilitas lereng secara optimal dan konservasi tanah dan air.

3.7 VS untuk Departemen Pekerjaan Umum Divisi Jalan

Pada bulan Desember 2006, David Booth dan Dr Scott Younger mempresentasikan manfaat komprehensif dari sistem vetiver kepada para pejabat senior di kantor pusat Departemen Pekerjaan Umum (PU) di Jakarta. Pada bulan Juni 2007, setelah kepada PU di Jakarta dan Bali inspeksi oleh David Booth terhadap percobaan penanaman vetiver di jalan tol Cipularang Jawa Barat yang baru dibangun, PU mulai merencanakan untuk mengadakan Seminar Sistem bagi setiap insinyur jalan raya di semua propinsi di Indonesia.

3.7.1 Seminar Vetiver di Jakarta dan Bali, 2008

Seminar Vetiver diadakan di Jakarta dan Bali masing-masing pada tanggal 3 dan 10 Juni 2008, yang berjudul “Seminar Green Construction Dalam Mewujudkan Pembangunan Infrastruktur Berwawasan Lingkungan” dengan Dr Paul Truong dan David Booth sebagai pembicara utama. Dalam seminar tersebut, dipromosikan sistem vetiver untuk dimasukkan dalam desain dan konstruksi semua jalan raya baru di Indonesia.

 3.8 VS untuk Perlakuan Pembuangan Limbah Kotoran dan Limbah Cair: Aceh – Rehabilitasi Pasca Tsunami

4. PENYEBARLUASAN SISTEM VETIVER MELALUI TRAINING

4.1 Training VS, seminar dan lokakarya/workshop

Sejak tahun 2001, EBPP/IDVN telah memberikan pelatihan workshop bagi masyarakat pedesaan, kelompok petani, organisasi lingkungan, industri berbasis tanah dan departemen pemerintah. Lihat Foto X di bawah ini.

4.2 EBPP/IDVN Video Training Vetiver

Dirancang sebagai alat penyuluhan yang sensitif, program pendidikan dan pelatihan dimulai dari anak-anak di enam sekolah EBPP, telah menjadi landasan keberhasilan dalam semua program pembangunan berkelanjutan, dengan sistem vetiver sebagai dasar utama bagi keberlanjutan masa depan masyarakat gunung. Pada tahun 2005, EBPP/IDVN mengembangkan Video Pelatihan Vetiver yang praktis sebagai alat media informatif untuk daerah pedesaan, memprioritaskan anak sekolah dan komunitas pertanian, LSM berbasis lingkungan dan masyarakat.

 Video Pelatihan Vetiver, dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, melengkapi pelatihan workshop IDVN dan sekarang digunakan di banyak dalam jaringanVetiver Networks, LSM internasional dan kelompok masyarakat. Dengan durasi 30 menit, video memberikan banyak contoh di program vetiver EBPP/IDVN di sekolah dan kebun sayur masyarakat dan penjelasan yang jelas oleh Ardika Adinata tentang teknik persiapan dan penanaman serta ringkasan rinci oleh Kepala Desa Desa Ban, Bapak Ketut Karta dari manfaat sistem vetiver bagi 19 desa adat di desanya sejak tahun 2000. Difilmkan dan diproduksi oleh Sarah Matthews di Inggris dan The Brock Initiative, video pelatihan vetiver adalah alat yang ampuh untuk memperkenalkan sistem vetiver pada semua sektor masyarakat, terutama untuk rehabilitasi lahan marjinal, ketahanan pangan dan mitigasi bencana.

 5. KESIMPULAN

Teknologi Sistem Vetiver (VST) sekarang telah diterapkan secara lebih luas di Indonesia sejak dipromosikan sebagai alat pengentasan kemiskinan oleh EBPP/IDVN pada tahun 2000, dengan manfaat yang beranega ragam seperti solusi yang berkelanjutan bagi akses ke pendidikan, gizi, air bersih dan kesehatan bagi lebih dari 3.000 keluarga di 19 dusun pegunungan yang terpencil. “Rumput” yang sebelumnya tidak dikenal ini sekarang telah menjadi bagian integral dari pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan dalam hal pengendalian erosi di jalan tanah yang curam dan lereng-lereng gunung berpasir serta masuk dalam kurikulum sekolah-sekolah EBPP, terutama untuk mengembangkan kebun sayuran organik untuk gizi keluarga. Diseminasi yang efektif oleh IDVN tentang Sistem Vetiver di seluruh Indonesia menhasilkan penerapan vetiver secara luas yang memberi manfaat bagi masyarakat, pantai,  pelestarian terumbu karang, LSM nasional dan internasional, pertambangan dan  industri lainnya di banyak propinsi. EBPP dan IDVN berharap lebih banyak lagi perusahaan-perusahaan Indonesia, LSM dan pemerintah daerah akan mengadopsi VS, terutama untuk meningkatkan mata pencaharian penduduk pedesaan dan
mendorong pengembangan wilayah pedesaan secara berkelanjutan dengan vetiver sebagai alat utama; tetapi tentu saja, dibutuhkan kesadaran dan pendidikan yang lebih mendalam lagi.

5. REFERENSI

Booth, DJ and Adinata, A. 2003. Vetiver Grass: A Key to Sustainable Development on Bali. Proceedings of The Third International Conference on Vetiver & Exhibition. China Agric. Press.

Booth, DJ and Adinata, A. 2006. Vetiver Improving Lives of Impoverished Indonesian Subsistence Farming Mountain Communities, led by Children. Proceedings of Regional Conference on Vetiver in Can Tho City, Vietnam.

Booth DJ, Adinata A & Younger JS, 2006. Vetiver’s Role in Poverty Alleviation Propels its Dissemination in Indonesia. Proceedings of The Fourth International Conference on Vetiver, Caracas, Venezuela.

Dafforn, MR (2002). Hedge Vetiver: A Genetic and Intellectual Heritage. Pp. 361-371 in Proceedings of the Second International Conference on Vetiver: Vetiver and the Environment. Office of the Royal Development Projects Board, Bangkok.

Greenfield, J. (2002). Vetiver Grass: An Essential Grass for the Conservation of Planet Earth. Buy Books on the Web.com. ISBN-13: 9780741410658. ISBN: 0741410656.

National Academy Press, Washington, USA. (1993).Vetiver Grass: A thin green line against erosion.

Sarsito, DA, et.al. (2006). Study of Papandayan Volcano using GPS Survey Method  and Its Correlation with Seismic Data Observation. Proc. ITB Eng. Science Vol. 38 B, No. 2, 2006, Pp. 123-146.

The Vetiver Network, 2002. Vetiver Newsletter No. 24, July 2002. Vetiver Helps Protect Beach Erosion in Bali. Page 12. http://www.vetiver.org

Younger JS and Booth DJ and Kurniawan K. (2011). Sustainable Development –  the East Bali Poverty Project. Proceedings of the Institution of Civil Engineers, The Municipal Engineer Journal. ICE Publishing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s