LPE Al Syura dan PEG USAID

Akar Wangi

Dikutip dari  Laporan Akhir Kegiatan Penelitian “Pengembangan Komoditi Pertanian Unggulan di Kabupaten Garut”, 2003

Sumber: http://pdf.usaid.gov/ 

Tanaman akarwangi tumbuh baik pada ketinggian 600 – 1600 mdpl, dengan temperatur 17 – 27 C. Tanah yang baik untuk penanaman akarwangi adalah tanah yang gembur atau tanah yang berpasir seperti tanah yang mengandung abu vulkanis (di daerah bekas gunung berapi). Tanah yang terlalu padat seperti tanah liat sebaiknya dihindarkan, karena akar tersebut akan sukar dicabut dan akan menghasilkan minyak rendemen yang rendah. Tanaman ini tidak baik tumbuh pada tempat yang teduh, karena dapat menghalangi proses asimiliasi, dan pertumbuhan akar akan tergantung pada akar tanaman lain. Pemotongan daun pada tanaman berumur + 5 bulan berpengaruh baik pada pertumbuhan akar, jenis tanaman yang ada di Indonesia adalah jenis yang tidak berbunga. Penanaman akarwangi di Kabupaten Garut pada umumnya ditanam di lereng yang mempunyai kemiringan cukup besar dan umumnya di sekitar daerah aliran sungai Cimanuk (DAS Cimanuk).

Tanaman akar wangi (Vertiveria Zizaninoides satpt) termasuk tanaman langka di dunia dimana hanya tiga negara yang mampu memproduksi tanaman ini dengan baik, adapun negara tersebut adalah Bourbone, Haiti dan Indonesia. Di Amerika Latin daerah penghasil tanaman ini adalah Bourbone dan benih tanaman akar wangi yang dibudidayakan di Indonesia juga berasal dari daerah itu. Untuk Indonesia sendiri daerah penghasil akar wangi tersebut adalah di kabupaten Garut, dimana keadaan iklim dan cuacanya sangat cocok untuk tumbuh kembangnya tanaman akar wangi ini dengan baik. ada beberapa daerah di Indonesia yang pernah di uji cobakan untuk budidaya tanaman ini salah satu contohnya di daerah Majalengka dan Jawa Timur, adapun hasil yang diperoleh dari uji coba tersebut bahwa tanaman akar wangi itu bisa tumbuh dengan baik di daerah-daerah tersebut akan tetapi hanya sedikit menghasilkan minyak akar wangi (minyak atsiri bahan dasar kosmetik dan parfum) atau kualitas rendeman Vetiverol (senyawa kimia akar wangi) yang dimiliki sangat kecil dan jauh berbeda dengan apa yang di hasilkan oleh tanaman akar wangi yang dibudidayakan di kabupaten Garut yang memiliki kadar rendumen tinggi. Berdasarkan kenyataan bahwa hanya di kabupaten Garut yang dapat membudidayakan tanaman akar wangi ini maka dapat dikatakan bahwa tanaman akar wangi ini merupakan komoditas unggulan kabupaten Garut. Data statistik tahun 1990-1993 memperlihatkan bahwa 90 persen ekspor minyak atsiri Indonesia berasal dari kabupaten Garut.

Tanaman akar wangi telah diusahakan dan dibudidayakan di kabupaten Garut sejak tahun 1960-an. Minyak akar wangi secara luas digunakan untuk pembuatan parfum, bahan kosmetik, pewangi sabun dan obat-obatan, pembasmi dan pencegah serangga. Di samping memberikan bau yang menyenangkan minyak akar wangi dapat tahan lama dan berfungsi sebagai pengikat karena mempunyai daya fiksasi yang kuat (dinas perkebunan, 2001)

Budidaya Tanaman Akar Wangi

1. Pengolahan Lahan

Pengolahan lahan untuk budidaya akarwangi sama seperti pengolahan lahan untuk tanaman lain dengan cara dicangkul dan dibuat secara berpetak, hanya galian relatif lebih dalam agar tanah gembur dan mudah untuk pertumbuhan akarnya. Kegiatan pengolahan lahan ini dilakukan satu kali pada saat awal ketika petani hendak melakukan penanaman akar. Pengolahan lahan selanjutnya dilakukan sekaligus dengan pelaksanaan panen, dengan cara digali. Pola tumpangsari dilakukan petani mengingat pertimbangan ekonomis bagi petani, dimana dalam satu musim tanam akarwangi dapat dilakukan untuk tiga kali musim tanam tanaman lain sebagai tumpangsari, selain juga dengan pola tumpangsari kualitas akar menjadi lebih baik.

2. Pemeliharaan Tanaman

Pemeliharaan yang dilakukan biasanya berupa pemupukan dengan menggunakan pupuk seadanya. Pupuk yang biasa digunakan adalah urea dan ZA dengan masingmasing dosis adalah sekitar 200 kg/Ha. Pemberian pupuk dilakukan satu kali ketika tanaman berumur 3 (tiga) bulan.

Jumlah tenaga kerja yang digunakan dari seluruh proses budidaya untuk luas lahan 1 ha mulai dari pengolahan lahan sampai dengan panen diperlukan 70 orang dan komposisinya disesuaikan dengan kebutuhan tenaga kerja berdasarkan tahapan pekerjaan.

3. Panen

Akarwangi dapat dipanen setelah usia tanaman mencapai 8 bulan sampai 1 (satu) tahun. Panen dilakukan dengan cara digali sedalam akar tanaman yang menembus (0,75 m). Untuk panen biasanya petani sudah menjual tanamannya kepada penampung
dengan cara ditebas.  Panen akar dilakukan dengan menggali tanah sehingga akar mudah diambil. Tindakan ini yang dikhawatirkan dapat mengakibatkan erosi berkelanjutan.

4. Pengolahan Hasil

Bahan baku akar wangi sangat besar, dapat dihasilkan 75.195 ton akar per tahun (data disbun, 2002). Pengolahan akarwangi dari produk mentah berupa akar saat ini dilakukan untuk menghasilkan produk berupa minyak atsiri dan produk kerajinan tangan (handicraft).

Terdapat perbedaan mendasar dari jenis dan pengolahan yang dilakukan untuk menghasilkan dua produk tersebut. Biasanya pengrajin akar akan lebih memilih akar dengan jenis akar lurus untuk dijadikan bahan tenunan sebagai bahan dasar produk komoditi kerajinan mereka, sementara untuk komoditi minyak atsiri hal tersebut tidak terlalu diperhatikan.

Kendala Utama dan Prospek Pengembangan Akar Wangi

Berdasarkan pada kondisi eksisting yang ditemui di lapangan, komoditi akar wangi dalam pengembangannya menemui hambatan yang teramat besar terutama berkaitan dengan kebijakan pemerintah daerah yang telah menetapkan Surat Keputusan Bupati No. 520 tahun 1990 yang pada intinya adalah memperbolehkan penanaman akar wangi kembali dengan pengaturan yang cukup ketat. Walaupun pada perkembangannya di beberapa daerah terjadi fluktuasi penanaman dan penyulingan akar.

Sampai dengan tahun 1993 Pemerintah daerah Kabupaten Garut masih memiliki data lengkap mengenai komoditi akar wangi. Data terakhir diperoleh pada tahun 1996.

Secara teknis pengembangan minyak akar wangi (minyak atsiri / usar) menemui beberapa kendala diantaranya:

1. Petani

Budaya petani sangat berkaitan erat dengan keberhasilan pengembangan komoditi akar wangi. Harga yang rendah di tingkat petani, mengakibatkan sikap tidak jujur berkembang.

2. Kemampuan Penyuling

kemampuan tersebut terbagi atas kemampuan permodalan dan peralatan. Sebagian penyuling tidak memiliki modal sendiri untuk melakukan proses penyulingan, biasanya mereka memperoleh modal dari pihak ketiga sebagai Bandar. Peralatan yang digunakan sebagian besar tidak memenuhi persyaratan bagi produksi minyak akar wangi yang optimal, sehingga kuantitas dan kualitas minyak menjadi rendah.

3. Kendala Pasar

Berkaitan dengan terbatasnya kemampuan informasi pasar dan kemampuan petani untuk melakukan penjualan (ekspor langsung). Selain juga adanya fluktuasi harga yang berakibat pada terpuruknya kondisi petani penyuling.

4. Kendala Permodalan

5. Kendala Perijinan

Terbatasnya areal yang diijinkan oleh pemerintah daerah untuk penanaman akar wangi mengakibatkan adanya usaha sebagian kecil petani untuk melakukan penanaman akar wangi secara sembunyi-sembunyi.

Untuk komoditi kerajinan akar wangi, Garut telah berhasil mendobrak pasar import dengan berbagai produk kerajinan akar. Peran serta pemerintah yang dilakukan selama ini masih sangat terbatas pada pelibatan perajin di kegiatan pameran –pameran di tingkat local, regional maupun nasional. Pengembangan kerajinan akar wangi sangat berkaitan erat dengan kemampuan sumber daya pengrajin dan harga yang kompetitif.

Saat ini kompetitor terbesar datang dari Pekalongan dan Jogjakarta. Penguatan organisasi pengrajin baik berupa asosiasi pengrajin harus dapat dilakukan. Sistem pengembangan wilayah (cluster) dapat dilakukan dengan memperhatikan budaya kerja penduduk setempat. Sebaiknya wilayah pengembangan cluster pengrajin akar wangi di tempat dimana komoditi bahan baku banyak dihasilkan terutama di Kecamatan Bayongbong.

Produksi dilakukan di tingkat industri rumahan (home industri), proses yang harus dilakukan adalah dengan melakukan pendampingan dan pelatihan.

Perkembangan Akar Wangi di Kabupaten Garut 

Tanaman akar wangi baik ditanam di kabupaten Garut karena dapat diusahakan hampir sepanjang tahun, hanya sekitar 3 bulan terakhir musim kemarau yang tidak dapat ditanami tanaman akar wangi ini. Adapun lokasi penghasil tanaman akar wangi di kabupaten Garut adalah:

  1. Kecamatan Samarang di desa Suka Karya, desa Tanjung Karya, desa Parakan, desa Cisarua dan desa Pasir wangi.
  2. Kecamatan Leles di desa Dango dan desa Lembang.
  3. Kecamatan Bayongbong di desa Sirnagalih dan desa Hegarmanah
  4. Kecamatan Cilawu di desa Dangiang dan Sukahati.

Tanaman akar wangi telah diusahakan dan dibudidayakan di kabupaten Garut sejak tahun 1960-an. Minyak akar wangi secara luas digunakan untuk pembuatan parfum, bahan kosmetik, pewangi sabun dan obat-obatan, pembasmi dan pencegah serangga. Di samping memberikan bau yang menyenangkan minyak akar wangi dapat tahan lama dan berfungsi sebagai pengikat karena mempunyai daya fiksasi yang kuat.

Pada tahun 1970-an tanaman akar wangi ini disinyalir sangat merusak kualitas tanah dan menurunkan kemampuan tanah untuk berproduksi juga menggangu DAS Cimanuk yang merugikan daerah hilir Sungai Cimanuk seperti daerah Cirebon dan Indramayu. Maka keluarlah Surat Keputusan Gubernur Nomor 249 tahun 1974 mengenai pelarangan untuk menanami tanaman akar wangi. Dengan pelarangan ini banyak masyarakat yang berhenti membudidayakan tanaman ini akan tetapi tidak sedikit pula para petani yang tetap bertahan walaupun harus kucing-kucingan dengan aparat kabupaten.

Seiring perjalanan waktu ternyata kenyataan bahwa akar wangi ini merupakan sumber devisa bagi negara karena merupakan komoditas ekspor juga merupakan sumber penghasilan bagi petani dalam hal ini merupakan hajat hidup orang banyak, maka dengan pertimbangan-pertimbangan hal tersebut kemudian pemerintah dalam hal ini pemerintah daerah tingkat I Jawa Barat melalui Surat Keputusan Gubernur No. 30 tahun 1990 mencabut pelarangan budidaya akar wangi dan sekaligus memberikan pengaturan akan penanaman akar wangi yang memperhatikan unsur konservasi lingkungan. Dalam menindaklanjuti SK Gubernur tersebut maka pemerintah daerah tingkat II Garut mengeluarkan kebijakan melalui Surat Keputusan Bupati No. 520 tahun 1990 yang pada intinya adalah memperbolehkan penanaman akar wangi kembali dengan pengaturan-pengaturan diantaranya:

  1. Pembatasan areal usaha akar wangi dengan hanya seluas 2.400 hektar untuk seluruh daerah kabupaten Garut.
  2. Penunjukan 4 kecamatan yang dapat digunakan untuk usaha tani akar wangi yaitu Kecamatan Samarang, Leles, Bayongbong dan cilawu.
  3. Petani akar wangi diharuskan melakukan registrasi dan harus mendapatkan surat izin dalam usaha tani akar wangi dari pemerintah yang berbentuk Surat Izin Penanaman Akar Wangi.
  4. Petani/pengusaha pengolah minyak akar wangi harus melakukan registrasi dan mendapatkan surat izin usaha pengolahan minyak akar wangi dengan ketentuanketentuan bahwa :
    a. Petani/pengusaha tersebut memiliki kelompok binaan dan membawahi daerah territorial akar wangi tertentu.
    b. Melakukan penyuluhan dan pembinaan kepada petani akar wangi komunitasnya untuk memperhatikan unsur konservasi lingkungan dalam proses usaha akar wangi.
    c. Memfasilitasi pembentukan dan penguatan kelembagaan petani akar wangi.
  5. Baik petani maupun pengusaha minyak astiri harus memperhatikan unsur konservasi lingkungan.

Pemerintah pusat kemudian mendukung kebijaksanaan  pengembangan usaha tani akar wangi yang kemudian memberikan bantuan teknis maupun finansial dalam usaha pengembangan usaha tani akar wangi di kabupaten Garut. Adapun program yang dilakukan adalah program pengembangan usaha akar wangi yang berwawasan konservasi lingkungan yang dibiayai langsung dari APBN untuk masa 3 tahun pada periode 1991-1992 dan 1992-1993.

Berdasarkan data perkembangan akar wangi di kabupaten Garut dari tahun 1999 – 2002 diperoleh bahwa relatif tidak terdapat penambahan areal luas baku atau lahan yang ditempati yaitu maksimal 2400 Ha. Pada tahun 2002 terjadi penurunan yang cukup tajam dari luas baku atau lahan yang ditempati menjadi 1253,3 Ha.

Jumlah orang yang terlibat dalam usaha akarwangi di Kabupaten Garut sampai dengan tahun 2002 sejumlah 3494 orang yang terbagi dalam 29 kelompok usaha. Jumlah ini mengalami penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang mencapai 3987 orang.

Budidaya Tanaman Akar Wangi

1 Pengolahan Lahan

Pengolahan lahan untuk budidaya akarwangi sama seperti pengolahan lahan untuk tanaman lain dengan cara dicangkul dan dibuat secara berpetak, hanya galian relatif lebih dalam agar tanah gembur dan mudah untuk pertumbuhan akarnya. Kegiatan pengolahan lahan ini dilakukan satu kali pada saat awal ketika petani hendak melakukan penanaman akar. Pengolahan lahan selanjutnya dilakukan sekaligus dengan pelaksanaan panen, dengan cara digali.

Penanaman tanaman akarwangi berupa bonggol dari akar yang telah dipanen, dengan harga bonggol Rp. 500 – 1000,-/Kg tergantung musim. Sebagian besar petani melakukan penanaman tanaman akar wangi dengan cara tumpangsari diantaranya dengan tembakau, kentang, tomat dan kacang-kacangan. Pola tumpangsari dilakukan petani mengingat pertimbangan ekonomis bagi petani, dimana dalam satu musim tanam akarwangi dapat dilakukan untuk tiga kali musim tanam tanaman lain sebagai tumpangsari, selain juga dengan pola tumpangsari kualitas akar menjadi lebih baik.

Jadwal penanaman untuk masing-masing petani tidak seragam, penanaman dilakukan setiap empat bulan sekali, dimana dari luas lahan yang dimiliki tidak seluruhnya lahan ditanami sekaligus melainkan dibagi agar penanamannya dilakukan secara berkala guna mencapai kontinuitas produksi. Dengan pola penanaman yang dilakukan saat ini hasil produksi akar yang diperoleh petani berkisar antara 10-15 ton akar per hektar padahal apabila dikelola dengan optimal dapat menghasilkan produksi antara 25 – 30 ton per hektar.

Biaya produksi / ha / tahun diperkirakan sekitar Rp.10 juta ( untuk tenaga kerja dan pupuk )

2 Pemeliharaan Tanaman

Pemeliharaan tanaman akar wangi tidak memerlukan pemeliharaan berat. Karena penanamannya dilakukan secara tumpangsari dengan tanaman lain. Pemeliharaan yang dilakukan biasanya berupa pemupukan dengan menggunakan pupuk seadanya. Pupuk yang biasa digunakan adalah urea dan ZA dengan masing-masing dosis adalah sekitar 200 kg/Ha. Pemberian pupuk dilakukan satu kali ketika tanaman berumur 3 (tiga) bulan. Jumlah tenaga kerja yang digunakan dari seluruh proses budidaya untuk luas lahan 1 ha mulai dari pengolahan lahan sampai dengan panen diperlukan 70 orang dan komposisinya disesuaikan dengan kebutuhan tenaga kerja berdasarkan tahapan pekerjaan.

3 Panen

Akarwangi dapat dipanen setelah usia tanaman mencapai 8 bulan sampai 1 (satu) tahun. Panen dilakukan dengan cara digali sedalam akar tanaman yang menembus (0,75 m). Untuk panen biasanya petani sudah menjual tanamannya kepada penampung dengan cara ditebas. Adapun harga jual yang berlaku saat ini untuk akar sebagai berikut:


Panen akar dilakukan dengan menggali tanah sehingga akar mudah diambil. Tindakan ini yang dikhawatirkan dapat mengakibatkan erosi berkelanjutan.

Pengolahan Hasil

Terdapat perbedaan mendasar dari jenis dan pengolahan yang dilakukan untuk menghasilkan dua produk tersebut. Biasanya pengrajin akar akan lebih memilih akar dengan jenis akar lurus untuk dijadikan bahan tenunan sebagai bahan dasar produk komoditi kerajinan mereka, sementara untuk komoditi minyak atsiri hal tersebut tidak terlalu diperhatikan.

1 Komoditi Minyak Atsiri

Minyak akar wangi dalam dunia perdagangan dikenal dengan nama minyak vetiver (Java Vetiver Oil / Minyak usar). Minyak ini mempunyai bau yang lembut dan halus yang disebabkan oleh senyawa kimia yang disebut vetiverol dan vetiverol acetat, sampai saat ini vetiverol belum dapat dibuat secara sintetis.

Minyak akar wangi secara luas digunakan untuk pembuatan parfum, bahan cosmetica, pewangi sabun dan obat-obatan, pembasmi dan pencegah serangga. Di samping memberikan bau yang menyenangkan, minyak akarwangi dapat tahan lama dans
ekaligus berfungsi sebagai pengikat karena mempunyai daya fiksasi yang kuat. Pengolahan akarwangi untuk dijadikan minyak atsiri banyak dilakukan di daerah-daerah sekitar Gunung cikurai, daerah Samarang dan leles. Saat ini terdapat 29 unit pengolahan minyak atsiri yang berlokasi di Kecamatan Cilawu (5 Unit, 1 bekerja penuh dan 4 unit tidak bekerja penuh), Kecamatan Leles 7 unit (5 bekerja penuh dan 2 bekerja tidak penuh) dan Kecamatan Samarang 13 Unit ( 6 unit bekerja penuh dan 7 unit bekerja tidak penuh).

Seorang pengusaha penyulingan akarwangi mengaku dapat menyerap bahan baku berupa akar mentah dari petani sebanyak 150 ton per bulan untuk selanjutnya disuling dengan menggunakan dua buah ketel, dengan hasil produksi sekitar 500 kg per bulan. Bahan baku tersebut dapat dipenuhi dari petani dengan harga jual sekitar Rp. 1000 – 1500,-

Pembelian bahan baku dilakukan dengan cara dibeli di hamparan (ditebas) maupun akar sudah diikat oleh petani. Pembayaran dilakukan secara tunai atau konsinyasi dengan limit waktu beberapa hari tergantung kesepakatan. Harga akar bersifat fluktuatif tergantung dari kondisi musim. Biasanya pada musim kemarau harga akar menjadi tinggi sedangkan pada musim hujan biasanya rendah. Kondisi ini diakibatkan tingginya rendemen minyak pada akar ketika musim kemarau sedangkan pada musim hujan berlaku sebaliknya. Sebagian penyuling menghentikan proses penyulingan akar pada musim kemarau dikarenakan tingginya kompetisi harga pembelian akar dan ketersediaan air yang terbatas.

Selanjutnya bahan mentah tersebut dibersihkan dari tanah dengan cara dan selanjutnya ditimbang. Setelah itu kemudian dicuci dan dikeringkan sebelum memasuki proses penyulingan. Kendala yang dihadapi oleh penyuling adalah biasanya apabila penimbangan di lakukan tanpa pengawasan yang ketat petani biasanya membiarkan tanah yang menenmpel pada akar untuk ikut ditimbang, sehingga kuantitas hasil timbangan bertambah dan kualitas hasil akar berkurang. Hal ini diakui penyuling sangat merugikan kualitas hasil minyak dan mempercepat proses kerusakan pada ketel.

Ada tiga cara proses penyulingan yaitu :

1. Destilasi dengan Air
2. Destilasi dengan Uap Langsung
3. Destilasi Air dan Uap atau Dikukus.

Proses Penyulingan

Untuk memproses akar sehingga dihasilkan minyak atsiri dilakukan dengan penyulingan, waktu penyulingan memakan waktu sampai dengan 12 jam, sehingga dalam keadaan normal dapat dilakukan dua kali penyulingan per hari. kapasitas ketel yang dimiliki saat ini oleh sebagian penyuling adalah berkisar antara 1,2 – 1,5 ton akarwangi. Dengan kapasitas seperti itu dapat dihasilkan antara 5 – 7 kg minyak atsiri per penyulingan, sehingga dapat dihasilkan 10 – 14 kg minyak atsiri perhari.

Proses penyulingan dimulai dengan cara membersihkan akar kemudian dijemur dan selanjutnya dimasukkan ke dalam ketel yang telah berisi air. Selanjutnya ketel dipanaskan dengan menggunakan pemanas.

Pada saat pemasakan seringkali suhu dan tekanan yang diberikan tidak sesuai dengan kondisi yang diharapkan. Adakalanya suhu terlalu tinggi dan tekanan terlalu tinggi. Beberapa ketel yang digunakan biasanya terbuat dari besi disinyalir telah berumur lebih dari setahun, serta hanya memiliki petunjuk tekanan (petani menyebutnya ampere). Sehingga hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan yang diharapkan dan berakibat pada rendahnya harga produk.

Untuk proses pendinginan yang digunakan berupa kolam air. Saluran pipa yang mengangkut air dan minyak melalui kolam air tersebut untuk didinginkan. Berdasarkan peraturan pipa pendingin yang digunakan harus memenuhi kriteria terbuat dari stainless stell dengan ukuran panjang 36 sd 40 meter dan lebar 1,5 sd 2 inchi. Selanjutnya pipa tersebut dialirkan pada bak air pendingin yang terbuat dari tembok dengan ukuran yang disyaratkan yaitu:

Panjang : 3 sd 6 meter
Lebar : 3 meter
Tinggi : 2 meter

Bak pendingin ini berisi air yang seharusnya terus mengalir untuk menghasilkan pendinginan optimal. Beberapa kendala yang dihadapi adalah adanya keterbatasan ketersediaan air untuk mendinginkan sehingga seringkali terjadi air dan minyak hasil penyulingan keluar dalam keadaan masih panas, hal ini tentu saja berpengaruh besar pada hasil.

Selanjutnya terjadi pemisahan antara air dengan minyak  dikarenakan berat jenisnya yang berbeda. Sebagian minyak dapat terbawa bersama air dan ditampung pada penampungan terpisah yang juga berisi akarwangi, produk ini dinamakan minyak berat. Penyuling mengolah minyak berat dengan cara mencampurkannya kembali dengan akar sisa pasakan untuk diolah (disuling) kembali dengan lamanya waktu penyulingan berkisar 8 (delapan) jam.

Untuk upaya penanggulangan pencemaran sisa limbah diperlukan beberapa perangkat teknis penanggulangan pencemaran sebagai berikut:

  1. Bak penampung limbah padat
  2. Bak penampung dan penetralisir li,nah cair sebanyak 3 sd 4 buah dilengkapi dengan komponen zat penetralisir air limbah antara lain batu kerikil, pasir, ijuk dll
  3. Filter penyaring limbah udara.

Penggunaan ketel besi dirasakan sangat mempengaruhi hasil minyak yang diolah. Selain kadar minyak yang diperoleh tidak terlalu baik, waktu pemrosesannyapun menjadi lebih lama. Akibatnya adalah adanya penambahan biaya produksi dengan hasil jual yang lebih rendah. Sebagai alternatif perbaikan beberapa pengusaha penyulingan berharap adanya bantuan untuk penggantian ketel menjadi ketel stainless, dengan penunjuk panas dan tekanan.

Saat ini tidak ada standarisasi yang jelas mengenai mekanisme pemasakan akarwangi yang benar, proses yang berlangsung selama ini lebih didasarkan pada pengalaman dari masing-masing penyuling. Walaupun demikian seringkali terjadi hasil pasakan minyak bervariasi.

Hal lain yang juga menjadi masukan adalah adanya perbaikan mekanisme pengolahan akar mentah sebelum proses penyulingan dimulai. Beberapa pengusaha menyarankan untuk dapat menggunakan mesin penepung sebagai proses awal dalam pengolahan akar mentah. Dengan mesin ini akan diperoleh akar dengan ukuran lebih kecil, sehingga secara otomatis ketika disuling akan memiliki luas ukuran permukaan lebih besar, dan hasil minyak yang lebih banyak. Hal lainnya juga adalah penggunaan media pendingin minyak yang lebih baik sehingga diperoleh keluaran minyak dengan mutu lebih baik,.

Di tingkat pengumpul (Bandar), minyak hasil penyulingan dari petani selanjutnya dimurnikan untuk diperoleh kwalitas hasil minyak lebih baik dengan harga lebih tinggi.

2 Komoditi Kerajinan

Selain untuk keperluan menghasilkan minyak atsiri, akarwangi juga dapat digunakan sebagai bahan baku berbagai macam jenis kerajinan tangan. Sifat khas wangi akar menjadi daya tarik tersendiri untuk diolah dan menambah nilai jual produk.

Proses pengolahan akar mentah menjadi barang produk seni bernilai tinggii dilakukan dengan cara setelah panen akar dipotong bonggolnya lalu dicuci dan selanjutnya dijemur sampai kondisi kering sekitar 80 % atau lama penjemuran antara 1 – 2 jam tergantung kondisi cuaca. Selanjutnya dilakukan penyisiran agar akar kecil yang menempel pada akar besar terbuang. Sebagai tahap selanjutnya dilakukan pengepakan.

Saat ini jenis akar yang banyak dicari untuk digunakan sebagai bahan dasar kerajinan banyak diperoleh dari Kecamatan Bayongbong. Jenis akar yang dihasilkan dari Bayongbong sedikit berbeda yaitu akarnya lebih lurus sehingga lebih mudah dan menarik untuk digunakan bahan kerajinan.

Di Kabupaten Garut terdata baru ada satu toko (outlet) yang mengkhususkan pada pengolahan dan penjualan hasil kerajinan akarwangi. Tercatat ada sekitar 80 pengrajin akar di Kabupaten Garut. Para pengrajin biasanya melakukan proses awal pengolahan akar menjadi bentuk tenunan, selanjutnya hasilnya ditampung pada outlet yang melakukan pengolahan lebih lanjut menjadi berbagai macam kerajinan. Kerajinan yang banyak dihasilkan biasanya berupa kain sarung bantal, taplak meja, lampu hias, lampu meja, kain gordin dll. Dengan sentuhan artistic tertentu, tampilan yang mewah dan khas mengakibatkan harga jual produk kerajinan akar wangi dari Garut memiliki pangsa pasar tersendiri, khususnya pasar dari negara luar.

Pemasaran Minyak Atsiri

Harga jual akar wangi di tingkat petani saat ini antara Rp. 800 hingga Rp. 1400 / kg, tergantung kualitasnya. Perbedaan harga ini biasanya berdasarkan perkiraan jumlah minyak yang akan dihasilkan. Untuk akar yang diperkirakan dapat menghasilkan produk minyak atsiri di atas 5 Kg per penyulingan dihargai dengan kisaran antara Rp. 1000 – Rp. 1400,- per Kg. Sedangkan untuk perkiraan di bawah 5 kg dihargai sekitar Rp. 800 – 1000,-

Para petani sebagian telah mempunyai keinginan atau minat untuk berkelompok atau membentuk koperasi. Dalam melakukan budi daya dan pemasaran akar wangi., masing – masing petani bertindak sendiri –sendiri . Dari sekitar 1,3 ton akar wangi ( kapasitas per unit penyulingan ) bisa menghasilkan 3,5 – 5 kg minyak atsiri. Saat ini harga jual minyak atsiri Rp 350.000 / kg. Penyuling menjual minyak atsiri kepada pedagang pengumpul di Garut .

Pola pemasaran yang umum dijumpai di Kabupaten Garut adalah:

1. Petani ——— Penyuling ———- Eksportir
2. Petani ——- Pengumpul —— Penyuling——— Eksportir
3. Petani ——Penyuling —– Pengumpul ——– Eksportir
4. Petani / Penyuling ————— Eksportir

Pola pemasaran yang ada di Garut, petani dan penyuling Garut hanya mampu memasarkan produk sampai dengan tingkat pengumpul yang biasanya bukan orang yang berasal dari Garut. Biasanya tujuan akhir ekspor adalah di Medan untuk selanjutnya diekspor ke Singapura.

Pemasaran Hasil Kerajinan

Petani menjual hasil produksinya kepada pihak Bandar sebagai pengumpul. Petani biasanya menjual akar langsung di kebun dengan sistem tebas dimana Bandar memperkirakan jumlah produksi akar yang akan dihasilkan. Dalam hal ini tidak ada sistem managerial di tingkat petani, mereka tidak memiliki informasi pasar yang jelas. Sistem pembayaran dilakukan secara tunai maupun dibayar di belakang tergantung kesepakatan petani dengan pembeli.

Akar yang digunakan untuk kerajinan biasanya sudah melalui proses tertentu diantaranya pencucian dengan air dan penyisiran dengan menggunakan sisir kawat untuk menghilangkan akar kecil (owol). Proses ini biasanya dilakukan oleh kelompok masyarakat di tingkat rumah tangga, hasilnya kemudian dijual kepada pihak pengumpul.

Pihak pengumpul menjual akar kepada pihak pembeli. Saat ini sebagian besar pembeli yang datang berasal dari Jogjakarta dan Pekalongan. Pembayaran dilakukan dengan cara konsinyasi dimana pengiriman pertama dibayar 30 % dimuka dan sisanya dibayar pada pengiriman berikutnya. Relatif tidak ada sistem managerial dalam pengelolaan, pengumpul tidak melakukan tindakan promosi apapun.

Pemasaran akar di tingkat petani atau pengumpul sebagian besar dijual kepada pembeli yang datang dari Pekalongan maupun Jogja, hanya sedikit akar yang digunakan oleh pengrajin di Garut yang diolah untuk kerajinan akar wangi. Kendala utama yang dihadapi adalah adanya kompetisi harga, dimana harga hasil pengolahan dari Yogya maupun Pekalongan dapat lebih murah daripada hasil pengolahan di Garut sendiri. Pengolahan akarwangi menjadi kerajinan akarwangi yang dilakukan di Kabupaten Garut masih relatif sangat terbatas, walaupun diakui bahwa jumlah permintaan ekspor jauh di atas kapasitas produksi setempat. Alternatif penyediaan bahan baku biasanya dilakukan dengan membeli bahan dasar berupa tenunan akar dari Pekalongan.

Pola Pembiayaan Untuk Pengembangan

Usaha tani akarwangi pada umumnya tidak memerlukan pembiayaan yang besar. Pola tumpangsari yang diterapkan petani lebih menekankan pemeliharaan pada tanaman sela, sedangkan tanaman akarwangi memperoleh kebutuhan hara dan pemeliharaannya dari tanaman lainnya.

Pada tahapan penyuling, ada beberapa mekanisme pembiayaan usaha mereka. Umumnya penyuling memiliki keterikatan dengan pedagang minyak atsiri, yaitu melalui ketergantungan modal untuk pengolahan. Pembayaran pinjaman diperhitungkan pada saat penyuling menjual hasilnya. Pedagang penampung juga biasanya memberikan “dana mati” yang besarnya hingga Rp. 30 juta kepada penyuling. Untuk itu pedagang perlu membuat ikatan dengan penyuling agar selalu menjual hasil produksinya kepada pedagang. Dana tersebut harus dikembalikan secara utuh kepada pedagang apabila penyuling tidak lagi melakukan kegiatan produksi. Harga pembelian pedagang kepada penyuling yang memiliki keterikatan seperti itu, jauh di bawah harga umum, misalnya saat ini hanya Rp. 300.000 / kg, sementara harga di pasaran Rp. 350.000 – Rp390.000 per kg.

Sebagian petani juga bertindak selaku penyuling. Mereka biasanya mengeluarkan modal untuk menyewa ketel dan bahan bakar serta tenaga kerja, adapun bahan baku akar mereka sediakan sendiri. Pemilik ketel yang juga pemilik pabrik biasanya menyewakan ketelnya per bulan maupun untuk sekian kali penyulingan akar. Resiko kerusakan ketel menjadi tanggungjawab dari petani atau penyuling.

Pada petani maupun pengumpul akar wangi untuk diolah sebagai bahan kerajinan, biasanya mereka hanya membutuhkan modal awal untuk pembelian akar wangi yang sudah diolah sampai dengan diikat. Besarnya modal ini sangat berpengaruh pada besarnya kapasitas penampungan akar oleh pengumpul. Selanjutnya akar akan disalurkan kepada pembeli yang datang dengan sistem pembayaran konsinyasi, biasanya pembayaran 30 % di muka.

Berdasarkan hasil dilapangan diperoleh kenyataan bahwa sumber modal yang digunakan adalah merupakan modal sendiri atau juga modal kelompok. Ada keengganan petani atau pengusaha untuk menggunakan modal pinjaman dari bank, biasanya mereka lebih mengharapkan adanya bantuan-bantuan dengan kredit sangat lunak atau bahkan hibah.

Analisis Pengembangan Akar Wangi

Berdasarkan pada kondisi aktual di lapangan dan berbagai kendala yang menghambat pengembangan komoditi akar wangi, upaya pengembangan komoditi akar wangi dapat dilakukan dengan memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut:

Komoditi Minyak Atsiri

Keterbatasan penambahan areal tanam akar wangi merupakan salah satu faktor yang membatasi produksi minyak atsiri setiap tahunnya. Relatif tidak ada penambahan produksi yang berarti, pengusaha minyak yang ada juga keadaannya saling berganti. Pola pembinaan yang dilakukan pemerintah Kabupaten Garut dirasakan masih teramat kurang berperan bagi upaya intensifikasi yang seharusnya dilakukan.

Pengembangan teknologi penyulingan merupakan salah satu faktor kunci keberhasilan peningkatan produksi minyak atsiri. Hal ini karena adanya keterbatasan pada bahan baku lokal berupa akar, sementara dimungkinkan di masa mendatang terjadi peningkatan jumlah pengusaha penyulingan akar wangi di Kabupaten Garut walaupun dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Pengembangan teknologi tersebut harus melibatkan peran pemerintah dan perbankan secara serius, karena disadari besarnya biaya yang harus dilakukan untuk melakukan upaya intensifikasi pengembangan akar wangi. Pola berupa pinjaman atau hibah dari pemerintah seharusnya dihindari, sebaiknya pola tersebut menggunakan jalur perbankan dengan peran pemerintah sebagai fasilitator.

Penguatan kelembagaan di tingkat pengusaha penyulingan menjadi signifikan ketika berhadapan dengan pedagang pengumpul. Terakhir tercatat adanya peningkatan jumlah pedagang pengumpul besar di Kabupaten Garut. Hal ini mengakibatkan adanya perang harga di tingkat petani dan penyuling.

Berdasarkan hasil analisa usaha tani diperoleh hasil bahwa pengolahan akar menjadi minyak menjadi sangat riskan dalam kondisi dewasa ini. Hasil produksi minyak akar wangi antara 5 – 7 kg merupakan hasil minimal yang harus diperoleh untuk menghasilkan keuntungan bagi penyuling. Kondisi ini diperparah apabila petani menjual akar dengan kondisi kotor, sehingga akan menimbulkan banyaknya tanah yang terbawa serta dalam ketel penyulingan.

Pada kondisi musim penghujan, penyuling akan semakin memperoleh sedikit keuntungan sehingga praktis hanya sebagian kecil pabrik mampu berproduksi, walaupun jumlah akar melimpah di pasaran. Kondisi ini bertolak belakang ketika musim kemarau tiba. Kendalanya adalah harga akar menjadi lebih mahal sehingga akan terjadi pula perang harga di tingkat petani dan penyuling.

Usaha tani akar wangi juga berhadapan dengan masalah lingkungan. Pembatasanpembatasan berupa peraturan daerah harus tetap diterapkan di lapangan dengan pengawasan yang lebih ketat. Disinyalir bahwa ada beberapa pabrik penyulingan yang membuang sampah atau limbah produksinya ke wilayah penduduk sehingga berpotensi mencemari lingkungan.

Komoditi Kerajinan

Pengembangan komoditi kerajinan akar wangi menghadapi kendala utama berupa keterbatasan tenaga terampil (pengrajin) di tingkat lokal. Penguatan pengrajin baik secara jumlah maupun mutu menjadi salah satu prasyarat yang harus ditempuh untuk mengembalikan citra Kabupaten garut sebagai penghasil akar wangi. Penguatan tersebut juga harus merupakan penguatan sektor keterampilan dan desain utama agar dihasilkan komoditi kerajinan yang khas spesifik daerah.

Peningkatan keterampilan terutama desain produk dapat juga melibatkan komoditi spesifik Garut lainnya berupa corak tertentu misalkan pengkawinan produk kerajinan akar wangi dengan batik garutan maupun produksi sutera alam.

Hal lain yang juga menjadi kelemahan adalah belum terbentuknya asosiasi pengrajin kerajinan akar wangi di Kabupaten Garut. Peranan pemerintah dapat dilakukkan dengan menjadi fasilitator bagi penguatan modal usaha, peningkatan keterampilan pengrajin, penguatan kelembagaan dan upaya membuka pasar luar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s