Berita 2008

Juni 2008

CEGAH EROSI DENGAN RUMPUT VETIVER

Sumber: http://bpksdm.pu.go.id/ 3 Juni 2008

Jakarta, 03/06/08 (BPKSDM) – Penduduk dunia yang berjumlah lebih dari 6 miliar merasakan dampak pemanasan global seperti iklim yang berubah maupun bencana alam akhir-akhir ini. Rumput Vetifer merupakan salah satu alternatif solusi untuk menerapkan Green Construction sehingga dapat mengurangi kerusakan ekologi lingkungan.

Seminar Green Construction Dalam Mewujudkan Pembangunan Infrastruktur Berwawasan Lingkungan dihadiri sekitar 150 orang dari World Bank, LPJK, HPJI, Perguruan Tinggi, dan Departemen Pekerjaan Umum (Bina Marga, Cipta Karya, Penataan Ruang dan BPKSDM) di Jakarta, Selasa (03/06).

Hermanto Dardak selaku Dirjen Bina Marga dalam pembukaan seminar tersebut menyambut baik keberadaan vetiver. Dicontohkan di kota-kota besar dunia, keberadaan RTH (Ruang Terbuka Hijau) adalah sesuatu yang diperhatikan masyarakatnya. Indonesia mensyaratkan 30 % bagi keberadaan RTH tersebut. Lereng dan pinggir jalan yang dapat ditanami vetiver diprediksi dapat meningkatkan kualitas lahan, apalagi rumput vetiver dapat hidup dalam kondisi kering bahkan payau.

The Vetiver System (VS) menggunakan rumput vetifer (chrysopogon zizanioides) yang telah digunakan sekitar 100 negara untuk konservasi, pencegahan erosi, perbaikan lahan, kontrol polusi dan peningkatan kualitas air.

Sebagai Keynote Speaker, Kepala BPKSDM Sumaryanto Widayatin menjelaskan beragam kegunaan dari vetiver tersebut selain untuk mencegah erosi yang telah dilakukan di Cipularang. Vetifer dapat menyaring air berpolusi (seperti timah hitam) juga daunnya berprotein tinggi sebagai makanan ternak. Tinggi tanaman dapat mencapai 2 m sedangkan akar yang vertikal tumbuh ke bawah mencapai hingga 4,5 m dan berfungsi mengikat tanah..

Tahun 1920 rumput vetiver dibawa kolonial dari India, untuk membuka perkebunan dengan mudah dan murah. Melihat kondisi sekarang, vetifer jelas lebih murah dibandingkan dinding penahan tanah biasa. Perbandingannya 1/100 untuk harga. Kekuatan rumput vetiver sebanding dengan 1/6 kekuatan baja dengan diameter sama yaitu sebesar 75 Mpa.

Menurut Paul Truong (Director, The Vetiver Network International for Asia and the Pacific Region, and Director of Veticon Consulting of Australia) dalam kesempatan berbeda, saat melihat lokasi rumput vetiver di Cipularang, telah banyak negara yang menggunakan rumput vetiver. Namun yang perlu dicermati adalah sistem vetiver itu sendiri. Perhitungan kemiringan tanah, jarak titik tanam dan panjang akar yang mengikat tanah, jenis kualitas dari bibit tanaman adalah hal-hal yang perlu dicermati. Tanaman ini juga berfungsi untuk mengurangi kandungan phosphate dan nitrate dari air yang terpolusi.

Hal tersebut dibenarkan David J Booth (Founder & Chairman East Bali Poverty Project) Pada saat peninjauan lokasi di Cipularang, disarankannya pemberdayaan masyarakat untuk penanaman vetiver seperti yang telah dilakukannya di Bali. Masyarakat dapat merasakan manfaat langsung dari keberadaan vetiver seperti membuat kerajinan tangan darinya, sekaligus memeliharanya bersama. (mh/nn)

PU DORONG PEMANFAATAN RUMPUT VETIVER SEBAGAI PENGENDALI EROSI TANAH 

Sumber: http://www1.pu.go.id/3 Juni 2008

Departemen Pekerjaan Umum (PU) mendorong pemanfaatan rumput vetiver dalam pengendalian erosi tanah pada jalan. Rumput vetiver dapat memperbaiki stabilitas tanah karena sifat perakarannya yang tebal dan kuat masuk ke dalam tanah hingga 4,5 meter.

Kepala Badan Pembina Konstruksi dan Sumber Daya Manusia (BPK-SDM) Sumaryanto Widayatin pada Seminar Green Construction Dalam Mewujudkan Pembangunan Infrastruktur Berwawasan Linkungan, Selasa (3/6) di Jakarta mengatakan, keuntungan pemakaian rumput vetiver diantaranya harga yang jauh lebih murah dibandingkan bangunan fisik pencegah erosi lainnya.

”Harga rumput vetiver hanya Rp 10 ribu per meternya, sementara bangunan fisik lainnya mencapai Rp 2 juta,” sebut Sumaryanto yang juga menjabat sebagai salah satu Komisaris PT Jasa Marga.

Ujicoba pemakaian rumput dengan nama latin vetiveria zizaniodes ini telah dilakukan PT Jasa Marga pada beberapa lokasi di ruas Tol Cipularang, Jawa Barat. Lokasi tersebut diantaranya yaitu Km 69+200, Km 84+400, KM 90+500 serta interchange Padalarang.

Berdasarkan data PT Jasa Marga, ujicoba penanaman tersebut relatif berhasil. Hal tersebut dapat terlihat pada daerah lereng kritis Pasir Honje (Km 92+500) selama 1 kali periode hujan dan 2 kali periode kemarau dapat mencegah erosi pada lereng tersebut.

Sumaryanto menuturkan, kelebihan rumput yang pertama kali dibawa ke Indonesia oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1920 ialah mampu membentuk pagar permanen yang padat dan tebal yang mencegah tergerusnya lapisan atas tanah. Kekuatan rumput tersebut juga mencapai seperenam kekuatan gajah atau setara 75 megapascal.

”Jadi jangan pernah meremahkan kekuatan dari rumput ini,” ucap Kepala BPKSDM.

Pemanfaatan rumput vetiver juga telah digunakan antara lain pada lereng di Bali serta sebuah tanggul di Cirebon, Jawa Barat. Sumaryanto menambahkan, bahkan di Vietnam vetiver digunakan juga sebagai pemecah ombak (breakwater).

”Melihat hal tersebut, saya menyarankan agar hal serupa juga kita lakukan sepanjang pesisir pantai utara jawa,” tutur Sumaryanto.

Kelebihan dari rumput ini juga berupa akarnya yang dapat dijadikan bahan wewangian sehingga rumput ini juga sering disebut tanaman akar wangi. Sementara daunnya bisa digunakan campuran makanan ternak hewan. Tanaman yang dapat tumbuh pada segala jenis tanah ini juga dapat menyerap polutan hitam melalui akarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Marga Hermanto Dardak mengatakan, pemanfaatan rumput vetiver akan digunakan pada jalan nasional terutama pada ruas-ruas yang kritis terhadap terjadinya erosi. Selain sebagai pengendali erosi, vetiver pada sekita jalan juga dapat menjadi ruang terbuka hijau.

”Pengunaan tanaman termasuk rumput seperti vetiver pada jalan sebenarnya maksimal dapat mencapai 30 persen, yang dilakukan pada median dan ruang sisi kiri-kanan jalan,” terang Hermanto.

Hermanto menerangkan, alokasi dana untuk penanaman dan pemeliharaan tanaman sebagai bentuk penghijauan jalan telah termasuk dalam dana pemeliharaan jalan yang besarnya mencapai Rp 25 juta per meter setiap tahunnya.

Penghijauan disekitar badan jalan merupakan bentuk penerapan green construction yang telah dilakukan Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Marga. Hal tersebut antara lain telah dilakukan pada ruas jalan di Bali dan pantura Jawa. (rnd)
Pusat Komunikasi Publik ; 030608

November 2008

Produksi Parfum dari Bahan Rumput 

Oleh: Budi Winoto
Sumber: http://m.inilah.com/ 4 November 2008

INILAH.COM, Roma-Ilmuwan di Italia berhasil menemukan rumput tropis Vetiver mengandung bakteri yang minyaknya bisa digunakan sebagai bahan industri kosmetik dan parfum. Dengan penemuan ini, bisa dihasilkan parfum dengan wewangian berbeda dari yang ada sekarang.

Penelitian melalui berbagai disiplin ilmu terhadap akar rumput Vetiver mendapatkan semak ini bisa menghasilkan minyak. Cairan ini kemudian dimetabolisme oleh bakteri yang ada di akar tumbuhan itu secara rumit, dan bisa menghasilkan minyak yang bisa digunakan sebagai bahan kosmetik.

Selain sebagai sumber wewangian, perubahan struktur pada molekul juga bisa menghasilkan zat anti oksidan maupun anti microba.

Bakteri ditemukan di sel penghasil minyak, juga di akar yang berdekatan dengan minyak terkumpul. Demikian diungkapkan oleh ahli micro biologi Pietro Alifano dan Luigi Del Giudice, serta ahli biologi tumbuhan Massimo Maffei.

Semak Vetiver merupakan satu-satunya tumbuhan yang bisa menghasilkan minyak seperti itu, melalui proses kimia yang disebut sesquiterpenes. Proses ini biasa dilakukan pada tanaman untuk menghasilkan pheromon dan hormon.

Minyak sumber parfum ini juga berisi alkohol dan hidrokarbon. Industri parfum dan makanan bisa mendapat keuntungan dari varietas bakteri yang bisa menghasilkan bau dan rasa parfum yang beraneka.

“Penelitian ini membuka jalan di bidang bioteknologi dari senyawa bioaktif. Pabrik obat, parfum dan makanan kini bisa mengembangkan lebih lanjut strain microba serta menambah khasanah metabolismenya,” kata Professor Alifano.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s