Berita 2009

Mei 2009

Elingan Majalaya Tanam Vetiver

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/ 17 Mei 2009 

SOREANG, (PRLM).- Sebanyak 3.000 -dari total 5.000- batang vetiver asal Kabupaten Garut yang tersedia telah ditanam Elemen Lingkungan (Elingan) Majalaya dengan turut memberdayakan warga sekitar.

Hal itu dikatakan Ketua Umum Elingan Majalaya Deni Riswandani. Hal tersebut disampaikannya di sela-sela acara “Roadshow Pemberdayaan Masyarakat dalam Mengelola Sumber Daya Alam” yang digelar di area Makam Karomah Kampung Cijambe, Desa Pangguh, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, Minggu (17/5).

Tanaman yang juga dikenal dengan nama lain akar wangi ini mampu membentuk sistem perakaran yang padat, tebal, dan mampu menembus ke dalam tanah hingga tiga meter. Terbentuknya pagar permanen yang padat dan tebal diharapkan dapat mencegah tergerusnya lapisan tanah.

Seperti diketahui, Sungai Ciharus yang merupakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum saat ini berada dalam kondisi kritis. Status kritis sungai yang mengalir di wilayah Desa Pangguh, Kecamatan Ibun dan Desa Cikawao, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung itu ditandai dengan ketiadaan tanaman keras yang dapat menampung cadangan air, sehingga dapat mencegah terjadinya erosi.

“Karena ketiadaan tanaman keras itulah, begitu air di Sungai Ciharus melimpah dan mengalir deras, dapat dipastikan akan terjadi banjir di sekitar Majalaya,” kata Deni.

Tak hanya luberan air saja yang akan “dikirim” ke Majalaya, tapi juga lengkap dengan lumpur yang berasal dari lahan rakyat yang umumnya dimanfaatkan sebagai areal persawahan. (A-184/A-26).***

Tak Ada Tanaman Keras di Sempadan Sungai

Sungai Ciharus Kritis

Sumber: http://www.klik-galamedia.com/ 18 Mei 2009

IBUN,(GM)-
Sungai Ciharus yang merupakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum berada dalam kondisi kritis. Di sekitar sungai yang mengalir di wilayah Desa Pangguh, Kec. Ibun dan Desa Cikawao, Kec. Pacet, Kab. Bandung itu, tak ada tanaman keras yang dapat menampung cadangan air untuk mencegah terjadinya erosi.

Ketua Umum Elemen Masyarakat Kab. Bandung, Deni Rismandani di sela-sela kegiatan penanaman rumput vetiver di sempadan Sungai Ciharus serta “Roadshow Pemberdayaan Masyarakat dalam Mengelola Sumber Daya Alam” di area Makam Karomah Kampung Cijambe, Desa Pangguh, Kec. Ibun, Kab. Bandung, Minggu (17/5) mengatakan, mulai dari Desa Cikawao sampai ke Gunung Rakutak, ada 12 titik yang berada dalam kondisi rawan dan berpotensi mengakibatkan bencana longsor. Di antaranya di Desa Cikaro, Cikawao, Wadat, Bojong, Cijambe, Malingping, dan Garuda.

“Di kawasan rawan bencana longsor itu, pohon tegakan sangat minim,” kata Deni.

Menurut Deni, minimnya tegakan pohon di sempadan Sungai Ciharus, menyebabkan tidak ada yang mengikat air hujan. Apabila Sungai Ciharus melimpah dan mengalir deras, dapat dipastikan akan terjadi banjir di sekitar Majalaya.

Deni mengungkapkan, selain akibat luapan Sungai Ciharus, banjir di Majalaya juga disebabkan oleh erosi pada lahan dari lahan rakyat yang umumnya digunakan sebagai pesawahan.

Untuk menanggulangi longsor, lanjut Deni, aktivis elemen lingkungan terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat pemilik lahan kritis. “Mereka diarahkan untuk menanam tanaman vetiver yang dinilai dapat mengantisipasi longsor. Sampai hari ini, kami sudah membagikan 5.000 pohon vetiver kepada masyarakat,” ujar Deni.

Target penghijauan di lahan kritis Sungai Ciharus, tambah Deni, berakhir di kawasan Gunung Rakutak yang berada di bagian selatan Kab. Bandung.

Perda 8/2005

Sementara itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pendayagunaan Tata Guna Air Balai Besar Wilayah Sungai Citarum, Asep Kuryana didampingi Pelaksana Pengelola Sumber Daya Air Wilayah Sungai Citarum Provinsi Jabar, Sukayat mengatakan, pihaknya akan berusaha menyosialisasikan pemberdayaan masyarakat dalam menangani lahan kritis.

“DAS Citarum itu rawan lahan kritis yang di antaranya disebabkan oleh faktor kebutuhan ekonomi masyarakat setempat. Untuk memenuhi kebutuhan kayu bakar, masyarakat mencarinya ke hutan. Akibatnya, hutan menjadi gundul,” kata Asep.

Asep selanjutnya mengungkapkan, selain mengajak masyarakat menangani lahan kritis, pihaknya juga sedang menyosialisasikan Peraturan Daerah (Perda) Jawa Barat No. 8/2005 tentang Sempadan Sumber Air.

“Berdasarkan perda itu, daerah bebas di sempadan Sungai Citarum pada bagian kiri dan kananya selebar 10 meter. Tetapi, untuk anak sungainya hanya 5 meter. Lebar lahan kosong bergantung pada kedalam sungai,” katanya.

Sempadan sungai, tambah Asep, perlu ditertibkan dan diamankan, karena merupakan daerah pengaman yang berfungsi menjaga daerah sungai. Di daerah sempadan sungai jangan sampai ada bangunan karena akan berdampak negatif pada sungai. (B.105)**

Juni 2009 

Kreasi Akar Wangi Andalan Garut  

Sumber: http://berita.liputan6.com/ 8 Juni 2009 

Liputan6.com, Garut: Pada 1920, budidaya akar wangi hanya dikenal untuk menghasilkan minyak atsiri, sebagai bahan dasar wewangian atau kosmetik. Penghasil akar wangi di dunia pun hanya ada tiga, yakni Haiti dan Bourbon di Pasifik, serta di Garut, Indonesia. Kondisi inilah yang kemudian dimanfaatkan Joanna dari Zocha Graha Kriya, di Garut, Jawa Barat untuk membuat berbagai kerajinan berbahan dasar akar wangi.

Akar wangi diambil dari pohon akar wangi. Akar yang baik untuk dijadikan kerajinan berusia 12 bulan, sebab panjangnya sudah mencapai 40 centimeter sehingga memadai untuk ditenun. Setelah itu akar-akar tadi ditenun. Ukuran akar yang tidak sama besar justru menjadi kelebihan karena menjadikan tenunan bertekstur unik.

Produk-produk akar wangi yang dihasilkan antara lain taplak meja, tas, lampion, tudung saji, tutup kulkas, boneka, sarung bantal, hingga sekat ruangan. Menurut Joanna, seluruh produk yang dihasilkan dibedakan menjadi tiga jenis yaitu fashionable, fungsional, dan dekoratif.

Usaha Joanna bermula pada 1998, saat ia mengunjungi sebuah pameran di Jakarta. Di sana ia melihat produk taplak meja yang menggunakan akar wangi. Namun akar wangi yang digunakan pada taplak meja tersebut hanya sedikit, karena masih didominasi benang. Joanna kemudian mendapat ide untuk membuat produk seluruhnya menggunakan akar wangi.

Usaha yang dirintisnya satu tahun kemudian lalu mendapat respon baik dari masyarakat. Kerajinan akar wangi pun dianggap menjadi kerajinan khas Garut. Kini kreasi akar wangi Joanna sudah dikirim ke Sulawesi, Sumatra, Malaysia, dan bahkan ke Timur Tengah.(TES/LUC)

Joanna (Zocha Graha Kriya)
Telepon: 0812 2300 494
Alamat: Jl. Pakuwon 10, Garut, Jawa Barat

Produksi Minyak Akar Wangi Terjegal Harga Mitan

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/ 23 Juni 2009 

GARUT, (PRLM).-Penyulingan akar wangi menjadi minyak atsiri terkendala mahalnya bahan bakar minyak tanah (mitan) yang mempengaruhi biaya produksi. Padahal, peningkatan biaya produksi tidak diikuti dengan kenaikan harga jual minyak akar wangi di pasaran.

Hal itu diungkapkan Ketua Asosiasi Minyak Atsiri Jawa Barat Ede Kadarusman ketika ditemui di kediamannya di Kp. Legok Pulus Desa Sukakarya Kec. Samarang Kab. Garut, Selasa (23/6). “Dengan dicabutnya minyak tanah bersubsidi dari pasaran, jelas kami kewalahan dalam biaya produksi. Apalagi, harga minyak tanah sudah mencapai Rp 8.000-Rp 9.000/liter,” katanya.

Jatah minyak tanah bersubsidi untuk Kab. Garut mencapai 6.124 kiloliter. Namun, minyak tanah bersubsidi sudah ditarik dari peredaran di Kab. Garut sejak April 2009. Minyak atsiri akar wangi (vetiver oil) diperoleh melalui proses penyulingan dari bagian akar tanaman akar wangi (Vetiveria zizanioides Stapf). Minyak ini mempunyai aroma yang lembut dan halus yang dihasilkan oleh ester dari asam vetivenat serta senyawa vetiverone dan vetivenol yang saat ini belum dapat dibuat secara sintetis.

Ede mengaku, saat dicabutnya minyak tanah bersubsidi, pengusaha penyulingan akar wangi sempat mengalami stagnasi produksi. Mereka sempat mencari-cari alternatif bahan bakar yang setara dengan minyak tanah sebelum subsidi dicabut.

“Sempat upayakan dengan mengganti pakai batu bara, tapi ternyata tidak mulus. Selain harus merubah tungku pembakaran, juga pasokan batu bara tidak lancar karena tidak banyak industri di Garut yang menggunakannya. Belum lagi, tingkat polusi udaranya yang tinggi dan perlu dipikirkan lagi,” ujarnya.

Garut menjadi satu-satunya sentra produksi utama minyak akar wangi di Indonesia dengan 30 orang pengrajin dan sekira 10.000 petani akar wangi. Luas areal perkebunannya mencapai 2.400 ha dengan areal tersebar di empat kecamatan yaitu Kecamatan Samarang, Leles, Ciwalu dan Bayongbong. (A-158/A-50)***

 Juli 2009

Cegah Longsor, Nagreg Ditanami Rumput Akar Wangi 

Pradipta Nugrahanto – detikBandung
Sumber: http://bandung.detik.com/  27 Juli 2009 

Bandung – Menjelang lebaran 2009, kini di jalur lintas Nagreg, Kabupaten Bandung, mulai ditanam rumput akar wangi atau vetiver. Rumput ini kegunaannya untuk mencegah longsor yang membahayakan penduduk dan pengguna jalan yang melintas di sekitarnya.

Akar Wangi/id.wikipedia.org

“Kami sudah mulai menanam rumput vetiver di daerah yang kerap terjadi longsor di Nagreg. Rumput ini banyak dikenal orang Indonesia sebagai rumput akar wangi,” tutur Kepala Badan Pemberdayaan Konstruksi dan SDM Departemen PU Sumaryanto Widayatin kepada wartawan usai membuka Kuliah Umum Kedinasan Program Magister Tahun Ajaran 2009 di Pusbiktek DPU, Jalan Cicabe, Bandung, Senin (27/7/2009).

Untuk menghindari rumput ini disalahgunakan pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab, Sumaryanto mengaku sudah menyusun sejumlah strategi.

“Kita sudah memprediksikan itu, mengingat di sini akar wangi lebih banyak digunakan sebagai bahan baku minyak wangi. Padahal tanaman itu sangat baik untuk mencegah longsor. Makanya kita menanam di daerah yang tinggi dan sulit dijangkau warga ataupun tangan jahil,” ujar Sumaryanto.

Sumaryanto menambahkan, saat ini tepian jalan tol Cipularang yang bertekstur curam juga menggunakan cara sama untuk mencegah longsor.

“Kita sudah berhasil mencoba di Cipularang. Mudah-mudahan di Nagreg pun begitu,” ujarnya.

(dip/bbn)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s