Berita 2010

Januari 2010

Vetiver, Rumput Pencegah Erosi

Pikiran Rakyat, 5 Januari  2010 
Sumber: http://bataviase.co.id/

WILAYAH Kab. Bandung Barat dikenaL memiliki struktur tanah labil sehingga rentan terjadi pergerakan tanah. Tercatat lebih dari tiga kali dalam setahun peristiwa longsor ataupun erosi tanah terjadi di daerah ini.Selama ini, bentuk pencegahan erosi dilakukan dengan reboisasi tanaman kayu. Namun, pernahkah mencoba menanami lereng rawan erosi dengan rumput?

Tentu saja bukan sembarang rumput. Rumput yang terkenal dapat menahan erosi adalah jenis vetiver (Vetiveria ziza-nioides). Berdasarkan fisiologinya, rumput vetiver ini dapat menembus ke dalam tanah, mengikat tanah, dan mampu mengontrol urukan tanah. Bahkan, akar vetiver dalam tanah memiliki kekuatan daya rentang setara seperenam kekuatan baja ringan. Selain itu, rumput ini mampu menahan air yang menjadikannya tahan kondisi kering baik dalam suasana asin, asam, bahkan basa.

Juli 2009 lalu, sekelompok petani dari Desa Cikole bergabung bersama beberapa lembaga swadaya masyarakat dan Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (Disbunhut) Kab. Bandung Barat, melaksanakan program konservasi daerah aliran sungai (DAS) hulu Cikapundung. Sebanyak enam desa di Kec. Lembang yaitu Desa Cikole, Cibogo, Jayagjri, Langensari, Mekarwangi, dan Pagerwangi dilintasi oleh hulu Sungai Cikapundung yang memasok air baku hingga kelestariannya terjaga.

DALAM kegiatan konservasi itu, lahan seluas 250 hektare ditanami rumput vetiver di antara penanaman tumbuhan keras lainnya seperti nangka, alpukat, jambu, dan mangga. Kepala Seksi Produksi Tanaman Hias, Buah, dan Tanaman Obat Disbunhut Kab. Bandung Barat, Alit Rukmana mengatakan, lahan vetiver seluas itu dapat dimanfaatkan petani hortikultura karena mampu menjaga kesuburan tanah dengan menghasilkan air selain mencegah erosi. Tak hanya itu, lahan itu juga diperuntukkan bagi penggembala kambing untuk merumput agar timbul suksesi, dan vege-tasi vetiver bisa terus tumbuh.

Salah seorang masyarakat yang membudidayakan rumput vetiver adalah Ridwan (27), warga Kp. Pondok, Desa Cikole, Kec. Lembang, Kab. Bandung Barat. Menurut dia, jika biasanya peternak itu menggunakan rumput gajah sebagai pakan, kini peternak menggantinya dengan menanam rumput vetiver. Menurut Ridwan, upaya ini dilakukan karena rumput gajah diketahui buruk untuk kesuburan tanah karena penyerapan airnya tinggi.Ia menyebutkan, fungsi rumput vetiver yang bibitnya didatangkan dari Bab itu di antaranya mampu mengonservasi tanah dengan menyerap pencemaran air serta limbah cair. Bagi tanah, keberadaan vetiver mampu menurunkan kehilangan tanah 90 persen, mengurangi aliran permukaan air hujan 70 persen, serta meningkatkan hasil tangkapan air 50 persen.

Ridwan juga menjelaskan penanaman vetiver sangat mudah. Kendalanya hanya terletak pada kemauan petani untuk memelihara rumput agar tidak terus tumbuh tinggi. Secara kasat mata, anatomi vetiver tidak berbeda jauh dengan jenis rumput lainnya. Namun jangan salah, harga satu siung benih vetiver cukup mahal yaitu Rp 500,00. (Eva Fahas/TR”)***

Ir. Yos Lewa, MT : Rumput Vetifer Banyak Manfaatnya

Sumber: http://kupang.tribunnews.com/ 18 Januari 2010 

Karena itu, jika bicara soal jalan longsor, Sosok Ir. Yoseph Lewa, MT, sangat paham.

Maklum, Yoseph sudah 15 tahun dipercayakan mengurusi proyek – proyek jalan, mulai dari menjadi Pimbagpro Pemeliharaan Jalan di Pulau Flores, kemudian sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), lalu menjadi Kepala Satker Pemeliharaan Jalan dan Jembatan Pulau Flores dan Lembata.

Saat ini, dia dipercayakan olej Kadis PU NTT, Ir. Andre W Koreh, MT untuk menjabat Kepala Seksi (Kasi) Pembangunan Jalan dan Jembatan di Bidang Bina Marga Dinas PU NTT.

“Kemarin saya baca di Pos Kupang tentang rumput vetifer di Ende. Itu sudah saya ujicoba dengan menanam sepanjang 950 meter di ruas jalan negara di Ndao, Ende tahun 2008 lalu. Rumput ini sangat cocok untuk menahan gerusan erosi pada badan jalan sehingga perlu ditanam di sepanjang jalan dengan topografi tebing yang rawan erosi. Panjang akar rumput ini mencapai 3 meter lebih. Baru ditanam satu bulan panjang akar rumput vetifer sudah dua meter,” kata Yoseph di ruang kerjanya, Jumat (15/1/2010).

Suami dari Aloysia Karolina Djogo dan ayah dari empat orang anak ini menjelaskan bahwa rumput vetifer saat ini sekarang gencar dikembangkan orang barat di Pulau Bali.

“Tapi sebenarnya bibit rumput ini yang terbaik ada di Pulau Flores. Saya bahkan sempat meminta bibit rumput vetifer pada seorang janda di Wolowea dan untuk mendapatkan bibit rumput ini saya tukar dengan seekor babi,” jelasnya.

Dia mengaku rumput Vetifer atau rumput akar wangi ini memiliki banyak manfaat.

“Selain cocok untuk menahan erosi, akar rumput ini bisa untuk minyak wangi dan sangat dicari pembeli dari negara Amerika, Perancis, China dan Jepang. Juga rumput ini bisa untuk dibuat cinderamata, juga untuk atap rumah. Bahkan, rumput ini jika dikembangkan diantara tanaman jagung bisa membunuh hama tanaman,” jelas Yosep Lewa.

Namun dia pun khawatir jika manfaat rumput ini diketahui luas maka masyarakat akan mencabut rumput vetifer yang sudah ditanam di tepi jalan yang rawan erosi.

“Rumput ini jika disuling maka minyaknya dijual dengan harga 80 dolar per liter atau setara Rp 800 ribu. Kalau masyarakat mau kembangkan maka rumput wangi ini memiliki banyak manfaat/fungsi namun rumput ini belum populer saja,” kata Yos mengakhir. (ferry ndoen)

Agustus 2010

Kali Brantas Tulungagung Kian Merana 

Sumber: http://www.pplhmangkubumi.or.id/ 19 August 2010 

Tulungagung (beritajatim.com) – Hasil penelitian Pusat Pelatihan Lingkungan Hidup (PPLH) Mangkubumi, kondisi air Sungai Brantas masuk kategori sedang. Ini berarti, Brantas dalam kondisi terancam. Hal ini akibat kerusakan lingkungan, terutama penambangan pasir mekanik.

Hal tersebut diungkapkan Direktur PPLH Mangkubumi Tulungagung, Mohamad Ichwan Mustofa, berdasar hasil penelitian selama 1 bulan terkhir. Kurang baiknya kondisi air Brantas diindikasikan dengan hilangnya serangga air, seperti kumbang air maupun capung. Hal ini diakibatkan daerah aliran sungai yang kian rusak.

Ichawan menyebut, salah satu kerusakan yang terjadi diakibatkan adanya penambangan pasir mekanik. Penambangan bermesin ini telah mengeruk pasir dengan sangat dalam. Sehingga arus Brantas menjadi sangat deras, dan memicu timbulnya erosi serta longsor pada bantaran sungai. “Kedalaman akibat tambang mekanik ini sangat tak terukur. Makanya arusnya jadi sangat deras, dan tak ada biota yang sanggup hidup di dalamnya,” terang Ichwan, Jumat (16/7/2010).

Ichawan juga memperingatkan Pemkab Tulungagung, agar mengambil langkah tegas. Sebab Sungai Brantas menjadi salah satu infrastruktur ketahanan pangan nasional. “Brantas mengalir sepanjang 350 km, dari hulu sampai hilir. Bayangkan, berapa sawah yang akan hilang jika Brantas rusak?” ujarnya.

Kerusakan tak kalah parah adalah hutan di bantaran kali. Kerusakan kebanyakan akibat penebangan dan beralih menjadi lahan pertanian. Lantaran tak ada pohon-pohon keras, membuat bantaran kali mudah terkikis air. Selain itu tak ada lagi pohon perindang dan membuat hewan air juga semakin punah.

PPLH Mangkubumi juga mengkritik cara pemerintah mengatasi erosi dengan plesengan atau dibeton. Pembetonan hanya membuat kondisi lingkungan air makin memburuk. Selain merusak rumah bagi hewan air, plesengan hanya tertahan sebentar. Solusi terbaik, menurut Ichwan, adalah penanaman rumput vetiver. Rumput dengan panjang akar mencapai 2 meter ini sangat efektir menahan erosi, tanpa merusak ekosistem sungai.

“Di negara barat sudah meninggalkan plesengan. Di negara kita justru beramai-ramai melakukan plesengan. Selain mahal, juga tidak efektif,” kritik Ichwan. [vid/kun]

Desember 2010

1000 Rumput Akar Wangi Siap Halau Erosi 

Sumber: http://lakpesdamjombang.org/ 13 December 2010 

Jombang – 1000 batang rumput Akar Wangi (Vetiveria zizanioides) telah disipakan oleh warga Mojoagung, hal itu dilakukan untuk mencegah terjadinya erosi yang kerap terjadi dan mengakibatkan kerugian materi.

Rencananya warga akan menanam 5.000 batang rumput vetiver, dalam waktu kurang dari satu bulan mereka telah mampu menyiapkan 1.000 batang pohon vetiver. Rumput-rumput tersebut akan ditanam di sepanjang sungai yang membelah sungai gunting dan catak banteng. Dua sungai tersebut biasa menjadi aliran arus sungai yang turun dari daerah Wonosalam.

Abdul Wahab, divisi pendampingan komunitas Lakpesdam NU Jombang mengatakan, guna menanggulangi banjir yang kerap terjadi di daerah Mojoagung, sejauh ini warga telah menyiapkan diri dengan mengikuti beberapa pelatihan diantaranya adalah pelatihan bencana di Sumber Boto, Jogoroto pada bulan November lalu dan study banding ke Pusdakota Surabaya untuk pengolahan sampah. “warga telah membekali diri dengan pelatihan disaster dan study banding pengolahan sampah di Pusdakota Suarabaya.” Tuturnya.

Ia menambahkan, kali ini sebagai wujud kongkrit warga akan menanam 5.000 batang rumput vetiver. Vetiver merupakan rumput dengan akar wangi yang biasanya digunakan sebagai salah satu bahan minyak wangi namun rumput ini juga memiliki kekuatan akar yang mampu menahan tanah dan menyerap air sehingga dapat mencegah terjadinya erosi.

Antusiasme warga menjaga lingkungan agar terhindar dari banjir pun tampak dari semangatnya yang juga berencana akan mengumpulkan bibit pohon bambu untuk ditanam di area tepi sungai. “saat ini masih dalam proses pengumpulan bibit, belum tahu betul berapa batang yang sudah terkumpul, yang jelas rencananya memang akan ditanam pohon bambu juga,” imbuh Abdul Wahab.

Warga pun telah membentuk kelompok komunitas pecinta lingkungan yang diberi nama PAMALI (Paguyuban Masyarakat Peduli Lingkungan) yang resmi didirikan sejak November lalu.

Taufik, salah seorang pendukung kegiatan tersebut dengan senang hati melakukan aktifias rutinnya mengisi kantung-kantung polyback dengan bokasi untuk ditanami rumput-rumput vetiver. Ia bertugas mengisi kantung-kantung polyback dan menuai benih vetiver untuk kemudian disemaikan dan setelah semai kantung plastik tersebut akan dikirim ke komunitas PAMALI./ER

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s