Ai Dariah dan Tony Besuki

Kebekolo di NTT: Kearifan Lokal dalam Konservasi Tanah

 Ai Dariah dan Tony Besuki 

Download file:wr302084  

Berbagai teknik konservasi telah dihasilkan Badan Litbang Pertanian. Namun, penerapannya oleh petani masih rendah karena bersifat investasi jangka panjang. Teknik konservasi yang berbasis pada kearifan lokal dapat menjadi pilihan, namun dengan menyempurnakannya agar memberikan manfaat yang optimal.

 Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu daerah di Indonesia dengan curah hujan terendah. Kabupaten Ende, misalnya, memiliki curah hujan tahunan sekitar 1.500 mm/tahun. Meskipun total curah hujan tahunan tergolong rendah, hujan berlangsung dalam kisaran waktu yang singkat sehingga intensitas hujan rata-rata menjadi tinggi. Bentuk wilayah yang umumnya bergunung dengan lereng >30%, serta tanah yang peka terhadap erosi menyebabkan lahan pertanian di NTT berisiko terhadap erosi dan longsor. Kondisi ini selanjutnya akan menurunkan produktivitas lahan.

Salah satu indikasi tingginya erosi pada lahan kering di NTT adalah tanah umumnya mempunyai lapisan atas (top soil) yang sangat tipis, bahkan ada yang hampir hilang. Dengan demikian, konservasi lahan bukan hanya diperlukan pada daerah beriklim basah, tetapi juga mutlak harus dilakukan pada lahan kering beriklim kering.

Ada berbagai teknik konservasi yang telah diteliti dan dikembangkan oleh Badan Litbang Pertanian. Meskipun teknik konservasi tersebut terbukti efektif menahan erosi, tingkat aplikasinya oleh petani masih sangat rendah. Faktor sosial ekonomi sering menjadi kendala dalam pengembangannya di tingkat petani. Hal ini karena penerapan teknik konservasi memerlukan biaya yang tinggi, padahal hasilnya tidak dapat dinikmati secara langsung. Oleh karena itu, dalam memilih teknik konservasi, selain faktor biofisik perlu pula mempertimbangkan faktor sosialekonomi petani.

Mengembangkan teknik konservasi yang berbasis pada kearifan lokal dapat menjadi salah satu pilihan, karena petani pada umumnya lebih mudah mengadopsi sesuatu yang sudah mereka kenal. Yang perlu dilakukan adalah bagaimana mengembangkan kearifan lokal tersebut agar memberi manfaat yang optimal.

Kebekolo, Alternatif Teknologi Konservasi 

Kebekolo merupakan barisan kayu atau ranting yang disusun atau ditumpuk memotong lereng. Tumpukan kayu/ranting ini berfungsi untuk menahan tanah yang tergerus aliran permukaan (erosi). Kebekolo banyak ditemukan pada lahan kering di NTT, khususnya di daerah Ende. Jarak antarkebekolo bergantung pada kemiringan lahan; makin miring lahan, jarak antarkebekolo makin rapat.

Kebekolo cukup efektif menahan lolosan tanah, selama kayu atau ranting yang digunakan belum melapuk. Oleh karena itu, cara konservasi ini memerlukan penggantian kayu/ranting secara kontinu. Agar kebekolo berfungsi lebih lama maka diperlukan sentuhan inovasi.

Penyempurnaan Kebekolo

Penyempurnaan kebekolo dapat dilakukan dengan menanam tanaman konservasi di sepanjang barisan kebekolo. Ada beberapa manfaat menanam tanaman konservasi pada barisan kebekolo. Bila yang ditanam jenis legum pohon maka hijauan dari pangkasannya bermanfaat sebagai pupuk hijau atau pakan ternak, sedangkan rantingnya untuk memperkuat kebekolo atau mengganti kayu/ranting kebekolo yang sudah lapuk. Kayu atau ranting dapat pula digunakan sebagai kayu bakar. Bila barisan tanaman konservasi sudah tumbuh rapat maka penggantian kayu kebekolo tidak diperlukan lagi, karena barisan tanaman konservasi sudah mampu menahan erosi.

Tanaman legum lain seperti glirisidia (gamal) dapat pula digunakan sebagai penguat kebekolo. Jenis tanaman ini banyak terdapat di NTT. Beberapa petani di Nualise, Ende sudah mulai menanam gamal pada barisan kebekolo. Namun penanamannya kurang rapat sehingga pada saat kebekolo lapuk, barisan tanaman gamal tidak mampu menahan erosi.

Tanaman lain yang dapat digunakan sebagai penguat kebekolo adalah rumput pakan ternak, lamtoro, dan vetiver (akar wangi). Dengan berjalannya waktu, tanaman konservasi seperti rumput, vetiver atau legum akan membentuk teras yang dikenal sebagai teras kredit (Ai Dariah dan Tony Besuki).

Untuk informasi lebih lanjut hubungi:
Balai Penelitian Tanah
Jalan Ir. H. Juanda No. 98, Bogor 16123; Telepon : (0251)336757; Faksimile : (0251)321608; E-mail : soil-ri@indo.net.id

Balai Pengkajian Teknologi
Pertanian Nusa Tenggara Timur, Jalan Timor Raya km 32, Kotak Pos 1022 Naibonat, Kupang 85362; Telepon : (0380)833766; Faksimile : (0380)829537
E-mail : bptp-ntt@litbang.deptan.go.id ; bptpnaibonat@kupang.wasantara.net.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s