Amanah

Mengais Rezeki dari Akar Wangi

Sumber: http://www.suaramerdeka.com/ 8 Mei 2009 

Akar wangi (Vetiveria zizanioides Stapf) sebenarnya banyak dijumpai di berbagai daerah di Indonesia. Pasalnya, tanaman ini kerap dijumpai tumbuh secara liar atau setengah liar. Sayangnya, banyak warga masyarakat yang mengabaikannya. Padahal, akar wangi bisa diolah menjadi aneka produk bernilai ekonomi cukup tinggi.

TANAMAN akar wangi tersebar di berbagai negara tropis, mulai dari India, Bangladesh, Asia Tenggara, Brazil dan Haiti. Tapi ia juga ditemukan di beberapa negara subtropis, terutama China.

Di Indonesia, tanaman ini banyak dibudidayakan di Kabupaten Garut, Wonosobo, dan Gunungkidul. Ketiga daerah ini dikenal sebagai sentra produksi minyak akar wangi, sekaligus sentra kerajinan berbahan akar wangi.
Akar wangi termasuk tanaman rumput menahun, yang membentuk rumpun yang besar, padat, dengan arah tumbuh tegak lurus, dan kompak.

Akarnya bercabang-cabang, memiliki rimpang, dengan sistem akar serabut yang dalam, serta beraroma harum. Dari situlah asal-mula nama akar wangi muncul.

Rumpunnya bisa tumbuh hingga ketinggian 1-3 m, dengan diameter 2-8 mm. Sedangkan daunnya berbentuk garis, pipih, kaku, dengan permukaan bawah daun licin.

Perbungaan malai (tandan majemuk) terminal. Setiap tandan memiliki panjang sekitar 10 cm. Ruas yang terbentuk antara tandan dan tangkai bunga berbentuk benang, tetapi di bagian apeksnya tampak menebal.
Manfaat Tanaman
Banyak sekali manfaat tanaman akar wangi, sehingga layak dibudidayakan dan dijadikan salah satu komoditas pertanian unggulan. Pertama, karena mengandung minyak atsiri, maka akar wangi bisa diolah menjadi minyak wangi, atau sebagai bahan dalam industri kosmetika, parfum, dan sabun mandi.

Produk minyak akar wangi dari Indonesia, atau biasa disebut java vetiver root oil, sangat dikenal di mancanegara. Selama ini, minyak akar wangi Indonesia diekspor ke Asia (Singapura, India, Jepang, Hongkong), Eropa (Inggris, Belanda, Jerman, Italia, Swiss), dan AS.

Hingga kini pun, peluang ekspor masih terbuka, terutama di Asia Selatan, Asia Timur, Eropa Timur, dan Amerika Selatan. Apalagi tak banyak negara lain yang menjadi kompetitor, yang cukup menonjol hanyalah Tahitti dan Borbon.

Kedua, akar wangi yang sudah dikeringkan bisa dijadikan bahan baku aneka kerajinan. Misalnya tas, taplak meja, tatakan gelas, ikat pinggang, dompet, sepatu / sandal, penutup (kap) lampu, tikar, boneka, hingga gorden. Selain bisa menjadi hiasan, harum akar wangi dipercaya bisa mengusir rayap.

Ketiga, para ahli botani mengelompokkan akar wangi sebagai tumbuhan biopestisida. Artinya bisa menjadi pembasmi hama serangga secara alami. Jika ditanam secara tumpangsari dengan tumbuhan lain, maka serangga tak berani mengganggu.

Keempat, yang sangat penting di tengah degradasi lingkungan di Indonesia, tanaman akar wangi juga mampu mencegah erosi tanah. Akarnya yang tertanam kuat, bahkan memiliki kekuatan 1/6 dari kekuatan baja di dalam tanah, bisa mencegah tanah longsor di areal perbukitan.
Komoditas Unggulan
Dengan demikian, akar wangi layak dijadikan komoditas unggulan bagi setiap pemerintah daerah. Sebab bukan hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga mampu menghijaukan lahan kritis dan menekan potensi terjadinya longsor.
Sejauh ini, hanya Pemkab Garut yang memberi perhatian khusus terhadap budidaya tanaman akar wangi. Pemkab dan DPRD Garut bahkan sudah membuat perda khusus, yang menetapkan adanya kawasan budidaya akar wangi.

Tidak mengherankan apabila saat ini Garut memiliki lahan budidaya akar wangi terluas di Indonesia, yang seluas 2.400 hektare (ha), dan terpusat di empat kecamatan, yaitu Samarang (750 ha), Bayongbong (210 ha), Cilawu (240 ha), dan Leles (750 ha).

Dengan lahan seluas itu, Garut mampu menghasilkan 19.000 ton akar wangi mentah, beserta hasil olahan berupa minyak akarwangi sebanyak 75 ton per tahun. Ini merupakan produksi tertinggi dibandingkan kabupaten lain di Indonesia.

Bahkan kegiatan pengembangan akar wangi di Garut mampu melibatkan 5.000 kepala keluarga, baik sebagai pemilik maupun petani / penggarap. Jumlah ini belum termasuk mereka yang memilih jalur industri (pembuatan minyak), kerajinan, dan perdagangan.

Apalagi akar wangi tidak memerlukan perawatan yang rumit. Anda cukup menanam, menyirami, dan mengawasi sampai tumbuh tunas. Setelah itu, ia akan tumbuh subur dan mampu bertahan dalam waktu lama.

Kalau dibiarkan hidup selama 50 tahun, misalnya, panjang akarnya bisa mencapai 15 meter secara vertikal ke bawah, sehingga menjadi paku bumi yang amat murah. Jadi, banyak sekali rezeki yang diperoleh dari budidaya akar wangi. (Amanah-32)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s