Cornelius Helmy Herlambang

Rumput Ajaib yang Menyelamatkan

CORNELIUS HELMY HERLAMBANG
Kompas, 5 Agustus 2011

Sumber link:http://www.batukar.info/ 

Petani akar wangi di Desa Sukakarya, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, Jawa Barat, memisahkan akar dari batang tanaman, Selasa (5/7). Akar wangi adalah bahan utama penyulingan minyak asiri. Kini, minyak asiri dijual Rp 1,1 juta-Rp 1,7 juta per kilogram.

Ada banyak cara dilakukan orang untuk mencegah bencana atau paling tidak meminimalkan dampak bencana alam bagi kehidupan manusia. Di wilayah selatan Garut, Jawa Barat, yang dikenal rawan longsor, misalnya, warga setempat menggunakan tanaman akar wangi untuk menguatkan tanah sehingga tidak mudah longsor.

Tuan tanah asal Belanda di awal tahun 1900, Mr Haag, tahu benar Desa Sukajaya di Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, di lereng Gunung Guntur, cocok dijadikan areal perkebunan. Dengan suhu antara 13 dan 20 derajat celsius dan berada di ketinggian 1.400 meter di atas permukaan laut, wilayah Sukajaya cocok ditanam kopi dan karet.

Namun, dengan curah hujan tinggi, kemiringan sekitar 30 meter, dan tanah sangat gembur, ancaman longsor ada di depan mata.

Mr Haag berpikir keras mencari solusi untuk mengatasi ancaman longsor ini. Pilihannya jatuh pada tanaman akar wangi atau vetiver (Vetiveria zizanioides). Ia lantas mendatangkan bibitnya langsung dari Belanda tahun 1918. Berdasarkan laporan ilmiah saat itu, akar serabut tanaman asal India ini cocok sebagai penahan erosi.

Pilihannya tidak salah. Setelah ditanami vetiver, tanah itu menjadi lebih kuat terhadap aliran air. Akarnya bagaikan tanggul penahan yang kuat menahan laju air.

”Keberadaannya dirasakan lebih menguntungkan setelah kakek buyut kami tahu vetiver punya nilai ekonomi sebagai bahan dasar perisa dan pewangi. Kini, minyak penyulingan dari akar vetiver laku dijual Rp 1,1 juta- Rp 1,7 juta per kilogram. Indonesia adalah pengeskpor terbesar kedua dunia setelah Haiti,” kata Eded Kadarusman, petani vetiver dan pengusaha minyak asiri di Sukajaya.

Kolom beton

Pemerhati vetiver dari Ikatan Arsitek Lansekap Indonesia Jawa Barat, Rully Wijakusuma, dalam makalah berjudul Stabilisasi Lahan dan Fitoremediasi dengan Vetiver Sistem mengatakan, vetiver sejak lama dikenal sebagai tanaman peredam erosi. Di India, manfaat ini sudah dilakukan sejak 200 tahun yang lalu. Satu rumpun akar vetiver bisa menancap di tanah keras pada kedalaman 3 meter. Tanah pada kedalaman 1-2 meter ini diyakini sebagai lapisan paling mudah lepas dan luruh. Akar vetiver terpanjang, 5,2 meter, pernah ditemukan di Thailand.

Keadaan ini membuat akar vetiver berfungsi seperti kolom beton yang menancap di tanah yang lebih stabil. Akar juga menahan material erosi di belakang tubuhnya sehingga dapat mengurangi kecuraman dan membentuk teras yang lebih landai.

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Bandung Raya ini mengatakan, di berbagai negara, vetiver telah lama digunakan sebagai stabilisator saluran irigasi, jalan tol, erosi, dan dinding tambak ikan, di antaranya di China, Malaysia, Vietnam, Australia, Senegal, Honduras, Madagaskar, dan Afrika Selatan. Di India, kekuatan akar vetiver bahkan sudah digunakan dalam mitigasi bencana sejak 200 tahun lalu.

”Keunggulan lainnya adalah daya adaptasi yang sangat kuat. Vetiver mampu bertahan di lahan berbatu, asam, salinitas tinggi, serta mengandung logam berat, seperti seng, nikel oksida, dan raksa. Dengan segala kelebihannya itu, vetiver kerap disebut sebagai rumput ajaib,” ujar Rully.

Peninggalan Mr Haag ini tidak hilang pasca-kedatangan vetiver 93 tahun yang lalu. Selain akarnya diolah menjadi minyak asiri, masyarakat Sukajaya juga tetap memanfaatkan vetiver untuk memperkuat daerah resapan sekaligus penampung air. Data Dinas Perkebunan Kabupaten Garut menyebutkan, saat ini ada 2.400 hektar lahan vetiver yang tersebar di empat kecamatan, yaitu Samarang, Pasirwangi, Cilawu, dan Bayongbong.

Petani vetiver tidak serakah saat masa panen tiba atau saat vetiver berusia 12 bulan. Mereka tidak mengambil semua vetiver siap panen. Di beberapa titik tanah yang curam, vetiver dibiarkan tetap hidup untuk menahan laju erosi. Masyarakat juga mulai menaman vetiver di sekitar pematang kebun sayur dan sekitar hutan di lereng gunung Guntur. Bukan untuk diambil akarnya, tetapi untuk menahan laju erosi tanah

”Hasilnya, sungguh melegakan. Meski empat kecamatan itu dikategorikan sebagai daerah dengan potensi longsor menengah hingga tinggi, belum ada laporan daerah yang ditanami vetiver terimbas longsor. Vetiver justru menyelamatkan masyarakat yang menanamnya,” ujar Wakil Ketua Koperasi Akar Wangi Kabupaten Garut Abdullah Rasadi.

Menyelamatkan

Abdullah mencontohkan kejadian longsor tahun 2010. Kejadian longsor saat itu lebih banyak disebabkan kerusakan hutan di Gunung Guntur akibat pembalakan liar dan penanaman sayuran secara berlebihan. Ia mengklaim tidak ada tanaman vetiver ditanam di daerah itu.

Contoh lain, vetiver menyelamatkan warga saat longsor melanda Sukajaya sekitar 10 tahun lalu. Tanah longsor tertahan vetiver sehingga permukiman yang berada di bawahnya selamat.

Kepala Bidang Produksi Perkebunan Dinas Perkebunan Kabupaten Garut Haeruman mengatakan, akar vetiver juga ampuh menyerap logam berat dari dalam tanah. Hal itu terbukti dengan kualitas air yang lebih bersih didapatkan masyarakat yang tinggal di sekitar tanaman vetiver.

”Kami berencana memperluas vetiver di Kabupaten Garut menjadi sekitar 5.000 hektar. Harapannya, ancaman longsor bisa ditekan sembari memanfaatkan nilai ekonomi vetiver setelah diolah menjadi minyak asiri,” katanya.

Penerapan vetiver untuk menahan laju erosi ternyata menarik minat berbagai pihak untuk menerapkan hal yang sama. Eded yang juga anggota Dewan Atsiri Indonesia mengatakan, saat ini banyak bibit vetiver asal Garut ditanam di daerah rawan longsor di Papua dan Bandung, sebagai penahan intrusi air laut di DI Aceh, hingga sebagai penahan erosi tebing tanah di Tol Cipularang.

”Tanggapan positif ini memberikan semangat kepada kami untuk memasyarakatkan vetiver di daerah lain. Masih banyak masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor belum tahu mengenai kekuatan rumput ajaib ini,” ujar Eded.

Seiring maraknya tanah longsor di berbagai daerah, tidak ada salahnya mulai melirik pada vetiver sebagai mitigasi bencana.

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2011/08/05/02514663/rumput.ajaib.yang.menyelamatkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s