David J Booth dan Nengah Ardika Adinata

Rumput Vetiver Tanaman alternatif untuk KTA

Download file: article_pdf 

Mencegah hilangannya nutrisi dan unsur hara tanah akibat erosi merupakan hal yang sangat penting dari rangkaian sistem pertanian berkelanjutan dengan input luar rendah (LEISA). Tanpa kontrol pencegahan erosi yang baik, pertanian berkelanjutan mustahil dapat dilaksanakan. Membuat terasering untuk mencegah erosi adalah pekerjaan yang sangat berat. Beberapa jenis perdu seperti gamal, lamtoro dan kaliandra terkadang bisa digunakan sebagai penahan erosi, namun menanam dan merawat tanaman tersebut tidaklah mudah.

Kita perlu alternatif

Ada beberapa jenis tanaman yang dapat dipilih sebagai pengendali erosi yang sudah digunakan oleh petani. Ubi kayu dan nenas yang ditanam secara berdekatan misalnya, akan dapat dimanfaatkan sebagai penahan erosi selain sebagai penghasil bahan pangan dan buah-buahan. Pilihan lain tanaman pengendali erosi yang belum banyak dikenal dan jarang digunakan adalah rumput vetiver (Vetiveria zizanioides).

Rumput vetiver

Rumput vetiver, atau yang dikenal juga dengan akar wangi, dapat tumbuh di perbukitan, dataran rendah bahkan di daerah rawa, atau pada tanah yang kondisinya buruk (bekas tambang), baik di daerah dengan curah hujan rendah, kurang dari 200 mm, maupun curah hujan tinggi, lebih 3000 mm. Di Indonesia, sejak sebelum Perang Dunia II, akar vetiver diambil minyaknya (minyak atsiri). Kota Garut, Jawa Barat, adalah sentra penghasil vetiver di Indonesia.

Akar vetiver menyebar luas di dalam tanah dengan panjang akar dapat mencapai 3 m. Hal ini sangat membantu menstabilkan tanah. Vetiver, dengan akarnya yang panjang menghunjam ke dalam tanah, dapat dijadikan alternatif pengendalian longsor yang cukup murah. Vetiver dapat membantu menstabilkan tebing jalan maupun lereng-lereng perbukitan. Caranya adalah dengan menanamnya sebagai strip rumput yang ditanam secara memotong lereng atau mengikuti kontur. Jarak stripnya 15 cm, tiap titik diisi tiga bibit (per rumpun).

Menanam rumput vetiver di lereng jalan

Desa Ban di Kec. Kubu, Kab. Karangasem, Bali adalah sebuah desa terpencil yang letaknya di ketinggian 150-1.300 mdpl, di kaki Gunung Agung, gunung berapi tertinggi di Bali. Hampir sebagian besar wilayah ini terdiri dari lahan kering berpasir dangan kemiringan 20-50 derajat. Masyarakat setempat hanya memanfaatkan lahan yang mereka miliki dengan menanam jagung dan singkong saja.

Pada tahun 2000 tepatnya bulan Maret, Yayasan Ekoturin sebuah lembaga yang berkedudukan di Bali, yang memfokuskan programnnya pada pengentasan kemiskinan dan pendidikan, memperkenalkan rumput vetiver kepada masyarakat Desa Ban. Ketika itu rumput vetiver digunakan untuk menstabilkan lereng badan jalan agar terhindar dari erosi sepanjang kurang lebih 5 kilometer. Sampai saat ini, Yayasan Ekoturin dengan programnya yang lebih dikenal dengan East Bali Poverty Project/EBPP, dengan menggunakan teknologi tepat guna (menggunakan bahan-bahan lokal yang tersedia), telah dibuat jalan sepanjang 15 km yang bisa dilalui kendaraan, padahal sebelumnya hanya merupakan jalan
setapak. Keberadaan jalan ini sangat membantu masyarakat desa dalam
menjalankan kegiatannya sehari-hari baik seperti pergi ke pasar, rumah sakit, dan aktivitas sehari-hari lainnya.

Dengan dana yang terbatas yang diperoleh dari para donatur, Yayasan Ekoturin berhasil menyediakan 83.000 anakan vetiver, 80.000 digunakan untuk stabilisasi lereng jalan dan sisanya digunakan untuk percobaan di 3 dusun sekitarnya.

Sebanyak 80.000 (idealnya 240.000) anakan vetiver tadi ditanam pada bagianbagian lereng yang kemiringannya mencapai 60 derajat dan dianggap paling besar risikonya tergerus erosi.

Penanaman dilakukan dengan menggunakan tongkat bambu yang diruncingkan untuk membuat lubang di tanah dan memasukkan anakan vetiver, dan dapat diselesaikan dalam waktu 3 hari. Hujan berhenti turun dua minggu setelah penanaman, dan tanpa perlu lagi menyiram rumput-rumput tersebut, diharapkan rumputrumput dapat tumbuh dengan optimal.

Memperkenalkan vetiver kepada anak-anak

Menyadari bahwa untuk memperkenalkan konsep baru kepada suatu komunitas (orang dewasa) yang minim pengetahuan membutuhkan waktu yang cukup lama dan sentivitas, maka diputuskan untuk menyebarkan informasi mengenai vetiver melalui anak-anak mereka.

Program pengenalan ini dimulai beberapa hari sebelum kegiatan formal dilaksanakan, yaitu dengan mempersiapkan dan menanam kembali anakan-anakan vetiver yang telah ditanami di sepanjang jalan sebelumnya, yang telah tergerus atau rusak oleh hujan dan angin kencang sewaktu anakan masih belum kuat.

Beberapa manfaat rumput vetiver

Menjaga sumber air pegunungan dari erosi. Pada Proyek Pengelolaan Sumber Air minum yang dikembangkan sejak tahun 2002, vetiver telah digunakan sebagai cara teknisbiologi untuk menjaga areal pegunungan yang menjadi sumber air untuk lebih dari 1.500 keluarga dari kelongsoran.

Kebanyakan sumber mata air berasal dari permukaan sisi bukit, dan pada saat dikembangkan menjadi tempat penampungan air, areal tersebut tentu membutuhkan kestabilan tanah yang baik di sekelilingnya agar terhindar dari erosi akibat air hujan. Pada banyak kasus, harus diatur kembali aliran air, kemudian menanami sekeliling aliran air tersebut dengan tanaman vetiver yang mempunyai perakaran sedalam kurang lebih 10 cm. Biasanya kami menggunakan polibag sebagai alat bantu untuk meyakinkan terjadinya perkembangan perakaran sebelum hujan turun. Pupuk organik juga digunakan untuk mempercepat pertumbuhan akar, sehingga dalam waktu dua minggu setelah penanaman, tanaman telah tumbuh dengan cukup baik.

Sebagai mulsa yang efektif untuk kebun-kebun tanaman organik. Sejak percobaan pertama pada kebun-kebun tanaman organik yang dilakukan pada tahun 2001, salah satu persoalan terbesar adalah tingkat kekeringan tanah yang tinggi yang disebabkan oleh angin kencang dan sinar matahari. Tingkat kemiringan lahan yang sangat tinggi di areal kebun menjadi sangat tidak memungkinkan untuk menggunakan pelindung lain selain tanaman bambu yang ditanam pada areal tersebut. Walaupun demikian, pada saat vetiver dikembangkan dan kemudian menjadi alternatif alami kedua, oleh anak-anak sekolah, vetiver ditanam di sekeliling kebun percobaan mereka, sehingga menjadi mulsa yang dapat membantu menghasilkan panen tanaman sayuran yang lebih baik.

Kerajinan Tangan dari akar dan rumput Vetiver. Hasil panen pertama dari rumput vetiver pada tahun 2001 memungkinkan team EBPP untuk mengintegrasikan kerajinan tangan kepada anak-anak sekolah melalui kurikulum sekolah. Setelah mempelajari tentang aroma akar-akaran vetiver, terdapat banyak pilihan untuk memproduksi barang-barang sederhana, misalnya membuat tas untuk tempat air minum, boneka, binatangbinatangan, sapu, dan bola-bola yang sederhana.

Tujuan sebenarnya dari kegiatan ini adalah sebagai sarana rekreasi bagi anak-anak tersebut, dan dalam beberapa minggu setelah kegiatan ini dilakukan, para orang tua mereka mulai ikut serta pada kelas kerajinan ini, dan berkeinginan mengembangkan koperasi sebagai tempat menjual
kerajinan tangan tersebut.

Selain kegunaan yang telah disebutkan di atas, masih ada banyak penggunaan dan kegunaan vetiver yang telah dirangkum dalam Spesifikasi Teknis Rumput Vetiver yang terdapat dalam website: http://www.vetiver.org, yaitu rehabilitasi lahan, stabilisasi aliran sungai, kanal dan sumber air, peningkatan kualitas air, mitigasi polusi udara, industri parfum minyak aromatik, atap rumah, pakan ternak, pembuatan kertas, pembuatan obatobatan, dan mitigasi gas greenhouse.

Konferensi vetiver

Yayasan Ekoturin yang pada tahun 2004 ini ditetapkan sebagai Koordinator Vetiver Network di Indonesia oleh The Vetiver Network (TVN) Amerika Serikat, telah melakukan konferensi vetiver yang pertama di Bali pada tanggal 31 Mei 2000. Pada konferensi tersebut, yang diselenggarakan oleh David J. Booth dari Yayasan Ekoturin, dan Dr. Ed Balbarino, seorang ahli vetiver dari Filipina, terlaksana dengan sukses dan dihadiri oleh beberapa pejabat Pemerintah Indonesia, beberapa orang asing yang bekerja di Indonesia, orang-orang pertanian, LSM dan mahasiswa.

Saat itu penyelenggra tidak sempat menyiapkan banyak contoh yang dapat membuktikan kegunaan dan kekuatan dari vetiver. Sehingga kemudian direncanakan untuk melaksanakan Konferensi Vetiver yang kedua di Bali yang rencananya akan diselenggarakan pertengahan tahun 2004 ini. Penyelenggara berharap kegiatan ini diikuti oleh para ahli vetiver dari wilayah Asia Pasifik.

Bagi pembaca yang berminat terhadap kegiatan konservasi tanah dan air (KTA) dan tertarik serta berminat dengan rumput vetiver ini, silakan hubungi dan bergabung dengan kami, Yayasan Ekoturin!

David J. Booth, Pendiri dan Ketua Yay. Ekoturin
Nengah Ardika Adinata, Staf Lapangan Yay. Ekoturin,  PO Box 3850 Denpasar – Bali; telp. 0361-410 071 ; website: http://www.eastbalipovertyproject.org

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s