Hernawaty

Rumput Vetiver, Pagar Hidup Penahan Erosi

Sumber:http://hernawatyng.multiply.com/journal   

Seiring semakin sering terjadinya bencana tanah longsor di tanah air, menarik sekali apabila kita sedikit membahas tentang topik tanaman rumput yang dapat mengurangi dan menghindarkan bencana erosi.

PERMASALAHAN UMUM TANAH DAN AIR:

  1. Longsor/erosi karena gundulnya lahan. Lahan tanpa tanaman penahan seperti pohon, semak belukar maupun rumput sangat rentan mengalami longsor, terutama lahan miring yang dirambah penebangan liar maupun untuk tujuan pertanian.
  2. Berkurangnya kesuburan tanah. Akibatnya, pendapatan petani yang sudah sangat miskin semakin terpuruk.
  3. Krisis air, berefek langsung terhadap hasil pertanian dan ketersediaan air untuk kebutuhan pertanian , industri dan rumah tangga.
  4. Kerusakan tanah akibat penggunaan pupuk kimia dan pestisida.
  5. Kontaminasi (penumpukan zat racun) pada tanah dan air dari limbah industri, pertanian, pertambangan, dll.

PENYEBAB

  1. Gundulnya lahan, tanpa tanaman penahan aliran air dari hujan, maka permukaan tanah terkikis dengan sangat cepat, pohon-pohon yang tumbuh di sekitar lereng akan tercabut dengan mudah apabila tersapu aliran hujan deras (longsor)
  2. Lapisan tanah menipis dan kesuburannya (unsur hara) dibawa/digerus oleh air hujan karena tiada tanaman yang berfungsi untuk mengikat/menahan tanah.
  3. Penguapan air meningkat tanpa tumbuhan penahan. Curah hujan lewat dengan cepat tanpa sempat diserap tanah. Persediaan air tanah/cadangan air alamiah menurun drastis.
  4. Masyarakat menggunakan pupuk kimia karena mengharapkan hasil maksimal yang berakibat kesuburan tanah menurun dengan cepat/tanah menjadi kering.
  5. Lahan bekas penambangan mineral, pembuangan sampah/limbah rumah tangga, limbah industri dengan kandungan logam berat, lokasi penimbunan limbah septic, limbah peternakan dll. menyebabkan tanah dan air di sekitar lokasi rusak berat karena kandungan zat-zat beracun yang membutuhkan waktu beratus-ratus tahun untuk menjadi netral kembali.

SOLUSI

Permasalahan tersebut diatas bisa di atasi dengan penanaman rumput vetiver (rumput akar wangi). RUMPUT AJAIB? Ajaib tapi nyata. Lihat http://www.vetiver.org berjuta-juta artikel bisa dibaca untuk mengetahui manfaat rumput Vetiver dan contoh pemanfaatannya di berbagai bidang, di seluruh dunia, untuk mengatasi problem degradasi tanah dan air yang disebabkan oleh faktor alamiah maupun non-alamiah (pengelolaan oleh manusia). Kesimpulannya sama, Vetiver memberi manfaat yang ajaib dalam waktu singkat dan super murah, sehingga terjangkau oleh petani-petani kecil di negara-negara berkembang yang notabene ‘miskin’ (atau bermentalitas miskin?), contohnya Indonesia.

Sejak tahun 1987 teknologi ini telah diuji-coba di berbagai negara – India, Cina, Filipina, Indonesia, Nigeria, Madagaskar, Brazil dan Australia adalah contoh sebagian kecil saja. Tanah dan iklim di negara-negara tersebut sangat berbeda jauh. Contohnya di Cina, vetiver ditanam sebagai pagar untuk melindungi tanaman teh dan jeruk di lahan dengan kemiringan 60 persen, bertanah merah dan pH rendah sekitar 4.1. Di India, vetiver dikembangkan dengan sukses di kebun kapas bertanah liat hitam (tanah vertisol) pada kemiringan 2 persen atau kurang. Di negara lain, contohnya Trinidad, selama bertahun-tahun vetiver dipakai untuk menguatkan tepi jalan desa (jalan batu). Di setiap situasi, rumput yang unik ini selalu menunjukkan sifat-sifat yang luar biasa, sangat sesuai untuk dijadikan teknologi penahan erosi dan untuk membantu penyerapan air dengan biaya rendah, serta ideal untuk segala kondisi lahan.

ASAL USUL DAN HABITAT

Tanaman Vetiver atau rumput akar wangi termasuk famili Graminae (Poaceae), merupakan tanaman berumpun lebat dan berakar serabut, seperti halnya tanaman jagung, tebu, serai (Cymbopogon citratus), dll. Nama yang ditabalkan oleh Carolus Linneaus pada tahun 1771 adalah Vetiveria zizanioides. Kata Vetiveria diambil dari “vetiver” dalam bahasa Tamil artinya ‘akar yang digali’. Menurut para ahli, tumbuhan ini berasal dari India Utara, sekitar lokasi Bombay namun banyak variasi yang ditemukan tumbuh liar di wilayah tropis dan subtropis di seluruh India, Bangladesh dan Myanmar. Kata di belakangnya zizanioide artinya secara harfiah dalam bahasa Latin adalah ‘di pinggir sungai’ karena tumbuhan ini ditemukan di habitat aslinya sepanjang bedengan sungai, tanah paya dan rawa rawa.

Vetiver masuk ke Indonesia sekitar tahun 1920, dibawa oleh Belanda, saat itu vetiver hanya dimanfaatkan untuk diambil minyak akarnya sebagai bahan baku parfum. Sedangkan untuk manfaat lainnya belum diketahui dengan jelas.

Vetiver dikembangkan di Bali oleh Yayasan Ekoturin. Pada tahun 2000 dengan mendatangkan langsung bibitnya dari Flores, lokasi penanamannya pertama kali dilakukan di pinggir kanan-kiri jalan yang baru selesai dibuka dengan gotong royong bersama masyarakat dengan tujuan untuk menahan longsor.

Pada tahun 2001 Yayasan Ekoturin mengadakan Confrence Vetiver Bali I di hotel Radison Bali, Sanur dengan mengundang instansi terkait seperti Dinas Pertanian, Kehutanan, Perkebunan dan pemerhati lingkungan hidup. Sampai saat ini pengembangannya masih belum terlihat nyata karena minimnya dukungan pemerintah dan keberadaan program lapangan yang komprehensif untuk para petani. Minim pula pengetahuan dan ahli botani yang tertarik untuk mengembangkan rumput ini. Di China dan Filipina rumput ini sudah menjadi komoditas yang dibudi-dayakan oleh para pelaku bisnis, terutama di bidang properti, untuk menstabilkan lahan pemukiman yang baru dibuka dan masih rentan erosi.

Di Yayasan Ekoturin, tanaman ini dipakai untuk menahan erosi lahan domestik, lereng sumber mata air, jalan desa, rehabilitasi lingkungan dan sebagai tanaman mitra untuk mengembangkan kebun sayuran organik rakyat di tanah pasir yang miring, rentan erosi dan tandus, yang awalnya sama sekali tidak bisa ditanami sayuran apapun kecuali tanaman singkong/ubi kayu.

Yayasan Ekoturin telah berhasil menerjemahkan buku saku berbahasa Indonesia yang dikembangkan oleh Bank Dunia (World Bank) sebagai buku acuan umum untuk menanam dan memanfaatkan tanaman Vetiver. Buku ini sering disebut ‘The Green Book’, judul bahasa Indonesianya ‘Rumput Vetiver, Pagar Hidup Penahan Erosi’. Kontak dengan Yayasan Ekoturin – East Bali Poverty Project, http://www.eastbalipovertyproject.org.

Sebagai penerjemah edisi perdana buku panduan berbahasa Indonesia tersebut, penulis bisa dihubungi untuk mendapatkan teks asal yang belum diedit (tanpa gambar; gambar bisa di-scan dari edisi perdana Yayasan Ekoturin). Hal ini untuk memudahkan penyebaran informasi, apabila ada pihak-pihak yang ingin mencetak atau mendapatkan buku panduan ini namun sudah kehabisan. Kontak dengan Herna_ng@yahoo.com

KEISTIMEWAAN VETIVER

Sebagai tanaman rumput pagar yang direkomendasikan oleh World Bank dalam usaha pelestarian lingkungan, akar wangi tentunya memiliki banyak keunggulan dibandingkan tanaman lain yang telah diuji coba dalam banyak proyek-proyek lingkungan di seluruh dunia. Keunggulan tanaman akar wangi antara lain yaitu:

  • Benih dan kondisi tanaman yang steril sehingga tidak menjadi ancaman gulma bagi tumbuhan lain.
  • Tunas tumbuh di dalam tanah sehingga aman terhadap faktor pemusnahan alamiah seperti api/kebakaran hutan, terinjak dan dimakan oleh ternak. Rumput baru akan tumbuh kembali setelah terbakar/dibabat/dimakan ternak.
  • Batangnya akan tumbuh tumpang tindih dengan rumpun di sisi kanan kiri sehingga membentuk rumpun yang padat berfungsi sebagai ‘tembok’ alamiah penahan erosi. Tembok ini hanya tumbuh dan memberi perlindungan di tempat mana ditanam dan tidak ‘menyebar’.
  • Usianya bisa mencapai 50 tahun bahkan lebih dan dapat diperbaharui dengan gampang sehingga memberikan perlindungan ‘permanen’ dibandingkan tembok batu dan semen yang pemeliharaannya repot dan mahal.
  • Akarnya tumbuh vertikal rata-rata 3 meter di dalam tanah, berfungsi ‘mengikat’ lapisan atas tanah dan mencegah bencana longsor terutama di lahan miring. Akar yang panjang tersebut juga mengikat lapisan tanah agar tidak retak dan terbelah di musim kering ataupun rontok oleh terjangan banjir di musim hujan.
  • Batangnya sangat kaku dan kuat menahan sapuan air dengan kecepatan 1 cusec (.028 cumecs) dengan ketinggian rata-rata 12 inci (30cm).
  • Bisa bertahan hidup dalam kondisi banjir maupun musim kering dan musim dingin yang panjang sehingga cocok untuk aplikasi di negara tropis dan subtropis.
  • Dapat tumbuh di tanah yang sangat ekstrim sekalipun tanpa batasan pH, unsur hara, asam sulfat, keasinan bahkan tingkat racun berbahaya. Karena itu tanaman ini bisa ditanam di lokasi tanah pasir, tanah liat, tanah kapur, tanah batu granit, tanah bekas tambang dan tanah yang terkontaminasi zat beracun sekalipun.
  • Bongkol batangnya dapat menghasilkan akar yang baru apabila batang terbenam oleh endapan tanah yang larut dari lereng di atasnya. Pada akhirnya proses ini akan menciptakan teras-teras alami di tanah olahan miring (lereng) yang ditanami dengan vetiver.
  • Tanaman ini tidak mengusik dan bersaing untuk mendapatkan unsur hara dari tanaman lain di dekatnya. Pertumbuhan ke samping biasanya tidak melebihi batas 50cm.
  • Tanaman ini relatif kebal serangan hama karena aroma dari akarnya dan tekstur daunnya yang keras tidak disukai oleh hama pengganggu sehingga tidak menjadi media perantara atau tempat kembang biak bagi hama dan penyakit tanaman lain di sekitarnya.
  • Bisa tumbuh di cuaca apa saja, dengan curah hujan antara 300mm s/d 6.000mm per tahun, dari suhu minus 15ºC – 55º. Bisa bertahan hidup dalam musim kering panjang (lebih dari 6 bulan).
  • Teknologinya gampang dan murah untuk diaplikasikan dengan berbagai tujuan.
    Mudah untuk dimusnahkan apabila tidak diperlukan lagi.
  • Meskipun akarnya tumbah mencapai 3 meter di dalam tanah namun akar ini tidak bisa tumbuh menjadi tanaman apabila tunasnya telah dicabut.

Hampir semua bagian dari tumbuhan vetiver dapat dimanfaatkan, seperti misalnya:

Menguatkan Konstruksi Infrastruktur

Pemanfaatan rumput vetiver dalam kategori ini utamanya ditujukan untuk mengatasi kemungkinan longsor, menstabilkan lahan-lahan konstruksi yang miring, menstabilkan bahu jalan tol (ingat kasus tol Padalarang, Bandung??), dll. Tujuan ini bisa dicapai dengan cara:

  • menguatkan lahan miring dengan penanaman rumpun vetiver di titik-titik strategis
  • menggiring endapan tanah dengan perangkap rumpun vetiver
  • menahan laju kecepatan air dengan penanaman rumpun vetiver membentuk pagar
  • mengatur tingkat penyerapan air
  • melindungi struktur teknik yang vital dari erosi alamiah
  • menghambat kontaminasi unsur kimia pada tanah
  • menguatkan tepian sungai dan parit saluran air
  • mengalihkan arah aliran air sesuai dengan kebutuhan

Memperbaiki Kondisi Tanah Non-Produktif

Berhubungan dengan perbaikan kondisi tanah yang kurang produktif karena faktor-faktor alamiah seperti tanah dengan tingkat keasinan yang tinggi di daerah pesisir, tanah bekas reklamasi pantai, tanah bakau, tanah yang miskin unsur hara dengan lapisan atas yang sangat tipis, sangat keras, sangat berpasir, kering, miring, tanah kapur ataupun mengandung tingkat belerang tinggi. Vetiver bisa ditanam dengan berbagai teknik tergantung kondisinya masing-masing.

Merehabilitasi Tanah dan Air yang Terkontaminasi

Berhubungan dengan perbaikan kondisi tanah dan air yang rusak karena proses produksi dan pemakaian yang kurang ramah lingkungan, meliputi:

  • tanah bekas penimbunan limbah / sampah
  • tanah galian bekas penambangan mineral
  • lokasi pembuangan limbah industri dengan kandungan logam berbahaya
  • lokasi penimbuan limbah septic tank dan limbah hewan peternakan
  • air yang sangat keruh tercemar limbah kota
  • air yang tercemar zat logam berbahaya dari bahan kimia pertanian dan limbah pabrik
  • air sungai, danau dan kolam yang terserang hama/ganggang

Penutup (cuplikan dari ‘The Green Book’ edisi bahasa Indonesia)

Karena memiliki kombinasi sifat tumbuhan yang hidup di tanah gersang dan di air, V. zizanioides dapat bertahan hidup dalam musim kemarau yang berkepanjangan, kemungkinan karena kandungan mineral garam yang tinggi di dalam daunnya, juga dapat bertahan hidup dalam rendaman air (sampai 45 hari dari hasil pengamatan di lapangan). Jarak ambang batas tingkat pH-nya sangat lebar, bisa tumbuh di tanah jenis apapun tanpa memandang tingkat kesuburan, dan tidak terpengaruh oleh temperatur dingin sampai minus 9º Celcius sekalipun.

V. zizanioides tidak menghasilkan benih yang dapat berkembang biak dalam kondisi biasa. V. nigritana (spesies yang ditemukan di Nigeria) menghasilkan benih, namun perkembang-biakan benihnya dapat dikontrol dengan mudah.

Supaya efektif sebagai sebuah teknik untuk melestarikan tanah, sistim perlindungan tanaman ini harus dibuat sedemikian rupa agar tumbuh membentuk pagar. Walaupun biasanya tanaman ini tumbuh membentuk pagar yang lebat dalam kurun waktu satu tahun, diperlukan waktu dua sampai tiga tahun untuk mendapatkan pagar yang padat dan sangat kuat sehingga mampu menahan hujan lebat sekaligus melindungi tanah. Selama dua tahun pertama atau mungkin tiga tahun, tanaman ini perlu dijaga dan celah-celah di antara barisan tanaman pagar perlu ditanami ulang. (Selama dua tahun pertama, sudah bisa terlihat jelas endapan tanah yang terkumpul di balik tanaman pagar. Kondisi ini harus dengan jelas ditunjukkan kepada para petani pada saat menerangkan manfaat sistim pagar vetiver di lapangan). Sistim tanggul yang umumnya dipakai memang bisa langsung menampakkan hasil dalam tujuan pelestarian tanah, namun sistim itu cepat rusak dan sering roboh apabila terkena hujan lebat. Sebaliknya sistim pagar vetiver hampir tidak bisa rusak kalau sudah terbentuk dengan baik dan tidak membutuhkan perawatan kecuali dipangkas secara berkala.

Pemangkasan pagar rumput dengan batas setinggi 30-50 cm mencegah rumput ini untuk menghasilkan benih, sehingga merangsang pertumbuhan rumpun yang lebih tebal dan meningkatkan kemampuannya menahan arus air. Di beberapa desa dan dusun dekat Mysore, para petani memotong pagar rumput vetiver mereka setiap dua minggu sekali sepanjang tahun. Daun rumput yang masih muda itu diberikan kepada hewan ternak. Dengan cara ini cadangan makanan ternak mereka terjamin sepanjang tahun, walau di musim kering sekalipun.

Denpasar, Mei 2006

Sumber: Vetiver Grass: The Hedge Against Erosion (ISBN 0-8213-1405-X)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s