Sri Puji Rahayu

KONSERVASI LAHAN DAN AIR DENGAN AKAR WANGI

Oleh : Ir.Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.com

Sumber: http://cybex.deptan.go.id/  

Akar wangi (Vetiveria zizanioides) merupakan tanaman rumpun besar dengan banyak tunas dan anakan yang mempunyai akar cukup panjang (0,5-1,5 m). Dengan akar yang cukup panjang, akar wangi mempunyai sifat hydrophylic dan xerophytic yaitu dapat hidup pada kondisi basah dan kering (kadar air 3.000 mm sampai dengan 300 mm) dan mampu bertahan pada kondisi lingkungan bersuhu 9-27 denrajat celcius.

Sebagai tanaman yang mempunyai nilai ekonomis karena kandungan minyak asirinya, budidaya akar wangi mempunyai kendala adanya anggapan bahwa akar wangi salah satu tanaman penyebab erosi. Hal ini disebabkan karena selama ini akar wangi umumnya ditanam di lahan berlereng curam dan ditanam secara monokultur, sehingga pada saat panen, lahan bekas bongkaran akar wangi bila terjadi hujan akan mudah tererosi bahkan menyebabkan terjadinya tanah longsor. Namun dari hasil penelitian dan berdasarkan sifat yang dimiliki akar wangi, tanaman ini bahkan dapat digunakan sebagai tanaman konservasi dengan melakukan budidaya tanaman akar wangi menggunakan sistim strip dimana akar wangi dipergunakan sebagai strip pada budidaya tanaman pangan.

Sistim strip akar wangi, yaitu tanaman akar wangi ditanam sebagai strip diantara tanaman pangan (misalnya jagung), dimana hasil pangkasan strip akar wangi dapat dipergunakan sebagai mulsa tanaman jagung tersebut. Dengan cara ini akan didapat beberapa keuntungan yaitu:1) Strip akar wangi dapat mengurangi laju aliran permukaan sehingga daya rusak aliran permukaan terhadap tanah dapat dikurangi; 2) dengan dalam dan kuatnya akar yang dimilikinya, akar wangi potensial sebagai penahan hancuran butiran tanah serta tidak menimbulkan persaingan dengan tanaman pokok (jagung) bahkan akarnya yang dalam dapat memompa hara dari dalam tanah; 3) daun akar wangi yang dipangkas secara periodik, dapat dipergunakan sebagai sumber bahan organik yang sangat diperlukan untuk peningkatan kesuburan tanah; 4) mulsa dari pangkasan strip akar wangi merupakan pelindung tanah dari curah hujan langsung ke tanah sehingga struktur tanah dapat terjaga, terhindar dari pemadatan tanah, aerasi tetap baik dan tanah tetap gembur; 5) adanya mulsa akar wangi, dapat menghambat pertumbuhan gulma tanaman; 6) strip akar wangi dapat mempertahankan kadar organik tanah dapat meningkatkan fungsi tanah sebagai penyimpan pupuk; dan 7) dalam waktu lama (3 tahun), strip akar wangi, dapat membentuk teras sehingga merupakan cara pembuatan teras yang murah.

Akar wangi sebagai pencegah erosi sekaligus meningkatkan produksi tanaman pokok, hasil penelitian Badan Litbang pertanian di Citayam, Bogor, memperlihatkan bahwa strip akar wangi dapat menekan erosi dan aliran permukaan permukaan pada lahan dengan kemiringan 12-14% dapat menekan erosi sebesar 73-86% dan menurunkan aliran permukaan sebesar 53-71%. Sebagai contoh hasil penelitian Badan Litbang Pertanian, tentang pengaruh beberapa perlakukan sistim strip akar wangi terhadap erosi dan aliran permukaan pada tanah di Citayam pada periode tanaman ubi kayu/singkong sebagai berikut: 1) tanah tanpa perlakukan strip terjadi erosi sebesar 92,47 ton/ha dan terjadi aliran permukaan sebesar 2.187,35 meter kubik/ha; 2) denngan perlakukan strip jarak 4 meter satu baris, telah terjadi erosi sebesar 24,10 ton/ha dan terjadi aliran permukaan sebesar 1.018,77 meter kubik/ha; dan 3) dengan perlakukan strip jarak 4 meter dua baris, telah terjadi erosi sebesar 12,76 ton/ha dan terjadi aliran permukaan sebesar 640,41meter kubik/ha.

Selain mencegah erosi, hasil penelitian Badan Litbang pertanian di Citayam, Bogor, memperlihatkan pula bahwa perlakuan strip akar wangi pada lahan dengan kemiringan 12-14% dapat meningkatkan produksi tanaman pokok. Sebagai contoh hasil penelitian Badan Litbang Pertanian, tentang pengaruh beberapa perlakukan sistim strip akar wangi dan penggunaan mulsa pangkasan daun akar wangi terhadap produksi ubi kayu di Citayam pada periode tanaman ubikayu/singkong sebagai berikut: 1) tanah tanpa perlakukan strip menhasilkan produksi sebesar 23,85 ton/ha; 2) denngan perlakukan strip jarak 4 meter satu baris, menghasilkan produksi sebesar 29,10 ton/ha; dan 3) dengan perlakukan strip jarak 4 meter dua baris, telah menghasilkan produksi 35,18 ton /ha. Hasil yang rendah pada perlkukan tanpa strip disebabkan tanah semakin rusak akibat erosi yang tidak terkendli, dengan perlakuan akar wangi selain erosi dapat berkurang, mulsa yang dihasilkan akar wangi dapat mendukung pertumbuhan tanaman. Selain itu, adanya mulsa tersebut suhu tanah apat dijaga sehingga cukup baik untuk pertumbuhan tanaman dan aktivitas biologi tanah. Mulsa yang telah mengalami pelapukan dapat sebagai sumber bahan organik yang sangat diperlukan tanaman serta mempunyai kemampuan menyerap air yang tinggi sehingga mengurangi adanya kekeringan bila terjadi pada musim kemarau.

Akar wangi sebagai penghambat gulma

Selain mencegah erosi dan dan dapat meningkatkan produksi tanaman pokok, hasil penelitian Badan Litbang pertanian di Citayam, Bogor, memperlihatkan pula bahwa perlakuan sistim strip pada akar wangi pada lahan dengan kemiringan 12-14% dapat menghambat pertumbuhan gulma. Sebagai contoh hasil penelitian Badan Litbang Pertanian, tentang pengaruh beberapa perlakukan sistim strip akar wangi terhadap pertumbuhan gulma di Citayam pada penyiangan kedua periode tanaman ubikayu/singkong sebagai berikut: 1) tanah tanpa perlakukan strip menghasilkan gulma sebesar 12 kg/petak; 2) dengan perlakukan strip jarak 4 meter satu baris, menghasilkan gulma sebesar 8,07 kg/petak; dan 3) dengan perlakukan strip jarak 4 meter dua baris, telah menghasilkan gulma sebesar 6,67 kg/ha.

Keunggulan lain dari akar wangi, ada beberapa keunggulan akar wangi bila dipergunakan dengan sistim strip antara lain: 1) akar wangi resisten terhadap sebagian besar hama dan penyakit; 2) tahan terhadap naungan; dan 3) biji-biji yang dihasikan tidak berkecambah, sehingga akar wangi tidak akan menjadi gulma; 3) dengan ditekannya pertumbuhan gulma, tentunya akan mengurangi biaya penyiangan dan pengolahan lahan sehingga dapat menekan biaya usaha tani sekaligus dapat menekan persaingan unsur hara dengan tanaman pokok.

Oleh : Ir.Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.com
Sumber : Informasi Penelitian Tanah, Air, Pupuk dan Lahan, Serial Populer, 1993, Badan Litbang Pertanian, Departemen Pertanian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s