Suara Media

Laba Berlipat Bisnis Kreasi Seni Akar Wangi 

Sumber: http://www.suaramedia.com/ 19 April 2010 

YOGYAKARTA (Berita SuaraMedia) – Anda tahu akar wangi? Biasanya tanaman ini digunakan untuk mengharumkan ruangan sekaligus mengusir serangga. Pada 1920, budidaya akar wangi hanya dikenal untuk menghasilkan minyak atsiri, sebagai bahan dasar wewangian atau kosmetik. Penghasil akar wangi di dunia pun hanya ada tiga, yakni Haiti dan Bourbon di Pasifik, serta di Garut, Indonesia. Kondisi inilah yang kemudian dimanfaatkan Joanna dari Zocha Graha Kriya, di Garut, Jawa Barat untuk membuat berbagai kerajinan berbahan dasar akar wangi.

Pada 1920, budidaya akar wangi hanya dikenal untuk menghasilkan minyak atsiri, sebagai bahan dasar wewangian atau kosmetik. Penghasil akar wangi di dunia pun hanya ada tiga, yakni Haiti dan Bourbon di Pasifik, serta di Garut, Indonesia. (foto: itrademarket.com)

Akar wangi diambil dari pohon akar wangi. Akar yang baik untuk dijadikan kerajinan berusia 12 bulan, sebab panjangnya sudah mencapai 40 centimeter sehingga memadai untuk ditenun. Setelah itu akar-akar tadi ditenun. Ukuran akar yang tidak sama besar justru menjadi kelebihan karena menjadikan tenunan bertekstur unik.

Produk-produk akar wangi yang dihasilkan antara lain taplak meja, tas, lampion, tudung saji, tutup kulkas, boneka, sarung bantal, hingga sekat ruangan. Menurut Joanna, seluruh produk yang dihasilkan dibedakan menjadi tiga jenis yaitu fashionable, fungsional, dan dekoratif.

Usaha Joanna bermula pada 1998, saat ia mengunjungi sebuah pameran di Jakarta. Di sana ia melihat produk taplak meja yang menggunakan akar wangi. Namun akar wangi yang digunakan pada taplak meja tersebut hanya sedikit, karena masih didominasi benang. Joanna kemudian mendapat ide untuk membuat produk seluruhnya menggunakan akar wangi.

Bentuknya bermacam-macam. Ada yang berbentuk kucing, ada yang mirip badak bercula, kodok, kura-kura, bahkan bentuk naga. Prosesnya, tidak terlalu sulit namun memang perlu ketelitian.

Pertama, jerami diikat dengan benang dan dibentuk. Lalu dilem dan diberi serbuk gergaji agar padat. Setelah dikeringkan, lapisi dengan akar wangi dan dihias.

Kreasi ini bisa jadi penghias rumah Anda, sekaligus mengusir nyamuk.

Usaha yang dirintisnya satu tahun kemudian lalu mendapat respon baik dari masyarakat. Kerajinan akar wangi pun dianggap menjadi kerajinan khas Garut. Kini kreasi akar wangi Joanna sudah dikirim ke Sulawesi, Sumatra, Malaysia, dan bahkan ke Timur Tengah.

Selain Joanna, ada pengrajin akar wangi di Garut bernama Suparman, awalnya Suparman hanya berniat membantu ibu-ibu rumah tangga di sekitar lingkungannya. Tapi ternyata laba dari kreasi seni akar wangi yang digelutinya bisa mendatangkan laba 100 persen.

Akar wangi atau Andropogon zizanioides sudah dikenal sejak lama sebagai pengharum pakaian, kain batik, atau keris yang disimpan di dalam lemari, di samping sebagai pengusir kehadiran tikus dan kecoa. Seiring dengan berjalannya waktu, tanaman yang tumbuh subur di Garut, Jawa Barat, ini dikreasikan oleh Suparman menjadi suvenir berbentuk berbagai binatang berukuran mungil (baca: boneka, red.) sehingga tampak unik, menarik, dan tidak mengotori almari.

“Awalnya, saya hanya ingin membantu para ibu rumah tangga di sekitar sini, yang kebetulan secara ekonomi tergolong tidak mampu. Lalu, muncul ide untuk membuat kerajinan dari akar wangi. Ternyata, tanggapan mereka sangat baik, demikian pula dengan masyarakat konsumen saya,” kata Suparman yang memulai usaha ini sejak 1989 di workshop sekaligus rumahnya di kawasan Kramat Jati, Jakarta Timur.

Untuk bahan bakunya, Suparman mengambilnya dari Garut dengan harga Rp16 ribu/kg. “Ini bukan masalah akar wangi dari Garut lebih berkualitas daripada yang dari Yogya, misalnya, tapi cuma masalah hemat biaya. Selain itu, akar wangi dari Yogya dijual Rp26 ribu/kg,” ujar laki-laki yang setiap kali berbelanja, membeli 500 kg sampai 1 ton akar wangi.

Dari setiap kilogram tanaman yang dapat disuling menjadi minyak sebagai bahan dasar pembuatan parfum dan kosmetika ini, setiap hari dapat diproduksi 200 boneka berukuran sekitar segenggaman tangan atau lima boneka berukuran cukup besar, dengan peralatan yang sangat sederhana seperti lem, benang, dan gunting. Dengan demikian, dibantu 25 “karyawati dan karyawannya”, setiap bulan ia mampu memproduksi sekitar 1.000 produk berbagai ukuran. Dan, untuk setiap buah karya mereka, para “karyawati dan karyawan” tersebut mendapat uang lelah sebesar Rp750,-.

“Sehari, satu karyawati saya mampu memproduksi 10 boneka berukuran kecil, sedangkan yang karyawan bisa membuat satu boneka berukuran besar,” ucap Suparman yang mengombinasikan kreasinya dengan bahan-bahan lain seperti kerang, gedebog (pelepah, red.) pisang, tali tambang, enceng gondog, dan batok kelapa, agar tampak lebih menarik.
Selanjutnya, ia menjual boneka-boneka seharga Rp2.500,- hingga Rp250 ribu ini, ke berbagai toko suvenir di Jakarta dan Bali. Selain itu, ia juga menerima pesanan dari Batam, Dili, Cina, dan Korea, serta Amerika. “Saat ini saya sedang membuat 1.000 sajadah akar wangi seukuran tubuh, pesanan dari Malaysia,” kata pria yang memulai usaha ini dengan modal Rp25 juta dan kini mampu mengumpulkan omset rata-rata Rp10 juta/bulan.

Akar wangi bagi masyarakat Cina melambangkan panjang umur, bagi masyarakat umum dianggap sebagai tanaman yang wanginya tak pernah hilang, dan bagi pengrajinnya (perlahan namun pasti) memberi omset yang tak kalah harum dengan aromanya.

Analisa Bisnis Akar Wangi (per 1.000 boneka)

Biaya Bahan Baku
5 kg akar wangi @ Rp16.000,- Rp 80.000,-
Biaya Produksi
1.000 boneka @ Rp750,- Rp 750.000,- +
Total Rp 830.000,-

Hasil Penjualan
1.000 boneka @ Rp2.500,- Rp2.500.000,- –
Laba kotor Rp1.670.000,-

Catatan: Laba kotor ini hanya didapat dari penjualan, tidak termasuk pemesanan produk. Harga per boneka diambil dari harga yang paling rendah yaitu Rp2.500,- sedangkan bonekanya diasumsikan yang berukuran paling kecil atau hanya berukuran segenggaman tangan perempuan dewasa.

Usianya masih terbilang muda, 28 tahun. Namun, berbekal prinsip di mana ada kemauan di situ pasti ada jalan, Prajoko Satya Putra akhirnya sukses menjadi pelaku wirausaha di Kota Gudeg, Yogyakarta.

Sekilas melihat perjalanan hidupnya beberapa tahun lalu, yatim piatu asal Madiun ini hanyalah pemuda putus sekolah yang pernah mencicip bangku kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang selama tiga semester.

Kebutuhan untuk bekerja dan mencari uang membuat pria yang akrab disapa Joko ini memutuskan berhenti kuliah dan bekerja di sebuah event organizer di Kediri, Jawa Timur.

Keputusannya kembali berubah saat beberapa tahun kemudian Joko bertemu dengan seorang gadis asal Yogyakarta yang akhirnya dinikahinya pada 2005. Saat itulah Joko hijrah ke Kota Gudeg tanpa bekal pekerjaan apa pun.

“Tapi bener juga kata orang, kalau orang kepepet pasti ada jalan dan bisa usaha. Begitu juga saya yang akhirnya mulai usaha handicraft setelah beberapa bulan tidak ada kerja,” ujarnya sembari tertawa.

Beruntung, Joko memiliki mertua yang berjualan batik di Pasar Bringharjo, Yogyakarta, tempat di mana beragam jenis produk kerajinan tangan juga diperdagangkan.

Awalnya hanya sekadar melihat-lihat produk kerajinan tangan yang dipajang dan diperjualbelikan di pasar, Joko melihat ada peluang bisnis di bidang itu. Mulailah bapak satu anak ini membuat produk dari bahan daur ulang dan akar wangi yang mulai tren kala itu.

Dengan belajar secara otodidak, Joko mampu menghasilkan satu produk yaitu gantungan kunci yang langsung dia tawarkan ke beberapa pedagang di Pasar Bringharjo. Joko memproduksi gantungan kunci hanya beberapa buah saja yang dia buat sendiri, tanpa bantuan orang lain.

Tidak disangka banyak pedagang meminta Joko menambah jumlah pasokan barang produksinya karena permintaan pembeli semakin banyak.

Mulailah Joko fokus pada produksi gantungan kunci daur ulang dan akar wangi pada 2006 di rumah yang hingga kini menjadi bengkel kerjanya di kawasan Gondomanan.

Peran asosiasi

Desain unik, harga murah, dan bahan baku yang berbeda dengan produk gantungan kunci lainnya membuat hasil kerja Joko bernama Bengkel Kreasi Mayka kini sukses di pasaran.

Di pasar, Joko mematok harga untuk satu buah gantungan kunci dari bahan daur ulang dan akar wangi dengan kisaran harga antara Rp1.200 dan Rp1.400.

Bukan hanya gantungan kunci, ayah Mayka Himawari Lestaria Putri ini juga memproduksi aneka barang kerajinan tangan dari bahan daur ulang dan akar wangi. Harga produk lain bervariasi dengan kisaran harga yang tidak kalah murah.

Kini Joko sudah dibantu dengan enam pekerja tetap yang bertugas membuat kertas daur ulang sebagai bahan dasar dan memproduksi barang kerajinan. Selain itu Joko juga sudah memiliki rekanan pemasok akar wangi dan biji-bijian dari beberapa desa di Yogyakarta.

Jika dahulu Joko hanyalah pemuda desa yang belum mapan, kini dia menjadi salah satu wirausahawan muda yang tergabung dalam Asosiasi Perajin dan Pengusaha Kecil Mataram Yogyakarta.

Dari asosiasi itulah Joko mendapatkan informasi mengenai pengembangan bisnis usahanya. Kini dia telah memiliki agen besar produk Bengkel Kreasi Mayka di Tangerang, Batam, Samarinda, Balikpapan, dan Sidoarjo.

“Tapi saya belum berani buka pasar ekspor karena kendala permodalan dan pemenuhan pasar dalam negeri saja masih kewalahan,” ujarnya.

Untuk menjaga supaya produknya tetap bisa bertahan di pasar, Joko memiliki kiat supaya pasar tidak jenuh dengan produk buatannya.

Setiap 3 bulan sekali Joko senantiasa menciptakan inovasi baru yang disesuaikan dengan selera pasar. Selain itu, beberapa katalog produk sejenis juga memberinya inspirasi baru untuk menciptakan produk yang berbeda.

Hal itu pula yang membuat produk Bengkel Kreasi Mayka masih tetap bisa bertahan, di tengah semakin ketatnya persaingan bisnis di bidang kerajinan tangan di kota Yogyakarta.

Pencapaian inilah yang menjadi impian Joko sejak awal membangun sebuah keluarga dengan sang istri. Seakan buah hati yang kini seusia dengan perjalanan usianya membuka pintu rezeki.

“Pokoknya cerita pahit sebelum membangun rumah tangga sudah terbayar semua,” pria yang juga disapa akrab Bang Jo ini berujar. (fn/mp/cbn/ Video Dari Kantor Liputanta ^) http://www.suaramedia.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s