Surabaya Post

Akar Wangi Tak Sekedar Pengganti Rotan 

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/ 22 Januari 2011

Pepatah ‘tak ada rotan akar pun jadi’ menyiratkan bahwa status akar tidaklah lebih mulia dibanding rotan. Baru digunakan bila benar-benar terpaksa. Tapi, bila melihat besarnya potensi ekonomis akar wangi, bisa jadi pepatah itu sudah terlalu usang, bahkan tak cocok lagi diucapkan.

Wonogiri, Desember 2010 menjelang Natal. Wajah Warsito terlihat letih saat ditemui di rumah yang sekaligus merupakan bengkel kerjanya. Meski demikian bibirnya menyunggingkan senyum kegembiraan. Saat itu, Warsito memang sedang susah, tapi bahagia. Lho, kok aneh?

Ya, Warsito susah karena dia kewalahan memenuhi order dari konsumen akan kerajinan akar wangi produksinya. Tapi dia juga gembira karena pundi-pundi uangnya menggelembung. “Saya coba bikin pohon Natal dari akar wangi. Ternyata orang-orang di Wonogiri banyak yang pesan,” ujar perajin akar wangi, warga Contoh, Bulukerto, Wonogiri, Jawa Tengah ini.

Selama ini Warsito memang menggantungkan hidup dari keterampilannya membuat berbagai macam bentuk suvenir dari akar wangi. Karena itu, bagi dia mudah saja membuat pohon Natal dari akar wangi.

Untuk sebuah pohon Natal setinggi 40 sentimeter atau setengah meter biasanya dibutuhkan dua hingga tiga kilogram akar wangi. Pembuatan pohon Natal setinggi setengah meter tersebut hanya membutuhkan waktu satu hari.

Sementara untuk ukuran satu hingga satu setengah meter memakan waktu dua sampai tiga hari. Sebelum menjadi pohon Natal, akar wangi yang seperti serabut ini dibentuk terlebih dulu. Kemudian, dirangkai dan dilem dengan rangka dari besi, hingga membentuk pohon Natal lantas diberi hiasan lampu.

Bau harum yang dihasilkan akar wangi rupanya menjadi daya tarik tersendiri bagi pelanggan Warsito. Untuk sebuah pohon Natal setinggi 40 sentimeter atau setengah meter biasanya dibutuhkan dua hingga tiga kilogram akar wangi. Pembuatan pohon Natal setinggi setengah meter tersebut hanya membutuhkan waktu satu hari. Perawatannya sendiri tidak sulit, setelah pohon Natal akar wangi tidak lagi dipajang, cukup menutupnya dengan plastik. Sementara untuk perawatan bau harum dari akar wangi cukup dengan menjemurnya. Harga pohon Natal akar wangi buatan Warsito bervariasi, mulai dari Rp 150 ribu-Rp 500 ribu.

Parsel Natal Favorit

Tak hanya warga Wonogiri yang keranjingan pohon Natal akar wangi, di akhir tahun 2010 itu. Permintaan parsel berupa pohon Natal kecil yang terbuat dari akar wangi, sangat diminati warga Kota Medan, Sumatera Utara. “Permintaan pesanan parsel itu cukup banyak,” kata Finche, Direktur Toko Chantiq Craft & Ladie`s Bags, di Medan, beberapa waktu lalu.

Pesanan parsel yang cukup indah dan menarik itu, menurut dia, sudah dilakukan sejak awal Desember 2010, dengan penjualan mencapai 100 paket. “Pesanan parsel itu mengalami peningkatan hingga mencapai 30 persen, bila dibandingkan dengan tahun lalu yang penjualan hanya berkisar puluhan parsel,” katanya.

Menurut Finche, meningkatnya permintaan tersebut mungkin karena banyak masyarakat yang tertarik dengan parsel berisi pohon Natal ukuran kecil yang terbuat dari bahan akar wangi. “Permintaan parsel jenis akar wangi cukup banyak peminatnya karena bentuknya yang unik dan memiliki bau yang wangi,” ujarnya.

Finche lantas mengatakan, untuk mendapatkan bahan baku pembuatan parsel itu, tidak begitu sulit karena di datangkan dari Pulau Jawa. Membuat kerajinan parsel pohon Natal akar wangi pun tak terlalu sulit, hanya dibutuhkan keterampilan serta kreativitas yang tinggi dan selalu memberikan desain-desain terbaru dan menarik.

Harga parsel yang ditawarkan mulai dari Rp 150 ribu hingga Rp 450 ribu sesuai dengan permintaan. “Produk dalam negeri itu, sebenarnya tidak kalah kualitasnya bila dibandingkan dengan buatan luar negeri. Mari selalu kita tanamkan prinsip untuk mencintai produk dalam negeri,” tuturnya.

Diminati Manca Negara

Barang-barang kerajinan berbahan akar wangi (vetiveria zizaniodes) seolah-olah baru saja menggebrak pasar suvenir di Tanah Air, padahal sejatinya tanaman yang diyakini berasal dari India, Birma dan Srilangka itu, sudah cukup lama mewarnai khasanah seni dan budaya Nusantara.

Biasanya tanaman ini digunakan untuk mengharumkan ruangan sekaligus mengusir serangga. Pada 1920, budidaya akar wangi hanya dikenal untuk menghasilkan minyak atsiri, sebagai bahan dasar wewangian atau kosmetik. Penghasil akar wangi di dunia pun hanya ada tiga, yakni Haiti dan Bourbon di Pasifik, serta Indonesia. Daerah penghasil akar wangi terbaik di Indonesia adalah Garut, Jawa Barat.

Di Garut, akar wangi sudah cukup lama dimanfaatkan dalam industri suvenir. Joanna dari Zocha Graha Kriya, misalnya. Joana memulai usaha kerajinan akar wangi sejak tahun 1998. Produk-produk yang dia hasilkan antara lain taplak meja, tas, lampion, tudung saji, tutup kulkas, boneka, sarung bantal, hingga sekat ruangan.

Menurut Joanna, seluruh produk yang dihasilkan dibedakan menjadi tiga jenis yaitu fashionable, fungsional, dan dekoratif. Dia lantas mengungkapkan, akar yang baik untuk dijadikan kerajinan berusia 12 bulan, sebab panjangnya sudah mencapai 40 centimeter sehingga memadai untuk ditenun. Ukuran akar yang tidak sama besar justru menjadi kelebihan karena menjadikan tenunan bertekstur unik.

Untuk produk berupa boneka, kata Joana, Zocha Graha Kriya punya kreasi yang unik dan menarik. Bentuknya macam-macam, ada yang berbentuk kucing, mirip badak bercula, kodok, kura-kura, bahkan bentuk naga.

Proses membuatnya, tidak terlalu sulit namun memang perlu ketelitian. Pertama, jerami diikat dengan benang dan dibentuk. Lalu dilem dan diberi serbuk gergaji agar padat. Setelah dikeringkan, lapisi dengan akar wangi dan dihias. Kreasi ini bisa jadi penghias rumah Anda, sekaligus mengusir nyamuk.

Usaha yang dirintis Joana sekitar setahun lalu ini ternyata mendapat respon baik dari masyarakat. Kerajinan akar wangi pun dianggap menjadi kerajinan khas Garut. Kini kreasi akar wangi Joanna sudah dikirim ke Sulawesi, Sumatra, Malaysia, dan bahkan ke Timur Tengah.

Sajadah Beromzet Rp 2 M per Bulan

Wanginya bisnis di bidang industri kerajinan akar wangi juga dirasakan H Imron Mina bin Kamsari, warga kampung Pakumpulan, Buaran di Pekalongan, Jawa Tengah. Imron bahkan berhasil menggairahkan kembali industri tenun menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) di kampung itu, yang sudah lama mati. Sejak awal tahun 1970-an Desa Pakumpulan dikenal sebagai produsen sarung tenun palekat ATBM.

Ayah dari lima anak itu menghasilkan produk berkualitas ekspor berupa sajadah akar wangi yang dibuat ratusan perajin di Desa Pakumpulan. Awalnya, Imron cuma bermodal 8 ATBM kayu jati yang sudah lama mangkrak tak terpakai di rumah orang tuanya. Dulu, ATBM itu pernah digunakan untuk membuat sarung palekat. Imron memanfaatkannya untuk membuat kain tenun berbahan serat enceng gondok.

Pada 1997, cerita Imron, krisis moneter mulai dirasakan negeri ini yang mengakibatkan nilai tukar rupiah anjlok. Namun, pada saat itu justru para pembeli dari Australia, China, dan Jepang mendatangi Desa Pakumpulan. Mereka bukan hendak memesan sarung palekat, tetapi meminta perajin membuat alas piring makan berbahan baku lidi. Mereka membawa contoh produk, dan pesanan pun berdatangan.

Kesempatan ini tak disia-siakan. Imron kemudian tak sekadar memproduksi alas piring makan berbahan baku lidi, tetapi juga mencoba mengembangkannya dengan memakai bahan baku akar wangi dan serabut bekas kepompong. Dalam perjalanan usahanya, aroma wangi dari akar wangi justru menjadi andalan produk Imron.”Saya terinspirasi contoh-contoh pemesan dari luar negeri itu,” ucapnya.

Seiring dengan semakin banyaknya pesanan dan beragamnya produk yang harus dibuat, jika awalnya Imron hanya dibantu 15 perajin, dia kemudian bisa menambah jumlah perajin hingga 125 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 70 orang khusus membuat tenun akar wangi dan 19 orang lainnya memproduksi tenun berbahan baku eceng gondok.

Alhasil, dari bahan baku akar wangi yang dia peroleh dari Garut, Jawa Barat, itu setiap minggu bisa dihasilkan tenun akar wangi sepanjang sekitar 1.000 meter dengan lebar 120 sentimeter. Berbagai produk barang bisa dibuat dari tenunan itu, mulai dari alas piring makan sampai karpet, tirai, dan partisi. ”Sebagai gambaran saja, kapasitas produksi tirai per minggu bisa mencapai 250 lembar, alas makan 400 lembar, dan sajadah 1.500 lembar,” kata Imron menambahkan. Usaha industri kerajinan sajadah akar wangi Imron kini berhasil meraup omzet penjualan lebih dari Rp 2 miliar per bulan.

Harga Jual Belum Maksimal

Selain memenuhi permintaan dalam negeri, Imron mengekspor hasil industri kerajinan akar wanginya itu. Sayangnya, kata Imron, meski produksi meningkat tapi kepastian pasar masih menjadi persoalan. Sebab, mereka ”sekadar” menunggu pesanan, belum mampu menerobos sendiri ke pasaran.

Selama ini Imron telah menjalin kerjasama dengan seorang pengusaha Malaysia berdarah Irak untuk mengekspor produk kerajinan sajadah akar wangi ke Arab Saudi, Oman dan sejumlah negara lainnya di kawasan Timur Tengah.

Pengusaha dari kawasan Arab, misalnya, memesan aneka produk akar wangi untuk dikirim ke Malaysia. Ironisnya, pengusaha itu meminta label di sudut produknya bertuliskan ”Made in Malaysia”. Bahkan, ada juga label negara lain, seperti Turki dan Uni Emirat Arab.

Pesanan yang datang melalui perantara juga mengakibatkan harga jual yang diperoleh Imron tak maksimal. Ketika sampai ke Malaysia, misalnya, harga jual produknya menjadi berlipat ganda.

Bahkan, saat menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci, Imron bisa mendapati tenun buatan kampungnya itu dijual dengan harga jauh melambung. Contohnya, harga sajadah yang di Pekalongan Rp 40.000, di Mekkah bisa menjadi sekitar Rp 1 juta per helai.

”Sedihnya, konsumen asal Indonesia pun tidak tahu bahwa produk-produk yang dia minati di negeri orang itu sesungguhnya berasal dari Tanah Air, buatan perajin Pekalongan,” tutur Imron yang memasang harga tirai sekitar Rp 60.000 dan karpet Rp 80.000 per lembar.

Sebagai perajin, ia tak menampik jika kontinuitas pembelian itu penting. Sebab, roda perekonomian makin cepat berputar, tanpa harus menunggu pasar. ”Susahnya, bangsa kita sendiri juga yang merusak harga. Sewaktu saya menunaikan ibadah haji tahun 2007, ada perajin di desa yang nekat mengambil order sajadah di bawah harga Rp 40.000 per lembar,” kata Imron yang sedih karena tak ada label ”Made in Pekalongan” dalam produk buatan daerah itu.

Jika kondisi semacam ini dibiarkan, dia khawatir lambat laun akan berpengaruh terhadap kualitas produk. Karena itulah, Imron berusaha menerobos pasar. Bersama beberapa perajin lain, dia membuat barang dengan label ”Made in Indonesia” untuk diekspor ke Oman. ”Saya kepingin produk Pekalongan ini bisa bersaing langsung di pasar global,” katanya. ins

Analisa Sederhana Bisnis Boneka Akar Wangi

Asumsi: produksi per 1.000 boneka.

Biaya Bahan Baku

5 kg akar wangi @ Rp 16.000 Rp 80.000

Biaya Produksi

1.000 boneka @ Rp750 Rp 750.000

Total Rp 830.000

Hasil Penjualan

1.000 boneka @ Rp2.500 Rp 2.500.000

Laba kotor Rp 1.670.000

Catatan: Laba kotor ini hanya didapat dari penjualan, tidak termasuk pemesanan produk. Harga per boneka diambil dari harga yang paling rendah yaitu Rp 2.500 sedangkan bonekanya diasumsikan yang berukuran paling kecil atau hanya berukuran segenggaman tangan perempuan dewasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s