Yulistyne

Akar Vetiver 1/6 Kekuatan Baja  

Pikiran Rakyat, 19 Mei 2008

Sumber: http://www.lipi.go.id/  

Miracle grass, begitulah para peneliti menamakannya. Tumbuhan yang memiliki nama latin Vetiver zizanioides ini tumbuh secara alami di tempat-tempat berpayau di utara India, Bangladesh, Burma (Myanmar), dan di banyak tempat di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia. Selain itu, tumbuhan ini terdapat di negara-negara Amerika Selatan, seperti Argentina, Haiti, dan Brasil.

“Vetiver adalah tumbuhan spesial yang telah berevolusi sehingga mampu tumbuh walau pada daerah yang beriklim ekstrem sekalipun,” ujar Guru Besar Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Benny Joy.

Ia mengatakan tumbuhan ini sangat toleran terhadap iklim termasuk tanah dengan ph yang asam dan juga pada tanah yang kekurangan unsur hara.

Vetiver yang merupakan tanaman dari famili Gramineae (rumput-rumputan) ini masih satu famili dengan serai wangi (citronella) dan serai dapur (lemon grass). Vetiver memiliki berbagai nama, di antaranya khus khus, panni, valo di India, faeg di Laos dan Thailand, dan kusu-kusu, rumput wangi di Malaysia. Sementara di Indonesia sendiri, vetiver lebih dikenal dengan nama aga wangi, usar, ataupun larasetu.

Dikatakan sebagai miracle grass tentu bukan tanpa alasan. Rumput ini telah lebih dari 200 tahun digunakan petani di India sebagai pagar tanaman permanen. Selain itu, sejak 50 tahun terakhir, tumbuhan ini juga telah digunakan oleh pabrik gula sebagai pengukur konservasi lahan di wilayah-wilayah terpencil di dunia.

Hanya, selama ini rumput tersebut lepas dari pengamatan dan terabaikan  para peneliti. Namun, sejak beberapa waktu yang lalu rumput ini menjadi  perhatian semua pihak karena kemampuannya yang mengagumkan. “Di  antaranya sebagai metode vegetatif konservasi alam dan air, rehabilitasi  area yang rusak secara ekologis, seperti terkena bencana alam, maupun  pencemaran,” tutur Benny menjelaskan “Sebagai contoh bahkan pada tahun  1996, Raja Thailand turun tangan secara langsung untuk melakukan penanaman rumput tersebut,” ungkapnya.

Benny mengatakan ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi bagi tumbuhan yang masuk dalam kriteria tanaman konservasi tanah, di antaranya memiliki daya penetrasi yang dalam-setidaknya 3 meter, dan mampu menembus berbagai karakteristik tanah, tidak akan bersaing dengan tanaman lain yang dilindunginya, mudah ditumbuhkan dan dirawat sekaligus disingkirkan apabila sudah tidak menginginkannya lagi. Selain itu, tumbuhan tersebut juga mampu menjauhkan hewan pengerat dan ular ataupun hewan-hewan lainnya. “Dan syarat-syarat ini dapat dipenuhi oleh vetiver,” ujarnya.

Sampai saat ini, vetiver telah terbukti sebagai tanaman yang efektif untuk konservasi tanah dalam mencegah terjadinya erosi dan longsor.

Selain itu vetiver pun dapat meningkatkan unsur hara tanah dan membantu  pertumbuhan tanaman lainnya. “Namun di Indonesia pemanfaatan vetiver  masih belum optimal sehingga masih diperlukan sosialisasi lebih lanjut,” tuturnya.

Banyak manfaat

Senada Benny, Ketua Kelompok Teknologi Perlindungan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) T. Sembiring menjelaskan rumput yang sekilas tampak seperti padi ini memiliki manfaat dan fungsi yang tidak sedikit. “Mulai dari akar hingga pelepahnya dapat memberikan manfaat,” ujarnya.

Penggunaan tanaman yang dikategorikan tanaman C4 –tanaman yang memanfaatkan sinar matahari secara maksimal– ini sebagai konservasi vegetatif pada lahan-lahan kritis ataupun lereng-lereng curam untuk mencegah terjadinya erosi atau longsor merupakan hal bagus. Pasalnya, vetiver memiliki kemampuan yang sangat baik dalam mengikat tanah. Dengan akar yang sangat panjang, rumput ini memiliki kemampuan yang jauh lebih kuat dibandingkan dengan dinding beton penahan dalam mencegah terjadinya longsor atau erosi di daerah lereng. Sebab, pada dasarnya tidak mudah untuk memprediksi terjadinya erosi hanya berdasarkan sudut kemiringan dan panjang suatu lereng.

Erosi terjadi saat lapisan tanah bergerak karena adanya air yang mengalir di antara lapisan tanah. Sedangkan penggunaan vetiver sebagai pagar tumbuhan akan membentuk lapisan pelindung di sepanjang lereng yang berfungsi memperlambat erosi dan menampung tanah longsoran sehingga menghasilkan terasering alami.

“Dinding beton hanya menahan permukaan tanah, sehingga apabila di dalamnya terjadi keretakan tanah yang membentuk bidang luncur, dinding tersebut juga bisa longsor,” tutur Sembiring. Namun lain halnya dengan vetiver, rumput ini memiliki kerapatan akar yang sangat baik sehingga mampu mengikat dan memperkuat tanah karena fungsinya menyaring dan memadatkan tanah tempat ia tumbuh.

Vetiver tumbuh membentuk rumpun besar, padat, dan bercabang-cabang ini dapat tumbuh hingga ketinggian 2 m. Sedangkan akarnya dapat tumbuh mencapai kedalaman 2-3 m sehingga kemampuan akarnya dalam mengikat tanah sangatlah kuat. “Setiap akar vetiver memiliki kemampuan yang setara dengan 1/6 kekuatan baja dengan diameter yang sama yaitu mencapai 75 megapaskal,” ungkap Sembiring.

Akar vetiver tumbuh lurus ke bawah tidak sama pada tumbuhan lainnya yang akarnya tumbuh menyamping. Karena itulah vetiver tidak akan mengganggu atau menjadi saingan untuk memperoleh makanan dengan tanaman lainnya.

Selain itu, akar vetiver menyebar luas di dalam tanah dengan panjang akar yang mencapai 3 m ini sangat membantu menstabilkan tanah. Dengan akarnya yang panjang menghunjam ke dalam tanah, vetiver dapat dijadikan alternatif pengendalian longsor yang cukup murah.

Caranya adalah dengan menanamnya sebagai setrip rumput yang ditanam secara memotong lereng atau mengikuti kontur. Jarak setripnya 15-25 cm dengan tiap titik diisi tiga bibit (per rumpun) karena pada prosesnya vetiver akan tumbuh membentuk satu rumpun yang besar. “Disarankan vetiver ditanam secara bertingkat dan berlapis dengan jarak ketinggian sekitar 2 m agar akarnya tidak saling bertemu,” ujar Sembiring.

Penanaman dan perawatan vetiver tidaklah sulit karena pada dasarnya tumbuhan ini dapat tumbuh di mana saja tanpa adanya perlakuan yang khusus. Sedangkan untuk perawatannya, vetiver tidak memerlukan suatu perawatan khusus seperti pupuk atau antihama. Selain itu, vetiver pun tidak memerlukan penyiraman karena air hujan yang mengalir di lereng akan ditampung di dalam akarnya. Hanya, untuk memperkuat fungsinya sebagai pelindung dan juga untuk menjaga keindahannya, perlu dilakukan pemotongan daun secara berkala untuk mempertebal susunan akarnya.

Ada banyak alasan yang menyebabkan vetiver lebih efektif sebagai tanaman konservasi, di antaranya pagar vetiver dapat menyaring longsoran. Selain itu, vetiver juga mengurangi beban yang diterima tanah saat mengalami tumbukan dengan hujan. Pada saat hujan turun, air yang jatuh akan disaring terlebih dahulu oleh daun-daun vetiver. Dengan ketinggian maksimal 2 m, air yang diterima tanah tidak begitu keras sehingga mengurangi kemungkinan tanah tergerus oleh air tersebut. Kalaupun ada sebagian yang tergerus, tanah yang terbawa air itu akan terhalang oleh rumpun vetiver yang lebat dan rapat.

Sementara itu, Sembiring mengatakan selain dapat digunakan sebagai konservasi vegetatif, vetiver juga memiliki manfaat lainnya yaitu sebagai bahan dasar industri kerajinan. “Pelepah vetiver dapat digunakan sebagai bahan pembuat kerajinan seperti kerajinan kipas dan kertas seni serta media untuk pertumbuhan jamur. Selain itu pun, akar vetiver yang wangi juga memiliki nilai jual yang cukup tinggi,” ujarnya.

Bahkan, Sembiring menambahkan vetiver pun memiliki kemampuan untuk mengolah polutan dan pencemaran air, misalnya limbah dari pabrik, lindi atau air dari pembuangan sampah, maupun air dari bisnis pencucian mobil yang banyak mengandung zat-zat kimia. Namun untuk pengolahan pencemaran air ini, penanaman vetiver harus di atur sedemikian ruspa sehingga akar-akarnya dapat menyerap zat-zat beracun tersebut. (Yulistyne)***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s