Deliah Seswita dan Endang Hadipoentyanti

PEMANFAATAN PLASMA NUTFAH AKARWANGI DALAM MEMPEROLEH VARIETAS UNGGUL

Deliah Seswita dan Endang Hadipoentyanti
Balai Penelitian Obat dan Aromatik, Jalan Tentara Pelajar No.3 Bogor 16111  (Terima tgl. 25/1/2010 – Disetujui tgl. 17/5/2010)

Perkembangan Teknologi TRO 22 (1) Juni 2010 Hlm. 27-30; ISSN 1829-6289

Download file: 4deliah 

ABSTRAK

Akarwangi (Vetiveria zizanioides Stapf) merupakan tanaman yang dapat menghasilkan minyak atsiri yang bernilai ekonomi tinggi. Tanaman ini berasal dari India, Asia Tenggara, dan Afrika bagian tropis. Indonesia dikenal sebagai negara penghasil minyak akarwangi bermutu tinggi dengan nama dagang Java vetiver oil. Minyak akar wangi dihasilkan oleh tanaman usar atau akarwangi dan digunakan di dalam industri parfum, bahan kosmetik, pewangi sabun, obat–obatan, dan pembasmi serangga. Dalam program pemuliaan tanaman, diper-lukan bahan genetik yang memiliki keanekaragaman sifat yang sangat luas, sehingga koleksi dari plasma nutfah sangat penting untuk mendapatkan karakterisristik atau sifat unggul. Keberhasilan menciptakan varietas unggul tersebut sangat penting, untuk itu perlu dilakukan seleksi plasma nutfah terlebih dahulu. Pemanfaatan plasma nutfah tidak optimal apabila tidak didukung oleh ragam genetik yang luas. Oleh karena itu diperlukan kegiatan pengkayaan ragam genetik, diantaranya melalui kegiatan eksplorasi. Dari koleksi plasma nutfah tersebut kemudian diseleksi untuk mendapatkan varietas unggul.

Kata kunci : Vetiveria zizanioides Stapf, akarwangi, plasma nutfah, seleksi, varietas unggul.

ABSTRACT

Utilization of Vetiver (Vetiveria zizanioides Stapf) Germplasm for Creating New High Yielding Variety Vetiver grass (Vetiveria zizanioides Stapf) is a plant producing essential oil with high economic value. Originally, this plant was from India, South East Asia, and Tropical Africa. Indonesia has been popular as a country producing high quality vertiver oil which is known as Java Vetiver oil. The oil is produced by vetiver grass and it is broadly used in many industrial products such as perfume, materials for cosmetics, soap freshener, medicines, and insect controller. To support plant breeding program, it is required genetic materials, broadly in both variability and heterogeneity. Therefore the germplasm collection is very important in order to find out superior plant characteristics and properties. Selection of germplasm collection should be done prior to creating and producing high yielding plant varieties. Utilization of plant germplasm could be not so optimal only if the collections are narrow in genetic variability. To do so, it is recommended to enrich the genetic variability, one of which through exploration activity in the field. From the exploration activity, the germplasms are then selected to find out superior characteristics for creating new high yielding varieties.

Key words : Vetiveria zizanioides Stapf, germplasm, selection, superior variety.

PENDAHULUAN

Akarwangi (Vetiveria zizanioides Stapf) merupakan tanaman penghasil minyak atsiri yang bernilai ekonomi tinggi. Tanaman ini berasal dari India, Asia Tenggara, dan Afrika bagian tropis (Truong, 1999; Bertea dan Comuso, 2000 dalam Truong, 2002). Di India dan Afrika terdapat spesies lain seperti V. awsonia dan V. nigritia. Lebih dari 100 negara mengusahakan atau menanam akarwangi, baik untuk produksi minyak atsiri maupun sebagai tanaman penahan erosi dan rehabilitasi tanah (Xiorong et al., 2003).

Indonesia dikenal sebagai negara penghasil minyak akarwangi bermutu tinggi, dengan nama dagang Java vetiver oil. Minyak akarwangi dihasilkan oleh tanaman usar atau akarwangi. Minyak ini digunakan di dalam industri antara lain untuk parfum sebagai pengikat karena daya fiksasinya yang kuat dan memberikan bau wangi, juga untuk bahan kosmetik, pewangi sabun, obat-obatan, dan pembasmi serangga.

Tanaman akarwangi merupakan tanaman se-musim berbentuk rumpun, dengan sifat perakaran yang rimbun dan tumbuh lurus ke dalam tanah (Soleh et al., 1990). Tanaman akarwangi jarang berbunga, namun di Queensland (Australia) ditemukan varietas akarwangi yang dapat menghasilkan bunga. Bunga yang dihasilkan memiliki tingkat fertilitas yang sangat rendah, yakni hanya 1:40.000 atau sekitar 0,0025% (Hopkinson, 2002). Oleh karena itu tanaman ini selalu dibiakkan secara vegetatif, melalui sobekan anakan (slip) atau secara kultur jaringan.

Sampai saat ini, dikenal dua tipe tanaman akar wangi atau usar yaitu : tipe India utara (tumbuh liar dan berbiji) dan tipe India Selatan (tidak berbiji atau steril). Akarwangi yang banyak dibudidayakan dan diusahakan di berbagai negeri untuk diambil minyaknya berasal dari tipe India selatan. Disamping sebagai tanaman konservasi tanah dan air (Damanik, 2005), penanaman akarwangi pada lahan miring di dataran tinggi (elevasi >750 m dpl) dapat mencegah terjadinya erosi, dan juga dapat mengurangi lahan yang tercemar logam berat. Bagian-bagian tanaman dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Daun tanaman akarwangi dapat dijadikan sebagai bahan kompos dan industri kertas, dan bahan untuk kerajinan. Akarnya juga dapat diper-gunakan untuk kerajinan anyaman dan pengusir serangga (Emmyzar, 2006).

Tanaman akarwangi dapat tumbuh mulai dari dataran rendah (200 m dpl.) sampai dataran tinggi (dengan elevasi sampai 1.500 m dpl.). Tanaman ini membutuhkan curah hujan berkisar antara 2.000 – 3.000 mm tiap tahun dengan bulan kering tidak lebih dari 2 bulan, dan memerlukan penyinaran penuh. Pada lahan yang ternaungi, tanaman tidak dapat tumbuh normal dan bahkan akan mati bila naungannya penuh.

Tanah yang baik untuk pertumbuhan akarwangi adalah tanah dengan tekstur berpasir atau tanah abu vulkanik. Menurut Rosman (1990) jenis tanah andosol yang bertekstur lempung berpasir juga sangat baik untuk perkembangan akar tanaman usar.

Akarwangi merupakan tanaman C4 yang sangat efisien dalam mengkonversi radiasi surya menjadi biomas (Vieritz et al., 2006), dan mampu tumbuh pada lahan yang mempunyai kisaran pH tanah yang sangat lebar, dari 3,5 (sangat masam) sampai dengan 11,5 (sangat alkalis). Sungguhpun rentang pH tanah untuk per-tumbuhan akarwangi sangat lebar (berkisar 3,5 – 11,5), namun tanaman akarwangi dapat tumbuh dan berproduksi secara optimal pada tanah dengan pH 6,0 – 7,0. Akarwangi sangat cocok digunakan sebagai tanaman penahan erosi dan air, untuk reklamasi lahan terutama dari pencemaran logam berat Pb dan Cd, Zn, Cu, dan Fe.

Di tingkat dunia, Indonesia pernah menjadi pemasok minyak akarwangi terbesar kedua setelah Haiti. Pada tahun 1989, Indonesia memasok ± 40% dari kebutuhan dunia dengan volume ekspor 245-265 ton (Anonymous, 1989). Dari produksi minyak akarwangi tersebut, sekitar 90% dihasilkan oleh pertanaman akarwangi di kabupaten Garut, Jawa Barat, yang ditanam di daerah perbukitan bergelombang dalam daerah aliran sungai (DAS) Cimanuk yang mempunyai kemiringan lahan di atas 15%. Pertanaman akarwangi di daerah tersebut umumnya mempunyai produktivitas tinggi.

Pada tahun 2005 ekspor Indonesia turun menjadi hanya 63,62 ton dengan nilai US $1.062.192 (BPS, 2005). Di Indonesia rata-rata produksi masih rendah yaitu 29 kg per ha (Disbun Provinsi Jabar, 2005). Selain mengekspor minyak akarwangi, Indonesia juga mengekspor akar dari tanaman akarwangi dengan volume ekspor ± 15.000 ton per tahun (Indrawanto, 2006). Menurunnya volume ekspor Indonesia disebabkan rendahnya produksi dan mutu minyak. Produktivitas dan mutu dari minyak akarwangi sangat ditentukan oleh jenis/ bahan tanaman, kondisi agroekologi tempat budidaya, cara budidaya, dan penanganan pasca panen. Minyak akarwangi yang berasal dari lokasi yang berbeda akan memiliki karakteristik yang berbeda pula. Untuk maksud tersebut di atas, tersedianya varietas yang dapat berproduksi tinggi dengan kualitas hasil yang sesuai dengan standar Internasional sangat mungkin dilaksana-kan, sehingga Indonesia akan dapat bersaing kembali di pasaran dunia.

Pada umumnya akarwangi diusahakan dalam bentuk perkebunan rakyat, yang menyerap cukup banyak tenaga kerja. Untuk dapat menghasilkan kadar dan mutu minyak yang tinggi, akarwangi sebaiknya ditanam pada tanah berpasir dengan ketinggian > 750 m dpl. Daerah sentra produksi yang semula di daerah Garut (Jawa Barat) yang merupakan daerah penghasil minyak akarwangi terbesar, kemudian menyebar ke Wonosobo, Wonogiri, Wonosari (Jawa Tengah). Oleh petani di Jawa Tengah, akarwangi tidak hanya disuling untuk dijadikan minyak, tetapi juga digunakan dalam usaha industri kerajinan.

SELEKSI UNTUK MENDAPATKAN NOMOR YANG BERPRODUKSI, KADAR MINYAK, DAN VETIVEROL TINGGI

Plasma nutfah merupakan sumber genetik yang dapat dimanfaatkan tidak hanya sebagai modal dasar dalam program perbaikan bahan tanaman, tetapi juga untuk kebutuhan industri (bioprospektif). Sampai saat ini, kegiatan pengumpulan dan pelestarian plasma nutfah tanaman akarwangi di Balittro telah berhasil mengkoleksi sebanyak 40 nomor yang diperoleh dari daerah Jawa Barat dan Jawa Tengah. Koleksi tanaman tersebut dipelihara di Kebun Percobaan Manoko Lembang, Jawa Barat. Mengingat sifat tanaman yang selalu dibiakkan secara vegetatif maka konservasi plasma nutfah hanya dapat dilakukan dengan cara mem-pertahankan tanaman dalam bentuk koleksi tanaman hidup di lapang, atau secara kultur jaringan (in vitro conservation) di laboratorium. Namun demikian, cara terakhir ini belum dilakukan di Balittro.

Sebagian dari koleksi akarwangi telah dikarakteri-sasi dan dievaluasi/diseleksi (Hadipoentyanti et al. (2008). Dari hasil seleksi ke 40 nomor tersebut telah terpilih 4 nomor akarwangi yang mempunyai kadar minyak dan kadar vetiverol yang relatif tinggi (Tabel 1).

 

Saat ini, tanaman tersebut sedang diuji-adaptasikan pada tiga kondisi agroklimat yang berbeda di daerah sentra produksi dan pengembangan akarwangi di Kabupaten Garut, dengan tujuan untuk mendapatkan varietas unggul. Uji adaptasi tersebut dilakukan di Desa Sukakarya, Kecamatan Samarang; Desa Pada Awas, Kecamatan Pasir Wangi; dan Desa Cinta Negara, Kecamatan Cigeduk. Sebelumnya, ke empat nomor harapan terpilih telah diadaptasikan di Kebun Percobaan Balittro di Lembang.

Tabel 3 menyajikan hasil penelitian Seswita et al. (2009) mengenai uji adaptasi calon varietas unggul akarwangi produksi tinggi (≥ 40 kg minyak/ha) dan mutu tinggi (kadar vetiverol ≥ 50%) pada tiga agroklimat. Kadar minyak akarwangi terbesar (2,36%) diperoleh dari pertanaman nomor harapan 1, dan kadar vetiverol tertinggi (58,34%) diperleh dari nomor harapan 4.

Tabel 4 menyajikan rata-rata produksi akarwangi pada tahun I (umur panen 11,5 bulan) di tiga agroklimat.

Di Desa Sukakarya Kecamatan Samarang, produksi akar terpanjang serta bobot basah dan bobot kering akar tertinggi masing-masing 61,86 cm serta 16,62 dan 5,68 kg. Bobot basah dan bobot kering akarwangi rata-rata tertinggi serta akar terpanjang di Desa Pada Awas Kecamatan Pasir Wangi adalah 20,93 dan 3,80 kg serta 79,74 cm. Sementara itu, bobot basah dan bobot kering akarwangi rata-rata tertinggi serta akar terpanjang di Desa Cinta Negara Kecamatan Cigeduk adalah 14,13 dan 3,90 kg, serta 55,42 cm.

Dari hasil seleksi tersebut didapatkan nomor- nomor baru yang dapat dikembangkan.

PROSPEK PENGEMBANGAN AKARWANGI

Diharapkan calon varietas unggul akarwangi dapat dikembangkan di daerah sentra pengembangan tanaman tersebut dengan SOP (Standar Operational Procedure) yang direkomendasikan Balittro sehingga menghasilkan produksi optimal dan dapat meningkatkan nilai tambah usaha tani petani dengan daerah pengembangannya di Garut, Wonosari, Wonogiri, dan Wonosobo.

Usaha tani akarwangi

Kendala yang dihadapi dalam usaha tani akarwangi adalah kestabilan permintaan dan harga yang fluktuatif di pasar internasional. Selain itu, varietas unggul akarwangi dengan produktivitas dan kadar minyak yang tinggi belum tersedia. Menstabilkan permintaan dan harga minyak akarwangi merupakan tujuan utama yang harus dicapai untuk mengembangkan industri akarwangi.

Untuk itu perlu upaya menstabilkan harga serta permintaan minyak akarwangi dengan cara melakukan kerjasama dengan lima stake holder yaitu petani sebagai produsen, penyuling sebagai pengolah, koperasi atau badan swasta sebagai pendamping, dan eksportir yang membeli minyak akarwangi dari koperasi atau badan swasta yang kemudian dijual kepadapemakai akhir di luar negeri (Indrawanto, 2009).

KESIMPULAN

 Eksplorasi dan koleksi plasma nutfah tanaman akarwangi sangat diperlukan untuk meningkatkan keragaman genetik.
 Ragam genetik yang luas akan sangat berguna untuk dapat dimutasikan dalam upaya mendapat-kan varietas unggul.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 1989. Pembinaan dan Pengembangan Budidaya Akar Wangi Melalui Usahatani Konservasi Terpadu di Kabupaten Garut Jawa Barat. Departe-men Pertanian; Jakarta.
BPS. 2005. Statistik Perdagangan Luar Negeri Indonesia, 2005. Jilid I. BPS – Jakarta. Indonesia. hal 205

Damanik, S. 2005. Kajian Usahatani Akar Wangi Rakyat Berwawasan Konservasi di Garut. Jurnal Pen. Tan Industri Vol. 11 (1): 25-31.

Disbun Provinsi Jabar. 2005. http://www.disbun. jabarprov.go.id/

Emmyzar, Yulius Ferry, dan Daswir. 2006. Prospek Pengembangan Tanaman Akar Wangi. Perkembangan Teknologi Tanaman Rempah dan Obat. Vol. XVIII (I) : 1-11.

Hadipoentyanti, E., Susi Purwiyanti, dan Ermiati. 2008. Karakterisasi dan Evaluasi Plasma Nutfah Tanaman Akarwangi (Vetiveria zizanioides, L.). Prosiding Konferensi Nasional Minyak Atsiri Surabaya 2-4 Desember 2008.

Hopkinson, J. 2002. The potential of vetiver grass to produce fertile seed when used for roadside stabilization in Cook Shire. A report of John Hopkipson (post – retirement Associate with DPI at Walkamin Research Station) to Paul Graham (Main Road Dept.), Cairns.

Indrawanto, C. 2006. Analisis Finansial Agroindustri Penyulingan Akar Wangi Di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Perkembangan Teknologi Tanaman Rempah dan Obat XIII (2) : 78-83.

Indrawanto, C. 2009. Kajian Pengembangan Industri Akarwangi (Vitiveria zizanioides L.Nash) Mengguna-kan Interfectitative Structural Ampedelling. Imformatika Pertanian Volume 18, Nomor 1, 2009.

Rosman, R. dan I Made Tasma. 1990. Studi keadaan lahan iklim akarwangi di daerah Sukakarya Kabupaten Garut, Jawa Barat. Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Vol. 5 No. 2 Hal. 73-78.

Seswita, D., C. Syukur, E. Hadipoentyanti, Repianyo, Suryatna, dan Totong Sugandi. 2009. Laporan uji adaptasi calon varietas unggul akarwangi produksi tinggi (≥ 40 kg minyak/ha) dan mutu tinggi (kadar vetiverol ≥ 50%) pada tiga agroklimat (tidak dipublikasikan).

Soleh, D., R. Rosman, dan M.P. Laksmanaharja. 1990. Budidaya Akarwangi. Prosiding Simposium I Hasil Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri; Buku IV. Tanaman Atsiri. Seri Pengembangan No. 13, 1990.

Truong, P.N.V. 1999. Vetiver grass technology for land stabilization, erosion control in the Asia – Pacific Region. Paper presented in the First Asia – Pacific Conference on ground and water bio engineering, Manila.

Vieritz, A., P. Troung, T. Gardner, and C. Smeal. 2006. Modelling Monto Vetiver and nutrient uptake for effluent irrigation schemes. Pp 87-99. http:// http://www.vetiver.org/ICV3-Proceeding/AVS_MEDLI.pdf

Xiorong, W., L. Xiaoliang, and S. Xingsong. 2003. Vetiver root system in the rejuvination period after transplanting; South Pratacultural Center, South China Agricultural University, Guangzhou China.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s