Nur Ainun Jariyah dan Agung B. Supangat

DILEMA PENANAMAN AKAR WANGI Vetiveria zizanoides L. Nash DI KABUPATEN GARUT

(Dilemma of Vetiveria zizanoides L. Nash Vetiver Grass Cultivation in Garut District)*)

Oleh/By : Nur Ainun Jariyah1) dan/and Agung B. Supangat2)

1) Balai Penelitian Kehutanan Solo, Jl. Jend. A. Yani-Pabelan, Kartasura PO. BOX. 295 Surakarta 57102 Telp./Fax : (0271) 716709 dan 716959; e-mail : bp2tpdas@indo.net.id 2) Balai Penelitian Hutan Penghasil Serat Kuok, Jl. Raya Bangkinang-Kuok Km. 9 Bangkinang 28401 Kotak Pos 4/BKN-Riau Telp. (0762) 7000121;  Fax. (0762) 7000122 *) Diterima : 19 Januari 2007; Disetujui : 11 September 2008

Info Hutan Vol. V No. 3 : 261-272, 2008

Download file: 2403   

ABSTRACT

The cultivation of vetiver grass (Vetiveria zizanoides L. Nash) in Garut has contributed to 89% of the vetiver grass production in Indonesia. However, the vetiver grass cultivation has been considered unsustainable as the grass harvesting has been carried out through destructing the soil. The study was conducted to observe the dilemma of vetiver grass cultivation in relation to socio-economic and institutional aspects and their influences on soil conservation technique application in Garut District. Data collection was done by survey method using PRA (Participatory Rural Appraisal), questionnaire, group discussion, and interview.

Clarification of the data was done by in-depth interview with key persons. Data were then tabulated and analyzed descriptively and qualitatively. The results of the study were (1) the cultivation of vetiver grass was difficult to abolish from the community’s life, because it was easy to cultivate and easy to manage, low cost and low risk, 2) adoption process of the conservation technique application was low as the community still have perception that application of the technique would reduce the cultivated land area and vetiver grass production, and there were still some lands rented in which the soil conservation technique was not applied, 3) groups influencing the vetiver grass cultivation could be divided into two: directly influencing group and indirectly influencing one.

Keywords: Vetiver grass, Vetiveria zizanoides L. Nash, soil conservation, institutional

ABSTRAK

Penanaman akar wangi (Vetiveria zizanoides L. Nash) di Garut telah menyokong 89% dari produksi akar wangi di Indonesia. Akan tetapi akibat sistem pemanenan dengan cara membongkar akar yang dapat merusak tanah bisa mengakibatkan budidaya akar wangi menjadi tidak lestari. Penelitian ini dilakukan untuk mencari dilema penanaman akar wangi terkait dengan kondisi sosial ekonomi dan sistem kelembagaan dan pengaruhnya pada pelaksanaan teknis konservasi tanah di Kabupaten Garut. Pengumpulan data dilakukan dengan metode survey melalui PRA (Participatory Rural Appraisal), kuesioner, diskusi kelompok, dan wawancara. Klarifikasi data dilakukan dengan teknik indepth interview terhadap sejumlah tokoh kunci.

Pengolahan data dilakukan dengan tabulasi dan analisis data dengan cara deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah: 1) tanaman akar wangi sulit dihapuskan dari kehidupan masyarakat karena merupakan komoditi yang mudah ditanam, biaya sedikit, dan perawatan mudah, dan dengan resiko kegagalan kecil; 2) proses adopsi penerapan teknik konseravasi tanah lemah karena masyarakat masih punya persepsi bahwa pembuatan teras akan mengurangi lahan olah dan hasil produksi akar wangi dan masih banyaknya lahan yang disewakan, sehingga tidak melaksanakan teknik konservasi tanah; 3) kelompok yang berpengaruh terhadap perkembangan akar wangi dibedakan menjadi kelompok yang berpengaruh secara langsung dan tidak langsung.

Kata kunci : Akar wangi, Vetiveria zizanoides L. Nash, konservasi tanah, kelembagaan

I. PENDAHULUAN

Garut merupakan salah satu sentra produksi akar wangi terbesar di Indonesia. Berdasarkan kesesuaian agroklimat (Tjiptadi, 1985 dalam Departemen Pertanian, 1989), Garut adalah daerah yang paling cocok untuk penanaman akar wangi (usar). Indonesia merupakan salah satu negara pemasok minyak akar wangi yang cukup besar di samping Haiti, Cina, dan Rumania. Hasil studi (Departemen Perdagangan, 1987 dalam Damanik, 1995) menunjukkan bahwa sekitar 89%  produk minyak akar wangi di Indonesia  dihasilkan di Kabupaten Garut, selebihnya  dari daerah Sukabumi, Bandung, Sumedang,  Kuningan, serta Wonosobo. Di  Garut ada empat kecamatan yang secara  agronomis sesuai untuk pengembangan  akar wangi, yaitu Kecamatan Samarang, Bayongbong, Leles, dan Cilawu.

Pada tahun 1970-an pemerintah setempat  mengeluarkan pembatasan dan larangan  untuk menanam akar wangi dengan  pertimbangan konservasi tanah  (erosi yang terjadi cukup besar). Akan tetapi  masyarakat kurang atau tidak mengindahkannya,  karena memang usahatani  akar wangi memberikan kontribusi pendapatan  yang cukup bagi petani dan juga  perusahaan penyulingan. Pada tahun  1990, diterbitkan lagi Surat Keputusan  (SK) Gubernur Jawa Barat No. 30 Tahun  1990 yang ditindaklanjuti dengan SK Bupati  Garut No. 250 Tahun 1990 yang intinya  memberikan petunjuk pelaksanaan  (juklak) dan petunjuk teknis (juknis) bagaimana  mengembangkan akar wangi  serta syarat-syarat teknis yang harus dilakukan oleh petani pengembang akar wangi.

Dari segi teknis, Dinas Perkebunan, Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah (BRLKT) dan Dinas Perhutanan dan Konservasi Tanah (PKT) telah melakukan pembinaan, baik berupa percontohan maupun penyuluhan masyarakat oleh tenaga penyuluh. Pada tahun 1990- 1993 oleh Dinas Perkebunan telah dilakukan percontohan teknik budidaya akar wangi seluas 703 ha. Percontohan tersebut juga ditindaklanjuti dengan pembentukan kelompok tani yang beranggotakan petani dan penyuling. Akan tetapi kenyataannya saat ini pelaksanaan konservasi tanah juga tidak mereka lakukan. Yang terjadi saat ini adalah usahatani akar wangi lebih mengarah ke hubungan yang negatif. Sebagian besar (± 90%) praktek budidaya akar wangi di Garut dilakukan dengan sistem hamparan dan tidak disertai penerapan teknik konservasi tanah dengan baik dan benar, padahal lokasi untuk budidaya kebanyakan terdapat pada lahan-lahan di bukit/gunung dengan kelerengan yang terjal.

Melihat kenyataan di atas, budidaya akar wangi di Garut menjadi bahan perdebatan dan dilema yang memerlukan penyelesaian. Tulisan ini menelaah pengembangan akar wangi terkait dengan teknik konservasi tanah, sosial-ekonomi serta kelembagaan petani akar wangi di Kabupaten Garut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sampai seberapa jauh sistem produksi, sosial ekonomi, dan kelembagaan petani akar wangi berpengaruh pada pelaksanaan teknis konservasi tanah.

II. METODOLOGI PENELITIAN

A. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini merupakan bagian hasil dari rangkaian penelitian pemecahan masalah erosi di lahan akar wangi di Kabupaten Garut yang diselenggarakan oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Indonesia Bagian Barat (BP2TPDASIBB) pada tahun 2000-2003.

Lokasi penelitian terdapat di Desa Sukakarya, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, yang termasuk daerah tangkapan sub DAS Cimanuk Hulu, DAS Cimanuk. Ketinggian lokasi tersebut adalah 800-1.300 m dpl dengan kemiringan lahan 15-40%. Jenis tanah regosol dengan tekstur pasir sampai geluh pasiran, solum tanah 30-60 cm, drainase baik, permeabilitas cepat, dan kesuburan tanah sedang.

Luas tanaman akar wangi di Kecamatan Samarang adalah 1.250 ha yang merupakan urutan pertama lahan akar wangi terluas di Garut. Tanaman semusim lain yang dikembangkan di daerah tersebut adalah jagung, kacang tanah, dan kedelai. Tanaman hortikultura yang diusahakan antara lain tomat, kubis, kentang, cabai, dan lain-lain.

B. Bahan dan Peralatan

Bahan dan peralatan yang diperlukan dalam penelitian ini antara lain alat tulis kantor, lembar kuesioner, dan papan landasan menulis.

C. Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan kajian sosial- ekonomi menyangkut petani akar wangi yang terkait dengan konservasi tanah. Penelitian dilaksanakan dengan metode survai. Teknik pengumpulan data dilakukan secara acak bertingkat. Masingmasing tingkat mempunyai target output yang akan digunakan untuk tahapan kegiatan selanjutnya. Responden yang diambil adalah petani akar wangi dengan sampel berjumlah 30 orang. Untuk mengetahui situasi budidaya akar wangi berikut hambatan pelaksanaan teknik konservasi tanah di lapangan digunakan metoda PRA (Partisipatory Rural Appraisal). Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut digunakan metoda group discussion dan wawancara. Klarifikasi data dilakukan dengan teknik indepth interview terhadap sejumlah tokoh kunci (key person). Secara jelas metode penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.

D. Pengolahan dan Analisis

Data Pengolahan data dilakukan dengan mentabulasi data yang diperoleh dari wawancara dan indepth interview. Analisis data dilakukan secara diskriptif kualitatif.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Yang dimaksud dilema adalah suatu pilihan yang sulit ditentukan pilihannya, karena akar wangi sangat penting untuk peningkatan pendapatan petani dan peningkatan devisa.

A. Pemilik Lahan dengan Lahan Akar Wangi

Secara umum petani akar wangi akan berhubungan dengan alam dan lingkungannya. Singgungan antara petani akar wangi dengan alam dan lingkungannya dapat dilihat pada Gambar 2.

Antara petani akar wangi, lahan usahatani akar wangi, pengguna akar wangi, serta instansi terkait (Dinas PKT, Dinas Perkebunan, BRLKT, dan instansi lainnya) sama-sama memiliki kepentingan. Masyarakat yang selama ini secara turuntemurun mengembangkan akar wangi di lahan milik atau lahan yang diusahakannya memiliki ketergantungan ekonomis dan sosial budaya yang tinggi pada akar wangi.

Akar wangi di Kabupaten Garut sudah berkembang dan menjadi salah satu komoditi ekspor sejak lama, yaitu sejak tahun 1918. Ekspor pada saat itu masih dalam bentuk akar dengan tujuan ke Negeri Belanda. Ada empat kecamatan yang secara agronomis baik untuk pengembangan akar wangi, yaitu Kecamatan Samarang, Bayongbong, Leles, dan Cilawu. Pada saat itu hubungan antara petani dengan lahan masih harmonis. Sejak tahun 1960-an di daerah sekitar pengembangan akar wangi banyak berdiri pabrik penyulingan akar wangi. Dengan berkembangnya pabrik penyulingan ini, usahatani akar wangi juga menjadi berkembang pesat. Selain itu dengan semakin meningkatnya tekanan ekonomi dan mudahnya pengusahaan akar wangi, juga ikut menyebabkan budidaya akar wangi menjadi tidak terkendali dan tidak memperhatikan kelestarian lahan miliknya.

B. Penanaman Akar Wangi dengan Teknik Konservasi Tanah

Tanaman akar wangi sulit untuk dapat dihapuskan dari kehidupan masyarakat Garut karena merupakan komoditas budidaya yang mudah ditanam, tidak memerlukan banyak biaya dan perawatan, resiko kegagalan kecil, akarnya bernilai ekonomis yang cukup memadai serta sudah membudaya dalam kehidupan masyarakat.

Sebagian besar masyarakat telah mengetahui arti dan manfaat pelestarian lahan, teknik konservasi tanah dan air (KTA) dan erosi, yaitu sejak adanya proyek percontohan tahun 1990/1991. Dari tiga desa yang dikaji, satu desa yaitu Desa Lembang masih menerapkan teknik konservasi tanah dan air dengan benar.

Penyebab masih banyaknya lahan akar wangi yang tidak disertai teknik konservasi tanah, antara lain status lahan yang disewakan, kurang tertatanya kelembagaan kelompok tani serta kurang intensifnya pembinaan dan pengawasan dari instansi terkait.

Faktor penghambat yang mungkin dihadapi dalam proses adopsi dan penerapan teknik konservasi tanah, antara lain adanya persepsi/sikap yang menyatakan bahwa pembuatan teras/gulud mengurangi lahan olah dan hasil produksi akar wangi, sistem pemanenan yang cenderung diborongkan pada tengkulak, sehingga sistem pemanenan hanya melihat waktu dan hasil panen, tidak melihat kondisi lahan, masih banyaknya lahan yang disewakan pada penyewa dari luar kota, sehingga tidak perlu dilakukan konservasi tanah karena menurut mereka akan mengurangi lahan olah dan akan mengurangi hasil panen serta masih kurang intensifnya pengawasan dan pembinaan dari dinas/instansi terkait setempat. Walaupun demikian ada faktor yang dapat mendorong konservasi tanah.

Faktor pendorong yang dijumpai, antara lain masih adanya tokoh-tokoh masyarakat yang dipercaya sebagai panutan oleh petani, telah dirasakannya manfaat konservasi tanah oleh sebagian masyarakat serta adanya contoh kasus di Desa Lembang, Kecamatan Leles di mana konservasi tanah pada lahan akar wangi masih terpelihara dengan baik.

C. Aspek Sosial-Budaya dengan Kelembagaan Masyarakat Tani

Akar Wangi Model kelembagaan di sini didefinisikan sebagai pranata sosial yang di dalamnya meliputi infrastruktur pendukung seperti unit-unit yang terlibat dalam usahatani, mekanisme, aturan-aturan, dan sistem pendanaan masing-masing lembaga pada tiap tingkatan (Darmawan, 2001) atau tata cara dan prosedur yang telah diciptakan untuk mengatur hubungan antara manusia yang berkelompok dalam suatu kelompok kemasyarakatan (Iner dan Page dalam Uphoff, 2000).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bibit akar wangi yang mereka tanam setiap awal musim penghujan semuanya berasal dari lahan mereka sendiri. Caranya, setiap kali panen para petani selalu menyisihkan sebagian bonggol akar wangi untuk bibit. Hal ini dimungkinkan karena bagi mereka tiada hari tanpa menanam akar wangi, yang mereka sebut dengan usar. Dari 30 responden, 25 orang sudah menanam akar wangi lebih dari 30 tahun, bahkan sembilan orang di antaranya lebih dari 40 tahun. Jadi dapat dikatakan bahwa petani tidak lagi membutuhkan biaya untuk bibit karena dapat dicukupi sendiri.

Tenaga kerja yang digunakan mulai dari pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan sampai pada pemanenan adalah tenaga kerja upahan. Mereka adalah masyarakat desa setempat yang tingkat ekonominya lemah serta kepemilikan lahannya sempit (sekedar untuk tempat tinggal dan pekarangan) sehingga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka bekerja sebagai tenaga upahan dengan upah yang diterima berkisar antara Rp 7.000,- – Rp 9.000,- per hari. Ada dua kemungkinan penyebab digunakannya tenaga kerja upahan. Pertama dari segi Info Hutan Vol. V No. 3 : 261-272, 2008 266 status sosial, pada umumnya para petani akar wangi memiliki status sosial yang lebih tinggi dibanding masyarakat petani yang tidak mengembangkan akar wangi. Dari segi konsep liberalisme, petani akar wangi yang demikian adalah orang-orang yang berhasil merebut pasar, sehingga menjadi kaya. Berdasarkan konsep Marxian, mereka adalah kaum juragan desa, sedangkan berdasarkan konsep budaya Jawa disebut kaum priyayi. Kedua, jenis pekerjaan utama pemilik tanaman akar wangi adalah wiraswasta, pedagang, dan lain-lain.

Pemanenan akar wangi dilakukan dengan cara mengupah tenaga borongan. Pemanenan ini dilakukan setelah tanaman berumur sekitar 12 bulan, akan tetapi kalau harga sedang tidak menguntungkan pemanenan akan dilakukan setelah harga membaik dalam arti menurut penilaian petani sudah menguntungkan. Tidak jarang pemanenan baru dilakukan setelah tanaman berumur 16-17 bulan. Namun demikian apabila harga dianggap menguntungkan atau didesak oleh kebutuhan (ekonomi) yang mendadak, maka pemanenan pun dapat dipercepat (umur tujuh bulan). Secara kualitas, semakin panjang umur tanaman maka mutu akar dalam menghasilkan minyak atsiri semakin baik. Pemanenan dengan menggunakan tenaga upah borongan sering merugikan petani, karena tenaga upahan sering melakukan pemanenan tidak dengan cara digali, akan tetapi dengan cara dicabut. Hal ini akan menyebabkan banyak akar yang tertinggal dalam tanah, padahal sementara ini produk utama yang dihargai dari tanaman akar wangi adalah akarnya. Teknik pemanenan dengan cara dicabut ini adalah pemicu tingginya erosi pada lahan akar wangi.

Penjualan tanaman akar wangi dilakukan langsung di lapangan (di lahan). Penjualan dilakukan melalui dua cara :

1. Dalam bentuk turun akar, yaitu pemilik tanaman memanen sendiri dibantu petani penggarap serta buruh yang diupah. Kemudian hasil panen dalam bentuk akar wangi diangkut ke pinggir lahan/jalan untuk dijual kepada pembeli/penyuling.

2. Dalam bentuk tebasan atau borongan dengan istilah setempat disebut dengan teplak. Penjualan akar wangi dengan cara borongan sering merusak tanaman akar wangi yang diperuntukkan sebagai tanaman konservasi (grass barrier) karena biasanya memiliki mutu akar yang lebih panjang dan baik karena umurnya yang lebih tua. Penggunaan akar wangi sebagai alat konservasi tanah tersebut sering menimbulkan konflik, karena sering dicuri pemborong. Kemungkinan lain juga karena para tenaga upah borongan yang tidak tahu maksud dari tanaman akar wangi untuk konservasi tanah (strip rumput dan lain-lain) serta tidak adanya pengawasan dari pemilik lahan (tanaman) pada saat panen, sehingga seluruh tanaman usar yang ada dibongkar.

Dalam praktek budidaya akar wangi, petani setempat tidak memerlukan petunjuk karena pengalaman yang dimiliki serta ilmu yang diturunkan oleh pendahulu mereka telah cukup untuk bekal bertani. Sebenarnya, petani sudah tahu manfaat dari adanya teknik konservasi tanah. Informasi ini mereka peroleh dari tenaga penyuluh yang sering ke lapangan. Tenaga penyuluh yang mereka kenal adalah penyuluh dari Dinas Perkebunan/Pertanian sedangkan penyuluh dari Dinas Kehutanan kurang diketahui. Menurut petani, mereka sudah merasa melakukan dan menerapkan teknik-teknik konservasi tanah, walaupun dari pandangan para konservasionis teknik-teknik tersebut masih jauh dari sempurna.

Dari segi pembiayaan, secara umum berasal dari tiga sumber, yaitu modal sendiri, pinjaman dari pihak pabrik (penyuling), serta pinjaman dari pengumpul minyak yang mereka sebut dengan tengkulak yang ada di Garut. Petani yang menggunakan dana sendiri biasanya petani yang berkecukupan modal, petani yang sifatnya maro (bagi hasil) pada umumnya meminjam modal ke penyuling, sedangkan peminjaman ke tengkulak biasanya dilakukan oleh para penyuling dengan jumlah pinjaman yang cukup besar (>10 juta rupiah). Peminjaman yang dilakukan pada pihak penyuling biasanya dikembalikan sebesar modal yang dipinjam dengan tambahan syarat bahwa hasil panen harus dijual ke peminjam. Berbeda dengan peminjaman pada penyuling, pinjaman pada tengkulak tampaknya lebih merugikan petani. Pengembalian uang pinjaman biasanya dilakukan dalam bentuk kesepakatan harga minyak. Jika harga minyak Rp 300.000,-/liter maka minyak dari peminjam hanya dihargai sebesar Rp 295.000,-/liter karena harus mengembalikan pinjaman. Padahal jika modal milik sendiri maka minyak dengan harga Rp 300.000,-/liter dapat dijual dengan harga 320.000,-/liter. Dari hasil pendataan, jumlah petani yang melakukan peminjaman kepada tengkulak relatif sedikit (sekitar 5%) dan kebanyakan hanya dilakukan oleh pihak penyuling karena memerlukan modal yang cukup besar. Sistem peminjaman modal yang paling banyak dilakukan adalah dengan cara meminjam ke penyuling (sekitar 40%). Lalu, kenapa petani tidak melakukan peminjaman pada pihak bank atau lembaga resmi lainnya? Jawaban petani cukup sederhana, yaitu dengan alasan butuh agunan, prosesnya berbelit serta sulit. Pembayaran hutang ke bank harus rutin setiap bulan, padahal untuk mendapatkan uang tiap bulan mereka cukup kesulitan. Kalau pinjam ke penyuling, pembayarannya dapat dilakukan ketika panen.

Peraturan-peraturan yang harus dipenuhi oleh petani akar wangi hampir tidak ada, kecuali apabila petani tersebut melakukan sistem maro. Hasil akar wangi disepakati untuk dibagi dua antara pemilik lahan dengan petani pemaro (petani penggarap).

Sebagian besar petani mengetahui adanya pelarangan penanaman akar wangi oleh Bupati (dahulu) tetapi mereka tetap melakukan karena lebih menguntungkan. Akar wangi merupakan tanaman yang mudah dalam penanaman, mudah pemeliharaan (tidak perlu menggunakan pupuk, insektisida) serta harganya menjanjikan dan elastis. Dari segi pandang petani, tanaman akar wangi lebih menguntungkan dibandingkan dengan tanaman sayuran (seperti kubis, cabai, dan lain-lain). Oleh karenanya tanaman akar wangi merupakan tanaman utama dari model tanaman tumpangsari, sedangkan tanaman lainnya seperti sayuran tadi hanya sebagai tanaman sampingan. Dengan alasan demikian maka masyarakat petani mengabaikan larangan Bupati tersebut sampai sekarang.

D. Usahatani Akar Wangi dengan Kelompok- kelompok yang Berpengaruh dalam Usahatani Akar Wangi

Aspek kajian ini dilihat dari perspektif bahwa tidak ada kejadian atau fenomena yang disebabkan oleh kejadian tunggal. Oleh karena itu perlu melihat mengapa sampai saat ini masyarakat petani akar wangi di Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut tidak mematuhi SK Gubernur Jawa Barat No. 30 Tahun 1990 atau SK Bupati Garut No. 250 Tahun 1990 tentang Pelarangan Usahatani Akar Wangi. Untuk memperoleh jawabannya perlu dilakukan kajian, khususnya terhadap kelompok-kelompok yang ikut berpengaruh. Kelompok yang berpengaruh didefinisikan sebagai kelompok yang mempunyai andil/keterkaitan dalam kelangsungan usahatani akar wangi. Artinya, kalau akar wangi tidak berkembang berarti mereka ikut merugi; sebaliknya kalau akar wangi berkembang maka mereka ikut untung. Dengan pertimbangan demikian mereka ikut mendukung tetap bertahannya usahatani akar wangi. Hasil penelitian tentang kelompok-kelompok yang berpengaruh pada budidaya akar wangi disajikan pada Gambar 3.

Pengaruh kelompok-kelompok masyarakat terhadap perkembangan usaha tani akar wangi di Desa Sukakarya, Tanjung  Karya dan Parakan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung. Untuk pengaruh langsung terdapat kelompok bandar, penyuling, dan penyuluh (perkebunan). Untuk pengaruh tidak langsung terdapat kelompok Pemerintah Daerah (Dinas Perkebunan dan Dinas Kehutanan Kabupaten Garut), kelompok toko-toko pertainan, kelompok pengumpul minyak, dan eksportir minyak. Semua kelompok ini memiliki kepentingan dalam perkembangan akar wangi.

1. Kelompok Penyuling

Kelompok ini adalah kelompok yang paling berkepentingan dalam perkembangan akar wangi. Kelompok ini terdiri dari para juragan desa yang secara turuntemurun menguasai lalu-lintas akar wangi pada tingkat desa. Persaingan antar kelompok penyuling cukup ketat. Bagi penyuling yang kalah dalam persaingan terpaksa gulung tikar. Hal ini dapat dilihat dari bekas-bekas pabrik penyulingan serta legenda/cerita yang mereka miliki. Kenapa mereka selalu mempertahankan usahatani akar wangi? Bagaimana cara mereka bertahan?

Para penyuling tetap mempertahankan usahatani akar wangi, selain disebabkan oleh faktor historis (turun-temurun) mereka juga tidak memiliki diversifikasi keahlian dan usaha yang lain. Selain itu, harga minyak tetap memberikan keuntungan bagi mereka. Jumlah penyuling secara kuantitas tampak semakin menurun (sebelum tahun 2000 terdapat 15 unit pada ketiga desa; tahun 2001 tinggal 5-6 unit; tahun 2002 berdiri lagi satu unit). Kepemilikan lahan tiap penyuling yang bertahan tampaknya semakin bertambah luas. Satu penyuling dapat memiliki lahan sekitar 10-15 ha. Bapak Haji Cholil misalnya, memiliki lahan akar wangi seluas 15 ha. Lahan tersebut dikelola dengan cara diolah sendiri dan dengan sistem maro. Pada hakekatnya, tujuan mereka adalah agar bisa mendapatkan pasokan akar yang tetap dan pasti. Kalau mengharapkan pasokan dari para petani, para penyuling harus berhadapan dengan penyuling lainnya. Oleh karena itu solusi yang dilakukan adalah dengan cara ekspansi luasan lahan dan memberikan pinjaman modal kepada petani yang merasa kekurangan modal dengan sistem seperti yang diterangkan di atas.

2. Bandar

Bandar adalah suatu kelompok perorangan masyarakat yang berfungsi sebagai penghubung antara petani dengan penyuling atau dengan tengkulak. Bandar ini dalam istilah sehari-hari bisa disebut sebagai calo atau makelar akar wangi. Bandar inilah biasanya yang melakukan pembelian dengan sistem borongan, yang kadang-kadang sering merusak tanaman konservasi yang dipelihara dan harus ditinggalkan pada saat pemanenan.

Untuk mengatasi hal itu, maka berdasarkan pengalaman di Kecamatan Leles, para bandar dimanfaatkan sebagai kelompok yang mengawasi usahatani akar wangi, termasuk mengawasi pelaksanaan kegiatan konservasi tanah dan air. Di kecamatan ini bandar tidak lagi berfungsi sebagai calo tetapi lebih berfungsi sebagai tenaga pengawas. Kehilangan pendapatan yang berasal dari kegiatan calo, diganti dengan sistem gaji yang besarnya hampir sama dengan yang mereka peroleh dari kegiatan calo. Oleh karena itu kondisi konservasi tanah pada lahan akar wangi di Kecamatan Leles cukup baik (Supangat et al., 2001).

3. Kelompok Penyuluh

Ada dua kelompok penyuluh yang melakukan kegiatan di ketiga desa kajian, yaitu penyuluh perkebunan dan penyuluh kehutanan, tetapi penyuluh kehutanan tidak dikenal oleh masyarakat. Kedua kelompok ini memberikan penyuluhan tentang kegiatan konservasi tanah, namun karena kegiatan penyuluhan tidak diikuti oleh bukti-bukti yang dapat memberikan contoh nyata, maka petani banyak yang mengabaikan arti penyuluhan tersebut. Justru petani beranggapan bahwa yang banyak menimbulkan erosi adalah pemanfaatan lahan hutan oleh oknum aparat untuk tanaman sayuran.

4. Pemerintah Daerah

Pemerintah Daerah Kabupaten Garut secara tidak langsung juga memiliki kepentingan dalam perkembangan akar wangi. Menurut Kepala Sub Dinas Perkebunan, Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Garut, akar wangi merupakan salah satu komoditi andalan Dinas Perkebunan, setelah komoditi tanaman coklat. Pemerintah Daerah memperoleh pandapatan dari usahatani akar wangi, baik langsung maupun tidak langsung. Secara langsung diperoleh retribusi dari usaha penyulingan dan perdagangan minyak akar wangi. Secara tidak langsung, penghasilan masyarakat petani dapat ditingkatkan, sehingga kesejahteraan masyarakat dapat pula meningkat.

5. Toko-toko Petanian

Berkembangnya usaha akar wangi dapat mendorong berdirinya toko-toko pertanian dalam penyediaan saprotan seperti pupuk, obat-obatan/insektisida, dan alatalat pertanian.

E. Dampak Penghentian Kegiatan Akar Wangi terhadap Sosial Ekonomi Petani

Akar Wangi Seperti telah diuraikan di atas bahwa pengembangan tanaman akar wangi sangat dibatasi bahkan hampir dilarang berdasarkan SK Gubernur Jawa Barat No. 30 Tahun 1990 dan SK Bupati Garut No. 250 Tahun 1990 karena (diduga) merusak lingkungan, khususnya terhadap tingkat erosi yang ditimbulkannya. Seandainya SK tersebut benar-benar terwujud (sampai sekarang di lapangan tidak berjalan), apa manfaat, kerugian, serta dampak sosial ekonomi yang ditimbulkannya? Untuk membahas hal tersebut pada Gambar 4 disajikan diagram alir antara proses hulu dan proses hilir akar wangi.

Usahatani akar wangi tidak hanya terkait pada aktivitas di hulu dalam arti budidayanya saja, akan tetapi akan sangat terkait pada proses di hilir. Kalau pengusahaan akar wangi dihentikan, maka dampaknya tidak saja dirasakan oleh kelompok-kelompok yang terlibat dalam hal budidaya, akan tetapi akan berdampak pada kelompok-kelompok yang memasarkan dan yang menggunakan akar wangi, baik sebagai bahan minyak maupun untuk bahan kerajinan.

Seperti diketahui bahwa era milenium ketiga adalah era globalisasi. Pada era globalisasi persaingan antar negara akan semakin tinggi dan hanya negara-negara yang mempunyai keunggulan yang dapat bertahan. Salah satu strategi untuk mencapai keunggulan adalah adanya competitive advantages. Akar wangi adalah salah satu komoditi ekspor yang memiliki kompetitif di masa depan. Di dunia, akar wangi dipandang sebagai tanaman serbaguna dan menjadi suatu komoditas tinggi di banyak negara, baik sebagai tanaman konservasi maupun sebagai bahan baku berbagai produk seperti minyak atsiri maupun kerajinan. Bahkan di Thailand, akar wangi dipandang sebagai miracle grass atau rumput ajaib dan raja Thailand sendiri yang memeloporinya (Donie and Sudradjat, 1996). Negara-negara lain yang mengusahakan akar wangi untuk produksi minyak dari akarnya yaitu Cina, Rumania, dan Haiti. Sedangkan di Indonesia, Garut salah satu pemasok terbesar selain Sukabumi, Wonosobo, Sumedang, dan Bandung. Jadi, kalau diberlakukan pelarangan terhadap akar wangi, maka Indonesia akan kehilangan komoditi kompetitifnya yang merupakan salah satu penghasil devisa.

F. Upaya Mengatasi Dilema yang Berkaitan dengan Akar Wangi

Masalah utama budidaya akar wangi sebenarnya terletak pada pengelolaannya, yaitu pada teknik konservasi tanah yang digunakan, di mana masyarakat masih enggan untuk membuat teras/gulud serta sistem pemanenan yang tidak memperhatikan kondisi lahan atau tidak memperhatikan konservasi tanah. Hal ini dapat diatasi jika ada pihak atau institusi yang berwenang untuk melakukan kegiatan penyuluhan secara terus-menerus untuk meningkatkan kesadaran para petani dalam mengelola lahan sehingga budidaya akar wangi bisa terlaksana dan konservasi tanah tetap terjaga. Apalagi masih adanya tokoh-tokoh yang dipercaya sebagai panutan oleh petani yang bisa digerakkan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya konservasi tanah.

IV.KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Ketergantungan dan motivasi ekonomi petani terhadap penanaman akar wangi (Vetiveria zizanoides L. Nash) tinggi, karena pembudidayaannya yang mudah dengan resiko kegagalan kecil, sehingga persepsi masyarakat terhadap konservasi tanah sebagai akibat negatif dari cara pemenenan sangat rendah karena akan mengurangi lahan olah dan hasil produksi akar wangi.

2. Sampai saat ini kelembagaan akar wangi Vetiveria zizanoides L. Nash belum tertata karena masih bersifat individual, kecuali kelembagaan pasca produksi di mana ada kelompokkelompok yang berpengaruh langsung dan tidak langsung. Pengaruh langsung terdapat pada kelompok bandar, penyuling, dan penyuluh (perkebunan). Pengaruh tidak langsung terdapat pada kelompok Pemerintah Daerah (Dinas Perkebunan dan Dinas Kehutanan), kelompok masyarakat, tokotoko pertanian, kelompok pengumpul minyak, dan eksportir minyak.

3. Penghentian penanaman akar wangi Vetiveria zizanoides L. Nash yang didasarkan pada dampak penurunan produktivitas lahan lebih banyak memberikan dampak negatif bagi kelompok yang berpengaruh langsung dan kelompok yang berpengaruh tidak langsung pada pasca panen. Akar wangi merupakan sumber pendapatan bagi petani serta merupakan sumber devisa.

B. Saran

Perlu meningkatkan peran penyuluh kehutanan dan tokoh panutan masyarakat dalam memberikan arahan teknik konservasi tanah pada teknik pemanenan oleh petani agar tidak menimbulkan dampak negatif pada produktivitas dan kualitas lahan.

DAFTAR PUSTAKA

Damanik, S. 1995. Keragaan Ekonomi Agroindustri Akarwangi di Kabupaten Garut (Suatu Pendekatan Analisis Efisiensi). Tesis. Institut Pertanian Bogor. Bogor (Tidak dipublikasikan).

Darmawan. 2001. Analisis Kelembagaan. Paper Diskusi Pengelolaan DAS Terpadu dalam Rangka Otonomi Daerah. Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.

Departemen Pertanian. 1989. Pembinaan dan Pengembangan Budidaya Akar Wangi Melalui Konservasi Terpadu di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Jakarta. Donie, S. and Sudradjat. 1996. Vetiver Grass as Erosion and Land ProInfo Hutan Vol. V No. 3 : 261-272, 2008 272 ductivity Control. Proceeding of International Vetiver Conference in Thailand 1996.

Donie, S., A.B. Supangat dan B. Harjadi. 2000. Uji Coba Pemecahan Masalah Erosi dalam Pengusahaan Akar Wangi di Garut. Laporan Proyek Pengkajian dan Penerapan Hasil Penelitian Kehutanan. Balai Teknologi Pengelolaan DAS Surakarta.

Supangat, A.B., S. Donie, B. Harjadi, Midjo, R. Bambang, dan A. Hermawan. 2002. Kajian Teknik Konservasi Tanah pada Lahan Tanaman Akar Wangi di Jabar (Lanjutan). Laporan Proyek Penelitian Teknologi Pengelolaan DAS Kawasan Barat Indonesia. Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan DAS Indonesia Bagian Barat. Surakarta.

Supangat, A.B., S. Donie, B. Harjadi dan N. A. Jariyah. 2001. Kajian Adaptasi Teknik Konservasi Tanah dan Air pada Budidaya Akar Wangi. Laporan Proyek Pengkajian dan Penerapan Hasil Penelitian Kehutanan. Balai Teknologi Pengelolaan DAS Surakarta.

Uphoff, N. 2000. Local Institution Development : An Analytical Sourcebook With Cases. Kumarian Press.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s