1 Tumbuhan Vetiver

BAGIAN 1  TUMBUHAN VETIVER

1. PERKENALAN

Sistem Vetiver (VS), yang berdasarkan penerapan rumput Vetiver (Vetiveria zizanioides L Nash, sekarang diklasifikasikan kembali sebagai Chrysopogon zizanioides L Roberty), pertama kali dikembangkan oleh Bank Dunia untuk konservasi tanah dan air di India pada pertengahan tahun 1980. Meskipun penerapannya masih memegang peranan penting dalam pengaturan tanah pertanian, penelitian dan pengembangan (R&D) yang dilaksanakan 20 tahun terakhir jelasjelas menunjukkan, karena adanya ciri-ciri yang mengagumkan dari rumput Vetiver, VS sekarang digunakan sebagai teknik bioteknologi untuk stabilisasi lereng curam, pembuangan limbah cair, fitoremediasi dari tanah dan air yang terkontaminasi, dan tujuan perlindungan lingkungan yang lain.

Apa yang Sistem Vetiver lakukan dan bagaimana cara kerjanya?

VS adalah cara konservasi tanah dan air, kendali sedimen, stabilisasi tanah dan rehabilitasi serta fitoremediasi yang sangat sederhana, praktis, mudah pelaksanaannya, dan sangat efektif. Karena vegetatif, VS tentu saja ramah lingkungan.

Ketika ditanam pada satu deretan, tumbuhan Vetiver akan membentuk tanaman pagar yang sangat efektif untuk memperlambat dan menyebarkan limpasan air,  mengurangi erosi tanah, mempertahankan kelembaban tanah dan memerangkap  sedimen serta zat-zat kimia pertanian. Meskipun tanaman pagar manapun bisa  melakukannya, rumput Vetiver, karena keajaibannya dan ciri morfologis dan   fisiologis uniknya, sebagaimana disebutkan dibawah, bisa melakukannya dengan lebih baik dibanding sistem lain yang telah diuji coba.

Selebihnya, akar Vetiver yang sangat dalam dan masif mengikat tanah dan pada  saat yang sama membuatnya sangat sulit untuk dihanyutkan oleh arus yang sangat  deras. Akarnya yang dalam sekali dan cepat tumbuh juga membuat Vetiver sangat toleran terhadap kekeringan dan sangat cocok untuk stabilisasi lereng curam.

2. KARAKTERISTIK KHUSUS DARI RUMPUT  VETIVER

2.1 Karakteristik Morfologis

 Rumput Vetiver tidak memiliki geragih ataupun rimpang. Akarnya yang terstruktur baik dan masif dapat tumbuh dengan sangat cepat. Panjangnya dapat  mencapai 3-4m di tahun pertama. Akar yang dalam ini membuat Vetiver sangat bagus ketika musim kering dan sulit untuk terseret arus yang kuat.

 Batangnya yang kaku dan tegak mampu tetap berdiri meskipun di arus yang dalam.

 Tahan terhadap hama, penyakit, dan api

 Ketika ditanam rapat, tanaman pagarnya yang lebat berguna sebagai penyaring sedimen yang efektif dan penyebar air.

 Tunas baru yang berkembang dari mahkota dalam tanahnya membuat Vetiver tahan terhadap api, salju, lalu lintas, dan tekanan penggembalaan yang berat.

 Akar akar baru tumbuh dari tunas bakal anakan ketika terkubur oleh sedimen  yang terperangkap. Vetiver akan tetap tumbuh dengan lanau (endapan didasar  sungai) yang terkumpul dan akhirnya membentuk teras, jika sedimen yang terperangkap tidak dipindahkan.

2.2 Karakteristik Fisiologis

 Toleran terhadap perbedaan iklim seperti kekeringan berkepanjangan, banjir, perendaman dan cuaca ekstrim dari -14oC sampai +55oC

 Mampu tumbuh kembali dengan cepat setelah terkena dampak kekeringan, cuaca beku, keadaan yang salin dan kondisi yang merugikan setelah cuaca membaik atau setelah amelioran tanah ditambahkan.

 Toleran terhadap beragam pH tanah dari 3.3 sampai 12.5 tanpa pembugaran tanah.

 Toleran terhadap herbisida dan pestisida tinggi.

 Sangat efisien dalam menyerap nutrisi tanah yang larut seperti N dan P dan logam berat dalam air yang terpolusi.

 Sangat toleran terhadap keasaman, alkalinitas, salinitas, soldisitas dan magnesium dalam tingkat menengah tinggi.

 Sangat toleran terhadap Al, Mn dan logam berat seperti As, Cd, Cr, Ni, Pb, Hg, Se dan Zn didalam tanah.

2.3 Karakteristik Ekologis

Meskipun Vetiver sangat toleran terhadap beberapa keadaan ekstrim tanah dan  iklim seperti disebutkan diatas, seperti umumnya rumput, Vetiver tidak toleran  terhadap tempat teduh. Keteduhan akan mengurangi pertumbuhannya dan dalam  kasus ekstrim bisa jadi membunuh Vetiver. Karenanya Vetiver sebaiknya ditanam  di lingkungan yang terbuka dan bebas dari rumput liar. Pengendalian terhadap  rumput liar bisa jadi diperlukan selama masa awal pertumbuhan. Pada tanah yang  mudah terkikis dan tidak stabil, Vetiver akan mengurangi erosi lebih dulu,  menstabilkan tanah yang terkikis (khususnya lereng yang curam), kemudian  dikarenakan kelembaban dan nutrisi yang tersimpan, meningkatkan  mikrolingkungannya sehingga tanaman lain atau dari benih yang ditaburkan lainnya  bisa ditanam setelahnya. Dikarenakan karakteristik tersebut Vetiver bisa disebut sebagai tanaman perawat pada tanah yang sakit.

2.4 Toleransi rumput Vetiver terhadap cuaca dingin

Meskipun Vetiver adalah rumput tropis, Vetiver mampu bertahan dan tumbuh subur di cuaca dingin. Pada cuaca yang sangat dingin pucuknya mati atau menjadi dorman dan berwarna’ungu’ dingin tetapi bagian-bagian pertumbuhannya dibawah tanah tetap bertahan. Di Australia, pertumbuhan Vetiver tidak terpengaruh oleh cuaca dingin sampai suhu –14oC dan bertahan sesaat pada suhu –22oC (-8oF) di Cina utara. Di Georgia (Amerika Serikat), Vetiver bertahan pada suhu tanah 10oC tapi tidak pada –15oC. Penelitian terakhir menunjukkan bahwa suhu 25oC adalah yang paling optimal untuk perumbuhan akar, tetapi akar Vetiver akan terus tumbuh pada  suhu 13oC. Meskipun tunas yang tumbuh sangat sedikit pada temperatur tanah berkisar 15oC (siang hari) dan 13oC, akar tetap tumbuh 12,6cm/hari, menunjukkan bahwa rumput Vetiver tidak dorman pada temperatur tersebut dan perhitungan menunjukkan bahwa akar yang dorman terjadi pada suhu sekitar 5oC (Gambar.1).

2.5 Ringkasan lingkup kemampuan beradaptasi

Ringkasan kemampuan beradaptasi Vetiver ditunjukkan pada tabel 1.

2.6 Karakteristik Genetik

Tiga jenis Vetiver yang digunakan untuk tujuan perlindungan lingkungan.

2.6.1 Vetiveria zizanioides L diklasifikasikan kembali sebagai Chrysopogon zizanioides L

Ada dua spesies Vetiver yang berasal dari anak benua India: Chrysopogon zizanioides dan Chrysopogon lawsonii. Chrysopogon zizanioides memiliki perolehan yang berbeda-beda. Secara umum yang berasal dari India selatan telah dikembangbiakkan dan memiliki sistem akar yang besar dan kuat. Aksesi ini cenderung poliploidi dan menunjukkan tingkat sterilitas yang tinggi dan tidak dianggap tanaman pengganggu. Aksesi India utara, umum di sungai Gangga dan Indus, adalah tanaman liar dan memiliki sistem akar yang lebih rendah. Aksesi
tersebut diploid dan dikenal berumput, walaupun tidak selalu mengganggu tanaman lain. Aksesi India utara tersebut TIDAK direkomendasikan untuk Sistem Vetiver. Harus diingat juga bahwa sebagian besar dari penelitian terhadap penerapan Vetiver dan pengalaman dilapangan telah melibatkan kultivar India selatan yang terikat dekat dengan (genotip yang sama) Monto dan Sunshine. Penelitian DNA mengkonfirmasikan bahwa 60% dari Chrysopogon zizanioides yang digunakan untuk bio-teknologi dan fitoremediasi di negara tropis dan sub-tropis adalah genotip Monto/Sunshine.

2.6.2 Chrysopogon nemoralis

Spesies asli Vetiver ini tersebar luas di tanah tinggi Thailand, Laos dan Vietnam dan juga sangat umum di Kamboja dan Myanmar. Vetiver ini banyak digunakan di Thailand untuk bahan atap. Spesies ini tidak steril. Perbedaan utama antara C. nemoralis dan C. Zizanioides adalah bahwa C. Zizanioides jauh lebih tinggi dan memilki batang yang lebih tebal dan kaku. C. Zizanioides memilki sistem akar yang   lebih tebal dan dalam dan daunnya lebih lebar serta memiliki warna hijau muda sepanjang pertengahan rusuk, sebagaimana terlhat di foto dibawah (Foto 5-7)

 

Meskipun C. nemoralis tidak seefektif C. zizanioides, petani juga telah mengenali kegunaan dari C. nemoralis untuk konservasi tanah;

Mereka telah menggunakannya di Central Highland dan beberapa propinsi pesisir di Vietnam Tengah seperti Quang Ngai untuk menstabilkan pematang di sawah, Foto 9

2.6.3 Chrysopogon nigritana

Spesies ini adalah asli Afrika Selatan dan Barat, penanamannya khususnya terbatas di anak benua, dan karena Vetiver ini menghasilkan benih yang banyak, penanamannya seharusnya terbatas di daerah aslinya saja (Gambar 10)

2.7 Potensi adanya rumput liar

Kultivar rumput Vetiver diambil dari aksesi India Selatan yang tidak agresif, yang  tidak menghasilkan geragih maupun rimpang dan harus ditanam dengan subdivisi  akar (mahkota). Diharuskan bahwa tanaman yang digunakan untuk tujuan bioteknologi  tidak akan menjadi rumput liar di lingkungan lokalnya. Karena itu  kultivar yang steril (seperti Monto, Sunshine, Karnataka, Fiji dan Madupatty) dari  aksesi India selatan cocok untuk aplikasi ini. Di Fiji, dimana rumput Vetiver  diperkenalkan sebagai bahan atap lebih dari 100 tahun lalu, Vetiver telah digunakan  secara meluas untuk konservasi tanah dan air untuk industri gula selama lebih dari  50 tahun tanpa menunjukkan adanya tanda sebagai pengganggu tanaman lain.  Rumput Vetiver bisa dihancurkan dengan mudah dengan menyemprotkan glyphosate (Roundup) atau dengan memotong tumbuhan dibawah mahkotanya.

3. KESIMPULAN

Dikarenakan bentuk pertumbuhan yang lambat dari C. Nemoralis dan khususnya  sistem akar yang sangat pendek, C Nemoralis tidak sesuai untuk stabilisasi lereng.  Selain itu, belum ada penelitian tentang pengolahan dan penetralan limbah serta  kapasitas fitoremediasi yang dilakukan. Hanya C. Zizanioides yang  direkomendasikan untuk digunakan pada aplikasi sebagaimana tercantum di panduan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s