3 Pengurangan Bencana

BAGIAN 3

SISTEM VETIVER UNTUK PENGURANGAN BENCANA ALAM DAN PERLINDUNGAN PRASARANA

1. JENIS BENCANA ALAM YANG BISA DIKURANGI DENGAN SISTEM VETIVER (VS)

Selain erosi tanah, Sistem Vetiver (VS) bisa mengurangi atau bahkan menghilangkan berbagai bencana alam, termasuk tanah longsor, lumpur longsor, ketidakstabilan tembok penahan jalan, dan erosi (tepian sungai, kanal, garis pantai, pematang, dan tembok penahan dam buatan)

Ketika hujan deras membasahi batuan dan tanah, tanah longsor dan banjir serpihan mengalir ke banyak aliran sungai di Vietnam. Contohnya adalah bencana tanah longsor, banjir serpihan dan banjir bandang di wilayah Muong Lay, propinsi Dien  Bien (1996), dan tanah longsor di Hai Van Pass (1999) yang mengganggu lalu  lintas dari utara ke selatan selama lebih dari dua minggu dan memakan biaya lebih  dari 1 juta dollar Amerika. Tanah longsor terbesar di Vietnam, yang lebih dari satu  juta meter kubik (diantaranya Thiet Dinh Lake, Hoai Nhon district, propinsi Binh  Dinh, di An Nghiêp dan daerah terpencil An Linh, wilayah Tuy An, dan propinsi Phu Yen), memakan korban jiwa dan kerusakan harta benda.

Erosi tepian sungai dan pantai, dan longsor pada pematang terjadi terus menerus di  seluruh Vietnam. Contoh yang umum termasuk: erosi tepian sungai di Phu Tho,  Hanoi, dan beberapa propinsi Vietnam tengah (termasuk Thua Thien Hue, Quang  Nam, Quang Ngai and Binh Dinh); erosi tepi pantai di wilayah Hai Hau, propinsi  NamDinh dan erosi tepi sungai dan pantai di Mekong Delta. Meskipun kejadian ini  dan bencana banjir/badai terjadi di musim hujan, terkadang erosi tepian sungai  terjadi di musim kering, ketika debit air turun ke titik terendah. Ini terjadi di desa Hau Vien village, wilayah Cam Lo, di propinsi Quang Tri.

Tanah longsor lebih umum terjadi di area dimana kegiatan manusia berperan  penting. Hampir 20 persen atau 200 km (124 mil) dari 1000 km (621 mil) bagian  Ha Tinh – Kon Tum di jalan raya Ho Chi Minh rentan terhadap tanah longsor atau  ketidakstabilan lereng, terutama dikarenakan buruknya jalan dan longsor serta  kegagalan dalam memahami keadaan geologis yang tidak bersahabat. Tanah  longsor terbaru di kota Yen Bai, Lao Cai, dan Bac Kan disebabkan keputusan  walikota untuk melebarkan area perumahan dengan membolehkan pemotongan pohon di lereng-lereng curam.

Gampa bumi besar juga menyebabkan tanah longsor di Vietnam, termasuk longsor  tahun 1983 di wilayah Tuan Giao, dan tahun 2001 di sepanjang rute dari kota Dien  Bien sampai wilayah Lai Chau.  Dari sisi ekonomis, biaya untuk memulihkan masalah ini tinggi dan anggaran  negara untuk hal-hal seperti ini tidak pernah cukup. Misalnya, penguatan tepian  sungai biasanya memakan 200,000-300,000 USD/km, terkadang sampai 700,000-1 juta USD/km. Tepian The Tan Cau di Mekong Delta adalah contoh ekstrim yang  menelan hampir 7 juta USD/km. Perlindungan tepian sungai di propinsi Quang  Binh sendiri diperkirakan memakan biaya lebih dari 20 juta USD; Anggaran tahunan hanya 300,000 USD.

Pembangunan tanggul laut biasanya memakan biaya 700,000-1 juta USD/km, tetapi bagian yang lebih mahal bisa memakan biaya 2.5 juta USD/km. Sesudah badai No. 7 pada September 2005 banyak merusak bagian tanggul yang telah diperbaiki,  beberapa manajer tanggul berkesimpulan bahwa bahkan bagian yang dirancang  untuk mampu mengatasi badai level 9 masih terlalu lemah, dan mereka benar-benar  sedang memikirkan untuk membuat tanggul laut yang mampu menahan badai sampai level 12 yang akan memakan biaya 7-10 juta USD/km.

Pembatasan anggaran selalu ada, yang secara kaku membatasi tindakan  perlindungan struktural ke bagian-bagian yang paling akut, tidak pernah benar  benar melindungi keseluruhan tepian sungai atau pesisir. Pembatasan ini memperburuk permasalahan.

Setiap kejadian tersebut mewakili jenis tanah longsor atau longsor massal,  menunjukkan pergerakan turun dari serpihan batuan dan tanah di lereng yang  disebabkan tekanan grafitasi. Pergerakan ini bisa jadi sangat lamban, hampir tidak  kelihatan, atau sangat cepat dan tampak dalam hitungan menit. Karena banyak  faktor yang menyebabkan bencana alam, kita harus memahami penyebabnya dan  prinsip dasar stabilisasi lereng. Informasi ini akan dengan efektif menerapkan metode bio-teknologi VS untuk mengurangi dampak bencana.

2. PRINSIP DASAR STABILITAS DAN STABILISASI LERENG

2.1 Profil lereng

Beberapa lereng memiliki lengkungan berundak dan lainnya terkadang sangat  curam. Profil dari lereng yang terkena erosi alami sangat tergantung pada jenis  batuan/tanahnya, sudut geming tanah, dan iklim. Untuk batuan/tanah yang tahan  longsor, khususnya di area kering, pelapukan kimia lebih lambat dibanding  pelapukan fisiknya. Puncak lereng sedikit cembung mendekati bersudut, wajah  tebing hampir vertikal, dan serpihan lereng berada pada sudut geming 30-35°, yang merupakan sudut maksimum dimana material lepas dari jenis tanah tertentu stabil.

Batuan/tanah yang tidak tahan, khususnya di wilayah lembab, melapuk dengan  cepat dan dengan mudah terkikis. Lereng yang demikian memiliki tutup tanah yang tebal. Puncaknya cembung, dan dasarnya cekung.

2.2 Stabilitas Lereng

2.2.1 Lereng alami dataran tinggi, lereng potongan, lereng penahan jalan dsb.

Stabilitas lereng seperti diatas tergantung dua gaya yang saling mempengaruhi, gaya penggerak dan gaya penghambat. Gaya penggerak mendorong pergerakan menurun, sementara gaya penghambat menghambat pergerakan. Ketika gaya penggerak lebih kuat daripada gaya penghambat, lereng menjadi tidak stabil.

2.2.2 Tepian sungai, erosi tepi pantai, dan ketidakstabilan struktur penahan air

Beberapa teknisi Hidrolik beranggapan bahwa erosi tepian dan bangunan penahan air yang tidak stabil harus diatasi dengan cara yang berbeda dari jenis tanah longsor yang lain karena bebannya yang berbeda. Menurut kita, sebaliknya, keduanya berkaitan dengan interaksi antara “gaya penggerak” dan “gaya penghambat.” Longsor terjadi ketika gaya penggerak lebih besar dari pada gaya penghambat.

Meskipun begitu, erosi tepian dan ketidakstabilan dari struktur bangunan penahan air sedikit lebih rumit; mereka terjadi karena adanya interaksi antara gaya hidrolis yang bergerak di dasar dan kaki tepian dan gaya gravitasi yang mempengaruhi  materi tepian di tempat asal. Longsor terjadi ketika erosi di kaki tepian dan dasar  kanal yang terhubung dengan tepian meningkatkan berat dan sudut tepian sampai titik dimana gaya grafitasi lebih besar daripada kekuatan geser materi tepian.  Sesudah longsor, materi tepian masuk ke air dan menumpuk di dasar, menyebar  mengikuti arus, atau terkumpul di sepanjang kaki tepian baik sebagai blok yang padat, atau yang lebih kecil, agregat yang tersebar.

Proses kendali fluvial dari mundurnya tepian terdiri dari dua proses. Erosi geser  fluvial dari materi tepian menyebabkan tepian semakin mundur. Selain itu, naiknya  tinggi tepian yang disebabkan oleh degradasi dasar tepian atau semakin curamnya  tepian yang disebabkan oleh erosi dasar tepian bisa jadi salah satu atau faktor  tambahan yang mengurangi stabilitas tepian, terkait dengan longsor. Tergantung  dari kendala sifat materi dan geometrinya, tepian bisa longsor disebabkan satu dari  beberapa mekanisme termasuk jenis longsor bidang, rotasi, dan kegagalan tipe penopang.

Termasuk didalam mekanisme kendali non fluvial untuk kemunduran tepian adalah  efek dari sapuan ombak, trampling (pemadatan dikarenakan penggembalaan dsb.),  dan piping (pemasangan pipa), dan jenis longsor dikarenakan sapping (penggalian), terkait dengan tepian bertingkat dan kondisi air tanah yang beragam.

2.2.3 Gaya penggerak

Meskipun gravitasi adalah gaya penggerak utama, gravitasi tidak bisa bekerja  sendiri. Sudut lereng, sudut sandar dari tanah tertentu, iklim, materi lereng, dan khususnya air, berperan besar:

  • Longsor lebih sering terjadi pada lereng curam dari pada yang landai.
  • Air memiliki peran penting dalam melongsorkan tanah khususnya pada kaki tepian:
    • Dalam bentuk sungai dan gelombang, air mengikis dasar tepian, memindahkan penyokong, yang meningkatkan daya gerak.
    • Air juga meningkatkan daya penggerak dengan pengisian, yaitu, mengisi celah dan pori yang semula kosong, yang menambah gaya total gravitasi
    • Keberadaan air menyebabkan tekanan pori air yang mengurangi kekuatan geser materi lereng. Yang terpenting, perubahan cepat (peningkatan dan pengurangan dramatis) di dalam tekanan pori air bisa berperan besar dalam melongsorkan lereng.
    • Interaksi air dengan permukaan batuan dan tanah (pelapukan kimia) pelanpelan  melemahkan materi lereng, dan mengurangi kekuatan gesernya. Interaksi ini mengurangi gaya penahan.

2.2.4 Gaya penahan

Gaya penahan yang utama adalah kekuatan materi geser, fungsi kohesi  (kemampuan partikel untuk tarik menarik) dan friksi internal (friksi antara butiranbutiran di dalam materi) yang melawan gaya penggerak.  Rasio antara gaya penahan dan gaya penggerak adalah faktor aman atau safety  factor (SF). Jika SF>1 maka lereng stabil. Jika tidak, maka lereng tidak stabil.  Biasanya SF dari 1.2-1.3 secara marjinal bisa diterima. Tergantung seberapa  penting lereng dan kemungkinan kerugian terkait dengan longsor, seharusnya SF nya selalu diusahakan lebih tinggi.

Singkatnya, stabilitas lereng adalah fungsi dari: jenis batuan/tanah dan kekuatannya,  geometri lereng (tinggi dan sudut), iklim, vegetasi dan waktu. Masing-masing  faktor kemungkinan memainkan peranan dalam mengendalikan gaya penggerak dan gaya penahan.

2.3 Jenis longsor pada lereng

Tergantung jenis gerakan dan sifat alami materi yang terlibat, maka akan
menyebabkan perbedaan jenis longsor. Tabel 1.

Pada batuan, biasanya runtuhan dan geseran translasional (terkait dengan satu atau lebih bidang yang lemah) akan terjadi. Karena tanah lebih homogen dan kekurangan bidang lemah yang tampak, pergeseran rational atau aliran akan terjadi.  Secara umum, longsor massal melibatkan lebih dari satu jenis gerakan, misalnya,  reruntuhan bagian atas dan arus bagian bawah, atau pergeseran tanah atas dan longsor batuan bawah.

2.4 Dampak manusia terhadap longsor

Tanah longsor adalah fenomena alam yang dikenal sebagai erosi geologis. Tanah  longsor atau kegagalan lereng terjadi baik ada orang disana atau tidak. Meskipun  demikian, penggunaan lahan oleh manusia memainkan peranan utama dalam proses  longsornya lereng. Kombinasi antara kekuatan alam yang tak bisa dikendalikan  (gempa bumi, hujan deras dsb.) dan pengubahan lahan oleh manusia (penggalian lereng, penggundulan hutan, urbanisasi dsb) dapat menciptakan bencana longsor.

2.5 Mitigasi Longsor

Mengurangi dampak longsor memerlukan tiga tahapan: identifikasi area yang  potensial terkena longsor; pencegahan longsor, dan tindakan yang benar sesudah  longsor. Pengertian mendalam tentang keadaan geologis sangatlah penting untuk memutuskan tindakan mitigasi.

2.5.1 Identifikasi

Teknisi terlatih mengenali lereng yang berpotensi longsor dengan mempelajari foto  udara untuk mengetahui tempat longsor sebelumnya atau tempat kegagalan lereng,  dan menyelidiki lereng-lereng yang potensial menjadi tidak stabil. Wilayah longsor  massal yang kemungkinan terjadi bisa dikenali dari lereng yang curam, bidang  perlapisan mengarah ke lantai lembah, topografi berbukit (tidak teratur, permukaan  yang lebih tinggi tertutup pohon-pohon muda), rembesan air, dan tempat dimana  tanah longsor pernah terjadi sebelumnya. Informasi ini digunakan untuk memetakan area yang rentan terhadap longsor.

2.5.2 Pencegahan

Pencegahan tanah longsor dan ketidakstabilan lereng lebih efektif biayanya  daripada perbaikan. Pencegahan meliputi pengendalian drainase, pengurangan sudut  lereng dan ketinggian, dan penanaman tumbuhan, tembok penahan, baut batuan  (rock bolt), atau shorcrete (beton yang di agregat dengan baik, dengan tambahan  campuran yang dipadatkan dengan cepat, dengan pemompaan yang kuat). Caracara  ini harus dengan benar dan tepat diterapkan dengan pertama-tama dipastikan  bahwa lereng stabil secara internal dan struktural. Hal ini memerlukan pengertian yang baik tentang keadaan geologis di tempat tersebut.

2.5.3 Perbaikan

Beberapa longsor bisa diperbaiki dengan membuat sistem drainase untuk  mengurangi tekanan air pada lereng, dan mencegah pergerakan lebih jauh. Masalah  kelabilan lereng ditepian jalan atau tempat-tempat penting memerlukan biaya yang  besar. Jika dilakukan tepat waktu dan secara tepat, drainase permukaan dan bawah  permukaan akan sangat efektif. Tetapi karena biasanya tindakan demikian diabaikan, perbaikan yang jauh lebih mahal dan berat jadi diperlukan.

Di Vietnam, perlindungan struktur yang kokoh (penguatan tepian dengan talud  beton atau batu, groins [pelindung pantai], dinding penahan, dsb.) umumnya  digunakan untuk stabilisasi lereng dan tepian sungai dan untuk mengendalikan erosi  tepian pantai. Namun demikian, walaupun telah digunakan selama beberapa dekade, lereng tetap saja longsor, erosi memburuk, dan biaya perawatan meningkat.

Jadi apa kelemahannya?
Dari sisi pandang ekonomi, pembuatan yang keras sangatlah mahal, dan anggaran  kota tidak pernah cukup. Analisis teknis dan lingkungan memunculkan hal-hal dibawah ini:

  • Penambangan batuan/beton terjadi di tempat lain benar-benar merusak lingkungan.
  • Struktur yang keras tidak menyerap arus/energi gelombang. Karena struktur yang keras tidak bisa mengikuti bentuk lokal yang ada maka menyebabkan tanjakan curam. Tanjakan curam menyebabkan tambahan goncangan, yang  menyebabkan erosi. Lebih-lebih, karena perangkatnya dilokalisasi, maka akan sering berakhir mendadak; tidak transit secara pelan dan bertahap ke tepian secara alami. Karena itu, mereka hanya memindah erosi ke tempat lain, ke arah berlawanan atau hilir, yang memperburuk bencana, bukan mengurangi bencana pada sungai secara menyeluruh. Contoh ini banyak terjadi di propinsi Vietnam Tengah.
  • Pembangunan yang keras dan struktural memasukkan banyak batu, pasir, semen ke dalam sistem sungai, mengganti dan membuang sejumlah besar tanah tepian  ke dalam sungai. Ketika sungai melumpur, pergerakannya berubah, dasar sungai naik, dan erosi tepian dan banjir meningkat. Masalah ini serius di Vietnam karena pekerja melempar sampah tanah langsung ke sungai ketika mereka  memperbaiki tepian. Seringkali mereka membuang batu langsung ke sungai untuk menstabilkan dasar tepian yang tidak stabil, atau meletakkan batuan ke dasar sungai, yang banyak mengurangi kedalaman arus (kanal). Ketika tanggul benar-benar gagal, sisa keranjang batu, dinding pelindung dsb tetap berserakan di air menyebabkan penumpukan di dasar sungai.
  • Struktur yang keras tidaklah alami dan tidak cocok dengan tanah lembut yang mampu mengikis atau terkikis. Ketika tanah terkonsolidasi dan/atau terkikis dan hanyut, ini mengurangi dan menggerogoti bagian atas yang keras. Contoh termasuk tepian kanan hilir Thach Nham Weir (propinsi Quang Ngai) yang retak dan runtuh. Insinyur yang menggantikan papan beton dengan talud batuan dengan atau tanpa bingkai beton menyebabkan erosi bawah permukaan takterpecahkan. Sepanjang tanggul laut Hai Hau, seluruh bagian talud batuan runtuh karena pondasi tanah bawahnya hanyut.
  • Struktur keras hanya mengurangi erosi secara sementara, tetapi tidak bisa membantu menstabilkan tepian ketika ada tanah longsor yang berat.
  • Beton atau dinding penahan dari batu mungkin merupakan cara teknik yang paling umum digunakan di Vietnam untuk menstabilkan lereng di pinggir jalan.   Sebagian besar dari dinding ini pasif; hanya menunggu lereng longsor. Ketika  lereng longsor, tembok juga longsor, seperti terlihat di banyak wilayah di  sepanjang Ho Chi Minh Highway. Gempa bumi juga telah menghancurkan struktur ini.

Meskipun struktur kaku seperti tanggul batu jelas jelas tidak sesuai untuk terapan  tertentu seperti stabilisasi bukit pasir, tetapi masih saja dibangun. Sebagaimana yang terlihat di jalan baru di Vietnam tengah.

2.6 Stabilisasi lereng Vegetatif

Vegetasi sudah digunakan sebagai alat bioteknologi alami untuk memperbaiki  tanah, mengendalikan erosi dan menstabilkan lereng selama berabad-abad, dan semakin popular penggunaanya di beberapa puluh tahun belakangan. Hal ini  dikarenakan sekarang lebih banyak informasi tentang vegetasi tersedia untuk para  insinyur, dan sebagian dikarenakan biayanya yang rendah dan efektifitas dari pendekatan teknik “lembut” yang ramah lingkungan tersebut.

Dengan dampak dari beberapa faktor disebutkan diatas, lereng akan menjadi tidak  stabil dikarenakan: 1. erosi permukaan atau “sheet erosion”; dan 2. kelemahan  struktur internal. Erosi permukaan ketika tidak dikendalikan sering menyebabkan  erosi anak sungai dan parit yang, seiring waktu, akan melabilkan lereng; lemahnya  struktur akan menyebabkan pergerakan massal atau longsoran. Karena erosi  permukaan dapat menyebabkan longsor, perlindungan terhadap permukaan lereng  harus sungguh dipertimbangkan sebagai penguatan struktur., tetapi cara ini sering  terlupakan. Melindungi permukaan lereng adalah pencegahan yang efektif,  ekonomis, dan penting. Pada banyak kasus, penerapan langkah pencegahan akan memastikan lereng tetap stabil, dan selalu lebih murah dari perbaikan.

Tutup perlindungan vegetatif yang disediakan oleh penyemaian rumput, pembibitan  hidro atau hydro-mulching biasanya cukup efektif melawan erosi permukaan dan  erosi dari arus kecil, dan tumbuhan berakar dalam seperti pohon dan semak dapat  menguatkan struktur tanah. Tetapi, pada lereng baru, lapisan permukaan sering  tidak terkonsolidasi dengan baik, jadi bahkan lereng yang ditanami vegetatif dengan  benar tetap tidak bisa mencegah erosi anak sungai dan parit. Pohon berakar dalam  tumbuh perlahan dan seringkali sulit ditanam pada tanah yang tidak ramah. Dalam  hal ini, para insinyur menyesalkan ketidakefisienan dari tutup vegetatif dan  membangun perbaikan struktural langsung setelah konstruksi. Pendeknya,  perlindungan permukaan lereng dengan rumput lokal dan pohon tidak dapat, pada banyak kasus, menjamin kestabilan yang diperlukan.

2.6.1 Pro, kontra dan keterbatasan penanam vegetasi pada lereng

2.6.2 Stabilisasi lereng secara vegetatif di Vietnam

Dalam skala kecil, yang lebih lembut, solusi vegetatif telah digunakan di Vietnam.  Metode bio-teknologi yang paling populer untuk mengendalikan erosi tepian sungai  mungkin adalah penanaman bambu (yang merupakan cara terburuk karena ketika  rumpun tersapu banjir dan masuk ke sungai, bambu tersebut bisa menyeret  jembatan atau apapun yeng tersangkut. Bambu berkekuatan tarik tinggi jadi tidak  pecah) Untuk mengendalikan erosi tepian laut, bakau, cemara, nanas liar, dan palem  nipah juga digunakan. Sayangnya tanaman tersebut memiliki kelemahan, contohnya:

  • Karena berumpun, bambu yang berakar pendek tidak serapat tanaman pagar,  karenanya air banjir terkonsentrasi pada celah akar yang meningkatkan daya rusaknya dan menyebabkan lebih banyak erosi.
  • Bambu itu berat diatas. Sistem perakarannya yang pendek (1-1.5 meter) tidak sebanding dengan tinggi, dan berat kanopinya. Sehingga, rumpun bambu   menambah tekanan pada tepian sungai, dan tidak menambah kestabilan.
  • Seringkali sistem akar rumpun bambu melabilkan tanah dibawahnya, memicu  erosi dan memperluas area longsor. Beberapa wilayah di propinsi Vietnam  tengah menunjukkan longsor tepian sesudah penanaman  bambu secara meluas.
  • Pohon bakau, dimana mereka tumbuh, membentuk penahan yang kuat untuk  mengurangi kekuatan ombak, jadi mampu mengurangi erosi tepian laut. Tetapi  penanaman bakau sulit dan lamban karena tikus suka memakan bibitnya.  Biasanya dari ratusan hektar yang ditanam, hanya sedikit bertahan dan menjadi hutan. Sudah ada laporan demikian di propinsi Ha Tinh.
  • Pohon cemara telah ditanam di ribuan hektar bukit pasir di Vietnam Tengah. Nanas liar juga telah ditanam di sepanjang tepian sungai, arus air, dan kanal, serta sepanjang garis kontur lereng bukit pasir. Meskipun mereka mengurangi kekuatan angin dan mengurangi badai pasir, tanaman tersebut tidak dapat  menahan arus pasir karena sistem akarnya yang pendek dan tidak membentuk  tanaman pagar yang rapat. Meskipun penanaman cemara dan nanas liar pada  pematang pasir sepanjang arus kanal di propinsi Quang Binh, pasir tetap saja  menyerang tanah subur. Lebih lebih, kedua tanaman sensitif terhadap iklim;  pembibitan cemara sulit bertahan melawan musim dingin yang ekstrim dan sporadis (dibawah -15oC/5F), dan nanas liar tidak bisa bertahan melawan musim panas Vietnam Utara yang sangat panas.

Untungnya, Vetiver tumbuh secara cepat, tahan terhadap lingkungan yang tidak  ramah, dan sistem akarnya sangat dalam dan banyak menyediakan kekuatan  struktural dalam waktu cukup singkat. Karenanya, Vetiver bisa jadi pilihan yang  sesuai untuk vegetasi tradisional, ketika teknik berikut ini dipelajari dan diikuti dengan cermat.

3. STABILISASI LERENG DENGAN SISTEM VETIVER

3.1 Karakteristik Vetiver sesuai untuk stabilisasi lereng

Atribut Vetiver yang unik telah diteliti, diuji, dan dikembangkan di daerah tropis, karenanya dapat dipastikan Vetiver sangat efektif sebagai alat bio-teknologi.

  • Meskipun secara teknis Vetiver adalah rumput, namun Vetiver digunakan dalam aplikasi menstabilkan lahan lebih baik daripada pohon atau semak . Karena Akar Vetiver, per unit area, lebih dalam dan kuat dibanding akar pohon.
  • Sistem akar Vetiver yang sangat dalam dan terstruktur dengan baik dapat mencapai sampai dua atau tiga meter (enam sampai sembilan kaki) di tahun pertama. Pada lereng timbunan tanah, banyak percobaan menunjukkan rumput
    ini dapat mencapai 3.6 meter (12 kaki) dalam 12 bulan. (harap dicatat bahwa Vetiver tidak menembus dalam sampai ke dalam permukaan air bawah tanah. Karenanya di area dengan level air tanah yang tinggi, sistem akarnya tidak akan
    sepanjang di tanah kering). Sistem akar Vetiver yang ekstensif dan tebal mengikat tanah sehingga sulit untuk tersapu, dan Vetiver sangat toleran terhadap kekeringan.
  • Sekuat atau lebih kuat dari spesies kayu keras, akar Vetiver memiliki daya tarik yang sangat tinggi yang terbukti positif untuk penguatan lereng curam.
  • Akar Vetiver memiliki daya tarik rata-rata sekitar 75 Mega Pascal (MPa), yang sejajar dengan 1/6 dari kekuatan baja ringan dan peningkatan kekuatan geser sebanyak 39% pada kedalaman 0.5 meter (1.5 kaki)
  • Akar Vetiver dapat menembus tanah padat seperti tanah padas keras dan tanah lempung gumpal yang umumnya ada di tanah tropis, yang menyediakan penahan yang baik untuk tanah timbunan dan permukaan.
  • Ketika ditanam merapat, tumbuhan Vetiver membentuk pagar padat yang mengurangi kecepatan arus, mengalihkan limpasan air, menciptakan penyaring yang sangat efektif yang mengendalikan erosi. Tanaman pagar mengurangi arus
    dan menyebarkannya, memberi waktu bagi air untuk meresap ke dalam tanah.
  • Sebagai penyaring yang sangat efektif, pagar Vetiver membantu mengurangi kekeruhan akibat limpasan air. Karena akar baru berkembang dari tunas yang terkubur oleh sedimen yang terperangkap, Vetiver akan terus tumbuh ketika level tanah naik. Teras akan terbentuk pada tanah tanaman pagar, dan sediman sebaiknya tidak dipindahkan. Sedimen yang subur biasanya berisi bibit tanaman lokal yang membantu pertumbuhannya kembali.
  • Vetiver toleran terhadap iklim ekstrim dan lingkungan yang beragam, termasuk kekeringan berkepanjangan, banjir dan perendaman, dan suhu yang ekstrim dari -14oC sampai 55oC (7o F sampai 131oF) (Truong et al, 1996)
  • Rumput ini tumbuh lagi dengan cepat sesudah kekeringan, beku, asin dan keadaan tanah lain yang berbeda ketika suhu-suhu ekstrim tadi berlalu.
  • Vetiver menunjukkan toleransi tinggi terhadap keasaman tanah, salinitas, sodisitas dan kondisi asam sulfat (Le van Du and Truong, 2003).

Vetiver sangat efektif ketika ditanam berdekatan pada baris di kontur lereng. Garis  kontur Vetiver dapat menstabilkan lereng alami, potongan lereng dan tanggul isian.  Sistem akarnya yang kaku dan dalam membantu menstabilkan struktur lereng  sementara tunas-tunasnya memencarkan limpasan, mengurangi erosi, dan menjebak sedimen agar spesies lokal tumbuh. Foto 1

Hengchaovanich (1998) juga mengamati bahwa Vetiver dapat tumbuh secara  vertikal pada lereng yang lebih curam dari 150% (~56o). Pertumbuhannya yang  cepat dan penguatannya yang luar biasa menjadikannya tumbuhan yang bagus  untuk stabilisasi lereng dibanding tumbuhan lain. Ciri kecil lain yang  membedakannya dari tumbuhan akar lainnya adalah kemampuannya menembus  tanah. Kekuatannya mampu menembus tanah yang sulit, lapisan keras tanah, dan  permukaan berbatu dengan titik-titik lemah. Bahkan Vetiver mampu menembus  aspal jalan. Penulis yang sama menyebutkan akar Vetiver sebagai paku tanah hidup  atau pasak 2-3m (6-9 kaki) yang umumnya digunakan sebagai “pendekatan keras”  untuk stabilisasi lereng. Dikombinasikan dengan kemampuannya tumbuh cepat di  kondisi tanah yang sulit membuat Vetiver lebih cocok untuk stabilisasi lereng dibanding tanaman lain.

3.2 Karakteristik khusus Vetiver sesuai untuk mitigasi bencana air

Untuk mengurangi dampak bencana air seperti banjir, erosi tepian sungai dan  pantai, kelabilan dam dan tanggul, Vetiver ditanam pada baris paralel atau melintangi arus air atau arah ombak. Karakteristik unik lain yang sangat  bermanfaat:

  • Dengan kedalaman dan kekuatan akarnya, Vetiver dewasa sangat tahan terhadap pengikisan dari arus deras. Vetiver yang ditanam di Queensland utara (Australia) tahan terhadap arus lebih cepat dari 3.5m/detik (10’/detik) di sungai dalam situasi banjir dan, di Queensland selatan, sampai 5m/detik (15’/detik) di drainase dalam keadaan banjir.
  • Pada arus lambat ataupun dangkal, batang Vetiver yang tegak dan kaku berguna sebagai penahan yang mengurangi kecepatan arus (yaitu meningkatkan ketahanan hidrolik) dan menjebak sedimen yang terkikis. Vetiver juga mampu bertahan di arus sedalam 0.6-0.8m (24-31”).
  • Daun Vetiver akan merunduk pada arus yang dalam dan kuat, memberikan perlindungan lebih terhadap permukaan tanah sambil mengurangi kecepatan arus.
  • Ketika ditanam di bangunan dinding penahan air seperti dam atau tanggul,  tanaman pagar Vetiver membantu mengurangi arus, mengurangi ombak tinggi  (erosi permukaan), pembludakan, dan tentunya volume air yang mengalir  kedalam area yang dilindungi oleh bangunan. Tanaman pagar Vetiver juga  membantu mengurangi erosi retrogesif yang sering terjadi ketika arus air atau ombak meredam setelah naik melebihi level struktur penahan air.
  • Sebagai tanaman lahan basah, Vetiver tahan hidup jika terendam dalam waktu  lama. Peneliti Cina menunjukkan bahwa Vetiver mampu bertahan lebih dari dua bulan di dalam air jernih.

3.3 Kekuatan tarik dan geser dari akar Vetiver

Hengchaovanich dan Nilaweera (1996) menunjukkan bahwa gaya tarik akar Vetiver  meningkat seiring berkurangnya diameter akar, menunjukkan akar yang lebih kuat  dan baik lebih tahan dibanding akar yang rimbun. Kekuatan tarik akar Vetiver  bervariasi antara 40-1880 Mpa pada akar dengan diameter antara 0.2-2.2 mm (.008- .08”). Kekuatan tarik rata-rata sekitar 75 MPa pada diameter akar 0.7-0.8 mm  (.03”), yang merupakan ukuran umum akar Vetiver, setara dengan sekitar satu per  enam kekuatan baja ringan. Karenanya, akar Vetiver sama kuatnya atau bahkan  lebih kuat dibanding spesies kayu keras yang telah terbukti efektif untuk penguat lereng. Gambar 2 dan table 4.

Pada tes geser blok tanah, Hengchaovanich and Nilaweera (1996) juga menemukan  bahwa penetrasi akar Vetiver yang berusia 2 tahun ditanam dengan jarak 15cm (6”)  dapat meningkatkan kekuatan geser tanah, pada penanaman yang sejajar dengan  jarak 50 cm (20“) sebanyak 90% pada kedalaman 0,25 m (10”). Kenaikannya 35%  pada kedalaman 0,50m (1.5’) dan pelan-pelan menurun sampai 12.5% pada  kedalaman satu meter (3’). Lebih-lebih akar Vetiver yang lebat dan lebar  menawarkan kenaikan kekuatan geser yang lebih baik per konsentrasi serat per unit  (6-10 kPa/kg akar per meter kubik tanah) dibanding 3.2-3.7 kPa/kg untuk akar  pohon (Gambar 3). Penulis menjelaskan bahwa ketika akar tanaman menembus  melewati permukaan geser pada profil tanah, pembelokan zona geser menimbulkan  ketegangan di akar; komponen ketegangan ini menyinggung zona geser yang secara  langsung menahan geseran, sementara komponen yang normal meningkatkan tekanan yang mengurung bidang geser.

Cheng et al (2003) melengkapi penelitian kekuatan akar Diti Hengchaovanich  dengan melakukan uji coba pada rumput lain. Tabel 5. Meski Vetiver memiliki akar  terbaik kedua, kekuatan gesernya tiga kali lebih tinggi dibanding tumbuhan lain yang diteliti.

3.4 Karakteristik hidrolis

Ketika ditanam berbaris, tanaman Vetiver membentuk pagar tebal; batangnya yang  kaku memungkinkan pagar semak ini berdiri setidaknya 0.6-0.8m (2-2.6’),  membentuk dinding hidup untuk memperlambat dan menyebarkan limpasan air.  Jika ditanam dengan benar, pagar ini merupakan struktur yang sangat efektif yang menyebar dan mengalihkan limpasan air ke area yang stabil atau got pembuangan.

Uji coba saluran air dilakukan di University of Southern Queensland untuk  mempelajari desain dan penggabungan pagar Vetiver kedalam rancang penanaman  jalur untuk mitigasi banjir membuktikan adanya karakteristik hidrolis Vetiver  dibawah arus dalam. Gambar 4. Tanaman pagar dengan baik mengurangi arus  banjir dan gerakan tanah yang terbatas; strip yang kosong mengalami sangat sedikit erosi, dan sorgum muda benar-benar terlindungi dari kerusakan banjir ((Dalton etal, 1996).

3.5 Tekanan pori air

Vegetasi pada lereng meningkatkan perembesan air. Telah dikawatirkan bahwa  kelebihan air akan meningkatkan tekanan pori air di tanah dan menyebabkan  ketidakstabilan lereng. Tetapi, pengamatan di lapangan sebenarnya menunjukkan  perbaikan. Pertama, ditanam di garis kontur atau garis yang dimodifikasi yang  menangkap dan menyebarkan limpasan air pada lereng, sistem akar Vetiver yang  ekstensif dan menyebar mendistribusikan kelebihan air lebih rata dan bertahap serta membantu mencegah pengumpulan air di satu tempat.

Kedua, peningkatan perembesan yang mungkin terjadi diimbangi dengan penipisan  air tanah yang bertahap dan lebih tinggi yang dilakukan oleh rumput. Penelitian  pada kompetisi kelembaban tanah pada tanaman di Australia (Dalton et al, 1996)  menunjukkan bahwa, pada keadaan curah hujan rendah, pengurangan air tersebut  akan mengurangi kelembaban tanah sampai 1.5m (4.5’) pada tanaman pagar. Hal  ini akan meningkatkan rembesan air di zona tersebut, menyebabkan pengurangan  limpasan air dan tingkat erosi. Dari sudut pandang geoteknik, keadaan ini  membantu mempertahankan kestabilan lereng. Pada lereng dengan kecuraman (30- 60o), jarak antar baris pada 1m (3’) VI (Vertical Interval) sangatlah dekat.  Karenanya, berkurangnya kelembapan akan lebih meningkatkan proses stabilisasi  lereng. Meski demikian, untuk mengurangi dampak yang bisa merusak ini, sebagai  tindakan pencegahan, pagar Vetiver dapat ditanam pada kecuraman 0.5%  sebagaimana di kontur terasering untuk menyalurkan sisa air kedalam drainase (Hengchaovanich, 1998).

3.6 Penerapan VS dalam mitigasi bencana alam dan perlindungan infrastruktur

Karena karakteristiknya yang unik Vetiver umumnya berguna dalam  mengendalikan erosi pada lereng akibat kerukan maupun urukan dan pada lereng  yang terkait dengan konstruksi jalan, dan khususnya efektif untuk tanah yang  mudah terkikis dan rapuh, seperti tanah sodik, berasam, dan mengandung asam sulfat.,

Penanaman Vetiver telah sangat efektif untuk pengendalian erosi atau stabilisasi dibawah ini:

  • Stabilisasi lereng sepanjang jalan raya dan rel kereta api. Sangat efektif di  sepanjang jalan pedesaan di pegunungan, dimana masyarakat mengalami  kekurangan dana untuk stabilisasi lereng dan di tempat dimana konstruksi jalan sering diperlukan.
  • Stabilisasi tanggul dan dinding/tembok bendungan, pengurangan erosi kanal,  erosi tepian sungai dan pantai, dan perlindungan struktur keras (seperti talud batuan, dinding penahan beton, bronjong dsb.)
  • Lereng diatas katub dan outlet gorong gorong (gorong-gorong, penopang)
  • Pemisah antara struktur semen dan batuan dan permukaan tanah yang mudah terkikis.
  • Sebagai penyaring untuk memerangkap sedimen pada katup gorong-gorong
  • Untuk mengurangi energi pada outlet gorong gorong.
  • Untuk menstabilkan erosi bagian atas parit, ketika pagar Vetiver ditanam di garis kontur diatas parit.
  • Untuk menghilangkan erosi yang disebabkan oleh ombak, dengan menanam  beberapa baris Vetiver pada batas atas air pasang di tembok penahan dam pertanian yang besar atau di tepian sungai
  • Pada penanaman hutan, Vetiver digunakan untuk menstabilkan bahu jalan pada lereng curam dan parit (jalur penebangan) yang dibuat untuk panen berikutnya.

Karena karakteristiknya yang unik, Vetiver dengan efektif mengendalikan bencana  air seperti banjir, erosi tepian pantai dan sungai, erosi dam dan tanggul/pematang,  dan ketidakstabilan lain. Juga melindungi jembatan, penopang gorong-gorong dan  penghubung antara beton/struktur batuan dan tanah. Vetiver khususnya efektif di  wilayah dimana tanah timbunan tanggul mudah terkikis dan tidak padat, seperti tanah sodik, alkalin, dan asam (termasuk asam sulfat).

3.7 Kelebihan dan kekurangan Sistem Vetiver

Kelebihan:

  • Kelebihan utama VS dibanding tindakan teknik lain adalah biayanya yang  murah dan umurnya yang panjang. Untuk stabilisasi lereng di Cina, contohnya,  penghematan mencapai 85-90% (Xie, 1997 dan Xia et al, 1999). Di Australia,  biaya yang dihemat dengan VS dibanding metode teknis lain berkisar antara  64% sampai 72%, tergantung metode yang digunakan (Braken and Truong  2001). Singkatnya, biaya maksimumnya hanya 30% dari biaya tindakan  tradisional. Selain itu biaya pemeliharaan tahunan berkurang secara signifikan ketika tanaman pagar Vetiver telah tumbuh.
  • Dibandingkan bio-teknologi yang lain, VS selain alami juga merupakan cara  yang ramah lingkungan untuk mengendalikan erosi dan menstabilisasikan lahan  yang ‘melembutkan’ tindakan teknis konvensional yang keras seperti beton dan  struktur batu. Hal ini utamanya penting di daerah urban dan wilayah semipedalaman  dimana orang-orang lokal tidak menyukai pembangunan prasarana  “keras”
  • Biaya perawatan jangka panjangnya rendah. Tidak seperti struktur teknik  kovensional, teknologi hijau jadi lebih baik ketika vegetatif penutup tumbuh.  VS memerlukan rencana perawatan yang matang pada saat dua tahun pertama;  tetapi ketika sudah tumbuh, pada hakekatnya sudah tidak diperlukan perawatan.  Karenanya, penggunaan Vetiver khususnya sesuai untuk area terpencil dimana biaya perawatan mahal dan sulit.
  • Vetiver sangat efektif pada tanah yang tidak subur dan mudah terkena erosi serta di tanah yang tidak padat.
  • VS khususnya sesuai untuk daerah dengan biaya pekerja yang murah.
  • Pagar Vetiver adalah alami dan merupakan bio teknologi yang lembut, alternatif yang ramah lingkungan dibanding struktur yang kasar atau keras.

Kekurangan:

  • Kekurangan utama VS adalah ketidaktoleranan Vetiver terhadap peneduh, khususnya pada saat pertumbuhan. Peneduhan sebagian memperlambat pertumbuhannya; peneduhan yang banyak bisa membunuhnya dalam jangka panjang dengan mengurangi kemampuannya untuk bersaing dengan spesies yang toleran terhadap keteduhan. Tetapi kelemahan ini bisa jadi menguntungkan dalam keadaan dimana stabilisasi awal memerlukan tanaman pelopor untuk meningkatkan kemampuan mikro-lingkungan untuk menjadi
    tempat spesies endemik asli baik yang direncanakan maupun yang tumbuh sendiri.
  • Sistem Vetiver hanya efektif ketika tanaman benar-benar telah tumbuh.  Penanaman yang efektif memerlukan periode pertumbuhan awal selama 2-3  bulan di cuaca hangat dan 4-6 bulan di cuaca lebih sejuk. Kelambatan tersebut bisa diantisipasi dengan menanam lebih awal, dan di musim kering.
  • Pagar Vetiver sepenuhnya efektif hanya ketika tanaman membentuk pagar rapat. Celah yang ada antar rumpun harus ditanami ulang pada saat yang tepat.
  • Sulit untuk mengairi tanaman di lereng yang tinggi atau curam.
  • Vetiver memerlukan perlindungan dari ternak selama masa awal pertumbuhan.

Dengan alasan-alasan tersebut, kelebihan penggunaan VS sebagai alat bio-teknologi  lebih besar daripada kekurangannya, khususnya ketika Vetiver digunakan sebagai spesies pelopor.

Bukti-bukti di dunia mendukung penggunaan VS untuk menstabilkan tanggul.  Vetiver telah dengan sukses menstabilkan sisi jalan, diantaranya, di Australia  Brazil, America Tengah, Cina, Etiopia, Fiji, India, Italia, Madagascar, Malaysia,  Filipina, Afrika Selatan, Sri Lanka, Venezuela, Vietnam, dan West Indies.  Diterapkan sesuai dengan terapan geoteknologi, Vetiver telah digunakan untuk menstabilkan tanggul di Nepal dan Afrika Selatan.

Kombinasi dengan jenis perbaikan lain

Vetiver efektif baik ditanam sendiri atau digabung dengan metode tradisional.  Misalnya, pada bagian tertentu tepian sungai atau tanggul, batu atau talud beton  dapat menguatkan bagian bawah air dan Vetiver menguatkan bagian atas.  Penerapan tandem ini menciptakan stabilitas dan keamanan (yang tidak selalu benar  ataupun diperlukan). Vetiver juga dapat ditanam dengan bambu, tumbuhan yang  biasanya dipakai untuk melindungi tepian sungai. Pengalaman menunjukkan bahwa  menggunakan bambu saja memiliki kelemahan yang bisa diatasi dengan  menambahkan Vetiver. Seperti yang disebutkan sebelumnya, bambu yang tersapu  air dapat menciptakan masalah serius di sungai yang jembatan-jembatan penyeberangannya rendah.

3.8 Modelling dengan komputer

Software yang dikembangkan oleh Prati Amati, Srl (2006) bekerjasama dengan  University of Milan menunjukkan persentasi atau jumlah kekuatan geser yang akar  Vetiver tambahkan pada beragam tanah dibawah tanaman pagar Vetiver. Software  ini membantu mengakses kontribusi Vetiver untuk menstabilkan lereng yang  curam, khususnya tanah tanggul. Pada kondisi tanah dan lereng yang biasa, instalasi Vetiver akan meningkatkan stabilitas lereng sekitar 40%

Penggunaan software memerlukan operator untuk memasukkan parameter geoteknologi terkait dengan lereng tertentu berikut ini:

  • Jenis tanah
  • Kemiringan lereng
  • Kelembapan maksimum
  • Kohesi tanah minimum

Program ini memerlukan beberapa tumbuhan per meter persegi dan jarak tanam antar baris, dan mempertimbangkan kemiringan lereng. Misalnya:

  • Lereng 30° memerlukan 6 tanaman per meter persegi (yaitu 7-10 tanaman per meter lurus) dan jarak antar baris sekitar 1,7 m (5.7’).
  • Lereng 45° memerlukan 10 tanaman per meter persegi (yaitu 7-10 tanaman per meter lurus) dan jarak antar baris sekitar 1 m (3’).

4. RANCANGAN DAN TEKNIK YANG SESUAI

4.1 Pencegahan

VS adalah teknologi baru. Sebagai teknologi baru, dasar-dasarnya harus dipelajari  dan diterapkan dengan benar untuk mendapakan hasil terbaik. Kegagalan dalam  menerapkan prinsip-prinsip dasarnya akan membuahkan hasil mengecewakan, atau  lebih buruk, hasil yang buruk. Sebagai teknik konservasi tanah, dan yang terbaru,  sebagai alat bioteknologi, penerapan VS yang efektif memerlukan pengetahuan  tentang biologi, ilmu tanah, hidrolik, dan dasar-dasar geoteknologi. Karenanya,  untuk proyek skala menengah sampai besar yang melibatkan rancangan teknik dan  konstruksi yang signifikan, VS harus di implementasikan oleh spesialis  berpengalaman, bukan masarakat lokal. Tetapi, pendekatan partisipatif dan  manajemen berdasarkan komunitas (lokal) juga sangat penting. Karenanya,  teknologinya sebaiknya dirancang dan di implementasikan oleh tenaga ahli di  bidang terapan Vetiver, terkait dengan agronomis dan teknik geoteknologi, dengan bantuan petani lokal.

Selain sebagai rumput, Vetiver lebih bersifat seperti pohon, karena sistem akarnya  yang dalam dan besar. Yang lebih “membingungkan” lagi, VS dapat menggunakan  berbagai karakteristiknya untuk penerapan yang berbeda-beda. Contohnya, akarnya  yang dalam menstabilkan tanah, daunnya yang tebal menyebarkan air dan  memerangkap sedimen, toleransinya yang mengagumkan terhadap kondisi tidak ramah membuat Vetiver mampu merehabilitasi tanah dan kontaminasi air.

Kegagalan VS, dalam banyak hal, disebabkan buruknya penerapan bukan buruknya  rumput tersebut atau teknologinya. Contohnya, pada satu kasus, Vetiver digunakan  di Filipina untuk menstabilkan lereng di pinggir jalan raya baru. Hasilnya sangat  mengecewakan dan gagal. Pada akhirnya diketahui bahwa insinyur yang menangani  VS, kebun bibit yang mensuplai material tanaman, dan pengawas lapangan serta  pekerja yang menanam Vetiver kurang berpengalaman dan kurang pelatihan tentang penggunaan VS untuk stabilisasi lereng curam.

Pengalaman di Vietnam menunjukkan bahwa Vetiver telah dengan sangat berhasil  digunakan ketika diterapkan dengan benar. Tidaklah mengejutkan jika penerapan  yang tidak sesuai menyebabkan kegagalan. Penerapan di Central Highlands di  Vietnam menunjukkan bahwa Vetiver telah dengan efektif melindungi tanggul  jalan. Tetapi, ada juga kegagalan yang terjadi pada penerapan besar-besaran pada  lereng curam dan sangat tinggi tanpa teras di sepanjang jalan raya Ho Chi Minh.  Singkatnya, untuk memastikan VS berhasil, pembuat keputusan, perancang dan insinyur yang merencanakan penggunaan VS untuk perlindungan prasaranasebaiknya mengambil langkah-langkah pencegahan berikut:

Pencegahan teknis:

  • Agar berhasil, rancangan sebaiknya di cek dan diciptakan oleh orang orang terlatih.
  • Setidaknya beberapa bulan pertama ketika tanaman mulai tumbuh, tempat  penanaman harus benar-benar stabil. Vetiver menunjukkan keberhasilan fungsinya ketika dewasa, dan lereng bisa jadi longsor pada masa sebelum itu.
  • VS hanya bisa diterapkan untuk lereng tanah dengan kecuraman tidak melebihi 45-50°.
  • Vetiver tidak bertumbuh baik pada keteduhan, jadi jangan ditanam dibawah jembatan atau peneduh lain.

Pencegahan untuk pengambilan keputusan, perencanaan dan pengorganisasian:

  • Waktu: penanaman harus mempertimbangkan musim dan lama waktu yang diperlukan untuk penanaman.
  • Pemeliharaan dan perbaikan: pada tahap awal, ada periode dimana Vetiver  belum efektif. Perencanaan dan penganggaran harus mempertimbangkan penggantian untuk beberapa hal.
  • Pembelian: Semua input sebaiknya diambil dari penduduk lokal (tenaga kerja,  pupuk kandang, material penanaman, kontrak perlengkapan). Pemberian  lapangan kerja menyediakan insentif bagi penduduk lokal untuk melindungi  tanaman selama masa-masa awal dan masa pertumbuhannya, dan untuk mempertahankan kualitas dan keberlanjutan.
  • Keterlibatan masyarakat: Sebanyak mungkin, masyarakat lokal harus dilibatkan  dalam perancangan, pembelian material, dan tahap pemeliharaan. Kontrak  dengan masyarakat lokal harus disiapkan mencakup pembibitan, perincian kualitas dan kuantitas, dan pemeliharaan/perlindungan.
  • Timing: Pembuat keputusan harus siap berinovasi dan mempertimbangkan VS  dalam perencanaan dan penganggaran mereka. Untuk itu, mereka memerlukan  insentif untuk memasukkan metode yang murah dalam perencanaan,  sebagaimana mereka memiliki insentif, dapat dibenarkan ataupun tidak, untuk mengadopsi metode konvensional yang lebih mahal.
  • Integrasi: Pembuat keputusan sebaiknya merekomendasikan VS sebagai bagian  dari pendekatan komprehensif terhadap perlindungan prasarana, diterapkan  pada skala yang cukup besar untuk memastikan peningkatan keahlian dan hasil  secara nyata dan merata. VS tidak seharusnya dianggap hanya sebagai langkah  kompromi untuk penduduk lokal, meskipun Vetiver mampu menyediakan hasil yang tepat dan cepat.

4.2 Waktu penanaman

Waktu penanaman Vetiver sangat mempengaruhi keberhasilan dan biaya.  Penanaman pada musim kering mengharuskan pengairan yang banyak dan mahal.  Pengalaman di Central Vietnam menunjukkan bahwa pengairan tiap hari atau dua  kali sehari diperlukan untuk menumbuhkan Vetiver di kondisi yang keras di bukit  pasir. Tidak adanya pengairan menghambat pertumbuhan. Karena sulit untuk  menemukan waktu yang tepat untuk penanaman besar-besaran pada lereng buatan  sepanjang jalan raya Ho Chi Minh, misalnya, pengairan mekanik diperlukan setiap hari pada beberapa bulan pertama.

Vetiver umumnya memerlukan 3-4 bulan untuk bertumbuh, terkadang sampai 5-6  bulan pada kondisi yang buruk. Karena Vetiver baru benar-benar efektif di usia 9- 10 bulan, penanaman massal sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan (yaitu  pengembangan bibit dan produksi material tanaman sebaiknya dirancang menyesuaikan dengan jadwal penanaman massal).

Khususnya di Vietnam Utara, dimungkinkan menanam pada periode musim dinginmusim  semi. Ketika suhu lebih rendah dari -10oC (50oF) di Vietnam Utara,  rumputnya tidak tumbuh. Tetapi, Vetiver bisa bertahan di cuaca dingin dan tumbuh kembali segera ketika hujan musim dingin mulai terjadi dan cuaca menghangat.

Di Vietnam tengah, dimana suhu udara biasanya diatas 15oC (59 oF), penanaman  massal terjadi di awal musim semi. Pembibitan akan memerlukan perawatan lebih untuk memastikan pertumbuhan yang bagus dan penggandaan slip.

4.3 Pembibitan/Kebun bibit

Suksesnya sebuah proyek tergantung dari jumlah yang cukup dan kualitas bibit  Vetiver. Rincian tentang pembibitan dan pengembangbiakan rumput ini dibahas di  Bagian 2. Umumnya tidak diperlukan kebun bibit yang besar untuk menyediakan  material tanaman yang cukup. Petani bisa mendirikan kebun bibit kecil (masing  masing beberapa ratus meter persegi). Mereka dikontrak dan dibayar sesuai dengan jumlah slip (anakan) yang mereka mampu sediakan berdasar permintaan.

4.4 Persiapan penanaman Vetiver

Pada kasus dimana penanaman melibatkan penduduk lokal, kampanye yang efektif melibatkan langkah-langkah sebagai berikut:

  • Langkah 1: Para ahli mengunjungi lokasi tanam, dan mengadakan survei untuk
    identifikasi masalah dan merancang penerapan teknologi.
  • Langkah 2: Membahas masalah dan solusi alternatif dengan penduduk lokal.
  • Langkah 3: Menggunakan workshop dan pelatihan untuk mengenalkan teknologi baru
  • Langkah 4: Mengadakan percobaan, dengan mendirikan kebun bibit, mengkontrak untuk membeli material tanaman, pemeliharaan dsb.
  • Langkah 5: Mengawasi penerapan.
  • Langkah 6:Membahas hasil proyek contoh, mengikuti workshop, saling mengunjungi ladang dsb.
  • Langkah 7: Mengorganisir penanaman massal.

Dalam kasus dimana perusahaan tertentu menjalankan proses penanaman, langkah  1,4,5 sebaiknya dilakukan (oleh perusahaan tersebut). Tetapi, partisipasi lokal  masih disarankan untuk memunculkan kesadaran, menghindari perusakan, dan memastikan slip terlindungi dari binatang.

4.5 Spesifikasi rancangan

4.5.1 Lereng alami ‘dataran tinggi’, lereng akibat tanah dikeruk, lereng penahan jalan dsb.

Untuk menstabilkan lereng alami dataran tinggi, lereng akibat tanah dikeruk, dan
lereng penahan jalan, rincian berikut ini dapat diterapkan:

  • Lereng tepian tidak melebihi 1 (H) [horisontal]:1 (V) [vertikal] atau 45º,  kemiringan 1,5:1. Kemiringan yang lebih rendah dianjurkan jika  memungkinkan, khususnya pada tanah yang mudah terkikis dan/atau di area dengan curah hujan tinggi.
  • Vetiver seharusnya ditanam melintangi lereng pada garis kontur dengan  Interval Vertikal (VI) antara 1,0-2,0m (3-6’) terpisah, diukur sepanjang lereng. Jarak 1.0m (3’) sebaiknya digunakan pada tanah yang sangat mudah terkikis, yang dapat meningkat sampai 1.5-2.0m (4.5-6’) pada tanah yang lebih stabil.
  • Baris pertama seharusnya ditanam pada tepian atas dari tembok penahan. Baris  ini seharusnya ditanam pada semua tembok penahan yang lebih tinggi dari 1,5m (4,5’).
  • Baris paling bawah sebaiknya ditanam di dasar tembok penahan di kaki lereng dan pada lereng kerukan sepanjang tepi permukaan saluran air.
  • Diantara baris-baris ini, Vetiver seharusnya ditanam seperti rincian diatas.
  • Benching atau terasering selebar 1-3 m (3-9’) untuk setiap 5-8m (15-24’) VI dianjurkan untuk lereng yang lebih tinggi dari 10 m (30’).

4.5.2 Tepian sungai, erosi tepi pantai, dan bangunan penahan air yang tidak stabil

Untuk mitigasi banjir dan perlindungan tepi pantai, tepian sungai dan tanggul, rincian rancangan berikut ini dapat digunakan:

  • Maksimum lereng tepian tidak boleh melebihi 1.5(H):1(V). Lereng tepian yang  dianjurkan adalah 2,5:1. Catatan: sistem tanggul laut di Hai Hau (Nam Dinh) dibangun dengan lereng tepian 3:1 sampai 4:1
  • Vetiver sebaiknya ditanam di dua arah:
    • Untuk stabilisasi tepian, Vetiver sebaiknya ditanam dengan baris paralel  dengan arah arus air (horisontal), dengan garis kontur berjarak sekitar 0.8- 1.0m (2.5-3’) terpisah (diukur sepanjang lereng). Rincian rancangan terbaru  untuk melindungi sistem tanggul laut di Hai Hau (Nam Dinh) termasuk jarak antara baris diturunkan menjadi 0.25 m. (.8’).
    • Untuk mengurangi kecepatan aliran, Vetiver seharusnya ditanam di baris  normal (sudut kanan) mengalir pada jarak antar baris 2,0m (6’) untuk tanah  yang mudah terkikis dan 4,0m (12’) untuk tanah yang stabil. Sebagai  perlindungan tambahan, baris normal ditanam dengan jarak 1.0m (3’) terpisah dari tanggul sungai di Quang Ngai.
  • Baris horisontal pertama seharusnya ditanam di puncak tepian dan baris terakhir seharusnya ditanam di batas air yang paling rendah di tepian. Catatan: karena ketinggian air di beberapa lokasi berubah tergantung musim, Vetiver dapat
    ditanam jauh lebih rendah dari tepian pada saat yang tepat.
  • Vetiver seharusnya ditanam di kontur sepanjang tepian antara baris atas dan bawah dengan jarak sebagaimana disebutkan di atas.
  • Karena level air yang tinggi, baris paling bawah kemungkinan lebih lambat bertumbuh dibanding yang atas. Pada kasus tersebut, baris yang lebih bawah seharusnya ditanam pada saat tanah kering. Beberapa penerapan VS melindungi
    anti-salinitas tanggul; pada kasus tersebut, air kemungkinan jadi lebih asin pada waktu tertentu di tahun tersebut, yang mungkin mempengaruhi pertumbuhan Vetiver. Pengalaman di Quang Ngai menunjukkan bahwa Vetiver dapat digantikan dengan varietas yang toleran terhadap salinitas, termasuk pakis bakau.
  • Untuk semua penerapan, VS dapat digunakan secara kombinasi dengan cara  tradisional dan struktural lain seperti batu atau beton, dan dinding penahan.  Contohnya, bagian bawah tanggul/pematang dapat ditutup dengan kombinasi  batu dan geo-textil sementara sebagian bagian atas dilindungi dengan pagar Vetiver.

4.6 Spesifikasi penanaman

  • Gali parit dengan ukuran dalam dan lebar sekitar 15-20cm (6-8”)
  • Tempatkan tanaman yang berakar baik (dengan 2-3 tunas per potong) ditengah  masing-masing baris dengan jarak tanam 100-120mm (4-5”) untuk tanah yang mudah terkikis, dan 150mm (6”) untuk tanah normal.
  • Karena tanah pada lereng, tembok penahan jalan dan tanggul/pematang yang  terisi tidak subur, maka dianjurkan menggunakan bibit tanaman dalam pot atau  plastik polibag untuk penanaman skala besar dan pertumbuhan yang cepat. Lebih baik ditambahkan dengan campuran (adukan) pupuk kandang dan tanah.  Untuk melindungi tepian sungai alami dimana tanahnya biasanya subur dan  penyiraman awal dapat dipastikan tanpa usaha ekstra, penanaman akar telanjang sudah cukup.
  • Tutupi akar dengan 200-300mm (8-12”) tanah dan mampatkan.
  • Beri pupuk Nitrogen dan Phosporus seperti DAP (Di Ammonium Phosphate)  atau NPK (ingat bahwa dari pengalaman Vetiver tidak merespon dengan baik  kalium oksida) sebanyak 100g (3.5oz) per linier meter (baris)  Sejumlah yang sama dari lemon mungkin diperlukan ketika menanam di tanah asam dan sulfat.
  • Siram pada saat penanaman.
  • Untuk mengurangi pertumbuhan rumput liar selama masa penumbuhan,  herbisida pre-emergent (yang mencegah rumput liar tumbuh) seperti Atrazine dapat digunakan.

4.7 Perawatan

Penyiraman

  • Di musim kering, siram tiap hari selama dua minggu pertama sesudah penanaman lalu setiap dua hari sekali.
  • Siram dua kali seminggu sampai tanaman benar-benar tumbuh.
  • Tanaman dewasa tidak lagi memerlukan penyiraman.

Penanaman kembali

  • Selama bulan pertama sesudah penanaman, gantikan semua tanaman yang mati atau yang tersapu air.
  • Terus amati sampai tanaman benar-benar tumbuh.

Pengendalian rumput liar

  • Pengendalian rumput liar khususnya tanaman rambat, selama tahun pertama.
  • JANGAN GUNAKAN herbisida RoundUp (glisofat). Vetiver sangat sensitif  terhadap glisofat, jadi seharusnya tidak digunakan untuk mengendalikan rumput liar yang tumbuh di sela-sela baris.

Pemupukan

Pada tanah yang tidak subur, pupuk DAP atau NPK diterapkan pada awal musim hujan kedua.

Pemotongan

Sesudah lima bulan, pemotongan teratur (pemangkasan) juga sangat penting.  Tanaman pagar sebaiknya dipotong setinggi 15-20 cm (6-8”) diatas tanah. Teknik  sederhana ini membantu pertumbuhan tunas baru dari dasar dan mengurangi  volume daun-daun kering yang jika tidak ditanam meneduhi tunas baru. Pemangkasan juga merapikan tanaman pagar kering dan dapat meminimalkan bahaya kebakaran.

Potongan daun segar juga dapat digunakan sebagai pakan ternak, kerajinan, dan  bahkan atap. Harap dicatat bahwa Vetiver ditanam untuk tujuan mengurangi  bencana alam, tidak boleh digunakan secara berlebihan untuk tujuan sekunder.  Pemotongan berikutnya dapat dilakukan dua atau tiga kali setahun. Perawatan harus  dilakukan untuk memastikan rumput memiliki daun yang panjang selama musim  angin topan. Vetiver dapat dipotong segera sesudah musim topan berakhir. Waktu  yang tepat lainnya untuk memotong Vetiver adalah sekitar 3 bulan sebelum musim topan mulai.

Pemagaran dan perawatan

Selama beberapa bulan masa pertumbuhan, pemagaran dan perawatan diperlukan  untuk melindungi Vetiver dari penjarahan dan ternak. Batang tua dari Vetiver  dewasa cukup kuat untuk mencegah ternak masuk. Bila perlu, disarankan untuk  memagari area tersebut guna melindungi rumput selama beberapa bulan pertama setelah penanaman.

5. PENERAPAN VS UNTUK PENGURANGAN  BENCANA ALAM DAN PERLINDUNGAN INFRASTRUKTUR DI VIETNAM

5.1 Penerapan VS untuk perlindungan bukit pasir di Vietnam  tengah

Sebuah wilayah yang sangat luas, lebih dari 70.000 hektar (175.000 acres), di  sepanjang garis pantai Vietnam Tengah tertutup bukit pasir dimana keadaan iklim  dan tanahnya sangat buruk. Semburan pasir sering terjadi ketika bukit pasir pindah  dibawa oleh angin. Aliran pasir juga sering terjadi karena banyaknya sungai  permanen maupun sementara. Hembusan dan aliran pasir memindahkan sejumlah  besar pasir dari gundukan ke lembah tepian pantai yang sempit. Sepanjang garis  pantai Vietnam tengah, “lidah” pasir raksasa menggigit lembah setiap harinya.  Pemerintah telah lama mengimplementasikan penanaman kembali dengan varietas  seperti Casuarinas, nanas liar, eucalyptus, dan akasia. Tetapi, ketika sudah benarbenar  tumbuh dan kuat, tumbuhan tersebut hanya mengurangi hembusan pasir.  Sampai sekarang, belum ada cara untuk mengurangi aliran pasir (pohon tidak bisa  menstabilkan bukit pasir, khususnya pada permukaannya, hal ini dicoba di Afrika Utara oleh FAO dengan biaya yang besar namun gagal)

Pada bulan Februari 2002, dengan bantuan dana Kedutaan Belanda Small Program  dan dukungan teknis dari Elise Pinners dan Pham Hong Duc Phuoc, Tran Tan Van  dari RIGMR memulai sebuah percobaan untuk menstabilkan bukit pasir di  sepanjang garis pantai Vietnam Utara. Bukit pasir terkikis sangat parah oleh sungai  yang berfungsi sebagai batas alami antara petani dan korporasi kehutanan. Erosi  terjadi setelah beberapa tahun, menimbulkan konflik yang memuncak antara dua  kalangan. Vetiver ditanam berbaris di sepanjang kontur bukit pasir. Setelah empat  bulan Vetiver membentuk tanaman pagar dan menstabilkan bukit pasir. Kalangan  kehutanan sangat terkesan sehingga memutuskan untuk menanam massal rumput ini  di gundukan lain dan bahkan menggunakannya untuk melindungi penopang  jembatan. Vetiver selanjutnya mengejutkan penduduk lokal karena bertahan di  musim dingin yang terdingin semenjak 10 tahun terakhir, ketika suhu turun sampai  -10oC (50oF), memaksa petani untuk dua kali menanam kembali padi dan  Casuarinas mereka. Setelah dua tahun, spesies lokal (umumnya Casuarinas dan  nanas liar) kembali tumbuh dengan baik. Rumputnya sendiri pelan-pelan  menghilang karena terkena teduhan pohon-pohon tersebut, sesudah menyelesaikan  misinya. Proyek ini membuktikan bahwa dengan penanganan yang benar, Vetiver dapat bertahan dari cuaca dan iklim yang sangat tidak ramah. Foto 2

Menurut Henk Jan Verhagen dari Delft University of Technology (pers. comm.),  Vetiver mungkin sama efektifnya dalam mengurangi hembusan pasir (perpindahan  pasir). Karenanya, rumput ini bisa ditanam melintangi arah angin, khususnya di  dataran rendah antara bukit pasir, dimana kecepatan angin biasanya meningkat. Di  Pulau Pintang, Cina, di lepas pantai Propinsi Fujian, pagar Vetiver dinilai telah efektif mengurangi kecepatan angin dan hembusan pasir.

Menyusul suksesnya proyek percontohan ini, sebuah lokakarya diselenggarakan  pada awal 2003. Lebih dari 40 perwakilan dari departemen pemerintah lokal,  berbagai LSM, Universitas Vietnam Tengah, dan propinsi pesisir berpartisipasi.  Lokakarya ini membantu para penulis buku dan peserta lain untuk mengumpulkan  dan menyatukan budaya lokal terkait waktu penanaman, pengairan, dan  pemupukan. Setelah acara tersebut, World Vision Vietnam memutuskan pada tahun  2003 untuk mendanai proyek-proyek lainnya di wilayah Vinh Linh dan Trieu  Phong di propinsi Quang Tri untuk menggunakan Vetiver sebagai stabilisasi bukit pasir.

5.1.1 Penerapan uji coba dan promosi VS untuk perlindungan bukit pasir di propinsi daerah pesisir di Quang Binh

 

5.2 Penerapan VS untuk mengendalikan erosi tepian sungai

5.2.1 Penerapan VS untuk erosi tepian sungai di Vietnam Tengah

Dalam kerangka kerja yang sama dengan proyek Kedutaan Belanda diatas, Vetiver  ditanam untuk mengatasi erosi di tepian sungai, di tepi tambak udang, dan parit  jalan di Da Nang City. Pada Oktober 2001, Departemen Tanggul lokal juga  melakukan penanaman massal di tepian beberapa sungai. Setelah itu, pemerintah  kota memutuskan untuk mendanai proyek stabilisasi lereng akibat  kerukan/potongan dengan menanam Vetiver di sepanjang jalan di pegunungan yang  mengarah ke proyek Bana di Da Nang. Hal ini menggambarkan cepatnya adopsi langkah ini.

 

5.2.2 Percobaan VS dan pengenalan untuk perlindungan tepian sungai di Quang Ngai

Sebagai hasil dari proyek percontohan ini, Vetiver dianjurkan digunakan untuk  pengurangan bencana alam yang lain di propinsi Quang Ngai, didanai oleh AusAid.  Dengan bantuan teknik dari Tran Tan Van pada bulan Juli 2003, Vo Thanh Thuy  dan teman kerjanya dari Agricultural Extension Centre wilayah propinsi menanam  rumput ini di empat lokasi, kanal irigasi di beberapa wilayah dan tanggul pelindung  intrusi air laut. Vetiver tumbuh baik di semua lokasi dan, walaupun masih berusia muda, dapat bertahan dari banjir pada tahun yang sama. Foto 11-14.

Menyusul percobaan yang sangat sukses tersebut, diputuskan untuk melakukan  penanaman Vetiver massal di bagian tanggul lain di tiga wilayah lain,  dikombinasikan dengan talud batuan. Modifikasi rancangannya dikenalkan agar  Vetiver lebih cocok dengan kondisi lokal termasuk penanaman tanaman bakau  rambat dan rumput lain yang toleran terhadap garam di baris paling bawah agar  lebih bertahan dari salinitas tinggi dan dengan efektif melindungi kaki tepian. Yang  lebih baik lagi, masyarakat lokal lebih siap menggunakan Vetiver untuk melindungi tanah mereka sendiri.

5.2.3 Penerapan VS untuk mengendalikan erosi tepian sungai di Mekong delta

Dengan dukungan keuangan dari Donner Foundation dan bantuan teknis dari Paul  Truong, Le Viet Dung dan teman kerjanya di Can Tho University memelopori  proyek pengendalian erosi tepian sungai di Mekong delta. Wilayah ini mengalami  penggenangan yang lama (sampai 5 bulan), dengan perbedaan level air yang  signifikan, sampai 5 m (15’), antara musim kering dan hujan, dan arus air yang  sangat kuat di musim hujan. Lebih jauh, tepian sungai berisi tanah dari endapan  lumpur sampai lempung, yang sangat mudah terkikis ketika basah. Karena  membaiknya ekonomi di tahun-tahun terakhir, sebagian besar kapal yang berjalan  di sungai dan kanal menggunakan mesin motor, banyak yang menggunakan mesin  kuat yang memperburuk erosi tepian sungai karena menimbulkan ombak yang kuat.  Walaupun demikian, Vetiver tetap berdiri, melindungi wilayah pertanian yang luas dari erosi. Foto 15 dan 16.

Program Vetiver yang menyeluruh telah didirikan di propinsi An Giang, dimana  banjir tahunan mencapai 6 m (18’). Sistem kanalnya yang panjang, 4932 km (3065  miles), memerlukan pemeliharaan dan perbaikan tahunan. Jaringan tanggul  sepanjang 4600 km, melindungi 209.957 ha (525.000 acres) tanah pertanian utama   dari banjir. Erosi tanggul ini sekitar 3.75 Mm3/tahun dan memerlukan USD 1,3 M untuk memperbaikinya.

Wilayah ini meliputi 181 kelompok pemukiman, komunitas dibangun diatas  material kerukan yang juga memerlukan pengendalian erosi dan perlindungan dari  banjir. Tergantung dari lokasi dan kedalaman banjir, Vetiver telah dengan sukses  digunakan baik dengan atau tanpa vegetasi lain untuk menstabilkan wilayah ini.  Hasilnya, Vetiver sekarang berjajar di sistem tanggul laut dan air juga tepian dan  kanal di Mekong delta. Hampir dua juta polibag Vetiver, dengan total 61 km (38mil), ditanam untuk melindungi tanggul antara tahun 2002 dan 2005.

Antara 2006 dan 2010, 11 wilayah di propinsi An Giang diharapkan dapat  menanam 2025 km (1258mil) pagar Vetiver di tanah seluas 3100ha (7660acres) dari  permukaan tanggul. Karena tidak terlindungi, 3750 Mm3 tanah kemungkinan akan  terkikis dan 5 Mm3. harus dikeruk dari kanal. Berdasar biaya terbaru di tahun 2006,  total biaya pemeliharaan akan melebihi USD 15.5 M hanya di propinsi ini saja.  Penerapan Sistem Vetiver di pedalaman ini akan memberi pendapatan tambahan  untuk masyarakat lokal: pekerja untuk menanam, dan wanita serta anak-anak untuk menyiapkan polibag.

5.3 Penerapan VS untuk pengendalian erosi pesisir pantai

Dengan bantuan Donner Foundation dan bantuan teknik dari Paul Truong, Le Van  Du dari Ho Chi Minh City Agro Forestry University tahun 2001 memulai  percobaan tentang tanah asam sulfat untuk menstabilkan kanal dan saluran irigasi  dan sistem tanggul laut di propinsi Go Cong. Vetiver tumbuh dengan sangat baik  hanya dalam beberapa bulan, meskipun tanah tidak subur. Sekarang Vetiver ini  telah melindungi tanggul laut, mencegah erosi permukaan, dan membantu tumbuhnya spesies lokal. Foto 17.

Atas rekomendasi dari Tran Tan Van, Palang Merah Denmark pada tahun 2004  mendanai proyek percontohan menggunakan Vetiver untuk melindungi tanggul laut  di wilayah Hai Hau, propinsi Nam Dinh. Foto 18. Para perencana proyek sangat  terkejut dan senang menemukan bahwa Vetiver telah ditanam beberapa tahun  sebelumnya. Vetiver melindungi beberapa kilometer bagian dalam dari sistem  tanggul laut. Walaupun rancangannya tidak begitu umum, penanamn ini berhasil  dan yang lebih penting lagi, telah meyakinkan masyarakat lokal bahwa Vetiver  efektif. Sesudah Topan No. 7 bulan September 2005 menghancurkan bagian yang  telah dilindungi oleh talud batuan, keefektifan Vetiver tidak diragukan lagi. Petani setempat meminta penanaman massal.

HRH Putri Maha Chakri Sirindhorn, Thailand, Pelindung The Vetiver Network, sangat perduli dengan kesejahteraan masyarakat yang hidup di area topan di wilayah Ha Long. Keberadaan dan kehidupan mereka tergantung dari stabilitas  sistem tanggul laut. Tahun 2006, Putri mendanai sebuah proyek yang dilaksanakan  oleh Chaipattana Foundation, yayasan swasta yang didirikan oleh HM The King of  Thailand untuk membantu Vietnam menstabilkan tanggul laut di wilayah Hai Hau,  propinsi Nam Dinh, yang telah mengalami bencana Topan no. 6 dan 7 bulan  September 2005. Di bulan Juli 2006 sekelompok insinyur Thailand dan para ahli  Vetiver tiba di Hai Hau untuk menyelesaikan rincian proyek dengan Ministry of Agriculture and Rural Development, Vietnam.

5.4 Penerapan VS untuk menstabilkan lereng penahan jalan

Menyusul kesuksesan percobaan oleh Pham Hong Duc Phuoc (Ho Chi Minh  CityAgro Forestry University) dan Thien Sinh Co. Dalam penggunaan Vetiver  untuk menstabilkan lereng akibat tanahnya dikeruk di Vietnam Tengah, tahun 2003  Ministry of Transport mengesahkan penggunaan Vetiver secara luas untuk  menstabilkan lereng sepanjang ratusan kilometer jalan baru Ho Chi Minh dan jalan nasional serta propinsi lain di propinsi Quang Ninhm, Da Nang, dan Khanh Hoa.

Proyek ini tentunya merupakan salah satu proyek VS terbesar untuk penerapan  perlindungan infrastruktur di dunia. Keseluruhan jalan raya Ho Chi Minh lebih dari  3000 km (1864 mil) panjangnya. Jalan ini akan dilindungi oleh Vetiver yang  ditanam pada beberapa jenis tanah dan iklim: dari tanah pegunungan yang tipis dan  musim dingin di utara sampai tanah berasam asam sulfat dan iklim panas dan  lembab di selatan. Penggunaan Vetiver secara meluas untuk menstabilkan lereng akibat tanahnya dikeruk dicontohkan seperti dibawah ini:

  • Diterapkan utamanya sebagai tindakan perlindungan permukaan lereng, Vetiver  sangat mengurangi limpasan induksi yang menimbulkan erosi, yang dapat menimbulkan kerusakan di muara/hilir (foto 20)
  • Dengan mencegah longsor dangkal, Vetiver menstabilkan lereng akibat tanahnya dikeruk yang sangat mengurangi jumlah longsor yang dalam.
  • Dalam beberapa hal dimana longsor yang dalam terjadi, Vetiver masih berperan besar dalam memperlambat longsor dan mengurangi longsor massal dan;
  • Vetiver mempertahankan keindahan dan keramahan lingkungan jalan.

Di jalan yang mengarah ke Ho Chi Minh Highway, Pham Hong Duc Phuoc benarbenar  menunjukkan bagaimana VS seharusnya diterapkan, juga menunjukkan  keefektifan dan keberlanjutannya. Beliau dengan hati hati memantau perkembangan  Vetiver: pertumbuhannya (65-100%), pertumbuhan terbaiknya (95-160cm (37-63”)  sesudah enam bulan), jumlah tunas (18-30 tunas per tanaman), dan kedalaman akar pada lereng penahan. Tabel 6.

Keberhasilan dan kegagalan Vetiver untuk melindungi lereng tanah kerukan di sepanjang jalan Ho Chi Minh telah memberi pelajaran bahwa:

  • Lereng harus stabil secara internal. Karena Vetiver baru berfungsi ketika sudah  dewasa, lereng mungkin akan longsor untuk sementara waktu. Vetiver mulai  menstabilkan lereng dalam tiga atau empat bulan, paling cepat. Karenanya,  waktu penanaman sangat penting jika ingin menghindari longsor lereng di musim hujan.
  • Sudut kemiringan lereng yang tepat tidak boleh melebihi 45-50o dan;
  • Pemangkasan secara teratur akan menjamin pertumbuhan terus menerus dan  pertumbuhan tunas rumput yang tentunya memastikan pertumbuhan tanaman pagar yang lebat dan efektif.

6. KESIMPULAN

Dengan adanya penelitian yang cukup dan keberhasilan dari banyak penerapan  Vetiver yang disajikan dalam bab ini, kita sekarang memiliki cukup bukti bahwa  Vetiver, dengan banyak kelebihan dan sedikit kekurangannya, sangat efektif,  ekonomis, alat bioteknologi berbasis masyarakat dan ramah lingkungan yang  melindungi infrastruktur dan memitigasi bencana alam, dan, sekali ditetapkan,  Vetiver akan bertahan selama puluhan tahun dengan sangat sedikit atau tanpa  perawatan apapun. VS telah berhasil digunakan di banyak negara di dunia  termasuk Australia, Brazil, Amerika Tengah, Cina, Etiopia, India, Italia, Malaysia,  Nepal, Filipina, Afrika Selatan, Sri Lanka, Thailand, Venezuela, dan Vietnam.  Namun, perlu ditekankan bahwa kunci terpenting untuk sukses adalah bibit yang berkualitas bagus, desain yang tepat dan teknik penanaman yang benar.

7. REFERENSI

Bracken, N. and Truong, P.N. (2 000). Application of Vetiver Grass Technology in  the stabilization of road infrastructure in the wet tropical region of Australia. Proc. Second International Vetiver Conf. Thailand, January 2000.

Cheng Hong, Xiaojie Yang, Aiping Liu, Hengsheng Fu, Ming Wan (2003). A  Study on the Performance and Mechanism of Soil-reinforcement by Herb Root System. Proc. Third International Vetiver Conf. China, October 2003.

Dalton, P. A., Smith, R. J. and Truong, P. N. V. (1996). Vetiver grass hedges for  erosion control on a cropped floodplain, hedge hydraulics. Agric. Water Management: 31(1, 2) pp 91-104.

Hengchaovanich, D. (1998). Vetiver grass for slope stabilization and erosion  control, with particular reference to engineering applications. Technical  Bulletin No. 1998/2. Pacific Rim Vetiver Network. Office of the Royal Development Project Board, Bangkok, Thailand.

Hengchaovanich, D. and Nilaweera, N. S. (1996). An assessment of strength  properties of Vetiver grass roots in relation to slope stabilisation. Proc. First International Vetiver Conf. Thailand pp. 153-8.

Jaspers-Focks, D.J and A. Algera (2006). Vetiver Grass for River Bank Protection. Proc. Fourth Vetiver International Conf. Venezuela, October 2006.

Le Van Du, and Truong, P. (2003). Vetiver System for Erosion Control on Drainage  and Irrigation Channels on Severe Acid Sulphate Soil in Southern Vietnam. Proc. Third International Vetiver Conf. China, October 2003.

Prati Amati, Srl (2006). Shear strength model. “PRATI ARMATI Srl” info@pratiarmati.it .

Truong, P. N. (1998). Vetiver Grass Technology as a bio-engineering tool for  infrastructure protection. Proceedings North Region Symposium. Queensland Department of Main Roads, Cairns August, 1998.

Truong, P., Gordon, I. and Baker, D. (1996). Tolerance of Vetiver grass to some  adverse soil conditions. Proc. First International Vetiver Conf. Thailand, October 2003.

Xia, H. P. Ao, H. X. Liu, S. Z. and He, D. Q. (1999). Application of the Vetiver  grass bio-engineering technology for the prevention of highway slippage in  southern China. International Vetiver Workshop, Fuzhou, China, October 1997.

Xie, F.X. (1997). Vetiver for highway stabilization in Jian Yang County:  Demonstration and Extension. Proceedings abstracts. International Vetiver Workshop, Fuzhou, China, October 1997.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s