4 Fitoremediasi

BAGIAN 4
SISTEM VETIVER UNTUK PENCEGAHAN DAN PENGOLAHAN AIR DAN TANAH YANG TERKONTAMINASI

1. PENDAHULUAN

Dalam proses penelitian penerapan dari peranannya yang luar biasa untuk konservasi tanah dan air, Vetiver juga ditemukan memiliki karakteristik fisiologi dan morfologi yang unik yang cocok untuk perlindungan lingkungan, khususnya untuk pencegahan dan pengolahan terhadap air dan tanah yang terkontaminasi.

Karakteristik yang menakjubkan Vetiver adalah toleransi yang tinggi terhadap tingkat salinitas, keasaman, alkalinitas, sodisitas, dan berbagai jenis logam berat  dan bahan kimia pertanian, juga kemampuan yang luar biasa untuk menyerap dan  mentolerir kadar peningkatan nutrisi untuk mengkonsumsi sejumlah besar air dalam proses pertumbuhan yang pesat dalam kondisi basah.

Menerapkan Sistem Vetiver (VS) untuk pengolahan air limbah adalah sebuah  teknologi fitoremediasi inovatif yang memiliki potensi luar biasa. VS adalah solusi  alami, hijau, sederhana, mudah diterapkan dan efektif biaya. Dan yang terpenting,  daun Vetiver dapat menjadi produk untuk kerajinan, makanan hewan, atap, mulsa dan bahan bakar dan masih banyak yang lain.

Keefektifan, kesederhanaan, dan biaya rendah membuat Sistem Vetiver menjadi  mitra yang diterima dengan baik di negara-negara tropis dan sub-tropis yang  memerlukan pengolahan air limbah domestik, perkotaan, industri dan membutuhkan rehabilitasi dan fitoremediasi tambang.

2. BAGAIMANA SISTEM VETIVER BEKERJA

VS mencegah dan mengolah air dan tanah yang terkontaminasi dengan cara sebagai berikut.

Pencegahan dan pengolahan terhadap air yang terkontiminasi

  • Mengurangi volume air limbah.
  • Meningkatkan kualitas air limbah dan air yang tercemar.

Pencegahan dan pengolahan terhadap tanah yang terkontaminasi

  • Pengendalian pencemaran diluar area.
  • Fitoremediasi tanah terkontaminasi.
  • Memerangkap bahan yang terkikis dan sampah di limpasan air.
  • Menyerap logam berat dan polutan lainnya.
  • Mengolah nutrisi dan polutan lainnya dalam air limbah dan lindian (sampah cair hasil uraian dari sampah di dalam pembuangan)

3. FITUR KHUSUS YANG SESUAI UNTUK TUJUAN PERLINDUNGAN LINGKUNGAN

Sebagaimana dibahas dalam bagian 1, beberapa ciri khusus Vetiver adalah secara langsung dapat diterapkan untuk penanganan air limbah, diantaranya adalah atribut fisiologis dan morfologi berikut:

3.1 Atribut morfologi

  • Rumput Vetiver memiliki sistem akar yang besar, dalam, sistem akar yang cepat tumbuh hingga mencapai 3,6m dalam waktu 12 bulan di tanah yang baik.
  • Akarnya yang dalam membuatnya toleran terhadap kekeringan, memungkinkan infiltrasi yang sangat baik dari kelembaban tanah, menembus lapisan tanah yang padat (ladang keras), sehingga meningkatkan drainase yang dalam.
  • Sebagian besar akar dalam sistem akar Vetiver yang besar adalah sangat halus, dengan diameter rata-rata 0.5-1.0mm (Cheng et al, 2003). Hal ini menyediakan sejumlah besar rizosfer untuk pertumbuhan dan penggandaan bakteri dan jamur, yang dibutuhkan untuk menyerap kontaminasi dan mengurai prosesnya, seperti dalam nitrifikasi.
  • Akar Vetiver yang tegak dan kaku dapat tumbuh sepanjang tiga meter (sembilan kaki). Ketika ditanam rapat, Vetiver membentuk tembok berpori yang menghambat aliran air dan berfungsi sebagai bio-filter yang efektif, perangkap
    batuan sedimen yang halus dan kasar, dan bahkan dalam aliran air (Foto 1)
  • Pada limpasan air (foto 1)

3.2 Atribut fisiologis

  • Sangat toleran terhadap tanah yang memiliki keasaman, alkalinitas, salinitas, sodisitas, dan magnesium tinggi.
  • Sangat toleran terhadap Al, Mn, dan logam berat seperti As, Cd, Cr, Ni, Pb, Hg, Se dan Zn dalam tanah dan air (Truong dan Baker, 1998).
  • Sangat efisien dalam menyerap N dan P yang larut dalam air tercemar. Gambar 1.
  • Sangat toleran terhadap nutrisi N dan P yang tinggi dalam tanah. Gambar 2/
  • Sangat toleran terhadap herbisida dan pestisida.
  • Mengurai materi senyawa oganik yang terkait dengan herbisida dan pestisida.
  • Memperbaharui dengan cepat setelah kekeringan, kebekuan, api, garam, dan kondisi buruk lainnya, setelah kondisi buruk tersebut termitigasi.

4. PENCEGAHAN DAN PENGOLAHAN AIR TERKONTAMINASI

Ekstensif R&D, Penelitian dan Pengembangan, dan penerapan yang luas di  Australia, Cina, dan Thailand dan negara lain telah menunjukkan bahwa Vetiver  sangat efektif dalam mengolah limbah cair yang tercemar dari pembuangan domestik dan industri.

4.1 Mengurangi atau menghilangkan volume air limbah

Metode vegetatif saat ini adalah cara satu-satunya yang layak dan praktis untuk  menghilangkan atau mengurangi air limbah dalam skala besar. Di Australia,  Vetiver dalam jumlah besar telah menggantikan pohon dan spesies pastura sebagai  cara yang paling efektif untuk mengolah dan membuang lesapan pembuangan dan limbah domestik serta industri.

Untuk mengukur tingkat penggunaan air oleh Vetiver, diperkirakan bahwa untuk 1kg biomas tunas kering dalam kondisi rumah kaca yang ideal, Vetiver menggunakan 6,86L/hari. Karena biomas Vetiver usia 12 minggu, yang merupakan masa puncak pertumbuhannya, adalah sekitar 30,7 t/ha, maka untuk satu hektar Vetiver akan memerlukan 279 KL/ha/hari (Truong dan Smeal, 2003).

4.1.1 Pembuangan limbah septik

Pada tahun 1996, VS pertama kali diterapkan di Australia untuk mengatasi  pembuangan limbah. Kemudian uji coba menunjukkan bahwa penanaman sekitar  100 tanaman Vetiver di area taman kurang dari 50m2 benar-benar menyerap  limbah dari blok toilet. Tumbuhan lain, termasuk rumput dan pohon yang cepat  tumbuh di daerah tropis, dan tanaman pangan seperti tebu dan pisang gagal  (Truong dan Hart, 2001).

4.1.2 Pembuangan lesapan (air limbah TPA)

Pembuangan lesapan merupakan masalah besar di kota-kota besar, karena biasanya  limbah ini sangat terkontaminasi dengan logam berat, serta polutan organik dan non  organik. Australia dan Cina telah mencoba memecahkan masalah ini dengan cara  mengumpulkan lesapan pada dasar pembuangan untuk mengairi Vetiver yang  ditanam pada bagian atas gundukan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan dinding  penahan bendungan. Hasilnya sampai saat ini sangat baik. Bahkan, pertumbuhan  Vetiver sangat baik sampai-sampai tempat pembuangan, selama musim kering,  tidak menghasilkan cukup limbah cair untuk mengairi tanaman. Penanaman 3,5 ha  secara efektif menyerap 4 ML lesapan sebulan selama musim panas dan 2ML sebulan selama musim dingin (Percy dan Truong, 2005).

4.1.3 Pembuangan limbah air industri

Di Queensland, Australia, sejumlah besar limbah industri berasal dari fasilitas pengolahan makanan (1,4 juta liter/hari) berhasil dipencarkan dengan irigasi tanah menggunakan Vetiver (Smeal et al, 2003).

4.2 Meningkatkan kualitas air limbah

Polusi off-site adalah ancaman terbesar terhadap lingkungan dunia. Walaupun menyebar luas di negara-negara industri, masalah ini sangat serius di negara-negara bekembang, yang sering kali kekurangan sumber daya yang cukup untuk mengurangi masalah. Metode vegetatif umumnya cara yang paling mudah di akses dan efisien untuk meningkatkan kualitas air.

4.2.1 Memerangkap serpihan, sedimen dan agro-kimia di lahan pertanian

Dalam studi penelitian di Australia terhadap perkebunan tebu dan kapas menunjukkan bahwa pagar Vetiver dinilai efektif memerangkap partikulat nutrisi terikat- seperti P dan Ca; herbisida seperti diuron, trifluralin, prometryn, dan fluometuron, dan pestisida seperti as α, β sulfat endosulfan and chlorpyrifos, parathion, dan profenofos. Jika pagar Vetiver telah tumbuh melintangi garis drainase, nutrisi dan agro-kimia tersebut dapat terperangkap disitu (on-site) (Truong et al. 2000). Gambar 3.

Sebuah penelitian yang dilakukan di Thailand di Huai Sai Royal Development Study Centre, propinsi Phetchaburi menunjukkan bahwa tanaman pagar Vetiver yang ditanam melintangi lereng membentuk dam hidup sementara, pada saat yang sama, sistem akarnya membentuk pembatas bawah tanah yang mencegah residu pestisida dan zat beracun lain mengalir kedalam badan air dibawah. Batang tebal diatas permukaan tanah juga mengumpulkan partikel puing dan tanah yang terbawa di sepanjang jalur air (Chomchalow, 2006).

4.2.2 Menyerap dan mentoleransi polutan dan logam berat

Kegunaan Vetiver dalam mengatasi air yang tercemar terletak pada kapasitasnya untuk cepat menyerap hara dan logam berat, dan toleransi terhadap peningkatan kadar elemen-elemen tersebut. Meskipun konsentrasi dari unsur-unsur pada tanaman Vetiver seringkali tidak setinggi hiper-akumulator, pertumbuhannya yang sangat cepat dan hasil yang tinggi (produksi material kering sampai 100t/ha/tahun) memungkinkan Vetiver mampu menghapus volume hara yang jauh lebih tinggi dan logam berat dari tanah yang terkontaminasi dibanding hyper-akumulator lainnya.

Di Vietnam selatan, percobaan dilakukan di pabrik pengolahan makanan dari hasil laut untuk mengetahui lamanya limbah harus berada di ladang Vetiver sebelum  konsentrasi nitrat dan fosfatnya berkurang ke level yang dapat diterima. Hasil tes menunjukkan bahwa jumlah N dalam limbah air berkurang sampai 88% dan 91% sesudah 48 dan 72 jam tindakan, jumlah N dan P yang dibuang selama 48- dan 72- jam tidak jauh berbeda (Luu et al, 2006). Setelah tes-tes tersebut, jumlah tambak ikan di Mekong Delta mengadopsi VS untuk menstabilkan tanggul tambak, untuk memurnikan air tambak, dan untuk mengolah air limbah pertanian lainnya. Foto 3.

Di Vietnam utara, limbah cair dibuang dari sebuah pabrik kertas kecil di Bac Ninh dan pabrik pupuk nitrogen kecil di Bac Giang yang sangat tercemar oleh hara dan kimia seperti limbah cair Tempat Pembuangan Akhir. Pabrik-pabrik tersebut membuang limbah cairnya langsung ke sungai kecil di Delta sungai. Ditanam di kedua sisi, Vetiver menjadi subur sesudah dua bulan. Pada saat penulisan ini, rumput di pabrik kertas di Bac Ninh umumnya dalam kondisi baik, kecuali beberapa bagian didekat air yang tercemar, yang menunjukkan gejala keracunan. Di sisi lain, meskipun kondisinya sangat tercemar, Vetiver tumbuh baik di pabrik pupuk nitrogen di Bac Giang. Pertumbuhan yang sangat baik telah tercatat pada kondisi lahan semi-basah ini, dimana Vetiver diharapkan dapat mengurangi tingkat polutan secara signifikan. Foto 4.

Di Australia, lima baris Vetiver dialiri dengan sistem bawah-permukaan (Subsurface) dengan buangan limbah dari septik tank. Setelah 5 bulan, kadar N total didalam rembesan yang terkumpul sesudah dua baris berkurang sebesar 83% dan setelah lima baris berkurang sebesar 99%. Demikian pula, kadar P total berkurang masing-masing 82% dan 85% (Truong dan Hart, 2001). Gambar 4.

Di Cina, hara dan logam berat dari peternakan babi merupakan sumber utama pencemaran air. Limbah cair dari peternakan babi mengandung N dan P yang tinggi dan juga Cu dan Zn yang ditambahkan ke pakan sebagai obat pertumbuhan. Hasil menunjukkan bahwa Vetiver memiliki kemampuan memurnikan yang sangat kuat. Rasio penyerapan dan pemurnian dari Cu dan Zn adalah >90%; As dan N>75%; Pb antara 30% -71% dan P antara 15-58%. Kemampuan Vetiver untuk memurnikan logam berat dan N dan P dari peternakan babi diukur sebagai berikut: Zn>Cu>As>N>Pb>Hg>P (Xuhui et al., 2003; Liao et al, 2003).

4.2.3 Lahan basah

Lahan basah alami maupun buatan dengan efektif mengurangi jumlah pencemaran dalam limpasan dari lahan pertanian dan industri. Menggunakan lahan basah untuk menghilangkan polutan memerlukan penggunaan proses biologi yang kompleks,
termasuk transformasi mikro-biologi dan proses psiko-kimia seperti penyerapan, pengendapan atau sedimentasi.

Dalam kondisi lahan basah di Australia, Vetiver memiliki tingkat penggunaan air tertinggi, dibanding dengan tanaman lahan basah seperti Iris pseudacorus, Typha spp, Schoenoplectus validus, dan Phragmites australis. Pada tingkat konsumsi 600 ml/hari/pot selama lebih dari 60 hari, Vetiver menggunakan 7,5 kali lebih banyak air dibanding Typha (Cull et al. 2000). Lahan basah dibuat untuk mengatasi buangan limbah di kota kecil yang terpencil. Tujuan proyek ini adalah untuk mengurangi atau menghilangkan 500 ML/hari limbah yang dihasilkan oleh kota kecil ini sebelum dibuang ke saluran air (Foto 5). Yang mengagumkan, lahan basah Vetiver telah menyerap semua limbah yang dihasilkan oleh kota kecil ini (Ash danTruong, 2003). Tabel 1.

Cina merupakan peternak babi terbesar di dunia. Tahun 1998, propinsi Guangdong sendiri memiliki lebih dari 1600 peternakan babi; 130+ peternakan memproduksi lebih dari 10.000 babi komersial per tahun. Kandang babi yang besar memproduksi 100-150 ton efluen/hari, termasuk kotoran babi yang diambil dari lantai kandang, yang mengandung muatan berhara tinggi. Karena itu, pembuangan limbah cair dari peternakan babi adalah masalah besar. Lahan basah dianggap sebagai cara yang paling efektif untuk mengurangi volume dan muatan hara tinggi dari limbah babi. Untuk menentukan tanaman mana yang paling sesuai untuk sistem lahan basah, Vetiver dimasukkan ke dalam tes sebagai spesies yang paling mungkin. Yang awalnya masuk tiga besar yaitu Vetiver, Cyperus alternifolius, dan Cyperus exaltatus. Tetapi, uji coba lebih lanjut menunjukkan bahwa Cyperus exaltatus layu dan menjadi dorman selama musim gugur, tumbuh kembali di musim semi, hanya Vetiver dan Cyperus alternifolius cocok untuk perlakuan lahan basah dari limbah kandang babi (Liao, 2000). Foto 6.

Di Thailand penelitian yang sangat solid dilakukan beberapa tahun terakhir tentang penerapan VS untuk mengolah limbah cair di lahan basah buatan. Salah satu penelitian menggunakan tiga eko-tipe Vetiver (Monto, Surat Thani, dan Songkhla 3) untuk perlakuan terhadap limbah cair dari penggilingan tepung topioka, dengan menggunakan dua sistem perlakuan: (a) menahan limbah cair di tanah basah Vetiver selama dua minggu lalu mengurasnya, dan (b) menahan limbah cair di lahan basah Vetiver selama satu minggu lalu mengurasnya terus menerus selama tiga minggu. Pada kedua sistem Monto menunjukkan pertumbuhan yang cepat dari tunas, akar, dan biomas serta tertinggi dalam menyerap kadar P, K, Mn dan Cu di tunas dan akar (Mg, Ca dan Fe di akar, dan Zn dan N di tunas). Surat Thani tertinggi dalam menyerap kadar Mg di tunas dan Zn di akar, dan Songkhla 3 tertinggi dalam menyerap Ca, Fe di tunas, dan N di akar dengan maksimal (Chomchalow, 2006, cit. Techapinyawat 2005).

4.2.4 Model komputer untuk limbah cair industri

Model komputer telah menjadi alat yang sangat diperlukan untuk mengelola sistem lingkungan, termasuk pengelolaan air limbah yang rumit seperti pembuangan limbah cair industri. Di Queensland, Australia, the Environmental Protection Authority telah mengadopsi MEDLI (Model for Effluent Disposal using Land Irrigation), Model untuk Pembuangan Efluen Menggunakan Irigasi Tanah, sebagai model dasar untuk manajemen limbah cair industri. Perkembangan terbaru yang paling signifikan dari penggunaan VS untuk pembuangan limbah air adalah kalibrasi MEDLI Vetiver untuk penyerapan hara dan irigasi efluen (Vieritz, et al., 2003), (Truong, et al., 2003a), (Wagner, et al., 2003), (Smeal, et al., 2003).

4.2.5 Model komputer untuk limbah cair domestik

Sebuah model komputer dikembangkan baru-baru ini di Australia sub-tropis untuk memperkirakan area yang memerlukan Vetiver untuk membuang limbah air hitam   dan abu-abu dari masing-masing rumah. Misalnya, sebuah area penanaman Vetiver seluas 77m persegi, dengan kepadatan tanaman 5/meter persegi, diperlukan bagi satu rumah tangga dengan 6 orang anggota, yang menghasilkan limbah 120L/orang/hari.

4.2.6 Tren masa depan

Ketika kekurangan air mengancam di penjuru dunia, limbah cair seharusnya dipertimbangkan sebagai sumber daya yang bisa diperbaharui, bukan masalah yang memerlukan pembuangan. Tren terbaru adalah mendaur ulang limbah cair untuk industri dan domestik, bukannya membuangnya. Karena itu, VS sangat berpotensi untuk menjadi cara yang sederhana, higienis, dan murah untuk mengolah dan mendaur ulang limbah cair yang berasal dari aktifitas manusia.Gambar 5.

Perkembangan yang paling menggembirakan untuk pengolahan  terhadap limbah cair adalah penggunaan Vetiver dalam bedeng gelagah berbasis tanah. Dalam penerapan baru ini, kualitas dan kuantitas keluaran air dapat di sesuaikan untuk memenuhi standard yang ditentukan. GELITA APA, Australia sedang mengembangkan dan menguji coba sistem ini. Keterangan lebih lengkap dari sistem ini dapat ditemukan di (Smeal et al. 2006). Gambar 6

5. PERLAKUAN TERHADAP TANAH YANG TERKONTAMINASI

Di antara perkembangan yang paling signifikan dalam perlindungan lingkungan selama 15 tahun terakhir adalah toleransi nyata Vetiver terhadap kondisi tanah yang buruk dan toksisitas logam berat. Tolok ukur ini telah membuka bidang baru untuk penerapan VS: rehabilitasi lahan beracun dan terkontaminasi.

5.1 Toleransi terhadap kondisi yang buruk

5.1.1 Toleransi terhadap asam yang tinggi, aluminium dan toksik mangan

Penelitian menunjukkan bahwa pupuk N dan P tidak  mempengaruhi pertumbuhanVetiver, bahkan dibawah kondisi yang sangat asam (pH = 3.8) dan pada Persentasi Saturasi Aluminium yang sangat tinggi (68%). Uji lapangan memastikan bahwa Vetiver tumbuh dengan baik pada tanah dengan pH=3.0 dan tingkat Aluminium antara 83-87%. Meski demikian, karena Vetiver tidak bisa bertahan pada tingkat Saturasi Aluminium 90% pada tanah dengan pH = 2.0, ambang toleransinya berkisar antara 68% dan 90%. Toleransi ini luar biasa, karena sebagian besar tanaman terkena dampak pada tingkat kurang dari 30%. Lebih lanjut, pertumbuhan Vetiver tetap tidak terpengaruh ketika Mangan yang bisa di ekstrak dalam tanah mencapai 578 mg/Kg, pH tanah serendah 3.3, dan muatan Mangan tanaman setinggi 890 mg/Kg. Karena toleransinya yang tinggi terhadap toksisitas Al dan Mn, Vetiver telah dengan sukses digunakan untuk mengendalikan erosi dalam Tanah Asam Sulfat dengan pH tanah sekitar 3.5 dan pH yang teroksidasi serendah 2.8  (Truong dan Baker, 1998). Foto 7 dan 8.

5.1.2 Toleransi terhadap salinitas dan sodisitas yang tinggi

Dengan ambang salinitas ECse = 8 dS/m, Vetiver sama bagusnya dengan tanaman yang paling toleran terhadap garam dan spesies pastura yang tumbuh di Australia, termasuk Bermuda Grass (Cynodon dactylon) dengan ambang salinitas 6.9 dS/m; Rhodes Grass (Chloris gayana) (7.0 dS/m); Wheat Grass (Thynopyron elongatum) (7.5 dS/m) dan barley (Hordeum vulgare) (7.7 dS/m). Dengan suplai N dan P yang cukup, Vetiver dengan baik tumbuh pada limbah (tailing) dengan Na bentonit dengan Exchangable Sodium Percentage (Presentasi Natrium Tukar) 48% dan tambang batubara yang terbebani dengan level natrium tukar sebesar 33%. Kelebihan Sodisitas ini lebih jauh diperburuk oleh tingkat magnesium yang sangat tinggi (2400 mg/Kg) dibanding dengan kalsium (1200.Kg) (Truong, 2004)

5.1.3 Distribusi logam berat pada tanaman Vetiver

Distribusi logam berat pada Vetiver dapat dibagi menjadi tiga kelompok:

  • Zn hampir merata didistribusikan antara tunas dan akar (40%)
  • Sejumlah kecil As, Cd, Cr dan Hg yang diserap ditranslokasikan  kembali ke tunas (1%-5%), dan
  • Sejumlah Cu, Pb, Ni dan Se ditranslokasikan kembali ke atas (16%-33%)  (Truong, 2004).

5.1.4 Toleransi terhadap logam berat

Vetiver sangat toleran terhadap As, Cd, Cr, Cu, Hg, Ni, Pb, Se dan Zn. Tabel 2.

5.2 Rehabilitasi tambang dan fitoremediasi

Dengan ciri morfologis dan fisiologisnya yang luar biasa, Vetiver telah dengan sukses digunakan untuk merehabilitasi batuan limbah tambang dan fitoremediasi limbah tambang di:

  • Australia: batubara, emas, betonit, dan bauksit
  • Chili: tembaga
  • Cina: timbel, zink dan bauksit (Wensheng Shu, 2003)
  • Afrika Selatan: emas, permata, dan platinum
  • Thailand: timbel
  • Venezuela: bauksit

6. REFERENSI

Ash R. and Truong, P. (2003). The use of Vetiver grass wetland for sewerage  treatment in Australia. Proc. Third International Vetiver Conf. China, October 2003.

Chomchalow, N, (2006). Review and Update of the Vetiver System R&D in Thailand. Proc. Regional Vetiver Conference, Cantho, Vietnam.

Cull, R.H, Hunter, H, Hunter, M and Truong, P.N. (2000). Application of Vetiver  Grass Technology in off-site pollution control. II. Tolerance of Vetiver grass  towards high levels of herbicides under wetland conditions. Proc. Second International Vetiver Conf. Thailand, January 2000.

Hart, B, Cody, R and Truong, P. (2003). Efficacy of Vetiver grass in the hydroponic  treatment of post septic tank effluent. Proc. Third International Vetiver Conf. China, October 2003.

Liao Xindi, Shiming Luo, Yinbao Wu and Zhisan Wang (2003). Studies on the  Abilities of Vetiveria zizanioides and Cyperus alternifolius for Pig Farm  Wastewater Treatment. Proc. Third International Vetiver Conf. China, October 2003.

Lisena, M.,Tovar,C. and Ruiz, L.(2006) “Estudio Exploratorio  de la Siembra del Vetiver en un Área Degradada por el Lodo Rojo”. Proc. Fourth International Vetiver Conf. Venezuela, October 2006.

Luque, R, Lisena,M and Luque, O. (2006). Vetiver System for environmental protection of open cut bauxite mine at Los Pijiguaos-Venezuella. Proc. Fourth  International Vetiver Conf. Venezuela, October 2006

Luu Thai Danh, Le Van Phong. Le Viet Dung and Truong, P. (2006). Wastewater treatment at a  seafood processing factory in the Mekong delta, Vietnam. Proc. Fourth International Vetiver Conf. Venezuela, October 2006.

Percy, I. and Truong, P.  (2005). Landfill Leachate Disposal with Irrigated Vetiver Grass. Proc,  Landfill 2005. National Conf on Landfill, Brisbane, Australia, September 2005

Smeal, C., Hackett, M. and Truong, P. (2003). Vetiver System for  Industrial Wastewater Treatment in Queensland, Australia; Proc. Third International Vetiver Conf. China, October 2003.

Truong, P.N.V. (2004).  Vetiver Grass Technology for mine tailings rehabilitation. Ground and Water  Bioengineering for Erosion Control and Slope Stabilization. Editors: D.  Barker, A. Watson, S. Sompatpanit, B. Northcut and A. Maglinao. Science Publishers Inc. NH, USA.

Truong, P.N. and Baker, D. (1998). Vetiver grass  system for environmental protection. Technical Bulletin N0. 1998/1. Pacific  Rim Vetiver Network. Royal Development Projects Board, Bangkok, Thailand.

Truong, P.N. and Hart, B. (2001). Vetiver system for wastewater treatment.  Technical Bulletin No. 2001/2. Pacific Rim Vetiver Network. Royal Development Projects Board, Bangkok, Thailand.

Truong, P.N., Mason, F., Waters, D. and Moody, P. (2000). Application of Vetiver  Grass Technology in off-site pollution control. I. Trapping agrochemicals and  nutrients in agricultural lands. Proc. Second International Vetiver Conf. Thailand, January 2000.

Truong, P. and Smeal (2003). Research, Development and Implementation of  Vetiver System for Wastewater Treatment: GELITA Australia. Technical  Bulletin No. 2003/3. Pacific Rim Vetiver Network. Royal Development Projects Board, Bangkok, Thailand.

Truong, P., Truong, S. and Smeal, C. (2003a). Application of the Vetiver system in  computer modelling for industrial wastewater disposal. Proc. Third International Vetiver Conf. China, October 2003.

Vieritz, A., Truong, P., Gardner, T. and Smeal, C. (2003). Modelling Monto Vetiver  growth and nutrient uptake for effluent irrigation schemes. Proc. Third International Vetiver Conf. China, October 2003.

Wagner, S., Truong, P, Vieritz, A. and Smeal, C. (2003). Response of Vetiver grass  to extreme nitrogen and phosphorus supply. Proc. Third International Vetiver Conf. China, October 2003.

Wensheng Shu (2003) Exploring the Potential Utilization of Vetiver in Treating  Acid Mine Drainage (AMD). Proc. Third International Vetiver Conf. China,  October 2003.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s