Yuli Triastuti

FITOREMEDIASI TANAH TERCEMAR MERKURI (Hg2+) MENGGUNAKAN TANAMAN AKAR WANGI (Vetiver zizanioides) PADA LAHAN EKS-TPA KEPUTIH, SURABAYA

PHYTOREMEDIATION CONTAMINATED LAND BY MERCURY (Hg2+) USING VETIVER PLANT (Vetiver zizanioides) ON LANDFILLS AREA KEPUTIH, SURABAYA

Yuli Triastuti
Jurusan Teknik Lingkungan-FTSP-ITS
*e-mail: triastuti.yuli@yahoo.co.id

Download file: ITS-Undergraduate-15478-3306100014-Paper  

Abstrak

Sejak lahan eks-TPA Keputih Surabaya ditutup pada tahun 2001, lahan seluas 42 hektare ini belum bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain. Lantaran kandungan berbagai logam beratnya yang cukup tinggi, tanaman sulit untuk tumbuh.. Salah satu kandungan logam berat yang utama adalah Hg (Reid Crowther International, 2002 dalam Mangkoedihardjo, 2009) yang bersumber dari buangan industri dan sebagian dari buangan rumah tangga. Pencemar tempat pembuangan sampah terkandung dalam lindi dan kompos sebagai hasil penguraian sampah tertimbun. Pelindian inilah yang dapat memindahkan logam berat tersebut dari lapisan perakaran ke lapisan tanah di bawahnya, sehingga tanah menjadi tercemar. Tanah tercemar logam berat perlu diremediasi. Salah satu metode remediasi adalah fitoremediasi. Dalam penelitian ini akan diteliti kemampuan tanaman akar wangi (Vetiveria zizanioides) dalam mereduksi kadar merkuri dalam tanah. Untuk meningkatkan potensi tanaman tersebut meremediasi merkuri, maka tanah tempat tumbuh tanaman akan dicampur dengan kompos Media tanam yang digunakan adalah tanah murni TPA Keputih, kompos, dan limbah buatan merkuri (Hg2+). Tanaman uji yang digunakan adalah akar wangi (Vetiveria zizanioides). Penelitian dilakukan selama 28 hari dengan variasi penelitian (i) Komposisi media yaitu tanah tercemar (TT) logam merkuri dan kompos (K) dengan perbandingan 100% TT : 0 %K dan 90% TT : 10%K. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa komposisi media tanam 90% tanah tercemar + 10% kompos lebih efisien dalam membantu tanaman akar wangi memulihkan tanah yang tercemar merkuri yaitu sebesar 65,252%..

Kata kunci : fitoremediasi, kombinasi kompos, merkuri (Hg2+), tanaman akar wangi (Vetiveria zizanioides)

Abstract

Since landfills area Keputih Surabaya closed in 2001, this 42 hectares unimproved land could not be used. Because its contain various high scale heavy metals materials, make the plants difficult to grow. One of the main content of heavy metals is Hg (Reid Crowther International, 2002 in Mangkoedihardjo, 2009) that originating from industrial waste and some parts of household waste. Landfills pollutants are from leachate and compost as a result of decomposition of buried waste. This leaching can remove heavy metals from the roots into the soil layer below it, so the soil becomes contaminated. Soil contaminated with heavy metals needs to remediated. One of the remediation method is phytoremediation. This research examined the ability of vetiver plant (Vetiveria zizanioides) in reducing mercury levels in the soil. To increase the plants potential ability to remediate the mercury, plant’s soil will be mixed with compost. Planting medium used were Keputih landfill pure land, compost, and artificial mercury waste (Hg2+). Plant samples used are vetiver (Vetiveria zizanioides). The study was conducted for 28 days with a variety of research (i) the composition medium is the contaminated soil (TT) metallic mercury and compost (K) with a ratio of 100% TT: 0% K and 90% TT: 10% K. The result showed that the composition of the planting medium 90% of contaminated soil + 10% compost is 65.252% more efficient in helping vetiver plant recover mercury-contaminated soil.

Key words: phytoremediation, a combination of compost, mercury (Hg2+), vetiver plant (Vetiveria zizanioides)

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Seiring dengan meningkatnya angka pertumbuhan manusia, jumlah sampah yang dihasilkan pun kian bertambah. Hal ini dapat dilihat pada lahan pembuangan sampah yang sudah tidak mampu menampung sampah-sampah tersebut. Inilah yang menyebabkan banyak perkotaan di Indonesia menghadapi masalah pengelolaan tempat pembuangan sampah, yang tidak dioperasikan dan ditutup (post closure). Penutupan operasi pembuangan sampah tidak serta merta membebaskan lahan setempat bebas pencemaran (Mangkoedihardjo, 2009). Bahkan, lahan bekas pembuangan sampah masih menyimpan pencemar dalam waktu puluhan tahun.

Begitu juga yang terjadi pada lahan eks TPA Keputih Surabaya. Sejak ditutup pada tahun 2001, lahan 42 hektare tersebut belum bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain. Lantaran kandungan berbagai logam beratnya yang cukup tinggi, tanaman sulit untuk tumbuh.. Kandungan logam berat yang utama adalah Pb, Cd, dan Hg (Reid Crowther International, 2002 dalam Mangkoedihardjo, 2009) yang bersumber dari buangan industri dan sebagian dari buangan rumah tangga, seperti baterai, logam-logam, dan lain-lain Pencemar tempat pembuangan sampah terkandung dalam lindi dan kompos sebagai hasil penguraian sampah tertimbun. Pelindian inilah yang dapat memindahkan logam berat tersebut dari lapisan perakaran ke lapisan tanah di bawahnya, sehingga tanah menjadi tercemar. Oleh karena itu upaya peningkatan biodegradabilitas lindi perlu dilakukan yaitu dengan memecah rantai karbon menjadi lebih biodegradable.

Adapun pencemaran pada lahan eks-TPA Keputih mampu memberikan dampak buruk bagi kesehatan manusia, khususnya bagi penduduk di dekat TPA. Di alam, merkuri terdapat dalam bentuk unsur merkuri (Hg0), merkuri monovalen (Hg+1), dan bivalen (Hg+2). Toksisitas merkuri di dalam tanah untuk tanaman sebesar 0,05 ppm (Gosh dan Singh, 2005). Dalam rantai makanan, logam berat dapat mengancam kehidupan manusia karena jika terakumulasi di dalam tubuh dapat mengakibatkan kelumpuhan bahkan kematian (Palar, 2004).

Tindakan pemulihan perlu dilakukan agar tanah yang tercemar dapat digunakan kembali dengan aman. Banyak teknologi yang digunakan untuk remediasi tanah yang tercemar logam berat. Salah satunya adalah fitoremediasi, yaitu penggunaan tumbuhan untuk menghilangkan polutan dari tanah atau perairan yang terkontaminasi (Alam, 2009). Pada penelitian ini tanaman yang akan dimanfaatkan untuk proses remediasi adalah tanaman akar wangi (Vetiveria zizanioides). Tanaman akar wangi diindikasikan dapat meremediasi logam berat (termasuk Hg) karena merupakan tanaman (Alam, 2009). Dengan dilakukannya proses fitoremediasi ini diharapkan dapat memulihkan kualitas lahan bekas pembuangan sampah lebih cepat dibanding tanpa proses tersebut dan sekaligus sebagai upaya pelestarian lingkungan yang melibatkan keragaman biotik.

1.2. Perumusan Masalah

Perumusan masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah :

1) Apakah tanaman akar wangi (Vetiveria zizanioides) mempunyai kemampuan dalam memulihkan tanah tercemar merkuri (Hg2+) pada lahan eks-TPA Keputih, Surabaya?
2) Apakah logam berat merkuri (Hg2+) memberikan pengaruh terhadap tanaman akar wangi (Vetiveria zizanioides)?
3) Berapa besar laju serapan konsentrasi Hg yang paling tepat pada tanaman akar wangi (Vetiveria zizanioides) dalam memulihkan tanah tercemar merkuri (Hg2+)?
4) Apakah penambahan kompos sebagai stimulan akan mempengaruhi penurunan merkuri (Hg2+) dalam tanah?

1.3. Tujuan Penulisan

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1) Mengkaji kemampuan tanaman akar wangi (Vetiveria zizanioides) dalam memulihkan tanah tercemar merkuri (Hg2+) pada lahan eks-TPA Keputih, Surabaya.
2) Menganalisis pengaruh logam berat merkuri (Hg2+) terhadap tanaman akar wangi (Vetiveria zizanioides).
3) Menentukan besar laju serapan konsentrasi Hg yang paling tepat pada tanaman akar wangi (Vetiveria zizanioides) dalam memulihkan tanah tercemar merkuri (Hg2+).
4) Menganalisis pengaruh penambahan kompos sebagai stimulan dalam penurunan merkuri (Hg2+) pada tanah.

1.4. Landasan Teori

Fitoremediasi adalah penggunaan tumbuhan untuk menghilangkan, memindahkan, menstabilkan, atau menghancurkan bahan pencemar baik itu senyawa organik maupun anorganik. Fitoremediasi merupakan metode yang murah, efesien, dan ramah lingkungan (Schnoor et al, 2003).

Secara genetis, spesies tumbuhan sangat beragam dalam kemampuannya untuk toleran atau tidak toleran terhadap keracunan unsur logam non esensial seperti Pb, Cdm Hg, Al dan lain sebagainya (Salisbury dan Ross, 1995). Tanaman akar wangi (Vetiver zizanioides) disebut merupakan tanaman hiperakumulator logam yang memiliki sifat daya penyerapan atau akumulasi yang tinggi terhadap logam berat di jaringan tumbuhan (MacGrath et al., 1993: Komar et al., 1995).

2. METODOLOGI

Studi Literatur

Gambar 1. Kerangka Penelitian

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Penurunan Kandungan Konsentrasi Merkuri (Hg2+) Di Dalam Media Tanam

Presentase penurunan konsentrasi merkuri (Hg2+) meningkat seiring dengan semakin lamanya waktu yang digunakan proses fitoremediasi oleh tanaman untuk menyerap logam berat dalam tanah.

Selama 28 hari masa perlakuan tanaman akar wangi (Vetiveria zizanioides), kadar konsentrasi dalam media tanam menurun setelah dianalisa dengan AAS. Hal ini dapat terjadi dikarenakan akumulasi logam berat merkuri (Hg2+) oleh tanaman akar wangi (Vetiveria zizanioides) dan juga karena adanya proses rhizodegradasi. Rhizodegradasi merupakan bagian dari proses fitoremediasi dengan pelepasan produk ke zona akar. Logam berat diuraikan mikroba dalam tanah yang diperkuat oleh fungi, yeast dan zat-zat keluaran akar (Gosh dan Singh, 2005). Penurunan konsentrasi merkuri (Hg2+) dalam tanah dapat dijadikan indikator terjadinya proses kompleksasi logam oleh zat-zat keluaran akar (eksudat).

Selain itu, menurut Pivetz (2001) yang dipublikasikan oleh EPA (Environmental Protection Agency), penurunan merkuri (Hg2+) dalam tanah juga karena disebabkan oleh kemampuan merkuri (Hg2+) sebagai jenis logam berat yang mampu menguap ke atmosfer, dimana polutan merkuri (Hg2+) dari dalam tanah yang diserap oleh tanaman akar wangi (Vetiveria zizanioides) ditransformasikan dan dikeluarkan dalam bentuk uap cair ke atmosfer dan kemadian diserap oleh daun. Proses ini yang kemudian disebut fitovolatilisasi (Follage Filtration).

Penurunan konsentrasi merkuri (Hg2+) dalam tanah yang lebih besar terjadi pada reaktor dengan media tanam 90% tanah tercemar + 10% kompos. Hal ini menandakan bahwa penambahan kompos sebagai stimulan mampu meningkatkan proses fitoremediasi. Selain karena jumlah kombinasi tanah dan kompos yang tepat untuk meningkatkan daya biodegradable tanah tercemar, kadar anion bahan kompos yang digunakan juga memiliki kapasitas serapan baik (Hasil analisis Balai Besar Laboratorium Kesehatan, 2010 ) sehingga mampu melakukan pengikatan kation logam dalam tanah.

Persentase penurunan konsentrasi merkuri (Hg2+) terus meningkat hingga akhir pengamatan. Di akhir hari pengamatan, persentase penurunan konsentrasi merkuri (Hg2+) tertinggi terjadi pada reaktor dengan media tanam 90% tanah tercemar + 10 % kompos sebesar 65,252%. Sedangkan

pada media tanam 100% tanah tercemar, persentase penurunan konsentrasi merkuri (Hg2+) sebesar 52,752%.

Akumulasi Konsentrasi Merkuri Pada Tanaman Setiap tanaman memiliki perbedaan sensivitas terhadap logam berat dan memperlihatkan kemampuan yang berbeda dalam mengakumulasi logam berat.Kemampuan penyerapan dan akumulasi logam berat oleh tumbuhan dibagi menjadi tiga proses, yaitu (Mangkoedihardjo, 2005; Gosh dan Singh, 2005):

⇒ Penyerapan presipitat logam berat oleh akar. Presipitat polutan merkuri (Hg2+) dalam tanah diimobilisasi oleh akar tanaman dengan cara diakumulasi, diadsorpsi pada permukaan akar dan diendapkan dalam zona akar. Proses inilah yang kemudian disebut fitostabilisasi.
⇒ Dari akar ini, merkuri (Hg2+) ditranslokasikan menuju ke arah organ-organ lain seperti batang dan daun yang disebut proses fitoekstrasi (Wang, 2004).
⇒ Lokalisasi logam berat pada bagian jaringan tertentu untuk menjaga agar tidak menghambat metaboolisme tumbuhan tersebut.. Pada masing-masing organ, polutan yang diserap segera diuraikan melalui proses metabolisme tumbuhan secara enzimatik. Proses ini disebut fitodegradasi. Enzim yang berperan pada proses ini biasanya adalah dehaloganases, oxygenases, dan reductases.

Dalam menyerap logam berat, tumbuhan membentuk suatu enzim reduktase di membran akarnya yang berfungsi mereduksi logam. Dari akar kemudian merkuri (Hg2+) harus diangkat melalui jaringan pengangkut, yaitu xilem dan floem, ke bagian lain tumbuhan. Untuk meningkatkan efisiensi pengangkutan, logam diikat oleh molekul khelat (molekul pengikat). Setelah itu, merkuri diakumulasikan di seluruh bagian tanaman akar wangi (Vetiveria zizanioides) pada bagian akar, batang, dan daun (Gosh dan Singh, 2005).

Pada penelitian ini, pengambilan sampel tumbuhan akar wangi (Vetiveria zizanioides) dilakukan setiap tujuh hari sekali dengan cara mencabut 1 bonggol ruas dalam setiap tanaman uji. Masing-masing tanaman dalam reaktor polybag umumnya terdiri dari 3 – 4 bonggol ruas. Dari tanaman ini, bagian akar, batang, dan daun dihaluskan menjadi satu sebagai hasil rata-rata kemudian dianalisis kandungan logam berat merkurinya yang dilakukan di Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya dengan metode AAS (Atomic Adsorption Spectrofotometer). Data hasil pengukuran logam merkuri (Hg2+) dalam tanaman akar wangi (Vetiveria zizanioides) terangkum pada Tabel 4.3.

Faktor yang mengendalikan akumulasi merkuri (Hg2+) di tanaman adalah konsentrasi dan jenis logam (Hindersah, 2004). Berdasarkan Tabel 1 dapat ditunjukkan bahwa daya serap akumulasi logam Hg pada tanaman semakin meningkat seiring dengan meningkatnya waktu penanaman. Pada akhir pengamatan tingkat akumulasi logam merkuri (Hg2+) lebih besar daripada di awal pengamatan untuk semua konsentrasi. Sedangkan, tingkat akumulasi pada konsentrasi 10 mg/kg lebih besar daripada konsentrasi 1 mg/kg, 3 mg/kg, dan 6 mg/kg untuk semua komposisi media tanam. Hal ini dikarenakan tanaman dapat mengeluarkan enzim dan eksudat yang mampu mendegradasi kontaminan organik dalam tanah. Selain itu, secara fisik tanaman dapat memindahkan polutan dengan mengabsorpsi atau memindahkan polutan ke dalam jaringan, kemudian mentransformasikan polutan tersebut.

Dari Gambar 6 dan 7, dapat diamati bahwa akumulasi logam merkuri (Hg2+) terbesar terjadi pada media 90% tanah tercemar + 10% kompos pada konsentrasi tertinggi sebesar 1,208 mg/kg dibandingkan dengan media 100% tercemar sebesar 1,145 mg/kg. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan kompos mampu membantu tanaman akar wangi (Vetiveria zizanioides) dalam menyerap merkuri (Hg2+).

Laju Serapan Merkuri Oleh Tumbuhan

Berdasarkan hasil perhitungan laju serapan merkuri pada tanaman, maka nilai laju serapan konsentrasi Hg yang paling tepat pada tanaman akar wangi (Vetiveria zizanioides) dalam memulihkan tanah tercemar merkuri ini adalah sebesar 5,08536 g m-2 tahun-1.

4. KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa:

  1. Tanaman akar wangi (Vetiveria zizanioides) mempunyai kemampuan dalam memulihkan tanah tercemar merkuri (Hg2+) pada lahan eks-TPA Keputih, Surabaya dengan cara menyerap dan mengakumulasikan pada bagian tanaman. Akumulasi logam merkuri (Hg2+) tertinggi di bagian akar terjadi pada konsentrasi 6 mg/kg sebesar 0,698 mg/kg untuk media 100% tanah tercemar dan 0,822 mg/kg untuk media 90% tanah tercemar + 10% kompos.
  2. Adanya logam berat merkuri (Hg2+) berpengaruh pada tanaman akar wangi (Vetiveria zizanioides) seperti tinggi tanaman, morfologi daun, dan berat kering tanaman. Pertumbuhan tanaman dengan konsentrasi 10 mg/kg mengalami pengaruh hambatan pertumbuhan paling besar daripada tanaman dengan konsentrasi 1 mg/kg , 3 mg/kg, 6 mg/kg.
  3. Nilai laju serapan konsentrasi Hg yang paling tepat pada tanaman akar wangi (Vetiveria zizanioides) dalam memulihkan tanah tercemar merkuri ini adalah sebesar 5,08536 g m-2 tahun- pada konsentrasi 10 mg Hg/kg..
  4. Persentase penurunan konsentrasi merkuri (Hg2+) mencapai 55,752% pada media 100% tanah tercemar dan 65,252% pada media 90% tanah tercemar + 10% kompos. Penambahan kompos sebagai stimulan memberikan  pengaruh yang signifikan terhadap penurunan konsentrasi merkuri (Hg2+) dalam tanah.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Aiyen, Dr, Sc, Agr. 2005. Ilmu Fitoremediasi Untuk Atasi Pencemaran Tanah di Aceh dan Sumatera Utara (Tambahan Catatan Untuk Prof. Dr. Azwar Ma As).

[Kompas,4Maret2005].http:www.kompas.com/kompascetak/0503/041/ilpeng/1592821.htm.

Alloway, B.J and D.C. Ayres. 1997. Chemical Principles of Environmental Pollution, 2nd Edition, Blackie Academic and Professional, Chapman & Hall, London.

Anderson, T. 1997. Development of a Phytoremediation Handbook: Consideration For Enhancing Microbial Degradation In The Rhyzosphere. http://es.epa.gov/ncerqa/ru/index.html.

Baker, A. J. M. 1999. Metal Hyperaccumulator Plant: A Biological Rescurces For Explotation In The Phytoextraction of Metal – Polluted Soils. URL:http//ibewww.epfl.ch/cost837/wG2_abstract.html

Blaylock, M.J., Salt, D.E., Dushenkov, S. Zakharova, O., Gussman, C., Kapulnik, Y., Ensley, B.D., Raskin, I. 1997. Enhanced Accumulation of Pb In India mustard By Soil-Applied Ehelating Agents. Environ Sci Technol. 31: 860-865.

Brooks, R. 1977. Copper and Cobalt Uptake be Haumaniastrum Species. Plant Soil, 48: 541-

Brown SL, Chaney RL, Nagle JS, Baker AM. 1995a. Zinc and Cadmium Uptake by Hyperaccumulator Thlaspi caerulescens and Metal Tolerant Silene Vulgaris Grown on Sludge a Mended Solids. Environ Sci Technol, 29: 1581-1585.

Cluis, Corrinne.2004. Junk-Greedy Greens: Phytoremediation As a New Option For Soil  Decontamination. Biotech Journal. Vol 2: 61-67.

Connel, D.W., G.J. Miller. 1984. Chemistry and Ecotoxicology of Pollution. John Wiley Sons, New York, PP. 44.

Darmono. 1995. Logam Dalam Biologi Makhluk Hidup. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Pres).

Gardner, P.D., Pearce, R.B., and Mitchell, R.L. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Jakarta: UIPress.

Ghosh, M., S. P. Singh. 2005. A Review on Phytoremediation of Heavy Metal and Utilization of Its By Product. Applied Ecology and Environmental Research. 3 (2) : 1-18.

Henry, J. R. 2000. In An Overview of Phytoremediation of Lead and Mercury. NINEMS Report. Washington, D. C. PP.3 – 9.

ITCR. 2000. Technical and Regulatory Guidance Document, Pyhtotechnology. Interstate Technology Regulatory Council USA.

Jeyasingh, H and Ligy Philip. 2009. Bioremediation of Chromium Contaminated Soil: Optimization of Operating Parameters Under Laboratory Condition. Journal of Hazardous Materials, B118: 113-120.

Khan, abdul G. 2005. Role of Microbes In The Rhizospheres of Plant Growing on Trace Metal Contaminated Soils In Phytoremediation. Journal of Trace Element in Medicine and Biology, 18: 355-364.

Kumar, P.B.A.N, Dushenkov, V., Motto, H. And Raskin, I. 1995. Phytoextraction: The Use of Plants to Remove Heavy Metals From Soils. Environ. SciTechnol, 29: 1232-1238.

Lasar, M.M., Baker, AJM., Kochian, L.V. 1998. Altered Zn Compartmentation In The Root Symplasm And Stimulated Zn Absorption Into The Leafas Mechanism Involved In Zn hyperaccumulation in Thlaspi Caurulescens. J. Plant Physiol. 118: 875-883.

Mangkoedihardjo, S. 2005. Fitoteknologi dan Ekotoksikologi dalam Desain Operasi Pengomposan. Seminar Nasional Manajemen Penanganan Limbah Padat dan Cair Berkelanjutan. ITS, 27 September 2005.

Mangkoedohardjo, S. Ganjar Samudro. 2010. Fitoteknologi Terapan. Yogyakarta: Graha ilmu.

Mc Grath, S.P., Sidoli, M.D., Baker, A.J.M. and Reeves, R.D 1993. The Potential For The Use of Metal accumulating Plant for The In Situ Decontamination of Metal Polluted Soils. In Integrated Soil and Sediment Research, H.J.P. Eijsackers and T. Hamers (ED), Kluwer Academic Publishers, Dordrecht, The Netherland, hal. 673-674.

Oemirat, J. 2003. Toksikologi Lingkungan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Palar, H. 1994. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. Jakarta: Rineka Cipta.

Pellet MD, Grunes DL, Kochian LV. 1995. Organic Acid Exudation as an Aluminium Tolerance Mechanism in Maize (Zea mays L). Planta. 196; 788-795.

Salisbury, Frank B., Cleon W Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan: Jilid 3. Diterjemahkan oleh Diah R. lukman dan Sumaryono. Bandung: Penerbit ITB.

Schnoor, J.L and Mc Cutcheon, S. C. 2005. Phytoremediation Transformation and Control of Contaminants. Wiley-Interscience Inc, USA.

Surahmaida. 2009. Fitoremediasi Tanah Tercemar logam Berat Pb dan Cd dengan Menggunakan Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas Linn). Program Magister, Teknik Lingkungan: ITS Surabaya.

Tiller, KG. 1999. Heavy Metals In Soil and Their Significance. Advances In Soil Science 9: 113- 142.

Thomas, J.M, C.H. Ward, R.L. Raymond, J.T. Wilson, dan R.C. Loehr. 1992. Bioremediation. Encyclopedia Of Microbiology. Volume 1. Academic Press. Austin.

Wang, Q.R., Cui Y.S., liu X.M., Dong Y.T., Christine P. 2003. Soil Contamination and Plant uptake of Heavy Metals at polluted Sited in China. J. Environ, Sci. Health, Vol. 38, No 5, hal. 823-838.

Widowati, W. Sastiono, A. Jusuf, R. 2008. Efek Toksik Logam-Pencegahan dan Penanggulangan Pencemaran. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s