Pemkab Pekalongan

Potensi Ekonomi Akar Wangi dan julukannya sebagai “Golden Java Vetiver Oil”

Sumber: http://www.pekalongankab.go.id/ 15 November 2011 

Minyak akar wangi mendapat julukan “golden java vetiver oil” dalam dunia perdagangan internasional. Minyak ini memiliki aroma yang lembut dan halus karena mengandung senyawa kimia yang disebut vetiverol. Minyak akar wangi secara luas digunakan untuk pembuatan parfum, bahan kosmetik, pewangi sabun, dan obat-obatan, serta pembasmi, dan pencegah serangga. Indonesia memasok 60% kebutuhan minyak asiri dunia. Volume ekspor minyak akar wangi menduduki posisi kedua setelah minyak nilam.

Akar wangi diKabupaten Pekalongan selama ini telah dijadikan sebagai bahan dalam pembuatan kerajinan pintal/tenun akar wangi yang dikombinasikan dengan benang. Sentra kerajinan tenun akar wangi di Pekalongan dapat dijumpai di Pakumbulan Kecamatan Buaran. Sedangkan potensi untuk mengusahakan sendiri tanaman akar wangi agar dapat diolah menjadi kerajinan tenun/pintal maupun menjadi minyak akar wangi masih belum umum dibudidayakan oleh masyarakat.

Dilihat dari geografis Kabupaten Pekalongan yang memiliki kemiripan lahan pegunungan dan DAS sebagai tempat tumbuh ideal untuk akar wangi, tentunya masyarakat dapat mencoba melakukan upaya pemberdayaan akar wangi ini dalam sekala yang lebih besar agar dapat memetik keuntungan sebagaimana budidaya nilam yang selama ini sudah dilakukan. Hal ini karena besarnya permintaan dan kebutuhan minyak akar wangi di pasaran dunia, tentu menjadi hal yang patut untuk diupayakan dan dipelajari lebih lanjut sebagaimana yang sudah dilaksanakan di Kabupaten Garut , Wonosobo dan wilayah lainnya di Pulau Jawa dengan membudidayakan akar wangi menjadi potensi investasi yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi.

Komoditas Tanaman Akar Wangi

Informasi Umum

Akar wangi dikenal dengan beberapa nama di Indonesia, seperti : useur (Gayo), urek usa (Minangkabau), hapias (Batak), narwastu atau usar (Sunda), larasetu (Jawa), karabistu (Madura), nausina fuik (Roti), tahele (Gorontalo), akadu (Buol), sere ambong (Bugis), babuwamendi (Halmahera), garamakusu batawi (Ternate), baramakusu butai (Tidore).

Ciri-ciri Fisik

Akar wangi (Vetiveria zizanoides Stapt) termasuk famili Gramine atau rumputrumputan. Memiliki bau yang sangat wangi, tumbuh merumpun lebat, akar tinggal bercabang banyak berwarna merah tua. Tangkai daun tersembul dari akar tinggal sampai mencapai 200 cm. Daun akar wangi berwarna kelabu, tampak kaku, panjangnya mencapai 100 cm dan tidak mengandung minyak. Bunganya berwarna hijau atau ungu.

Syarat tumbuh dan Budidaya

Cara memperbanyak dengan biji, memisahkan anak rumpun atau memecah akar tinggal yang telah bertunas. Ditanam dengan sistem monokultur atau tumpangsari. Toleran tumbuh di ketinggian 500 – 1.500 m dpl, curah hujan 1.500 – 2.500 mm per tahun, suhu udara lingkungan 17 – 27o C .

Membutuhkan sinar matahari yang cukup dan lahan terbuka atau tidak terlindung oleh tanaman lain. Kondisi lahan terbaik adalah tanah berpasir atau daerah aliran abu gunung berapi pada lereng-lereng bukit karena akar tanaman akan mudah dicabut pada saat panen sehingga akar tidak ada yang tertinggal. Waktu penanaman setiap saat sepanjang tahun, namun yang terbaik adalah di awal musin hujan. Pemangkasan dilakukan pada saat usia tanaman 6 bulan untuk meningkatkan hasil sampai 10 %.

Pemanenan dapat dilakukan setelah tanaman berumur 8 bulan, namun untuk memperoleh jumlah akar yang maksimum dan mutu minyak yang tinggi maka pemanenan sebaiknya dilakukan setelah tanaman mencapai umur 14 bulan – 16 bulan. Jika terlalu tua maka kandungan minyak atsiri akan mulai menurun. Hasil panen per hektar rata-rata sekitar 15 – 20 ton basah.
Perdagangan Minyak akar wangi

P. Jawa telah menjadi pengekspor minyak akar wangi sejak sebelum perang dunia II yang ditujukan terutama ke Jerman, Perancir, Inggris. Dewasa ini selain ke Eropa juga di ekspor ke USA, Jepang dan Singapura. Kebutuhan minyak akar wangi dunia mencapai sekitar 300 – 630 ton setiap tahun, Indonesia hanya mampu memenuhi sekitar 20 % saja.

Di Pulau Jawa, tanaman akar wangi banyak diusahakan di Garut (daerah penghasil utama minyak akar wangi), Wonosobo, Pasuruan danLumajang. Negara yang mengusahakan secara komersial untuk kepentingan penyulingan hanya Indonesia, khususnya P. Jawa. Ada sebagian kecil juga di Kepulauan Reunion.

Dalam perdagangan minyak akar wangi hanya dikenal dua nama, yaitu java vetiver oil (asal P. Jawa) dan reunion island vetiver oil (asal Kep.Reunion). Beberapa negara pembeli minyak akar wangi Indonesia adalah AS, Jepang, Singapura, Malaysia, Pakistan, Swiss, India, Inggris,Perancil, Belanda dan Spanyol.

Mutu Minyak Akar Wangi

Persyaratan mutu minyak akar wangi (Indonesia – SP-8-1985) :

• Warna : Kuning pucat sampai coklat kemerahan
• Berat jenis pada 25o C : 1,515 – 1,530
• Bilangan ester : 5- 25
• Bilangan ester setelah asetilasi : 100 – 150
• Kelarutan dalam alkohol 95 % : 1:1 dan seterusnya, jernih
• Alkohol tambahan : negatif
• Minyak lemak : negatif
• Minyak pelikan : negatif
• Rekomendasi untuk bau : segar dan khas minyak akar wangi
• Rekomendasi untuk putaran optik : 17o – 46o

Persyaratan mutu minyak akar wangi menurut Essential Oil Association of USA (EOA) :

• Penampilan dan bau : cairan tidak gelap, berwarma coklat sampai coklat ke merahan, dan bau aromatis
• Berat jenis pada 25o C : 0,984 – 1,035
• Putaran optik : 15o – 45o
• Indeks bias pada 25o C : 1,5200 – 1,5280
• Kelarutan dalam alkohol 80% : larut dalam 1 – 3 volume, seterusnya terjadi opalensi

Kegunaan minyak akar wangi

Komponen yang menyusun minyak akar wangi yaitu : vetiveron, vetiverol, vetivenil vetivenal, asam palmitat, asam benzoat, dan vetivena.
Banyak digunakan sebagai bahan baku kosmetik, parfum, dan bahan pewangi sabun.
Minyak akar wangi mempunyai bau yang menyenangkan, keras, tahan lama, dan disamping itu juga berfungsi sebagai zat pengikat bau (fixative)
Karena sifatnya yang susah menguap maka digunakan sebagai pengikat minyak wangi lain dalam satuan parfum agar wanginya tahan lama.

Proses produksi dan perbaikan mutu minyak akar wangi

Proses peroduksi minyak akar wangi dilakukan dengan penyulingan, baik dengan uap maupun uap yang bertekanan tinggi. Rendemen rata-rata minyak akar wangi 1,5%

Peluang Investasi Minyak Akar Wangi

Usaha agribisnis minyak akar wangi sudah mulai dilaksanakan sejak lama di Kabupaten Garut, yaitu sejak Perang Dunia II, tepatnya mulai tahun 1918 komoditas minyak akar wangi di Indonesia tercatat sebagai komoditas ekspor. Tahun 1960 para pengusaha Garut mulai mencoba mendirikan penyulingan, walaupun dengan peralatan yang sangat sederhana, namun hasilnya dapat diekspor.

Minyak akar wangi dari Kabupaten Garut memiliki kualitas yang sangat baik sehingga mendapat julukan “Golden Java Vetiver Oil”. Minyak akar wangi merupakan produk industri kecil berbasis sumber daya lokal yang berorientasi pasar ekspor. Dengan meningkatnya permintaan dunia sekitar 630 ton pertahun, hal ini menjadi tantangan bagi kabupaten Garut yang merupakan daerah andalan pengekspor minyak akar wangi di Indonesia.

Kondisi lingkungan sumberdaya alam Kabupaten Garut dengan daya dukung agroklimat yang cukup baik, sangat memungkinkan untuk meningkatkan produksi minyak akar wangi baik kualitas maupun kuantitasnya. Penetapan kawasan pengembangan budi daya akar wangi seluas 2.400 Ha melalui Keputusan Bupati Garut nomor 520 Tahun 1990, dan Penetapan Konservasi Terpadu Budi daya akar wangi seluas 730 Ha di Kabupaten Garut, dan adanya kerjasama dengan BPPT dan ITB dalam pengujian mutu juga dengan dikembangkannya program padat karya dalam rangka konservasi lahan pertanian akar wangi.

a. Karakteristik dan teknis produksi

Pola pertanaman akar wangi pada umumnya mono kultur dan tumpang sari dan tanaman akar wangi akan tumbuh baik pada ketinggian antara 700‐1600 mdpl. Tanah yang baik untuk pertumbuhan akar wangi adalah tanah yang tidak padat (gembur) atau tanah yang berpasir seperti tanah yang mengandung abu vulkanik. Pada tanah yang demikian akar wangi akan tumbuh dengan baik dan mudah dicabut pada waktu panen sehingga tidak meninggalkan sisa‐sisa akar di dalam tanah.

Pemotongan daun pada waktu tanaman berumur 5 (lima) bulan akan berpengaruh baik bagi pertumbuhan akar wangi, untuk satu rumpun tanaman dapat membentuk anakan sehingga akarnya akan terdiri dari akar‐akar kecil yang amat banyak dan berwarna kuning terang.

b. Bibit dan Pupuk

Bibit yang ditanam (bonggolnya) adalah akar yang berasal dari tanaman yang tidak berbunga dengan jarak tanaman biasanya antara 0,5m x 0,75m sehingga untuk 1 Ha lahan diperlukan bibit sebanyak ± 10.000 rumpun.

Pupuk yang digunakan adalah jenis pupuk urea, TSP, dan ZA dengan dosis masing‐masing adalah 200 kg /Ha. Penamanan akar wangi di Kabupaten Garut pada umumnya ditanam di lereng gunung berbukit‐bukit dengan kemiringan yang cukup besar (15%) dan umumnya berlokasi di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS Cimanuk).

c. Teknik produksi

Tanaman akar wangi yang dipanen rata‐rata berumur antara 12 sampai 14 bulan,karena kalau tanaman tersebut di panen pada umur lebih atau kurang daru umur tersebut, maka akan berpengaruh pada rendemen sehingga berpengaruh pula terhadap kualitas dan kuantitasnya.

d. Proses produksi akar wangi

Untuk memperoleh hasil minyak akar wangi dapat ditempuh dengan melelui 3 (tiga) cara penyulingan (destilasi) yakni:
• Destilasi dengan air
• Destilasi dengan uap langsung
• Destilasi dengan air dan uap (dikukus)

Adapun cara yang ditempuh oleh para petani/pengrajin industri akar wangi di Kabupaten Garut adalah destilasi dengan air dan uap atau dikukus. Peralatan yang dibutuhkan adalah :

1. Bejana/Katel dengan ukuran :

  • Diameter : 1,5 m
  • Tinggi : 4,2 m
  • Kapasitas : 1600 kg bahan baku
  • Tebal Plat : 6 mm

2. Tanki Bahan Bakar : Kapasitas 400 liter

3. Tangki Air Umpan Ketel : Kapasitas 400 liter

4. Bak Pendingin berukuran :

  • Panjang : 3,0 m
  • Lebar : 3,0 m
  • Tinggi : o,75 m

5. Bak Penampung : Kapasitas 20 liter

e. Cara pengolahan

Kebutuhan air umpan ketel untuk awal operasi dibutuhkan sebanyak 3,5 m3 yang secara langsung dimasukan kedalam ketel untuk selanjutnya air umpan ketel akan ditambah setiap 2 jam sekali sebanyak kurang lebih 0,4 m3 secara otomatis,dimana tekanan yang dibutuhkan untuk mengalirkan air ke ketel diperoleh dari tekanan yang dihasilkan dari ketel.

Penyediaan Bahan Baku (Akar)

Akar yang akan disuling terlebih dahulu dibersihkan dari kotoran tanah yang menempel pada akar dengan cara dikibaskan,pembersihan tersebut biasanya di lakukan pada saat terjadi transaksi jual beli. Kemudian akar tersebut dilakukan pembersihan ulang pada saat setiap kali operasi.

Adapun tahapan‐tahapan operasi dalam proses penyulingan adalah sebagai berikut :

  • Masukan air umpan ketel kedalam ketel, tutup bagian tengah ketel dengan plat besi yang berlubang‐lubang,tingginya 0,2 m dari permukaan air dalam ketel ;
  • Nyalakan oven dengan laju aliran minyak tanah sebanyak 25‐28 liter/jam ;
  • Masukan bahan baku akar ke dalam ketel sampai penuh di atas plat besi yang berlubanglubang ;
  • Tutup bagian atas ketel dengan tutup yang tersedia, tutup ketel dilengkapi dengan pipa stainless steel 2 inci untuk mengelirkan uap destilat ;
  • Uap destilat yang dihasilkan mengalir melalui pipa dandidinginkan dalam bak pendingin, minyak akar wangi yang dihasilkan ditampung didalam bak penampung ;
  • Empat (4)jam pertama tambahkan air umpan ketel melalui sarana yang tersedia, alirkan air umpan ketel yang diperoleh dari tekenan uap air yang dihasilkan pada ketel. Untuk selanjutnya dilakukan setiap 2 jam sekali ;
  • Lamanya pengukusan antara 12‐15 jam dengan hasil minyak akar wangi antara 6‐12 kg untuk setiap 1.600 kg akar wangi.

f. Luas lahan dan realisasi produksi

Luas areal tanaman akar wangi Kabupaten Garut adalah seluas 2500 ha. Apabila kita melihat dari rata‐rata produksi akar wangi perhektar yaitu antara 9,56‐10 ton dengan luas seluruhnya 2500 ha, maka dapat hitung produksi akar wangi akan mencapai sekitar 25000 ton. Kalau rendamannya diambil rata‐rata 0,7 % maka dari jumlah akar tersebut akan menghasilkan minyak akar wangi sebanyak 122,5 ton. Namun hasil nyata yang dapat kita hitung untuk satu ketel saja yang berkapasitas 1600 kg dengan rendemen 0,7 maka dapat diperoleh minyak sebanyak 11,2 kg/ketel. Kalau 1 bulan dihitung 20 hari kerja, maka hasil per tahun dapat di hitung 20×12 bulanx11,2 kg+2.688 kg minyak akar wangi per tahun (untuk satu unit penyulingan).

Sumber Artikel :

http://ditjenbun.deptan.go.id/budtansim/images/pdf/akar%20wangi.pdf
http://www.garutkab.go.id/galleries/pdf_link/ekonomi/investasi/akar_wangi.pdf
http://www.trubus-online.co.id

Foto ilustrasi :

http://www.google.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s