Asep Sunandar dan Nanny Kusminingrum

Pengaruh Sistem Pengepakan terhadap Kualitas Rumput Vetiver 

Oleh: Asep Sunandar , Nanny Kusminingrum 

Balai Teknik Lalu Lintas dan Lingkungan Jalan Puslitbang Jalan dan Jembatan, Balitbang, Kementerian Pekerjaan Umum 

Sumber: http://btllj-pusjatan.com/ 

Abstrak 

Pemanfaatan rumput vetiver sebagai salah satu teknologi penanganan erosi atau longsoran dangkal jalan pada saat ini sudah mulai banyak diterapkan baik itu di luar negeri maupun di Indonesia. Keberhasilan dari teknologi ini salah satunya sangat ditentukan dengan kualitas rumput vetiver yang ada. Untuk lokasi aplikasi teknologi yang jauh dari tempat tersedia rumput vetiver, sistem pengiriman dan pengepakan bibit menjadi faktor yang berpengaruh dalam mempertahankan kualitas bibit agar tetap tumbuh dengan baik di lokasi aplikasi. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan sistem pengepakan yang tepat guna memperkecil angka kematian dari rumput vetiver yang dikirim sampai lokasi aplikasi. Metode yang digunakan adalah eksperimental laboratorium. Sistem pengepakan dirancang dalam wadah tertutup dan berlubang udara yang divariasikan terhadap lama penyimpanan sebagai pendekatan lamanya waktu pengiriman bibit rumput sampai lokasi aplikasi. Bibit vetiver yang disimulasi berupa bibit dalam polibag dan bibit slips. Dari hasil penelitian terlihat bahwa adanya perbedaan jumlah bibit yang bertahan hidup antara bibit slips dengan bibit slips yang dikemas dalam wadah tertutup dan wadah berlubang (ada ventilasi) atau bibit slips dengan bibit dalam polibag yang dikemas dalam wadah tertutup dan wadah berlubang (ada ventilasi). Bibit slips yang dikemas dalam wadah berlubang atau berventilasi menujukkan hasil relatif cukup baik apabila dibandingkan dengan yang dikemas dalam wadah tertutup. Begitu juga dengan bibit dalam polibag, dimana bibit yang dikemas dalam wadah berventilasi menunjukkan hasil yang lebih baik. Kriteria keberhasilan ditunjukkan dengan kecilnya % bibit vetiver yang mati. Apabila bibit slips dibandingkan dengan bibit dalam polibag, maka bibit dalam polibag menunjukkan hasil yang lebih baik dimana % kematian versus hari yang sama lebih kecil dibandingkan dengan slips.

Kata kunci: erosi, sistem pengepakan, rumput vetiver, kualitas, slips, polibags.

ABSTRACT

Utilization of vetiver grass as one of the treatment technology of shallow landslide erosion or road at this time already widely applied in both overseas and in Indonesia. The success of this technology, one of which is determined by the quality of vetiver grass available. For the location of technological applications that are far from places available vetiver grass, delivery systems and packaging of seeds to be an influential factor in maintaining the quality of the plant to keep growing well at the location of the application. Therefore, the purpose of this research is to obtain the proper packing system in order to reduce the death rate of vetiver grass that is sent to the location of the application. The method used was experimental laboratory. Packing system is designed in a sealed container and perforated air varied approaches to the long duration of storage as grass seed delivery to the location of the application. Vetiver seeds are simulated in the form of seeds and seedlings in polybags slips. It is shown that the difference in the number of seedlings that survive the seedling slips by slips seeds are packed in a sealed container and container holes (no ventilation) or seed slips with seedlings in polybags packed in a sealed container and container holes (no ventilation). Slips Seeds are packed in perforated or ventilated containers showed relatively good results when compared to those packaged in sealed containers. Likewise with seedlings in polybags, where seeds are packed in ventilated containers showed better results. Criteria of success indicated by the small % vetiver seedlings that died. If the seed slips compared with seedlings in polybags, the seedlings in polybags showed better results whereas% versus the same day of death is smaller than the slips.

Keywords: erosion, packaging system, vetiver grass, quality, slips, polibags.

PENDAHULUAN 

Sejalan dengan adanya fenomena pemanasan global dan perubahan iklim, pembangunan infrastruktur pekerjaan umum dan permukiman juga dihadapkan dengan tantangan seperti emisi, penurunan ketersediaan air, banjir, kekeringan, erosi/tanah longsor, dan intrusi air laut. Tantangan ini, pada masa datang akan semakin mengancam kualitas lingkungan hidup. Pembangunan infrastruktur pekerjaan umum dan permukiman pada dasarnya sudah berada dalam koridor pembangunan yang berwawasan lingkungan sebagaimana ditegaskan dalam Undang-undang (UU) sektor ke-PU-an.

Pada pelaksanaannya Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RP JMN) II 2010 – 2014 sudah tidak dapat dipungkiri bahwa dalam perkembangannya akan dihadapkan dengan tantangan terjadinya degradasi kualitas lingkungan yang saat ini pun telah mulai dirasakan dampaknya oleh masyarakat. Oleh karenanya, kebijakan pembangunan ke depan harus mampu mendorong peningkatan kualitas lingkungan termasuk dalam pembangunan infrastruktur pekerjaan umum dan permukiman, baik dalam proses perencanaan, pelaksanaan, pengoperasian, maupun dalam proses pemeliharaan bangunan-bangunan konstruksi dan infrastruktur pekerjaan umum dan permukiman. Infrastruktur pekerjaan umum dan permukiman yang berwawasan lingkungan tersebut harus memenuhi karakteristik keseimbangan dan kesetaraan, pandangan jangka panjang, dan sistemik. Kebijakan pembangunan infrastruktur yang ramah lingkungan (green building dan green infrastructure), mempertahankan dan mendorong peningkatan prosentase Ruang Terbuka Hijau (RTH) terhadap kawasan budidaya lainnya, mempertahankan kawasan konservasi terutama di kawasan perkotaan, mewujudkan ecocity, serta meningkatkan pengawasan dan pengedalian lingkungan dalam setiap aspek pelaksanaan pembangunan infrastruktur pekerjaan umum dan permukiman.

Tolak ukur green construction adalah mengharmonikan infrastruktur dan bangunan dalam jaringan dan lingkup yang lebih luas, terkait aspek-aspek iklim, sumber daya alami, ekonomi, serta sosila dan budaya. Manfaat yang paling penting dari penerapan green construction ini adalah tidak hanya sekedar melindungi sumber daya alam, tetapi juga dalam rangka mewujudkan efisiensi penggunaan energi dan meminimalisir kerusakan lingkungan. Manfaat lainnya yang dianggap paling penting adalah bahwa kehidupan dan kesehatan masyarakat akan menjadi lebih baik, termasuk meningkatnya kepedulian lingkungan dari masyarakat dalam mendukung pertumbuhan ekonomi lokal dan pengembangan nilai-nilai estetika lingkungan. Salah satu teknologi green cobstruction yang banyak dikenal dalam stabiltas lereng atau tebing jalan adalah teknologi rumput vetiver. Teknologi ini menggunakan rumput vetiver yang memiliki karakteritistik teknis yang khas untuk mencegah atau mengurangi terjadinya erosi atau longsorang dangkal, dimana pada tanah-tanah berlereng, erosi dan longsoran dangkal menjadi persoalan yang serius. Vetiver, yang di Indonesia dikenal sebagai akar wangi (Vetiveria zizanioides) atau usar (Vetiver nigritana), adalah sejenis rumput-rumputan berukuran besar yang memiliki banyak keistimewaan. Keajaiban vetiver sebagai tanaman ekologis disebabkan oleh sistem perakarannya yang unik. Tanaman ini memiliki akar serabut yang masuk sangat jauh ke dalam tanah (saat ini rekor akar vetiver terpanjang adalah 5.2 meter yang ditemukan di Doi Tung, Thailand). Vetiver System adalah sebuah teknologi sederhana berbiaya murah yang memanfaatkan tanaman vetiver hidup untuk konservasi tanah dan air serta perlindungan lingkungan. VS sangat praktis, tidak mahal, mudah dipelihara, dan sangat efektif dalam mengontrol erosi dan sedimentasi tanah, konservasi air, serta stabilisasi dan rehabilitasi lahan. Vetiver juga mudah dikendalikan karena tidak menghasilkan bunga dan biji yang dapat cepat menyebar liar seperti alang-alang atau rerumputan lainnya.

Pemanfaatan rumput vetiver sebagai salah satu teknologi penanganan erosi atau longsoran dangkal jalan pada saat ini sudah mulai banyak diterapkan baik itu di luar negeri maupun di Indonesia. Keberhasilan dari teknologi ini salah satunya sangat ditentukan dengan kualitas rumput vetiver yang ada. Untuk lokasi aplikasi teknologi yang jauh dari tempat tersedia rumput vetiver, sistem pengiriman dan pengepakan bibit menjadi faktor yang berpengaruh dalam mempertahankan kualitas bibit agar tetap tumbuh dengan baik di lokasi aplikasi. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan sistem pengepakan yang tepat guna memperkecil angka kematian dari rumput vetiver yang dikirim sampai lokasi aplikasi. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka metode pendekatan yang digunakan dalam adalah metode observasi dan eksperimental laboratorium. Sistem pengepakan dirancang dalam wadah tertutup dan berventilasi (berlubang) udara yang divariasikan terhadap lama penyimpanan sebagai pendekatan lamanya waktu pengiriman bibit rumput sampai lokasi aplikasi. Bibit vetiver yang disimulasi berupa bibit dalam polibag dan bibit slips.

TINJAUAN PUSTAKA

Rumput Vetiver

Vetiver, yang di Indonesia dikenal sebagai akar wangi (Vetiveria zizanioides) atau usar (Vetiver nigritana), adalah sejenis rumput-rumputan berukuran besar yang memiliki banyak keistimewaan. Vetiver System adalah sebuah teknologi sederhana berbiaya murah yang memanfaatkan tanaman vetiver hidup untuk konservasi tanah dan air serta perlindungan lingkungan. VS sangat praktis, tidak mahal, mudah dipelihara, dan sangat efektif dalam mengontrol erosi dan sedimentasi tanah, konservasi air, serta stabilisasi dan rehabilitasi lahan. Vetiver juga mudah dikendalikan karena tidak menghasilkan bunga dan biji yang dapat cepat menyebar liar seperti alang-alang atau rerumputan lainnya. Keajaiban vetiver sebagai tanaman ekologis disebabkan oleh sistem perakarannya yang unik. Tanaman ini memiliki akar serabut yang masuk sangat jauh ke dalam tanah (saat ini rekor akar vetiver terpanjang adalah 5.2 meter yang ditemukan di Doi Tung, Thailand).

Akar vetiver diketahui mampu menembus lapisan setebal 15 cm yang sangat keras. Di lereng-lereng yang keras dan berbatu, ujung-ujung akar vetiver mampu masuk menembus dan menjadi semacam jangkar yang kuat. Cara kerja akar ini seperti besi kolom yang masuk ke dalam menembus lapisan tekstur tanah, dan pada saat yang sama menahan partikel-partikel tanah dengan akar serabutnya. Kondisi ini bisa mencegah erosi yang disebabkan oleh angin dan air sehingga vetiver dijuluki sebagai ‘kolom hidup’.

Vetiver menahan laju air run-off dan material erosi yang terbawa dengan tubuhnya. Daun dan batang vetiver memperlambat aliran endapan yang terbawa run-off di titik A sehingga tertumpuk di titik B. Air terus mengalir menuruni lereng C yang lebih rendah. Akar tanaman (D) mengikat tanah di bawah tanaman hingga kedalaman 3 meter. Dengan membentuk “tiang” yang rapat dan dalam di dalam tanah, akar-akar ini mencegah terjadinya erosi dan longsor. Vetiver akan efektif jika ditanam dalam barisan membentuk pagar. Proses itu secara detail dapat dilihat pada Gambar 2.2.

 

Akar-akar vetiver yang masuk ke dalam tanah sedalam ± 3 meter akan berfungsi seperti kolom-kolom beton yang menahan tanah agar tidak longsor sehingga tanah menjadi stabil. Barisan itu juga menahan material erosi di belakang tubuhnya yang dapat mengurangi kecuraman dan akhirnya membentuk teras-teras yang lebih landai, lihat Gambar 2.3.

Karakteristik Rumput Vetiver

A. Karakteristik Morfologi Rumput Vetiver

  • Sistem perakaran yang dalam dan masif, mampu masuk ke dalam tanah 2 – 3m pada tahun pertama;
  • Sistem perakaran yang lebat dan ekstensif, mengikat tanah dan sulit untuk tercabut serta sangat tahan terhadap kekeringan;
  • Batangnya kaku dan keras, tahan terhadap aliran air dalam (0,6 – 0,8m), pagar vetiver akan terbentuk setinggi hampir 1 m dalam 3 bulan pertama setelah penanaman, dan 1,5m dalam 5 bulan setelah penanaman dan sudah dapat berfungsi untuk stabilisasi lereng;
  • Jika ditanaman berdekatan membentuk baris/pagar yang rapat akan menegurangi kecepatan aliran, mengalihkan air larian, dan menyaring/menjadi filter yang sangat efektif.

B. Karakteristik Teknis Rumput Vetiver

  • Kuat tarik: 75 Mpa (±1/6 kuat tarik mild steel).
  • Kuat geser: 6-19 kPa/kg akar/m³tanah (bandingkan dengan akar pohon 3,2-3,7 kPa/kg akar/m³tanah).
  • Kuat geser ini yang berfungsi untuk menahan lumpur/sedimen dalam proses pengendalian erosi.
  • Perakaran yang tumbuh cepat: menurunkan kadar air tanah memperendah tekanan air pori meningkatkan infiltrasi mengurangi air larian dan derajat erosi.

C. Karakteristik Rumput Vetiver untuk Pekerjaan Teknik Sipil

  • Strength paling tinggi dari semua jenis rumput.
  • Dapat hidup di tanah berpasir, bergaram dan berbatuan.
  • Dapat bertahan terhadap aliran air = 0,028 m3/det.
  • Akar dapat mencapai 2-4 m, lebat dan masif.
  • Kuat dan tahan cuaca.
  • Estetika lebih baik dan dapat berdampingan dengan tumbuhan endemik.
  • Biaya diperkirakan 1/6 –1/8 dari biaya konstruksi.

METODE PENELITIAN

A. Pengukuran Kualitas Rumput Vetiver dari Produsen (Petani)

Pengumpulan data dilakukan melalui pengambilan sampel bibit rumput vetiver yang diambil langsung dari petani. Pengumpulan data ini dimaksudkan untuk mengetahui berapa banyak bibit vetiver yang layak (kualitas baik). Penilaian kualitas bibit dilihat secara visual dari bibit yang ada (bonggol, akar, dan daun).

 

B. Pengukuran Kualitas Rumput Vetiver selama Pengiriman (simulasi)

Metode pendekatan yang digunakan dalam adalah metode observasi dan eksperimental laboratorium. Sistem pengepakan dirancang dalam wadah tertutup dan berventilasi (berlubang) udara yang divariasikan terhadap lama penyimpanan sebagai pendekatan lamanya waktu pengiriman bibit rumput sampai lokasi aplikasi. Bibit vetiver yang disimulasi berupa bibit dalam polibag dan bibit slips. Analisis kualitas bibit vetiver dihitung berdasarkan pada hasil pengamatan visual terhadap kondisi fisik bibit yang diperoleh dari petani sampai bibit tersebut siap untuk disemaikan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Kualitas Bibit Vetiver dari Produsen (Petani)

Pemilihan bibit vetiver sejak dari produsen (petani) merupakan tahapan awal yang sangat penting dilakukan. Tidak semua bibit yang didapat dari produsen (petani) itu dalam kondisi bagus dan siap untuk dipecah atau disemaikan baik itu dalam polibag atau slips (batang). Pada kenyataannya dari hasil pengamatan selama melakukan transaksi atau pengadaan bibit vetiver, hampir 40% nya (dari 1 ton bibit vetiver atau 65.000 calon bibit yang terdiri dari 2 – 3 tunas) dalam kondisi bibit yang buruk atau menjadi sampah (akar atau batang yang tidak berguna untuk pembibitan). Dari 1 ton bibit vetiver yang ada hanya dapat diolah menjadi 35.000 s.d 40.000 bibit yang dalam kondisi baik atau siap disemaikan, dimana untuk setiap satu bibit vetiver terdiri dari 2 – 3 tunas atau anakan dengan ukuran akar 2 cm dan batang 3 cm. Beberapa upaya yang dapat dilakukan guna memperkecil tingkat kerugian atau kegagalan jumlah bibit vetiver adalah melalui:

1) Pengawasan ditingkat produsen.

Konsumen dapat menetapkan persyaratan bibit vetiver sesuai dengan yang diinginkan, misalnya mengacu pada RSNI Sistem Vetiver untuk Pengendalian Erosi dan Pencegahan Longsoran Dangkal pada Lereng Jalan. Selain itu dapat juga dilakukan pengawasan pada saat pengepakan bibit vetiver ke dalam wadah atau karung, misalnya konsumen melakukan sampling dan pemeriksaan terhadap beberapa bibit vetiver dalan wadah atau karung secara acak.

2) Pengendalian ditingkat konsumen.

Sesampainya bibit vetiver di lokasi penyemaian atau gudang, konsumen sebaiknya segera melakukan penanganan awal dengan cara membuka dan memaparkan bibit vetiver dalam udara terbuka dan sedikit terkena sinar matahari. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya pembusukan akibat bibit yang tertimbun di dalam wadah atau karung. Bibit vetiver yang sudah dipaparkan dalam udara terbuka sebaiknya segera dilakukan penanaman dalam polibag atau metode lain. Dari hasil pengamatan, bibit yang segera ditanam dalam polibag akan menunjukkan gejala pertumbuhan atau hasil yang baik, sedangkan bibit yang terlalu lama dipaparkan (maksimal 1 minggu) akan menunjukkan gejala yang kurang baik. Hal ini terlihat dari terhambatnya pertumbuhan tunas dari bonggol.

2. Kualitas Bibit Vetiver Selama Pengiriman

Untuk mengetahui kualitas bibit vetiver selama masa pengiriman, khususnya pengiriman yang menggunakan jasa angkutan laut (dimana waktu yang dibutuhkan untuk pengiriman ralatif cukup lama yaitu diatas 5 hari), maka dalam penelitian ini dilakukan simulasi pengepakan bibit vetiver baik berupa polibag atau slips ke dalam wadah atau kardus yang berlubang dan tidak berlubang. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa lama bibit vetiver bisa bertahan hidup dalam wadah atau kardus tertutup, dan berapa banyak % bibit yang mati.

Dari hasil simulasi terlihat bahwa adanya perbedaan jumlah bibit yang bertahan hidup antara bibit slips dengan bibit slips yang dikemas dalam wadah tertutup dan wadah berlubang (ada ventilasi) atau bibit slips dengan bibit dalam polibag yang dikemas dalam wadah tertutup dan wadah berlubang (ada ventilasi). Bibit slips yang dikemas dalam wadah berlubang atau berventilasi menujukkan hasil relatif cukup baik apabila dibandingkan dengan yang dikemas dalam wadah tertutup. Begitu juga dengan bibit dalam polibag, dimana bibit yang dikemas dalam wadah berventilasi menunjukkan hasil yang lebih baik. Kriteria keberhasilan ditunjukkan dengan kecilnya % bibit vetiver yang mati. Apabila bibit slips dibandingkan dengan bibit dalam polibag, maka bibit dalam polibag menunjukkan hasil yang lebih baik dimana % kematian versus hari yang sama lebih kecil dibandingkan dengan slips. Hasil simulasi ini disajikan pada Gambar 4.1. s.d 4.4.

Dari gambar tersebut terlihat juga bahwa apabila ditetapkan prosen kematian yang diji nkan sebanyak 5%, maka lamanya pengiriman bibit vetiver (slps) maksimal berkisar antara 7 s.d 8 hari dan 9 s.d 12 hari untuk bibit vetiver (polibags). Hasil ini sudah terbukti dengan dilakukannya pengiriman 50.000 bibit vetiver dalam wadah polibag (ke Kota Jayapura dan Kota Samarinda), dimana 99% bibit dalam kondisi baik (hidup). Bibit vetiver dikemas dalam panel berventilasi yang terbuat dari kerangka bambu.

Lamanya waktu pengiriman tersebut apabila kita bandingkan dengan ketersedian moda dan frekuensi pengiriman yang ada, maka moda angkutan laut (kapal laut) dan angkutan darat (truk) bisa digunakan, selama sistem pengepakan yang digunakan mengikuti kriteria pengepakan yang layak yaitu pallet berlubang (berventilasi) dan dilakukan penyiraman selama masa pengiriman.

3. Moda Pengangkutan Rumput Vetiver

Seperti halnya barang-barang lainnya, pengiriman rumput vetiver pun dapat dilakukan melalui moda darat, udara, dan laut.

A. Moda Darat.

Moda pengiriman darat dapat dilakukan dengan menggunakan truk atau kendaraan sejenisnya, tergantung dari seberapa besar rumput yang dikirim dan seberapa jauh lokasi yang dituju. Umumnya moda darat dilakukan dalam satu pulau atau pulau lainnya dimana sarana jembatan atau penghubung lainnya sudah tersedia. Ada Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengangkutan rumput vetiver dengan menggunakan moda darat, yaitu:

  • Sistem pengepakan yang baik, menggunakan karung berlubang (misal karung kentang) atau pallet yang terbuat dari bambu (lihat Gambar 4.7);
  • Peletakkan antar karung harus teratur memberi ruang untuk udara luar masuk ke dalam;
  • Hindari pengiriman pada saat musim hujan. Karena bisa menyebabkan bibit menjadi busuk selama perjalanan. Apabila tidak memungkin bisa ditangani dengan cara penutupan menggunakan terpal atau bahan sejenisnya;
  • Lama pengangkutan tidak boleh lebih dari 8 hari (untuk bibit slips) dan 12 hari (bibit dalam polibag).

B. Moda Udara.

Moda pengiriman udara dapat dilakukan dengan menggunakan pesawat udara. Umumnya moda udara dilakukan bilamana bibit rumput vetiver yang dikehendaki dalam kondisi baik dan segera dibutuhkan. Ada Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengangkutan rumput vetiver dengan menggunakan moda udara, yaitu:

  • Sistem pengepakan yang baik, menggunakan karung berlubang (misal karung kentang) yang kemudian dikemas lagi dalam wadah tertutup seperti stereofoam;
  • Kapasitas sterofoam sebaiknya tidak lebih dari 500 – 600 slips atau 15 – 16 kg;
  • Peletakkan antar stereofoam harus teratur sedemikian rupa sehingga tidak terlalu membebani stereofoam dibagian bawah;
  • Lama pengangkutan tidak boleh lebih dari 3 hari.

C. Moda Laut.

Moda pengiriman laut dapat dilakukan dengan menggunakan kapal laut. Umumnya moda laut dilakukan dari satu pulau dengan pulau lainnya. Ada Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengangkutan rumput vetiver dengan menggunakan moda laut, yaitu:

  • Sistem pengepakan yang baik, menggunakan karung berlubang (misal karung kentang) atau pallet yang terbuat dari bambu;
  • Peletakkan antar karung harus teratur memberi ruang untuk udara luar masuk ke dalam; • Kapasitas karung sebaiknya tidak lebih dari 500 – 600 slips atau 15 – 16kg;
  • Lama pengangkutan tidak boleh lebih dari 12 hari.

KESIMPULAN DAN SARAN

  • Kualitas bibit vetiver yang diambil langsung dari petani (belum dilakukan pengolahan), 40% bibit vetivernya dalam kondisi buruk atau menjadi sampah (akar atau batang yang tidak berguna untuk pembibitan).
  • Pengiriman bibit rumput vetiver yang berupa slips, melalui moda darat dan moda laut, dengan teknik pengepakan pallet berventilasi dapat dilakukan maksimal 8 hari. Sedangkan untuk bibit rumput vetiver berupa polibag dapat dilakukan maksimal 12 hari.
  • Pengiriman bibit rumput baik berupa slips atau polibag, melalui moda udara, dan pallet tertutup tidak boleh dilakukan labih dari 3 hari.
  • Biaya pengiriman relatif bervariasi tergantung pada jarak dan moda angkutan.
  • Metode pengepakkan rumput vetiver yang baik, harus bisa menjamin bibit rumput tetap dalam kondisi baik dan layak ditanam sampai lokasi tujuan. Oleh karena itu, design wadah dengan kerangka berventilasi dan peletakkan bibit rumput yang disusun saling berhadapan dan terlentang satu sama lain memiliki kinerja yang baik.
  • Perlu pengawasan yang baik (di sumber atau petani, proses pengiriman/pengemasan, dan penanganan di lokasi pembibitan) untuk mendapatkan bibit vetiver yang baik dan sesuai dengan yang diinginkan.

DAFTAR PUSTAKA

Adityawarman, 2008. Pengalaman Pemanfaatan Rumput Vetiver di Jalan Tol Cipularang. Seminar Sehari Green Construction Dalam Mewujudkan Pembangunan Infrastruktur Berwawasan Lingkungan.

David Booth, Ardika Adinata, Rosmara Dewi, 2008. Vetiver Systems for Community Development and Poverty Alleviation in Indonesia. Seminar Sehari Green Construction Dalam Mewujudkan Pembangunan Infrastruktur Berwawasan Lingkungan

E. Saefuddin Sarief, Prof., DR., Ir ; Mahfud Arifin, Prof.,DR.,IR.,MS ; Rahmat Haryanto, DR., Ir., MS ; Nanang Komarudin, Ir., SU ; Ade Setiawan., SP. 2006. Penuntun Praktikum Fisika Tanah. Jurusan Tanah Fakultas Pertanian UNPAD

Rully Wijayakusuma, 2007. Stabilisasi Lahan dan Fitoremediasi dengan vetiver system, Green Design Seminar

Paul Truong, cs., Tran Tan Van and Elise Pinners, 2008. Vetiver Grass – The Plant. The vetiver System, Vietnam 2000 – 2008.

Saifuddin Sarief, 1983. Konservasi Tanah dan Air. Fakultas Pertanian UNPAD – Bandung

Sitanala Arsjad, 1972. Ilmu Tanah dan Klassifikasi Kesesuaian Tanah untuk Irigasi. Penataran Water Management, PROSIDA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s