G. Gunawan dan Nanny Kusminingrum

PENANGANAN EROSI LERENG GALIAN DAN  TIMBUNAN JALAN DENGAN RUMPUT VETIVER 

Oleh: G. Gunawan, Nanny Kusminingrum,  Sri Yeni
Puslitbang Jalan dan Jembatan, Jl. A.H. Nasution 264 Bandung, Badan Penelitian dan Pengembangan, Departemen Pekerjaan Umum

Sumber: KKBTLLLJ200804 

Kolokium Puslitbang Jalan dan Jembatan TA. 2008

RINGKASAN

Pada tanah-tanah berlereng, erosi menjadi persoalan yang serius. Dimana kemiringan dan panjang lereng adalah dua unsur lereng yang berpengaruh terhadap aliran permukaan dan  erosi. Jika kecepatan aliran meningkat dua kali, maka jumlah butir-butir tanah yang  tersangkut menjadi 32 kali lipat, bila panjang lereng menjadi dua kali lipat, maka umumnya  erosi yang terjadi akan meningkat 1,5 kali. Pengkajian di Indonesia menunjukkan untuk tanah  gundul tingkat erosi mencapai 120-400 ton/ha/th, hal ini tentu saja di bidang jalan akan  memberikan dampak yang negatif seperti gangguan sistem drainase yang akan menimbulkan  dampak turunan seperti kerusakan prasarana dan sarana jalan. Untuk itu perlu dilakukan pengkajian teknologi penanganan erosi di ruang milik jalan.

Adapun tujuan pengkajian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kemiringan lereng dan  kombinasi metode vegetatif terhadap tingkat erosi pada kemiringan diatas dan/atau di bawah  600 dan kajian pengembangan teknologi penanganan erosi lereng dengan metode vegetasi (rumput vertiver dan rumput bahia).

Untuk mencapai tujuan itu dilakukan pengkajian dan pembuatan prototype skala laboratorium penanganan erosi dengan metode vegetasi (tanaman), dan pengkajian  pengembangan teknologi penanganan erosi lereng dengan tanaman rumput vertiver yang dikombinasikan dengan rumput bahia dan rumput gajah dalam skala lapangan.

Hasil pengkajian menunjukkan tingkat erosi akan semakin berkurang dengan meningkatnya  tingkat kerimbunan tanaman, dan kerimbunan tanaman penutup >70% tanah yang tererosi  mendekati nol. Teknik Penanaman rumput vetiver agar berfungsi secara optimal di dalam  mengurangi tingkat erosi di lereng dilakukan secara berbaris dan diatara baris vetiver ditanamami tanaman penutup rumput bahia.

Kata Kunci : Pengendalian Erosi Tanah , Tanaman, Rumput Vetiver

SUMMARY

The erosion will be serious problem at lands have slope, where is long of slope and declivity  are two elements have influences on surface flow and erosion. The current rises two more, so  the amount of land slide involved to become thirty two more. If the slope is longer two more  so erosion will get one a half more. The research of Indonesia showed for wasteland is  degree of erosion until 120-400 ton/ha/year. That gives negative impact on road it seems that  damaged to drainage. It will be impact at infrastructure of road. It need to do research of technology handling of a case erosion in area of roads.

The purpose of this tesearch will know to have influences as lant of slope and combine of  vegetative method to degree of erosion at on angel of 600 and and research of technology  development handling of case slope erosion with vegetasi method.  To achieve this purpose was done research and made scale of prototype laboratory to handle  of a case erosion with vegetasi method and research technology development of a case  slope erosion with vetiver grass combine bahia grass in scale of field  Thw result of research is degree of erosion will be decrease because lush of plants increase  and lust of cover pants >70% the lands that were erosion were nearing zero. Method of planting the vetiver grass is done in a row and between them is planted bahia grass.

Key word: control soil erosion, vegetasi, vetiver grass

1. LATAR BELAKANG

Erosi adalah proses penggerusan lapis tanah permukaan yang disebabkan oleh beberapa hal  seperti angin, air, es, atau gravitasi. Air hujan jatuh di atas permukaan tanah akan  menumbuk agregat tanah menjadi partikel-partikel tanah yang terlepas. Partikel-partikel tanah yang terlepas ini akan terbawa oleh aliran permukaan.

Pada tanah-tanah berlereng, erosi menjadi persoalan yang serius, dimana kemiringan dan  panjang lereng adalah dua unsur lereng yang berpengaruh terhadap aliran permukaan dan  erosi. Kemiringan lereng berpengaruh terhadap kecepatan aliran permukaan, sehingga  memperbesar daya perusakan air. Jika kecepatan aliran meningkat dua kali, maka jumlah  butir-butir tanah yang tersangkut menjadi 32 kali lipat (Arsjad, 1971). Dan bila panjang lereng  menjadi dua kali lipat, maka umumnya erosi yang terjadi akan meningkat 1,5 kali (Kohnke dan Bertrand, 1959).

Semakin besar jumlah hujan yang jatuh, maka semakin besar pula jumlah aliran permukaan  yang terjadi, yang berarti daya penghanyutan partikel-partikel tanah yang terlepas dan daya gerus terhadap permukaan tanah semakin besar.

Ada beberapa cara untuk menangani masalah tersebut, yaitu dengan cara teknik mekanis, cara vegetasi dan cara penggunaan bahan-bahan pemantap tanah (cara kimia).

Cara teknis mekanis antara lain dapat dilakukan dengan pembuatan teras, dimana  penterasan ini adalah merupakan suatu cara dengan jalan membuat tanggul-tanggul mendatar dan memotong lereng pada jara-jarak tertentu.

Teras ini berfungsi untuk mengurangi panjang lereng dan menahan aliran permukaan.  Sehingga mengurangi kecepatan aliran permukaan dan memungkinkan penyerapan air oleh tanah serta mengurangi erosi yang terjadi (Frevert, et al, 1963).

Cara vegetasi merupakan suatu cara dengan menggunakan tanaman. Bentuk dan susunan  vegetasi yang terdiri dari tanaman yang tumbuh rendah lebih efektif dari pada tanaman yang  tumbuh tinggi. Jumlah atau kerapatan vegetasi akan menentukan persen penutupan tanah  oleh tajuk. Vegetasi yang tumbuh tersebar merata dan menutup permukaan tanah dengan baik, dapat memenuhi fungsinya sebagai penutup tanah (Baver, 1961).

Pada kesempatan ini, dicoba dilakukan pengkajian terhadap metode vegetasi jenis rumput  vertiver yang mempunyai sistem perakaran yang sangat dalam lebih dari 3 meter dan  mampu menembus lapisan keras dan berbatu yang menjadi semacam jangkar atau kolom  yang kuat (Rully Wijayakusuma, 2007). Dan dikombinasikan dengan rumput gajah dan  rumput bahia yang cukup efektif dalam menanggulangi erosi permukaan (Nanny K, 1991).

2. TUJUAN

Mengetahui tingkat erosi lereng galian dan timbunan tanah dengan metode vegetasi rumput  vetiver yang dikombinasikan dengan tanaman penutup seperti rumput gajah dan rumput bahia pada kemiringan diatas dan/atau di bawah 600.

3. KAJIAN PUSTAKA

3.1 Erosi

Menurut Shilrley Morrow dan Michael Smolen, dalam paper-nya ”Using Vegetation for  Erosion Control of Construction Sites” , menyebutkan bahwa ada empat faktor utama  yang berpontensi menyebabkan terjadinya erosi, yaitu jenis tanah, ada dan tidak adanya  tanaman penutup, topografi, dan iklim. Tanaman penutup merupakan faktor terbesar dalam  menjaga keseimbangan alam. Tanaman dapat berfungsi sebagai penahan air hujan menuju  permukaan tanah sehingga aliran air permukaan yang timbul menjadi lebih lambat dan  selanjutnya proses erosi lapis permukaan tanah menjadi berkurang pula. Disamping itu, akar tumbuhan yang menjalar dalam tanah dapat berfungsi sebagai tempat mencengkram tanah.

Kekuatan dispersi dan kemampuan pengangkutan tanah oleh air ditentukan oleh (1)  kekuatan dispersi dari pukulan butir-butir hujan, jumlah dan kecepatan aliran permukaan, dan  (2) ketahanan tanah terhadap dispersi jumlah dan kecepatan aliran permukaan tergantung   pada (i) sifat-sifat hujan, (ii) lereng dan luas areal, serta (iii) kemampuan tanah menyerap air  kedalam profil tanah. Secara umum faktor-faktor yang menetukan erosi dapat diringkas dalam rumus diskriptif sebagai berikut:

E = f ( C, T, V, S, H)

Dimana C adalah faktor iklim, T= faktor topografi, V = faktor vegetasi, S = faktor tanah , dan H = faktor manusia.

Dalam rumus deskriftif tersebut terdapat dua macam variable, yaitu faktor yang data  dikendalikan oleh manusia yaitu vegetasi, dan faktor yang sulit dikendalikan oleh manusia  secara langsung iklim, topografi, dan sifat tanah tertentu tetapi pengaruhnya secara tidak  langsung dapat dimodifikasi oleh manusia seperti pembuatan teras untuk memperpendek panjang lereng dan stabilisasi tanah.

3.2 Dampak Erosi

Dampak dari erosi adalah menipisnya lapisan permukaan tanah bagian atas, yang akan  menyebabkan menurunnya kemampuan lahan (degradasi lahan). Akibat lain dari erosi  adalah menurunnya kemampuan tanah untuk meresapkan air (infiltrasi). Penurunan  kemampuan lahan meresapkan air ke dalam lapisan tanah akan meningkatkan limpasan air  permukaaan yang lebih jauh dapat mengakibatkan banjir di sungai. Selain itu butiran tanah  yang terangkut oleh aliran permukaan pada akhirnya akan mengendap di sungai (sedimentasi).

Pada tanah-tanah berlereng, erosi menjadi persoalan yang serius. Dimana kemiringan dan  panjang lereng adalah dua unsur lereng yang berpengaruh terhadap aliran permukaan dan   erosi. Kemiringan lereng berpengaruh terhadap kecepatan aliran permukaan, sehingga memperbesar daya perusakan air.

Sementara secara khusus untuk daerah lereng dan timbunan di daerah ruang milik jalan,  akan memberikan dampak terganggunya sistem drainase (peningkatan biaya pemeliharaan  jalan), dan pada kondisi yang lebih jauh akan menimbulakan bahaya longsor yang dapat berdampak terhambatnya/terputusnya arus lalu lintas.

Laju erosi di Indonesia cukup tinggi bila dibandingkan dengan negara-negara lain seperti terlihat pada tabel 1.

3.3 Rumput Vertiver

Vetiver, yang di Indonesia dikenal sebagai akar wangi (Vetiveria zizanioides) atau usar  (Vetiver nigritana), adalah sejenis rumput-rumputan berukuran besar yang memiliki banyak  keistimewaan. Di Indonesia rumput ajaib ini baru dimanfaatkan sebagai penghasil minyak  atsiri melalui ekstraksi akar wangi, tetapi di mancanegara vetiver banyak dimanfaatkan untuk  berbagai keperluan ekologis dan fitoremediasi (memperbaiki lingkungan dengan  menggunakan tanaman) lahan dan air seperti rehabilitasi lahan bekas pertambangan,  pencegah erosi lereng, penahan aberasi pantai, stabilisasi tebing, dan sebagainya melalui teknologi yang disebut Vetiver Grass Technology (VGT) atau Vetiver System (VS), sebuah  teknologi yang sudah dikembangkan selama lebih dari 200 tahun di India.

Vetiver System (VS) adalah sebuah teknologi sederhana berbiaya murah yang  memanfaatkan tanaman vetiver hidup untuk konservasi tanah dan air serta perlindungan  lingkungan. VS sangat praktis, tidak mahal, mudah dipelihara, dan sangat efektif dalam  mengontrol erosi dan sedimentasi tanah, konservasi air, serta stabilisasi dan rehabilitasi  lahan. Vetiver juga mudah dikendalikan karena tidak menghasilkan bunga dan biji yang dapat cepat menyebar liar seperti alang-alang atau rerumputan lainnya.

Keajaiban vetiver sebagai tanaman ekologis disebabkan oleh sistem perakarannya yang  unik. Tanaman ini memiliki akar serabut yang masuk sangat jauh ke dalam tanah (saat ini rekor akar vetiver terpanjang adalah 5.2 meter yang ditemukan di Doi Tung, Thailand).

Akar vetiver diketahui mampu menembus lapisan setebal 15 cm yang sangat keras. Di  lereng-lereng yang keras dan berbatu, ujung-ujung akar vetiver mampu masuk menembus  dan menjadi semacam jangkar yang kuat. Cara kerja akar ini seperti besi kolom yang masuk  ke dalam menembus lapisan tekstur tanah, dan pada saat yang sama menahan partikelpartikel  tanah dengan akar serabutnya. Kondisi ini bisa mencegah erosi yang disebabkan oleh angin dan air sehingga vetiver dijuluki sebagai ‘kolom hidup’.

4. HIPOTESIS

Berat kering tanah yang tererosi pada suatu lereng galian atau timbunan akan dipengaruhi oleh tingkat kerimbunan tanaman penutup tanah disamping tingkat kemiringan lereng

5. METODOLOGI

Metodologi yang digunakan adalah pengukuran langsung berat kering tanah yang tererosi  dan tingkat kerimbunan tanaman di media uji skala lapangan yang dibuat.

5.1 Pembuatan media uji penanganan erosi dengan metode vegetasi (tanaman) skala kecil dengan kemiringan 45°.

a. Pembuatan Plot Pengkajian

  • Plot penelitian di buat dengan lebar 1,5 meter
  • Tiap plot diberi antara perlakukan, agar tanah yang jatuh tidak tercampur dengan plot lain.
  • Pemisah antar perlakuan terbuat dari seng dengan ketinggian 30 cm

Untuk lebih jelasnya rencana pembuatan plot pengkajian uji skala kecil dapat dilihat pada
gambar 1.


b. Rancangan pengkajian

Perlakuan pengkajian terdiri dari penggabungan jenis tanaman dalam metode vegetasi,sebagai berikut:

A = lereng asli , dan tanaman pinus
B = lereng ditanami rumput bahia, rumput vertiver dan tanaman pinus
C = lereng ditanami rumput gajah, rumput vertiver dan tanaman pinus
D = lereng ditanami rumput bahia dan tanaman pinus

5.2 Pengkajian pengembangan teknologi penanganan erosi lereng dengan tanaman rumput vertiver dalam skala lapangan

a. Rancangan Penelitian Uji Skala Penuh Kemiringan lereng yang digunakan kurang dari 60° Lokasi Tol Cipularang KM 114

Pembuatan plot pengkajian kemiringan lereng di bawah 60o dimensi 14 m x 15 m, dengan perlakuan pengkajian terhadap metode vegetasi dan mekanik, sebagai berikut:

A2 = lereng di teras , lereng tegak dan datar di tanami rumput vetiver, tanpa penutup tanaman antara.

B2 = lereng datar ditanami rumput vetiver, bagian lereng tegak ditanami rumput vetiver , dan tanaman eksisting digunakan sebagai tanaman antara.

C2 = lereng datar dan bagian tegak dibiarkan sesuai tanaman eksisting yang tumbuh di lokasi.

D2 = lereng datar dan bagian tegak dibersihkan dari tanaman eksisting, sebagai media kontrol.

Untuk lebih jelasnya rencana pembuatan plot pengkajian dapat dilihat pada gambar 2.


b. Rancangan Penelitian Uji Skala Penuh Kemiringan lereng yang digunakan lebih dari 60° Lokasi Cicalengka Nagreg KM 34

Pembuatan plot pengkajian kemiringan lereng di diatas 60°  dimensi 35 m x 7 m, dengan perlakuan pengkajian terhadap metode vegetasi dan mekanik, sebagai berikut:

A3 = lereng di teras ditanami rumput gajah, bagian lereng tegak tidak ditanami (sebagaikontrol).

B3 = lereng datar ditanami rumput gajah, bagian lereng tegak ditanami rumput bahia.

C3 = lereng datar ditanami rumput gajah dan bagian tegak ditanami rumput vetiver

D3 = lereng datar ditanami rumput gajah dan bagian tegak di ditanami vetiver dan rumput bahia sebagai tanaman penutup antara.

E3 = lereng datar ditanami rumput gajah dan bagian tegak di ditanami rumput bahia dan vetiver.

Untuk lebih jelasnya rencana pembuatan plot pengkajian dapat dilihat pada gambar 3


Untuk setiap plot pengkajian dilengkapi bak penampung tanah yang ter-erosi, dibuat tepat  dibawah tiap perlakuan. Adapun ukuran bak ini, yaitu: lebar bak 40 cm, tinggi bak 60 cm dan panjang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan di lapangan serta diberi penutup.

c. Pengamatan Lapangan

  • Berat basah dan berat kering tanah yang tererosi
  • Pemeriksaan kepadatan lapangan dengan alat sand cone
  • Kadar air
  • Curah hujan
  • Kecepatan pertumbuhan tanaman

6. HASIL KAJIAN

6.1 Pengujian Pertumbuhan Tanaman di Rumah Pembenihan

a. Pertumbuhan rumput Vetiver

Pertumbuhan rumput vetiver yang dilakukan di rumah pembenihan plastic, kaca dan ruang  terbuka untuk mengetahui ketahanan tanaman vetiver terhadap temperatur, terlihat pada gambar 4 sampai dengan gambar 6.


Pada gambar 4 terlihat pertumbuhan 4 sampel vetiver di tempat pembenihan rumah kaca  selama 2 bulan relatif lambat, hal ini ditunjukkan dengan penambahan pertumbuhan daun  vetiver berkisar antara 20 cm yang selanjutnya tidak bertambah panjang, bahkan dari 4  sampel yang diuji ada yang berubah menjadi kering hingga tanaman mati. Tanaman kering  dan mati diperkirakan akibat temperatur rumah kaca yang relatif tinggi rata-rata diatas 300C dan tempertur tertinggi mencapai 470C.

Pertumbuhan vetiver ( masing-masing 4 sample) di ruang terbuka dan tempat pembenihan  rumah plastik relatif cepat seperti yang terlihat pada gambar 5 dan gambar 6, dalam 2 bulan  pertambahan panjang helai daun vetiver berkisar 40 cm s/d 120 cm. Temperatur di tempat  pembenihan rumah plastik relatif sama dengan temperatur ruang terbuka, dimana temperatur  tertinggi yang tercapai di rumah plastik 350C, sedangkan di ruang terbuka mencapai 330C.  Hasil pengkajian ketahanan vetiver terhadap temperatur dari hasil literatur diketahui bahwa vetiver dapat bertahan tumbuh hingga temperatur mencapai 550C.

Sementara itu hasil pengkajian pertumbuhan vetiver ditanah timbunan menunjukkan  pertumbuhan yang baik, hal ini ditunjukkan dengan pengamatan pertumbuhan vetiver pada  tanah timbunan (Pasir Jati) selama ± 2 minggu , helai daun vetiver bertambah panjang 10 cm  s/d 30 cm, sementara untuk tanah timbunan yang diberi pupuk (3:1) pertumbuhan helai daun mencapai 40 cm.

b. Pertumbuhan Akar Vetiver

Hasil pengamatan terhadap pertumbuhan akar vetiver dan rumput bahia, seperti pada  gambar 7 dan gambar 8, terlihat bahwa selama 56 hari untuk bahia mencapai maksimum  sekitar 20 cm, sementara untuk vetiver mencapai 25 cm. keterbatasan uji coba yang  dilakukan dalam kotak uji coba yang setiap alas bawahnya menggunkan ram kawat  menyebabkan pertumbuhan akar menjadi terhambat. Hal ini terbukti dari hasil pengamatan  pertumbuhan akan yang di lahan terbuka dalam 4 bulan panjang akar mencapai 1 meter dan  panjang helai daun 180 cm. Sementara untuk penanaman vetiver di tanah lembang dengan  pupuk kandang 3:1 dan gabah dengan tanah lembang 3:1 pertumbuhan akar vetiver selama 1,5 bulan masing-masing mencapai 64 cm dan 75 cm.

Hasil kajian literatur ditemukan panjang akar vetiver yang paling panjang mencapai 5,2 meter.

c. Pengujian Pertumbuhan Vetiver pada Tanah Tol Cipularang di Rumah Pembenihan

Untuk mengetahui pertumbuhan tanaman vetiver di tanah-tanah yang ada di sekitar tol  Cipularang, maka dilakukan pengambilan tanah dan disiapkan dalam pot-pot kecil, dengan  perlakuan tanah blanko yang tidak dicampur dengan pupuk dan tanah Cipularang yang  dicampur dengan pupuk kandang (3:1), kemudian ditanami dengan vetiver.  Lokasi pengambilan tanah disekitar tol cipularang adalah di KM 116,2 ; KM 108,4; KM 97,8; KM 91,4; KM 86; KM 88,4; KM 91 dan KM 114.

Pertumbuhan helai daun vetiver bervariasi, ada yang cepat pertumbuhannya ada yang  lambat, keterlambatan ini dapat terjadi diantaranya akibat munculnya tunas-tunas baru  vetiver. Hal ini ditunjukan dengan hasil pengamatan selama 2 bulan pertumbuhan tunas baru  rata-rata 2 tunas. Keterlambatan ini dapat juga diakibatkan oleh media tanam yang hanya dalam media ukuran diameter 7 cm dan kedalaman 10 cm.

Gambar 9 dan gambar 10 menunjukkan pertumbuhan helai daun vetiver ditanah asli sekitar Tol Cipularang, relatif dapat tumbuh dengan baik.

Dari hasil pengamatan pertumbuhan vetiver di tanah Cipularang , panjang helai daun  mencapai ± 80 cm dengan panjang rata-rata mencapai 50 cm., dari 36 sample uji coba yang  ditanam hanya satu dari 4 sample yang menggunakan tanah KM 91 yang kering (mati),  sehingga secara umum penanaman vetiver di lokasi sekitar Tol Cipularang akan dapat  tumbuh. Meskipun demikian bila dilakukan penannaman vetiver di Tol Cipularang masih membutuhkan pemeliharaan dan pemupukan serta penyiraman pada musim kemarau.

6.2 Pengkajian Tingkat Erosi Skala laboratorium

Dari hasil pengamatan dengan curah hujan yang bervariasi dari 80 s/d 580 ml per hari ,  hanya pada media control yang terlihat tanah tererosi, sementara pada media B, C dan D  tidak terdapat tanah yang tererosi . Hal ini diperkirakan akibat media B, C, dan D relatif telah  tertutup permukaannya oleh tanaman atau kerimbunannya telah mencapai lebih dari 70%. Hasilnya dapat dilihat pada Gambar 11.

Tingkat erosi tertinggi terjadi pada awal pengamatan pada media kontrol yaitu sebesar  13690 gram tanah kering yang tererosi atau bila dihitung per satuan meter persegi luas area uji coba diperoleh sekitar 2281 gram/m2, dan yang terendah adalah sekitar 9,8 gram/m2.

Hasil pengamatan untuk skala kecil (laboratorium) faktor curah hujan menjadi faktor utama  penyebab terjadinya erosi dan tingkat kerimbunan merupakan factor yang dapat  menghambat terjadinya erosi. Terbukti dengan hasil pengkajian dengan kerimbunan lebih  dari 70% tingkat erosi terhadap media B, C dan D menunjukkan hasil pengamatan pada media tersebut masing-masing tidak ada tanah yang tererosi.

6.3 Tingkat Erosi dan Pertumbuhan Vegetasi di Lokasi Cicalengka-Nagreg

Hasil pengamatan tingkat Erosi di lokasi Cicalengka-Nagreg dapat dilihat pada gambar 5.13,  dimana tingkat erosi di lokasi control tanpa ada tanaman berkisar anatar 5 kg/hari atau 0,143   kg/m2/hr, sedangkan untuk lokasi yang ditanami rumput bahia 0,6 kg/hari atau 0,017  kg/m2/hr, rumput vetiver 1 kg/hari atau 0,028 kg/m2/hr, kombinasi vetiver (50%) dengan  bahia (50%) 0,1 kg/hari atau 0,003 kg/m2/hr, sedangkan untuk kombinasi bahia (66%) dengan vetiver (33%) tingkat erosinya rata-rata 0,2 kg/hari atau 0,006 kg/m2/hr.


Kombinasi penanaman vetiver (50%) dan rumput bahia (50%) terlihat adalah kombinasi yang  sangat baik dalam mengurangi tingkat erosi, meskipun tingkat kerimbunan baru maksimum baru mencapai 50%.

Sementara itu hasil pengkajian terhadap tingkat erosi hubungannya dengan prosen  kerimbunan , dapat dilihat pada gambar 13 sampai dengan gambar 15, yang mana kerimbunan semakin meningkat maka tingkat erosi yang terjadi semakin sedikit.

Dari tabel 3, terlihat bahwa penanaman vetiver dalam rangka mengurangi erosi akan lebih  baik dan lebih efektif dengan cara kombinasi tanaman vetiver dengan tanaman penutup  permukaan seperti rumput bahia, dimana dengan dilakukan kombinasi penanaman antara  vetiver dan rumput bahia akan menurunkan tingkat erosi 3 sampai 8 kali dibanding hanya  menggunakan tanaman vetiver saja. Meskipun demikian diharapkan dalam jangka panjang  vetiver akan menunjang terhadap bertambahnya kekuatan struktur tanah (perlu dilakukan pengkajian lebih lanjut).

6.4 Tingkat Erosi di Lokasi KM 114 Tol Cipularang

Kegiatan pengamatan di lokasi tol cipularang terlihat pada tabel 4, terlihat bahwa kondisi  eksisting yang ada disekitar jalan tol cipularang dengan ditanami vetiver akan lebih efektif  dalam mengurangi tingkat erosi lereng yang terjadi, terbukti pada hasil pengamatan ke 2 tingkat erosinya adalah nol.

Sedangkan bila hanya menanam vetiver saja kemudian antara vetiver tidak ada tanaman  penutup lain, hasilnya kurang baik dibanding dengan hanya kondisi eksisiting dilapangan. Kondisi eksisting dilapangan ini adalah tanaman liar yang dibiarkan tumbuh dilokasi uji coba.

6.5 Kajian Tingkat Erosi dengan Kemiringan Lereng

Kajian ini dilakukan dengan batasan jenis tanah dan faktor curah hujan serta kondisi  lingkungan sekitar yang akan menggangu tingkat erosi tidak dipehatikan, hanya memperhatikan kemiringan lereng dan prosentase kepadatan tanah.

Dari tabel 5. diketahui bahwa tingkat erosi lereng sangat dipengaruhi oleh kepadatan tanah,  hal ini terbukti (sementara) bahwa semakin pada tanah maka tingkat erosi yang terjadi  semakin kecil. Dimana dari data pengamatan meskipun tingkat kemiringan lereng lebih dari  60° akan tetapi tingkat erosi yang terjadi lebih kecil lereng yang kemiringannya kurang dari 60°

KESIMPULAN

  • Hasil pengkajian tingkat erosi permukaan tanah yang terjadi pada lereng sangat  tergantung pada tingkat kemiringan lereng, kepadatan tanah dan tingkat kerimbunan tanaman penutup.
  • Dari Pengujian dan pengamatan yang dilakukan semakin rimbun tanaman penutup  permukaan tanah maka semakin kecil erosi permukaan tanah yang terjadi, dimana  pada pengamatan dengan kerimbunan tanaman lebih dari 70% tingkat erosi permukaan tanah yang terjadi mendekati nol.
  • Kepadatan tanah sangat mempengaruhi tingkat erosi permukaan yang terjadi, terbukti  dengan hasil pengamatan dengan kemiringan lereng yang lebih besar, tingkat  erosinya lebih kecil, akibat dari kepadatan tanahnya lebih tinggi.
  • Sifat pertumbuhan rumput vertiver cenderung tidak menyebar akan tetapi arah  pertumbuhan keatas, sedangkan untuk rumput bahia dan rumput gajah cenderung menyebar sehingga lebih cepat dalam menutupi permukaan tanah.
  • Kecepatan pertumbuhan panjang akar lebih panjang rumput vertiver dan memiliki akar yang tebal (diameter lebih besar) dibanding rumput bahia dan rumput gajah.
  • Memperhatikan sifat dan kecepatan pertumbuhan baik akar maupun daunnya, maka  peletakan/penanaman rumput vertiver dalam aplikasinya di tanam secara horizontal terhadap lereng. Yang diharapkan akan berfungsi sebagai “kolom” penahan erosi.
  • Kombinasi tanaman vetiver dengan tanaman penutup lain seperti rumput bahia atau  rumput gajah akan lebih efektif dalam mengurangi erosi permukaan dibandingkan dengan hanya tanaman vetiver.

DAFTAR PUSTAKA

1. D.J Greenland and R. Lai (ed), Soil Conservation and management in the Humid Tropics, John Wiley & Sons, New York, 1979, 81-127 pages

2. Eden Surasana, Peranan Vegetasi dalam Kesimbangan Tata Air Permukaan dan Erosi, Dirjen Pendidikan Tinggi, Dep P&K, 1985.

3. Geert Sterk, Wind Erosion in the Sahelian Zone of Niger: Processes, Models, and Control Techniques, 1997

4. ISBN 979-97470-1-5, tentang Penanganan Abrasi, Erosi dan Tsunami dengan Optimasi Vegetasi, Departemen Kelautan dan Perikanan, Jakarta 2002.

5. J. Van den Berg and C.Midega, Can Vetiver be Used to Manage Insect Pests on Crops?, School of Environmental Sciences, South Africa, 2007.

6. Nurhajati Hakim.Dr, cs, Dasar-dasar Ilmu Tanah, Universitas Lampung, 1986 , hal1-490 .

7. Puslitbang jalan, Laporan Penyelidikan dan pengkajian kemantapan lereng jalan propinsi Jawa barat, 1995

8. Ramdhon Bermanakusumah, Dr Ir. , Erosi Penyebab dan Pengendaliannya, Fakultas Pertanian ,Unpad, 1978, hal 1-64.

9. R.I Mcilror, Pengantar Budidaya padang Rumput Tropika, Pradnya paramita, 1976, hal 1- 15.

10. Rully Wijayakusuma, Stabilisasi lahan dan Fitoremediasi dengan vetiver system, green Design seminar, july 26-29 2007.

11. Soil Conservation Hanbook, Council of Agriculture,ROC, June 1995 hal 1-127

12. Supli Effendi Rahim. Dr. Ir., Pengendalian Erosi Tanah dalam rangka pelestarian lingkungan , Bumi Aksara, 2003, 1- 127 hal.

13. The office of the Royal Dev projects Bord (ORDPB), Vetiver grass training manual, Thailand, 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s