I Kadek Bagus Widana Putra

Teknologi Rumput Vetiver

Oleh : I Kadek Bagus Widana Putra
kadekku@yahoo.com

Download file: teknologi_ rumput_ veritver 

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Fenomena pemanasan global dan perubahan iklim menyebabkan pembangunan  infrastruktur pekerjaan umum dan permukiman menghadapi banyak tantangan, seperti emisi, penurunan ketersediaan air, banjir, kekeringan, erosi/tanah longsor, dan intrusi air laut. Suatu  saat tantangan-tantangan ini pasti akan membahayakan lingkungan hidup. Oleh karenanya,  kebijakan pembangunan ke depan harus mampu mendorong peningkatan kualitas  lingkungan, termasuk dalam pembangunan infrastruktur pekerjaan umum dan permukiman,  baik dalam proses perencanaan, pelaksanaan, pengoperasian, maupun dalam proses  pemeliharaan bangunan-bangunan konstruksi dan infrastruktur pekerjaan umum dan  permukiman. Kebijakan pembangunan infrastruktur yang ramah lingkungan (green building  dan green infrastructure), akan mampu mempertahankan dan mendorong peningkatan  presentase Ruang Terbuka Hijau (RTH) terhadap kawasan budidaya lainnya,  mempertahankan kawasan konservasi terutama di kawasan perkotaan, mewujudkan ecocity,  serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian lingkungan dalam setiap aspek  pelaksanaan pembangunan infrastruktur pekerjaan umum dan permukiman. Manfaat yang  paling penting dari penerapan green construction ini adalah tidak hanya sekedar melindungi  sumber daya alam, tetapi juga dalam rangka mewujudkan efisiensi penggunaan energi dan  meminimalisir kerusakan lingkungan. Manfaat lainnya yang dianggap paling penting adalah  bahwa kehidupan dan kesehatan masyarakat akan menjadi lebih baik, termasuk  meningkatnya kepedulian lingkungan dari masyarakat dalam mendukung pertumbuhan ekonomi lokal dan pengembangan nilai-nilai estetika lingkungan.

Salah satu teknologi green construction yang banyak dikenal dalam stabilitas lereng  atau tebing jalan adalah teknologi rumput vetiver. Teknologi ini menggunakan rumput  vetiver yang memiliki karakteritistik teknis yang khas untuk mencegah atau mengurangi  terjadinya erosi atau longsoran dangkal, dimana pada tanah-tanah berlereng, erosi dan longsoran dangkal menjadi persoalan yang serius.

Secara konstruksi dalam mengatasi longsor di tanah miring, rumput vetiver lebih  murah jika dibandingkan dengan konstruksi beton. Konstruksi beton harganya mencapai Rp.  2.000.000/m2 sedangkan rumput vetiver hanya Rp. 10.000/m2. Selain itu, rumput vetiver juga  dapat memberikan potensi tinggi dalam mereduksi kadar Carbon di atmosfir bumi, sehingga  dapat memenuhi penyelenggaraan kebijakan pembangunan infrastruktur yang ramah lingkungan.

1.2 Permasalahan

Permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini, meliputi :

a. Apa definisi dan diskripsi dari Rumput Vetiver ?

b. Apa keunggulan dan kelemahan dari Rumput Vetiver ?

c. Bagaimana cara kerja, penanaman dan pemeliharaan dari Rumput Vetiver ?

d. Bagaimana penerapan rumput Vetiver sebagai konsep Bio-Engineering ?

e. Bagaimana cara stabilisasi lereng/tebing dengan Teknologi Rumput Vetiver ?

1.3 Tujuan

Tujuan penulisan makalah ini, meliputi :

a. Mengetahui definisi dan diskripsi dari Rumput Vetiver.

b. Mengetahui kelebihan dan kekurangan dari Rumput Vetiver.

c. Mengetahui cara kerja, penanaman dan pemeliharaan dari Rumput Vetiver.

d. Mengetahui penerapan rumput Vetiver sebagai konsep Bio-Engineering.

e. Mengetahui cara stabilisasi lereng/tebing dengan Teknologi Rumput Vetiver.

1.4 Batasan Masalah

Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini hanya mencakup penerapan Teknologi Rumput Vetiver dalam pengontrolan erosi tanah dan stabilisasi lereng/tebing jalan.

1.5 Metode Penulisan

Metode penulisan yang digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah Studi Pustaka dan Browsing Internet.

2. PEMBAHASAN

2.1 Definisi Rumput Vetiver

Rumput vetiver adalah tanaman tropis sejenis rumput-rumputan  berukuran besar yang memiliki banyak keistimewaan, di Indonesia dikenal  sebagai akar wangi (Vetiveria zizanioides) atau usar (Vetiveria nemoralis). Sedangkan dalam bahasa daerah dikenal dengan useur (Gayo), urek usa  (Minang Kabau), hapias (Batak), narwasetu atau usar (Sunda), larasetu  (Jawa), karabistu (Madura), nausina fuik (Roti), tahele (gorontalo), akadu  (buol), sere ambong (Bugis), babuwamendi (Halmahera), garamakusu batawi  (Ternate), dan baramakusu buta (Tidore). Yang sering digunakan dalam teknologi rumput vetiver adalah Vetiveria zizanioides, karena belum banyak  penelitian yang membuktikan Vetiveria nemoralis mampu memberikan  keuntungan yang sebanding dengan Vetiveria zizanioides. Ini mugkin  dikarenakan sistem perakaran Vetiveria nemoralis yang lebih pendek dibandingkan sistem perakaran Vetiveria zizanioides.

Penerapan teknologi rumput vetiver dalam stabilitas lereng atau tebing jalan sangatlah  mudah, praktis dan murah. Ini dikarenakan teknologi ini hanya membutuhkan tingkat  perawatan yang rendah (low maintenance), sangat efektif dalam konservasi air dan tanah, mengendalikan endapan, menstabilkan dan merehabilitasi tanah, dan juga ramah lingkungan.

Beberapa Negara yang memanfaatkan rumput retiver adalah Brazil, India,Vietnam,  Haiti, Kepulauan Reunion, Honduras, Guatemala, Meksiko, Dominika dan Indonesia. Negara  yang mengusahakan secara komersial untuk kepentingan penyulingan hanya Indonesia, khususnya pulau jawa.

2.2 Diskripsi Rumput Vetiver

2.2.1 Bentuk Fisik Rumput Vetiver

Kita dapat mengenali rumput vetiver dari beberapa bentuk fisiknya, yaitu :

a. Rumput Vetiver tidak memiliki stolon dan rizoma. Sehingga secara  keseluruhan sistem akarnya dapat tumbuh dengan cepat, pada beberapa aplikasi  pertumbuhan akarnya dapat mencapai 3 – 4 m pada tahun pertama. Bahkan ada yang mampu menembus hingga kedalaman 5,2 meter. Perakaran ini membuat rumput  vetiver memiliki daya tahan yang tinggi terhadap api, suhu dingin, tekanan udara tinggi, dan efek lalu lintas kendaraan.

b. Memiliki batang yang kaku dan keras, sehingga tahan terhadap aliran air dalam (0,6 – 0,8 m).

c. Tidak menghasilkan bunga dan biji yang dapat menyebar liar seperti alangalang atau rerumputan lainnya.

d. Tumbuhnya tegak dengan tinggi 1,5 – 2,5 m .

e. Bila ditanam di lereng-lereng keras dan berbatu, ujung-ujung akar vetiver  mampu masuk menembus dan menjadi semacam jangkar yang kuat. Cara kerja akar  ini seperti besi kolom yang masuk ke dalam menembus lapisan tanah, dan pada saat  yang sama menahan partikel-partikel tanah dengan akar serabutnya. Kondisi seperti  ini dapat mencegah erosi yang disebabkan oleh angin dan air sehingga vetiver dijuluki sebagai ”kolom hidup”.

f. Jika ditanam berdekatan, membentuk baris/pagar yang rapat. Hal tersebut akan  mengurangi kecepatan aliran, mengalihkan menahan matrial sedimen dengan tanpa merubah arus air dan dapat menjadi filter yang sangat efektif.

2.2.2 Syarat Tumbuh Rumput Vetiver

Pada dasarnya rumput vetiver memiliki beberapa toleransi dalam pertumbuhannya, yaitu :

a. Membutuhkan ketinggian 500 – 1500 m dpl, dengan curah hujan 500 – 2.500 mm per tahun, dan suhu udara lingkungan 17o – 27oC.

b. Membutuhkan sinar matahari yang cukup dan lahan terbuka. Lahan yang  terbaik adalah tanah berpasir dan daerah aliran gunung berapi. Meskipun pada lahan yang ekstrim masih mampu tumbuh dengan baik.

c. Waktu penanaman dapat sepanjang tahun, namun yang terbaik pada awal musim hujan.

2.2.3 Keunggulan dan Kelemahan Rumput Vetiver

Keunggulan dari rumput Vetiver, yaitu :

a. Tahan terhadap variasi cuaca, seperti : kekeringan panjang, banjir, genangan dan temperatur – 14º C sampai 55º C.

b. Mempunyai daya adaptasi pertumbuhan yang sangat luas pada berbagai kondisi tanah, seperti :

  • Pada tanah masam (mengandung mangan dan aluminium)
  • Pada tanah bersalinitas tinggi dan mengandung banyak natrium
  • Pada tanah yang mengandung logam berat, seperti : Ar, Cd, Co, Cr, Pb, Hg, Ni, Se dan Zn.

c. Tahan terhadap rentang pH tanah : 3 – 10.5

d. Yang paling penting adalah teknologi rumput vetiver hanya membutuhkan  biaya yang sedikit dan berkelanjutan. Ditambah lagi biaya perawatannya yang secara signifikan akan semakin berkurang setelah penanaman pagar rumput vetiver.
Contohnya : Dalam stabilisasi lereng di China pada tahun 1997-1999 dengan teknologi Rumput Retiver mampu memberikan penghematan dana sebesar 85%-90%.

e. Pagar vetiver adalah pagar yang alami, bagian dari teknik soft Bio-  Engineering yang ramah lingkungan, dimana merupakan alternatif dari struktur keras dan kaku (beton dan batu).

f. Teknologi Rumput Vetiver sangat baik untuk daerah dengan biaya buruh rendah.

Kelemahan dari Rumput Vetiver , yaitu :

a. Teknologi Rumput Vetiver hanya akan efektif apabila Rumput Vetiver dapat didirikan/ditanam dengan baik.

b. Karena pola pertumbuhan vetiver yang tegak lurus atau vertikal terhadap tanah, maka  disarankan penanamannya dikombinasikan dengan jenis tanaman penutup tanah, seperti bahia, rumput pahit (carpet grass) atau jenis kacang-kacangan (legume). Sehingga tanaman  penutup tanah tersebut dapat mengurangi percikan dan aliran permukaan terutama pada awal pertumbuhan vetiver.

c. Dinding Vetiver hanya akan berfungsi penuh ketika dinding barisan vetiver memiliki  jarak yang dekat satu sama lain. Jadi harus dilakukan penanaman ulang pada bagian- bagian dinding rumput yang terpisah.

d. Karena vetiver adalah tanaman hidup, sehingga tidak dapat langsung berfungsi  dengan baik dalam menangani erosi permukaan. Tanaman ini masih memerlukan waktu atau suatu proses yaitu proses pertumbuhan.

e. Sangatlah sulit untuk menanam dan melakukan penyiraman pada lereng yang tinggi dan bertingkat-tingkat.

2.3 Cara Kerja Rumput Vetiver

Pada dasarnya vetiver bekerja dengan menahan laju air run-off dan material erosi  yang terbawa dengan tubuhnya. Daun dan batang vetiver akan memperlambat aliran endapan  yang terbawa run-off dititik A sehingga tertumpuk di titik B. Air akan terus mengalir  menuruni lereng C yang lebih rendah. Akar tanaman (D) akan mengikat tanah di bawah  tanaman hingga kedalaman 3 meter dengan membentuk “Tiang” yang rapat dan dalam di  dalam tanah, akar-akar ini nantinya akan mencegah terjadinya erosi dan longsor. Pada  dasarnya rumput vetiver akan efektif jika ditanam dalam bentuk barisan yang membentuk pagar.

2.4 Penanaman Rumput Vetiver

Berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam penanaman rumput vetiver :

a. Buat lubang penanaman dengan mengacu pada ketentuan teknis :

b. Sobek plastik polibag secara memanjang dari atas ke bawah, hal ini dilakukan agar akar bibit tidak terganggu/terpotong.

c. Masukkan bibit tanaman ke dalam lubang yang sudah dibuat.

d. Isi bagian-bagian lubang yang kosong dengan campuran tanah dan pupuk kandang.

e. Ratakan kembali seluruh permukaan tanah dengan tanah asli dengan sedikit dipadatkan.

f. Lakukan peniyraman sejak awal penanaman, dilakukan sampai dengan tanaman  berumur tiga bulan. Pada cuaca kering siram sertiap hari selama dua minggu pertama setelah  penanaman. Kemudian dua hari sekali lakukan peniraman, seminggu dua kali, sampai tanaman benar-benar tumbuh.

2.5 Pemeliharaan Rumput Vetiver

Pemeliharaan yang dilakukan pada rumput ini pada dasarnya sama dengan pemeliharaan-pemeliharaan tanaman lain, yaitu :

a. Penyiraman
Penyiraman dilakukan sejak awal penanaman, dilakukan sampai dengan tanaman  berumur tiga bulan. Pada cuaca kering sirami setiap hari selama dua minggu pertama  setelah penanaman. Lakukan penyiraman seminggu dua kali sampai tanaman benarbenar tumbuh.

b. Penanaman Kembali
Penanaman kembali dilakukan bila selama bulan pertama setelah penanaman ada  tanaman yang tidak tumbuh atau mati, dengan cara mengganti dengan tanaman yang baru. Lakukan pengawasan secara kontinyu sampai tanaman benar-benar tumbuh.

c. Penyiangan
Penyiangan/Pendangiran dilakukan untuk mengurangi tanaman pesain vetiver, dan  juga untuk meningkatkan kemurnian penanaman vetiver, khususnya untuk rumput  vetiver. Penyiangan sangat penting untuk menghindari tanaman lain tumbuh lebih  tinggi dari vetiver. Hal ini akan menghambat pertumbuhan vetiver, karena rumput  vetiver tidak tahan naungan. Penyiangan disarankan dilakukan secara manual, karena rumput retiver sensitif terhadap Glyphosate (misalnya Round Up).

d. Pemangkasan
Pemangkasan dilakukan terhadap pertumbuhan daun sudah berlebihan. Pada  umumnya dilakukan setiap 3-4 bulan sekali pada tahun pertama masa pertumbuhan,  dengan meninggalkan tinggi tanaman sekitar 30-40 cm. Pemangkasan berikutnya  dapat dilakukan 2-3 kali setiap tahunnya. Maksud pemangkasan ini selain untuk meningkatkan pertumbuhan tunas baru, juga untuk memperbaiki penampilan tanaman.

e. Pemupukan
Pemupukan dilakukan setelah pemangkasan kedua dengan menggunakan pupuk NPK  (15 15 15) dengan dosis 20 gram per meter pada baris tanaman. Untuk pemeliharaan, pemupukan diulangi setiap setahun sekali.

2.6 Teknologi Rumput Vetiver sebagai Konsep Bio-Engineering

Permasalahan yang dihadapi dalam pengendalian erosi lereng pada daerah yang  memiliki curah hujan yang panjang dan tinggi sangatlah sulit untuk dituntaskan dalam jangka  panjang. Desain yang ada selama ini adalah dengan membangun kanal atau teras penahan  material yang mengalir. Sehingga pada titik tertentu air akan meluap atau mengalir ke sisi penahan yang rendah. Akibatnya adalah membuat aliran material baru seperti pada gambar 1.

Gambar 1. Perbandingan antara teras konvensional / kontur sistem dan Vetiver Sistem dalam konservasi tanah dan air

Solusi alternatif, sebagaimana disebutkan adalah untuk menggunakan vegetasi, dalam  hal ini akar wangi, untuk membantu memperkuat lapisan 1-1,5 m permukaan tanah yang  rawan selip. Ketika akar akar wangi berinteraksi dengan tanah di mana ia tumbuh, bahan  komposit baru yang terdiri dari akar dengan kuat tarik tinggi dan adhesi akan tertanam ke dalam tanah.

Akar Vetiver akan memperkuat tegangan geser dalam tanah dengan menambah  matriks inklusi tarik. Dengan kata lain, kekuatan geser tanah akan ditingkatkan oleh kolom  akar akar wangi. Kekuatan tarik yang dimiliki akar wangi bervariasi antara 40 – 180 MPa  pada diameter akar antara 0.2 – 2.2 mm. Sehingga kita memperoleh rata-rata dari kuat  tariknya, yaitu 75 MPa pada diameter akar 0.7 – 0.8 mm, yang mana diameter ini adalah  diameter akar yang biasa tumbuh di daerah tropis dan kekuatan tariknya sama seperti 1/6 kali  kuat tarik baja ringan. Oleh karena itu, rumput retiver sudah dapat dikatakan kuat atau lebih kuat dari jenis-jenis kayu lainnya yang biasa digunakan dalam penanganan stabilitas lereng.

Ketika  jaringan akar  padat dan besar  berpadu,  mereka akan menyerupai perilaku paku bumi yang biasanya digunakan dalam pekerjaan  rekayasa sipil. Dengan kekuatan khasnya akar ini dapat menembus lapisan-lapisan kedap air atau berbatu.

Gambar 2. Akar-akar vetiver pada area rawan longsor

Grafik 1. Perbandingan kuat tarik dan diameter akar rumput vetiver

Tabel 1. Perbandingan diameter akar dan kuat tarik pada tanaman yang biasa digunakan dalam stabilitas lereng

Dalam gambar 2, akar-akar vetiver yang masuk ke dalam tanah sedalam ± 3 meter  akan berfungsi seperti kolom-kolom beton yang menahan tanah agar tidak longsor sehingga  tanah menjadi stabil. Barisan itu juga menahan material erosi di belakang tubuhnya yang dapat mengurangi kecuraman dan akhirnya membentuk teras-teras yang lebih landai.

Gambar 3. Teras-teras pada rumput vetiver

Bank Dunia dan Direktorat Pengembangan Sumber Daya Air melalui Proyek  Manajemen Sumber Daya Air Proyek, sejak tahun 1966, telah mengembangkan Bio-  Engineering-1 dengan menggunakan vetiver untuk mengendalikan erosi pada banjir dan  bantaran sungai di beberapa sungai di Jawa. Dampak dari penerapan Bioenginering dengan  teknologi rumput vetiver di Indonesia tergambar dari hasil penelitian pada jalan tol  Cipularang dan Cicalengka Nagrek oleh Gunawan G. dan N. Kusminingrum, diperoleh  bahwa kombinsi vetiver dan rumput bahia adalah kombinasi yang sangat baik. Pada  kerimbunan tanaman mencapai 70% tingkat erosi permukaannya sama dengan 0 kg/hari.  Gambaran tingkat erosi yang diperoleh sebagai berikut : untuk lokasi tanpa tanaman tingkat  erosi mencapai 5 kg/hari, ditanami vetiver mencapai 1 kg/hari, kombinasi vetiver dan bahia  mencapai 0,1 kg/hari. Ini sudah menunjukkan bahwa kombinasi antara rumput vetiver dan rumput bahia dapat bekerja secara efektif dalam menangani erosi permukaan lereng.

Sedangkan dampak dari penerapan Bioenginering dengan teknologi rumput vetiver di  India dilaporkan oleh Truong dan Loch (2004) adalah sebagai berikut: Di India di lahan  petanian dengan kemiringan 1,7%, Vetiver mengurangi limpasan dari erosi (sebagai  persentase dari curah hujan) dari 23,3% menjadi 15,5% dan kehilangan tanah dari 14,4 t/ha  menjadi 3,9 t/ha. Peningkatan hasil ini disebabkan tanah dan konservasi air terkendali oleh Teknologi Rumput Vetiver.

2.7 Stabilisasi Lereng/Tebing Jalan dengan Teknologi Rumput Vetiver

Pada konstruksi sipil pengikatan bangunan atau timbunan dilakukan dengan  pemadatan dan pembangunan tembok penahan longsor (tembok penahan tebing). Pada  situasi tertentu pada saat tanah dalam kondisi jenuh air, struktur kestabilan pada lereng tidak  dapat ditahan oleh gravitasi atau tidak terpancang dengan mantap yang mengakibatkan  terjadinya erosi atau longsor. Idealnya, pasak (jangkar) yang terpasang melalui permukaan  yang tidak stabil ke dalam substrat stabil. Pada mengisian tanah yang dipadatkan untuk  timbunan, struktur permukaan idealnya akan terikat ke dalam ke material yang berada  didalam. Pengikatan ini dilakukan dengan penanaman vetiver dengan akar yang berkekuatan baja akan menjadi pasaknya.

Permukaan dari tanggul, atau potongan lereng pada pembangunan jalan harus mampu  menahan cuaca ekstrim atau peristiwa banjir selama bertahun-tahun. Dengan dilakukan  Teknologi Rumput Vetiver, yang semakin lama semakin tumbuh dan membesar akan sebagai  pelindung alami yang semakin kuat. Perawatan semakin lama semakin kecil, atau tidak perlu perawatan jika sudah tumbuh menjadi rumpun yang tinggi dan besar.

Jika dibandingkan, teknologi Konvensional atau ‘Hard’ solusi, teknis yang cukup  mahal dengan sumber daya intensif. Pada kontruksi yang besar, kontraktor pelaksana proyek,  sering menggunakan tenaga kerja asing yang harus dibayar mahal dan dengan alat berat yang  besar. Biaya mobilisasi material dalam jumlah besar dengan menghabiskan bahan bakar yang digunakan mengangkut bahan ke lokasi.

Sedangkan, rancang bangun rekayasa ‘Soft’ atau Bioenginering menggunakan tanaman  dengan karakteristik tertentu yang cocok dilaksanakan secara manual dengan teknologi  sederhana. Pelaksanaannya dapat melibatkan masyarakat sekitar. Perawatan dapat dilakuan  oleh masyarakat sekitar. Dengan demikian dapat lebih menghemat biaya secara jangka panjang.

Dalam penanaman rumput vetiver di lapangan biasanya akan mengalami kendala  dikarenakan kurangnya pengetahuan pelaksana mengenai teknologi baru ini. Jadi, untuk mempermudah pelaksanaan dapat menggunakan langkah-langkah berikut :

Langkah 1 Beberapa orang ahli melakukan survey ke lokasi, dan melaporkan hasil  survey untuk identifikasi masalah dan penentuan desain teknologi rumput vetiver yang akan digunakan.

Langkah 2 Mendiskusikan masalah dan solusi alternatif dengan penduduk setempat.

Langkah 3 Menggunakan Workshops dan Training Courses untuk mengenalkan teknologi yang akan digunakan.

Langkah 4 Mengorganisir uji coba penerapan teknologi dengan mendirikan struktur  kepemimpinan, memesan material yang diperlukan, menetapkan konsep  perawatan/pemeliharaan, dan lain-lain.

Langkah 5 Mengawasi proses penerapan teknologi rumput retiver yang digunakan.

Langkah 6 Mendiskusikan hasil penerapan teknologi rumput retiver yang telah diterapkan.

Langkah 7 Melakukan evaluasi dan pemeliharaan terhadap teknologi rumput retiver yang telah diterapkan.

Teknologi ini ternyata telah berhasil digunakan untuk stabilisasi permukaan curam  pada konstruksi jalan raya dan kereta api, dan perlindungan infrastruktur tambang seperti sebagai lereng curam pada bagian luar tanggul bendungan atau juga sungai.

3. PENUTUP

3.1 Kesimpulan

a. Rumput vetiver adalah tanaman tropis sejenis rumput-rumputan yang memiliki struktur unggul dalam stabilisasi lereng.

b. Rumput retiver memiliki tingkat keunggulan dan tolerasi yang tinggi jika  dibandingkan dengan  tanaman-tanaman atau kayu-kayu lain yang biasa digunakan dalam stabilitas lereng.

c. Teknologi Rumput Retiver (Bio-engineering) dapat dikatakan jauh lebih  murah jika dibandingkan dengan menggunakan metode Hard solusi yang mengandalkan bahan-bahan konstruksi yang kaku dan keras.

d. Rumput Vetiver sudah terbukti dalam mengatasi masalah dalam stabilisasi  lereng. Selain itu, bila dikombinasikan dengan menggunakan rumput bahia (rumput  gajah), tingkat erosi pada lereng dapat mencapai 0%. Hal ini didukung dengan  berhasilnya pengujian Teknologi Rumput Vetiver di Tol Cipularang dan Cicalengka Nagrek oleh Gunawan G. dan N. Kusminingrum.

 e. Dalam penerapan Teknologi Rumput Vetiver masih memerlukan peran serta masyarakat sekitar. Karena teknologi ini masih dapat dikatakan baru.

3.2 Saran

a. Saat teknologi rumput retiver ingin dihentikan jangan mencoba untuk  mencabut akar dari rumput ini secara konvensional, karena akarnya dapat merusak struktur tanah secara keseluruhan.

b. Partisipasi atau peran serta masyarakat sekitar sangat diperlukan dalam
penerapan teknologi ini. Sehingga, penting untuk diadakan pengenalan mengenai
teknologi rumput vetiver baik melalui Workshops maupun Training Courses.

c. Karena Teknologi Rumput Vetiver ini masih baru di Indonesia, maka masih  belum bisa diterapkan dalam pelaksanaan tender. Sehingga, selama ini sifatnya hanya memberi masukan kepada pemenang tender sehingga dapat dipakai atau tidak.

4. DAFTAR PUSTAKA

PU, 23 januari 2011,  http://www.pusjatan.pu.go.id/upload/jurnal/2008/ N2501APR0804.pdf

Koran Jakarta, 23 Januari, http://www.koran-jakarta.com/ USAID, 23 Januari 2011, http://pdf.usaid.gov/pdf_docs/ DACI082.pdf

Tondy Lubis, 23 Januari 2011, http://xa.yimg.com/

Anton Sutrisno, 23 Januari 2011, http://antonsutrisno.webs.com/apps/blog/show/5039626

Ide Online, 20 Januari 2011, http://www.ideaonline.co.id/

Indira, 20 Januari 2011, http://repository.usu.ac.id/

Aku Ingin Hijau, 20 Januari 2011, http://akuinginhijau.org/ Kompas Nasional, 23 Januari 2011, http://nasional.kompas.com/

Pusat Konsumsi Energi, 20 Januari 2011, http://www.consumerenergycenter.org/

Paul Truong, T.T.V.E.P.2008.Vetiver Systems Application.US : Vetiver Network International.

One Response to I Kadek Bagus Widana Putra

  1. Wah,..ternyata tulisan saya muncul di blog ini juga, senangnya ada blog lengkap tentang vetiver. Semoga para Enginner Teknik Sipil di Indonesia bisa lebih mempopulerkan teknologi ini.😀

    Salam,
    Teknik Sipil Universitas Gunadarma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s