Ishak Juarsah, dkk

PENGENDALIAN EROSI DAN KAHAT BAHAN ORGANIK TANAH PADA LAHAN KERING BERLERENG MENDUKUNG PRODUKSI PANGAN NASIONAL

Ishak  Juarsah, R.D. Yustika, dan A. Abdurachman

Download file: ishakjuarsah_erosi 

ABSTRAK

Laju peningkatan produksi bahan pangan nasional harus mampu
mengimbangi laju peningkatan kebutuhan pangan seluruh penduduk Indonesia.  Peluang yang dapat dimanfaatkan antara lain: (1) peningkatan produktivitas  pertanian lahan kering yang telah ada, dan (2) pendayagunaan lahan kering  terlantar. Namun, harus diwaspadai bahwa sebagian besar lahan kering di  Indonesia memiliki lereng curam dan kurang subur, sehingga memerlukan  teknologi tepat guna seperti pengendalian erosi dan pemupukan organik.  Teknologi yang biasa dilakukan petani seperti pemupukan berimbang dan  proteksi tanaman sudah tersedia yang dapat diterapkan secara sendiri-sendiri.  Teknologi yang sudah ada akan lebih efektif dan efisien apabila keduanya  digabungkan, misalnya dalam bentuk teras yang diperkuat dengan rumput pakan,  rotasi tanaman pangan dengan tanaman penutup tanah, dan pertanaman lorong.  Dalam ruang lingkup yang lebih luas, para petani dapat bergabung dalam  kelompok-kelompok tani untuk mengelola usahatani tanaman pangan lengkap  dengan teknologi konservasi dan diintegrasikan dengan usaha ternak. Usaha tani  tersebut akan mampu menghasilkan bahan pangan nabati dan hewani yang menguntungkan, serta melestarikan lingkungan pertanian.

PENDAHULUAN

Dalam rangka memantapkan ketahanan pangan nasional, laju peningkatan  produksi bahan pangan terutama beras harus cukup tinggi, sehingga mampu  mengimbangi laju peningkatan kebutuhan pangan penduduk Indonesia yang  terus meningkat. Laju peningkatan produksi bahan pangan harus lebih cepat,  apabila pemerintah bermaksud mengekspor beras untuk memanfaatkan  momentum tingginya harga bahan pangan di tingkat internasional. Salah satu  peluang peningkatan produksi bahan pangan adalah pendayagunaan lahan  kering yang cukup luas, yang memiliki potensi besar untuk menghasilkan  berbagai bahan pangan dalam jumlah banyak, seperti padi gogo, palawija, aneka  sayuran, buah-buahan dan sebagainya. Sebagian besar lahan kering di  Indonesia berlereng > 15 % sehingga rentan terhadap degradasi oleh erosi, dan kadar bahan organik tanahnya relatif rendah.

Berbagai teknologi pengelolaan lahan tepat guna untuk budidaya tanaman pangan sudah banyak tersedia, termasuk teknologi pengendalian erosi dan pengelolaan bahan organik, untuk menghindari degradasi tanah dan  memantapkan produktivitasnya. Teknologi yang lain pun penting, misalnya  pemupukan anorganik untuk mengatasi kekurangan hara tanaman, namun pada  umumnya hal ini sudah banyak diterapkan oleh petani dengan menggunakan  pupuk buatan pabrik yang banyak tersedia di kios-kios setempat. Masalah pH  tanah yang terlalu rendah juga penting untuk segera diatasi, namun teknologinya  sudah ada dan relatif mudah diterapkan, antara lain dengan menggunakan kapur pertanian.

Makalah ini membahas ketersediaan lahan kering untuk budidaya tanaman  pangan, dan teknologi pengendalan erosi serta pengelolaan bahan organik tanah untuk meningkatkan produksi bahan pangan nasional secara berkelanjutan.

POTENSI DAN MASALAH LAHAN KERING 

Indonesia memiliki daratan seluas 188,2 juta ha, yang terdiri atas 148 juta  ha lahan kering dan 40,2 juta ha lahan basah (Puslitbangtanak, 2001). Lahan  kering yang sesuai untuk budidaya pertanian hanya sekitar 76,2 juta ha, sebagian  besar terdapat di dataran rendah (70,7 juta ha), dan sisanya di dataran tinggi. Di  wilayah dataran rendah, lahan yang datar-bergelombang (lereng <15%) tergolong  sesuai untuk pertanian tanaman pangan, dan luasnya sekitar 23,3 juta ha. Pada  lereng antara 15-30%, lahan kering tersebut lebih baik diarahkan untuk tanaman  tahunan (47,5 juta ha), agar bahaya erosi dapat dihindari Di dataran tinggi yang  elevasinya > 700 m, lahan yang sesuai untuk tanaman pangan hanya sekitar 2,1  juta ha, sedangkan yang lainnya sesuai untuk tanaman tahunan dengan luas sekitar 5,5 juta ha.

Sebagian besar lahan kering (77 %) berlereng > 3 % dengan topografi  datar, agak berombak, bergelombang, berbukit sampai bergunung. Sedangkan  lahan datar (lereng < 3 %), sekitar 42,6 juta ha (Subagyo et al., 2000), kurang dari  seperempat wilayah Indonesia. Secara umum, lahan berlereng (> 3 %) di setiap  pulau di Indonesia lebih luas dari lahan datar (< 3 %). Di Pulau Jawa lahan  berlereng mencapai 10,8 juta ha, sedangkan lahan datar hanya 2,4 juta ha. Di P.  Sumatera, lahan berlereng mencapai 33,7 juta ha, lahan datar 13,5 juta ha.  Padahal kedua pulau tersebut memiliki iklim basah, dengan hujan > 2000  mm/tahun, sehingga bahaya erosi tergolong besar, dan telah menyebabkan degradasi lahan yang cukup berat dan menyebar luas

Selain masalah lereng, faktor lain yang berpengaruh juga adalah
rendahnya kesuburan tanah, sehingga produktivitas lahan relatif rendah. Sebagai  contoh: (a) hasil panen padi gogo saat ini antara 2-3 t/ha, padahal potensinya 4-5  t/ha, (b) hasil kedelai antara 0,60-2,0 t/ha, sedangkan di tingkat penelitian antara  1,70-3,20 t/ha (Subandi, 1998), Hal ini mengindikasikan bahwa produksi bahan  pangan tersebut masih dapat ditingkatkan dengan penerapan teknologi inovasi  yang tepat. Selain meningkatkan produktivitas lahan, peluang lain yang dapat  dimanfaatkan adalah membudidayakan lahan terlantar, yang luasnya sekitar 13,8 juta ha (Abdurachman et al, 2008)

Secara umum, permasalahan dalam pengelolaan lahan kering sangat  bervariasi dari satu wilayah ke wilayah lainnya, baik permasalahan teknis maupun  sosial-ekonomis. Permasalahan tersebut antara lain: (a) miskin kadar hara dan  bahan organik, (b) tingkat pH rendah, (c) lahan berlereng, sehingga rentan proses  erosi, (d) kekurangan air, dan (e) lahan garapan sempit, kurang dari 0,5 ha/keluarga.

EROSI TANAH DAN PENGADAAN BAHAN ORGANIK

Pengaruh erosi tanah terhadap penurunan kualitas lahan

Erosi merupakan salah satu penyebab utama turunnya produktivitas lahan  kering, terutama yang diusahakan untuk tanaman semusim (Abdurachman dan  Sutono, 2005; Kurnia et al., 2005). Hasil pengamatan di berbagai tempat  menunjukkan bahwa pada lahan budidaya tanaman pangan semusim tanpa  disertai konservasi tanah, laju erosi berkisar antara 46-351 t/ha/tahun (Sukmana,  1995), Beberapa hasil penelitian lain mendukung pernyataan tersebut, di  antaranya: 1) Pada tanah Ultisol di Citayam, Jawa Barat, yang berlereng 14%  dan ditanami tanaman pangan, laju erosi mencapai 25 mm/tahun (Suwardjo,  1981), (2) Di Putat, Jawa Tengah, laju erosi mencapai 15 mm/tahun dan di  Punung, Jawa Timur, sekitar 14 mm/tahun, keduanya pada tanah Alfisol  berlereng 9-10% yang ditanami tanaman pangan semusim (Abdurachman et al.,  1985), (3) Di Baturaja pada tanah Ultisol berlereng 14%, laju erosi mencapai 4,6  mm/tahun, walaupun sisa tanaman berupa jerami padi dan jagung dikembalikan  sebagai mulsa, (4) Di Lampung ditemukan laju erosi tanah sebesar 3 mm tahun  pada tanah Ultisol berlereng 3,5% dan ditanami tanaman pangan. Erosi yang  terjadi di berbagai wilayah mengakibatkan penurunan kualitas tanah dan penurunan produktivitas lahan, terutama pada lahan tanaman pangan (Tabel 1).


Pengaruh kadar organik tanah terhadap sifat fisik dan kimia tanah

Bersama partikel-partikel tanah, dalam proses erosi oleh air terbawa juga  bahan organik tanah, yang sebenarnya memiliki fungsi penting dalam budidaya  pertanian. Bahan organik merupakan bagian dari ekosistem yang berhubungan  erat dengan sifat kimia, fisika, dan proses biologi tanah (Mathers et al., 2000;  Chen et al., 2004). Kandungan bahan organik yang rendah mengakibatkan  kekurangan daya sangga dan efisiensi penggunaan pupuk dan berkurangnya  sebagian hara dari lingkungan perakaran (Adiningsih, 1987). Selain itu Lal dan  Stewart (1990) menyatakan bahwa penurunan kadar bahan organik tanah dapat dikatakan sebagai bentuk degradasi lahan.

Dalam hubungannya dengan sifat fisika tanah, bahan organik berupa  pupuk kandang dan kompos dapat berperan dalam pembentukan agregat yang  mantap (Sutono et al., 1996), karena dapat mengikat butiran primer menjadi  butiran sekunder. Hal ini terjadi karena pemberian bahan organik menyebabkan  adanya gum polisakarida yang dihasilkan bakteri tanah dan adanya pertumbuhan  hifa serta fungi dari aktinomisetes di sekitar partikel tanah (Rawls, 1982).  Perbaikan kemantapan agregat tanah meningkatkan porositas tanah, dan  mempermudah penyerapan air ke dalam tanah, sehingga meningkatkan daya  simpan air tanah. Menurut Kohnke (1979), peran bahan organik terhadap sifat  fisik dan kimia tanah antara lain meningkatkan agregasi, melindungi agregat dari  perusakan oleh air, membuat tanah lebih mudah diolah, meningkatkan porositas  dan aerasi, meningkatkan kapasitas infiltrasi, dan perkolasi serta C-organik, Ntotal, P dan K ( Tabel 2).

Bahan organik memiliki fungsi kimia dalam tanah (Suriadikarta dan  Simanungkalit, 2006) seperti: (1) penyediaan hara makro (N, P, K, Ca, Mg, dan  S) dan mikro (Zn, Cu, Mo, Co, B, Mn, dan Fe) meskipun jumlahnya sedikit (2)  meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK) tanah; dan (3) membentuk senyawa  kompleks dengan ion logam beracun (Al, Fe, Mn). Menurut Mench et al., (2000)  dan Madejon et al., (2006), penanaman kembali (revegetation) pada tanah yang  tercemar dengan penambahan bahan organik dapat mengurangi pergerakan unsur pencemar di dalam tanah.

Bahan organik tanah juga berperan dalam memperbaiki sifat biologi tanah  yaitu sebagai sumber energi dan makanan bagi mikroba tanah. Mikroba tanah  memperoleh energi dari proses perombakan bahan yang mengandung karbon.  Dengan adanya sumber energi yang cukup, maka mikroba tanah akan mampu  beraktivitas dengan optimum, yang antara lain menghasilkan peningkatkan  ketersediaan kadar hara bagi tanaman. Paul dan Clark (1989) dan Tan (1990)  menyebutkan bahwa mikroba tanah merupakan faktor penting dalam ekosistem  tanah, karena berpengaruh terhadap siklus dan ketersediaan hara tanaman serta  stabilitas agregat tanah. Pupuk organik selain dapat memberikan hara yang tidak  terdapat dalam pupuk pabrik, seperti unsur hara mikro, juga sangat bermanfaat  untuk perbaikan dan pemeliharaan sifat fisik dan biologi tanah. Lahan kering akan  mampu menyediakan air dan udara yang cukup bagi tanaman, bila struktur  tanahnya baik. Perbaikan struktur tanah juga mendukung peningkatan efisiensi  pemupukan, karena akar tanaman dapat berkembang dengan baik, sehingga  penyerapan hara menjadi maksimal. Kehilangan hara melalui erosi dan aliran permukaan juga menurun pada kondisi sifat fisik tanah yang baik.

Pengadaan bahan organik

Pengadaan bahan organik dalam jumlah yang memadai untuk memenuhi  seluruh kebutuhan tanaman pangan merupakan hal yang sulit direalisasikan,   tetapi sangat mendesak apabila produksi pangan diharapkan mencapai tingkat  optimal. Jenisnya dapat berupa kompos, pupuk kandang, sisa panen (jerami,  sabut kelapa, tongkol jagung), limbah ternak, limbah industri yang menggunakan  bahan pertanian, limbah kota, dan sebagainya. Kualitas pupuk organik sangat  bervariasi, tergantung dari bahan dasar penyusunnya, yang dicirikan oleh  kandungan hara, bahan beracun, patogen, benih gulma, dan kematangan bahan organik tersebut (Setyorini et. al., 2007).

Jenis pupuk organik yang banyak digunakan adalah kompos, yang  merupakan produk pembusukan dari limbah tanaman (jerami, sabut kelapa,  alang-alangan, daun-daunan, tongkol jagung) dan kotoran hewan yang  mengalami proses dekomposisi oleh mikroorganisme pengurai seperti fungi,  aktinomiset, dan cacing tanah. Seiring dengan peningkatan upaya  pengembangan usaha ternak, perhatian petani saat ini juga meningkat terhadap  penggunaan pupuk kandang. Pupuk kandang merupakan bahan organik yang  mudah terdekomposisi dan menghasilkan C-organik, N-total yang tinggi  dibandingkan dengan jerami padi, hijauan jagung, dan flemingia (Erfandi dan  Widati, 2008). Kandungan hara yang terdapat pada pupuk kandang bervariasi  tergantung pada jenis ternak, makanan ternak, umur, dan kesehatan ternak.  Jenis lainnya adalah pupuk hijau, yang dapat berupa sisa-sisa panen atau yang  ditanam secara khusus sebagai penghasil pupuk hijau, atau tanaman liar di pinggir lahan, pinggir jalan, atau saluran irigasi (Rachman et al., 2006).

Teknologi pengendalian erosi dan pemupukan organik

Erosi yang disebabkan oleh air bukan hanya mengangkut partikel-partikel  tanah saja, tetapi juga mengangkut hara tanaman dan bahan organik, baik yang  terkandung di dalam tanah maupun yang berasal dari input pertanian, sehingga  menurunkan kualitas tanah. Oleh karena itu penerapan teknik konservasi  merupakan salah satu prasyarat keberlanjutan usahatani pada lahan kering.  Beberapa macam teknologi telah tersedia dan dapat diaplikasikan, yang dapat  digolongkan ke dalam 2 kelompok, yaitu: teknologi pengendalian erosi cara  mekanis, dan cara vegetatif. Dalam prakteknya, pengendalian erosi cara vegetatif, sekalai gus juga berfungsi sebagai teknik penambahan bahan organik.

Pengendalian erosi cara mekanis :

Teknik penegndalian erosi cara mekanis yang telah terbukti efektif adalah  pembuatan teras. Teras ini banyak bentuknya, namun yang paling banyak  digunakan adalah teras bangku dan teras gulud.

Teras bangku merupakan salah satu teknik konservasi tanah dan air yang  dibuat dengan cara memotong lereng dan menimbun tanah untuk menghasilkan  sederetan bidang datar atau bangku. Teknik ini pada awalnya diterapkan pada  lahan sawah sebagai teras irigasi yang kemudian dikembangkan juga pada lahan  kering, dan memiliki fungsi sebagai berikut: (1) memperlambat aliran permukaan;  (2) menampung dan menyalurkan aliran permukaan dengan kekuatan yang tidak  merusak; (3) meningkatkan laju infiltrasi; dan (4) mempermudah pengolahan tanah.

Pembuatan teras bangku tergolong mahal bagi petani Indonesia, oleh  karena itu baru diterapkan secara besar-besaran setelah diberlakukannya subsidi  pemerintah sebesar 52%, yang ternyata terus dipertahankan walaupun proyek  telah berakhir. Sebagai contoh, pada areal target Proyek Rehabilitasi dan  Pengembangan Agroforestry di DAS Cimanuk Hulu, 68% lahan masih dalam  keadaan teras bangku (Agus et al., 1995). Pada umumnya teras bangku yang  ada di lahan petani masih memerlukan penyempurnaan, antara lain: (1) bidang  olah perlu lebih miring, terutama pada tanah-tanah dengan infiltrasi rendah; (2)  perlu penanaman tanaman penguat di bibir teras; (3) tampingan perlu dipadatkan  dan ditanami rumput; (4) SPA perlu disempurnakan; dan (5) perlu  penyempurnaan bangunan terjunan (drop structure) (Agus et al.,1995,  Abdurachman et al., 1995). Petani menganggap bahwa teras merupakan  bangunan konservasi yang tidak mudah rusak, mempermudah praktek  pengolahan tanah, dan merupakan teknik pengendalian erosi yang efektif (Abdurachman dan Sutono, 2002).

Teknik lain, yaitu teras gulud, merupakan jajaran guludan berparit searah  garis kontur, yang berfungsi untuk menahan laju aliran permukaan dan  meningkatkan laju penyerapan air ke dalam tanah, dan mengalirkan aliran  permukaan dari bidang olah ke SPA. Untuk meningkatkan efektivitas teras gulud,  maka guludan diperkuat dengan tanaman penguat teras. Sebagai kompensasi  kehilangan luas bidang olah, maka bidang teras gulud dapat ditanami cash crops,  seperti kacang panjang, cabai rawit, ubi dan sebagainya. Pengurangan luas  bidang olah akibat aplikasi teknologi ini relatif rendah, dan biaya pembangunan  teras gulud relatif murah dibandingkan dengan teras bangku, yaitu dibutuhkan 65-  180 HOK/ha (Agus et al., 1999). Beberapa hal perlu diperhatikan dalam  pembuatan teras gulud, yaitu: (1) Teras gulud cocok untuk lereng 10-40%, dapat  juga diterapkan pada kemiringan 40-60%, tetapi kurang efektif (Agus et al., 1999),  (2) Pada tanah yang permeabilitasnya tinggi, guludan dapat dibuat tepat menurut  garis kontur; sedangkan pada tanah yang permeabilitasnya rendah, guludan  dibuat miring terhadap kontur tidak lebih dari satu persen menuju ke arah saluran  pembuangan, agar air dapat disalurkan dengan kecepatan rendah ke luar lapangan.

PENGENDALIAN EROSI SECARA VEGETATIF DAN PEMUPUKAN ORGANIK 

Pemulsaan

Pemulsaan adalah teknik konservasi tanah dan air berupa penutupan  permukaan tanah dengan sisa tanaman atau hasil pangkasan. Teknik ini dapat  mengurangi erosi dan meningkatkan kadar bahan organik tanah, melalui  fungsinya sebagai berikut (Kurnia et al., 2005; Rachman et al; 1998): (i)  melindungi tanah dari pukulan air hujan; (ii) mengurangi penguapan, dan  mempertahankan kelembaban udara dan suhu tanah; (iii) menciptakan kondisi  lingkungan yang baik bagi aktivitas mikroorganisme tanah; (iv) mulsa yang  melapuk meningkatkan kadar bahan organik tanah; (v) memperlambat aliran permukaan yang berdampak pada penurunan erosi.

Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa mulsa mampu menurunkan laju  erosi dengan sangat nyata. Suwardjo et al ,(1989) melaporkan bahwa dengan  penggunaan mulsa sisa tanaman pada tanah Tropudults (Lampung) berlereng  3,5%, yang ditanamai tanaman pangan semusim, laju erosi pada tahun ketiga  tercatat mendekati nol, sedangkan pada petak tanpa mulsa erosi lebih dari 39  ton/ha/tahun. Demikian juga pada tanah Haplorthox (Citayam) yang berlereng 14  %, laju erosi hanya 3 ton/ha/tahun, dibandingkan dengan 109 ton/ha/tahun pada petak serupa tetapi tanpa mulsa.

Pemulsaan juga menambah kadar bahan organik dan kesuburan tanah  secara umum, yang pada gilirannya meningkatkan hasil panen. Hasil penelitian  Undang Kurnia (1996) pada tanah Ultisol (Jasinga) menunjukkan bahwa mulsa  jerami 5 t/ha/tahun menghasilkan jagung pipilan kering sebanyak 3,1-3,4 t/musim,  sedangkan tanpa mulsa hanya menghasilkan 2,03 t/musim. Dalam penelitian  tersebut digunakan juga mulsa Mucuna, dan hasil jagung tidak jauh berbeda  dengan mulsa jerami, yaitu 3,0-3,1 t/ha. Peneliti lain, yaitu Indrawati (1998),  menyatakan bahwa pemanfaatan brangkasan kacang tanah dan C. pubescent  sebagai mulsa dapat meningkatkan hasil kacang hijau 12-14%. Setyorini et al.,  (2007), melaporkan bahwa pemanfaatan limbah sisa tanaman dan tanaman  pagar seperti titonia dan kirinyuh yang banyak terdapat di sekitar kebun sayuran  mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan, karena mempunyai kadar hara yang hampir setara dengan pupuk kandang.

Dengan data diatas, dan beberapa data hasil penelitian lain, terbukti bahwa  mulsa sisa tanaman atau pupuk hijau dapat berfungsi sebagai pengendali ersoi  dan juga penambah bahan organik, yang dapat juga meningkatkan hasil panen tanaman pangan.

Pencampuran pupuk organik dengan ’top soil’

Pencampuran bahan organik dengan ’top soil’ dapat menurunkan laju erosi  secara tidak langsung, yaitu melalui perbaikan sifat Fisika Tanah dan  peningkatan kesuburan tanaman. Sebagai contoh, penambahan pupuk kandang  sebanyak 20 t/ha/tahun pada tanah Ultisol, Jasinga, meningkatkan hasil jagung  pipilan dari 2,03 t/ha menjadi 3,17-3,04 t/ha/musim (Undang Kurnia, 1996).  Dengan takaran pupuk kandang yang lebih rendah, hasil panen pun lebih rendah  pula. Abdurachman et al (2000) melaporkan hasil jagung sebesar, 3,32 t/ha, 2,98  t/ha, 2,47 t/ha, dan 1,46 t/ha setelah diberi pupuk kandang masing-masing  sebanyak, 20 t/ha, 10, t/ha, 5 t/ha, dan tanpa pupuk kandang; sedangkan kedelai  hasilnya adalah 1,45 t/ha, 1,35 t/ha, 1,26 t/ha, dan 0,89 t/ha, dengan jumlah  pemberian pupuk kandang yang sama. Data tersebut merupakan rata-rata hasil  pemupukan dengan pupuk kandang sapi, kambing dan ayam. Jika dibandingkan  dari tiga jenis pupuk kandang tersebut, maka yang paling baik pengaruhnya  terhadap produtivitas tanaman pangan adalah pupuk kandang ayam, pupuk kandang sapi, dan terakhir pupuk kandang kambing.

Hasil panen tanaman pangan dapat dicapai lebih tinggi apabila  ditambahkan juga pupuk anorganik. Park (1990) melaporkan hasil panen padi  4,97 t/ha, kedelai 1,93 t/ha, barley 2,27 t/ha dan gandum 2,24 t/ha, setelah diberi  NPK + kompos, yang lebih tinggi dari hasil pemupukan NPK saja, yaitu: 4,78 t/ha, 1,53 t/ha, 1,80 t/ha, dan 1,90 t/ha

Rotasi dengan tanaman penutup tanah

Penanaman penutup tanah/pupuk hijau seperti Cayanus Cayan (gude),  Mucuna sp., Centrosema, Calopogonium, dan Mimosa invisa, sesudah tanaman  pangan, merupakan pengaturan pola tanam yang dapat memperbaiki kesuburan  kimia, fisika dan biologi tanah. Hal tersebut berarti menurunkan kepekaan tanah  terhadap erosi (erodibilitas). Selain itu, hasil pangkasan tanaman penutup tanah  dapat digunakan sebagai bahan mulsa. Situmorang (1999) melaporkan bahwa  setiap ton biomassa Mucuna sp. mengandung 2,5 kg N; 1,1 kg P; dan 43,0 kg K,  selain unsur hara Ca, Mg, dan unsur mikro. Mucuna sp. sebagai pupuk organik  mengandung N = 2,42 %, P = 0,20 % dan K = 1,97 % (Sri Adiningsih, 19912),  atau dalam setiap 1 ton biomas kering Mucuna, sp terdapat hara setara 51,6 kg Urea; 10 kg TSP dan 39,4 kg KCL Tabel 3

INTEGRASI PENGENDALIAN EROSI DAN PEMUPUKAN ORGANIK

Teras dengan tanaman penguat

Efektivitas teras dalam mengurangi erosi lebih tinggi apabila  dikombinasikan dengan tanaman penguat teras. Sebagai contoh, pada tanah  Latosol (Oxisols) di Gunasari, laju erosi pada tahun pertama hanya 1,2 t/ha dan   pada tahun kedua menurun lagi sampai 0,4 t/ha apabila teras bangku diperkuat  lagi dengan Brachiaria decumbens (Haryati et al., 1992). Di Sitiung, selama  musim penanaman kedelai (Glycine max) dan jagung (Zea mays), laju erosi  mendekati nol dengan diaplikasikannya teras bangku yang diperkuat dengan Paspalum notatum (Tala’ohu et al., 1992). Selain itu, tanaman penguat teras,   memberikan nilai tambah lain yaitu sebagai sumber pakan ternak dan bahan  organik tanah. Jenis tanaman yang biasa digunakan sebagai tanaman penguat  teras adalah tanaman legum seperti hahapaan (Flemingia congesta), gamal  (Gliricidia sepium) dan rumput seperti bahia (Paspalum Notatum), bede  (Brachiaria decumbens), setaria (Setaria sphacelata), gajah (Penisetum purpureum) atau akar wangi (Vetiver zizanoides).

Strip tanaman (rumput) searah kontur

Strip rumput merupakan sistem penanaman rumput yang rapat pada garis  kontur, yang berfungsi sebagai penahan aliran permukaan dan erosi, sehingga  dapat mendorong terbentuknya teras secara perlahan (teras kredit). Teknik strip  dapat mengontrol aliran permukaan dan erosi, serta menyediakan rumput pakan  atau mulsa. Di sisi lain, strip rumput juga memiliki kelemahan, yaitu: (1) tidak  sesuai untuk lereng > 30%, (2) bila tidak dilakukan pemangkasan secara periodik,  dapat menjadi sarang tikus, (3) memerlukan tenaga kerja untuk memelihara  rumput, (4) mengurangi luasan lahan yang bisa ditanami tanaman pangan, (4)  kompetisi hara, cahaya, dan atau alelopati dengan tanaman pokok (Rachman et al, 1989)

Pertanaman lorong

Pertanaman lorong (alley cropping) merupakan sistem penanaman pohon  atau semak jenis legum yang ditanam rapat searah garis kontur, dengan jarak  antar lajur 4-8 m tergantung kemiringan lahan, sehingga membentuk loronglorong,  yang ditanami tanaman pangan sebagai tanaman utama. Legum pohon  atau semak yang ditanam rapat berfungsi untuk menyaring partikel tanah yang  tererosi dan mengendalikan aliran permukaan. Teknik ini selain mampu menekan  erosi dan aliran permukaan, juga mampu memperbaiki kesuburan tanah, menghasilkan kayu bakar dan pakan ternak.

Sistem pertanaman lorong dapat menambah persediaan bahan organik  setempat, melalui pangkasannya. Tanaman pagar seperti F. congesta,  menghasilkan pangkasan biomassa sebanyak 3-9 t/ha 6/bulan (Hafif et al., 1992).  Penggunaan bahan hijauan Gliricidia sepium atau F. congesta sebanyak 2 ton  berat kering atau sekitar 10-15 ton berat basah dapat menyumbangkan N  sebanyak 50 kg, P sebanyak 4 kg, dan K sebanyak 30 kg. Bila diasumsikan  bahwa kebutuhan tanaman biji-bijian berturut-turut sebanyak 50 kg N/ha, 20 kg P  /ha, dan 60 kg K/ha, maka pupuk hijau tersebut akan dapat memenuhi sebagian kebutuhan hara tanaman (Agus, 2000).

Pertanaman lorong dan strip rumput merupakan teknik konservasi vegetatif  yang efektif dalam menekan erosi dan aliran permukaan. Hal ini telah dibuktikan  oleh berbagai peneliti, antara lain Dariah et al (1988) dan Erfandy et al. (1988),  yang melaporkan penurunan erosi sampai di bawah ambang batas, setelah  penerapan pertanaman lorong dengan F.congesta dan strip rumput vetiver, pada pertanaman jagung dan kacang tanah.

Prinsip keduanya sama, yaitu menanam tanaman konservasi dalam  barisan searah kontur, dengan jarak antar barisan sesuai kemiringan lahan  (semakin miring jaraknya semakin rapat). Perbedaannya terletak pada tanaman  konservasi yang dipilih. Pada sistem pertanaman lorong, jenis tanaman yang  digunakan sebagai tanaman konservasi adalah legume pohon atau perdu,  sedangkan pada sistem tanaman strip adalah tanaman rumput dan sejenisnya misalnya akar wangi (Vetiver).

INTEGRASI KOMPONEN TEKNOLOGI KONSERVASI DALAM USAHATANI 

Komponen teknologi pengendalian erosi dan teknologi pemupukan organik  dapat diterapkan sendiri-sendiri secara terpisah, namun lebih efektif bila  diintegrasikan secara sinergistik oleh seorang petani atau kelompok tani pada  suatu hamparan lahan. Salah satu contoh adalah memadukan teknologi  pengendalian erosi cara mekanis dengan cara vegetatif, misalnya berupa  penerapan teras bangku yang disertai penanaman pupuk hijau atau rumput  pakan. Integrasi teknologi konservasi memberikan out-put berupa penurunan laju  erosi dan penambahan bahan organik, yang dapat digunakan untuk pakan ternak atau pupuk organik.

Ditinjau dari aspek ekonomi, Integrasi teknologi konservasi dapat  meningkatkan pendapatan petani. Nataatmadja et al. (1993), melaporkan adanya  peningkatan pendapatan petani penerap usahatani konservasi dengan teras  bangku yang ditanami rumput pakan, yaitu sebesar 81% di kawasan lahan  volkanik dan 178% di kawasan lahan sedimen dangkal. Pola peningkatan  pendapatan ini berlangsung secara perlahan, tetapi pada akhirnya mencapai peningkatan yang berarti

Integrasi teknologi konservasi dapat dibangun dalam suatu gabungan  usaha tani tanaman pangan dengan usaha ternak, misalnya padi gogo/palawija  dengan ternak kambing/sapi. Pada lahan tanaman pangan, diterapkan teknologi  pengendalian erosi dan pemupukan berimbang, sehingga petani memperoleh  hasil berupa bahan pangan dan pakan, serta mengurangi laju erosi. Hasil  pangkasan rumput yang cukup banyak, digunakan untuk mendukung  pengembangan ternak dengan hasil sampingan berupa pupuk kandang untuk  menyuburkan tanah. Lubis et al. (1991) melaporkan bahwa berdasarkan  kebutuhan ternak dan produksi hijauan sisa panen, setiap satu ha lahan kering  dapat menunjang kebutuhan 2–6 ekor sapi atau 16–30 ekor domba/kambing,  tergantung pada pola tanam yang diterapkan. Selain itu, masih dapat diperoleh  hasil tambahan lain berupa pupuk kandang untuk meningkatkan kadar bahan  organik tanah, yang pada gilirannya akan meningkatkan hasil panen tanaman pangan.

Menurut Diwyanto dan Handiwirawan (2004), sistem integrasi tanamanternak  (Crop Livestock System) dikembangkan dalam rangka mengoptimalkan  usaha agribisnis dan efisiensi input produksi dengan tetap mempertahankan  kelestarian sumberdaya alam untuk menghasilkan produk pertanian (tanaman  dan ternak) yang berdaya saing tinggi dan meningkatkan pendapatan petani.  Sistem ini berpeluang dikembangkan baik di wilayah dengan lahan garapan  sempit (Jawa dan Bali) maupun di wilayah yang potensi lahan pertaniannya  masih luas (Kalimantan, Sulawesi, Sumatra), karena dapat diterima oleh petani.  Salah satu contoh sistem integrasi yang berhasil telah dilaporkan oleh Elly et al.  (2008), berupa integrasi antara usahatani jagung dengan usaha ternak sapi di  Minahasa, yang mampu memberikan pendapatan petani sebanyak Rp  7.262.000/tahun, sedangkan petani yang tidak melakukan integrasi, rata-rata  hanya mendapat Rp 1.468.000/tahun. Penerapan integrasi tanaman-ternak,  dapat memberikan beberapa keuntungan, antara lain: (1) diversifikasi  penggunaan sumberdaya produksi, (2) mengurangi risiko kegagalan, (3) efisiensi  penggunaan tenaga kerja dan komponen produksi, (4) mengurangi  ketergantungan energi kimia dan energi biologi serta masukan sumberdaya   lainnya, (5) sistem ekologi lebih lestari dan tidak menimbulkan polusi sehingga  melindungi lingkungan hidup, (6) meningkatkan output dan (7) rumah tangga petani lebih stabil (Devendra, 1993).

Dengan demikian, sistem integrasi tanaman-ternak dapat diterapkan dalam  rangka meningkatkan produksi bahan pangan (beras, palawija, daging), baik  pada lahan pertanian yang sudah ada maupun perluasan pada lahan terlantar. Di  dalam sistem integrasi tersebut, komponen teknologi pengendalian erosi dan  pengelolaan bahan organik dapat diterapkan dengan sinergis dan berdampak pada perbaikan sistem produksi bahan pangan secara berkelanjutan.

KESIMPULAN

  1. Kendala teknis yang dihadapi dalam budidaya tanaman pangan pada lahan  kering berlereng antara lain berupa degradasi lahan oleh erosi, kahat hara  dan bahan organik tanah. Beberapa teknologi yang merupakan gabungan  dari teknologi pengendalian erosi dan pemupukan organik sudah tersedia,  antara lain; teras yang disertai penanaman rumput atau legum, rotasi tanaman pangan dengan penutup tanah, dan pertanaman lorong.
  2. Berbagai komponen teknologi dan gabungan teknologi tersebut dapat  diterapkan dalam bentuk integrasi usahatani tanaman-ternak (crop  livestock system), misalnya padi gogo/palawija dengan sapi, atau  sayuran/palawija dengan kambing. Integrasi teknologi dan usahatani  tersebut dapat memberikan keuntungan teknis maupun ekonomis,  sehingga peluang adopsinya oleh petani cukup tinggi. Dengan demikian,  peluangnya cukup besar untuk memberikan dukungan terhadap  peningkatan produksi pangan nasional dan pelestarian lingkungan pertanian.

SARAN

  1. Dalam rangka memantapkan ketahanan pangan nasional, salah satu  peluang peningkatan produksi bahan pangan adalah pendayagunaan  lahan kering yang tersedia cukup luas. Walaupun sebagian besar lahan  tersebut sudah digunakan untuk tanaman pangan, tetapi tingkat  produktivitasnya masih relatif rendah, sehingga tetap ada peluang untuk meningkatkan produksi pangan, dengan menerapkan teknologi tepat guna.
  2. Peluang lain yang juga cukup besar adalah menggunakan lahan terlantar  untuk budidaya tanaman pangan, namun masih ada masalah tentang  status kepemilikan yang perlu ditelusuri, apakah milik pribadi, milik negara  ataukan tanah adat/marga. Selanjutnya setelah masalah sosial-ekonomi  teratasi, maka perlu penerapan teknologi budidaya tanaman pangan yang tepat dan ramah lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurachman.A., A.Barus., U.Kurnia dan Sudirman, 1985. Peranan Pola tanam  dalam usah Pencegahan erosi pada Lahan Pertanian tanaman semusim. Pemberit. Penelitian Tanah dan Pupuk. Hal. 4: 41-46.

Abdurachman A., I. Juarsah, dan U. Kurnia. 2000. Pengaruh penggunaan  berbagai jenis dan takaran pupuk kandang terhadap produktivitas tanah  Ultisols terdegradasi di Desa Batin, Jambi. dalam Pros. Seminar Nasional  Sumber Daya Tanah, Iklim, dan Pupuk. Buku II. Bogor, 6-8 des. 1999. Puslittanak. hal. 303-319.

Abdurachman.A., S. Damanik, dan I.B. Purnomo, 1995. Analisis Agroekosistem di  daerah tadah hujan Toba, Desa Lintang Julu, Tapanuli Utara, Sumatera  Utara. hlm 59-76 dalam Pros. Lokakarya Pembahasan Hasil Penelitian  1994/95, dsn Rencana Penelitian 1995/96. Analisis Agroekosistem dan   Pengelolaan DAS. Kelompok Kerja Penelitian dan Pengembangan Sistem Usahatani Konservasi Lahan Kering. Bag. Proyek Peningkatan  Kemampuan Perencanaan Penghijauan dan Reboisasi Pusat. Puslittanak. Bogor.

Abdurachman dan Sutono, 2002. Teknologi Pengendalian Erosi lahan berlereng  .hlm. 103-146, dalam Teknologi Pengendalian Lahan kering menuju  Pertanian Produktif dan Ramah Lingkungan. Puslitbangtanak. Badan Litbang Pertanian.

Abdurachman, A. dan S. Sutono. 2005. Teknologi pengendalian erosi lahan  berlereng. Hlm. 103-145 dalam Teknologi Pengelolaan Lahan Kering:  Menuju Pertanian Produktif dan Ramah Lingkungan. Puslitbangtanak, Bogor.

Abdurachman, A., A. Dariah, dan A. Mulyani. 2008. Strategi dan teknologi  pengelolaan lahan kering mendukung pengadaan pangan nasional. Jurn.  Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 27, Nomor 2, 2008. Badan Litbang Pertanian. ISSN 0216-4418. pp 43-49.

Adiningsih, S.J. dan I.G.P. Wigena, S. Rochayati, W. Hartatik dan S. Desire.  1987. Penelitian Efesiensi Pemupukan di Kuamang Kuning Jambi. Hal 41-  72. Dalam Penelitian Pola Usahatani Terpadu di Daerah Transmigrasi Jambi, Pusat Penelitian Tanah, Badan Litbang Pertanian.

Agus.F,dan S.Damanik, T.Hendarto, B.R. Prawiradiputra, N. Syafaat, dan A.Syam, 1995. Analisisi Agroekosistem Desa Cintamanik, Kabupaten  Garut. Pokja Litbang SUK, Bagpro PKPPR, Ditjen RRL, Departemen Kehutanan.

Agus, F., A. Abdurachman, A. Rachman, S.H. Talaohu, A. Dariah, B.R.  Prawiradiputra, B. Hafif, dan S. Wiganda. 1999. Teknik Konservasi Tanah  dan Air. Sekretariat Tim Pengendali Bantuan Penghijauan dan Reboisasi Pusat. Dep. Kehutanan.

Agus, F. 2000. Kontribusi bahan organic untyk meningkatkan produksi pangan  pada lahan kering bereaksi masam. hlm 87-104 dalam Pros. Seminar  Nasional Sumber Daya Lahan. Buku III. Cisarua-Bogor, 9-11 Februari 1999. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.

Banuwa, I.S.1994. Dinamika Aliran Permukaan dan Erosi Akibat Tindakan  Kinservasi Tanah pada Andisol Pengalengan, Jawa Barat. Tesis Program Pasca sarjana IPB, Bogor. (Tidak dipublikasikan).

Chen, C.R., Xu, Z.H., Mathers, N.J., 2004. Soil carbon pools in adjacent natural  and plantation forests of subtropical Australia. Soil Sci. Soc. Am. J. 68, 282–291.

Dariah. A., dan A. Rachman, 1990. Pengaruh mulsa hijauan alley cropping dan
pupuk kandang terhadap pertumbuhan dan hasil jagung serta beberapa sifat fisik tanah. Hlm 99-106, dalam Pros. Pertemuan Teknis.  Bid.Konservasi Tanah dan Air, 22-24 Agustus 1989. Pusat Penelitian Tanah Bogor.

Diwyanto, K. dan E. Handiwirawan. 2004. Peran Litbang dalam Mendukung  Usaha Agribisnis Pola Integrasi Tanaman-Ternak. Pros. Semnas Sistem  Integrasi Tanaman-Ternak. Denpasar 20-22 Juli 2004. PUSLITBANGNAK  kerjasama dengan BPTP Bali dan CASREN. ISBN 979-8308-42-5. pp. 63- 73

Devendra, C., 1993. Sustainable Animal Production from Small Farm Systems in  South-east Asia. FAO Animal Production and Health Paper 106. FAO Rome

Elly, F.H., B.M. Sinaga, S.U. Kuncoro, dan N. Kusnadi. 2008. Pengembangan  Usaha Ternak Sapi Rakyat Melalui Integrasi Sapi-Tanaman di Sulawesi  Utara. Jurn. Penelitian dan Pengembanga n Pertanian Vol 27, Nomor 2, 2008. Badan Litbang Pertanian. ISSN 0216-

Erfandi, D. dan S. Widati. 2008. Dekomposisi Bahan Organik dan Kondisi Sifat  Fisik Tanah dalam Upaya Mengatasi Degradasi Lahan. Pros. Seminar dan Kongres Nas. MKTI VI. Pp. 561-572.

Erfandi.,D. Mahmudin Nur, dan T.Budhyastoro, 1908. Perbaikan Lingkungan sifatsifat fisik tanah dengan strip vetiver dan residu pupuk kandang. Pros.  Pertemuan Pembahasan dan Komunikasi Hasil Penelitian Tanah dan  Agroklimat. Bid. Fisika dan Konservasi Tanah dan Air serta Agroklimat dan Hidrologi, 4-6 Maret 1977. Puslittanak. Bogor. pp 33-40

Hafif, B., D. Santoso, M. Suhardjo, dan I G.P. Wigena. 1992. Beberapa cara  pengelolaan tanah untuk pengendalian erosi. Pemberit. Penelitian Tanah dan Pupuk 10: 54-60.

Haryati,U., M.Thamrin, dan Suwardjo, 1992. Evaluasi beberapa model teras pada  Latosol Gunasari DAS Citanduy dalam Pros. Pertemuan Teknis Penelitian  Tanah. Bidang Konservasi Tanah dan Air, 22-24 September 1989. Puslitbangtanak, Bogor. pp 187-195

Hartatik, W., D. Setyorini, dan F. Agus. 2007. Monitoring Kualitas Tanah dalam  Sistem Budidaya Sayuran Organik. Seminar dan Kongres Nasional IX HITI.. 5-7 Desember 2007. UPN Veteran Yogyakarta. pp 30-39

Juarsah, I., S.H. Tala’ohu, dan A. Abdurachman, 1994. Prospek Mucuna, sp  sebagai Tanaman Konservasi dan Reahabilitasi Lahan serta Sumber  Protein. Pros. Seminar Gelar Teaknologi dan Temu Lapang dalam Pengembangan Teknologi Spesifik Lokasi di Kalimantan Tengah.

Indrawati. 1998. Pengaruh Mulsa Terhadap Sifat Fisik Tanah dan Hasil Kacang Hijau. Thesis Sarjana. Institut Pertanian Bogor.

Kohnke. 1979. Soil Physics. TMH Edition. Tata Mc Graw-Hill Publishing Company Ltd.

Kurnia, U., Sudirman, dan H. Kusnadi. 2005. Teknologi rehabilitasi dan reklamasi  lahan. dalam Teknologi Pengelolaan Lahan Kering: Menuju Pertanian Produktif dan Ramah Lingkungan. Puslitbangtanak. Bogor. pp. 147-182

Lal, R. and Steward, B.A. (eds). 1990. Soil Degradation Advance in Soil Science. Pengendalian Erosi dan Kahat Bahan Organik Tanah
271 Vol II. Springer-Verlag, New York.

Lubis, D., T. Prasetyo, E. Masbulan, R. Hardianto dan A. Hermawan. 1991.  Dampak usaha ternak dalam usahatani lahan kering DAS Bagian Hulu,  serta peluang pengembangannya. Dalam: Prawiradiputra et al. (Eds.).  Risalah Lokakarya Sistem Usahatani Konservasi di DAS Jratunseluna  dan DAS Brantas. P3HTA, Badan Litbang Pertanian, Salatiga. pp. 187- 205.

Madejon, E., de Mora, A.P., Felipe, E., Burgos, P., Cabrera, F., 2006. Soil  amendments reduce trace element solubility in a contaminated soil and allow regrowth of natural vegetation. Environmental Pollution 139, 40–52.

Mathers, N.J., Mao, X.A., Xu, Z.H., Saffigna, P.G., Berners-Price, S.J., Perera,  M.C.S., 2000. Recent advances in the applicationof C-13 and N-15 NMR  spectroscopy to soil organic matter studies. Aust. J. Soil Res. 38, 769– 787.

Mench, M., Vangronsveld, H., Clisters, N., Lepp, W., Edwards, R., 2000. In situ  metal immobilization and phytostabilization of contaminated soils. In:  Terry, N., Banuelos, G. (Eds.), Phytoremediation of Contaminated Soil  and Water. Lewis Publishers, Boca Raton, FL. Mills, T., Northcott, G., Vogeler, I., Robinson, B., Norling, C., Leonil

Nataatmadja, H., C. Setiani, Y. Soelaeman, B. R. Prawiradiputra dan A.  Hermawan. 1993. Peluang peningkatan pendapatan petani di lahan  kering berorientasi konservasi tanah. Dalam: Abdurachman et al. (Eds.).  Risalah Lokakarya Pelembagaan Penelitian dan Pengembangan Sistem  Usahatani Konservasi Hulu DAS Jratunseluna dan Brantas. P3HTA, Badan Litbang. Salatiga. pp. 107-137.

Park, Y.D. 1990. Utilization of organic wastes as fertilizers in Korea. Paper Presented at Seminar on The Use of Organic Fertilizers in Crop
Production, at Suweon, South Korea, 18-24 June 1990.

Paul, E.A. and F.E. Clark. 1989. Soil Microbiology and Biochemistry. Academic Press Inc. San Diego, California 92101.

Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, 2001. Atlas Arahan Tata Ruang Pertanian Nasional. Skala 1 : 1.000.000. Puslittanak, Bogor.

Rawls, 1982. Estimating Soil bulk density from particle Size analysis and organic  matter content. J.Soil. Sci 123-125 (eds). Risalah Diskusi ilmiah Hasil  Penelitian Pertanian Lahan kering dan Konservasi di daerah Aliran  Sungai, Malang 1-3 Maret 1988. P3HTA. Badan Litbang Pertanian.

Rachman. A., R.L. Watung dan Umi Hayati, 1998.a. Peranan tanaman penutup  tanah dalam pengendalian erosi tampingan, teras bangku pada tanah Latosol Ungaran hlm 3-10 dalam Kartono et al

Rachman, A., A. Dariah, dan D. Santoso. 2006. Pupuk Hijau. Dalam Pupuk  Organik dan Pupuk Hayati. Hlm 41-57. Balai Besar litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Santoso, D., J. Purnomo, I G. P. Wigena, dan E. Tuherkih. 2004. Teknologi  konservasi vegetatif. Olah Tanah Konservasi. dalam Konservasi Tanah  pada Lahan Kering Berlereng. Puslittanak. Badan Litbang Pertanian. pp 77-108

Setyorini D., L.R. Widowati, dan W. Hartatik. 2007. Karakteristik Pupuk Organik  Dengan Teknik Pengomposan Untuk Budidaya Pertanian Organik.  Seminar dan Kongres Nasional IX HITI. 5-7 Desember 2007. UPN Veteran Yogyakarta. pp 117-128.

Setyorini, D., R. Saraswati, dan E.K. Anwar. 2006. Kompos. Dalam Pupuk Organik dan Pupuk Hayati. BBSDLP. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian pp 11-40

Sinukaban, N. 1990. Pengaruh Pengolahan tanah konsrvasi dan pemberian  mulsa jerami terhadap produksi tanaman pangan dan erosi hara. Pembrit. Penel. Tanah dan Pupuk 9 : 32-38.

Situmorang, R. 1999. Ringkasan Disertasi. Pemanfaatan Bahan Organik  Setempat, Mucuna sp. dan Fosfat Alam untuk Memperbaiki Sifat-sifat Palehumults di Miramontana, Sukabumi. Program Pascasarjana IPB.

Sri Adiningsih,J. Dan Mulyadi, 1992. Alternatif teknik rehabilitasi dan pemanfaatan lahan alang-alang. Dalam pemanfaatan lahan alang-alang untuk  usahatani berkelanjutan. Prosiding Seminar Lahan alang-Alang. 1 Desember 1992. Puslittanak. Badan Litbang Pertanian,

Subandi,J. Triastoro, E.Budi Santoso, dan A. Banualim, 1998. Metode  Penanaman Legum Pakan pada Lahan Kering bersolum dangkal di DAS  Kambaneroe, Kab. Sumba Timur, dalam Agus et al (eds). Alternatif dan  Pendekatan Implements Teknologi Konservasi Tanah. Pros. Lokakarya  Nas. Pembahasan Hasil Penelitian Pengelolaan DAS. 27-28 Oktober 1998. Puslittanak. Bogor pp 351-373

Sukmana. S., 1995. Teknik Konservasi tanah dalam Penanggulangan Degradasi  tanah Pertanian lahan kering, dalam Pros. Pertemuan Pembahasan dan  Komunikasi Hasil Penelitian Tanah dan Agroklimat. Buku I. Makalah Kebijakan. 26-28 September 1995. Puslittanak Bogor. pp 23-41

Suriadikarta, D.A., dan R.D.M. Simanungkalit. 2006. Pendahuluan. Dalam Pupuk Organik dan Pupuk Hayati. BBSDLP. Baadan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. pp 1-10.

Suriadikarta, D.A., T. Prihatini, D. Setyorini, dan W. Hartatik. 2005. Teknologi  Pengelolaan Bahan Organik Tanah. Hlm 169-222. Dalam Teknologi Pengelolaan Lahan Kering. Puslitbangtanak. Badan Litbang Pertanian.

Subagyo, H.N., Suharta, dan A.B. Siswanto, 2000. Tanah- Tanah Pertanian di Indonesia hlm 21-65 dalam Sumberdaya Lahan Indonesia dan  Pengelolaannya, Puslittanak, Bogor. Pengendalian Erosi dan Kahat Bahan Organik Tanah
273

Suganda, H., M. Sodik, D. Santoso, dan S. Sukmana.1977. Pengaruh cara  pengendaian erosi terhadap aliran permukaan, tanah tererosi dan produksi sayuran pada Andisol. Jurnal Tanah dan Iklim 15 : 38-50.

Sutono, S., A. Abdurachman, dan I. Juarsah. 1996. Perbaikan Tanah Podsolik  Merah Kuning (Haplorthox) Menggunakan Bahan Organik dan Anorganik:  Suatu Percobaan Rumah Kasa. Pros. Pertemuan Pembahasan dan Komunikasi Hasil Penelitian Tanah dan Agroklimat. Puslittanak. pp 17-37.

Suwardjo.1981. Peranan Sisa-sisa Tanaman dalam Konservasi Tanah dan Air pada Usahatani Semusim. Thesis FPS-IPB, Bogor.

Suwardjo, Mulyadi, dan Sudirman, 1987. Prospek tanaman benuk (Mucuna, sp)  untuk merehabiliasi tanah Podsolik yang dibuka secara mekanik di Kuamang Kuning, Jambi

Suwardjo, H., A. Abdurachman, and S. Abujamin. 1989. The use of crop residue  mulch to minimize tillage frequency. Pembrit. Penel. Tanah dan Pupuk 8:  31-37

Tala’ohu.S.H, A. Abdurachman, dan H. Suwardjo, 1992. Pengaruh teras bangku,  gulud, slot mulsa Flemingia, dan strip rumput terhadap erosi, hasil  tanaman dan ketahanan tanah tropudult di Sitiung, hlm 79-89 dalam Pros.  Pertemuan Teknis Penelitian Tanah. Bid. Konservasi Tanah dan Air, 22- 24 Agustus 1989. Puslitbangtanak , Bogor.

Tan, K.H. 1990. Environmental Soil Science. Marcel Dekker, Inc. New York

Undang Kurnia. 1996. Kajian Metoda Rehabilitasi Lahan untuk Meningkatkan dan  Melestarikan Produktivitas Tanah. Disertasi Doktor, Program Pasca

Undang Kurnia, N. Sinukaban, F.G. Suratmo, H. Pawitan, dan H. Suwardjo, 1977.  Pengaruh Teknik rehabilitasi lahan terhadap produktivitas tanah dan kehilangan hara. Jurnal Tanah dan Iklim 15: 10-18.

Widowati, L.R., Sri Widati, dan D. Setyorini. 2004. Karakterisasi Pupuk Organik  dan Pupuk Hayati yang Efektif untuk Budidaya Sayuran Organik. Laporan  Proyek Penelitian Program Pengembangan Agribisnis, Balai Penelitian Tanah, TA 2004 (Tidak dipublikasikan).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s