Janardi Sumartin

 PENDEKATAN KEARIFAN LOKAL DAN PENANAMAN VETIVER DALAM PENANGGULANGAN ABRASI GARIS SEPADAN PANTAI DI KECAMATAN LAIS KABUPATEN BENGKULU UTARA 

Oleh: Janardi Sumartin,SP

Sumber: http://drdbengkulu.wordpress.com/  

Abstrak

Persoalan abrasi pantai merupakan masalah yang semakin menjadi topic hangat pembicaraan dalam beberapa tahun terakhir karena dikaitkan dengan global warming yang mempengaruhi kondisi iklim di muka bumi. Di Kecamatan Lais Kabupaten Bengkulu Utara, ada beberapa desa yang masuk dalam titik rawan lokasi rentan abrasi pada garis sepadan pantainya, karena mengalami proses degradasi pantai akibat laju abrasi 2-3 meter/tahun. Persoalan ini dipicu karena adanya Faktor alam dan aktivitas manusia yang kurang memperhatikan pelestarian lingkungan disekitarnya terutama masyarakat di kawasan pesisir. Pendekatan kearifan lokal yang dituangkan dalam sebuah konsep Peraturan Desa (Perdes) melalui proses PRA (Participatory Rural Appraisal) serta adanya penanaman vetiver sebagai tanaman konservasi diharapkan mampu menjadi solusi bagi perlindungan daerah garis sepadan pantai di sepanjang Kecamatan lais terhadap proses abrasi.

I. PENDAHULUAN

Indonesia sebagai Negara kepulauan tentunya tidak lepas dengan garis pantai, Indonesia sendiri memiliki garis pantai terpanjang keempat di dunia setelah Kanada, Amerika Serikat dan Rusia dengan panjang garis pantai 95.181 kilometer. Namun sebanyak 20 persen dari garis pantai di sepanjang wilayah Indonesia dilaporkan mengalami kerusakan, tentunya kerusakan ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain perubahan lingkungan dan abrasi pantai(Hutabarat,2011).

Kerusakan lingkungan akan semakin bertambah seiring dengan berjalannya waktu. Contoh yang sering kita jumpai belakangan ini adalah masalah abrasi pantai. Abrasi pantai ini terjadi hampir diseluruh wilayah di Indonesia. Masalah ini harus segera diatasi karena dapat mengakibatkan kerugian yang sangat besar bagi makhluk hidup dan ekosistem, tidak terkecuali manusia.

Abrasi pantai tidak hanya membuat garis-garis pantai menjadi semakin menyempit, tapi bila dibiarkan begitu saja akibatnya bisa menjadi lebih berbahaya. Seperti kita ketahui, negara kita Indonesia sangat terkenal dengan keindahan pantainya. Setiap tahun banyak wisatawan dari mancanegara berdatangan ke Indonesia untuk menikmati panorama pantainya yang sangat indah. Apabila pantai sudah mengalami abrasi, maka tidak akan ada lagi wisatawan yang datang untuk mengunjunginya. Hal ini tentunya sedikit banyak akan mempengaruhi perekonomian di Indonesia karena secara otomatis devisa negara dari sektor pariwisata akan mengalami penurunan. Selain itu, sarana pariwisata seperti hotel, restoran, dan juga kafe-kafe yang terdapat di areal pantai juga akan mengalami kerusakan yang dapat mengakibatkan kerugian material yang tidak sedikit. Demikian juga dengan pemukiman penduduk yang berada di areal sekitar pantai tersebut. Banyak penduduk yang akan kehilangan tempat tinggalnya akibat rumah mereka terkena dampak dari abrasi.

Wilayah pesisir Provinsi Bengkulu berada dibagian barat pulau Sumatera, yang berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia. Keberadaan ini menyebabkan pantai Provinsi Bengkulu banyak menerima limpasan-limpasan gelombang baik berupa gelombang karena angin, gelombang karena fluktuasi muka air laut dan arus yang menyusur pantai. Akibatnya terjadi abrasi pada pantai tersebut sehingga mengakibatkan adanya perubahan garis pantai. Kerusakan lingkungan oleh proses abrasi telah berlangsung lama, sehingga mengganggu aktivitas nelayan yang merupakan kegiatan sehari-hari masyarakat di wilayah pesisir Provinsi Bengkulu. Fenomena lain akibat dari proses abrasi adalah terjadinya proses sedimentasi yang dapat menyebabkan pendangkalan pada daerah pelabuhan. Pengaruh terbesar dari proses abrasi di wilayah pesisir Provinsi Bengkulu umumnya terjadi karena faktor alam (Ricky,2004 ). Manusia juga berperan dalam menyebabkan terjadinya abrasi pantai dengan adanya pengambilan terumbu karang sebagai pemecah ombak, pembangunan industri pelabuhan, perusakan hutan bakau (mangrove) dan perubahan iklim(Hutabarat,2011).

Saat ini proses abrasi disepanjang pantai Barat Kabupaten Bengkulu Utara dan Mukomuko sudah sangat memprihatinkan. Abrasi pantai Barat di Desa Air Rami Kabupaten Mukomuko mengakibatkan kawasan Cagar Alam Air Rami yang merupakan habitat bertelur penyu terkikis 15 meter dari bibir pantai sepanjang 1 kilometer hanya dalam kurun waktu 6 bulan(Anonim, 2011). Untuk Kabupaten Bengkulu Utara tingkat abrasi rata-rata 2 – 3 meter pertahun yang disebabkan oleh tekanan gelombang/ombak yang cukup kuat menerpa garis pantai(Anonim, 2010)

Pada tahun 2010 di Kabupaten Bengkulu Utara belum ada kejadian bencana alam yang merenggut korban jiwa. Kerusakan lingkungan yang merupakan bencana alam yang terjadi saat ini adalah terjadinya tanah longsor pada pinggiran sungai dan pantai, seperti kerusakan jalan raya di beberapa lokasi dalam Kabupaten Bengkulu Utara. Kerusakan jalan raya ini disebabkan oleh besarnya arus gelombang laut yang menghantam dinding tebing pantai sehingga menyebabkan terjadinya longsor/abrasi pantai yang mengakibatkan rusaknya jalan raya penghubung antara kota Bengkulu menuju Kabupaten Mukomuko atau ke wilayah Sumatera Barat yang melewati Kecamatan Lais(Anonim, 2011). Adanya aktifitas penambangan pasir disepanjang garis pantai Kecamatan lais yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan juga ikut memberikan kontribusi terhadap laju abrasi pantai di Kecamatan Lais dan sekitarnya.

Mengingat cukup tingginya laju abrasi pantai yang terjadi di Kecamatan Lais maka perlu dikaji beberapa upaya yang bisa dilakukan dalam rangka menanggulangi hal tersebut, antara lain dengan menetapkan peraturan desa (Perdes) yang berbasis kearifan lokal serta penanaman vetiver sebagai tanaman konservasi yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi.

II. KONDISI GEOGRAFIS KABUPATEN BENGKULU UTARA

Kabupaten Bengkulu Utara dalam tinjauan geografis terletak pada 2015 – 40LS dan 102032 – 10208 BT dengan luas wilayah 4.424,60 km2 yang terdiri dari 14 Kecamatan. Dari total 226 desa dan kelurahan yang ada di Kabupaten Bengkulu Utara, 40 berupa desa pesisir. Garis pantai yang dimiliki cukup panjang yaitu 262,63 km2, mempunyai potensi sumber daya pesisir, pantai dan laut baik hayati maupun non hayati yang cukup besar dan masih memberikan peluang untuk dapat dikembangkan dan dikelola sebagai sumber pertumbuhan ekonomi daerah. Kondisi geografisnya sebagian besar merupakan dataran dengan ketinggian dibawah 150 m dpl terdapat dibagian barat membujur searah pantai dari selatan ke utara, sedangkan dibagian timur topografinya berbukit-bukit dengan ketinggian 541 m dpl. Untuk Kecamatan lais sendiri memiliki luas wilayah 335,51 km2 dengan jumlah penduduk 16.752 jiwa dan tingkat kepadatan per km2 49,9(Anonim,2010).

Kecamatan dan Desa yang rentan abrasi pantai meliputi:
KECAMATAN
DESA
Air Napal Lubuk Tanjung, Pasar Palik, Tebing Kandang, Pasar Tebat
Lais Air Padang, Dusun Raja
Air Besi Kota Agung
Batik Nau Bintunan, Serangai
Putri Hijau Karang Pulau, Seblat
Enggano Kahyapu, Kaana, Malakoni, Apoho, Meok, Banjar Sari

Sumber: Anonim,2010

Kabupaten Bengkulu Utara yang terdiri dari 14 Kecamatan diantaranya ada 7 Kecamatan termasuk wilayah pesisir dengan sebaran luas hutan pantai, terumbu karang, hutan mangrove dan pasir laut meliputi:

No.
Kecamatan
T. Karang (Ha)
Mangrove (Ha)
Hutan Pantai (Ha)
Pasir Laut (Ha)
1. Air Napal
25
15
15,6
125
2. Air Besi
17
75
45
2
3. Lais
17
25
12,6
47,7
4. Batik Nau
40
35
120,7
39
5. Ketahun
177,6
54
56,6
54
6. Putri Hijau
28,6
17
38,8
38
7. Enggano
5.097
1414,7
15,277
129,3
TOTAL
5.462,2
1725,7
15.625,3
555

Sumber: Anonim,2010

Kondisi hutan Mangrove dan terumbu karang yang ada meliputi:
No.
Kondisi
Hutan Mangrove(Ha)
Terumbu Karang(Ha)
1. Luas
1.195,7
5.302,2
2. Kondisi rusak
298,2
1.590,6
3. Kondisi sedang
597,87
1.420,4
4. Kondisi Baik
240
1.325,5
5. Penanaman Mangrove
0
0
6. Luas direhabilitasi
0
0

Sumber: Anonim,2010

III. PENGERTIAN ABRASI

Wilayah pesisir adalah suatu wilayah peralihan antara daratan dan lautan, apabila ditinjau dari garis pantai wilayah pesisir memiliki dua macam batas yaitu batas sejajar garis pantai dan batas tegak lurus garis pantai. Salah satu tujuan pengelolaan wilayah pesisir adalah untuk mengendalikan abrasi pantai.

Abrasi merupakan peristiwa terkikisnya alur-alur pantai akibat gerusan air laut. Gerusan ini terjadi karena permukaan air laut mengalami peningkatan. Naiknya permukaan air laut ini disebabkan mencairnya es di daerah kutub/censor akibat pemanasan global, selain itu kurangnya kesadaran masyarakat untuk melestarikan hutan bakau atau mangrove (Sunarto,2009).

Kawasan pesisir merupakan daerah pengembangan perekonomian yang mengalami degradasi serta penurunan produktivitas karena adanya abrasi pantai, pencemaran dan perusakan hutan pantai. Kegiatan aktifitas yang mengakibatkan penurunan kualitas pesisir diantaranya adalah:

Penambangan bahan galian C (pasir pantai)
Penebangan liar hutan pantai
Tekanan gelombang pada saat pasang yang mengakibatkan abrasi pantai.

Abrasi adalah suatu proses pengikisan pantai yang disebabkan oleh gerakan gelombang dan hempasan ombak. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut. Faktor alam misalnya karena adanya perubahan bentuk dan posisi muara sungai. Sedangkan aktifitas manusia juga dapat menyebabkan proses abrasi terjadi karena adanya keterkaitan ekosistem yang satu dengan yang lainnya seperti perubahan iklim(Anonim,2011).

Gelombang ombak sendiri terbagi menjadi dua, yaitu gelombang menyebar dan gelombang memusat. Gelombang yang paling berbahaya tentunya gelombang memusat yang langsung mengarah ke pantai. Jika karang pantai hilang maka gelombang akan menggerus pantai dan menyebabkan abrasi(Hutabarat, 2011). Dampak yang diakibatkan oleh abrasi ini sangat besar, garis pantai akan semakin menyempit dan apabila tidak diatasi lama-kelamaan daerah-daerah yang permukaannya rendah akan tenggelam.

Wilayah pesisir adalah wilayah yang unik, dimana ekosistemnya terdiri dari komponen hayati dan fisik yang rentan terhadap perubahan, hal ini disebabkan dataran pesisir merupakan kawasan transisi antara pengaruh daratan dan laut, menyebabkan dataran pesisir merupakan kawasan yang dinamis. Sebagai daerah transisi menyebabkan kawasan pesisir memiliki perubahan fisik yang cepat, karena adanya proses Fluvial, marin dan eolian yang saling berinteraksi. Proses perubahan maju mundurnya garis pantai sangat ditentukan oleh proses tersebut, dimana perubahan maju (akresi) didominasi oleh proses fluvial, sedangkan perubahan mundur (rekresi) lebih ditentukan oleh proses marin yang kuat. Ada 2 macam faktor penyebab perubahan pesisir, yaitu:

Faktor alami, seperti gelombang laut, arus, angin, sedimentasi, topograsi pesisir dan pasang surut.
Faktor manusia, seperti penambangan pasir, reklamasi pantai, pengrusakan vegetasi pantai(Azman, 2010)

Pada saat gelombang mendekati pantai, bentuk gelombang akan berubah dan begitu sampai di pantai akhirnya pecah. Hal ini disebabkan oleh karena gerakan melingkar dari partikel-partikel yang terletak dibagian paling bawah gelombang dipengaruhi oleh gesekan dari dasar laut di perairan yang dangkal. Bekas jalan yang ditinggalkan oleh gerakan tersebut kemudian berubah menjadi elips. Hal ini mengakibatkan perubahan besar terhadap sifat gelombang. Gelombang yang memecah di pantai merupakan penyebab utama terjadinya proses erosi dan akresi (pengendapan) garis pantai. Karakteristik gelombang ini tergantung pada kecepatan angin, durasi dan daya seret gelombang (fetch). Pada saat gelombang memecah bibir pantai terjadi run up kemudian surut kembali ke laut, dan membawa sedimen/material di sekitar pantai. Sedimen ini disebut littoral drift. Sebagian besar gelombang datang dengan membentuk sudut tertentu terhadap garis pantai (longshore current) yang menggerakan littoral drift sekitar garis pantai dalam bentuk zig-zag sebagai akibat datang dan surutnya gelombang laut. Gerakan zig-zag ini terjadi karena sebagian besar gelombang yang datang membentuk sudut tertentu terhadap garis pantai. Gelombang yang datang ini memiliki energi yang besar yang mendorong sedimen se arah dengan sudut datang gelombang sehingga mencapai tepi pantai. Ketika gelombang kembali turun ke arah laut, sedimen yang berada di atas memiliki energi potensial. Dengan energi potensial ini, sedimen jatuh tegak lurus dengan garis pantai. Gerakan ini terjadi disepanjang pantai(Azman, 2010)

IV. PENYEBAB ABRASI

Abrasi disebabkan oleh naiknya permukaan air laut diseluruh dunia karena mencairnya lapisan es di daerah kutub bumi. Mencairnya lapisan es ini merupakan dampak dari pemanasan global yang terjadi belakangan ini. Seperti yang kita ketahui, pemanasan global terjadi karena gas-gas CO2 yang berasal dari asap pabrik maupun dari gas buangan kendaraan bermotor menghalangi keluarnya gelombang panas dari matahari yang dipantulkan oleh bumi, sehingga panas tersebut akan tetap terperangkap di dalam atmosfer bumi dan mengakibatkan suhu dipermukaan bumi meningkat. Suhu di kutub juga akan meningkat dan membuat es di kutub mencair, air lelehan es itu mengakibatkan permukaan air di seluruh dunia akan mengalami peningkatan dan akan menggerus daerah yang permukaannya rendah. Hal ini menunjukkan bahwa terjadinya abrasi sangat erat kaitannya dengan pencemaran lingkungan(Anonim,2008)

Dalam beberapa tahun terakhir, garis pantai di beberapa daerah di Indonesia mengalami penyempitan yang cukup memprihatinkan. Seperti yang terjadi di daerah pesisir pantai wilayah Kabupaten Indramayu. Abrasi yang terjadi mampu menenggelamkan daratan antara 2 hingga 10 meter pertahun dan sekarang dari panjang pantai 114 km telah tergerus 50 km. Dari 10 kecamatan yang memiliki kawasan pantai, hanya satu wilayah kecamatan yakni kecamatan Centigi yang hampir tidak memiliki persoalan abrasi. Hal ini karena di wilayah kecamatan Centigi kawasan hutan mangrove yang ada masih mampu melindungi kawasan pantai dari abrasi.

Tingkat abrasi yang cukup tinggi juga terjadi di kecamatan Pedes dan Cibuaya di kabupaten Karawang. Meskipun abrasi pantai dinilai belum pada kondisi yang membahayakan keselamatan warga setempat, namun bila hal tersebut dibiarkan berlangsung dikhawatirkan dapat menghambat pengembangan potensi kelautan di kabupaten Karawang secara keseluruhan, baik pengembangan hasil produksi perikanan maupun pemanfaatan sumber daya kelautan lainnya.

Abrasi yang terjadi di kabupaten Indramayu dan kabupaten Karawang merupakan contoh kasus abrasi yang terjadi di Indonesia. Selain di kedua tempat tadi, masih banyak daerah lain yang juga mengalami abrasi dengan tingkat yang tergolong parah. Apabila hal ini tidak ditindaklanjuti secara serius, maka dikhawatirkan dalam waktu yang tidak lama beberapa pulau yang permukaannya rendah akan tenggelam. Selain abrasi, masalah yang terjadi di daerah pesisir pantai adalah masalah pencemaran lingkungan pantai. Beberapa pantai mengalami pencemaran yang cukup parah seperti kasus yang terjadi di daerah Balikpapan, dimana pada tahun 2004 tercemar oleh limbah minyak. Tumpukan kerak minyak atau sludge berwarna hitm yang mirip dengan gumpalan aspal tersebut beratnya diperkirakan mencapai 300 ton. Contoh lain adalah kasus yang terjadi di sekitar teluk Jakarta. Berbagai jenis limbah dan ribuan ton sampah yang mengalir melalui 13 kali di Jakarta berdampak pada kerusakan pantai Taman Nasional Kepulauan Seribu. Pada tahun 2006, kerusakan terumbu karang dan ekosistem Taman Nasional itu diperkirakan mencapai 75 km(Anonim,2008).

Masalah lain yang menyebabkan abrasi pantai dan kerusakan daerah pesisir adalah penanaman kelapa sawit disepanjang garis pantai. Kelapa sawit merupakan jenis tanaman yang membutuhkan air tawar sangat banyak untuk pertumbuhan dan produksinya, kebutuhan air kelapa sawit mencapai 8 liter per batang setiap hari dan dapat menimbulkan dampak iklim mikro yang lebih panas (Yohar, 2009).

Penanaman kelapa sawit dalam jumlah besar di pesisir Bengkulu Utara menunjukkan selain terjadinya perubahan iklim yang ekstrim juga mendorong terjadinya intrusi dan abrasi pantai. Kebutuhan air bagi tanaman kelapa sawit yang sangat tinggi ini telah mendorong terjadinya kekeringan di daerah pesisir, kondisi kekeringan ini kemudian mengakibatkan tekanan air tawar di dalam tanah semakin kecil sehingga air laut terserap oleh tanah. Dalam waktu yang tidak terlalu lama maka rawa-rawa yang sebelumnya ber air payau berubah menjadi sangat asin sehingga meracuni tumbuhan dan air tanahpun menjadi asin karena intrusi air laut.

Fakta di lapangan memperlihatkan semua tanaman di tempat yang telah terjadi intrusi air laut menjadi mati. Di beberapa desa di Kecamatan Lais dan Kecamatan Batik Nau Kabupaten Bengkulu Utara dapat ditemui kondisi tersebut. Matinya pohon dan tumbuhan pantai ini karena keracunan air laut dampak lebih lanjut adalah mengakibatkan daratan pantai menjadi rapuh sehingga proses pengikisan dan abrasi pantai menjadi lebih cepat (Yohar, 2009).

Dan lebih celaka lagi, hampir disepanjang pantai barat pesisir Bengkulu Utara dan Muko-muko hutan pantai telah beralih fungsi menjadi perkebunan sawit dan permukiman. Keadaan ini yang semakin memicu laju abrasi menjadi semakin tinggi (Anonim, 2011).

V. UPAYA PENANGANAN ABRASI

Berbagai usaha telah dilakukan pemerintah maupun masyarakat untuk mengatasi masalah abrasi dan pencemaran pantai. Untuk mengatasi masalah abrasi di Indonesia ini pemerintah secara bertahap melakukan pembangunan alat pemecah ombak serta penghijauan hutan mangrove disekitar pantai yang terkena abrasi tersebut. Dalam mengatasi masalah abrasi ini, tentu ada hambatan-hambatan dan juga kesulitan yang akan dihadapi, misalnya dalam pembangunan alat pemecah ombak ini diperlukan biaya yang sangat mahal dan juga wilayah tempat pembangunannya sangat luas, sehingga untuk membangun alat ini diseluruh pantai yang terkena abrasi akan memerlukan waktu yang sangat lama dan juga biaya yang tinggi. Upaya penanaman tanaman bakau di pinggir pantai juga banyak hambatannya. Tanaman bakau hanya dapat tumbuh pada tanah gambut yang berlumpur (Anonim, 2008). Hal ini akan menjadi sangat sulit karena sebagian besar pantai di Indonesia merupakan perairan yang dasarnya tertutupi oleh pasir, seperti kita ketahui bahwa tanaman bakau tidak dapat tumbuh pada daerah berpasir. Meskipun sangat sulit, tetapi usaha untuk mengatasi abrasi ini harus terus dilakukan. Jika masalah abrasi ini tidak segera ditanggulangi, maka bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun kedepan luas pulau-pulau di Indonesia banyak yang akan berkurang. Agar upaya ini dapat berjalan dengan baik , maka peranan dari semua elemen masyarakat sangat diperlukan. Pemerintah tidak akan dapat mengatasinya tanpa partisipasi dari masyarakat pecinta lingkungan. Disamping itu juga pemilihan jenis tanaman konservasi disepanjang garis sepadan pantai perlu dilakukan dengan cermat sehingga hasil yang di dapat juga bisa mengurangi laju abrasi dan memberikan efek samping secara ekonomis bagi masyarakat yang bermukim disepanjang garis pantai yang ada di kecamatan Lais.

VI. KEARIFAN LOKAL DAN PENANAMAN VETIVER SEBAGAI ALTERNATIF PENANGGULANGAN ABRASI GARIS SEPADAN PANTAI DI KECAMATAN LAIS

A. PENDEKATAN KEARIFAN LOKAL

Pengelolaan wilayah berbasis masyarakat dapat diartikan sebagai suatu sistem pengelolaan sumber daya alam di suatu tempat dimana masyarakat local ditempat tersebut terlibat secara aktif dalam pengelolaan sumber daya alam yang terkandung di dalamnya. Arah kebijakan pemerintah di masa lalu yang lebih memprioritaskan pembangunan masyarakat perkotaan dan pembangunan pertanian pedalaman, menyebabkan masyarakat pesisir kurang diperhatikan. Arah kebijakan saat ini seharusnya adalah memberikan perhatian yang sama pada masyarakat pesisir dengan cara memberdayakan masyarakat pesisir tentang pemahaman sadar lingkungan dengan menggugah kesadaran dan pola berpikir kritis tentang kondisi ekosistem yang ada disekitarnya. Lingkungan tidak dapat dilepaskan dari masyarakat. Masyarakat adalah organisasi kelompok manusia yang memiliki kebudayaan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Budaya dan kesadaran masyarakat dalam melestarikan lingkungan harus ditumbuhkan dalam setiap individu. Bukan hanya budaya sebagai fungsi mempertahankan diri, tetapi juga memperhatikan kembali bagaimana mampu menjaga kelestarian lingkungan yang baik. Kearifan lokal masih menjadi salah satu potensi masyarakat Indonesia yang dapat dikembangkan kembali dalam konteks pelestarian lingkungan sebagai upaya memperbaiki lingkungan. Kearifan lokal ini sering kali terlupakan oleh institusi formal yang berupaya mentransformasikan pemahaman akan lingkungan kepada masyarakat. Padahal pada masyarakat sendiri mempunyai skema dalam memperoleh pemahaman atas sesuatu, termasuk pelestarian terhadap alam

Kebijakan yang ada selama ini, pengelolaan sumber daya pesisir dan laut mulai dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi dilakukan sepenuhnya oleh pemerintah tanpa melibatkan partisipasi masyarakat local. Hal ini berdampak pada tidak adanya rasa memiliki serta pemahaman tentang kegunaan dan pelestarian hamper tidak ada sama sekali pada masyarakat setempat. Padahal apabila(Ekos, 2009). dilihat dari karakteristik masyarakat wilayah pesisir sangatlah komplek dan beragam, sehingga dalam pengelolaan wilayah pesisir sudah seharusnya melibatkan masyarakat setempat. Pengelolaan berbasis masyarakat atau sering disebut Community Based Management (CBM) merupakan salah satu pendekatan pengelolaan sumber daya alam yang meletakkan pengetahuan dan kesadaran lingkungan masyarakat lokal sebagai pengelolanya (Dilisti, 2011). Dengan melibatkan masyarakat lokal secara aktif mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan monitoring kegiatan diharapkan masyarakat lebih peduli dan merasa memiliki program tersebut.

Ada beberapa contoh kearifan lokal yang terbukti efektif dalam mengembangkan teknik konservasi, antara lain Kebekolo yang diterapkan oleh masyarakat Kabupaten Ende di NTT, yang merupakan barisan kayu atau ranting yang disusun atau ditumpuk memotong lereng untuk menahan tanah yang tergerus aliran permukaan (Anonim, 2008). Peran kearifan lokal dalam pelestarian lingkungan melalui aktifitas budaya seperti yang dilakukan di Pondok Pesantren Imogiri, Bantul Yogyakarta dan Dusun Turgo Sleman Yogyakarta mempunyai aktifitas budaya yang hampir sama, yaitu ketika akan ada pernikahan maka pasangan pengantin harus menanam bibit pohon jati, dimana untuk di Imogiri sebanyak 20 bibit dan di Dusun Turgo sebanyak 5 bibit (Ekos, 2009).

Untuk wilayah Kecamatan Lais bisa saja dengan penerapan Peraturan Desa (Perdes) yang dikaji dengan proses PRA (Participatory Rural Appraisal) yang melibatkan peran serta masyarakat secara aktif untuk menggali akar permasalahan penyebab terjadinya proses abrasi pantai diwilayah mereka, sehingga ditemukan solusi yang tepat melalui kearifan lokal (Local Wisdom) yang bisa diterapkan dalam aktifitas budaya dan sosial dan tertuang dalam sebuah Perdes yang ditaati oleh seluruh anggota masyarakat di desa-desa Kecamatan Lais yang wilayahnya berpotensi tinggi terhadap terjadinya abrasi garis sepadan pantai.

B. PENANAMAN VETIVER SEBAGAI TANAMAN KONSERVASI

Miracle grass, begitulah para peneliti menamakannya. Tanaman Vetiver termasuk golongan rumput tanaman topis yang tumbuh secara alami di tempat-tempat berpayau di utara India, Bangladesh, Burma , dan di banyak tempat di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia. Selain itu, tumbuhan ini terdapat di Negara-negara Amerika Selatan (Argentina, Haiti dan Brazil). Di Thailand, vetiver dapat dijumpai tumbuh dalam skala yang luas dari daerah dataran rendah sampai dengan dataran tinggi dengan tingkat kesuburan tanah yang bervariasi. Vetiver bisa tumbuh mulai dari tepi pantai sampai ketinggian 2.000 m (Anonimous, 1996). Nama latin untuk Vetiver adalah Vetiveria zizanioides. Tanaman ini tumbuh dalam bentuk rumpun dengan diameter rumpun mencapai 30 cm dan tinggi tanaman berkisar 50-150 cm. Satu lembar daun rumpun bisa tumbuh sepanjang 75 cm dengan lebar 8 mm (Anonimous, 1996).

Tanaman vetiver mudah beradaptasi terhadap kondisi lingkungan yang ekstrim. Tanaman ini banyak tumbuh di wilayah India, Srilanka dan Indonesia dengan berbagai macam jenis. Di tiga Negara ini banyak dilakukan seleksi terhadap beberapa jenis vetiver dengan perlakuan penanaman di lahan yang rendah kesuburannya (Anonimous,1996).

Di Indonesia, vetiver dikenal dengan sebutan akar wangi (Vetivera Zizanioides) atau usar (Vetiver nigritana), atau Larasetu, adalah sejenis rumput-rumputan berukuran besar yang memiliki beberapa keistimewaan. Di Indonesia rumput ajaib ini baru dimanfaatkan sebagai penghasil minyak atsiri melalui ekstraksi akar wangi. Tetapi di mancanegara vetiver banyak dimanfaatkan untuk berbagai keperluan ekologis dan fitoremediasi (memperbaiki lingkungan dengan menggunakan tanaman) lahan dan air seperti rehabilitasi lahan bekas pertambangan, pencegah erosi lereng, penahan abrasi pantai, stabilisasi tebing dan sebagainya melalui teknologi yang disebut Vetiver Grass Technology (VGT) atau Vetiver System (VS), sebuah teknologi yang sudah dikembangkan selama lebih dari 200 tahun di India (Handhaka, 2011).

Vetiver tumbuh membentuk rumpun besar, padat dan bercabang-cabang ini dapat tumbuh hingga mencapai tinggi 2 m. Sedangkan akarnya dapat tumbuh mencapai kedalaman 2-3 m sehingga kemampuan akarnya dalam mengikat tanah sangatlah kuat. Setiap akar vetiver memiliki kemampuan yang setara dengan 1/6 kekuatan baja dengan diameter yang sama yaitu mencapai 75 mega paskal (Anonim, 2011)

Bentuk Fisik Rumput Vetiver:
Merupakan tanaman tahunan yang tumbuh tegak dengan tinggi 1,5 – 2,5 m
Sistem perakarannya dalam dan massif, mampu masuk sangat jauh ke dalam tanah. Bahkan ada yang mampu nimbus hingga kedalaman 5,2 m
Bila ditanam di lereng-lereng keras dan berbatu, ujung-ujung akar vetiver mampu masuk menembus dan menjadi semacam jangkar yang kuat. Kerja akar ini seperti besi kolom yang masuk ke dalam menembus lapisan tanah, dan pada saat yang sama menahan partikel-partikel tanah dengan akar serabutnya. Kondisi seperti ini dapat mencegah erosi yang disebabkan oleh angin dan air sehingga vetiver dijuluki sebagai “kolom hidup”
Batangnya kaku dan keras, tahan terhadap aliran air dalam (0,6 – 0,8 m)
Jika ditanam berdekatan, membentuk baris/pagar yang rapat. Hal tersebut akan mengurangi kecepatan aliran, mengalihkan air aliran dan menjadi filter yang sangat efektif.
Tidak menghasilkan bunga dan biji yang dapat menyebar liar seperti alang-alang atau rerumputan lainnya.

Keunggulan vetiver
Tahan terhadap variasi cuaca, seperti: kekeringan panjang, banjir, genangan dan temperatur 14 – 55 0C
Mempunyai daya adaptasi pertumbuhan yang sangat luas pada berbagai kondisi tanah, seperti:

– Pada tanah masam (mengandung mangan dan aluminium)

– Pada tanah bersalinitas tinggi dan mengandung banyak natrium

– Pada tanah yang mengandung logam berat

– Tahan terhadap rentang pH tanah 3 – 10,5
Mampu nemebus lapisan keras hingga kedalaman 15 cm. Dengan kemampuan tersebut dapat bekerja sebagai paku tanah atau pasak yang hidup
Vetiver system sangat praktis, tidak mahal, mudah dipelihara dan sangat efektif dalam mengontrol erosi dan sedimentasi tanah, konservasi air, serta stabilisasi dan rehabilitasi lahan.

Kelemahan vetiver
Karena pola pertumbuhan vetiver yang tegak lurus atau vertical terhadap tanah, maka disarankan penanamannya dikombinasikan dengan jenis tanaman pnutup tanah seperti bahia, rumput pahit (carpet grass) atau jenis kacang-kacangan (legume), sehingga tanaman penutup tanah dapat mengurangi percikan permukaan terutama di awal pertumbuhan vetiver.
Karena vetiver adalah tanaman hidup, sehingga tidak dapat langsung berfungsi dengan baik dalam menangani erosi permukaan, tanaman ini memerlukan waktu untuk proses pertumbuhan.

Surastri dkk (2006) mengatakan, Tanaman vetiver memiliki beberapa kelebihan diantaranya; pertumbuhan cepat, memiliki akar serabut dengan panjang akar ± 3 m, dapat hidup pada tanah berlereng curam, tahan terhadap serangan hama dan penyakit, dapat mengendalikan erosi tanah serta mudah dalam perawatan dan dapat dijadikan bahan kerajinan serta penghasil minyak atsiri.

Di areal bekas penambangan pasir besi di pantai Purworejo, tanaman vetiver termasuk salah satu tanaman yang dapat diusahakan untuk program rehabilitasi pantai karena sebagai tanaman fitoremediator yang mampu mengakumulasi logam berat tanah ke dalam jaringan batangnya, Konservasi tanah, kerajinan dan minyak akar wangi memiliki nilai ekonomis yang tinggi (Anonim, 1996). Akar-akar tanaman vetiver akan terus tumbuh vertical ke dalam tanah untuk menjaga resapan aliran air ke dalam tanah, menghindari tanah dari proses erosi dan abrasi serta menjaga porositas tanah (Anonimous, 2011). Untuk itu penggunaan vetiver yang dipadukan dengan penerapan kearifan lokal di Kecamatan Lais dalam rangka menanggulangi abrasi disepanjang garis sepadan pantai dapat menjadi salah satu solusi dalam penanganan abrasi garis sepadan pantai yang berwawasan lingkungan.

VII. KESIMPULAN

1. Abrasi merupakan peristiwa terkikisnya alur-alur pantai akibat gerusan air laut. Gerusan ini terjadi karena permukaan air laut mengalami peningkatan. Naiknya permukaan air laut ini disebabkan mencairnya es di daerah kutub akibat pemanasan global karena factor alam dan ulah manusia

2. Masalah abrasi sulit diatasi karena kurangnya kesadaran masyarakat akan lingkungannya, untuk wilayah Kecamatan Lais laju abrasi pantai antara 2 -3 m/tahun, dan penyebab dominan masalah abrasi pantai di Kecamatan Lais karena adanya faktor alam, penambangan pasir dan penanaman kelapa sawit di sepanjang garis pantai.

3. Dampak yang diakibatkan oleh abrasi pantai dapat menyebabkan garis pantai semakin menyempit dan apabila tidak segera di atasi maka lama-kelamaan daerah yang permukaannya rendah akan tenggelam dan memutuskan jalur transportasi darat sepanjang daerah pesisir.

4. Penerapan Kearifan lokal yang dituangkan dalam sebuah Peraturan Desa (Perdes) mengenai tata kelola garis sepadan pantai serta penanaman vetiver sebagai tanaman konservasi di sepanjang garis sepadan pantai Kecamatan Lais dapat menjadi solusi positif dalam mengatasi proses abrasi yang terjadi.

VIII. UCAPAN TERIMA KASIH

Dalam kesempatan ini tidak lupa saya sampaikan ucapan terima kasih kepada Bapak Profesor Urip Santoso,Ph.D selaku dosen pengasuh mata kuliah Penyajian Ilmiah.

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous, 1996. What is Vetiver Grass?. Chalpattana Network Webmaster, Thailand.

Anonimous, 1996. Vetiver Ecotypes. Chalpattana Network Webmaster, Thailand.

Anonimous, 1996. Vetiver Grass For Soil and Water Conservation. Chalpattana Network Webmaster, Thailand.

Anonimous, 1996. Utilization of Vetiver Grass on Farm Land. Chalpattana Network Webmaster, Thailand.

Anonim, 1996. Reklamasi Bekas Tambang Pasir Besi Pantai Purworejo. Indmira.com, Jakarta.

Anonim, 2008. Kebekolo di NTT:Kearifan Lokal Dalam Konservasi Tanah. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Timur, Kupang.

Anonim, 2008. Makalah Tentang Abrasi. Emperordeva’s Weblog, Jakarta.

Anonim, 2010. Kabupaten Bengkulu Utara Dalam Angka 2010. BPS Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu.

Anonim, 2010. Profil Kelautan, Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bengkulu Utara. Dkp.bengkuluutarakab.go.id/profil/profil kp3k.htm, Bengkulu.

Andhaka, 2011. Akar Wangi Sebagai Penahan Longsor Alami. PNPM LMP, Bengkulu.

Anonim, 2011. Abrasi Pantai Barat, Kikis Daratan 15 Meter. Harianhaluan.com/index.php, Sumatera Barat.

Anonim, 2011. Bencana Alam. Blhbu.net/index.php. Bengkulu Utara, Bengkulu

Anonim, 2011. Kabupaten Bengkulu Utara. Wikipedia.org/wiki/Kabupaten Bengkulu_Utara, Bengkulu.

Anonim, 2011. Laut, Pesisir dan Pantai. Blhbu.net/index.php. Bengkulu Utara, Bengkulu.

Anonim, 2011. Kliping: Akar Vetiver 1/6 Kekuatan Baja. Pikiran rakyat.com/index.php, Jakarta.

Dilisti, 2011. Tingkat Kesadaran Masyarakat Dalam Pelestarian Lingkungan Wilayah Pesisir. Facebook.com/notes/komunitas-Peduli Lingkungan, Bengkulu.

Sahala Hutabarat, 2011. Abrasi Pantai Ancam Daratan. Indomaritime institute.org, Jakarta.

Shuhendry Ricky, 2004. Abrasi Pantai di Wilayah Pesisir Kota Bengkulu: Analisis Faktor Penyebab dan Konsep Penanggulangannya. Eprints.undip.ac.id/11970, Semarang.

Supintri Yohar, 2009. Kelapa Sawit Mempercepat Kerusakan Daerah Pesisir. Groups.Yahoo.com/Group/Infosawit, Bengkulu.

Sunarto, 2009. Mencari Solusi Pencegahan Abrasi Pantai. Take-solution,blogspot.com/2009/02, Kalimantan Barat.

Shuhendry Ricky, 2004. Abrasi Pantai di Wilayah Pesisir Kota Bengkulu: Analisis Faktor Penyebab dan Konsep Penanggulangannya. Eprints.undip.ac.id/11970, Semarang

Surastri, Siti Murtinah, Sri Asih, Suyitno Iskandar, 2006. Budidaya Tanaman Akar Wangi Sebagai Upaya Konservasi Tanah Longsor (Landslide) di Kecamatan Gedangsari Gunung Kidul Yogyakarta. UMM, Malang.

Syaiful Azman, 2010. Abrasi Pantai: Kasus Kota Pariaman. Forum Masyarakat Pesisir. Id-id.facebook.com/note.php, Sumatera Barat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s