Departemen Pertanian (3)

TEKNIK KONSERVASI TANAH SECARA VEGETATIF

Penulis: Kasdi Subagyono, Setiari Marwanto, dan Undang Kurnia

BALAI PENELITIAN TANAH
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Departemen Pertanian

Seri Monograf No. 1,  Sumber Daya Tanah Indonesia ;  ISBN 979-9474-29-9

Download file: monograf konservasi 001 

KATA PENGANTAR

Monograf Sumber Daya Tanah Indonesia No. 1 membahas mengenai teknik konservasi tanah secara vegetatif. Konservasi tanah secara vegetatif merupakan salah satu cara konservasi tanah dengan memanfaatkan tanaman ataupun sisa-sisa tanaman untuk mengurangi erosi.

Sebagaimana diketahui, erosi merupakan penyebab utama degradasi lahan dan hujan merupakan faktor utama penyebab terjadinya erosi di Indonesia. Selain itu penggunaan vegetasi sebagaisarana konservasi tanah mempunyai prospek yang besar untuk diadopsi oleh masyarakat petani Indonesia karena manfaat dan kemudahan penerapan teknik tersebut, biaya yang dibutuhkan relatif rendah, mampu menyediakan tambahan hara bagi tanaman, dan dapat menghasilkan hijauan pakan ternak.

Terima kasih dan penghargaan disampaikan kepada berbagai pihak terutama penulis, penyunting, dan redaksi pelaksana yang telah bekerja keras sehingga monograf ini dapat diterbitkan.

Semoga Monograf Sumber Daya Tanah ini dapat menjadi wadah penyebaran informasi sumber daya tanah dan teknologi pengelolaannya serta sarana komunikasi antara peneliti tanah dan pengguna.

Bogor, Desember 2003
Kepala Balai Penelitian Tanah

Dr. Fahmuddin Agus
NIP. 080.079.624

PENDAHULUAN

Erosi tanah adalah peristiwa terangkutnya tanah dari satu tempat ke tempat lain oleh air atau angin (Arsyad, 1976). Pada dasarnya ada tiga proses penyebab erosi yaitu pelepasan (detachment) partikel tanah, pengangkutan (transportation), dan pengendapan (sedimentation). Erosi menyebabkan hilangnya tanah lapisan atas (top soil) dan unsur hara yang sangat penting bagi pertumbuhan tanaman. Erosi yang disebabkan oleh air hujan merupakan penyebab utama degradasi lahan di daerah tropis termasuk Indonesia. Tanah-tanah di daerah berlereng mempunyai risiko tererosi yang lebih besar daripada tanah di daerah datar. Selain tidak stabil akibat pengaruh kemiringan, air hujan yang jatuh akan terusmenerus memukul permukaan tanah sehingga memperbesar risiko erosi. Berbeda dengan daerah datar, selain massa tanah dalam posisi stabil, air hujan yang jatuh tidak selamanya memukul permukaan tanah karena dengan cepat akan terlindungi oleh genangan air.

Tanah yang hilang akibat proses erosi tersebut terangkut oleh air sehingga menyebabkan pendangkalan saluran drainase termasuk parit, sungai, dan danau. Erosi yang telah berlanjut menyebabkan rusaknya ekosistem sehingga penanganannya akan memakan waktu lama dan biaya yang mahal. Menurut Kurnia et al. (2002), kerugian yang harus ditanggung akibat degradasi lahan tanpa tindakan rehabilitasi lahan mencapai Rp 291.715,- /ha, sedangkan apabila lahan dikonservasi secara vegetatif, maka kerugian akan jauh lebih rendah. Pencegahan dengan teknik konservasi yang tepat sangat diperlukan dengan mempertimbangkan faktor-faktor penyebab erosi. Kondisi sosial ekonomi dan sumber daya masyarakat juga menjadi pertimbangan sehingga tindakan konservasi yang dipilih diharapkan dapat meningkatkan produktivitas lahan, menambah pendapatan petani serta memperkecil risiko degradasi lahan.

Pada dasarnya teknik konservasi dibedakan menjadi tiga yaitu: (a) vegetatif; (b) mekanik; dan (c) kimia. Teknik konservasi mekanik dan vegetatif telah banyak diteliti dan dikembangkan. Namun mengingat teknik mekanik umumnya mahal, maka teknik vegetatif berpotensi untuk lebih diterima oleh masyarakat. Teknik konservasi tanah secara vegetatif mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan dengan teknik konservasi tanah secara mekanis maupun kimia, antara lain karena  penerapannya relatif mudah, biaya yang dibutuhkan relatif murah,  mampu menyediakan tambahan hara bagi tanaman, menghasilkan  hijauan pakan ternak, kayu, buah maupun hasil tanaman lainnya. Hal  tersebut melatarbelakangi pentingnya informasi mengenai teknologi konservasi tanah secara vegetatif.

Tulisan ini disusun untuk memberikan uraian yang rinci mengenai teknik konservasi tanah secara vegetatif, macam, prospek dan kendala serta alternatif implementasinya.

II. KONSERVASI TANAH

2.1. Tujuan dan Sasaran

Konservasi tanah adalah penempatan tiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah dan memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar  tidak terjadi kerusakan tanah. Pemakaian istilah konservasi tanah sering  diikuti dengan istilah konservasi air. Meskipun keduanya berbeda tetapi  saling terkait. Ketika mempelajari masalah konservasi sering  menggunakan kedua sudut pandang ilmu konservasi tanah dan  konservasi air. Secara umum, tujuan konservasi tanah adalah  meningkatkan produktivitas lahan secara maksimal, memperbaiki  lahan yang rusak/kritis, dan melakukan upaya pencegahan kerusakan tanah akibat erosi.

Sasaran konservasi tanah meliputi keseluruhan sumber daya lahan, yang mencakup kelestarian produktivitas tanah dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat dan mendukung keseimbangan ekosistem.

Penelitian tentang konservasi tanah telah dirintis sejak zaman Belanda tahun 1911, tetapi baru mulai berkembang pada tahun 1970-  an, dengan berdirinya Bagian Konservasi Tanah dan Air, Lembaga  Penelitian Tanah, Bogor (sekarang menjadi Kelompok Peneliti  Konservasi Tanah dan Pengelolaan Air, Balai Penelitian Tanah). Penelitian-penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui  proses erosi mulai dari pengelupasan tanah, pengangkutan sampai  pengendapan material terangkut beserta faktor-faktor yang  mempengaruhinya serta akibat yang ditimbulkannya. Selanjutnya  dilakukan pula penelitian dasar tentang teknik-teknik pencegahan  erosi. Lahan-lahan yang diteliti sebagian besar berupa lahan dengan  sifat tanah yang buruk (agregat yang tidak stabil, aerasi buruk,  permeabilitas rendah dan infiltrasi tanah rendah, serta hara tersedia   bagi tanaman rendah) dan lahan dengan kemiringan yang curam yang rawan terhadap erosi. Lahan dengan bentuk dan sifat tanah seperti di atas mendominasi keberadaan lahan kritis di Indonesia.

Umumnya, hasil-hasil penelitian yang telah dicapai mampu memberikan informasi praktis dalam perencanaan teknik konservasi  tanah walaupun masih harus disempurnakan, karena sebagian besar  teknologi konservasi dihasilkan dari penelitian pada skala petak kecil.  Prediksi erosi pada petak kecil akan memberikan angka yang lebih  tinggi jika dibandingkan dengan yang sebenarnya terjadi di lapangan. Dari penelitiannya di Ungaran, Jawa Tengah, Agus et al. (2002)  melaporkan bahwa besarnya erosi pada skala tampung mikro dengan  penggunaan lahan berupa tumpang sari tanaman pangan semusim adalah sekitar 20 t/ha/tahun, pada penggunaan lahan rambutan  sekitar 1,9 t/ha/tahun, dan campuran antara rambutan dan semak  sebesar 1,7 t/ha/tahun. Sedangkan hasil penelitian dari Haryati et al.  (1995) pada skala petak memberikan data erosi yang tiga kali lebih besar pada jenis tanah dan iklim yang tidak jauh berbeda.

Fenomena tersebut sangat menarik dan dapat dipergunakan untuk membantu menerangkan, bahwa ekstrapolasi langsung dari  skala petak ke tampung mikro dan ke sub-DAS hasilnya akan bias. Oleh  karena itu dalam beberapa tahun terakhir penelitian mengenai  prediksi erosi dan pengaruh penggunaan lahan terhadap erosi   diarahkan pada skala DAS mikro (Watung et al., 2003; Subagyono et  al., 2004), dengan tujuan untuk mendapatkan angka prediksi erosi  yang mewakili kondisi lapangan yang sangat penting dalam penetapan rekomendasi teknik konservasi.

2.2. Teknik Konservasi Tanah

Teknik konservasi tanah di Indonesia diarahkan pada tiga prinsip  utama yaitu perlindungan permukaan tanah terhadap pukulan butirbutir  hujan, meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah seperti pemberian  bahan organik atau dengan cara meningkatkan penyimpanan air,  dan mengurangi laju aliran permukaan sehingga menghambat material tanah dan hara terhanyut (Agus et al., 1999).

Manusia mempunyai keterbatasan dalam mengendalikan erosi sehingga perlu ditetapkan kriteria tertentu yang diperlukan dalam  tindakan konservasi tanah. Salah satu pertimbangan yang harus   disertakan dalam merancang teknik konservasi tanah adalah nilai  batas erosi yang masih dapat diabaikan (tolerable soil loss). Pada Tabel 1 disajikan daftar kondisi tanah di daerah beriklim sedang dalam hubungannya dengan erosi yang masih dapat diabaikan dengan  mempertimbangkan kedalaman tanah, permeabilitas lapisan bawah  dan kondisi substratum (Thompson 1957 dalam Arsyad 1989). Karena pembentukan tanah di Indonesia yang termasuk daerah beriklim  tropika basah diperkirakan dua kali lebih besar dari daerah beriklim  sedang, maka penetapan erosi yang dapat diabaikan juga akan lain  seperti disajikan dalam Tabel 2. Jika besarnya erosi pada tanah dengan sifat-sifat tersebut lebih besar daripada angka erosi yang masih dapat diabaikan, maka tindakan konservasi sangat diperlukan.

Ketiga teknik konservasi tanah secara vegetatif, mekanis dan kimia pada prinsipnya memiliki tujuan yang sama yaitu mengendalikan  laju erosi, namun efektifitas, persyaratan dan kelayakan untuk  diterapkan sangat berbeda. Oleh karena itu pemilihan teknik konservasi yang tepat sangat diperlukan.

Teknik konservasi tanah secara vegetatif adalah setiap pemanfaatan tanaman/vegetasi maupun sisa-sisa tanaman sebagai  media pelindung tanah dari erosi, penghambat laju aliran permukaan, peningkatan kandungan lengas tanah, serta perbaikan sifat-sifat tanah, baik sifat fisik, kimia maupun biologi.

Teknik konservasi tanah secara mekanis atau disebut juga sipil   teknis adalah upaya menciptakan fisik lahan atau merekayasa bidang  olah lahan pertanian hingga sesuai dengan prinsip konservasi tanah  sekaligus konservasi air. Teknik ini meliputi: guludan, pembuatan teras  gulud, teras bangku, teras individu, teras kredit, pematang kontur, teras  kebun, barisan batu, dan teras batu. Khusus untuk tujuan pemanenan  air, teknik konservasi secara mekanis meliputi pembuatan bangunan resapan air, rorak, dan embung (Agus et al., 1999).

Teknik konservasi tanah secara kimiawi adalah setiap penggunaan bahan-bahan kimia baik organik maupun anorganik,  yang bertujuan untuk memperbaiki sifat tanah dan menekan laju erosi.  Teknik ini jarang digunakan petani terutama karena keterbatasan  modal, sulit pengadaannya serta hasilnya tidak jauh beda dengan  penggunaan bahan-bahan alami. Bahan kimiawi yang termasuk  dalam kategori ini adalah pembenah tanah (soil conditioner) seperti  polyvinil alcohol (PVA), urethanised (PVAu), sodium polyacrylate (SPA), polyacrilamide (PAM), vinylacetate maleic acid (VAMA) copolymer,  polyurethane, polybutadiene (BUT), polysiloxane, natural rubber latex,  dan asphalt (bitumen). Bahan-bahan ini diaplikasikan ke tanah dengan  tujuan untuk memperbaiki struktur tanah melalui peningkatan stabilitas agregat tanah, sehingga tahan terhadap erosi.

III. KONSERVASI TANAH SECARA VEGETATIF

3.1. Pengertian

Pada dasarnya konservasi tanah secara vegetatif adalah segala bentuk pemanfaatan tanaman ataupun sisa-sisa tanaman untuk mengurangi erosi. Tanaman ataupun sisa-sisa tanaman berfungsi  sebagai pelindung tanah terhadap daya pukulan butir air hujan  maupun terhadap daya angkut air aliran permukaan (runoff), serta meningkatkan peresapan air ke dalam tanah.

Kanopi berfungsi menahan laju butiran air hujan dan mengurangi  tenaga kinetik butiran air dan pelepasan partikel tanah sehingga  pukulan butiran air dapat dikurangi. Air yang masuk di sela-sela kanopi  (interception) sebagian akan kembali ke atmosfer akibat evaporasi.  Fungsi perlindungan permukaan tanah terhadap pukulan butir air hujan  merupakan hal yang sangat penting karena erosi yang terjadi di  Indonesia penyebab utamanya adalah air hujan. Semakin rapat  penutupannya akan semakin kecil risiko hancurnya agregat tanah oleh pukulan butiran air hujan.

Batang tanaman juga menjadi penahan erosi air hujan dengan cara merembeskan aliran air dari tajuk melewati batang (stemflow)  menuju permukaan tanah sehingga energi kinetiknya jauh berkurang.  Batang juga berfungsi memecah dan menahan laju aliran permukaan.  Jika energi kinetik aliran permukaan berkurang, maka daya angkut  materialnya juga berkurang dan tanah mempunyai kesempatan yang  relatif tinggi untuk meresapkan air. Beberapa jenis tanaman yang ditanam dengan jarak rapat, batangnya mampu membentuk pagar sehingga memecah aliran permukaan. Partikel tanah yang ikut  bersama aliran air permukaan akan mengendap di bawah batang dan lama-kelamaan akan membentuk bidang penahan aliran permukaan yang lebih stabil.

Keberadaan perakaran mampu memperbaiki kondisi sifat tanah
yang disebabkan oleh penetrasi akar ke dalam tanah, menciptakan  habitat yang baik bagi organisme dalam tanah, sebagai sumber  bahan organik bagi tanah dan memperkuat daya cengkeram  terhadap tanah (Foth, 1995, Killham, 1994, Agus et al., 2002). Perakaran  tanaman juga membantu mengurangi air tanah yang jenuh oleh air  hujan, memantapkan agregasi tanah sehingga lebih mendukung  pertumbuhan tanaman dan mencegah erosi, sehingga tanah tidak  mudah hanyut akibat aliran permukaan, meningkatkan infiltrasi, dan kapasitas memegang air.

3.2. Jenis-Jenis Konservasi Tanah Secara Vegetatif

Teknik konservasi tanah secara vegetatif yang akan diuraikan dalam monograf ini adalah: penghutanan kembali (reforestation),  wanatani (agroforestry) termasuk didalamnya adalah pertanaman  lorong (alley cropping), pertanaman menurut strip (strip cropping), strip  rumput (grass strip) barisan sisa tanaman, tanaman penutup tanah  (cover crop), penerapan pola tanam termasuk di dalamnya adalah  pergiliran tanaman (crop rotation), tumpang sari (intercropping), dan tumpang gilir (relay cropping).

Dalam penerapannya, petani biasanya memodifikasi sendiri teknik-teknik tersebut sesuai dengan keinginan dan lingkungan agroekosistemnya sehingga teknik konservasi ini akan terus berkembang di lapangan. Keuntungan yang didapat dari sistem vegetatif ini adalah kemudahan dalam penerapannya, membantu  melestarikan lingkungan, mencegah erosi dan menahan aliran  permukaan, dapat memperbaiki sifat tanah dari pengembalian bahan  organik tanaman, serta meningkatkan nilai tambah bagi petani dari hasil sampingan tanaman konservasi tersebut.

3.2.1. Penghutanan kembali

Penghutanan kembali (reforestation) secara umum dimaksudkan  untuk mengembalikan dan memperbaiki kondisi ekologi dan hidrologi  suatu wilayah dengan tanaman pohon-pohonan. Penghutanan  kembali juga berpotensi untuk peningkatan kadar bahan organik  tanah dari serasah yang jauh di permukaan tanah dan sangat  mendukung kesuburan tanah. Penghutanan kembali biasanya dilakukan pada lahan-lahan kritis yang diakibatkan oleh bencana alam misalnya kebakaran, erosi, abrasi, tanah longsor, dan aktivitas  manusia seperti pertambangan, perladangan berpindah, dan penebangan hutan.

Hutan mempunyai fungsi tata air yang unik karena mampu menyimpan air dan meredam debit air pada saat musim penghujan  dan menyediakan air secara terkendali pada saat musim kemarau  (sponge effect). Penghutanan kembali dengan maksud untuk  mengembalikan fungsi tata air, efektif dilakukan pada lahan dengan  kedalaman tanah >3 m. Tanah dengan kedalaman❤ m mempunyai  aliran permukaan yang cukup tinggi karena keterbatasan kapasitas  tanah dalam menyimpan air (Agus et al., 2002). Pengembalian fungsi  hutan akan memakan waktu 20-50 tahun sampai tajuk terbentuk sempurna. Jenis tanaman yang digunakan sebaiknya berasal dari jenis yang mudah beradaptasi terhadap lingkungan baru, cepat  berkembang biak, mempunyai perakaran yang kuat, dan kanopi yang rapat/rindang.

Penelitian tentang kondisi biofisik lahan sangat penting untuk menentukan jenis tanaman yang akan dipergunakan dengan tujuan  penghutanan kembali terutama untuk hutan monokultur. Beberapa  tanaman tahunan mempunyai intersepsi dan evaporasi yang tinggi  sehingga akan banyak mengkonsumsi air. Penelitian terhadap  tanaman pinus (Pinus merkusii) yang dilakukan oleh Universitas Gadjah  Mada/UGM, Institut Pertanian Bogor/IPB dan Universitas Brawijaya/  Unibraw (Priyono dan Siswamartana, 2002), menyimpulkan bahwa tanaman pinus akan aman jika ditanam pada daerah yang mempunyai curah hujan di atas 2.000 mm/tahun. Pada daerah yang  mempunyai curah hujan 1.500-2.000 mm/tahun disarankan agar  penanaman pinus dicampur dengan tanaman lain yang mempunyai  intersepsi dan evaporasi lebih rendah misalnya Puspa atau Agatis. Sedangkan untuk daerah yang mempunyai curah hujan 1.500  mm/tahun atau kurang disarankan untuk tidak menanam pinus karena akan menimbulkan kekurangan (deficit) air.

3.2.2. Wanatani

Wanatani (agroforestry) adalah salah satu bentuk usaha konservasi tanah yang menggabungkan antara tanaman pohonpohonan,  atau tanaman tahunan dengan tanaman komoditas lain  yang ditanam secara bersama-sama ataupun bergantian.  Penggunaan tanaman tahunan mampu mengurangi erosi lebih baik  daripada tanaman komoditas pertanian khususnya tanaman semusim.  Tanaman tahunan mempunyai luas penutupan daun yang relatif lebih besar dalam menahan energi kinetik air hujan, sehingga air yang sampai ke tanah dalam bentuk aliran batang (stemflow) dan aliran  tembus (throughfall) tidak menghasilkan dampak erosi yang begitu besar. Sedangkan tanaman semusim mampu memberikan efek penutupan dan perlindungan tanah yang baik dari butiran hujan yang  mempunyai energi perusak. Penggabungan keduanya diharapkan  dapat memberi keuntungan ganda baik dari tanaman tahunan maupun dari tanaman semusim.

Penerapan wanatani pada lahan dengan lereng curam atau  agak curam mampu mengurangi tingkat erosi dan memperbaiki kualitas tanah, dibandingkan apabila lahan tersebut gundul atau hanya ditanami tanaman semusim. Pada Gambar 1 disajikan hubungan proporsi tanaman tahunan dan semusim yang ideal pada  lereng yang berbeda pada sistem wanatani. Secara umum proporsi  tanaman tahunan makin banyak pada lereng yang semakin curam demikian juga sebaliknya.

Tanaman semusim memerlukan pengolahan tanah dan pemeliharaan tanaman yang lebih intensif dibandingkan dengan tanaman tahunan. Pengolahan tanah pada tanaman semusim biasanya dilakukan dengan cara mencangkul, mengaduk tanah, maupun cara lain yang mengakibatkan hancurnya agregat tanah, sehingga tanah mudah tererosi. Semakin besar kelerengan suatu  lahan, maka risiko erosi akibat pengolahan tanah juga semakin besar.  Penanaman tanaman tahunan tidak memerlukan pengolahan tanah  secara intensif. Perakaran yang dalam dan penutupan tanah yang rapat mampu melindungi tanah dari erosi.

Tanaman tahunan yang dipilih sebaiknya dari jenis yang dapat memberikan nilai tambah bagi petani dari hasil buah maupun kayunya. Selain dapat menghasilkan keuntungan dengan lebih cepat  dan lebih besar, wanatani ini juga merupakan sistem yang sangat baik  dalam mencegah erosi tanah.  Sistem wanatani telah lama dikenal di masyarakat Indonesia dan  berkembang menjadi beberapa macam, yaitu pertanaman sela,  pertanaman lorong, talun hutan rakyat, kebun campuran, pekarangan, tanaman pelindung/multistrata, dan silvipastura.

3.2.2.1. Pertanaman sela

Pertanaman sela adalah pertanaman campuran antara  tanaman tahunan dengan tanaman semusim. Sistem ini banyak  dijumpai di daerah hutan atau kebun yang dekat dengan lokasi permukiman. Tanaman sela juga banyak diterapkan di daerah perkebunan, pekarangan rumah tangga maupun usaha pertanian  tanaman tahunan lainnya. Dari segi konservasi tanah, pertanaman sela  bertujuan untuk meningkatkan intersepsi dan intensitas penutupan  permukaan tanah terhadap terpaan butir-butir air hujan secara  langsung sehingga memperkecil risiko tererosi. Sebelum kanopi  tanaman tahunan menutupi tanah, lahan di antara tanaman tahunan tersebut digunakan untuk tanaman semusim.

Di beberapa wilayah hutan jati daerah Jawa Tengah, ketika pohon jati masih pendek dan belum terbentuk kanopi, sebagian lahannya ditanami dengan tanaman semusim berupa jagung, padi  gogo, kedelai, kacang-kacangan, dan empon-empon seperti jahe (Zingiber officinale), temulawak (Curcuma xanthorrizha), kencur  (Kaemtoria galanga), kunir (Curcuma longa), dan laos (Alpinia  galanga). Pilihan teknik konservasi ini sangat baik untuk diterapkan oleh petani karena mampu memberikan nilai tambah bagi petani,  mempertinggi intensitas penutupan lahan, membantu perawatan tanaman tahunan dan melindungi dari erosi.

Penanaman tanaman semusim bisa berkali-kali tergantung dari pertumbuhan tanaman tahunan. Sebagai tanaman pupuk hijau sebaiknya dipilih dari tanaman legum seperti Leucaena leucocephala, Glyricidia sepium, Cajanus cajan, Tephrosia candida, dan lain  sebagainya. Jarak antara tanaman semusim dengan tanaman tahunan  secara periodik dilebarkan (lahan tanaman semusim semakin sempit)  dengan maksud untuk mencegah kompetisi hara, pengaruh allelopati dari tanaman tahunan, dan kontak penyakit.

3.2.2.2. Pertanaman lorong

Gambar 2. Flemingia congesta sebagai tanaman pagar dalam budi daya lorong

Sistem pertanaman lorong atau alley cropping adalah suatu  sistem dimana tanaman pagar pengontrol erosi berupa barisan tanaman yang ditanam rapat mengikuti garis kontur, sehingga membentuk lorong-lorong dan tanaman semusim berada di antara  tanaman pagar tersebut (Gambar 2). Sistem ini sesuai untuk diterapkan  pada lahan kering dengan kelerengan 3-40%. Dari hasil penelitian Haryati et al. (1995) tentang sistem budi daya tanaman lorong di Ungaran pada tanah Typic Eutropepts, dilaporkan bahwa sistem ini  merupakan teknik konservasi yang cukup murah dan efektif dalam  mengendalikan erosi dan aliran permukaan serta mampu mempertahankan produktivitas tanah.

Penanaman tanaman pagar akan mengurangi 5-20% luas lahan efektif untuk budi daya tanaman sehingga untuk tanaman pagar dipilih dari jenis tanaman yang memenuhi persyaratan di bawah ini (Agus et al., 1999):

a. Merupakan tanaman yang mampu mengembalikan unsur hara ke dalam tanah, misalnya tanaman penambat nitrogen (N2) dari udara.

b. Menghasilkan banyak bahan hijauan.

c. Tahan terhadap pemangkasan dan dapat tumbuh kembali secara cepat sesudah pemangkasan.

d. Tingkat persaingan terhadap kebutuhan hara, air, sinar matahari dan ruang tumbuh dengan tanaman lorong tidak begitu tinggi.

e. Tidak bersifat alelopati (mengeluarkan zat beracun) bagi tanaman utama.

f. Sebaiknya mempunyai manfaat ganda seperti untuk pakan ternak, kayu bakar, dan penghasil buah sehingga mudah diadopsi petani.

Penelitian-penelitian tentang pertanaman lorong (Puslittanak, 1991) menyimpulkan, bahwa sistem budi daya lorong merupakan salah  satu cara untuk mempertahankan produktivitas lahan kering yang  miskin hara dan mempunyai KTK yang rendah. Suwardjo et al. (1987)  melaporkan bahwa kandungan bahan organik tanah Podsolik di  Jambi, Sumatera meningkat dari 1,8% menjadi 2,2% setelah 1 tahun  ditanami dengan tanaman lorong Flemingia. Pada tahun kedua kandungan bahan organik semakin bertambah dengan nilai 2,8%.

Sistem pertanaman lorong juga dapat mempertahankan sifat fisik  tanah (Tabel 3) dan hasil tanaman pangan dalam jangka panjang.  Dari hasil kajiannya pada penerapan pertanaman lorong (Alley  cropping) di beberapa negara yang tergabung dalam ASIALAND   sloping land project yang meliputi Indonesia, Phillipines, Laos dan  Vietnam, Irawan (2002) melaporkan bahwa alley cropping mampu  mengurangi kehilangan hara akibat erosi senilai US $ 4,1-85,5/ ha/tahun.

Flemingia mempunyai kemampuan yang tinggi untuk tumbuh dan bertunas sehingga menghasilkan hasil pangkasan yang cenderung terus meningkat. Hasil pangkasan ini merupakan sumber  bahan organik yang sangat penting. Dari reklamasi yang dilaksanakan pada tahun 1970 dan evaluasinya pada tahun 1984 pada tanah berskeletal vulkanik Gunung Merapi di Kali Gesik, Jawa Tengah,  Sukmana et al. (1985) melaporkan bahwa setelah 14 tahun direklamasi  dengan Flemingia congesta mampu menghasilkan serasah (kering  udara) sebanyak 5,6 t/ha. Biomassa ini memberikan kontribusi terhadap peningkatan bahan organik tanah 2,65% yang sebelum direklamasi  tidak mengandung bahan organik. Dibandingkan dengan vegetasi alami, Flemingia sangat besar kontribusinya dalam peningkatan bahan  organik tanah (Gambar 3). Bahan organik ini sangat penting dalam peningkatan kapasitas tanah menahan air (water holding capacity) (Gambar 4).


Pada penelitian sistem pertanaman lorong menggunakan tiga  jenis legum yang ditanam dua strip tiap baris dilaporkan, bahwa pada  tahun kedua penanaman Flemingia congesta sudah terlihat adanya  pembentukan teras alami dengan tinggi tampingan sekitar 25 cm,  lebih tinggi dibandingkan pada tanaman Calliandra calothyrsus  maupun Tephrosia volgelli. Hal ini disebabkan oleh pengaruh  kerapatan tanaman serta produksi hijauan Flemingia congesta yang  mampu menahan partikel tanah lebih baik dibandingkan Calliandra maupun Tephrosia (Rachman et al., 1990).

Sistem perakaran yang dalam dan hasil dari guguran daun ataupun dari hasil pangkasan yang menumpuk akan membantu terbentuknya teras alami. Aliran permukaan akan menghanyutkan partikel-partikel tanah dan mengendap di bawah tegakan legum.  Endapan tersebut makin lama makin tinggi dan akhirnya membentuk  bidang olah menyerupai teras dengan tanaman legum sebagaipenguat tampingan. Hal ini merupakan cara pembuatan teras yang  ekonomis karena menurut Rachman et al. (1989), untuk pembuatan  teras bangku pada kemiringan 15% membutuhkan tenaga kerja sebesar 607 HOK/ha, sedang untuk teras gulud sebesar 52 HOK/ha.

Penelitian alley cropping terhadap erosi Haplothrox Citayam menyimpulkan bahwa dari beberapa perlakuan yang diberikan ternyata Flemingia congesta dengan jarak alley 6 m dan ditanam dua  baris cukup efektif menahan erosi dan aliran permukaan (Tabel 4). Dari  penelitian ini dapat diketahui bahwa jarak tanam yang terlalu rapat  menyebabkan pertumbuhan tanaman pagar tidak optimal. Hal ini  akan mempengaruhi kemampuan tanaman pagar menahan tenaga kinetik air.

Bahan tanaman pagar tidak selalu tersedia di sekitar petani sehingga bantuan benih/bibit tanaman pagar akan sangat membantu  penerapannya di lapangan. Analisis kebutuhan tenaga dalam penerapan sistem pertanaman lorong secara rinci adalah sebagai berikut (Agus et al., 1999):

a. Penanaman dengan menggunakan bahan tanaman berupa bibit (tanaman muda) dan rumput membutuhkan tenaga  kerja 100-200 HOK/ha tergantung kelerengan. Perawatannya  hanya membutuhkan tenaga kerja antara 20-25 HOK/ha.  Apabila memerlukan penanaman rumput akan membutuhkan 20-40 HOK/ha.

b. Penanaman dengan menggunakan bahan tanaman berupa stek membutuhkan tenaga kerja antara 20-40 HOK/ha  dengan kebutuhan perawatan per tahun mencapai 25-30 HOK/ha.

c. Penanaman secara langsung hanya membutuhkan tenaga kerja 6-12 HOK/ha dengan perawatan pertahun mencapai 25- 30 HOK/ha.

Berbagai tanaman pagar yang umumnya adalah tanaman  pohon telah diteliti dan diidentifikasi sifat-sifat pertumbuhannya. Banyak tanaman mempunyai pertumbuhan yang cepat seperti Kaliandra dan Glirisidia yang sangat efektif untuk digunakan sebagai tanaman pagar (Tabel 5).

3.2.2.3. Talun hutan rakyat

Talun adalah lahan di luar wilayah permukiman penduduk yang ditanami tanaman tahunan yang dapat diambil kayu maupun buahnya. Sistem ini tidak memerlukan perawatan intensif dan hanya  dibiarkan begitu saja sampai saatnya panen. Karena tumbuh sendiri  secara spontan, maka jarak tanam sering tidak seragam, jenis  tanaman sangat beragam dan kondisi umum lahan seperti hutan  alami. Ditinjau dari segi konservasi tanah, talun hutan rakyat dengan  kanopi yang rapat dapat mencegah erosi secara maksimal juga secara umum mempunyai fungsi seperti hutan.

3.2.2.4. Kebun campuran

Berbeda dengan talun hutan rakyat, kebun campuran lebih banyak dirawat. Tanaman yang ditanam adalah tanaman tahunan  yang dimanfaatkan hasil buah, daun, dan kayunya. Kadang-kadang  juga ditanam dengan tanaman semusim. Apabila proporsi tanaman  semusim lebih besar daripada tanaman tahunan, maka lahan tersebut  disebut tegalan. Kebun campuran ini mampu mencegah erosi dengan  baik karena kondisi penutupan tanah yang rapat sehingga butiran air  hujan tidak langsung mengenai permukaan tanah. Kerapatan  tanaman juga mampu mengurangi laju aliran permukaan. Hasil  tanaman lain di luar tanaman semusim mampu mengurangi risiko akibat gagal panen dan meningkatkan nilai tambah bagi petani.

3.2.2.5. Pekarangan

Pekarangan adalah kebun di sekitar rumah dengan berbagai  jenis tanaman baik tanaman semusim maupun tanaman tahunan.  Lahan tersebut mempunyai manfaat tambahan bagi keluarga petani,  dan secara umum merupakan gambaran kemampuan suatu keluarga  dalam mendayagunakan potensi lahan secara optimal. Tanaman  yang umumnya ditanam di lahan pekarangan petani adalah ubi  kayu, sayuran, tanaman buah-buahan seperti tomat, pepaya,  tanaman obat-obatan seperti kunyit, temulawak, dan tanaman lain yang umumnya bersifat subsisten.

3.2.2.6. Tanaman pelindung

Tanaman pelindung adalah tanaman tahunan yang ditanam di sela-sela tanaman pokok tahunan. Tanaman pelindung ini dimaksudkan untuk mengurangi intensitas penyinaran matahari, dan  dapat melindungi tanaman pokok dari bahaya erosi terutama ketika  tanaman pokok masih muda. Tanaman pelindung ini dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

a. Tanaman pelindung sejenis yang membentuk suatu sistem wanatani sederhana (simple agroforestry). Misalnya tanaman pokok berupa tanaman kopi dengan satu jenis tanaman pelindung misalnya: gamal (Gliricidia sepium), dadap  (Erythrina subumbrans), lamtoro (Leucaena leucocephala) atau kayu manis (Cinnamomum burmanii).

b. Tanaman pelindung yang beraneka ragam dan membentuk wanatani kompleks (complex agroforestry atau sistem multistrata). Misalnya tanaman pokok berupa tanaman kopi dengan dua atau lebih tanaman pelindung misalnya: kemiri (Aleurites muluccana), jengkol (Pithecellobium jiringa), petai (Perkia speciosa), kayu manis, dadap, lamtoro, gamal, durian (Durio zibethinus), alpukat (Persea americana), nangka (Artocarpus heterophyllus), cempedak (Artocarpus integer),
dan lain sebagainya.

Tajuk tanaman yang bertingkat menyebabkan sistem ini menyerupai hutan, yang mana hanya sebagian kecil air yang langsung menerpa permukaan tanah. Produksi serasah yang banyak  juga menjadi keuntungan tersendiri dari sistem ini.

3.2.2.7. Silvipastura

Sistem silvipastura sebenarnya adalah bentuk lain dari sistem tumpang sari, tetapi yang ditanam di sela-sela tanaman tahunan bukan tanaman pangan melainkan tanaman pakan ternak seperti  rumput gajah (Pennisetum purpureum), rumput raja (Penniseitum  purpoides), dan lain-lain. Silvipastura umumnya berkembang di daerah  yang mempunyai banyak hewan ruminansia. Hasil kotoran hewan  ternak tersebut dapat dipergunakan sebagai pupuk kandang,  sementara hasil hijauannya dapat dimanfaatkan sebagai bahan  pakan ternak. Sistem ini dapat dipakai untuk mengembangkan peternakan sebagai komoditas unggulan di suatu daerah.

3.2.2.8. Pagar hidup

Pagar hidup adalah sistem pertanaman yang memanfaatkan tanaman sebagai pagar untuk melindungi tanaman pokok (Gambar  5). Manfaat tanaman pagar antara lain adalah melindungi lahan dari  bahaya erosi baik erosi air maupun angin. Tanaman pagar sebaiknya  tanaman yang mempunyai akar dalam dan kuat, menghasilkan nilai  tambah bagi petani baik dari hijauan, buah maupun dari kayu bakarnya.

Untuk tanaman pagar dapat dipilih jenis pohon yang berfungsi sebagai sumber pakan ternak, jenis tanaman yang dapat menghasilkan kayu bakar, atau jenis-jenis lain yang memiliki manfaat  ganda. Tanaman-tanaman tersebut ditanam dengan jarak yang rapat (< 10 cm). Karena tinggi tanaman bisa mencapai 1,5 – 2 m maka pemangkasan sebaiknya dilakukan 1-2 kali setahun (Agus et al., 1999).

3.2.3. Strip rumput

Teknik konservasi dengan strip rumput (grass strip) biasanya menggunakan rumput yang didatangkan dari luar areal lahan, yang  dikelola dan sengaja ditanam secara strip menurut garis kontur untuk mengurangi aliran permukaan dan sebagai sumber pakan ternak  (Gambar 6). Penelitian yang dilakukan oleh Suhardjo et al. (1997),  Abdurachman et al. (1982), dan Abujamin (1978), membuktikan bahwa  untuk lahan dengan lereng di bawah 20% sistem ini sangat efektif  menahan partikel tanah yang tererosi dan menahan aliran permukaan. Tetapi apabila lahan mempunyai lereng di atas 20% dibutuhkan tindakan konservasi lainnya seperti alley cropping atau teras bangku.  Rumput yang ditanam sebaiknya dipilih dari jenis yang berdaun vertikal  sehingga tidak menghalangi kebutuhan sinar matahari bagi tanaman  pokok, tidak banyak membutuhkan ruangan untuk pertumbuhan  vegetatifnya, mempunyai perakaran kuat dan dalam, cepat tumbuh,  tidak menjadi pesaing terhadap kebutuhan hara tanaman pokok dan mampu memperbaiki sifat tanah.

Penelitian selama 4 tahun di Bogor (250 m dpl) yang dilakukan oleh Abujamin et al. (1983) menggunakan rumput bede (Brachiaria  decumbens) sebagai strip selebar 0,5 m dan rumput bahia (Paspalum  notatum) sebagai strip selebar 1 m pada lahan dengan lereng 15-22%, menunjukkan bahwa penggunaan strip rumput dapat menekan  tingkat erosi dengan baik. Strip rumput bahia selebar 1 m mampu  menekan erosi sampai mendekati 0 t/ha pada tahun kedua setelah  penanaman. Sedangkan strip rumput bahia selebar 0,5 m  membutuhkan waktu hampir 4 tahun untuk dapat menekan erosi  mendekati 0 t/ha. Aliran permukaan pada strip rumput bahia tahun  keempat 189 m3/ha (1,03% curah hujan), lebih baik dibandingkan   dengan strip rumput bede (760 m3/ha atau 4,16% curah hujan) pada tahun yang sama.

Faktor tumbuh tanaman rumput, jarak tanam dalam satu strip, dan jarak antar-strip sangat menentukan efektifitas pengendalian  erosi. Penelitian terhadap efektifitas berbagai macam strip rumput  yang dilakukan Suhardjo et al. (1997), menunjukkan bahwa tingkat  erosi pada tahun pertama masih tinggi karena rumput belum tumbuh  optimal. Pertumbuhan rumput yang lebih baik pada tahun kedua  mampu menekan jumlah tanah tererosi antara 30-60% pada  kemiringan di bawah 20%. Sedimen yang tertahan lama kelamaan  akan mendekati bentuk datar sehingga menciptakan bidang teras alami. Abujamin et al. (1983) melaporkan bahwa setelah 4 tahun (1976/1977 sampai dengan 1979/1980) strip rumput bahia menghasilkan teras alami hasil endapan partikel tanah terangkut  dengan ketinggian sekitar 25-30 cm, sedangkan pada strip rumput  bede sekitar 50-60 cm.

Strip rumput sangat bagus jika dikombinasikan dengan usaha peternakan. Penelitian yang dilakukan oleh Watung et al. (2003) dan  Subagyono et al. (2004) di sub-DAS Babon, Ungaran, Jawa Tengah,  menunjukkan bahwa integrasi penanaman rumput baik secara strip  maupun ditanam pada sebagian bidang olah dengan penggemukan sapi terbukti memberikan alternatif yang dapat ditempuh untuk mewujudkan implementasi teknologi konservasi secara berkelanjutan.

Hasil pangkasan strip dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak sedangkan kotoran ternak dapat dimanfaatkan sebagai pupuk kandang. Di wilayah sentra produksi peternakan, teknik ini mudah  diadopsi oleh peternak. Walaupun tingkat kebutuhan hijauan pakan  ternak lebih besar daripada kontribusi pupuk kandang ke lahan  pertanian, kondisi ini dapat diatasi dengan penanaman rumput secara  khusus (padang rumput). Aspek keterjangkauan lahan dari  permukiman penduduk desa juga perlu dipertimbangkan karena seringkali strip berupa pakan ternak tersebut dicuri.

Kebutuhan tenaga kerja dalam penerapan sistem strip rumput cukup efisien dan lebih sedikit dibandingkan dengan sistem pertanaman lorong (Tabel 6). Dalam upaya lebih meningkatkan efektifitasnya dalam menahan  erosi, strip rumput dapat dikombinasikan dengan mulsa (Gambar 7).  Selain bertujuan untuk menahan erosi, sistem ini juga efektif dalam mempertahankan kelengasan tanah.

Strip rumput dapat dikombinasikan dengan teknik konservasi secara mekanis seperti penerapan teras. Penanaman strip rumput di bibir teras sampai tampingan teras menghasilkan pengurangan tingkat  erosi 30-50% dibandingkan bila strip rumput hanya ditanam di bibir teras  saja. Menurut Suhardjo et al. (1997), pada tanah Inceptisols dengan  curah hujan 1.441,8 mm/musim tanam maupun Entisols dengan curah  hujan 1.625,5 mm/musim tanam, strip rumput yang ditanam di bibir  teras saja ternyata masih menghasilkan erosi yang tinggi yaitu 20 t/ha/musim tanam.

3.2.4. Mulsa

Dalam konteks umum, mulsa adalah bahan-bahan (sisa tanaman, serasah, sampah, plastik atau bahan-bahan lain) yang disebar atau menutup permukaan tanah untuk melindungi tanah dari  kehilangan air melalui evaporasi (Gambar 8). Mulsa juga dapat  dimanfaatkan untuk melindungi permukan tanah dari pukulan  langsung butiran hujan sehingga mengurangi terjadinya erosi percik (splash erosion), selain mengurangi laju dan volume limpasan  permukaan (Suwardjo, 1981). Bahan mulsa yang sudah melapuk akan  menambah kandungan bahan organik tanah dan hara. Mulsa mampu  menjaga stabilitas suhu tanah pada kondisi yang baik untuk aktivitas mikroorganisma. Relatif rendahnya evaporasi, berimplikasi pada  stabilitas kelengasan tanah. Secara umum mulsa berperan dalam perbaikan sifat fisik tanah. Pemanfaatan mulsa di lahan pertanian juga dimaksudkan untuk menekan pertumbuhan gulma.

Dalam bahasan ini, mulsa sisa tanaman atau bahan-bahan lain dari tanaman yang berfungsi untuk konservasi tanah dan air diuraikan.  Peran mulsa dalam menekan laju erosi sangat ditentukan oleh bahan  mulsa, persentase penutupan tanah, tebal lapisan mulsa, dan daya  tahan mulsa terhadap dekomposisi (Abdurachman dan Sutono, 2002).  Menurut Suwardjo et al. (1989), dalam jangka panjang olah tanah minimum dan pemberian mulsa dapat menurunkan erosi hingga di bawah ambang batas yang dapat diabaikan (tolerable soil loss). Sebaliknya pada tanah yang diolah dan tanpa diberi mulsa, erosi terjadi makin besar (Tabel 7).

Hasil penelitian telah membuktikan bahwa pemberian mulsa mampu meningkatkan laju infiltrasi. Lal (1978) melaporkan bahwa pemberian mulsa sisa tanaman sebanyak 4-6 t/ha mampu  mempertahankan laju infiltrasi, serta menurunkan kecepatan aliran permukaan dan erosi pada tingkat yang masih dapat diabaikan (Gambar 9).

Menurut Kurnia et al. (1997), mulsa jerami ditambah dengan mulsa dari sisa tanaman sangat efektif dalam mengurangi erosi serta mengurangi konsentrasi sedimen dan hara yang hilang akibat erosi  Tabel 8). Erfandi et al. (1994) melaporkan, bahwa hasil pangkasan  rumput vetiver yang dijadikan mulsa pada tahun ketiga penelitian sebanyak 5-6 t/ha mampu meningkatkan kadar C dan N tanah  masing-masing sebesar 37-70%. Dari penelitian tentang mulsa dan  pupuk hijau Sonosiso (Dalbergia siso) yang dilakukan oleh Haryati et al.  (1990) di Desa Gondanglegi, Kabupaten Boyolali dapat disimpulkan bahwa cara pemberian pupuk hijau dengan cara dimulsakan lebih efisien / menguntungkan dibandingkan dengan cara pembenaman ke dalam tanah.

Mulsa yang diberikan sebaiknya berupa sisa tanaman yang tidak mudah terdekomposisi misalnya jerami padi dan jagung dengan takaran yang disarankan adalah 6 t/ha atau lebih. Bahan mulsa sebaiknya dari bahan yang mudah diperoleh seperti sisa tanaman  pada areal lahan masing-masing petani sehingga dapat menghemat  biaya, mempermudah pembuangan limbah panen sekaligus mempertinggi produktivitas lahan.

3.2.5. Sistem penanaman menurut strip

Penanaman menurut strip (strip cropping) adalah sistem pertanaman, dimana dalam satu bidang lahan ditanami tanaman
dengan jarak tanam tertentu dan berselang-seling dengan jenis tanaman lainnya searah kontur. Misalnya penanaman jagung dalam satu strip searah kontur dengan lebar strip 3-5 m atau 5-10 m  tergantung kemiringan lahan, di lereng bawahnya ditanam kacang  tanah dengan sistem sama dengan penanaman jagung, strip rumput  atau tanaman penutup tanah yang lain (Gambar 10).

 

Semakin curam lereng, maka strip yang dibuat akan semakin sempit sehingga jenis tanaman yang berselang-seling tampak lebih  rapat. Sistem ini sangat efektif dalam mengurangi erosi hingga 70-75% (FAO, 1976) dan vegetasi yang ditanam (dari jenis legum) akan  mampu memperbaiki sifat tanah walaupun terjadi pengurangan luas areal tanaman utama sekitar 30-50%.

Sistem ini biasa diterapkan di daerah dengan topografi berbukit sampai bergunung dan biasanya dikombinasikan dengan teknik konservasi lain seperti tanaman pagar, saluran pembuangan air, dan  lain-lain. Penanaman menurut strip merupakan usaha pengaturan tanaman sehingga tidak memerlukan modal yang besar.

3.2.6. Barisan sisa tanaman

Pada dasarnya, sistem barisan sisa tanaman (trash line) ini sama dengan sistem strip. Sistem ini adalah teknik konservasi tanah yang  bersifat sementara dimana gulma/rumput/sisa tanaman yang disiangi  ditumpuk berbaris (Gambar 11). Untuk daerah berlereng biasanya  ditumpuk mengikuti garis kontur. Penumpukan ini selain dapat  megurangi erosi dan menahan laju aliran permukaan juga bisa berfungsi sebagai mulsa.

Ketersediaan bahan sisa tanaman harus cukup banyak  sehingga penumpukannya membentuk struktur yang lebih kuat. Sisa tanaman tersebut lemah dalam menahan gaya erosi air dan akan cepat terdekomposisi sehingga mudah hanyut. Penggunaan kayukayu  pancang diperlukan untuk memperkuat barisan sisa tanaman ini.  Sistem ini cukup bagus untuk mempertahankan ketersediaan hara  melalui dekomposisi bahan organik dan melindungi tanah dari bahaya erosi sampai umur tanaman <5 bulan (Dariah et al., 1998).

Barisan sisa tanaman tidak memerlukan banyak tenaga kerja. Untuk pembuatan barisan sisa tanaman hanya memerlukan antara 10-  30 HOK/ha (Agus et al., 1999). Pada tahun kedua perlu dibuat barisan  sisa tanaman yang baru.

3.2.7. Tanaman penutup tanah

Tanaman penutup tanah (cover crop) adalah tanaman yang biasa ditanam pada lahan kering dan dapat menutup seluruh permukaan tanah (Gambar 12). Tanaman yang dipilih sebagai tanaman penutup tanah umumnya tanaman semusim/tahunan dari  jenis legum yang mampu tumbuh dengan cepat, tahan kekeringan,  dapat memperbaiki sifat tanah (fisik, kimia, dan biologi) dan  menghasilkan umbi, buah, dan daun. Sebagaimana dilaporkan Lal  (1978), tanaman penutup tanah mampu meningkatkan laju infiltrasi.

Laju infiltrasi pada tanah bera (bare soil) atau belum ditanami, tanah  bera alami (natural fallow), tanah yang ditanami Paspalum notatum, Stylosanthes gracilis, Bracharia ruziensis, Pueraria phaseoloides,  Centrocema pubescens, dan Psophocarpus palustris masing-masing  adalah 6; 7,5; 8; 18; 21; 25; dan 33 cm/jam, sedangkan kumulatif infiltrasi pada masing-masing perlakuan disajikan pada Gambar 13.

Tanaman penutup tanah dibedakan menjadi empat (Agus et al., 1999), yaitu: (1) tanaman penutup tanah rendah seperti centrosema  (Centrosema pubescens), pueraria (Pueraria javanica) dan benguk  (Mucuna sp.); (2) tanaman penutup tanah sedang seperti lamtoro  (Leucaena leucocephala) dan gamal (Gliricidia sepium); (3) tanaman  penutup tanah tinggi seperti sengon (Periserianthes falcataria); dan (4) belukar lokal.

Tanaman penutup tanah rendah, dapat ditanam bersama tanaman pokok maupun menjelang tanaman pokok ditanam. Tanaman penutup tanah sedang dan tinggi pada dasarnya seperti  tanaman sela dimana tanaman pokok ditanam di sela-sela tanaman  penutup tanah. Dapat juga tanaman pokok ditanam setelah tanaman penutup tanah dipanen.

Tanaman penutup tanah dimaksudkan untuk menambah penghasilan petani dari hasil panennya, selain itu juga untuk memperbaiki sifat tanah karena mampu menambat N dari udara dan sisa tanamannya dapat dijadikan sumber bahan organik. Sebagai  contoh tanaman penutup tanah dari jenis legum seperti Mucuna sp.  sangat besar kontribusinya dalam memperbaiki produktivitas tanah.  Selain mampu mengurangi pengaruh keracunan Al pada tanaman,  Mucuna sp. juga merupakan sumber unsur hara bagi tanaman.  Kandungan hara Mucuna sp. sebagai berikut: N=2,32%; P=0,20%; dan  K=1,97% (Adiningsih dan Mulyadi, 1992). Ini berarti bahwa setiap pengembalian 1 t biomassa kering Mucuna sp. sebagai mulsa, maka  akan diperoleh sekitar 23 kg N; 2 kg P dan 20 kg K yang setara dengan  52 kg urea; 10 kg TSP, dan 39 kg KCl. Hasil ini jelas akan memberikan  sumbangan yang tidak sedikit bagi petani dalam memenuhi kebutuhan lahannya terhadap pupuk.

3.2.8. Penyiangan parsial

Penyiangan parsial merupakan teknik dimana lahan tidak disiangi seluruhnya yaitu dengan cara menyisakan sebagian rumput alami maupun tanaman penutup tanah (lebar sekitar 20-30 cm)  sehingga di sekitar batang tanaman pokok akan bersih dari gulma.  Tanaman penutup tanah yang tidak disiangi akan berfungsi sebagai  penahan erosi. Pada dasarnya teknik ini menyerupai strip rumput  dimana vegetasi gulma mampu menahan aliran permukaan dan  mengendapkan material terangkut. Hasil tanaman yang disiangi  dikembalikan ke lahan atau ditumpuk sebagai barisan sisa tanaman  sehingga dapat menambah bahan organik bagi tanah dan memperbaiki sifat tanah.

Teknik penyiangan yang termasuk dalam penyiangan parsial adalah:

3.2.8.1 Strip tumbuhan alami (natural vegetative strips = NVS)

Pada dasarnya teknik ini adalah menyisakan sebagian lahan yang tidak disiangi dan tidak ditanami sehingga rumput alami tumbuh  membentuk strip yang kurang lebih sejajar dengan garis kontur. Teknik  ini banyak diterapkan untuk tanaman semusim dan sudah  berkembang di Mindanao Utara, Filipina (Agus et al., 2002). Meskipun  teknik ini efektif mengurangi erosi, tetapi teknik ini juga mengurangi  areal produktif lahan pertanian sekitar 5-15%.

3.2.8.2. Penyiangan sekeliling batang tanaman pokok

Teknik ini dapat diterapkan pada penyiangan dimana tanah tertutupi oleh gulma rumput maupun tanaman penutup tanah lain yang sengaja ditanam. Penyiangan dilakukan di sekeliling batang tanaman pokok dengan diameter sekitar 120 cm (Gambar 14).  Dengan memanfatkan teknik penyiangan ini pada areal tanaman kopi  umur satu tahun dengan kemiringan lereng 60% dan curah hujan sebesar 1.338 mm (selama 6 bulan dari tanggal 1 Mei sampai 30  Oktober 1980) tingkat aliran permukaan hanya sebesar 1,8% dari curah  hujan dan erosi sebesar 1,9 t/ha. Sedangkan pada tanaman kopi umur  3 tahun dengan lereng 62-63% dan umur 16 tahun dengan kelerengan 46-49%, curah hujan yang sama menghasilkan aliran permukaan  berturut-turut sebesar 3,4% dan 6,3% dari jumlah curah hujan dan erosi  yang dihasilkan berturut-turut sebesar 1,6 dan 1,3 t/ha (Gintings, 1982  dalam Agus et al, 2002). Penyiangan sekeliling batang tanaman pokok  ini juga dimaksudkan, untuk mencegah hama dan penyakit  menyerang tanaman pokok dengan tetap memelihara keberadaan tanaman penutup tanah.

3.2.9. Penerapan pola tanam

Pola tanam adalah sistem pengaturan waktu tanam dan jenis tanaman sesuai dengan iklim, kesesuaian tanah dengan jenis tanaman, luas lahan, ketersediaan tenaga, modal, dan pemasaran.  Pola tanam berfungsi meningkatkan intensitas penutupan tanah dan  mengurangi terjadinya erosi. Biasanya petani sudah mempunyai  pengetahuan tentang pola tanam yang cocok dengan keadaan  biofisik dan sosial ekonomi keluarganya berdasarkan pengalaman dan  kebiasaan pendahulunya. Pengalaman menunjukkan bahwa dalam  suatu usaha tani, erosi masih terjadi. Pemilihan pola tanam yang tepat dapat meningkatkan keuntungan bagi petani dan meningkatkan penutupan tanah sehingga erosi dapat dikurangi. Misalnya penanaman padi gogo yang disisipi jagung pada awal musim hujan,  setelah panen disusul penanaman kedelai dan pada saat bera  ditanami benguk (Mucuna sp.). Jenis tanaman dapat lebih bervariasi tergantung keinginan petani dan daya dukung lahannya.

Pertanaman majemuk yang merupakan salah satu bagian  dalam pola tanam pada dasarnya merupakan sistem dimana satu bidang olah ditanami lebih dari satu jenis tanaman pangan. Misalnya dalam satu bidang olah ditanami sekaligus tanaman jagung, padi gogo, mukuna (benguk), dan kedelai. Sistem ini bertujuan untuk  mempertinggi intensitas penggunaan lahan, dan dapat mengurangi risiko gagal panen untuk salah satu tanaman, meningkatkan nilai  tambah bagi petani dan juga termasuk tindakan pengendalian hama  dan pengendalian erosi. Pada tahun 1974, hasil penelitian IRRI membuktikan bahwa populasi hama penggerek jagung (Ostrinia  nubilalis) pada penanaman tumpang sari antara jagung dan kacang  tanah berada dalam jumlah yang lebih kecil dibandingkan dengan jumlah populasi hama tersebut pada saat jagung ditanam secara monokultur.

Dengan penerapan pertanaman majemuk, penutupan tanah akan lebih rapat sehingga mampu melindungi tanah dari pukulan air  hujan secara langsung dan menahan aliran permukaan. Sistem  pertanaman yang termasuk sistem pertanaman majemuk adalah sistem pergiliran tanaman (crop rotation), tumpang sari (inter  cropping), dan tumpang gilir (relay cropping).

3.2.9.1. Pergiliran tanaman

Pergiliran tanaman (crop rotation) adalah sistem bercocok tanam dimana sebidang lahan ditanami dengan beberapa jenis tanaman secara bergantian. Tujuan utama dari sistem ini adalah untuk memutuskan siklus hama dan penyakit tanaman dan untuk meragamkan  hasil tanaman. Pergantian tanaman ada yang dilakukan secara intensif dimana setelah panen tanaman pertama kemudian langsung ditanami tanaman kedua dan ada pula yang dibatasi periode bera. Daerah yang memiliki musim kering (MK) <4 bulan sangat baik untuk menerapkan sistem ini.

Pada Tabel 9 secara umum disajikan data rata-rata erosi pada tanah Tropaqualfs dengan pola pergiliran tanaman. Penggunaan sistem pergiliran tanaman intensif secara berurutan, antara tanaman  pertama yang disusul tanaman kedua dan seterusnya mampu  menekan erosi secara nyata dibandingkan lahan yang hanya diolah tanpa ditanami. Pengaruh nyata tersebut dihasilkan dari fungsi  tanaman sebagai pengikat tanah (nilai C koefisien tanaman = 0,371)  serta penambahan bahan organik dari sisa tanaman tersebut sebagai  mulsa dan pembenah tanah sehingga tahan terhadap erosi.  Penggunaan sistem ini disarankan untuk tetap menggunakan pupuk  dan teknik konservasi tanah, sehingga hasil tanaman dapat maksimal dan lahan yang dipergunakan dapat terjaga produktivitasnya.

Dari segi konservasi tanah, pergiliran tanaman memberikan  peluang untuk mempertahankan penutupan tanah, karena tanaman kedua ditanam setelah tanaman pertama dipanen. Demikian  seterusnya, sehingga sepanjang tahun intensitas penutupan tanah  senantiasa dipertahankan. Kondisi ini akan mengurangi risiko tanah tererosi akibat terpaan butir-butir air hujan dan aliran permukaan.

3.2.9.2. Tumpang sari

Tumpang sari (intercropping) adalah sistem bercocok tanam  dengan menggunakan dua atau lebih jenis tanaman yang ditanam serentak/bersamaan pada sebidang tanah. Sistem tumpang sari sebagian besar dikelola pada pertanian lahan kering yang hanya menggantungkan air hujan sebagai sumber air utama. Sistem tumpang sari adalah salah satu usaha konservasi tanah yang efektif dalam memanfaatkan luas lahan. Tanaman yang ditanam dapat berupa  jagung dengan kacang tanah, jagung dengan kedelai, dan  sebagainya. Tanaman tersebut dapat berupa tanaman penambat   nitrogen, berperakaran dalam maupun dangkal yang pada prinsipnya saling menguntungkan.

Kerapatan penutupan tanah akan sangat menguntungkan untuk  pencegahan erosi, mempertahankan kadar lengas tanah karena  evaporasi terhambat, memperbaiki kondisi tanah karena aktivitas perakaran mempertinggi bahan organik tanah. Hasil ganda yang diperoleh dalam satu luasan lahan dapat meningkatkan pendapatan petani. Setelah tanaman dalam tumpang sari tersebut dipanen sebaiknya tanah langsung ditanami dengan tanaman pangan lain ataupun tanaman penutup tanah yang mampu tumbuh cepat untuk melindungi tanah, sehingga erosi dapat dikurangi.

3.2.9.3. Tumpang gilir

Tumpang gilir (relay cropping) adalah cara bercocok tanam dimana satu bidang lahan ditanami dengan dua atau lebih jenis tanaman dengan pengaturan waktu panen dan tanam. Pada sistem  ini, tanaman kedua ditanam menjelang panen tanaman musim  pertama. Contohnya adalah tumpang gilir antara tanaman jagung  yang ditanam pada awal musim hujan dan kacang tanah yang  ditanam beberapa minggu sebelum panen jagung. Sistem ini  diterapkan untuk mempertinggi intensitas penggunaan lahan.  Penanaman tanaman kedua sebelum tanaman pertama dipanen   dimaksudkan untuk mempercepat penanamannya dan masih  mendapatkan air hujan yang cukup untuk pertumbuhan dan  produksinya. Tanaman pertama tidak terlalu terpengaruh akibat  kompetisi tanaman kedua karena tanaman pertama telah melewati  fase pertumbuhan vegetatifnya. Begitu pula dengan tanaman kedua  yang mendapatkan air dan hara yang cukup sehingga dapat memaksimalkan pertumbuhan vegetatifnya.

Dari segi konservasi, penutupan tanah yang rapat pada tumpang gilir mempunyai pengaruh yang cukup baik dalam menahan erosi (Tabel 10). Penerapan teknik ini perlu diiringi dengan penerapan  teknik konservasi tanah yang lain seperti penambahan bahan organik, penutup tanah dan jika perlu diterapkan tindakan sipil teknis.  Mengingat intensitas tanaman yang tinggi, pemupukan juga perlu  dilaksanakan. Penambahan sisa tanaman yang dijadikan mulsa akan mengoptimalkan kemampuan tanah dalam menahan erosi selain menyediakan kebutuhan tanaman akan hara.

Pola tanam yang diintroduksikan harus mampu meningkatkan efektivitas penggunaan lahan dan penggunaan air melalui pertimbangan biofisik lahan dan sosial ekonomi suatu wilayah. Perbedaan pola tanam menghasilkan komoditas serta intensitas pertanaman yang berbeda. Pola tanam juga diharapkan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan hara terutama jika pola tanam  yang diintroduksi mencakup tanaman-tanaman dengan kedalaman perakaran yang berbeda.

Pola tanam dengan mempertimbangkan kondisi iklim dapat disajikan sebagai berikut (Agus et al., 1999):

a. Bila bulan kering dalam satu tahun tidak ada atau hanya satu bulan, dapat dilakukan pertanaman sepanjang tahun.
b. Bila bulan kering 2-3 bulan setahun, dapat dilakukan  pertanaman sepanjang tahun tetapi dengan perencanaan  lebih hati-hati terhadap teknik konservasi tanahnya, pemeliharaan, pemupukan, dan pemanenannya.
c. Bila bulan kering 4-6 bulan setahun, dapat dilakukan dua kali penanaman dengan tumpang gilir.
d. Bila bulan kering 7-9 bulan setahun, pertanaman dapat dilakukan sekali, selebihnya ditanami tanaman penutup tanah.
e. Bila bulan kering sepanjang tahun, daerah tersebut tidak cocok untuk tanaman pangan bila tanpa irigasi atau sistem pemanenan air.

Penelitian tentang karakteristik curah hujan, karakteristik tanah, metode pemupukan, varietas unggul, pengendalian hama dan  penyakit, pemasaran maupun sosial dan ekonomi pedesaan sangat diperlukan dalam menentukan pola tanam di suatu wilayah dan  keberhasilan penerapannya oleh petani. Penerapan pola tanam tidak  dapat dipisahkan dengan karakteristik curah hujan, karena tiap-tiap  tanaman memiliki respon yang berbeda terhadap ketersediaan air.  Karena distribusi curah hujan tidak merata sepanjang tahun, maka  model pola tanam yang didasari dengan distribusi curah hujan akan  memberikan hasil yang lebih baik. Gambar 15 merupakan salah satu model pola tanam yang diterapkan di DAS Jratunseluna (P3HTA, 1988).

Masing-masing adalah:

a. Model A: kacang tanah tumpang sari dengan jagung disisipi oleh ubi kayu dan diikuti oleh kacang tanah.
b. Model B: kacang tanah tumpang sari dengan jagung disisipi oleh ubi kayu dan diikuti oleh cabai.
c. Model C: kacang tanah tumpang sari dengan jagung disisipi oleh ubi kayu dan diikuti mentimun.

Analisis jumlah tenaga kerja per tahun yang dibutuhkan untuk  pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan, panen dan  pascapanen pada pola tanam petani model A, B dan C masingmasing adalah 475 HOK/ha, 443,4 HOK/ha, dan 370,7 HOK/ha.

IV. IMPLEMENTASI

Hasil pengembangan teknik konservasi secara vegetatif yang  sudah ada di masyarakat (indigenous) maupun dari hasil inovasi, perlu  dikenalkan kepada masyarakat luas khususnya petani yang belum  paham teknik penerapannya secara benar atau bahkan yang belum  menerapkannya. Tidak semua teknik konservasi akan diterapkan oleh   petani di lahannya. Petani akan menerapkan teknik konservasi sesuai dengan kemampuan dan kemauan petani itu sendiri serta dengan  mempertimbangkan lingkungan, iklim, kemampuan modal,  pemasaran, kemudahan dalam mendapatkan bahan tanaman, dan  keuntungannya. Selain itu faktor sosial ekonomi seperti umur, jenis  kelamin, pendidikan, jumlah tanggungan keluarga, kepemilikan modal,  lembaga tradisional, adat istiadat, dan lain sebagainya juga sangat  mempengaruhi. Dengan demikian peran penyuluh dalam menggali  informasi keadaan biofisik, sosial ekonomi petani serta mendampingi  petani dalam pemilihan dan penerapan teknologi konservasi sangat penting.

Untuk mencapai keberhasilan introduksi teknik konservasi tersebut  diperlukan informasi-informasi yang dapat digali melalui pendekatan  participatory rural appraisal (PRA). Teknik ini menggali informasi  langsung dari petani sebagai pelaku implementasi teknik konservasi.  PRA harus difasilitasi oleh berbagai bidang ilmu meliputi sosiologi,  agronomi, dan konservasi tanah (Agus et al., 1998). Pada Gambar 16 disajikan bagan alir tahapan implementasi sistem usaha tani  konservasi.

Dalam penerapannya di lapangan, biasanya suatu teknik konservasi vegetatif dikombinasikan dengan teknik konservasi vegetatif  yang lain ataupun dengan konservasi mekanis/sipil teknis. Misalnya  untuk teras bangku dikombinasikan dengan tanaman penguat teras  dari jenis rumput-rumputan seperti rumput guatemala, raja, gajah, vetiver, dan benggala.

4.1. Prospek Penerapan

Penggunaan vegetasi sebagai sarana konservasi tanah mempunyai prospek yang besar untuk diterima oleh masyarakat petani  di Indonesia, karena manfaat dan kemudahan penerapan teknik  tersebut. Selain murah, teknik ini mampu memperbaiki dan  meningkatkan kualitas tanah dan lingkungan. Penerapan teknik  konservasi secara mekanis efektif dalam menahan erosi dan aliran permukaan, tetapi membutuhkan modal yang besar. Bagi petani dengan kemampuan modal rendah, hal itu sangat memberatkan sehingga teknik konservasi tanah secara vegetatif menjadi pilihan petani untuk memperbaiki dan meningkatkan produktivitas lahannya.

Selain aspek konservasi tanah, penerapan teknik vegetatif menghasilkan tambahan bahan organik bagi lahan. Kombinasi antara  ternak dengan vegetasi konservasi untuk pakan ternak mempunyai  keuntungan ganda (Dariah et al., 1998). Di satu sisi, erosi yang terjadi  dapat ditekan serendah mungkin sementara hasil pangkasan dapat  dijadikan pakan ternak. Di sisi lain, hasil limbah ternak berupa kotoran  dan urine dapat dimanfaatkan sebagai pupuk kandang bagi tanaman pokok.

Pada Tabel 11 disajikan jenis teknik konservasi secara vegetatif lengkap dengan kesesuaian biofisiknya yang dapat menjadi acuan  petani mengelola lahannya. Untuk implementasi di lapangan masih  perlu dilihat lagi kesesuaian teknik konservasi secara vegetatif ini  terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat, dan faktor-faktor yang berpengaruh lainnya, karena hal ini akan sangat mempengaruhi  keberhasilan dan keberlanjutan penerapan teknik konservasi secara vegetatif di lahan petani.

4.2. Kendala Penerapan

Meskipun dari tahun ke tahun tindakan konservasi tanah di Indonesia selalu meningkat, tetapi belum dapat mencapai hasil yang  optimal. Hal ini dibuktikan dengan masih banyaknya kejadian bencana  alam banjir dan kekeringan serta menurunnya produktivitas tanah.  Beberapa upaya sudah dilakukan untuk membuka wawasan individu,  masyarakat tani, dan pihak pengambil kebijakan tentang arti penting  konservasi. Kendala penerapan teknologi konservasi tanah secara  vegetatif antara lain adalah ketidaktahuan petani terhadap paket teknologi konservasi maupun proses degradasi lahan akibat pengelolaan lahan yang buruk, teknik yang disarankan tidak sesuai  dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat maupun kondisi biofisik  daerah setempat, dan kesulitan mendapatkan sarana yang  direkomendasikan untuk diterapkan di lahan mereka. Petani juga  melihat bahwa teknik vegetatif ini akan mengurangi areal produktif  bagi tanaman pangan mereka. Selain itu Sekretariat Tim Pengendali Bantuan P&RP (2000) juga mencatat kendala utama penerapan teknologi konservasi sebagai berikut:

a. Tingginya biaya serta lambatnya pengembalian investasi  dari tindakan konservasi.
b. Ketidakpastian penguasaan lahan.
c. Petani tidak melihat keuntungan langsung dari penerapan teknik konservasi tanah.

Dengan modal yang terbatas, petani lebih memilih mengelola lahan pertaniannya seefektif mungkin untuk menghasilkan keuntungan  yang sebesar-besarnya pada waktu panen. Tindakan konservasi yang  baik mendapatkan porsi yang sedikit atau bahkan tidak sama sekali. Kendala-kendala tersebut harus diupayakan untuk dipecahkan  bersama sehingga kualitas teknik konservasi yang sudah ada ataupun  yang akan diusahakan dapat bertahan bahkan meningkat.  Penerapan teknologi konservasi harus menyeluruh dengan melibatkan berbagai instansi pemerintahan, swasta dan pihak akademis dari berbagai bidang ilmu pengetahuan serta melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Koordinasi antar- komponen yang kurang baik merupakan  kendala yang menyebabkan hasil yang dicapai tidak sesuai dengan  rencana. Koordinasi mulai dari perencanaan hingga pengawasan hasil merupakan keharusan untuk mencapai hasil yang maksimal.

Penyuluh yang kurang cakap juga termasuk kendala dalam penerapan teknologi konservasi ini. Penyuluh yang tidak memahami kondisi biofisik, sosial ekonomi, karakter petani maupun cara  penyampaian himbauan sebagian besar akan mengalami kegagalan.  Petani sebagai ujung tombak implementasi teknologi konservasi harus diajak untuk bersama-sama memilih dan mengambil keputusan  tentang teknologi yang akan diterapkan di lahannya, sehingga petani merasa ikut andil dan memiliki program tersebut (Agus et al., 1999).

4.3. Alternatif Implementasi

Pada dasarnya teknologi konservasi tidak populer di mata masyarakat karena untuk merealisasikannya diperlukan biaya yang  tidak sedikit, sedangkan hasilnya tidak segera dirasakan oleh  masyarakat khususnya petani. Kondisi ini harus disikapi secara bijaksana  dan dicari alternatif pemecahannya. Masyarakat yang bertempat  tinggal di daerah hilir mempunyai kepentingan yang besar terhadap  kelestarian daerah hulu maupun DAS. Untuk itu sangat diperlukan  perhatian dari masyarakat hilir yang lebih besar terhadap  kesejahteraan masyarakat daerah hulu. Salah satu alternatifnya  adalah pemberian bantuan (incentive) yang diharapkan mampu mendorong petani untuk menerapkan teknik konservasi secara benar.  Upaya pemerintah melalui kerja sama antar-instansi mempunyai peran  yang sangat besar dalam mengakomodir dan meng-implementasikan  hal tersebut. Lebih penting lagi adalah peran serta seluruh komponen  masyarakat untuk peduli terhadap konservasi tanah terutama daerah hulu maupun DAS.

Alternatif implementasi secara teknis dapat disesuaikan lagi dengan kondisi setempat. Beberapa contoh tidak tepatnya rekomendasi teknik konservasi untuk diterapkan pada lahan petani adalah sebagai berikut: pertanaman strip rumput pakan sebagai usaha konservasi penguat teras di daerah Garut kurang berhasil  diterapkan karena petani merasa khawatir dengan pencurian (Dariah  et al., 1998). Pemanfaatan tanaman akar wangi di saluran drainase  yang idealnya tidak dipanen sebagai salah satu teknik konservasi  kenyataannya justru lebih disenangi oleh petani untuk dipanen karena  hasilnya lebih baik. Penerapan teknik konservasi di suatu lahan hasilnya  tidak menggembirakan karena statusnya bukan milik petani. Petani lebih serius mengelola lahannya sendiri daripada milik orang lain meskipun dia mendapatkan upah untuk mengelola lahan milik orang lain tersebut.

Masalah yang terjadi dari penerapan teknik konservasi perlu diuraikan dan dipahami untuk disempurnakan lagi atau kalau perlu  diganti dengan alternatif lain. Pemahaman kondisi masyarakat tani  tidak terbatas pada kondisi masyarakat setempat tetapi juga  masyarakat sekitarnya. Pemahaman kondisi biofisik perlu dimatangkan  lagi dengan mengetahui perilaku iklim, hama, penyakit, status lahan  dan informasi lain yang mendukung perencanaan teknik konservasi di wilayah tersebut.

Pendekatan partisipatif (PRA) digunakan untuk menggali informasi sedalam-dalamnya sehingga alternatif yang disampaikan  telah berdasar pertimbangan yang matang dan diharapkan petani  tertarik untuk memilih serta menerapkannya di lahan pertanian  mereka. Penyuluhan yang intensif tentang teknik konservasi ini perlu  dilaksanakan sehingga petani akan meningkat pengetahuannya, memahami, dan bersedia untuk mencoba di lahannya masing-masing.

Pemilihan teknologi konservasi harus disesuaikan dengan modal
petani sehingga pelaksanaannya dapat maksimal, baik modal berupa uang maupun tenaga kerja. Penerapan salah satu atau beberapa  teknik yang tidak sesuai dengan modal petani (menuntut modal yang  tinggi) tidak akan bertahan lama akibat kesulitan dalam  pemeliharaannya. Bibit tanaman berbagai vegetasi konservasi tanah  perlu disediakan oleh instansi terkait berupa kebun bibit yang selanjutnya dapat disediakan oleh petani sendiri.

Teknik konservasi yang dipilih harus mempertimbangkan kelerengan, jenis tanah, iklim/curah hujan, kedalaman tanah, pola  usaha tani, dan ternak. Sedangkan kondisi sosial ekonomi berupa  kebiasaan cara bercocok tanam, kepemilikan hewan ternak, cara  penggembalaan, beban keluarga, status lahan yang digarap, tingkat  pendidikan petani, dan lain sebagainya, akan berpengaruh terhadap  respon petani terhadap materi penyuluhan serta keberhasilan implementasi teknik konservasi tersebut. Teknik konservasi tanah yang mempunyai efektivitas sedang akan lebih baik jika benar-benar  dilaksanakan dengan benar oleh petani, daripada teknik konservasi dengan efektivitas tinggi tapi pada akhirnya tidak disukai oleh petani.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurachman, A., dan S. Sutono. 2002. Teknologi pengendalian erosi  lahan berlereng. hlm.103-145 dalam Teknologi Pengelolaan Lahan  Kering: Menuju Pertanian Produktif dan Ramah Lingkungan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Badan  Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian.

Abdurachman A., Sutono, dan I. Juarsah. 1997. Pengkayaan bahan  organik tanah dalam upaya pelestarian usaha tani lahan kering di  DAS bagian hulu.hlm. 89-105 dalam Prosiding Pertemuan  Pembahasan dan Komunikasi Hasil Penelitian Tanah dan  Agroklimat. Makalah Review. Cisarua-Bogor, 4-6 Maret 1997. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.

Abdurachman, A., A. Barus, Undang Kurnia, dan Sudirman. 1985.  Peranan pola tanam dalam usaha pencegahan erosi pada lahan  pertanian tanaman semusim. Pembrit. Penel. Tanah dan Pupuk 4:41-46.

Abdurachman, A., S. Abujamin, dan Suwardjo. 1982. Beberapa cara  konservasi tanah pada areal pertanian rakyat. Disampaikan pada  Pertemuan Tahunan Perbaikan Rekomendasi Teknologi tgl. 13-15 April. Pusat Penelitian Tanah, Bogor (Tidak dipublikasikan).

Abujamin, S. 1978. Peranan rumput dalam usaha konservasi tanah. Seminar LP. Tanah, 8 Juli 1978 (Tidak dipublikasikan).

Abujamin, S., A. Adi, dan U. Kurnia. 1983. Strip rumput permanen sebagai salah satu cara konservasi tanah. Pembrit. Penel. Tanah dan Pupuk 1: 16-20.

Adiningsih, J.S. dan Mulyadi. 1992. Alternatif teknik rehabilitasi dan  pemanfaatan lahan alang-alang. hlm. 29-46 dalam Prosiding  Seminar Lahan Alang-alang: Pemanfaatan Lahan Alang-alang  untuk Usahatani Berkelanjutan. Bogor, 1 Desember 1992. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.

Agus, F., A.Ng. Ginting, dan M. van Noordwidjk. 2002. Pilihan Teknologi  Agroforestri/Konservasi Tanah untuk Areal Pertanian Berbasis Kopi  di Sumberjaya, Lampung Barat. International Centre for Research in Agroforestry, Bogor.

Agus, F., A. Abdurachman, A. Rachman, S.H. Tala’ohu, A Dariah, B.R.  Prawiradiputra, B. Hafif, dan S. Wiganda. 1999. Teknik Konservasi  Tanah dan Air. Sekretariat Tim Pengendali Bantuan Penghijauan dan Reboisasi Pusat. Jakarta.

Agus, F., A.Ng. Ginting, U. Kurnia, A. Abdurachman, and P. van der  Poel. 1998. Soil erosion research in Indonesia: Past experience and  future direction. pp. 255-267. In F.W.T. Penning de Vries, F. Agus,  and J. Kerr (Eds.). Soil Erosion at Multiple Scales: Principles and  Methods for Assessing Causes and Impacts. CAB International, Wallingford, UK.

Arsyad, S. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Penerbit IPB. Bogor.

Arsyad, S. 1976. Pengawetan Tanah dan Air. Departemen Ilmu-Ilmu Tanah Fakultas Pertanian IPB. Bogor.

Dariah, A., S. Damanik, S.H. Tala’ohu, D. Erfandi, A. Rachman, dan N.L.Nurida. 1998. Studi teknik konservasi tanah pada lahan pertanaman akar wangi di Kecamatan Semarang, Kabupaten Garut. hlm. 185-197 dalam Prosiding Lokakarya Nasional Pembahasan Hasil Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai: Alternatif dan Pendekatan Implementasi Teknologi Konservasi Tanah. Bogor, 27-28 Oktober 1998. Sekretariat Tim Pengendali Bantuan Penghijauan dan Reboisasi Pusat. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Bogor.

Erfandi, D., H. Suwardjo, dan O. Sopandi. 1994. Alternatif teknologi  penanggulangan lahan kritis akibat perladangan berpindah di  Propinsi Jambi. hlm. 1-10 dalam Risalah Hasil Penelitian  Peningkatan Produktivitas dan Konservasi Tanah untuk Mengatasi  Masalah Perladangan Berpindah. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.

Erfandi, D., Ai Dariah, dan H. Suwardjo. 1989. Pengaruh Alley cropping  terhadap erosi dan produktivitas tanah Haplothrox Citayam. hlm.  53-62 dalam Prosiding Pertemuan Teknis Penelitian Tanah Bidang  Konservasi Tanah dan Air. Bogor, 22-24 Agustus 1989. Pusat  Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.

FAO. 1976. Soil Conservation for Development Countries. Soil Bulletin No. 30.

Foth, H.D. 1995. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Haryati, U., Achmad Rachman, dan A. Abdurachman. 1990. Aplikasi  mulsa dan pupuk hijau Sonosiso untuk pertanaman jagung pada  tanah Usthorthents di Gondanglegi. hlm. 1-8 dalam Risalah  Pembahasan Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan  Konservasi Tanah. Tugu-Bogor, 11-13 Januari 1990. Proyek   Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah dan Air (P3HTA), Salatiga, Departemen Pertanian.

Haryati, U., Haryono, dan A. Abdurachman. 1995. Pengendalian erosi dan aliran permukaan serta produksi tanaman dengan berbagai  teknik konservasi pada tanah Typic Eutropepts di Ungaran, Jawa Tengah. Pembrit. Penel. Tanah dan Pupuk 13: 40-50.

Irawan. 2002. Investment analysis of Alley cropping for sustainable  farming of sloping lands. p. 51-62. In Proceedings Management of  Sloping Lands for Sustainable Agriculture Final Report of Asialand Sloping. Land Project, Phase 4.

Killham, K. 1994. Soil Ecology. Cambridge University Press.

Kurnia, U., Ai Dariah, Suwarto, dan K. Subagyono. 1997. Degradasi  lahan dan konservasi tanah di Indonesia: Kendala dan  pemecahannya. hlm. 27-45 dalam Prosiding Pertemuan  Pembahasan dan Komunikasi Hasil Penelitian Tanah dan  Agroklimat: Makalah Review. Cisarua-Bogor, 4-6 Maret 1997. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.

Kurnia, U., N. Sinukaban, F.G. Suratmo, H. Pawitan, dan H. Suwardjo,  1997. Pengaruh teknik rehabilitasi lahan terhadap produktivitas tanah dan kehilangan hara. Jurnal Tanah dan Iklim 15: 10-18.

Kurnia, U., Sudirman, dan H. Kusnadi. 2002. Teknologi rehabilitasi dan  reklamasi lahan kering. hlm. 147-181 dalam Teknologi Pengelolaan  Lahan Kering Menuju Pertanian Produktif dan Ramah Lingkungan.  Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat,  Bogor.

Lal, R. 1978. Influence of tillage methods and residue mulches on soil  structure and infiltration rate. p. 393-402. In Emerson, W.W., R.D. Bond, and A.R. Dexter (Eds.) Modification of Soil Structure. John Willey & Sons. Chichester, New York, Brisbane, Toronto.

P3HTA. 1988. Laporan Tahunan 1986/1987. UACP-FSR. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian.

P3HTA. 1987. Penelitian Terapan Pertanian Lahan Kering dan Konservasi.  hlm. 6. UACP-FSR. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian.

Priyono, N.S. dan Siswamartana S. 2002. Hutan Pinus dan Hasil Air. Pusat  Pengembangan Sumber Daya Hutan Perhutani, Cepu.  Puslittanak. 1991. Laporan Tahunan 1988/1989. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.

Rachman, A., A. Abdurachman, Umi Haryati, dan Soleh Sukmana. 1990.  Hasil hijauan legum, panen tanaman pangan dan pembentukan  teras dalam istem pertanaman lorong. hlm. 19-25 dalam Risalah  Pembahasan Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan  Konservasi Tanah. Tugu-Bogor, 11-13 Januari 1990. Proyek  Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah dan Air (P3HTA), Salatiga. Departemen Pertanian.

Rachman, A., H. Suwardjo, R.L. Watung, dan H. Sembiring. 1989. Efisiensi  teras bangku dan teras gulud dalam pengendalian erosi. hlm. 11 –  17 dalam Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Pertanian Lahan  Kering dan Konservasi Tanah di Daerah Aliran Sungai. Batu-  Malang, 1-3 Maret 1989. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah dan Air (P3HTA), Salatiga. Departemen Pertanian.

Sekretariat Tim Pengendali Bantuan Penghijauan dan Reboisasi Pusat.  2000. Kelompok Kerja Penelitian dan Pengembangan Teknologi  Sistem Usaha Tani Konservasi. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.

Subagyono, K., T. Vadari, Sukristiyonubowo, R.L. Watung, and F. Agus.  2004. Land Management for Controlling Soil Erosion at Micro catchment Scale in Indonesia. p. 39-81. In Maglinao, A.R. and C.  Valentin (Eds.) Community-Based Land and Water Management  Systems for Sustainable Upland Development in Asia: MSEC Phase  2. 2003 Annual Report. International Water management Institute (IWMI). Southeast Asia Regional Office. Bangkok. Thailand.

Suhardjo, M., A. Abas Idjudin, dan Maswar. 1997. Evaluasi beberapa  macam strip rumput dalam usaha pengendalian erosi pada  lahan kering berteras di lereng perbukitan kritis D.I. Yogyakarta.  hlm. 143-150 dalam Prosiding Seminar Rekayasa Teknologi Sistem Usahatani Konservasi. Bagian Proyek Penelitian Terapan Sistem  DAS Kawasan Perbukitan Kritis Yogyakarta (YUADP Komponen-8). Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Sukmana, S., H. Suwardjo, A. Abdurachman, and J. Dai. 1985. Prospect of Flemingia congesta Roxb. for reclamation and conservation of volcanic skeletal soils. Pembrit. Penel. Tanah dan Pupuk 4:50-54

Suwardjo, A. Abdurachman, and Sofijah Abujamin. 1989. The use of  crop residue mulch to minimize tillage frequency. Pembrit. Penel. Tanah dan Pupuk. 8: 31-37

Suwardjo, H., Z. Kadir, dan A. Abdurachman. 1987. Pengaruh cara  pemanfaatan sisa tanaman terhdap kadar bahan organik dan  erosi pada tanah Podsolik Merah Kuning di Lampung. hlm. 409-424  dalam Prosiding Pertemuan Teknis Penelitian Tanah. Cipayung, 21- 23 Februari 1984. Pusat Penelitian Tanah, Bogor.

Suwardjo. 1981. Peranan Sisa-Sisa Tanaman dalam Konservasi Tanah  dan Air pada Usahatani Tanaman Semusim. Disertasi FPS IPB. Bogor.

Thomson, L.M. 1957. Soil and Soil Fertility. Mc Graw-Hill Book Company Inc. New York.

Troeh, F.R., J.A. Hobbs, and R.L. Donahue. 1980. Soil and Water  Conservation for Productivity and Environmental Protection. Prentice-Hall, Inc., Englewood Cliffs, New Jersey. USA.

Watung, R.L., T. Vadari, Sukristiyonubowo, Subiharta, and F. Agus. 2003.  Managing Soil Erosion in Kaligarang Catchment of Java,  Indonesia. Phase 1 Project Completion Report. International Water  management Institute (IWMI). Southeast Asia Regional Office. Bangkok. Thailand (Unpublished).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s