Icraf

Agroforestri

Download file: BK0034-04-5  

Pengertian

Dalam bahasa Indonesia Agroforestry lebih dikenal dengan istilah AGROFORESTRI atau WANATANI. Dalam pengertian sederhana agroforestri adalah membudidayakan pepohonan pada lahan pertanian. Akhir-akhir ini de Foresta dkk (1997), mengelompokkan agroforestri ini menjadi 2: (1) sistem agroforestri sederhana dan (2) sistem agroforestri kompleks.

1. Sistem agroforestri sederhana. Perpaduan satu jenis tanaman tahunan dan satu atau beberapa jenis tanaman semusim. Jenis pohon yang ditanam bisa bernilai ekonomi tinggi seperti kelapa, karet, cengkeh, jati, dll.; atau bernilai ekonomi rendah seperti dadap, lamtoro, kaliandra. Tanaman semusim biasanya padi, jagung, palawija, sayur-mayur, rerumputan dll; atau jenis tanaman lain seperti pisang, kopi, coklat. Contoh: budidaya pagar (alley cropping) lamtoro dengan padi atau jagung, pohon kelapa ditanam pada pematang mengelilingi sawah dsb.

2. Sistem agroforestri kompleks. Suatu sistem pertanian menetap yang berisi banyak jenis tanaman (berbasis pohon) yang ditanam dan dirawat oleh penduduk setempat, dengan pola tanam dan ekosistem menyerupai dengan yang dijumpai di hutan. Sistem ini mencakup sejumlah besar komponen pepohonan, perdu, tanaman musiman dan atau rumput. Penampakan fisik dan dinamika di dalamnya mirip dengan ekosistem hutan alam baik primer maupun sekunder. Sistim agroforestri kompleks ini dibedakan atas (a) pekarangan berbasis pepohonan dan (b) agroforest kompleks.

a. Pekarangan, biasanya terletak di sekitar tempat tinggal dan luasnya hanya sekitar 0.1 – 0.3 ha; dengan demikian sistem ini lebih mudah dibedakan dengan hutan. Contoh: kebun talun, karang kitri dsb.

b. Agroforest kompleks, merupakan hutan masif yang merupakan mosaic (gabungan) dari beberapa kebun berukuran 1-2 ha milik perorangan atau berkelompok, letaknya jauh dari tempat tinggal bahkan terletak pada perbatasan desa, dan biasanya tidak dikelola secara intensif. Contoh: agroforest (atau kebun) karet, agroforest (atau kebun) damar dsb.

Pemilihan jenis tanaman yang akan ditanam pada padang alang-alang,  seperti halnya untuk lahan yang lain juga didasarkan pada beberapa pertimbangan:

  • Kondisi iklim dan tanah setempat
  • Kebutuhan untuk pasar dan untuk keperluan sendiri (subsisten)
  • Sistem penguasaan (pemilikan) lahan
  • Ketersediaan tenaga (tenaga kerja, hewan, traktor)
  • Ketersediaan kredit untuk modal, pupuk, bahan tanam, dan masukan lainnya
  • Pelayanan penyuluhan

Untuk memecahkan masalah padang alang-alang petani harus mampu  menghasilkan produksi tanaman itu melalui sistem usaha-taninya. Bab ini menguraikan tentang agroforestri, cara-cara dan kegunaannya:

Bab ini disusun sedemikian rupa sehingga metode-metode dasar diuraikan di bagian awal dan sistem yang lebih rumit yang menggunakan metode dasar tadi disajikan di bagian akhir.

Kebanyakan petani kecil mempunyai jumlah tenaga kerja sedikit dan terbatas modalnya untuk ditanamkan pada tanaman semusim. Alokasi sumber daya dan dana tersebut semakin minim untuk keperluan konservasi, pengendalian kebakaran, dan penanaman pepohonan. Sebagai tambahan informasi, para petani mungkin memiliki pertimbangan budaya dan manfaat yang bisa mengarahkan pilihan atau keputusan mereka.

Untuk diingat:

  • Agar MEMILIH CARA DAN SISTEM YANG TEPAT. Direkomendasikan cara-cara yang dapat diterima oleh petani dan yang memberi manfaat terbesar dengan kerugian paling kecil.
  • Sekali cara itu dipilih, harus DITERAPKAN DENGAN BENAR :  Dipilih bibit atau benih yang berkualitas tinggi, lahan dipersiapkan dengan baik, diberi pupuk sesuai kebutuhan, dan dilakukan  pengendalian gulma. Apabila hal-hal tersebut kurang diperhatikan,  maka alang-alang akan segera tumbuh dan mengambil alih populasi tanaman yang ada.
  • KEBAKARAN SUPAYA DICEGAH dan sekat bakar dipelihara agar  api tidak membakar alang-alang, tanaman tahunan dan semusim.

1 Pengendalian Erosi Tanah dengan Penanaman Searah Garis Kontur

Penebasan / pembabatan alang-alang dan menggantikannya dengan penggunaan lahan lain menyebabkan permukaan tanah terbuka. Hal ini bisa mengakibatkan terjadinya erosi sehingga hasilnya menjadi lebih buruk. Penanaman tanaman penghalang atau sekat vegetatif sebagai penguat teras sepanjang garis kontur dapat mengendalikan erosi dan menyediakan bahan organik serta nitrogen bagi tanaman tertentu.

Tanaman penghalang ini sangat bermanfaat bagi rehabilitasi padang alang-alang.

Pengendalian aliran air dari bagian atas lahan adalah sangat penting. Bilamana lahan di bagian atas dikuasai oleh orang lain, mereka perlu didorong untuk melaksanakan konservasi tanah. Untuk mengendalikan aliran air dari bagian atas ini diperlukan bangunan-bangunan pengendali seperti dam, penahan tanah, saluran pembagi dan sebagainya. Jika lahan yang dimiliki cukup luas, maka sebaiknya di bagian atas lahannya ditanami dengan pepohonan yang agak rapat.

1.1 Membuat kontur

Kontur adalah garis mendatar yang memotong lereng dan menghubungkan titik-titik yang mempunyai ketinggian sama. Garis kontur bisa berkelok-kelok  tetapi tetap mendatar dan tidak pernah naik atau turun lereng.

Tanaman penguat teras  (misalnya strip rumput) ditanam searah kontur ditujukan untuk  mengendalikan erosi. Air mengalir ke bagian yang lebih  rendah sambil mengangkut tanah. Ketika aliran mendekati  sekat kecepatannya menurun sehingga partikel-partikel tanah  diendapkan dan lebih banyak air  yang masuk ke dalam tanah.  Garis kontur pada lereng tidak beraturan  Garis lurus mengarah ke parit bukan garis kontur

Petani-petani perlu dilatih untuk menentukan garis kontur ini secara  akurat. Apabila penentuan kontur ini dilakukan hanya dengan pandangan  mata saja, maka seringkali garis yang dibuat naik-turun mengikuti  kemiringan yang tidak teratur. Akibatnya, apabila ada aliran air, maka  arahnya akan mengikuti garis tersebut sehingga lebih banyak tanah yang tererosi dibandingkan tanpa adanya penghalang.

Macam-macam sekat kontur meliputi timbunan sisa tanaman, lajur rumput  dan pagar pepohonan. Tanaman semusim ditanam diantara barisan sekat  kontur. Pengolahan tanah juga harus disesuaikan dengan kontur. Walaupun  telah ada sekat kontur, bilamana kelerengan melebihi 60 % seharusnya tanah tidak ditanamai.

Secara  berangsur teras  dibuat diantara  sekat kontur ini.  Teras yang  terbentuk ini  akan lebih datar  dibandingkan  dengan aslinya  sehingga erosi dapat berkurang.

Menentukan kontur dengan Bingkai-A (ondol-ondol)

Membuat Bingkai-A (ondol-ondol)

  • Sediakan tiga batang kayu atau bambu  dengan diameter sekitar 4 cm dan  panjangnya 2 m (2 batang) dan 1 m (1 batang).
  • Guratlah dengan pisau salah satu ujung dari batang yang panjang dan  ikatlah satu sama lain dengan tali  sehingga kedua batang ini membentuk  kaki-kaki segitiga sama-sisi.
  • Ambil kayu yang pendek dan ikatlah  kedua ujungnya pada pertengahan kaki, sehingga terbentuk huruf A.
  • Ikatkan seutas tali (sekitar 1 m) pada  puncak bingkai-A dan ujung bawahnya  diberi pemberat (misalnya batu),  sehingga posisi pemberat ini lebih  kurang 20 cm di bawah kayu penyangga  (kayu yang melintang). Pemberat ini  harus cukup berat sehingga tidak mudah bergoyang karena tiupan angin.

Kalibrasi Bingkai-A

  • Letakkan bingkai-A pada lahan yang betulbetul datar. Pastikan bahwa kaki-kaki kerangka ini sudah menyentuh tanah dan tanamkan ajir, beri nama masing-masing kaki A dan kaki B.
  • Tandailah dengan spidol atau cat pada kayu yang melintang di mana terjadi titik potong dengan tali (tanda 1).
  • Putarlah bingkai-A seratus delapan puluh derajat, sehingga kaki A berada di posisi B dan kaki B berada pada posisi A.
  • Kemudian tandailah titik potong antara kayu melintang dengan tali (tanda 2). Apabila kedua titik berimpit, maka titik tersebut adalah titik tengah. Apabila keduanya tidak berimpit, maka bagilah dua jarak antara keduanya dan itulah
    titik tengahnya.
  • Periksalah kembali titik tengah ini dengan  memindahkan posisi bingkai-A pada lokasi yang lain dan lakukan langkah-langkah seperti sebelumnya. Apabila tali itu memotong kayu
    melintang pada titik yang sudah ditandai, maka titik tengah ini menunjukkan bahwa posisi kerangka A sudah datar.

Menandai Garis Kontur

Pekerjaan ini lebih mudah dilakukan oleh dua orang bersama-sama: seorang memegang bingkai-A dan lainnya memberi tanda titik-titik yang sama tingginya.

  • Tebas atau gilaslah alang-alang yang  tinggi untuk memudahkan pekerjaan di lapangan
  • Tancapkan sebuah ajir pada titik pertama  sebagai titik kontur yang tertinggi pada  lahan tersebut.
  • Letakkan kaki A pada ajir pertama ini dan putarlah bingkai-A sedemikian  sehingga kaki B menemukan suatu titik tumpuan di mana tali pemberat tepat  memotong pada titik tengah. Kedua kaki ini sudah mendatar dan masing-masing  kaki bertumpu pada titik yang sama ketinggiannya. Pasanglah ajir pada tumpuan kaki B.
  • Pertahankan kaki B pada posisi ini, kemudian putarlah kaki A seratus delapan  puluh serajat dan carilah tumpuan di mana tali pemberat memotong kayu  melintang pada titik tengahnya. Pasanglah kembali ajir pada tumpuan kaki A sehingga diperoleh tiga titik kontur.
  • Teruskan prosedur 3 dan 4 sehingga kontur bisa ditarik pada seluruh lahan.
  • Apabila ada kemiringan yang ekstrem sehingga satu pengukuran terjadi penyimpangan, maka perlu ada penyesuaian.

Cara baru untuk membuat garis kontur: “metode punggung sapi”

Cara lain untuk mendapatkan kontur adalah dengan  mengikuti langkah pembajakan oleh sapi atau kerbau, maka  metode ini disebut “metode punggung sapi” Cara ini jauh  lebih cepat dibandingkan dengan menggunakan bingkai-A,  terutama apabila pembajakan pada suatu garis dilakukan secara berulang-ulang.

  1. Tariklah garis kontur pertama pada posisi di tengah petak lahan dengan menggunakan bingkai-A
  2.  Mulailah membajak tanah dengan mengikuti kontur yang sudah ditarik tadi sebagai garis kontur kedua
  3. Perhatikan hubungan antara kepala sapi dengan tulang ekor atau ekornya. Apabila kepalanya lebih tinggi daripada pantatnya, maka jalan yang ditempuh sapi ini naik sehingga arahnya harus diturunkan sedikit.
  4. Apabila tulang ekor sapi ini lebih tinggi dari kepalanya, maka lajur yang ditempuh sapi ini menurun, sehingga  harus dinaikkan sedikit.
  5. Berhentilah sesudah mencapai 50 m dan periksalah lajur yang sudah  dilewati. Bandingkan dengan menggunakan bingkai-A. Apabila pada  akhir lajur ada perbedaan kurang dari 1 m, maka garis yang ditarik  dengan mengikuti lajur bajak ini memiliki kesalahan kurang dari 2 % dan ini masih bisa diterima.

Dengan berlatih  sebentar, metode ini  dapat dijalankan secara  lebih akurat dan jauh  lebih cepat  dibandingkan dengan  menggunakan bingkai-A.

Jarak antara kontur permanen

Jarak vertikal antar sekat vegetatif sebesar 2 – 3 m dapat mengurangi erosi secara efektif. Sekat kontur berjarak vertikal 2 m akan mencapai lebar 10 m pada kelerengan 20 %. Petani  pada umumnya menyukai lebar lajur paling sedikit 8 m untuk memudahkan pekerjaan.

Sekat vegetatif dengan jarak vertikal 4 m, 8 m, atau lebih dapat menekan  erosi sangat besar. Apabila petani ragu-ragu untuk menerima sekat kontur  semacam ini sebaiknya disarankan agar yang bersangkutan mau mencoba  membuat satu sekat saja di lahannya, atau paling tidak 3 sekat agar dapat  membagi lahannya menjadi empat bagian. Petani dapat menambahkan  sekat kontur pada waktu mendatang apabila mereka merasa puas dengan hasilnya.

1.2 Lajur vegetatif alami (NVS – natural vegetative strip)

Apabila padang alang-alang diolah untuk  ditanami tanaman semusim, cara paling mudah  untuk mengendalikan erosi adalah dengan  membiarkan satu lajur (strip) alang-alang selebar  antara 0,5 – 1 m untuk tidak diolah. Dalam lajur  vegetasi alami ini berkembang jenis-jenis rumput  lokal dan gulma dengan cepatnya. Mereka akan  membentuk semacam tanaman pagar yang stabil dengan bibir teras alami. Membangun lajur vegetatif alami semacam ini tidak sulit.

Jika garis kontur sudah ditentukan, maka tidak perlu lagi mengadakan investasi bahan tanam dan tenaga kerja. Mereka akan menjadi pengendali erosi yang sangat efektif dan tidak memerlukan pemeliharaan yang berarti. Pembuatan lajur vegetatif alami hanya perlu sedikit tanaga kerja dibandingkan dengan pembuatan sistem lajur tanaman searah kontur. Lajur vegetatif alami hanya sedikit sekali menghasilkan pakan dibanding sistem lajur tanaman lainnya, tetapi ini juga berarti bahwa tingkat kompetisi terhadap kebutuhan nutrisi dan air rendah. Praktek semacam ini sangat populer di bagian utara Pulau Mindanao (Filipina) dan akhir-akhir ini cepat sekali berkembang dan diadopsi oleh banyak petani di berbagai tempat
lainnya.

Lajur vegetatif alami atau sistem tanaman lajur lainnya menempati sebagian luasan lahan yang ada sehingga mengurangi luasan untuk tanaman utama. Pada awalnya produksi tanaman pokok memang berkurang karena pengurangan luasan ini. Namun demikian, produksi per luasan berangsur akan meningkat karena erosi yang lebih terkendali, peningkatan kemampuan menahan air dan peningkatan kesuburan tanah.

1.3 Lajur vegetatif yang disempurnakan

Berangsur-angsur, petani bisa menanam rumputrumputan, tanaman penutup tanah, tanaman semakperdu dan buah-buahan atau kayu-kayuan di atas lajur vegetatif alami. Tanaman ini akan menggantikan alang-alang. Tanaman-tanaman ini mampu menyaring air, menahan erosi tanah, menghasilkan pakan untuk ternak dan mulsa. Rumput-rumputan yang biasa ditanam adalah Pennisetum purpureum (rumput napier), Pannicum maximum (rumput guinea), dan Vetivera zizanoides (rumput vetiver).

Beberapa jenis rumput seperti napier, tumbuh cepat dan tinggi pada musim penghujan sehingga menaungi tanaman, bersaing dalam menyerap air dan unsur hara. Oleh karena itu penanaman harus didasarkan pada jumlah kebutuhan untuk pakan.

Karena lahan ini diolah (dibajak) searah kontur, maka sebagian tanah akan terangkut ke bawah dan terakumulasi dibagian atas lajur tanaman sehingga mulai membentuk teras. Pada batas lajur ini bisa ditanami pepohonan  sehingga akarnya menjadi semacam jangkar pada bibir teras. Peliharalah rumput-rumput yang ada di bagian bibir teras yang curam.

1.4 Tanaman pagar searah kontur dengan pemangkasan

Pagar yang berupa pepohonan atau perdu pengikat nitrogen (leguminosa) merupakan pilihan khusus untuk lajur vegetatif. Pepohonan dan semak-perdu ini perlu dipangkas untuk mengurangi persaingan dengan tanaman didekatnya, dalam hal cahaya, unsur hara dan air. Hasil pangkasan yang berupa daun dan ranting merupakan bahan pakan ternak atau bahan mulsa yang kaya nitrogen. Pagar pohon ini juga dapat berfungsi sebagai penghalang api (sekat bakar) bila terjadi kebakaran. Sistem ini juga populer dengan nama budidaya lorong (alley cropping) atau budidaya pagar (hedgerow intercropping).

Penanaman tanaman pagar searah garis kontur memerlukan tenaga kerja yang sangat banyak (bisa mencapai 80 orang hari kerja (HOK) per tanaman per hektar). Jika harga pupuk nitrogen murah sementara upah tenaga kerja mahal, maka penanaman pagar searah kontur lebih mahal dibandingkan penggunaan pupuk. Namun demikian, penggunaan mulsa yang berasal dari tanaman pagar dapat menekan gulma dan meningkatkan bahan organik tanah. Untuk jangka panjang, petani bisa menekan biaya tenaga kerja yang diperlukan untuk penyiangan dan pemberantasan gulma serta untuk penanaman.

Penanaman tanaman pagar searah kontur yang tidak terlalu intensif dapat diterapkan dengan jalan memilih jenis tanaman (spesies) secara cermat, menentukan dan mengatur tinggi pagar dan frekuensi pemangkasan. Pemilihan ini sangat tergantung dari sistem usaha tani yang diterapkan. Buku pedoman ini tidak hanya menyediakan satu metode saja, melainkan berusaha menawarkan beberapa pilihan sehingga dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan.

Pilihan jenis tanaman untuk pagar

Sebelum memberi rekomendasi sebaiknya dicoba dulu beberapa jenis tanaman untuk pagar secara terbatas. Dalam percobaan ini supaya diamati pertumbuhannya, pengaruh terhadap tanaman semusim dan kebutuhan tenaga kerja. Bila perlu dipilih beberapa jenis yang saling melengkapi, misalnya menanam satu baris Flemingia yang bisa menghasilkan banyak seresah untuk mulsa karena lambat melapuk, dan satu baris Leucaena yang menyediakan nitrogen sebagai pupuk hijau yang mudah dilapuk. Campuran tanaman dapat mengurangi serangan hama dan penyakit. Namun perlu diwaspadai agar jenis tanaman baru yang dimasukkan kelak tidak berubah menjadi gulma. Supaya diprioritaskan jenis lokal dan dihindari jenis-jenis yang menghasilkan biji sangat banyak.

 

Jarak tanam dalam garis kontur

Jarak tanam pepohonan dan semak didalam garis kontur sangat ditentukan oleh seberapa banyak bahan tanam dan tenaga kerja untuk pemangkasan tanaman yang tersedia. Bila jarak tanam antar pohon tidak terlalu rapat, maka hasil pangkasan harus disebarkan diantara pohon dalam barisan pagar untuk mengendalikan erosi.

Strategi pengembangan: Tanaman pagar searah kontur pada padang alang-alang

  1. Melindungi wilayah dari kebakaran.
  2. Dibuat tanda sepanjang garis kontur dan dibersihkan selebar 0,5 sampai 1 m.
  3. Sepanjang garis kontur ini ditanami pepohonan atau jenis perdu.
  4. Dilakukan penggilasan  alang-alang pada bidang olah teras atau lorong secara berselang-seling (berselang satu).
    Alang-alang akan menjadi penyaring air dan mengurangi erosi sampai tanaman pagar berkembang dan berfungsi.
  5. Bidang olah (teras)  yang lain ditanami  dengan tanaman semusim. Tanaman  permanen (pepohonan)  bisa juga ditanam pada  setiap teras kedua atau ketiga.
  6. Jika tanaman pagar ini sudah cukup berkembang (umur 1 tahun atau tingginya antara 1,5 – 2,0 m), maka perlu dipangkas sampai tingginya tinggal 40 cm atau setinggi lutut.
    Gilas dan tanam secara berselang-seling Pangkas pagar untuk mulsa pada teras
  7. Hasil pangkasan ini disebarkan di permukaan bidang olah sebagai mulsa.
  8. Setelah daun-daun dan  ranting-ranting kecil  kering dan terpisah,  maka cabang atau batang  yang lebih besar  sebaiknya disebarkan  merata dekat pangkal  batang disepanjang pagar.
  9. Bidang olah yang terbuka dapat diolah dan ditanami dengan tanaman semusim.

Strategi pengembangan: penanaman tanaman pagar searah kontur dengan tanaman semusim

Seringkali dirasakan lebih mudah bagi petani untuk mengolah seluruh lahannya kemudian menanaminya dengan tanaman pagar bersama-sama dengan tanaman semusim. Kerugian cara ini adalah bahwa pada saat   lahan diolah dan terbuka, tidak ada yang melindungi permukaannya dari erosi, sehingga biji tanaman pagar yang ditanam mungkin dapat hanyut bersama limpasan permukaan. Untuk menekan jumlah tenaga kerja dalam menanam tanaman pagar, maka petani bisa memulai membuat pagar dengan jalan meninggalkan lajur vegetatif alami yang masih ada. Pada lajur ini nantinya ditanami pepohonan yang akan menjadi pagar.

Kapan tanaman pagar harus dipangkas

Tanaman pagar harus sudah dipangkas setelah mencapai umur satu tahun atau tingginya sudah mencapai 1,5 m sampai 2 m. Pada saat ini perakarannya sudah cukup berkembang dan kuat.

Pemangkasan bisa diulangi jika tanaman semusim memerlukan lebih banyak cahaya atau apabila tanaman pagar sudah mulai bersaing dalam hal Tumpukan pangkasan batang air dan unsur hara. Pemangkasan cabang akan menyebabkan matinya sebagian akar, sehingga pemangkasan mengurangi persaingan akan cahaya dan perakaran sekaligus. Sebaiknya tanaman pagar dipangkas sebelum tanaman semusim mengalami tekanan. Contoh pada tanaman jagung : sebaiknya tanaman pagar dipangkas pada saat penanaman, kemudian pemangkasan kedua setelah tanaman pagar mencapai ketinggian 1 m atau setelah 30 – 45 hari. Pemangkasan ketiga mungkin tidak perlu dilakukan apabila tanaman jagung sudah cukup tinggi.

Ketinggian tanaman pagar sebelum pemangkasan

1.5 Budidaya pagar bergilir: untuk sistem bera bergilir

Lahan yang telah ditanamai tanaman pagar searah garis kontur mungkin bisa diberakan dengan tujuan untuk memulihkan kesuburan tanahnya. Pada saat tidak ditanami tanaman semusim (bera), tanaman pagar dibiarkan tumbuh sampai mencapai tinggi penuh (maksimum) dan merupakan upaya untuk mendapatkan sistem bera yang disempurnakan (Bab 4.2).

Setelah dua sampai tiga tahun, tanaman pagar dapat dipangkas sehingga bidang olah dapat ditanami tanaman semusim kembali.

Perbandingan sistem ini dengan tanaman pagar searah kontur yang biasa:

  • Memungkinkan tanaman pagar tumbuh sampai mencapai ketinggian 2 m atau lebih
  • Memungkinkan tanaman pagar dipangkas sampai tingginya tinggal 10 – 20 cm pada permulaan waktu tanam untuk menurunkan tingkat kompetisinya terhadap tanaman semusim. Hal ini bisa dicapai dengan penjarangan waktu pemangkasan.
  • Umumnya tidak diperlukan tenaga kerja yang banyak selama musim tanam.
  • Dapat menggunakan jarak tanam agak jarang dalam barisan, karena jumlah pepohonan akan berkurang dengan sendirinya pada periode bera. Pohon kecil yang kurang bagus pertumbuhannya akan mati karena tidak akan mampu bersaing dengan pohon besar.
  • Bisa mengurangi gulma dan meningkatkan kesuburan tanah.
  • Menghasilkan mulsa, pakan dan kayu bakar dalam jumlah cukup banyak.

Pilihan Jenis Tanaman

2 Bera yang Disempurnakan

Bera arti harfiahnya adalah tanah “kosong” yang terlantar dan tidak diusahakan. Ruthenberg (1976) mendefinisikan bera (Fallow) adalah tanah “kosong” yang tidak ditanami untuk sementara waktu, tetapi sebelumnya telah ditanami selama beberapa tahun dan akan ditanami kembali di waktu mendatang. Bera ini dilakukan oleh petani kerana alasan rendahnya produksi tanaman per satuan tenaga kerja. Pada masa bera ini lahan ditumbuhi tumbuhan liar yang ditujukan untuk perbaikan kesuburan tanah baik fisik, kimia maupun biologi melalui penambahan bahan organik. Waktu yang dibutuhkan untuk perbaikan  kesuburan tanah ini bervariasi dari 5-10 tahun. Mengingat ketersediaan lahan  pertanian yang sangat terbatas, maka perlu dicari pola bera dengan waktu yang lebih singkat dan memberikan pendapatan sampingan bagi petani (misalnya pakan ternak, kayu bakar, obat-obatan, latex, resin, madu dan sebagainya).  Sistem pemberaan lahan yang ditujukan untuk perbaikan lahan secara ekologi dan ekonomi selanjutnya dinamakan “bera yang terawat” atau “bera yang disempurnakan” (Improved fallow).

Alang-alang sering mendominasi tanah yang ditelantarkan sebagai tumbuhan masa bera. Jika tidak pernah terjadi kebakaran, lahan akan ditumbuhi oleh semak belukar dan pepohonan (Bab 5). Pada saat terjadi kebakaran, padang alangalang sering menjadi sumber bencana kebakaran bagi kawasan di sekitarnya, sehingga selama bera tidak terjadi perbaikan kesuburan tanah. Bera yang terawat dengan menggunakan jenis tumbuhan selain alang-alang diharapkan memiliki kriteria sebagai berikut:

  • Memperbaiki kesuburan tanah melalui penambahan bahan organik dan peningkatan ketersediaan nitrogen dan fosfor. Jenis tumbuhan bera sebaiknya mampu menambat nitrogen (famili leguminosa) atau bisa menghasilkan banyak daun/seresah yang mudah terdekomposisi.
  • Melindungi tanah dari bahaya erosi.
  • Tumbuh cukup cepat sehingga mampu bersaing dengan gulma termasuk alang-alang dengan cara menaungi sehingga gulma tersebut akan mati.
  • Dapat dengan mudah dihilangkan/tidak berpotensi menjadi gulma bagi tanaman berikutnya.
  • Menghasilkan kayu, pakan ternak dan hasil yang bernilai ekonomis lainnya.

2.1 Membangun bera yang disempurnakan

Supaya lahan bera tidak ditumbuhi alang-alang kembali, diperlukan tenaga dan pengelolaan ekstra bagi petani untuk membuat bera yang lebih terawat. Mereka harus  bekerja keras untuk  merubah padang alangalang  menjadi bentuk  bera yang terawat, tetapi  perlu disadari bahwa  lahan tersebut tidak akan  memberikan manfaat  bagi mereka selama satu  atau beberapa tahun.  Beberapa pilihan dalam  bera yang terawat  diantaranya adalah  penerapan ‘budidaya  pagar bergilir’ (sub  Bab 4.1.5), penanaman  tanaman penutup tanah  famili kacang-kacangan  (sub Bab 4.3.1),  penanaman pohon  penghasil kayu bakar  dan kayu bangunan (sub Bab 4.7).

Pengusahaan lahan bera yang terawat ini akan jauh lebih mudah, jika dilakukan segera setelah tanaman pangan dipanen. Kombinasi dari beberapa pendekatan berikut ini mungkin dapat dipilih sebagai model bera yang terawat:

Mempertahankan pepohonan dan semak yang diinginkan di lahan. Sementara melakukan pekerjaan mengolah tanah, menanam, menyiangi dan memanen hasil, sebaiknya pada saat itu juga menanam pepohonan dan menjaga tidak merusak pepohonan yang telah ada. Lihat sub Bab 4.8. tentang Agroforestri multistrata, dan Bab 5 tentang Pemeliharaan Permudaan Alam atau Pemeliharaan Regenerasi Alam.

Budidaya pagar bergilir (tanaman pagar searah kontur). Tanaman pagar searah kontur dibiarkan tumbuh sehingga menaungi lorong (sub Bab4.1.5). Jika jarak antar pagar tanaman cukup lebar, ataupun jenis tanaman pagar berupa semak yang rendah, maka dalam barisan tersebut dapat ditanam jenis semak atau pohon lain sedemikian rupa untuk mendekatkan tajuk antar pagar tanaman. Ketika masa bera berakhir dengan ditebangnya pepohonan maka perlu diusahakan agar tanaman kontur tetap berada pada tempatnya yang berfungsi sebagai pengendali erosi. Produktivitas lahan akan meningkat jika dibandingkan dengan pemberaan yang menggunakan alang-alang.

Sistem ini bisa diterapkan oleh petani dimana praktek tebas bakar padang alang-alang sering dilakukan secara terkendali. Pohon-pohon pagar menghadapi resiko bahaya kebakaran selama masa bera. Para petani yang mengolah tanah secara manual dan tidak punya akses terhadap pupuk, akan membuktikan bahwa sistem ini memerlukan lebih sedikit tenaga kerja manusia pada saat pembukaan lahan alang-alang. Namun diperlukan tenaga kerja yang cukup banyak untuk memangkas biomasa pohon sebelum musim tanam. Sistem bera dengan tanaman pagar ini kurang menarik bagi para petani yang menggunakan tenaga kerja ternak. Mereka kurang suka mengalokasikan tenaganya untuk pemangkasan tanaman pagar karena umumnya produktifitas tenaga kerja untuk penyiapan lahan lebih tinggi.

Spesies gulma tertentu yang lebih disukai dibandingkan alangalang. Para petani di banyak negara di Asia Tenggara lebih menyukai bera dengan tumbuhan krinyu (Chromolaena odorata) dibandingkan dengan alang-alang, karena akan memperkaya tanah dan pengelolaan sesudah bera lebih mudah (karena krinyu tidak memiliki akar rimpang). Penyemprotan alang-alang dengan herbisida glyphosate sebelum tanam mungkin merangsang tumbuhnya krinyu sebagai spesies baru selama bera. Pada masa bera yang dimulai sesudah musim tanam, tumbuhnya krinyu cenderung lebih disukai jika dibandingkan dengan alang-alang. Baik krinyu maupun kerabatnya Austroeupatorium inufolium, mungkin bisa menjadi gulma yang bermasalah. Keduanya bukan merupakan pakan yang disukai ternak (palatable), dan juga tidak dapat digunakan sebagai bahan atap. Spesies-spesies ini seharusnya tidak disebarkan ke daerah lainnya, tetapi jika sudah ada di daerah tersebut dapat dikelola sebagai bera yang efektif.

Penanaman biji atau bibit pohon atau semak pada masa bera segera setelah masa tanam. Spesies yang umumnya dianjurkan adalah turi (Sesbania grandiflora), orok-orok (Crotalaria juncea), Flemingia congesta, gamal (Gliricidia sepium), laban (Vitex pubescens), anggrung (Trema orientalis) dan lamtoro gung (Leucaena leucocephala). Hendaknya dipertimbangkan adanya spesies lokal asli yang diketahui mampu menghasilkan cukup seresah atau yang bisa tumbuh didalam hutan sekunder.

Waktu untuk menanam spesies bera

2.2 Berakhirnya masa bera

Waktu. Terkendalinya gulma, hama dan penyakit tanaman dari lahan  merupakan faktor kritis yang menentukan lamanya masa bera. Jika masa  bera diperkirakan akan singkat, maka lahan bera perlu dikelola dengan  hati-hati. Pohon-pohon yang mati dan celah-celah dimana alang-alang  dapat tumbuh kembali supaya lebih diperhatikan, dan bila perlu disulam dengan vegetasi bera.

Lama masa bera

Pembukaan lahan dan hara. Para petani sering melakukan pembakaran jika vegetasi bera terlalu rapat, tetapi pembakaran akan mengurangi bahan organik dan nitrogen yang kembali ke tanah. Jika vegetasi akan dipanen atau dibakar, maka kayunya saja yang diangkut atau dibakar sedangkan daun dan ranting yang kaya hara tersebut harus ditinggalkan sebagai seresah. Jika kayu dibakar, abunya supaya disebarkan merata. Selama pembakaran agar dijaga supaya terjadi pembakaran yang sempurna dan tidak ada percikan api yang melompat ke tempat lain serta tidak ada bara api yang tertinggal.

Pengendalian erosi. Cabang-cabang hasil pangkasan supaya ditumpuk disepanjang kontur di lahan yang baru tersebut.

3 Tanaman Kacang-kacangan Penutup Tanah

Penanaman tanaman kacang-kacangan penutup tanah (LCCs =
leguminous cover crops) dapat berfungsi sebagai mulsa hidup, untuk mengendalikan erosi dan mencegah tumbuhnya gulma. Banyak jenis tanaman ini merupakan pakan ternak yang bernilai gizi tinggi. Bila tanaman ini dibenamkan, akan menyumbang sejumlah besar bahan organik, nitrogen dan fosfor yang tersedia kedalam tanah.

Tanaman kacang-kacangan penutup tanah dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan dan perkembangan alang-alang yang ada (sub Bab 4.3.1). Tanaman ini umumnya sangat bermanfaat untuk mencegah alang-alang tumbuh kembali setelah dapat dikendalikan (sub Bab 4.3.2).

Tanaman kacang-kacangan ini sering ditanam sebagai tanaman sela, tanaman tumpang gilir (a relay crop), maupun sebagai tanaman bera. Batang tanaman kacang-kacangan yang mati dan kering mudah terbakar.

Di awal musim kemarau, lebih baik dilakukan perebahan / penggilasan terhadap batang yang merambat dan alang-alang agar tidak mudah terbakar. Walaupun di lahan tidak ada alang-alang, sebaiknya batang yang merambat saja perlu digilas. Kebakaran dan penggembalaan yang tidak terkendali merupakan hambatan utama untuk menggunakan tanaman penutup tanah ini.

3.1 Penanaman tanaman kacang-kacangan penutup tanah untuk memberantas alang-alang

Untuk menghambat alang-alang sebelum tanaman ataupun pohon ditanam, sebaiknya dipilih spesies tanaman yang agresif. Jika tanaman pangan segera akan ditanam, maka bisa dipilih varietas tanaman penutup tanah yang berumur pendek sekitar 3-4 bulan (misalnya Mucuna pruriens var. utilis atau bhs. Jawa. koro benguk ). Jika diperlukan penutupan tanah dalam jangka waktu lebih lama, selain jenis yang berumur pendek tersebut, dicampur pula dengan beberapa spesies yang berumur lebih panjang (contoh: Centrosema atau Pueraria). Jika terdapat musim kemarau yang jelas, sebaiknya digunakan campuran jenis yang tahan kekeringan. Benih yang digunakan harus berkualitas tinggi.

Tanaman kacang-kacangan penutup tanah untuk menghambat alang-alang

Strategi: sebar benih tanaman penutup tanah diantara alang-alang

Pilih suatu spesies tahunan (perenial), misalnya Pueraria phaseoloides

  1. Sebarkan polong atau bijinya diantara alang-alang. Gunakan kira-kira 2-3 kg benih/hektar.
  2. Gilas rumput-rumputan dan batang yang merambat  pada permulaan musim kemarau atau ketika rumput-rumputan  tumbuh tegak dan bisa menjadi sumber  kebakaran, dan pada permulaan musim hujan ketika batang merambati tumbuhan alang-alang.
  3. Matikan tanaman penutup tanah ketika alang-alang telah hilang dan sekarang  merupakan saat tepat untuk menanam tanaman pangan. Mucuna dan  Pueraria dapat ditebang dan ditinggalkan mengering dan mati. Sisa-sisa biomasa ini merupakan mulsa yang sangat bagus.
  4. Tanamlah tanaman pangan pada 1 – 2 minggu sesudah penebangan atau 2 –  3 minggu setelah menimbun sisa-sisa tadi dengan menggunakan bajak.

Perlakuan tanaman kacang-kacangan penutup tanah

Strategi: bersihkan alang-alang dan tanam tanaman penutup tanah

Ini merupakan strategi yang lebih intensif untuk jangka waktu yang lebih pendek:

  1. Bersihkan petak tanam dan tanam tanaman  penutup tanah, kemudian diikuti oleh pemeliharaan  dan pemupukan sesuai rekomendasi untuk spesies tersebut.
  2. Mempertahankan tanaman penutup tanah.  Lakukan penyulaman jika dianggap perlu.
  3. Matikan tanaman penutup tanah pada saat tanam tanaman pangan.

Strategi: bersihkan lahan dan tanam tanaman penutup tanah di atas sisa alang-alang

  1. Buat denah areal yang akan ditanami. Tandai lajur selebar 2 m sepanjang kontur, atau bersihkan bundaran dengan diameter 1- 2 m.
  2. Persiapkan areal tanam. Olah atau semprot  dengan herbisida dan kemudian buat lajur di atas alang-alang yang mati.
  3. Tanam benih  tanaman (kacangkacangan)  penutup  tanah jenis merambat  dalam areal tanam  yang telah disiapkan.  Gunakan spesies lokal  yang dianjurkan dan pupuk dengan fosfor.
  4. Penggilasan. Kirakira  sesudah 5 – 8  minggu, tanaman  penutup tanah  kacang-kacangan  merambat mencapai di luar area penanaman. Gilas lagi tambahkan 1 m dari lajur lama atau lingkaran sepanjang atau mengelilingi area tanam.
  5. Gilas lagi 1 m lajur ataupun lingkaran setiap kali tanaman penutup  tanah merambat keluar mencapai alang-alang yang sudah diratakan (setiap 4-6 minggu).

3.2 Penanaman tanaman penutup tanah untuk mencegah serangan balik alang-alang

Tanaman penutup tanah paling bermanfaat sebagai tanaman sela atau sebagai tanaman tumpang gilir. Tanaman ini akan menaungi tanah diantara barisan tanaman dan melindungi tanah pada periode antar musim tanam (bera), sehingga mampu menghambat tumbuhnya alang-alang.

Tanaman pangan ataupun tanaman komersial hendaknya dilindungi dari persaingan dengan tanaman penutup tanah jenis kacang-kacangan. Oleh sebab itu sebaiknya dipilih jenis yang relatif kurang agresif atau spesies yang berumur pendek. Pucuk batang yang merambat ke pohon secara teratur harus dipangkas.

Tanaman kacang-kacangan yang menghasilkan bahan makanan (berupa biji ataupun polong) akan mempunyai daya tarik tersendiri bagi petani. Akan tetapi tanaman semacam ini kurang memberikan nitrogen ke tanah karena nitrogennya akan dikonsentrasikan di biji sehingga akan terangkut sewaktu biji tersebut dipanen.

Pilihan spesies tanaman penutup tanah untuk mencegah serangan balik alang-alang

Sifat-sifat jenis unggul
· Penambat nitrogen
· Beradaptasi pada kondisi tanah setempat
· Beradaptasi terhadap kondisi iklim setempat
· Tahan terhadap kekeringan (untuk tanaman penutup tanah pada musim
kemarau)
· Tahan penaungan (untuk yang digunakan sebagai tanaman sela)
· Benih cukup mudah tersedia
· Menghasilkan makanan atau pakan ternak
Disarankan jika:
· Terdapat ancaman serangan
balik alang-alang
· Sistem usahatani bersifat
ekstensif
· Mudah dikelola dan dibuka bila lahan diperlukan untuk ditanami tanaman
lainnya.
à Tumbuh cepat dan melilit dan sesuai sebagai tanaman tumpang gilir
à Tumbuh lebih lambat, tidak melilit jika digunakan sebagai tanaman
sela dengan tanaman semusim.

Jenis yang dianjurkan (lihat juga Lampiran C)

· Calopogonium mucunoides = kacang asu
· Canavalia ensiformis = koro pedang (dengan tanaman semusim)
· Canavalia gladiata
· Centrosema pubescens = ki besin (dengan tanaman pohon)
· Crotolaria spp. = orok-orok (dengan tanaman semusim)
· Desmodium heterophylla (dengan tanaman pohon)
· Desmodium intortum
· Dolichos lablab = kacang kara = komak (pangan dan pakan)
· Macrophyllum atropurpureum (pakan)
· Mucuna pruriens = koro benguk (tidak untuk tanaman sela)
· Psophocarpus palustris = kecipir (dengan tanaman pohon)
· Psophocarpus tetragonolobus = kecipir = kacang belimbing
· Pueraria spp. = kacang ruji (dengan tanaman pohon)
· Stylosanthes guyanensis (pakan)
· Tephrosia candida (dengan tanaman pohon)
· Vigna unquiculata = kacang tunggak

4 Tanaman Semusim dan Tumpang Sari

4.1 Perbaikan tanah-tanah masam tidak subur

Alang-alang sering tumbuh di tanah yang sangat
masam dan tidak subur dengan kandungan fosfor
tersedia rendah dan seringkali tidak dapat
mencukupi kebutuhan tanaman tahunan dan
tanaman semusim.

Pada tanah seperti ini, satu kali aplikasi pupuk
fosfat alam dengan dosis tinggi (1 ton/ha) dapat memperbaiki kesuburan
tanah dan membantu keberhasilan baik pertanian maupun agroforestri.
Reaksi tanah (pH tanah) harus ditetapkan dan sebuah percobaan untuk
menguji metode ini sebaiknya dilakukan sebelum saran ini diterapkan
secara meluas. Jika fosfat alam tidak tersedia, maka dapat digantikan
dengan TSP dan kapur. Pada lahan dengan ketersediaan P dalam tanah
rendah tetapi pH tanah lebih besar dari 5.5, pupuk P terlarut seperti TSP
dapat digunakan tanpa kapur.

Jika fosfat alam tidak tersedia atau terlalu mahal bagi petani, maka
mencari bantuan dari luar berupa kredit atau pengadaan pupuk merupakan
langkah yang tepat. Prosedur ini akan lebih baik dikombinasikan dengan
penanaman tanaman kacang-kacangan penutup tanah dan penggunaan
pupuk hijau seperti contoh yang disajikan berikut ini:
Disarankan jika:
· Tanah bersifat
masam dan tidak
subur (misalnya
Oxisols dan
Ultisols)

Sistem kombinasi pemberian fosfat alam dan tanaman penutup tanah di Indonesia

Musim
tanam
Prosedur Catatan
#1 · Bersihkan alang-alang.
· Sebarkan batuan fosfat
sebanyak 1 ton/ha
· Menambahkan unsur hara yang paling
utama menjadi faktor pembatas (P)
· Sedikit mengurangi kemasaman tanah
· Memperbaiki kondisi pertumbuhan
tanaman penutup tanah kacang2an
(lihat tahap berikutnya)
· Tanam tanaman penutup
tanah Mucuna pruriens var.
conchinchinensis (lihat
subbab 4.3.1)
· Matikan tanaman penutup
tanah sesudah berumur 6-7
bulan
· Memberikan P dalam bentuk tersedia
bagi tanaman
· Memberikan nitrogen
· Memberikan bahan organik untuk
memperbaiki struktur tanah
· Menekan pertumbuhan alang-alang
#2-7 · Tanam tanaman pangan,
menggunakan tanaman sela
kacang-kacangan atau rotasi
· Pupuk dengan N dan K jika
dianggap perlu
#8 · Sebarkan batuan fosfat 0,5
ton/ha
#8-11 · Tanam tanaman pangan dan
kacang-kacangan
· Pupuklah dengan N dan K
Selama waktu ini, produksi padi dan
jagung sangat bagus, 2-3 kali lebih tinggi
jika dibandingkan dengan lahan yang
tidak dipupuk dengan fosfat alam (hasil
penelitian di Indonesia)

Para petani lebih suka menanam tanaman pangan segera sesudah
dilakukan pemupukan dosis tinggi. Pada kasus demikian, tanaman pagar
bisa ditanam disepanjang kontur sebagai pengganti tanaman penutup tanah
kacang-kacangan.

Fosfat alam dan tanaman pagar searah kontur

Petani menanam padi gogo dan tanaman lainnya di lahan berbukit yang
tidak subur dan masam di Pasaman Timur, Sumatra Barat. Hasil padi
gogo terus menurun selama 40 tahun terakhir ini setelah masa bera
diperpersingkat dari 15 tahun menjadi 5-6 tahun. Proyek penyuluhan
membantu para petani untuk:
· Membersihkan alang-alang dan menanam Flemingia macrophyilla
sebagai tanaman pagar sepanjang kontur
· Menaburkan pupuk fosfat alam 1 ton per ha
· Menanam kacang tanah dan kacang-kacangan lainnya pada
tahun pertama, dengan pemberian pupuk
· Menanam padi gogo varietas unggul dan bibit karet
· Menggunakan pangkasan Flemingia sebagai mulsa dan untuk
pakan ternak sebatas sesuai dengan keperluan
Hasil tanaman semusim yang tinggi dapat dicapai. Investasi dalam
rehabilisasi alang-alang menguntungkan sesudah satu tahun,
meskipun modal kerja berupa pinjaman dengan bunga 20%.

4.2 Tumpangsari tanaman semusim dengan pohon

Tanaman semusim dapat
ditanam sebagai tanaman sela
diantara pepohonan untuk
meng-hasilkan pendapatan
dalam jangka pendek. Pada
waktu tanaman semusim
ditanam dan disiangi agar
populasi alang-alang berkurang
maka area ini menjadi tidak
mudah terbakar. Pohon buahbuahan,
karet dan pohon lainnya merupakan investasi yang penting,
sehingga pengelolaan tanaman semusim harus hati-hati agar tidak merusak
atau menyebabkan persaingan dengan pepohonan tersebut.
Disarankan jika:
· Tenaga kerja tersedia (luas lahan
sebagai pembatas)
· Tanaman pohon dapat dilindungi dari
kebakaran
Tidak disarankan jika:
· Kelerengan lebih dari 60%
· Luasan yang besar ditanami
tanaman semusim

 Jika dikerjakan dengan benar, penyiangan dan pemupukan tanaman
semusim akan menguntungkan juga bagi tanaman pohon. Sebagai contoh,
pemupukan cabe besar juga baik bagi tanaman karet.
Rumah tangga petani mungkin hanya mempunyai tenaga kerja yang cukup
untuk menangani satu atau dua hektar tanaman semusim. Untuk
mengusahakan tanaman pohon tambahan, keluarga tersebut hanya bisa
bergantung pada tanaman penutup tanah (sub bab 4.3), penyiangan dan
herbisida, penggilasan dan sekat bakar.

Untuk mengurangi bencana kebakaran, tanaman semusim seharusnya:
· Relatif tidak mudah terbakar dibanding alang-alang.
· Dipelihara dengan penyiangan atau mulsa untuk menghilangkan
alang-alang.
· Diikuti dengan tanaman semusim lain atau penutup tanah sehingga
alang-alang tidak akan tumbuh kembali.
· Cukup produktif dan menguntungkan bagi petani untuk tetap
mempertahankan tanaman sela ini.
Tanaman tumpangsari yang dikenal secara umum antara lain padi gogo,
ketela rambat, kacang-kacangan, kacang tanah, tomat, lada, labu (squash),
dan jahe.

Pegembangan tanaman semusim sebagai tanaman sela:

1. Rencana untuk pengendalian erosi. Pada lahan dengan kelerengan
lebih dari 5%, supaya direncanakan penggunaan beberapa bentuk sekat
vegetatif pada kontur (subbab 4.1.). Pada semua lahan bila
memungkinkan, sebaiknya digunakan mulsa dan tanaman penutup tanah
(sub bab 4.3).

2. Persiapan lahan. Petunjuk Pengelolaan Alang-alang Untuk Petani Kecil
(Bab 5 dan 6; Lampiran A) memberikan petunjuk yang lebih rinci tentang
pengelolaan alang-alang di lapangan, khususnya pengendalian dengan
menggunakan herbisida dan teknik kombinasi.

Persiapan lahan
Jika resiko kebakaran kecil …
Jika tenaga untuk pengolahan terbatas …
Jika uang dan keahlian tersedia untuk
herbisida …
Jika resiko kebakaran tinggi …
Jika tersedia tenaga ternak …
Jika lahan tidak terlalu curam …
Jika tanah terlalu padat …
Gunakan teknik olah tanah minimum:
Semprot alang-alang muda dengan
herbisida. Gilaslah jika sudah mati.
Imperata yang mati akan menjadi mulsa.
Hilangkan rumput yang tinggi. Lakukan
pengolahan dimusim kemarau: cangkul
atau bajak dan garu beberapa kali, biarkan
akar rimpang yang terangkat mengering
kemudian mati. Pembuatan lajur terakhir
sepanjang kontur.
Pertumbuhan awal mungkin lambat, tetapi
produksinya sama. Mengawetkan tanah.
Lahan mungkin akan lebih banyak
ditumbuhi krinyu (Chromolaena)
dibandingkan alang-alang.
Penanaman dilakukan segera setelah lahan
siap dan sudah turun hujan

3. Penanaman pohon. Langkah pertama adalah membuat denah barisan
pohon sepanjang kontur. Pada lahan yang datar, barisan-barisan tersebut
dibuat memanjang dari arah timur ke barat. Sebaiknya digunakan model
tanam empat persegi panjang sehingga membuat lajur/ larikan lebih lebar
dan lebih mudah untuk mengelola tanaman sela. Tempat untuk
penanaman pohon ditandai dengan ajir untuk memudahkan pengelolaan
tanaman sela terutama pada saat menyiangi. Pohon ditanam sesudah
pengolahan atau penyemprotan (lihat subbab 4.6. dan 4.7 untuk informasi
lebih lanjut tentang tanaman pohon).

4. Pemupukan. Banyak tanaman kacang-kacangan dapat menambat
nitrogen melalui kerjasama dengan bakteria bintil akar (rhizobia). Pada
lahan yang ditumbuhi alang-alang dalam jangka waktu lama, tanaman
kacang-kacangan akan tumbuh lebih baik jika diinokulasi dengan rhizobia.
Inokulan rhizobium mungkin bisa diperoleh dari penyuluh pertanian, atau
jika tidak ada maka
benih yang mau
ditanam dicampur
lebih dulu dengan
tanah yang
didapatkan dari lokasi
dimana tanaman
kacang-kacangan
tumbuh dengan baik.

5. Penanaman
tanaman semusim.
Tanaman semusim
tidak boleh ditanam
Jarak tanam persegi empat
Jarak antara tanaman sela dengan pohon
kecil
dalam jarak kurang dari 1 m dari pangkal pohon, atau dibawah proyeksi
garis tepi tajuk pohon.

6. Pengendalian alang-alang. Pengendalian dilakukan selama musim
tanam, dengan cara dicabut, disemprot dengan herbisida, atau mulsa.

7. Pemanenan tanaman semusim.

8. Pengendalian alang-alang selanjutnya. Dapat dicoba sistem tumpang
gilir (penanaman tanaman kedua sebelum yang pertama dipanen). Jika
tidak, sesudah panen penanaman jenis tanaman yang berbeda segera
dilakukan misalnya dengan tanaman penutup tanah kacang-kacangan
(subbab 4.3), atau diadakan penyiangan gulma melingkari tanaman
pohon. Sekat bakar disekeliling lahan harus tetap dipertahankan.

9. Hati-hati dengan
pohon. Supaya hatihati
saat mengolah
tanah untuk tanaman
tambahan, agar tidak
merusak pohon yang
ada. Tandai pohon
dengan ajir sehingga
dapat terlihat dengan
jelas. Supaya
dihindari pengolahan
tanah pada jarak
kurang dari 1 m dari
batang, atau tepat
dibawah garis tepi
tajuk pohon.
Pengolahan dibawah
tajuk pohon akan
merusak perakaran pohon.
Pertahankan jarak antara tanaman sela
dengan pohon yang lebih besar

5 Ternak

5.1 Bagaimana ternak mempengaruhi konversi
padang alang-alang

Olah tanah dangkal dan penyiangan gulma secara manual diantara
tanaman semusim yang ditanam pada padang alang-alang tidak cukup
untuk mengendalikan alang-alang sepanjang musim. Pembajakan dan
penggaruan dengan tenaga ternak diperlukan untuk membongkar dan
mengeringkan akar rimpang alang-alang. Cara ini lebih mudah serta lebih
cepat jika dibandingkan dengan menggunakan peralatan tangan. Petani
yang memiliki tenaga ternak memiliki kemampuan yang lebih baik untuk:

· Lebih sering mengolah tanah untuk menghindari pertumbuhan
kembali alang-alang
· Menanam tanaman sela diantara pohon yang ditanam.
· Mengolah lokasi untuk pohon dan tanaman pagar sepanjang kontur.
· Menarik gelondong kayu besar atau drum untuk menggilas dan
meratakan alang-alang.
· Memanfaatkan lahan penggembalaan ternaknya sebagai sekat bakar.

Petani yang memiliki tenaga ternak mungkin lebih bisa menerima alangalang
sebagai vegetasi lahan bera. Bagi mereka juga lebih mudah untuk
menanami lahan alang-alang ini dengan tanaman semusim. Ternak mereka
mungkin tergantung pada alang-alang muda sebagai tempat pengembalaan.
Akan tetapi ternak-ternak besar akan memadatkan tanah yang ditumbuhi
alang-alang.

Di daerah padang alang-alang maupun di tempat lain, ternak dapat
memberikan manfaat kepada petani dalam hal:

· Sebagai sumber pupuk kandang, merubah vegetasi menjadi sumber
pupuk dengan kualitas lebih baik.
· Sebagai sumber pendapatan tunai.
· Sebagai sumber tenaga kerja.

5.2 Penggunaan alang-alang untuk menunjang peternakan

Alang-alang merupakan sumber rumput pakan ternak yang penting, karena
sudah ada dalam jumlah sangat banyak di lahan pertanian atau tempat
pinggiran hutan yang terbuka dan desa-desa. Alang-alang muda (0-15 hari)
kualitasnya setara dengan Panicum maksimum (rumput guinea). Tetapi
setelah 15 hari, kualitasnya akan menurun dengan cepat. Alang-alang
miskin mineral terutama P dan ini terjadi jika tumbuh pada tanah yang tidak
subur.

Kerbau dan domba lebih tahan dan lebih cocok dengan pakan alang-alang
dibandingkan ternak lainnya. Untuk mencapai produktivitas ternak yang
optimum, harus diberikan pakan tambahan (suplemen) misalnya: Cajanus
cajan (kacang gude), daun kacang-kacangan lainnya, kopra, garam dan
mineral.

Intensifikasi penggembalaan

Peggembalaan intensif dan bergilir adalah satu alternatif terhadap
pembakaran padang alang-alang.
1. Tebas alang-alang dalam suatu luasan tertentu (sebaiknya
kecil saja).
2. Kurung atau tambatkan ternak pada lokasi ini.
3. Biarkan ternak memakan alang-alang muda sampai semuanya
dihabiskan.
4. Pindahkan ternak ke areal berikut yang alang-alangnya baru
ditebas.

5.3 Perbaikan kualitas pakan alang-alang

Kualitas dan kuantitas produksi alang-alang dapat ditingkatkan dengan
penambahan daun kacang-kacangan (lihat sub Bab 4.3), seperti:
· Stylosanthes spp.
· Centrosema spp.
· Macrophilium atropurpureum (siratro)

Petani kecil mungkin
mengganti pakan alang-alang
atau menambah alang-alang
dengan produk yang berasal
dari sistem pertanian dan
agroforestrinya

5.4 Memasukkan ternak dalam sistem

Untuk memasukkan ternak dalam sistem usaha tani
diperlukan suatu perencanaan yang baik, agar:

· Ada jaminan bahwa petani dapat memperoleh
produksi pangan dan pakan ternak yang
cukup.
· Ada jaminan bahwa para petani memahami jenis ternak dan cara
pengelolaan sanitasi dan kesehatan ternaknya.
· Mengembangkan metoda kandang atau kurung (secara teknik dan
sosial) atau mengendalikan ternak sehingga tidak menginjak-injak dan
memakan tanaman pertanian

Program pemberian kredit atau
program dimana keluarga
menerima seekor ternak dan
mengembalikan anakan yang
pertama sering diperlukan untuk
menolong petani miskin untuk
mendapatkan tenaga kerja dari
ternak besar atau ternak yang
bagus hasil pemuliaan

Disarankan jika:
· Tenaga kerja ternak
diperlukan
Pangkasan pohon dapat menjadi
suplemen pakan yang baik
Sistem kandang potong dan angkut

6 Kebun Penghasil Buah-buahan, Biji-bijian dan Getah

Alang-alang tidak akan memaafkan
kesalahan pengelolaan penanaman
pepohonan yang dilakukan dengan
setengah hati. Namun dengan perhatian
yang sungguh-sungguh padang alangalang
dapat dirubah menjadi kebun yang
bernilai ekonomis.

Yang penting untuk diperhatikan adalah:

· Melakukan persiapan dan pengolahan lahan yang baik, menggunakan
bahan tanam berkualitas, menerapkan pemupukan dan melaksanakan
pemberantasan gulma.
· Mencegah kebakaran dan memelihara sekat bakar.
· Menanam tanaman semusim yang dapat memberikan pendapatan
petani sampai pohon buah-buahan dewasa dan mampu menghasilkan
buah.

6.1 Pemilihan jenis tanaman dan bahan tanam

Banyak jenis buahan-buahan telah berhasil diusahakan di bekas padang
alang-alang, beberapa diantaranya memang terbukti lebih mampu bertahan
dibandingkan dengan lainnya dan mungkin lebih cocok bagi petani kecil
karena tidak memerlukan pemeliharaan yang rumit. Kesesuaian berbagai
jenis tanaman terhadap iklim dan tanah disajikan secara lengkap dalam
daftar Lampiran D. Untuk pohon yang tumbuh baik dibawah naungan,
seperti kopi dan kakao diuraikan dalam sub bab 4.8.), demikian pula sistem
agroforestri multistrata.
Disarankan jika:
· Pendapatan tambahan atau
diversifikasi diperlukan
Tidak dianjurkan jika:
· Tidak ada jaminan kejelasan
dalam hal kepemilikan lahan
dan pohon

Spesies yang tahan Spesies lainnya
· Aleurites moluccana (kemiri)
· Anacardium occidentale
(Jambu mede)
· Cocos nucifera (kelapa)
· Hevea brasiliensis (karet)
· Mangifera indica (mangga)
· Musa spp. (pisang)
· Psidium guajava (jambu biji)
· Artocarpus heterophyllus (nangka)
· Canarium ovatum (kenari)
· Ceiba pentandra (kapok)
· Citrus spp. (jeruk)
· Garcinia mangostana (manggis)
· Manilkara zapota (sawo manila)
· Sandoricum koetjape (kecapi, sentul)
· Spondias purpurea (kedondong)
· Syzyqium cumini (juwet)
· Tamarindus indica (asam)

Supaya dipilih dan digunakan bibit tanaman yang besar dan sehat. Pada
saat ditanam, ukuran bibit pohon harus sudah lebih tinggi dibandingkan
vegetasi yang tumbuh di lahan yang dipersiapkan tersebut. Bibit tanaman
yang besar dan cepat daya tumbuhnya akan lebih mampu berkompetisi
dengan rerumputan yang mungkin tumbuh kembali. Bahan tanam hasil
sambungan, okulasi dan cangkokan akan lebih cepat berbuah.

6.2 Persiapan lahan

Khusus untuk padang alang-alang, adalah lebih menguntungkan melakukan
persiapan lahan dengan baik untuk sebuah kebun berskala kecil daripada
persiapan lahan yang kurang memadai untuk perkebunan berskala besar.
Agar tanaman mampu bersaing dengan alang-alang atau bisa
menghambatnya diperlukan pertumbuhan tanaman yang cepat, sehingga
mengurangi resiko bencana kebakaran.

Perlu dipertimbangkan pula untuk menaman tanaman sela tanaman
semusim. Persiapan lahan yang seksama akan menolong dalam membasmi
alang-alang dan memperbaiki pertumbuhan pohon, dan penanaman
tanaman sela akan memberikan penghasilan tambahan. Sub bab 4.4.2.
membahas tentang persiapan lahan sistem tanam tumpangsari.

Jika tidak ada tanaman semusim yang akan ditumpangsarikan, dapat
dilakukan langkah-langkah berikut:

1. Dilakukan persiapan lahan.
Tenaga kerja tersedia
Herbisida tidak tersedia
Tenaga kerja mahal
Biaya dan keahlian untuk
aplikasi herbisida tersedia
Semprot herbisida
· Jika alang-alang tua dan
tinggi, tebas dan
bersihkan. Jika alangalang
muda, atau jika
tumbuh kembali,
semprot dengan
herbisida. Gilas dan
ratakan ketika sudah
mati. Alang-alang yang
mati akan berfungsi
sebagai mulsa.
Kompromi
· Semprot heribisida
berupa alur selebar 2
m (dimana pohon
akan ditanam) dan
gilas alang-alang
yang tumbuh
diantara alur yang
disemprot tersebut
Gilas alang-alang
· Jika lahan terlalu
curam atau tidak
teratur untuk
menggilas alang-alang,
buat denah lubang
tanam dan gilas dan
ratakan rumput sekitar
lubang tanam dengan
kaki.

2. Dibuat denah lokasi penanaman. Penentuan jarak tanam menurut
anjuran sesuai dengan jenis tanamannya. Sebaiknya dibuat garis/larikan
tanam sepanjang kontur.

3. Persiapan lajur untuk lubang tanam. Dilakukan pembajakan pada lajur
yang lebarnya paling sedikit 1 meter. Pembajakan paling tidak dua kali,
terutama jika dilakukan dimusim kering. Dapat juga dilakukan pengolahan
melingkar dengan garis tengah paling sedikit 1 meter. Persiapan lahan
yang cermat dan alur yang lebih lebar akan menghasilkan pertumbuhan
awal pohon yang jauh lebih baik.

4. Penanaman tanaman penutup tanah kacang-kacangan (lihat sub bab
4.3.). Penanaman tanaman penutup tanah kacang-kacangan ini dianjurkan
untuk menghambat pertumbuhan kembali alang-alang sesudah
penyemprotan ataupun penggilasan. Hal ini sangat dianjurkan untuk
melindungi tanah dari bahaya erosi terutama sesudah pengolahan tanah.

5. Persiapan lubang tanam. Penggalian lubang sudah dilakukan paling
tidak satu minggu sebelum tanam. Sinar matahari akan membantu
merombak bahan organik dalam lubang tanam dan membantu membunuh
hama dan penyakit yang membahayakan. Lubang tanam seharusnya
cukup untuk menampung volume akar bibit dan pupuk kandang atau
kompos yang akan digunakan. Lapisan tanah bawah pada dasar lubang
sebaiknya dihancurkan. Untuk tanah-tanah yang padat, lubang yang digali
harus lebih besar. Tanah yang berasal dari lapisan atas agar dipisahkan
dan lapisan tanah bawah dibuang.

6.3 Penanaman pohon

1. Penanaman dilakukan pada saat mulai musim penghujan.
2. Diberikan pupuk dasar jika memungkinkan. Seharusnya mengikuti
dosis anjuran untuk tanah setempat. Pupuk fosfat alam atau 50-100 gram
urea atau pupuk majemuk diletakkan pada dasar lubang tanam, kemudian
ditutupi dengan sedikit tanah lapisan atas. Jika tersedia, diberikan juga
setengah sampai satu kilogram rabuk atau kompos dalam lubang. Pada
tanah masam, perlu ditambahkan kapur, dolomit atau gipsum.
3. Akar yang panjang dan membelit supaya dipangkas kemudian bibit
pohon tersebut dimasukkan dalam lubang tanam yang telah dibuat.
4. Lapisan tanah atas dari hasil galian lubang dicampur dengan kompos
ditimbunkan kembali disekitar bibit dan dimampatkan secara hati-hati.
Jika masih diperlukan tanah lebih banyak lagi untuk mengisi lubang tanam
bisa diambilkan dari tumpukan lapisan tanah bawah.
5. Mulsa. Bahan mulsa yang digunakan disekitar pohon bisa diambilkan dari
hasil penyiangan, potongan rumput dan daun tanaman penutup tanah.
Pemberian mulsa sebanyak mungkin asalkan tidak menciptakan bahaya
kebakaran dan tidak menjadi media perkembangbiakan rayap.

6.4 Pemeliharaan kebun buah-buahan

Jika perkebunan tidak dipelihara dengan baik maka:

· Alang-alang akan tetap bertahan
· Kemungkinan terjadi kebakaran, dan
· Hasilnya rendah atau bahkan tanpa hasil.

Untuk mengurangi resiko kebakaran dan mendapatkan hasil lebih awal,
kebun buah-buahan tersebut sebaiknya dipelihara mengikuti langkahlangkah
berikut.

Pemupukan. Supaya mengikuti rekomendasi pemupukan yang sesuai
dengan jenis tanaman dan tanah setempat.

Penyiangan melingkar. Penyiangan harus disesuaikan keperluan, kirakira
2-3 kali per tahun tergantung pada lamanya musim penghujan.
Mulsa pada tanaman muda

Rumput dan gulma disekeliling batang dibersihkan, melingkar dengan garis
tengah 1 meter jika pohon masih kecil dan 2 meter untuk pohon yang besar

Meminimalkan persaingan antara tanaman penutup tanah jenis kacangkacangan
dengan pohon. Batang penutup tanah yang merambat dalam
wilayah lingkaran berdiameter 2-4 meter sekitar pohon supaya dibabat. Ini
perlu dilakukan pada permulaan musim kemarau dan setiap 3-4 bulan
selama musim penghujan

Mempertahankan tanaman penutup tanah kacang-kacangan (lihat
sub Bab 4.3). Jika batang yang merambat dari tanaman penutup tanah mati
atau berkembang kurang baik, segera benih tambahan disebarkan pada tepi
lingkaran disekeliling pohon yang bebas alang-alang, dan rambatan
diarahkan agar menjauhi pohon.

Mempertahankan mulsa sekitar pangkal pohon.

Pemeliharaan tanaman pohon disesuaikan anjuran, misalnya dengan
menggunakan teknis pemangkasan yang tepat, melindungi pohon dari hama
dan penyakit

6.5 Fase berbahaya

Selang masa antara saat pohon utama menaungi tanaman sela dan saat
kanopi pohon mulai saling menutup merupakan tahun dengan tingkat
bahaya kebakaran yang tinggi. Penyiangan dan pemupukan sesuai anjuran
akan membantu pohon untuk tumbuh lebih cepat sehingga memperpendek
periode ini. Penyiangan, penyemprotan herbisida, penggilasan, tanaman
penutup tanah dan sekat bakar dapat digunakan dalam bentuk kombinasi
untuk mengurangi bahaya kebakaran dan menghindari kerugian akibat
rusaknya kebun.

Beberapa pohon yang ditanam, seperti halnya jeruk yang perlu
pemangkasan, tidak akan membentuk kanopi yang saling menutup yang
berdampak terhadap penghambatan pertumbuhan alang-alang secara
permanen. Disamping tumpang sari dengan tanaman semusim dan
penanaman tanaman penutup tanah famili kacangan-kacangan, strategi
lainmya adalah mengembangkan agroforestri multistrata dalam usaha
untuk memaksimalkan penggunaan semua ruang tumbuh baik dibawah
maupun diatas tanah (sub Bab 4.8).

7 Kebun Pepohonan

“Naungilah!” Penanaman pohon di
padang alang-alang seperti perlombaan
antara pohon dan rumput: dapatkah
pohon menghambat alang-alang
sebelum api membakarnya? Pohon
seharusnya tumbuh secepat mungkin
untuk memperpendek periode sampai
kanopinya saling menutup dan menungi
alang-alang. Untuk itu mungkin
diperlukan pengolahan tanah, penyiangan, dan pemupukan.

7.1 Pemilihan jenis

Pertama-tama perlu dipertimbangkan tujuan utama dari penanaman pohon
sebagai penghasil kayu. Banyak jenis pohon telah berhasil diusahakan
sebagai hutan tanaman di padang alang-alang (lihat Lampiran E), jika
dilakukan persiapan dan pengolahan lahan dengan baik, dilakukan
penyiangan, dan pemupukan jika diperlukan. Pada banyak kasus,
pemeliharaan permudaan alam (Assisted Natural Regeneration =ANR)
mungkin sudah cukup atau bahkan lebih cepat (seperti didiskusikan di bab
5).

Jika tempat ini mau diusahakan untuk agroforestri, jenis yang mungkin
dipilih adalah jenis penambat nitrogen, yang perlu disesuaikan dengan
sistem agroforestri yang akan diusahakan tersebut. Lihat sub bab 4.2
tentang bera dan sub bab 4.8 tentang agroforestri multi strata dan pohon
pelindung.
Disarankan jika:
· Terdapat pasar yang bagus
untuk kayu
Tidak disarankan jika:
· Penguasaan lahan dan pohon
tidak pasti
· Petani tidak mampu menanam
modal dalam jangka panjang

Jika kebun tersebut dimaksudkan untuk menghasilkan produk yang akan
dijual, supaya dipertimbangkan pasar setempat baik untuk kayu bakar,
bahan bangunan dan arang.
Untuk beberapa jenis, varitas ataupun jenis-jenis lokal (provenance)
mempunyai perbedaan dalam laju pertumbuhan, responnya terhadap
pemupukan, dan sifat-sifat lainnya.

Beberapa jenis pohon lebih cocok untuk rehabilisasi padang alang-alang
dibandingkan lainnya; pohon-pohon ini memerlukan sedikit pemeliharaan,
dan mampu menghambat pertumbuhan alang-alang dan sehingga
menghentikan resiko kebakaran dengan segera
Jenis utama yang berhasil Sifat-sifat yang diharapkan
Acacia mangium = akasia
A. auriculiformis = akasia
Bambusa spp. = bambu
Gliricidia sepium = gamal
Gmelina arborea = bulangan
Leucaena leucocephala = lamtoro gung
Vitex pubescens = laban
Tumbuh cepat
Tajuk lebar dan rapat
Tahan kebakaran:
à Kulit kayu tebal
à Bertunas setelah kebakaran, atau
à Biji tumbuh kembali setelah kebakaran
Beradaptasi dengan tanah dan iklim
setempat

7.2 Pembangunan kebun pepohonan

Pepohonan yang ditanam dengan jarak tanam yang rapat akan
memberikan lebih banyak naungan, sedikit rumput dan memperkecil
bahaya kebakaran.
Jarak tanam
1m x 1m 2m x 2m 3m x 3m 4m x 4m
· Akan segera menghambat pertumbuhan
alang-alang
· Baik untuk bera, dan sebagai pohon
lindung
· Diperlukan lebih banyak bahan tanam dan
pupuk
· Lebih banyak tenaga diperlukan untuk
pembuatan lubang tanam dan penyiangan
melingkar
· Batang utama cenderung tumbuh lebih
lurus
· Sedikit bercabang
· Pertumbuahan diameter lebih lambat
· Mungkin nantinya diperlukan penjarangan,
atau beberapa pohon akan mati
karena kalah bersaing
· Pemberantasan alang-alang memerlukan
waktu yang lebih lama
· Bisa ditumpangsarikan dengan tanaman
sela
· Diperlukan lebih sedikit bahan tanam
dan pupuk
· Lebih sedikit tenaga kerja yang
diperlukan untuk menggali lubang
tanam dan penyiangan melingkar
· Batang utama cenderung tumbuh tidak
lurus
· Bercabang lebih banyak
· Pertumbuhan diamater lebih cepat
· Tidak memerlukan penjarangan

Strategi: penanaman stek dan tunggul yang rapat

Gamal (Gliricidia sepium)
Stek cabang yang ditanam pada jarak
1×1 m mampu memberantas alang-alang
hampir sempurna dalam waktu 18 bulan
pada salah satu proyek di Sri Langka.
Laban (Vitex pubescens)
Stek tunggul pohon pionir umumnya
ditanam pada jarak 1.75 x 1.75 m. Mampu
memberantas alang-alang dalam 4-5
tahun.

Strategi: Penebaran benih

Terdapat beberapa contoh penggunaan tebar benih langsung untuk
memberantas alang-alang. Tebar benih langsung merupakan cara yang
boros, karena memerlukan banyak benih dan sedikit tenaga per satuan
bibit. Hanya sedikit jenis tanaman yang cepat tumbuh dapat berhasil
dengan sedikit pemeliharaan.
Lamtoro gung (Leucaena
leucocephala)
Di daerah Jawa Tengah, dengan curah
hujan tinggi, salah satu proyek menebarkan
117.000 biji lamtoro/ha (sekitar 12 biji/m2).
Kerapatan pohon tujuh tahun kemudian
adalah 10.000 pohon/ha (jarak tanam ratarata
1 m). Proyek ini dan proyek-proyek
lainnya menunjukkan bahwa penebaran
benih secara langsung pada tanah yang
sudah dibajak atau yang sudah dibakar
rumputnya dapat berhasil, akan tetapi
penebaran langsung pada padang rumput
tidak berhasil.
Kacang gude (Cajanus cajan)
Di Luzon Tengah (Filipina), petani
menanam kacang gude (Cajanus
cajan) dalam area kecil bebas alangalang,
2-3 biji/lubang, jarak antar
lubang 1 x 1 m. Kacang gude ini
ditanam pada awal musim penghujan,
disiang setelah berumur 1 bulan, dan
disiang lagi sesuai dengan keperluan.
Kacang gude mulai menaungi rumput
secara nyata sesudah 5-6 bulan.
Motivasi petani timbul karena daya
tarik polong dan kayu bakar dari
tanaman kacang gude ini.

Strategi: penanaman bibit

1. Menginokulasi bibit di persemaian. Padang alang-alang seringkali  miskin mikro organisme yang sanggup membantu menyediakan unsur  hara bagi pepohonan. Untuk itu tanah pembibitan perlu ditambah  mikoriza: tablet mikoriza bisa diperoleh dari dinas penyuluh kehutanan  atau dengan mencampur tanah dimana jenis pohon tersebut sudah  tumbuh dengan bagus. Untuk tanaman penambat nitrogen, perlu  ditambahkan rizobium pada tanah persemaian. Rizobium tersebut dapat  diperoleh dari inokulan paket rizobium atau dari tanah dimana jenis  tanaman tersebut sudah tumbuh dengan baik. Benih dicampur dengan sedikit tanah tersebut.

2. Menanam dan memberikan fase pengerasan bibit. Pada waktu bibit  pohon ditanam, sebaiknya pohon sudah lebih tinggi daripada vegetasi  yang ada di lahan yang telah dipersiapkan. Disarankan hanya menanam  tanaman yang sehat, dari bibit berkualitas tinggi dengan sistem perakaran  yang mampu tumbuh cepat. Sebelum bibit ditanam di padang alang-alang  sebaiknya bibit ditempatkan di tempat terbuka diluar persemaian (fase  pengerasan) agar terlatih kena terik matahari, sehingga tanaman muda ini  lebih kuat dalam beradaptasi dengan lingkungan baru yang berbeda dengan kondisi yang ada di persemaian.

3. Membuat denah garis kontur

4. Persiapan lahan. Persiapan tempat yang baik sangat penting dalam  usaha untuk mendapatkan agar bibit mampu tumbuh cepat sehingga  dapat menghambat pertumbuhan alang-alang sebelum kebakaran terjadi.  Pada pelaksanaan proyek penghutanan kembali pada skala besar  ditemukan bahwa pengolahan lahan secara mekanis dengan sempurna  menghasilkan pertumbuhan yang jauh lebih baik daripada pengolahan  lajur, tetapi cara ini juga mengakibatkan terjadinya erosi. Petani-petani  kecil yang menggunakan ternaknya untuk mengolah tanah dapat  menyisakan jalur vegetasi yang sempit tanpa olah sepanjang kontur untuk mengendalikan erosi (sub bab 4.1.2).

Pengolahan tanah jalur
atau lingkaran
Pengolahan tanah
menyeluruh
Diolah semua kecuali
lajur sempit sepanjang
kontur
· Tumbuh cepat
· Diperlukan banyak tenaga
· Erosi tanah tinggi

DISARANKAN
jika tenaga kerja
tersedia
· Tumbuh lambat
· Diperlukan lebih sedikit
tenaga
· Erosi tanah lebih rendah
· Gilas atau semprot alangalang
diantara barisan
5. Persiapan lubang tanam. Lubang tanam disiapkan seperti halnya untuk
kebun buah-buahan (sub bab 4.6.2.), tetapi ukuran lubang tanamnya lebih
kecil dibandingkan untuk pohon yang bernilai ekonomis tinggi. Lubang
tanam mungkin dapat digali pada saat tanam.
6. Penanaman dan pemupukan bibit. Cara penanaman bibit dan
pemberian pupuk mengikuti cara yang sama seperti untuk kebun buahbuahan
(sub bab 4.6.3.). Untuk jenis penambat nitrogen, diperlukan
pupuk P yang cukup.
7. Pemeliharaan.
Pemeliharaan bibit yang
sudah ditanam dilakukan
seperti halnya
pemeliharaan pada kebun
buah-buahan (sub bab
4.6.4.). Tanaman
penutup tanah jenis
kacang-kacangan tidak
dianjurkan karena jarak
tanam pohon yang rapat
serta nilai ekonomis yang
lebih rendah
dibandingkan kebun
buah-buahan.
Penyiangan sekitar bibit

8 Agroforestri Multistrata (Multistory Agroforestry)

Sistem agroforestri multistrata paling tidak mempunyai tiga lapisan tajuk
yang berasal dari tumpangsari berbagai tanaman yang mempunyai
ketinggian yang berbeda. Lapisan yang lebih atas akan menaungi lapisan
dibawahnya. Tegakan tua dari agroforestri kompleks hampir tidak
menyisakan cukup cahaya pada permukaan tanah sehingga menyebabkan
alang-alang tidak mungkin tumbuh.

Keaneka ragaman tanaman dalam agroforestri multistrata dapat
mengurangi resiko kegagalan. Jika satu tanaman gagal atau harganya
turun, petani masih mempunyai jenis tanaman lain untuk keperluan
hidupnya atau untuk sumber pendapatan kontan. Karena petani masih
mempunyai berbagai tanaman lainnya yang bercampur, maka lahan
agroforestri ini tidak akan diabaikannya. Bahkan meskipun diabaikan,
agroforestri yang dewasa tidak akan berubah menjadi padang alang-alang.

Agroforestri multistrata umumnya dikembangkan oleh para petani kecil jika mereka.

  • Menanam pohon pelindung untuk tanaman-tanaman yang
    menghendaki naungan seperti kopi dan kakao.
  • Meningkatkan produktivitas penggunaan ruang diantara dan di bawah tanaman komersial seperti karet dan kelapa.
  • Memperkaya bera dengan menanam berbagai jenis tanaman seperti rotan dan umbi-umbian.
  • Menanam berbagai jenis tanaman dengan masukan rendah serta sedikit pemeliharaan.

8.1 Kombinasi tanaman

Terdapat banyak kemungkinan kombinasi tanaman dalam sistem  agroforestri. Umumnya, tumbuhan dan tanaman yang diusahakan dapat  dikelompokkan kedalam tiga kelas ketinggian, meliputi tanaman yang  tumbuh pada cahaya matahari penuh dan tanaman yang mampu tumbuh berbagai tingkat naungan (lihat tabel berikut).

Supaya diperhatikan bahwa banyak pohon besar memerlukan naungan  ketika masih muda tetapi menghendaki cahaya matahari penuh pada saat  dewasa. Juga perlu diperhatikan bahwa beberapa jenis tanaman seperti  mangga, memberikan pengaruh penaungan yang besar sehingga hanya  sedikit tanaman yang dapat tumbuh dibawahnya. Jenis seperti sengon  (Paraserianthes falcataria) menyebabkan penaungan yang ringan dan  lebih sesuai untuk agroforestri tajuk berlapis.

Perbedaan ukuran tanaman dan kebutuhan cahaya yang berbeda (Lihat juga tambahan di Lampiran D and E)

8.2 Perencanaan ke depan: ekologi dan ekonomi

Ekologi. Untuk kombinasi jenis tanaman apapun yang akan dipilih dalam  sistem agroforestri, harus dipertimbangkan bagaimana pertumbuhan dan  perubahan tajuk berlapis tersebut sesuai dengan perkembangan waktu.  Setiap tahun, beberapa tanaman menjadi kurang produktif, sementara ada  tanaman yang tumbuh dan menaungi tanaman lainnya. Supaya dibuat  rencana perkembangan sistem agroforestri tajuk berlapis sedemikian rupa sehingga:

  • Tanaman yang ditanam pertama adalah tanaman yang mampu beradaptasi dengan cahaya penuh.
  • Sistem penanaman pertama merupakan upaya pengendalian alangalang.
  • Tanaman yang bisa memberikan penaungan ditanam lebih dulu dari tanaman yang tahan atau yang perlu penaungan.
  • Tanaman yang mampu menyuburkan tanah ditanam sebelum tanaman yang perlu kondisi tanah yang lebih baik.
  • Tanaman yang memerlukan cahaya penuh tidak ditanam dimana tanaman lain akan menaunginya sebelum mereka dewasa.
  • Pohon yang berukuran sedang atau besar akan memerlukan ruangan  untuk tumbuh dan diusahakan agar nantinya tidak berdesak-desakan.  Supaya dibayangkan lebar tajuk pohon jika tanaman tersebut dewasa.  Perlu dipertimbangkan apakah pohon-pohon sekitarnya juga tumbuh  tinggi dan melebar, dan jika hal ini akan terjadi, pohon ini harus ditebang atau jangan ditanam.
  • Semua ruangan-tumbuh harus dimanfaatkan: tanaman akan
    menyesuaikan diri baik secara vertikal (tinggi, medium dan pendek),  maupun secara horizontal (semua sudut akan diisi), dan bahkan  dibagian bawah tanah (tanaman berakar dalam dan berakar dangkal).

Ekonomi. Setiap sistem usahatani memerlukan perencanaan untuk  penganeka-ragaman hasil (diversifikasi) dan menyebarkan penggunaan  tenaga kerja dan pendapatan sehingga relatif merata sepanjang tahun.   Tanaman pertama harus bisa menghasilkan makanan atau pendapatan  dalam waktu 3 – 4 bulan (contoh ketela rambat). Dalam hal ini dapat dipilih   tanaman yang bisa memberi hasil untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan  pendapatan tunai. Supaya ditanam pohon yang menghasilkan buah pada  waktu berbeda dalam satu tahun. Agroforestri tajuk berlapis akan  mengalami perubahan setiap tahun untuk jangka waktu beberapa tahun.  Demikian pula akan terjadi perubahan dalam hal kebutuhan tenaga kerja dan produk yang dihasilkannya. Oleh karena itu perlu dilakukan
perencanaan kedepan.

8.3 Contoh-contoh

Strategi: Pohon pelindung dan tanaman tahan naungan.

Pohon pelindung adalah pohon yang ditanam terlebih dahulu dari  tanaman lainnya untuk tujuan perbaikan kesuburan (fisik, kimia, biologi)  tanah ataupun memberikan naungan bagi anakan pohon alami atau tanaman lain yang butuh naungan dalam hidupnya.

Pohon cepat-tumbuh penambat nitrogen ditanam pertama untuk  memperbaiki kondisi tanah. Pendekatan ini sering digunakan untuk  tanaman seperti kopi yang ditanaman pada lahan yang tidak subur, di mana  pohon pelindung diperlukan sebagai penaung dan untuk meningkatkan kesuburan tanah sepanjang hidup tanaman kopi.

1. Tanam pohon pelindung (sub bab 4.7). Pohon-pohon yang tumbuh  scara alami dapat juga memberikan penaungan; teknik Pemeliharaan Permudaan Alam (PPA) juga dapat diterapkan (bab 5).

2. Tanam tanaman sela semusim (sub Bab 4.4.2). Setiap musim tanam pilih tanaman sela yang mampu beradaptasi dengan kondisi sinar matahari  dan naungan.

Tanaman lapisan bawah (understory) tahan naungan:  Ananas cosmosus (nanas),  Capsicum spp. (lombok),  Colocasia esculenta (talas, keladi),  Curcuma domestica (kunyit),  Anthurium spp. (bunga lilin, kuping  gajah),  Brassica sp. (mustard),  Ipomea batatas (ketela rambat),  Xanthosoma sagittifolium  (ketela rambat),  Zingiber officinarum (jahe),  Budidaya jamur (mushroom)

3. Tanam pohon yang tahan naungan. Sesudah  setahun atau ketika pohon  peneduh mampu  memberikan cukup  penaungan, dapat mulai  ditanam pohon yang tahan  naungan. Penanaman  dengan jarak 3-4 m antar  tanaman atau gunakan  jarak tanam anjuran untuk  pohon tersebut. Jarak dari  pohon peneduh sekitar 1-2 meter.

4. Pemupukan,  pemangkasan dan  penyiangan. Pemberian  pupuk, pemangkasan dan penyiangan dilakukan seperti tanam-an pohon lainnya (sub bab 4.6).

5. Pemangkasan pohon pelindung. Jika pohon pelindung sudah terlalu  rindang, maka cabang-cabangnya perlu dipangkas dan daunnya dapat dimanfaatkan untuk mulsa.

6. Penjarangan pohon. Supaya diperhatikan pohon yang tumbuh di  dekatnya, apakah kanopinya sudah saling bersinggungan. Juga harus   diperhatikan apakah pohon yang menghendaki cahaya matahari penuh  mulai dinaungi oleh pohon yang kurang bernilai eknomis. Satu demi satu,  hilangkan pohon yang lemah ataupun bernilai ekonomis rendah agar  didapat lebih banyak ruang bagi pohon yang bernilai ekonomis tinggi  sehingga dapat tumbuh sehat. Pada saat menebang pohon diusahakan  agar tidak merusak pohon lainnya. Pohon yang ditinggalkan akan tumbuh lebih cepat.

7. Pengkayaan dengan jenis tanaman lain. Dapat dilakukan penanaman  tanaman penghasil makanan atau sumber pendapatan kontan yang tahan penaungan

Strategi: Pengembangan cepat untuk pohon yang menyukai cahaya matahari penuh dan tanaman yang tahan naungan secara bersamaan.

Yang pertama ditanam adalah tanaman semusim.Tanah  diolah dan disiang sehingga bebas alang-alang. Pada saat yang sama dilakukan penanaman tanaman yang menyukai cahaya matahari penuh.

Agar cepat mendapatkan naungan sebaiknya ditanam pisang, pepaya dan  tanaman lain yang juga cepat menghasilkan. Dibawah naungan pisang dan  pepaya bisa ditanami pohon atau perdu yang tahan naungan dan tanaman  lainnya. Pada saat pisang dan pepaya sudah tidak berbuah lagi, tanaman  pohon yang menghendaki cahaya matahari penuh sudah cukup besar dan  mampu menaungi.

Strategi: Agroforest Kompleks

Di banyak tempat petani mengelola kebun pepohonan atau agroforest yang  berisi banyak spesies. Sistem agroforest semacam ini tidak menunjukkan pola tanam yang jelas dan kelihatannya tidak teratur rapi.

Namun demikian agroforestri komplek ini dapat dikembangkan dengan berhasil di padang alang-alang.

Pohon buah-buahan dan biji-bijian yang paling penting dalam sistem ini  adalah kemiri (Aleurites moluccana), mangga (Mangifera indica), dan  durian (Durio zibethinus), dan jenis lainnya seperti petai (Parkia spp.),  kelapa (Cocos nucifera), rambutan (Nephelium lappaceum), cengkeh (Eugenia aromatica), dan kueni (Mangifera odorata).

Faktor-faktor penting yang menunjang keberhasilan para petani tersebut adalah:

  • Pengalaman terdahulu dengan tanaman pohon dan agroforestri
  • Kerjasama masyarakat dalam pengendalian kebakaran ladang berpindah
  • Akses ke pasar
  • Adanya jaminan terhadap penguasaan lahan.

Dalam  masyarakat  lainnya yang  punya akses pasar  serta penguasaan  lahannya terjamin,  bantuan  penyuluhan dan organisasi  kemasyarakatan  untuk  mengendalikan  kebakaran akan  sangat menolong  dalam rangka  merehabilisasi  padang alangalang.

9 Pendekatan berorientasi pada masyarakat dan petani dalam usaha pertanian lahan kering berkelanjutan

Pendekatan yang berorientasi kepada masyarakat untuk perencanaan dan  pengelolaan sumberdaya lokal memiliki banyak keunggulan. Organisasi  yang dididirkan atas inisiatif petani pada tingkat desa dapat mempercepat  jalannya pembangunan dan penerapan cara-cara pertanian berkelanjutan.  Di Filipina, gerakan “Landcare” (Peduli-Lahan) mampu menyatukan  masyarakat setempat untuk mengatasi berbagai permasalahan pertanian  yang mereka hadapi bersama-sama dengan lembaga terkait (instansi  pemerintah maupun non pemerintah) melalui cara kemitraan. Mereka  adalah kelompok sukarelawan mandiri yang mau berbagi informasi teknis,  menyebarkan cara-cara bertani baru, mengembangkan penelitian,  membantu pengembangan usaha tani dan proses perencanaan pengembangan daerah aliran sungai.

Beberapa ciri kelompok “Landcare” yang khas adalah:

  • Mereka membentuk kelompok untuk menangani berbagai masalah  yang berkaitan dengan keberlanjutan yang dianggap penting bagi kelompok tersebut
  • Mereka cenderung membentuk kelompok berdasarkan hubungan tetangga ataupun sub-DAS kecil.
  • Daya dorong pembentukan kelompok berasal dari kebutuhan
    masyarakat, meskipun dukungan pemerintah secara nyata juga penting.
  • Semangat dan kepemilikan program kelompok berada dalam
    masyarakat itu sendiri

Asosiasi “Landcare Claveria” adalah sebuah federasi yang terdiri dari 56  cabang tingkat desa dengan 2000 anggota dan lebih dari 40 kebun bibit  petani. Cabang-cabang tersebut merupakan kelompok dari para petani  yang bertetangga yang mempunyai minat serupa dalam hal penyelesaian  masalah erosi dan dalam usaha membangun pertanian berkelanjutan.  Pemerintah setempat memberikan bantuan dana untuk pelatihan  “Landcare’ dan kegiatan pembibitan. Dengan adanya “Landcare” ini  pelayanan penyuluhan akan lebih mudah dan lebih menyentuh sebagian besar keluarga tani, dengan demikian akan lebih efektif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s