Kementerian PU (1)

Pedoman Penanaman Rumput Vetiver untuk Pengendalian Erosi Permukaan dan Pencegahan Longsoran Dangkal pada Lereng Jalan

Oleh: Kementerian Pekerjaan Umum

Download file: SPM1013

Prakata

Pedoman tentang Penanaman rumput vetiver untuk pengendalian erosi permukaan dan pencegahan longsoran dangkal pada lereng jalan disusun berdasarkan hasil-hasil penelitian erosi lereng jalan yang telah dilakukan oleh Puslitbang Jalan dan Jembatan dengan adaptasi teknologi yang pernah ada. Pedoman ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi semua pihak yang terlibat dalam penerapan teknologi penanganan erosi lereng jalan dengan rumput vetiver.

Pedoman ini dipersiapkan oleh Panitia Teknis No 91-01 Bahan Konstruksi Bangunan dan Rekayasa Sipil pada Subpanitia Teknis 91-01/S2 Rekayasa Jalan dan Jembatan melalui Gugus Kerja Teknik Lalu Lintas dan Lingkungan Jalan.

Tata cara penulisan disusun mengikuti Pedoman Standardisasi Nasional (PSN) No. 8 Tahun 2007 dan dibahas dalam forum rapat rapat konsensus tanggal 29 Juli 2009 di Bandung, dengan melibatkan para narasumber, pakar dan lembaga terkait.

Pendahuluan

Erosi adalah proses penggerusan lapis tanah permukaan yang disebabkan oleh beberapa hal seperti angin, air, es, atau gravitasi. Air hujan di atas permukaan tanah akan menumbuk agregat tanah menjadi partikel-partikel tanah yang lepas. Partikel-partikel tanah yang lepas ini akan terbawa oleh aliran permukaan. Erosi secara alamiah dapat dikatakan tidak menimbulkan musibah bagi kehidupan manusia atau keseimbangan lingkungan. Namun erosi dapat menjadi erosi yang dipercepat, yang dapat diakibatkan oleh kegiatan-kegiatan  atau tindakan yang menimbulkan dampak negatif pada lingkungannya. Terlebih lagi hal itu akan dirasakan pada lereng-lereng jalan yang curam dan terbuka (tanpa vegetasi) dan jika jenis tanahnya mempunyai erodibilitas yang tinggi.

Setelah lereng selesai direncanakan secara geoteknik dengan baik dan dengan mempertimbangkan faktor keselamatan, kemudian diikuti dengan perlindungan lereng yang dilaksanakan dengan baik untuk meyakinkan kestabilan dalam jangka panjang terutama untuk daerah dengan curah hujan tinggi dan memiliki tanah yang peka erosi seperti Indonesia. Ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan yaitu dengan : a). metode kimia (penggunaan bahan pemantap tanah/soil conditioner), b). metode mekanis yaitu dengan pembuatan terasering, menggunakan pemasangan tembok atau matras kawat. Ke dua metode tersebut sangat mahal. c) metode vegetatif (dengan menggunakan tanaman), yang merupakan pendekatan yang bersifat “lembut” atau “hijau”, tidak mahal, estetis, juga ramah lingkungan, d) kombinasi antara ketiga metode, misal metode mekanik dengan metode vegetatif .

Salah satu upaya penanganan erosi yang dilakukan dengan metode vegetatif yaitu dengan vetiver system. Vetiver System (VS) adalah sebuah teknologi sederhana, berbiaya murah yang memanfaatkan rumput vetiver hidup untuk konservasi tanah dan air serta perlindungan lingkungan. VS sangat praktis, tidak mahal, mudah dipelihara, dan sangat efektif dalam mengontrol erosi dan sedimentasi tanah, konservasi air, serta stabilisasi dan rehabilitasi lahan. Vetiver juga mudah dikendalikan karena tidak menghasilkan bunga dan biji yang dapat menyebar liar seperti alang-alang atau rerumputan lainnya. Vetiver yang ditanam tidak diperbolehkan dipanen akarnya karena jika terjadi, hal ini dapat menimbulkan efek yang kontradiktif, yaitu terjadinya kerusakan tanah.

Meskipun solusi ‘hijau’ atau ‘bioengineering’ yang dipilih, dalam mengaplikasikan teknologi  ini diperlukan adanya pedoman yang dapat dijadikan acuan. Untuk itu, pedoman penanganan erosi permukaan lereng jalan dengan penanaman rumput vetiver ini disusun agar menjadi acuan bagi pelaksana di lapangan.

Pedoman ini menguraikan penjelasan mengenai persyaratan tentang lereng jalan, tanah, tanaman, cara penanaman, dan pemeliharaan.

1 Ruang lingkup

Pedoman ini menguraikan tentang penanaman rumput vetiver untuk pengendalian erosi permukaan dan pencegahan longsoran dangkal pada lereng jalan yang mencakup persyaratan: lereng jalan, tanah, tanaman dan cara penanaman serta pemeliharaan, dapat juga untuk lereng selain lereng jalan.

2 Acuan normatif

Dokumen referensi di bawah ini harus digunakan untuk melaksanakan pedoman ini. SNI 19-7030-2004, Pemeriksaan bahan organik tanah

3 Istilah dan definisi

Istilah dan definisi yang digunakan dalam pedoman ini adalah sebagai berikut:

3.1. anakan
tunas yang keluar dari batang yang terletak di bagian bawah tanah yang keluar akarnya

3.2 bibit tanaman
tanaman muda atau bagian tanaman yang berasal dari potongan akar yang disemaikan di pembibitan

3.3 bonggol vetiver
bakal bibit yang diperoleh dari tanaman yang sudah cukup umur yaitu sekitar 5 bulan sampai dengan 6 bulan

3.4 erosi permukaan
berpindahnya partikel-partikel tanah dari satu tempat ke tempat lain karena percikan air, aliran permukaan, atau karena angin

3.5 lereng
kedudukan suatu tempat atau daerah terhadap bidang datar yang dinyatakan dalam derajat.

3.6 longsoran dangkal
disebut juga longsoran permukaan (surface failure), yaitu meluncurnya lapisan penutup hasil pelapukan dengan tebal bidang longsoran 1,0 m sampai dengan 1,5 m.

3.7 pendangiran
pengolahan tanah yang dilakukan setelah tanaman tumbuh, bertujuan untuk menggemburkan tanah di sekitar tanaman

3.8 penyiangan
pembersihan tumbuhan liar atau tumbuhan yang tidak dikehendaki dari lahan pertanaman/ areal tanaman dengan mencabut atau memangkas

3.9 penyulaman
penanaman dengan tanaman baru untuk mengganti tanaman yang sudah mati atau yang pertumbuhannya tidak normal

3.10 polibag
plastik yang dibuat khusus untuk bibit tanaman, dengan ukuran yang disesuaikan dengan kebutuhan jenis bibit tanaman yang akan dibibitkan.

3.11 potongan/sobekan bonggol
bagian dari bonggol yang terdiri dari beberapa tunas untuk calon bibit tanaman

3.12 pupuk buatan
zat makanan bagi pertumbuhan tanaman yang merupakan buatan pabrik atau industri yang dibentuk dari kombinasi zat kimia

3.13 pupuk kandang
pupuk alam yang berasal dari kotoran padat dan cair dari hewan ternak yang tercampur dengan sisa makanan yang membusuk

3.14 setrip rumput vetiver
kelompok rumput vetiver yang terdiri atas dua baris tanaman, dengan jarak antar baris 10 cm

3.15 sudut lereng
sudut yang dibentuk oleh garis horizontal dengan kemiringan lereng timbunan atau galian dan dinyatakan dalam angka perbandingan, angka pertama menunjukkan skala horizontal dan angka kedua menunjukkan skala vertikal

3.16 tanaman legum
merupakan salah satu tanaman penutup tanah dari jenis kacang-kacangan (buahnya berbentuk polong)

3.17 tanaman penutup tanah
tanaman yang ditanam sebagai penahan erosi, penambah bahan organik tanah, dan media untuk memperbesar kemampuan tanah dalam menyerap dan menahan air hujan

3.18 tumbuhan liar
tumbuhan pada suatu areal tanaman yang mengganggu  tanaman utama dan kehadirannya tidak dikehendaki, tumbuhan liar sering juga dinamakan gulma, seperti alang-alang, teki, putri malu (mimosa)

3.19 vetiver (vetiveria zizanioides)
sejenis rumput-rumputan yang di Indonesia dikenal dengan tanaman akar wangi, merupakan rumput yang tumbuh tegak dengan tinggi 1,5 sampai dengan 2,5 m, dan berkembang biak dengan cepat sehingga terbentuk rumpun-rumpun besar, memiliki akar yang mencapai lebih dari 3 m (bahkan di Thailand pernah ditemukan akar vetiver 5,2 m).

4 Ketentuan

4.1 Lereng

Ketentuan untuk lereng, meliputi :

a) lereng sudah memenuhi kestabilan struktur yang sudah disyaratkan dalam pembuatan lereng timbunan atau lereng galian;

b) lereng yang akan ditangani masih berada dalam rumija (ruang milik jalan) di luar rumaja (ruang manfaat jalan);

c) maksimum kemiringan lereng yaitu 60°;

d) untuk lereng dengan kemiringan lebih kecil dari 30° , di antara dua strip rumput vetiver, selain dapat ditanami dengan rumput bahia (paspalum notatum) dan rumput pahit (axonopus compressus), dapat pula ditanami dengan tanaman kacang-kacangan (legum).

4.2 Tanah

Ketentuan untuk tanah, meliputi:

a) tanah yang akan ditanami harus bebas dari tanaman liar dan kotoran sampah lainnya;

b) pada daerah kering, beberapa jam sebelum penanaman, tanah disiram dengan air sehingga tanah lembab.

4.3 Tanaman

4.3.1 Persiapan media untuk bibit

Ketentuan dalam persiapan media untuk bibit, meliputi:

a) media tanam dalam polibag merupakan campuran tanah dengan pupuk kandang, dengan perbandingan 3 : 1;

b) campuran tanah dengan pupuk kandang, minimal dibiarkan satu hari.

4.3.2 Persiapan bibit

Ketentuan dalam persiapan bibit, meliputi:

a) bibit tanaman harus bebas dari hama penyakit dan tumbuhan liar;

b) potongan/sobekan bonggol kering untuk calon bibit, diambil dari tanaman vetiver dewasa yang telah berumur minimal sekitar 5 bulan sampai dengan 6 bulan;

c) untuk calon bibit, diambil 3 anakan sampai dengan 4 anakan dari bonggol;

d) bibit yang dipersiapkan harus ditambahkan sekitar 5 % dari yang dibutuhkan untuk cadangan jika ada bibit yang mati.

4.3.3 Penanaman

Ketentuan dalam penanaman, meliputi:

a) penanaman dilakukan pada awal musim hujan dan disarankan pada sore hari;

b) jika dilakukan pada musim kemarau, penyiraman dilakukan dua kali dalam sehari, pagi hari dan sore hari, minimal selama 3 bulan pertama sejak penanaman;

c) tata letak tanaman tidak mengganggu fungsi rumaja;

d) penanaman setiap baris selalu berselang-seling dengan barisan di atasnya;

4.3.4 Kemampuan tumbuh tanaman vetiver

Kemampuan tumbuh tanaman vetiver , meliputi:

a) temperatur ambien untuk rumput vetiver adalah -14°C  sampai dengan 55°C

b) rumput vetiver dapat tumbuh di daerah dengan kisaran intensitas curah hujan yang cukup tinggi, yakni 200 mm sampai dengan 5000 mm setiap tahun;

c) tahan terhadap rentang pH tanah 3 sampai dengan 10,5 ;

d) mempunyai tingkat toleransi tinggi terhadap kekeringan;

e) toleran tumbuh pada ketinggian 500 meter sampai dengan 1500 m di atas permukaan laut

f) tidak tahan terhadap naungan;

g) dapat tumbuh dengan baik pada lahan berat (tanah bertekstur lempung/liat) yang :

1) asam, mengandung mangan dan alumunium;
2) bersalinitas tinggi dan mengandung banyak natrium;
3) mengandung logam berat seperti As, Cd, Co, Cr, Pb, Hg, Ni, Zn dan Se.

5 Cara pelaksanaan

5.1 Persiapan bibit dalam polibag

Cara pelaksanaan untuk mempersiapkan bibit dalam polibag, adalah:

a) siapkan polibag dengan ukuran lebar bagian bawah sekitar 7 cm dan tinggi 15 cm;

b) masukkan campuran pupuk dengan tanah subur (setelah didiamkan selama 1 hari) ke dalam polibag yang telah dipersiapkan, sehingga membentuk ukuran diameter sekitar 9
cm dan tinggi sekitar 10 cm

 

c) siapkan potongan/sobekan bonggol kering yang mempunyai 3 anakan sampai dengan 4 anakan untuk setiap polibag, potongan/sobekan bonggol ini merupakan bibit tanaman;

d) tanam bibit ke dalam polibag yang telah berisi campuran media tanah dan pupuk kandang;

e) tempatkan polibag yang sudah ditanami rumput pada tempat yang teduh atau jangan terkena sinar matahari langsung;

e) lakukan penyiraman secara rutin , minimal sehari sekali pada pagi hari (sebelum jam 9);

f) bibit siap untuk ditanam di lapangan, setelah minimal berumur 3 bulan.

5.2 Persiapan sebelum penanaman

Persiapan sebelum penanaman, meliputi:

a) Pemeriksaan tanah

Untuk mengetahui kepekaan tanah terhadap erosi, diperlukan pemeriksaan sifat kimia tanah (yaitu pemeriksaan bahan organik tanah : SNI 19 – 7030 – 2004) dan sifat fisika tanah (yaitu pemeriksaan tekstur tanah dan permeabilitas tanah). Untuk aplikasi lebih jelasnya disajikan pada Lampiran D, dan contoh perhitungannya pada Lampiran E.

Nilai kepekaan tanah terhadap erosi ini diperlukan untuk mempermudah dalam penanaman yaitu, menentukan jarak antarbaris tanaman dan jarak antartunas di dalam barisan

b) untuk skala pekerjaan yang lebih kecil , bisa digunakan pendekatan secara visual dengan melakukan inventarisasi kondisi lapangan antara lain berdasarkan data jenis tanah, ketinggian lereng, sudut talud. Dari data-data tersebut dapat diketahui untuk jenis tanah tertentu, sudut talud dan ketinggian maksimum lereng aman. Tanah rawan erosi umumnya berupa jenis tanah yang tidak mempunyai kohesi (misalnya kepasiran) atau kohesinya kecil (misalnya lanau).

c) Persiapan lapangan

  • bersihkan dari sampah dan tumbuhan liar pada lereng yang sudah didesain (dengan pertimbangan geoteknik dan faktor keamanan, termasuk di dalamnya pembuatan saluran pembuangan air);
  • buang kotoran/sampah ke luar lokasi pekerjaan;
  • lakukan pematokan sesuai dengan kontur tanah dan pengukuran untuk pembuatan lubang tanam (lihat Tabel 1).

5.3 Cara Penanaman

5.3.1 Cara penanaman rumput vetiver

Tahapan dalam penanaman rumput vetiver, adalah:

a) buat jarak antarstrip rumput vetiver (jarak vertikal) dan jarak antartunas rumput pada barisan (jarak horizontal), dengan mengacu pada Tabel 1 berikut;

b) bila lereng merupakan tanah bercadas dibuat lubang penanaman sesuai dengan Tabel 1, dengan garis tengah minimal sekitar 10 cm dan kedalaman 12 cm sampai dengan 15 cm. Lubang arah horizontal dibuat mengikuti garis kontur;

c) bila lereng merupakan tanah gembur yang bukan cadas, dapat dibuat rorak (parit kecil) untuk setiap setrip vetiver dengan lebar 20 cm dan kedalaman 12 cm sampai dengan 15 cm;

d) campurkan pupuk kandang dengan tanah subur dengan perbandingan 1 : 1;

e) Pada setiap alas lubang/rorak yang telah dibuat taburkan pupuk NPK (16:16:16) sebanyak 2 gram per tanaman. Hamparkan di atasnya campuran pupuk kandang dan tanah setinggi 2 cm ;

f) sobek/gunting plastik polibag secara memanjang dari atas ke bawah. Hal ini dilakukan agar akar bibit tidak terganggu/terpotong;

g) lepaskan plastik polibag.

h) Apabila area penanaman merupakan daerah yang kering (contoh di Nusa Tenggara Timur),
plastik polibag tidak perlu dilepas untuk menghindari penguapan yang tinggi, tetapi cukup
disobek/ digunting pada bagian bawahnya sehingga terbuka;

i) masukkan bibit tanaman ke dalam lubang yang sudah dibuat;

Contoh tata letak tanaman vetiver pada lereng tidak rawan, dengan kemiringan 30°

j) isi bagian lubang tanam yang kosong dengan campuran tanah dan pupuk kandang;

k) ratakan kembali seluruh permukaan tanah dengan tanah asli dengan sedikit dipadatkan;

l) lakukan penyiraman seperti yang ditentukan pada pemeliharaan butir 6.a);

5.3.2 Cara penanaman antara setrip vetiver dengan tanaman penutup tanah

Penanaman di antara setrip vetiver dapat dilakukan dengan setek rumput , dengan penanaman berjarak lempengan rumput dan untuk kemiringan 30º dapat digunakan tanaman jenis legum.

a) Penanaman dengan setek rumput;

Tahapan penanaman, meliputi:

1) lubang dibuat berselang seling, yaitu ditanam di antara dua bibit yang sudah ditanam di atasnya;

2) penanaman dengan setek dapat dilihat pada Gambar 4 , Gambar 5 dan Gambar 6.

(a) untuk jarak vertikal setiap setrip vetiver = 80 cm;

(b) untuk jarak vertikal setiap baris vetiver = 120 cm;

(c) untuk jarak vertikal setiap baris vetiver = 160 cm;

b) Penanaman berjarak dengan lempengan rumput;

Tahapan penanaman, meliputi:

  1. bersihkan lereng dari kotoran sampah;
  2. buat lubang pada lereng dengan ukuran: 15 cm x 15 cm, dengan kedalaman lubang 10 cm sampai dengan 15 cm;
  3. buat lubang secara berselang-seling, dengan jarak antartepi lubang 5 cm;
  4. isi satu pertiga dari tinggi lubang dengan campuran tanah dan pupuk kandang;
  5. tanam lempengan rumput pada lubang tersebut;
  6. pasang/tancapkan pasak bambu yang berdiameter 1 cm dan panjang 20 cm pada setiap sudut lempengan rumput;
  7. lakukan penyiraman seperti yang ditentukan pada 6.a).

Untuk lebih jelasnya, hal tersebut dapat dilihat pada Gambar 7, Gambar 8, dan Gambar 9.

(a) untuk jarak vertikal setiap baris vertiver = 80 cm;


(b) untuk jarak vertikal tiap baris vertiver = 120 cm;

(c) untuk jarak vertikal setiap baris vertiver = 160 cm;

6 Pemeliharaan

Untuk meningkatkan kualitas pertumbuhan tanaman, perlu dilakukan pemeliharaan tanaman yang meliputi: penyiraman, penyiangan / pendangiran, pemupukan, penyulaman dan pemangkasan, seperti yang disajikan di bawah ini.

a) Penyiraman dilakukan sejak awal penanaman, dilakukan paling sedikit 3 bulan setelah rumput vetiver selesai ditanam. Permukaan yang ditanami rumput tersebut harus disiram dengan air dengan interval waktu yang teratur menurut kondisi cuaca saat itu. Jumlah air yang disiramkan harus sedemikian rupa sehingga permukaan yang baru ditanami rumput vetiver tidak mengalami erosi, hanyut atau mengalami kerusakan lainnya. Penyiraman air dilakukan pada pagi hari sebelum jam 9 atau pada sore hari setelah jam 4 sore. Selama dua minggu pertama setelah penanaman, disiram setiap hari. Kemudian disiram 2 hari sekali selama 2 minggu berikutnya. Akhirnya disiram 2 kali seminggu hingga usia penanaman 3 bulan. Setelah umur 3 bulan tanaman vetiver diharapkan sudah tumbuh kuat, sehingga tidak perlu lagi dilakukan penyiraman

b) Penanaman kembali/penyulaman dilakukan bila selama tiga bulan pertama setelah penanaman ada tanaman yang tidak tumbuh/mati, dengan cara mengganti dengan tanaman yang baru dari cadangan bibit yang berumur sama. Lakukan pengawasan secara terus menerus sampai tanaman benar-benar tumbuh;

c) Penyiangan/pendangiran dilakukan untuk mengurangi tanaman pesaing vetiver dan juga untuk meningkatkan kemurnian pertanaman vetiver;
Khususnya untuk rumput vetiver, penyiangan sangat penting untuk menghindari tanaman lain tumbuh lebih tinggi dari vetiver. Hal ini akan menghambat pertumbuhan vetiver karena
rumput vetiver tidak tahan naungan.
Penyiangan disarankan dilakukan secara manual karena rumput vetiver sensitif terhadap glifosat (misalnya herbisida round up).

d) Pemangkasan dilakukan terhadap pertumbuhan daun yang sudah berlebihan. Pada umumnya dilakukan setiap 4 bulan sampai dengan 5 bulan sekali pada tahun pertama masa pertumbuhan dengan membiarkan tinggi tanaman sekitar 15 cm sampai dengan 20 cm.
Pemangkasan berikutnya dapat dilakukan 2 kali sampai dengan 3 kali setiap tahunnya.
Maksud pemangkasan ini, selain untuk meningkatkan pertumbuhan tunas baru, juga untuk memperbaiki penampilan tanaman;

e) Pemupukan dilakukan setelah tanaman berumur satu bulan, dengan menggunakan pupuk  amonium sulphat atau ZA (N:P:K = 21 : 0 : 0) dengan dosis setengah sendok teh (sekitar 3  gram) untuk tiap tanaman. Pemberian pupuk ini antara lain dimaksudkan untuk merangsang  pertumbuhan daun. Pemupukan diulangi setelah pemangkasan kedua (sekitar 8 bulan  setelah tanam), dengan menggunakan pupuk NPK (16:16:16) dengan dosis 20 gram per meter panjang barisan vetiver.
Pemupukan selanjutnya dilakukan setiap awal musim hujan dengan menggunakan pupuk  NPK (16:16:16) dengan dosis 20 gram per meter panjang barisan vetiver dicampur dengan 1 kg pupuk kandang. Pemberian pupuk kandang ini agar struktur tanah terjaga baik.

Cara memupuk :

(a) dengan membuat parit kecil berjarak 4 cm sampai dengan 5 cm dari barisan vetiver ke arah bagian atas lereng dengan lebar minimal sekitar 2 cm dan kedalaman sekitar 3 cm sampai dengan 4 cm

(b) taburkan campuran pupuk kandang dengan pupuk NPK pada parit kecil tersebut

(c) tutup kembali dengan tanah

Lampiran A
(normatif)
 Penjelasan tentang rumput vetiver

Nama latin rumput vetiver yaitu Vetiveria zizanioides STAPF atau disebut juga Andropogon zizanioides URBAN atau A. muricatus RETZ atau A. squarrosus LINN. Jenis rumput ini mempunyai nama berbeda untuk daerah-daerah di wawasan Nusantara, seperti : DI Gayo : useur; di Manado : akar babau; di Timor : akar banda; di daerah Sunda : Janur, Narawasatu, usar; di Jawa : Larasetu, Larawastu, Rarawestu; di Madura : Karabistu; di Bali : Anggarawastu, Padang babad sanur; di Gorontalo : Tahele; di Makasar : Narawasatu, sare ambong; di Bugis :  Nawarasatu, sere bandong; di Ternate : Gara ma kusu batawi; di Tidore : Bara ma kusu batai; di  Halmahera utara : Ruju-ruju; di Halmahera selatan : Babuwa mendi (weda) Vetiver, yang di Indonesia dikenal sebagai akar wangi (Vetiveria zizanioides), adalah sejenis rumput-rumputan berukuran besar yang memiliki banyak keistimewaan. Di Indonesia rumput ajaib ini baru dimanfaatkan sebagai penghasil minyak atsiri melalui ekstraksi akar wangi, tetapi di mancanegara vetiver banyak dimanfaatkan untuk berbagai keperluan ekologis dan fitoremediasi (memperbaiki lingkungan dengan menggunakan tanaman) lahan dan air, seperti rehabilitasi lahan bekas pertambangan, pencegah erosi lereng, penahan abrasi pantai dan stabilisasi tebing melalui teknologi yang disebut Vetiver Grass Technology (VGT) atau Vetiver System (VS), sebuah teknologi yang sudah dikembangkan selama lebih dari 200 tahun di India.

Vetiver System adalah sebuah teknologi sederhana yang berbiaya murah dengan memanfaatkan tanaman vetiver hidup untuk konservasi tanah dan air serta perlindungan lingkungan. VS sangat praktis, tidak mahal, mudah dipelihara, dan sangat efektif dalam mengontrol erosi dan sedimentasi tanah, konservasi air, serta stabilisasi dan rehabilitasi lahan.

Vetiver juga mudah dikendalikan karena tidak menghasilkan bunga dan biji yang dapat cepat menyebar liar seperti alang-alang atau rerumputan lainnya.

Keistimewaan vetiver sebagai tanaman ekologis disebabkan oleh sistem perakarannya yang unik. Tanaman ini memiliki akar serabut yang masuk sangat jauh ke dalam tanah (saat ini rekor akar vetiver terpanjang adalah 5.2 meter yang ditemukan di Doi Tung, Thailand).

Akar vetiver diketahui mampu menembus lapisan setebal 15 cm yang sangat keras. Di lerenglereng yang keras dan berbatu, ujung-ujung akar vetiver mampu masuk menembus dan menjadi semacam jangkar yang kuat. Cara kerja akar ini seperti besi kolom yang masuk ke dalam menembus lapisan tekstur tanah dan pada saat yang sama menahan partikel-partikel tanah
dengan akar serabutnya. Kondisi ini bisa mencegah erosi yang disebabkan oleh angin dan air sehingga vetiver dijuluki sebagai “kolom hidup”.

Keajaiban vetiver lainnya adalah daya adaptasi pertumbuhannya yang sangat luas. Di bawah ini disajikan gambar perakaran rumput vetiver.


Vetiver menahan laju air run-off dan material erosi yang terbawa dengan tubuhnya. Daun dan batang vetiver memperlambat aliran endapan yang terbawa run-off di titik A sehingga tertumpuk di titik B. Air terus mengalir menuruni lereng C yang lebih rendah. Akar tanaman (D) mengikat tanah di bawah tanaman hingga kedalaman 3 meter. Dengan membentuk “tiang” yang rapat dan dalam di dalam tanah, akar-akar ini mencegah terjadinya erosi dan longsor. Vetiver akan efektif jika ditanam dalam barisan membentuk pagar. Proses itu secara detail dapat dilihat pada Gambar A.2

kar-akar vetiver yang masuk ke dalam tanah sedalam ± 3 meter akan berfungsi seperti kolomkolom  beton yang menahan tanah agar tidak longsor sehingga tanah menjadi stabil. Barisan itu  juga menahan material erosi di belakang tubuhnya yang dapat mengurangi kecuraman dan  akhirnya membentuk teras-teras yang lebih landai.

Lampiran B
(normatif)
Penjelasan tentang tanaman penutup tanah

Tanaman penutup tanah dalam pedoman ini dapat dibagi dalam : tanaman penutup tanah jenis rumput dan tanaman penutup tanah jenis legum (kacang-kacangan).

a) Tanaman penutup tanah dari jenis rumput-rumputan

Tanaman yang disarankan adalah:

1) Rumput bahia (bahia grass = Paspalum notatum);

Rumput bahia (Paspalum notatum) merupakan jenis rumput yang tumbuh horizontal  pada permukaan tanah, pertumbuhannya sangat kuat mengikat tanah. Hasil penelitian  Puslitbang Jalan (1984) menunjukkan bahwa jenis tanaman ini ditanam dengan menggunakan bibit tunas pada luas tanah 1m², dengan jarak tanam 10 cm X 10 cm dapat menutupi permukaan tanah 100 % dalam waktu 3 bulan.

Jenis ini pun mempunyai perakaran cukup dalam, dari penelitian yang telah dilakukan  oleh Puslitbang Jalan, akar terpanjang yang pernah dicapai adalah 1,5 meter. Gambar rumput bahia disajikan pada Gambar B.1.

Karena sifat daun, batang, ataupun daun rumput seperti fungsi tanaman tersebut di  atas, Saifuddin (1983), menganjurkan penanaman dua jenis rumput, yaitu yang  tumbuhnya vertikal dan rumput-rumput yang tumbuhnya horizontal dengan bagian batangnya (stolon) yang merambat. Dua sifat ini, secara visual dapat dipenuhi oleh tanaman vetiver dan bahia.

2) Rumput pait = Axonopus compressus (Swartz) Beauv ;

b) Tanaman penutup tanah dari jenis kacang-kacangan (legum).

Daun-daun tanaman penutup tanah jenis ini tidak melekat/rapat dengan tanah seperti rumput. Namun, jenis ini mempunyai sifat-sifat seperti:

  1. cepat tumbuh;
  2. mampu melindungi permukaan tanah terhadap hempasan air hujan;
  3. tahan naungan;
  4. tahan kekeringan;
  5. dapat mencegah pertumbuhan tumbuhan liar;

Jenis legum seperti ini, misalnya :

  1. Centrosema pubescens BENTH (nama daerah : sentro);
  2. Calopogonium mucunoides DESV (nama daerah di Jawa : kacang asu);
  3. Pueraria javanica BENTH (nama daerah di Jawa : kacang ruji , krandang; di Ternate :  Fuo banga)

Penanaman dengan menggunakan jenis legum ini dapat terdiri dari satu jenis tanaman saja atau dapat pula ditanam bersama-sama. Bila digunakan bersama-sama dengan biji legum, untuk satu meter persegi dibutuhkan 1,2 gram Centrosema pubescens + 1,8 gram Calopogonium mucunoides + 1,2 gram Pueraria javanica (hasil penelitian Puslitbang Jalan dan Jembatan, 1990).
Atau dapat digunakan legum yang sudah merupakan bibit dalam polibag sebagai berikut:

KETERANGAN :

  1.  Sebelum dilakukan penanaman, ada beberapa perlakuan untuk benih legum ini, antara lain :
    a) direndam dalam air hangat selama 2 jam pada temperatur 75ºC, atau
    b) direndam dalam larutan gliserin selama 2 jam pada temperatur 60ºC, atau
    c) direndam dalam larutan asam (asam sulfat) selama 8 – 15 menit, atau
  2. tingkat pertumbuhan minimal untuk beberapa jenis legum adalah:
    a) 40 % untuk Calopogonium mucunoides BENTH.
    b) 60 % untuk Pueraria javanica BENTH.

Apabila prosentase pertumbuhan di bawah standar, kebutuhan benih dapat ditambah secara proporsional.

Lampiran C
(normatif)
Gambar perkuatan lereng dengan bambu

Maksud perkuatan dengan bambu ini adalah untuk penyangga sementara barisan vetiver yang belum tumbuh (bila diperlukan).

Lampiran D
(normatif)
Kriteria kelas kepekaan tanah terhadap erosi

Indeks kepekaan tanah terhadap erosi atau erodibilitas tanah (K) merupakan jumlah tanah yang hilang rata-rata setiap tahun tanpa persatuan indeks daya erosi curah hujan pada sebidang tanah tanpa tanaman (gundul), tanpa usaha pencegahan erosi.

Kepekaan tanah terhadap erosi dipengaruhi oleh tekstur tanah (terutama kadar debu + pasir halus), bahan organik, struktur dan permeabilitas tanah.

Nilai K dapat dicari melalui:

a) model persamaan;

Model persamaan untuk mendapatkan nilai K menurut Wischmeier et al (1971) sebagai berikut:

Keterangan:
K adalah erodibilitas tanah;
M adalah (persentase pasir sangat halus dan debu) X (100 – persentase liat (clay));
a adalah persentase bahan organik (% C-organik X1,724);
b adalah kode struktur tanah;
c adalah kode kelas permeabilitas penampang tanah.

KETERANGAN :
Pasir sangat halus dan debu adalah fraksi dengan diameter 0.002 mm sampai dengan 0.10 mm

Tahapan perhitungan:

1) Nilai M dan c diperoleh dari pengujian sifat fisika tanah;
Nilai M diperoleh melalui pemeriksaan teksur tanah dan c diperoleh melalui pemeriksaan permeabilitas tanah.
Dari tipe permeabilitas tanah yang diperoleh, dicari kode penilaiannya dengan mengacu pada Tabel D.1 berikut.

 

2) Nilai a diperoleh dari pengujian sifat kimia tanah , mengacu SNI 19-7030-2004 Untuk kadar bahan organik > 6 % (agak tinggi sampai dengan sangat tinggi), angka 6 % tersebut digunakan sebagai angka maksimum.

3) Nilai b, diperoleh dengan mengamati struktur tanah secara visual di lapangan Penilaian struktur tanah, menggunakan Tabel D.2 berikut.

4) Setelah parameter-parameter M, a, b, c, diperoleh, masukkan ke dalam rumus:

Setelah nilai K diperoleh, untuk mengetahui kelas erodibilitas tanah dapat mengacu pada Tabel D.3 berikut.

Keterangan:
uraian kelas erodibilitas tanah untuk nilai K, dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu :

  • tanah dengan tingkat erodibilitas sangat rendah sampai dengan rendah: K ≤ 0,20
  • tanah dengan tingkat erodibilitas sedang sampai dengan sangat tinggi: K > 0,20

5) dari kelas erodibilitas tanah yang diperoleh menjadi acuan dalam penanaman, yaitu menentukan jarak antarstrip vetiver dan jarak rumput dalam baris, seperti yang tercantum dalam Tabel 1 (lihat 5.3.1. Cara penanaman rumput vetiver)

b) Dengan nomograf.

prosedur untuk mendapatkan nilai K dengan menggunakan nomograf dapat dilihat pada Gambar D di bawah ini :

1) Lihat nomograf I

a) baca nomograf dari sisi kiri dari skala vertikal dengan informasi yang telah diketahui tentang persentase debu (silt) dan pasir sangat halus (very fine sand);

b) ikuti secara horizontal sampai bertemu kurva persentase pasir (sand) yang sesuai,  kemudian interpolasikan pada angka persentase yang paling dekat;

c) ikuti secara vertikal sampai mendapatkan angka kandungan unsur organik yang sesuai;

d) lanjutkan penelusuran secara horizontal ke arah kanan, menyentuh nomograf II.

2) Lihat nomograf II

a) penelusuran secara horizontal dari nomograf I di atas (lanjutan dari butir 1.d) di atas), sampai menemukan kurva struktur tanah yang sesuai;

b) dari perpotongan tersebut, lanjutkan penelusuran secara vertikal sampai menemukan kurva permeabilitas yang sesuai;

c) lanjutkan penelusuran secara horisontal ke arah skala erodibilitas tanah yang berada di sisi kiri dari bagian nomograf II untuk mendapatkan nilai faktor K.

Untuk lebih jelasnya contoh perhitungan penentuan besarnya nilai K dengan nomograf, disajikan pada Lampiran E

Lampiran E
(normatif)
 Contoh perhitungan untuk mendapatkan nilai erodibillitas tanah (K) dengan nomograf

1) Karakteristik tanah yang sudah diketahui:

a. debu + pasir sangat halus (0.002 – 0.10 mm) = 65 % ) —  hasil analisis fisika tanah

b. pasir (0.10 mm sampai dengan 2.00 mm) = 20 % ) — hasil analisisi fisika tanah

c. kandungan bahan organik = 3 % ———————– hasil analisis kimia tanah

e struktur tanah : granuler halus —————————– hasil analisis visual di lapangan berdasarkan klasifikasi struktur tanah , termasuk katagori 2

f. permeabilitas tanah : sedang ——————————- hasil analisis fisika tanah

2) Tentukan besarnya faktor erodibiltas tanah (K)

3) Jawab :


1) lihat nomograf I

a) jumlah persen debu (silt) dan pasir sangat halus (fine sand) = 65 %;

b) beri tanda untuk nilai 65 pada skala vertikal (bagian kiri dari nomograf I)  titik A;

c) tarik garis horizontal sehingga memotong kurva persentase pasir (0.10 – 2.00 mm) = 20 %  titik B;

d) dari titik B tarik garis vertikal sehingga memotong angka bahan organik = 3 %  titik C;

e) dari titik C tarik garis horizontal sehingga memotong kurva struktur tanah pada nomograf II.

2) lihat nomograf II

a) garis horizontal dari titik C memotong kurva struktur nomor 2 (granular halus) ——– titik D;

b) dari titik D , tarik garis vertikal ke bawah berpotongan dengan nilai permeabilitas tanah: sedang (kelas nomor 5)  titik E;

c) dari titik E, tarik garis horizontal ke sebelah kanan, berpotongan dengan garis vertikal bagian kiri dari nomograf II  titik F;

d) titik F menunjukkan angka 0,45;

e) tahapan-tahapan di atas menunjukkan tanah ini mempunyai nilai erodibilitas tanah = K = 0,45;

f) untuk melihat nilai K = 0.45 termasuk dalam kelas erodibilitas yang mana, dapat dilihat pada Tabel di bawah ini (sama dengan Tabel D – 3 di atas);

g) berdasarkan tabel di atas, maka nilai K = 0.45 termasuk kelas erodibilitas tanah: tinggi;

h) bila melihat tabel 1 (lihat 5.3.1. Cara Penanaman Rumput Vetiver), maka tata letak penanaman vetiver untuk :

  • jarak antar setrip rumput vetiver
  • jarak antar rumput (antar tunas) pada barisan  —— mengacu pada nilai Erodibilitas tanah = K > 0.20

Maka :

Lampiran F
(normatif)
Penataan rumput vetiver pada kemiringan 45o, jarak antar setrip vetiver 40 cm

Lampiran G (normatif)
Penataan rumput vetiver pada kemiringan 45o, jarak antar setrip vetiver 80 cm

Lampiran H (normatif)
Penataan rumput vetiver pada kemiringan 45o, jarak antar setrip vetiver 120 cm

Lampiran I (normatif)
Penataan rumput vetiver pada kemiringan 45o, jarak antar setrip vetiver 160 cm

Bibliografi

Anonymous, 2008. Bahia Grass. http://www.pasturepicker.com.au

Dangler, E.W., and S.A. El-Swaify.1976. Erosion of Selected Hawaii Soils by simulated rainfall. Soil Sci. Soc. Am

Departemen Kehutanan, 1998. cit Umiyati Lestari, , S.Pd. —-. Erosi Tanah

Hardjowigeno, Sarwono., Dr., Ir., MSc, 2007. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo, Jakarta

Jani Agustin, 2009. Vetiver untuk Pengendalian Erosi dan Stabilitas Lereng. Direktorat Jenderal Bina Marga. Departemen Pekerjaan Umum

Laboratorium Fisika Tanah UNPAD, 2006. Penuntun Praktikum Fisika Tanah

Paul Truong, Tran Tan Van and Elise Pinners, 2008. Vetiver Grass – The Plant. The Vetiver System, Vietnam 2000 – 2008

Paul Truong, 2008. Vetiver System Technology for Infrastructure Protection. Brisbane – Australia

Pedoman Penanggulangan erosi permukaan lereng jalan dengan tanaman, 2002. Departemen PU nomor : Pt T-04-2002-B.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan, 1987. Penelitian berbagai jenis Rumput pada Berbagai Jenis Tanah. Balitbang, Departemen PU

Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan, 1990. Penelitian penanggulangan Erosi lereng jalan dengan Metoda Vegetatif dan Kimia di Tasikmalaya, Balitbang, Departemen PU

RSNI. Pedoman Konstruksi dan Bangunan, tentang Penanggulangan erosi Permukaan Lereng Jalan dengan Rumput. 1999.

Rully Wijayakusuma, 2007. Stabilisasi Lahan dan Fitoremediasi dengan Vetiver System, Green Design Seminar

Setijati Sastrapradja dan Johar Jumiati Afriastini, 1980. Jenis Rumput Dataran Rendah, Lembaga Biologi Nasional – LIPI, Bogor. Halaman 44 – 45

Spesifikasi penguatan tebing, 1991. Binkot Departemen PU nomor : 11/S/BNKT/1991.

Tim Penyusun Kamus PS, 2005. Kamus Pertanian Umum. Penebar Swadaya.

T.T.Van., L.V. Dung, , Ph.D Phuoc and L.V. Du, —-. Vetiver System For Natural Disaster Mitigation and Environmental Protection in Vietnam. – An Overview

Wischmeier, W.H., C.B. Johnson, and B.V. Cross, 1971. A Soil Erodibility nomograph for  farmland and construction sites. Jour. Soil and Water Conservation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s