Wardojo dan C. Nugroho Sulislyo Priyono

PETUNJUK TEKNIS PEMBUATAN SEKAT RUMPUT (GRASS BARRIER)

Oleh:  Wardojo, C. Nugroho Sulislyo Priyono

DEPARTEMEN KEHUTANAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN BALAI TEKNOLOGI PENGELOLAAN DAS
J1. A. Yani – Pabelan No. : 340 po. Box. 295
Telp I Fax (0271) 716709, 716959
SURAKARTA

Download file: Juknis_Sekat_Rumput

KATA PENGANTAR 

Penyediaan altematif praktek konservasi tanah baik teknik sipil maupun vegetatif dimaksudkan agar para perencana maupun pelaksana mempunyai pilihan yang cukup untuk menyelesaikan persoalan degradasi tanah di wilayahnya. Sekat rumput (grass barrier) merupakan salah satu altematif praktek konservasi tanah yang praktis, murah dan mudah dilaksanakan. Dengan demikian maka diharapkan penerapan praktek konservasi lanah dapal sesuai dengan kondisi lokasi.

Petunjuk Teknis Pembuatan Sekat Rumput (Grass barrier) ini menguraikan secara praktis cara pembuatan sekat rumput. Ketentuan teknis yang dipakai didasarkan pada pengalaman lapangan dan ujicoba yang dilaksanakan oleh BTPDAS di berbagai lokasi penerapan. Informasi tentang manfaat diperoleh dan peneJitian yang dilaksanakan BTPDAS dan sumber-sumber lain yang terkait.

Kritik dan saran membangun sangat diharapkan untuk penyempurnaan benkutnya.

Semoga buku ini bcrmanfaat scsuai yang dimaksudkan.

Solo. 1996

Kepala Balai.
Dr. Ir_ R. Sudradjat, MSc
NIP. 080026707

I. PENDAHULUAN

Pertambahan penduduk yang terus meningkat menuntut kebutuhan akan lahan yang terus meningkat pula. Padahal lahan merupakan sumberdaya alam yang ketersediaannya relatif terbatas. Oleh karena itu pemanfaatan lahan dalam menunjang kebutuhan kchidupan rnanusia harus berasaskan kelestarian.

Lahan dapal dimanfaatkan secara lestari apabila dalam pengelolaannya memperhatikan kaidah-kaidah konservasi tanah. Praktek konservasi tanah akan memperkecil berbagai dampak negatif seperti penurunan produktititas lahan, peningkatan erosi dan sedimentasi, peningkatan frekuensi banjir dan kekeringan dapat diperkecil.

Berbagai dampak negatif tersebut terdapat pada sebagian besar lahan kering di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) di Indonesia. Hal tersebut disebabkan kurangnya perhatian masyarakat lerhadap upaya konservasi tanah. Di sisi lain telap diperlukan altematif teknologi konservasi tanah sehingga praktek konservasi tanah dapal diterapkan sesuai dengan kondisi lokasi.

Bertitik tolak dari upaya untuk menyediakan altematif teknologi konservasi tanah yang sesuai dengan kondisi biofisik dan sosial ekonomi masyarakat petani di DAS bagian hulu maka disusun suatu petunjuk teknis pembuatan sekat rumput  (rrass barrier).

Pengalaman lapangan juga menunjukkan bahwa upaya konservasi tanah akan dapat diterapkan dcngan baik apabila biaya yang dibutuhkan rendah atau dapat terjangkau petani pengelola lahan, menjamin peningkatan produksi dan pendapatan serta sesuai dengan kondisi biofisiknya. Dalam hal ini penerapan sekat rumput sangat sesuai dengan persyaratan tersebut.

Buku pedoman teknis pembuatan sekat rumput (grass barrier) ini disusun bcrdasarkan uji coba penerapan yang dilakukan Balai Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BTPDAS) Solo, sedangkan informasi mengenai manfaat dan keunggulannya diperoleh dari data hasil penelitian BTPDAS serta pustaka yang terkait.

II. PENGERTIAN DAN MANFAAT

A. Pengertian

Ada beberapa deskripsi teknis untuk menggambarkan bentuk sekal rum put, antara lain:

  1. Sekat rum put adalah salah satu teknik konservasi tanah metode vegetatif, dengan  cara menanam rumput dalam strip-strip memotong lereng, berselang seling dengan tanaman pokok (Dit jen RRL, 1995).
  2. Sekat rumput adalah jalur rumput secara permanen yang ditanam mengikuti garis tinggi (Anonimus, 1977).

Dari dua deskripsi tersebut dapat ditarik suatu gambaran umum bahwa sekat  rumput merupakan praktek konservasi tanah dengan penanaman rumput menyusur  garis kontur atau garis tinggi. Cara penanaman dan jenis rumput yang digunakan disesuaikan dengan kondisi lokasi.

Gambar J : Praktek konservasi tanah dengan sekat rumput.

B. Manfaat

Menurut Wardojo (1995) keuntungan dari pemanfaatan teknik konservasi tanah secara vegetatif dengan menggunakan sekat rumput adaJah:

  • Dapat memperkecil aliran permukaan dan menurunkan erosi yang terjadi.
  • Dapat meningkatkan pendapatan petani.
  • Tidak menaungi tanaman pokok karena tanaman rumput sering dipangkas. sehingga tidak berpengaruh merugikan pada budidaya tanaman yng menghendaki penyinaran matahari penuh (misalnya tanaman sayur-sayuran).

Keuntungan lain dari pemanfaatan sekat rumput adalah dapat memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah (Dody P dkk. 1995). serta dapat memacu proses regenerasi tanah (Susilowati dan Paimin, 1993). Sedang Sofiyah (1983) mengemukakan bahwa pemanfaatan sekat rumput dapat membentuk teras secara alami, karena tanah yang terhanyut oleh limpasan permukaan pada petak pertanaman tertahan pada sekat rumput dibawahnya.

III. PEMBUATAN SEKAT RUMPUT

A. Kondisi Lapangan

Praktek konservasi tanah seeara vegetatif dengan menggunakan sekat rumput dapat diterapkan pada lahan kering dengan kondisi sebagai berikut:

  • Kelerengan lahan kurang dari 45%
  • Lapisan tanah olah dangkal (kurang dari 25 em) atau sudah tidak layak untuk dibuat teras bangku.
  • Pada areal dengan jenis tanah tertentu yang mempunyai stabilitas rendah (misalnya tanah pasiran. tanah laharan dll) sehingga tidak coeok untuk pembuatan teras bangku
  • Ketersediaan tenaga kerja sangat terbatas atau pada wilayah yang berpenduduk jarang.
  • Kelerengan lahan masih a1ami atau teras yang ada masih bersifat miring ke depan dan teras gulud.

B. Jenis Rumput

Jenis rumput yang ditanam sebagai sekat rumput sebaiknya dipilih yang paling cocok untuk wilayah setempat atau jenis rumput yang mempunyai potensi untuk dikembangkan dan eocok dengan kondisi lingkungan setempat. Pemilihan jenis rumput perlu mempertimbangkan beberapa hal. antara lain:

  • Sifat pertumbuhan rumput (menjalar, merumpun dsb)
  • Arah pcngembangan ternak sebagai upaya pemanfaatan rumput (temak besar,  temak kecil dsb). Konsumsi rumput temak besar akan berbeda dengan ternak  kecil.
  • Jenis tanaman yang akan dibudidayakan di lahan olah (tanaman semusim atau tahunan). Rumput dengan pertumbuhan pendek lebih sesuai untuk areal budidaya
    tanaman pangan, sedangkan rumput yang meninggi eoeok unluk areal dengan tanaman tahunan.
  • Kondisi iklim dan tanah dalam kaitannya dengan keeoeokan jenis lanaman rumput.

Adapun beberapa jenis rum put yang dikenal sebagai tanaman konservasi tanah antara lain:

  • rumput akar wangi (Vetivera zizanoides)
  • rumput bebe (Brachiaria brizantha)
  • rumput bahia (Paspalum notatum)
  • rumput setaria (Setaria sphacelata)
  • rumput raja (Pennisetum purpupoides)
  • rumput gajah (Pennisetum purpureum)

Sifat umum pertumbuhan masing-masing jenis rumput yang disebutkan di atas dapat diuraikan sebagai berikut;

1. Rumput Akar Wangi (Veriveria zizanoides)

  • rumpun tinggi dan kuat
  • perakaran vertikal dan dalam
  • tidak tahan naungan
  • sesuai pada tanah yang lembab (drainase kurang baik)
  • harus sering dipangkas untuk mempercepat perkembangan rumpun.
  • akamya mempunyai nilai ekonomi tinggi
  • hanya kuncup awal setelah pangkasan yang dapat digunakan sebagai pakan temak.

2. Rumput Bebe (Brachiaria brizantha).

  • pertumbuhannya menjalar dan rendah
  • tahan kering
  • cepat tumbuh
  • penjalarannya harus sering diarahkan pada arah tertentu bila tidak ingin mengganggu tanaman utama.

3. Rumput Bahia (Paspalum notatum)

  • menjalar dengan stolon
  • berakar dalam
  • tinggi bisa mencapai 0.6 m atau lebih
  • tahan kering dan mudah berkembang.

4. Rumput Setaria (Setaria spacelata)

  • pertumbuhannya merumpun
  • cocok untuk temak kecil
  • kurang tahan kering
  • sudah umum digunakan sehingga mudah memperoleh bibit

5. Rumput Raja (Pennisetum purpoides)

  • tumbuh merumpun dan tinggi
  • berpelepah besar sehingga hanya cocok untuk ternak besar.
  • kurang cocok untuk lahan tanaman pangan

6. Rumput Gajah (Pennisetum purporeum)

  • tumbuh merumpun dan meninggi
  • harus sering dipangkas untuk mempercepat perkembangan rumpun.
  • sudah banyak digunakan dan cocok untuk temak besar
  • tahan terhadap kekeringan

C. Cara Pembuatan Sekat Rumput

1. Jarak antar sekat rumput.

Jarak antar sekat rumput tergantung pada kemiringan lahan. Semakin besar lereng semakin rapat jarak antar sekat rumput. Untuk keperluan praktis maka penentuan jarak sekat rumput mengikuti prinsip penentuan bidang olah pada pembuatan teras bangku (Anonimus, 1995). Dengan demikian maka penentuan  jarak antar sekat rumput mempergunakan persamaan yang dipakai pada pembuatan teras bangku sebagai berikut:

 JAS = Vi / Sin a

Keterangan :
JAS = jarak antar sekat (m)
Vi = vertikal interval (01)
Sin a = kemiringan lereng (derajat) apabila lereng dalam satuan % harus dikonversi menjadi satuan derajat (satuan % dibagi dengan 2.222).

Vertikal interval (Vi) dapat ditentukan dengan menggunakan label berikut

Contoh Perhitungan:
lereng = 21 % dikonversi dalam derajat menjadi 9

Berdasarkan tabel l; Vi = 0,625,

maka

Jarak antar sekat =  0,625 / sin 9 = 0,625/0,156 = 4 meter

Penggunaan persamaan tersebut di atas hanya dipergunakan untuk menentukan jarak antar sekat pada lahan yang sama sekali belum dibuat teras (lereng alami).

Persamaan tersebut tidak berlaku untuk lahan yang telah dibuat teras bangku miring ke depan ataupun teras gulud. Namun demikian persamaan tersebut tetap dapat dipergunakan sebagai acuan apabila lebar bidang olah teras atau jarak antar teras gulud terlalu lebar.

2. Jumlah larikan dan jarak tanlam.

Jarak antar larikan dan jarak tananl sekat rumput tergantung dari kemiringan lereng. Lereng yang terjal akan memungkinkan limpasan permukaan yang besar dan cepat sehingga pengendalian limpasan pemukaan dan erosi akan memerlukan
sekat rumput yang kuat dan rapat. Dengan demikian maka pada areal dengan kemiringan besar akan membutuhkan jumlah larikan yang banyak serta  jarak tanam antar larikan dan dalam larikan semakin rapat. Jumlah larikan tiap sekat rumput minimal 2 larik dengan jarak antar larikan selebar 30 cm, jarak
tanam pada satu larikan selebar 20 cm. Apabila jumlah larikan lebih dari dua, disarankan jarak antar larikan diperpendek menjadi 20 cm. Jarak antara sekat rumput dengan tanaman pokok 25 – 50 cm, agar tanaman rumput tidak menggangu
pertumbuhan tanaman pokok.

3. Arah larikan

Efektifitas sekat rumput dalam pengendalian limpasan permukaan dan erosi juga dipengaruhi oleh arah larikan. Pada prinsipnya arah larikan harus memotong lereng atau mengikuti garis kontur. Penentuan arah larikan dilakukan dengan memasang ajir pada lereng utama dengan jarak antar sekat sesuai hasil perhitungan dengan rumus (1). Pada contoh perhitungan di muka,  maka pada areal dengan lereng 21 % dibuat jarak antar sekat rumput 4 meter. Ajir kemudian dipasang menyusur kontur atau ditancapkan pada lokasi dengan ketinggian yang sama. Dengan demikian maka bila kelerengan berubah maka jarak antar sekat juga berubah. Makin tinggi kemiringan maka jarak antar larikan ajir makin rapat. Penentuan ketinggian yang sama dapat menggunakan alat optis penyipat datar ataupun penyipat datar sederhana (unting-unting,  slang plastik diisi air).

4. Pengolahan tanah

Untuk mendukung pertumbuhan tanaman rumput yang baik, maka pengolahan tanah perlu dilakukan,  terutama pada lahan kering yang semula diberokan. Pada saat mengerjakan pengolahan tanah sekaligus dibuat guludan,  sesuai dengan lebar
larikan yang diinginkan. Pcngolahan tanah dan pembuatan guludan bcrpcdoman pada arah larikan yang telah ditentukan.

5. Penanaman

Saat penanaman rumput yang paling baik adalah pada awal musim penghujan. Hal ini dimaksudkan agar pada saat curah hujan sudah tinggi,  sekat rumput sudah dapat berfungsi sebagai pengendali limpasan dan erosi yang terjadi. Sekat rumput ditanam berselang-seling dengan tanaman pokok. Bahan pertanaman dapat menggunakan stek ataupun pull, sesuai dengan jenis rumput yang ditanam.

D. Pembuatan Sekat Rumput untuk Pengendali Jurang

Sekat rumput tidak hanya efektif untuk pengendali erosipermukaan di lahan olah, tetapi juga dapar digunakan unruk pengendalian erosi jurang, Penggunaan sekat f\lmpU! unluk pengendalian erosi jurang dilakukan dengan menanam larikan rumpu! searah konlur pad a rcbing jurang. Bila jarak anrar sckar rumpur di lahan olah ditentukan berdasarkan vertikal interval, maka di rebing jurang sekat rumput ditanam berdasarkan kemiringan. Pada prinsipnya pangkal barang rumpu! yang dibagian atas harus sama atau lebih rendah dari ujung aras rumpur di bagian bawahnya (Gambar 6)

IV. PEMELIHARAAN

Setelah bibit rumput ditanam dan mulai tumbuh maka usaha pemeliharaan berupa penyulaman perlu segera dilakukan terhadap tanaman yang mati atau tidak tumbuh. Hal ini dilakukan agar larikan sekat rumput yang terbentuk dapat seragam dan tidak terputus. Perbaikan guludan yang rusak juga perlu agar limpasan permukaan yang terjadi tidak memotong larikan.

Selain itu usaha pemeliharaan berupa pcmangkasan rumput perlu dilakukan. agar tidak mengganggu tanaman pokok. Pengalaman lapangan menunjukkan bahwa pemangkasan rumput secara periodik akan mempercepat perkembangan rumput ke samping. Pemangkasan dilakukan setelah tanaman rumput menutup tanah dengan baik. Pemangkasan rumput setinggi 5 – 10 cm dari pemukaan tanah atau disesuaikan dengan jenis rumput yang ditanam. Pemangkasan dilakukan setiap 1.5 – 2 bulan sekali pada musim penghujan dan 3 – 4 bulan sekali pada musim kemarau ataupun disesuaikan dengan pertumbuhan dann jenis rumput yang ditanam.

V. PENUTUP

Meskipun buku petunjuk teknis Pembuatan Sekat Rumput (Grass barrier) ini disusun dari hasil uji coba di berbagai kondisi lahan kering yang berbeda, namun mengingat kondisi biofisik dan sosial ekonomi masyarakat petani lahan kering di hulu DAS sangal bervariasi, maka dalam penerapan di lapangan harus tetap disesuaikan dengan kondisi setempat

Beberapa penyesuaian yang memungkinkan untuk dilaksanakan antara lain:

  • Pemilihan jenis rumpul yang cocok dengan kondisi fisik lokasi
    Dalam satu sekat rumpul terdapat beberapa jenis rumput yang berbeda dengan sifat pertumbuhan yang saling melengkapi,  misalnya kombinasi rumput merambat dan merumpun.
  • Mengkombinasikan penerapan sekat rumpul dengan praktek konservasi tanah yang lain dalam suatu hamparan yang sama,  misalnya kombinasi antara sekat rumput dengan hillside ditches.

Untuk kesinambungan pemanfaatan sekat rumput disarankan agar penerapan sekat rumput juga dikaitkan dengan pengembangan ternak setempat. Dengan demikian maka program penerapan praktek konservasi tanah juga perlu dikaitkan dengan program lainnya terutama bidang pentanian dalam arti luas.

 KEPUSTAKAAN

1. Anonimus. 1985. Pedoman Pembootan Teras Bangku, Dir. Jen. Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan, Jakarta.

2. Anonimus. 1995. Petunjuk Teknis Uji Coba Pembobotan Strip Rumput (Grass Barrier), Dit. Jen. Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan, Jakarta.

3. Dody Prakosa, C Nugroho Sulistyo Priyono dan Suicresno. 1995. Kajian Reklamasi Lahan Kritis Bekas Letusan GUnung Berapi di GUIIUIIg Merapi Jowa Tengah. Makalah hasil hasil Penelitian BTPDAS Surakarta.

4. Mcilroy, R 1. 1976. Pengantar Budidaya Padang Rumput Tropika. PT Pradnya Paramita. Jakarta.

5. Siti Susilowati dan Paimin. 1993. Rehabilitasi Tallah Dangka! dOll Marjinal. Penelitiall Terapan Pengelolaan Lahan di Desa GUlIllIIgsari, Kec WOIlOsegoro, Kab. Boyolali. Makalah Semillar Hasi! kajiall BTPDAS Surakarta.

6. Sofiyah Abunyamin, dkk. 1983. Strip Rumput Pernll1l!eII Sebagai Salah Satu Cora KOIlServasi TalllJh . Pusat Penelitian Tanah Bogor.

7. Wardojo. 1995. TilljaulJll Pellerapan Sekat Rumput pada Pengeioiaall Lahall Tembakau di Sub DAS Progo Hulu (Kabupatell Temallggung). Jurnai Pengelolaafl DAS. BTPDAS Surakarta.

DATA PENULIS

WARDOJO
Lallir di Klaten, 19 Mci 1953
Lulus Fakultas Pertanian UNlSRlSurakarta 1988
Mulai be.kerja di BTP DAS Surakarta sejak tallun 1972
Sekarang sebagai calon peneHti pnda BTP DAS Surakarta.

NUGROHO SULISTYO PRIYONO
Lallir di Patio 16 Nopember 1960
51 Fakultas Teknologi Pertanian UGM. Tahun 1984
S2 Dept. of Soil Science, Massey University Palmerslon North
. New Zaeland TaIlu” 1993
Mulai bekerjadi BTP DAS Surakarta Tahwl 1984
Sekarang sebagai Asislen Penelili Muda dan Ketua Kelti
Sumber Daya Lahan, BTP DAS Surakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s