Reka Bumi Enviro

PROPOSAL PEMASANGAN JARING (COCOMESH) SEBAGAI MEDIA PENGUATAN LERENG/DINDING SETTLING PONDS PADA LAHAN TAMBANG   MENGGUNAKAN BAHAN JARING SERABUT KELAPA

Sumber: http://www.rekabumi-enviro.com/  

PENDAHULUAN

Reka Bumi Enviro yang berkedudukan di Jogjakarta sudah berdiri sejak Mei 2002, kami bergerak di bidang Rekayasa Lingkungan dengan menerapkan teknologi tepat guna untuk pengelolaan lingkungan.

Berdasar kasus yang kami terima dari informasi awal, kami mencoba untuk menawarkan produk kami yaitu geojute /cocomesh (jaring sabut kelapa) yang berfungsi untuk membantu penguatan penahan settling pond yang rawan longsor di lahan tambang PT HARITA.

Penekanan pada wacana ini adalah usaha reklamasi pada lahan bekas tambang dengan cocomesh (jarring sabut kelapa) sebagai penguatan tanggul dinding settling pond agar tidak jebol diwaktu musim hujan serta penanaman rumput vetiveria zizanoides (akar wangi) sebagai kolom hidup.

Sistem kombinasi cocomesh dan hydroseeding

Bagaimanakah cara kerjanya ?

Ada beberapa tahap cara kerja pada system ini yaitu:
Dengan cara membentangkan jarring GeoNet (cocomesh) yang menggunakan media jarring nabati sehingga pada waktu pelapukan (1-2 bulan) jaring tersebut bercampur dengan tanah yang akan memperkuat agregat tanah dari pukulan air hujan maupun air kolam.

Sekaligus menahan dinding / tanggul settling ponds agar tidak jebol/longsor pada waktu musim hujan berkepanjangan
Menanam tanaman jenis rumput vetiveria ziznoidez (rumput vetiver) sebagai kolom hidup (jangkar bumi) karena akar serabut yang lurus ke bawah hingga 5.2 m sehingga mampu menahan limpasan air.

Setelah 2-3 tahun baru ditanami tumbuhan tegakan (pionir) seperti sengon, kaliandra, johar, trembesi, ketapang, angsana, mahoni, meranti, gaharu,sungkai, sawit dan kakao.

Adapun 4 tahap diatas untuk menyehatkan dan mestabilkan struktur dan kondisi tanah setelah lama dimanfaatkan keperluan lain. Beberapa cara yang kami gunakan sebagai bahan dasar pembuatan jarring tersebut adalah jaring dari bahan serabut kelapa (nabati) untuk media tanam dan penguatan lereng.

2 . Metode Pelaksanaan

GeoNet cocofiber (cocomesh)

Salah satu produk ramah lingkungan yang mulai banyak digemari karena bahan yang alami sehingga mudah terdegradasi dan tidak merusak tanah.

GeoNet Cocofiber (Cocomesh) adalah Jaring Sabut Kelapa Efektif Buat Menanggulangi Tanah Longsor dan Menambah Biomassa

Lahan bekas tambang dan khususnya settling ponds yang akan di reklamasi guna mencegah erosi dan longsor, serta akan dilakukan penghijauan saat ini dapat menggunakan GeoNet cocofiber sebagai aplikasi yang tepat, sederhana dan murah.Pada lahan bekas galian tambang atau timbunan tanah bekas galian yang terhampar di lahan bekas tambang biasanya masih miskin hara (kurang subur) sehingga akan sulit untuk ditumbuhi tanaman. Dinding settling ponds juga rawan longsor / jebol akibat hujan berkepanjangan pada dasa warsa terakhir.

TeknologiGeoNet cocofiber sebagai aplikasi tepat guna dirancang untuk siap dilakukan penghijauan sebagai tindak lanjut pengendalian lahan kritis maupun penghijauan pada lahan bekas tambang. Juga efektif menahan tanah pada slope (lereng) yang rawan longsor.

Teknologi cocomesh

Setelah selesai dilakukan instalasi GeoNet cocofiber lahan siap dilakukan penghijauan yang direncanakan. Penanaman rumput vetiver dengan sistim cocomesh akan lebih efektif jika diselingi dengan rumput lainnya seperti bahia, terutama pada dinding dan tanggul settling ponds, permukaan lahan akan tampak hijau kurang dari 1 (satu) tahun.

Bentuk cocomesh menyerupai jaring yang memiliki banyak kegunaan. Selain berfungsi memperbaiki area tanah yang kelembabannya telah hilang akibat aktivitas tertentu, cocomesh berguna mencegah erosi dan penguatan tanah di lereng bukit (slope) juga bertahan tetap lembab pada saat musim kering selain sebagai penyimpan air juga mampu memperbaiki kondisi tanah yang miskin unsur hara dengan menambah biomassa pada saat terdegradasi dengan tanah.

Jaring sabut kelapa ini tidak menimbulkan residu berbahaya. Ketika dibuat tali dan membentuk jaring, cocomesh memiliki kekuatan lebih untuk menyerap air dan menahan erosi tanah. Sifat-sifat itulah yang dimanfaatkan untuk mencegah tanah longsor di berbagai area.

Sejatinya, selain sebagai penahan/penguatan lereng, cocomesh juga bisa digunakan sebagai bahan penyubur tanah. Sifatnya bekas pakai, mampu/dapat terurai di tanah dan menjadi unsur hara.

Jadi, cocomesh bisa digunakan sebagai media penghijauan di berbagai area untuk tujuan reklamasi atau perbaikan kegunaan lahan yang terganggu akibat kegiatan usaha. Biasanya, selesai dieksplorasi, lahan bekas tambang telah sulit dihijaukan kembali. Sebab, tanahnya sudah memiliki kandungan keasaman yang sangat tinggi. Ini menyebabkan tumbuhan sulit hidup di atasnya.

Nah, dengan menggunakan cocomesh, kelembaban tanah bekas lokasi tambang bisa kembali seperti semula. Sebab, pemerintah mewajibkan para pemilik Kuasa Pertambangan (KP) mengembalikan kualitas tanah seperti sedia kala ketika belum terjadi kegiatan eksplorasi.

Reka Bumi Enviro, permintaan cocomesh masih jauh di atas kapasitas produksinya saat ini. Asal tahu saja, kapasitas produksinya sekarang sebanyak 20.000 meter persegi (m²) sebulan yang bisa dihasilkan oleh kami.

Beberapa perusahaan pertambangan seperti PT Freeport Indonesia dan PT Chevron menjadi contoh yang telah melakukan pekerjaan dengan system cocomesh, untuk system reklamasi tambang. Serta untuk pekerjaan penanggulangan erosi pada jalur pertambangan sudah dilakukan pada akses jalan di tambang Martabe, Medan, Sumatera Utara. Dan PT. Servo Muara Enim Palembang.

Hydroseeding dengan rumput Vetiver

Penanaman tanaman yang cepat tumbuh yaitu jenis rumput (vetiveria ziznoidez) dilakukan bersamaan dengan pemasangan cocomesh (GeoNett). Jarak yang dipilih adalah 1 m2 adalah 6-9 pohon/tanaman rumput vetiver.

Untuk lahan daerah slope / lereng bukit misalnya settling ponds karena di bagian bawah selalu terendam air sehingga rawan longsor (tanggul jebol) disarankan menggunakan rumput vetiver (vetiveria ziznoidez) ini dan ditanam agak rapat. Seperti diketahui bahwa rumput vetiver mempunyai akar serabut yang lurus menembus kebawah hingga 5.2 m sehingga umur 1 tahun sudah bisa membentuk seperti kolom (jangkar bumi) menahan agregat tanah dari limpasan air hujan (run-off) juga gerusan bagian bawah kolam settling ponds.

Vetiveria ziznoidez (rumput vetiver)

Akar vetiver mampu menembus lapisan setebal 15 cm yang sangat keras. Di lereng-lereng yang keras dan berbatu, ujung-ujung akar vetiver mampu masuk menembus dan menjadi semacam jangkar yang kuat. Cara kerja akar ini seperti besi kolom yang masuk kedalam menembus lapisan tekstur tanah dan pada saat yang sama menahan partikel-partikel tanah dengan akar serabutnya. Kondisi ini bisa mencegah erosi yang disebabkan oleh angin dan air.

Karakteristik fisiologi yang menguntungkan dari tanaman vetiver antara lain adalah :

  • Mempunyai densitas perakaran yang tinggi dan kedalaman melebihi 2 meter di bawah permukaan tanah. Sistem perakaran yang sangat lebat dapat memegang tanah dengan kuat sehingga dapat memperteguh agregat tanah.
  • Mempunyai tegakan batang yang kuat dan rapat, sehingga sediment yang terangkut oleh air akan tertahan pada bonggol-bonggol tanaman vetiver.
    Tahan terhadap kekeringan dan kelebihan air.

Mengingat karakteristik fisiologi tersebut maka tanaman vetiver dapat dimanfaatkan sebagai tanaman konservasi untuk memperkuat tanggul settling ponds dan bantaran sungai serta bangunan-bangunannya.

Perbedaan lereng /slope dengan vetiver dan tanpa vetiver Fungsi perakaran vetiver

Bentuk Fisik Rumput Vetiver

1. Tanaman ini merupakan tanaman tahunan yang tumbuh tegak dengan tinggi 1.5 – 2.5 m

2. Sistem perakarannya dalam dan masif , mampu masuk sangat jauh kedalam tanah. Bahkan ada yang mampu menembus hingga kedalaman 5.2 meter.

Bila ditanam di lereng-lereng keras dan berbatu, ujung-ujung akar vetiver mampu masuk menembus dan menjadi semacam jangkar yang kuat. Cara kerja akar ini seperti besi kolom yang masuk ke dalam menembus lapisan tanah, dan pada saat yang sama menahan partikel-partikel tanah dengan akar serabutnya. Kondisi seperti ini dapat mencegah erosi yang disebabkan oleh angin dan air sehingga vetiver dijuluki sebagai ”kolom hidup”.

3. Batangnya kaku dan keras , tahan terhadap aliran air dalam (0.6 – 0.8 m)

4. Jika ditanam berdekatan, membentuk baris/pagar yang rapat. Hal tersebut akan mengurangi kecepatan aliran, mengalihkan air larian dan dapat menjadi filter yang sangat efektif.

5. Tidak menghasilkan bunga dan biji yang dapat menyebar liar seperti alang-alang atau rerumputan lainnya

Keunggulan Vetiver

Keunggulan Vetiver, antara lain :

1. Tahan terhadap variasi cuaca, seperti : kekeringan panjang, banjir, genangan dan temperatur – 14º C sampai 55º C

2. Mempunyai daya adaptasi pertumbuhan yang sangat luas pada berbagai kondisi tanah, seperti :

· Pada tanah masam (mengandung mangan dan aluminium),

· Pada tanah bersalinitas tinggi dan mengandung banyak natrium,

· Pada tanah yang mengandung logam berat, seperti : Ar, Cd, Co, Cr, Pb, Hg, Ni, Se dan Zn.

· Tahan terhadap rentang pH tanah : 3 – 10.5

· Mampu menembus lapisan keras hingga kedalaman 15 cm. Dengan kemampuan tersebut, dapat bekerja sebagai paku tanah atau pasak yang hidup.

Vetiver Sistem sangat praktis, tidak mahal, mudah dipelihara, dan sangat efektif dalam mengontrol erosi dan sedimentasi tanah, konservasi air, serta stabilisasi dan rehabilitasi lahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s