Chandra Indrawanto

KAJIAN PENGEMBANGAN INDUSTRI AKAR WANGI (Vetiveria zizanoides L.) MENGGUNAKAN INTERPRETATIVE STRUCTURAL MODELLING

Analysis Of (Vetiveria zizanoides L.) Industry Development Using Interpretative Structural Modelling

Chandra Indrawanto
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Bogor

Informatika Pertanian Volume 18 No. 1, 2009 

Download file: 1.chandra_ipvol18-1-2009  

ABSTRACT

Indonesia contributes around 25% of the vetiver (Vetiveria zizanoides L.) oil In international market This small contribution put Indonesia as price taker in the market. However, it also give Indonesia an opportunity to develop its vetiver industry. For that reason, it is important to identify the elements in vetiver industry those are prioritised to be handled. This research uses a system approach in its analysis. Interpretative Structural Modelling (ISM) method has been applied to build the structure of the vetiver oil industry base on the relation between its elements and to decide the elements those are prioritised to be handled. Acquisition of expert judgement has been done by intensive interview and Focus Group Discussion (FGD) to seven vetiver experts. The analysis shows there are 10 important sub elemets of the obstacle element and 11 sub elements of goal element of the vetiver industry. The ISM analysis of the sub elements of obstacle element shows that unstable demand of vetiver oil in international market, unstable prices of vetiver oil in international market, un available of superior variety of vetiver that has high productivity and high rendemen, and a less information of technology to the vetiver farmers and agroindustry enterpreneur are independent sub elements. These sub elements have a high influence to the other sub elements but are low influnced by other sub elements. While, un adopted of recommended vetiver farming technology by the farmers, un adopted of recommended vetiver oil destilation technology by the agroindustry enterpreuners, a weak bargaining position of the farmers and agroindustry enterpreneurs in vetiver market, and Indonesian position as a price taker in international market are linkage sub elements. These sub elements have a high influence to the other sub elements and also have been high influnced by other sub elements. The ISM analysis of the sub elements of goal element shows that stabilization of the demand of vetiver root (as raw material of vetiver oil), stabilization of price of vetiver root, stabilization of the demand of vetiver oil, and stabilization of price of vetiver oil are independent sub elements. While, increasing productivity of vetiver farming, increasing efficiency of vetiver oil agro industry, increasing the quality of vetiver oil, and increasing the role of financial institution in financing vetiver farming and agro industry Kajian Pengembangan Industri Akar Wangi are linkage sub elements. The policies those have to be taken based on the ISM analysis results are: (1) The demand and the price of vetiver root and vetiver oil have to be stabilized. (2) The recommended technology of the vativer farming has to be dessiminated. (3) The recommended technology of the vetiver oil destilation has to be dessiminated. (4) The supperior variety of vetiver that has a high productivity and high rendemen oil has to be found. (5) Encouraging financial institution to finance vetiver farming and agroindustry.

Key words : development, industry, Interpretative Structural Modelling (ISM), Vetiveria zizanoides.

PENDAHULUAN

Akar Wangi (Vetiveria zizanoides L.) merupakan tanaman tahunan berbentuk rumpun dengan perakaran yang rimbun dan tumbuh lurus kedalam tanah. Tanaman ini berasal dari India, Asia Tenggara dan Afrika bagian tropis (Maffei, 2002). Tanaman akar wangi tahan terhadap logam berat, salinitas dan dapat tumbuh pada pH antara 3 – 11,5 sehingga dapat digunakan untuk merehabilitasi kondisi fisik dan kimia tanah yang rusak. Selain itu, dengan perakarannya yang rimbun, tanaman akar wangi dapat digunakan sebagai penahan erosi.

Akar tanaman akar wangi dapat diolah menjadi minyak atsiri akar  wangi atau menjadi barang-barang kerajinan tangan yang memiliki  aroma yang menarik. Sentra produksi akar wangi di Indonesia adalah  di Kabupaten Garut dengan luas areal pertanaman akar wangi sekitar 2.400 ha. Tanaman akar wangi di daerah ini digunakan untuk diolah  menjadi minyak akar wangi. Luasan pertanaman akar wangi yang lebih kecil dapat ditemukan di Kabupaten Wonosobo yang umumnya digunakan sebagai bahan pembuat kerajinan tangan.

Minyak atsiri akar wangi diperoleh melalui proses penyulingan akar  tanaman akar wangi. Minyak akar wangi memiliki aroma yang lembut dan halus yang dihasilkan oleh ester asam vetivenant, senyawa  vetiverone dan vetivenol yang sampai sekarang belum dapat dibuat  senyawa sintetisnya. Minyak akar wangi banyak digunakan sebagai  campuran pembuat parfum, kosmetik, pewangi sabun dan obat-obatan  serta dapat pula digunakan sebagai pembasmi dan pencegah serangga (Sabini, 2006).

Minyak akar wangi yang dihasilkan di Kabupaten Garut, hampir seluruhnya (>90%) diekspor. Minyak akar wangi yang berasal dari Indonesia di pasar Internasional dikenal sebagai Java vetiver oil.  Ekspor minyak akar wangi Indonesia rata-rata sekitar 60 ton per tahun atau sekitar 25% pasokan minyak akar wangi dunia (BPS, 2008). Pangsa pasar minyak akar wangi Indonesia yang relatif kecil ini  menyebabkan Indonesia hanya dapat berperan sebagai price taker,  tidak dapat menentukan harga. Namun demikian, posisi Indonesia di  pasar akar wangi dunia yang relatif kecil ini menunjukkan pula masih adanya peluang untuk pengembangan industri akar wangi dalam  negeri. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan arahan mengenai  elemen apa saja yang harus menjadi prioritas untuk diperhatikan dalam  pengembangan industri akar wangi Indonesia. Industri akar wangi  Indonesia dapat berkembang dengan baik dengan memperhatikan dan  memperbaiki kondisi elemen yang terpilih. Dengan memperhatikan dan  memperbaiki kondisi elemen yang terpilih diharapkan industri akar  wangi Indonesia dapat berkembang dengan baik.

METODOLOGI PENELITIAN

Jenis dan Sumber Data

Data dikoleksi dari pendapat pakar yang diakuisisi dengan cara diskusi kelompok secara terfokus (focuss group discussion/FGD) dari tujuh pakar akar wangi yang terdiri dari dua peneliti, dua pengusaha penyuling minyak akar wangi, dua petani akar wangi dan satu eksportir minyak akar wangi. Kriteria pakar yang dipakai adalah pakar yang telah mendalami industri akar wangi minimal lima tahun.

Penentuan elemen-elemen dan sub elemen penentu pengembangan industri akar wangi dilakukan melalui FGD hingga tercapai suatu kompromi. Setelah elemen-elemen dan sub elemen ditetapkan, ketujuh pakar diminta melakukan penilaian hubungan kontekstual antar sub elemen dari setiap elemen. FGD dan penilaian hubungan kontekstual antar sub elemen ini dilakukan pada bulan Juli 2007 di Puslitbang Perkebunan.

Metode Analisis

Penelitian ini menggunakan pendekatan sistem dengan metode Interpretative Structural Modelling (ISM). Metode ini dapat digunakan untuk membantu suatu kelompok, dalam mengidentifikasi hubungan kontekstual antar sub elemen dari setiap elemen yang membentuk suatu sistem berdasarkan gagasan/ide atau struktur penentu dalam sebuah masalah yang komplek (Saxena, 1992). Beberapa kategori struktur dan kategori gagasan/ide yang mencerminkan hubungan kontekstual antar elemen dapat dikembangkan dengan memakai ISM, seperti struktur pengaruh (misal “sub elemen Ei mempengaruhi munculnya sub elemen Ej”), struktur prioritas (misal “sub elemen Ei lebih prioritas daripada sub elemen Ej), atau gagasan/ide kategori (misal sub elemen Ei memeiliki kategori yang sama dengan sub elemen Ej) (Kanungo dan Bhatnagar, 2002).

Langkah-langkah identifikasi hubungan antar sub elemen dalam suatu sistem yang komplek dengan metode ISM adalah :

1. Identifikasi elemen-elemen sistem.

Elemen-elemen sistem dan sub elemennya sistem diidentifikasi dan didaftar. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui penelitian,
brainstorming atau lainnya.

2. Penetapan hubungan kontekstual antar elemen.

Hubungan kontekstual antar elemen atau sub elemen ditetapkan sesuai dengan tujuan dari pemodelan.

3. Pembentukan Structural Self Interaction Matrix (SSIM).

Matriks ini merupakan hasil persepsi pakar responden terhadap
hubungan kontekstual antar elemen atau antar sub elemen. Empat macam simbol untuk menyajikan tipe hubungan yang ada adalah:

a. Simbol V untuk menyatakan adanya hubungan kontekstual yang telah ditetapkan diatas antara elemen Ei terhadap elemen Ej, tetapi tidak sebaliknya.
b. Simbol A untuk menyatakan adanya hubungan kontekstual yang telah ditetapkan diatas antara elemen Ej terhadap elemen Ei, tetapi tidak sebaliknya.
c. Simbol X untuk menyatakan adanya hubungan kontekstual yang telah ditetapkan diatas secara timbal balik antara elemen Ei dengan elemen Ej
d. Simbol O untuk menyatakan tidak adanya hubungan kontekstual yang telah ditetapkan diatas antara elemen Ei dan elemen Ej

4. Pembentukan Reachability Matrix (RM)

Matriks ini adalah matriks biner hasil konversi dari SSIM. Aturan konversi dari SSIM menjadi RM adalah:

a. Jika simbol dalam SSIM adalah V, maka nilai Eij = 1 dan
nilai Eji = 0 dalam RM
b. Jika simbol dalam SSIM adalah A, maka nilai Eij = 0 dan
nilai Eji = 1 dalam RM
c. Jika simbol dalam SSIM adalah X, maka nilai Eij = 1 dan
nilai Eji = 1 dalam RM
d. Jika simbol dalam SSIM adalah O, maka nilai Eij = 0 dan nilai
Eji = 0 dalam RM

Matriks RM awal perlu dimodifikasi untuk menunjukkan direct dan indirect reachability, yaitu kondisi dimana jika Eij = 1 dan Ejk = 1 maka Eik = 1. Eij adalah kondisi hubungan kontekstual antara elemen Ei terhadap elemen Ej.

Dari matriks RM yang telah dimodifikasi didapat nilai Driver Power (DP) dan nilai dependence (D). Berdasarkan nilai DP dan D, elemenelemen dapat diklasifikasikan kedalam 4 sektor, yaitu:
a. Sektor autonomous yaitu sektor dengan nilai DP rendah dan nilai D rendah. Elemen-elemen yang masuk dalam sektor ini umumnya tidak berkaitan dengan sistem atau memiliki hubungan sedikit.

b. Sektor dependent yaitu sektor dengan nilai DP rendah dan nilai D tinggi. Elemen yang masuk dalam sektor ini elemen yang tidak bebas dalam sistem dan sangat tergantung pada elemen lain.

c. Sektor linkage yaitu sektor dengan nilai DP tinggi dan nilai D tinggi. Elemen yang masuk dalam sektor ini harius dikaji secara hati-hati karena perubahan pada elemen tersebut akan berdampak pada elemen lainnya dan yang pada akhirnya akan kembali berdampak pula pada elemen tersebut.

d. Sektor independent yaitu sektor dengan nilai DP tinggi dan nilai D rendah. Elemen yang masuk dalam sektor ini dapat dianggap sebagai elemen bebas. Setiap perubahan dalam elemen ini akan berimbas pada elemen lainnya sehingga elemen-elemen dalam sektor ini juga harus dikaji secara hatihati.

5. Pembuatan level partitioning.

Elemen-eleman diklasifikasikan kedalam level yang berbeda dari struktur ISM yang akan dibentuk. Untuk tujuan ini dua perangkat diasosiasikan dengan setiap elemen dalam sistem, yaitu reachability set (Ri) yang merupakan set elemen-elemen yang dapat dicapai oleh elemen Ei, dan antecedent set (Ai) yang merupakan set elemen-elemen dimana elemen Ei dapat dicapai.

6. Pembentukan canonical matrix.

Pada matriks ini elemen-elemen dengan level yang sama dikelompokkan. Matriks ini selanjutnya digunakan untuk mempersiapkan digraph.

7. Digraph.

Digraph adalah sebuah grafik dari elemen-elemen yang saling berhubungan secara langsung, dan level hierarki.

8. Membangkitkan ISM dengan memindahkan seluruh jumlah elemen dengan deskripsi elemen aktual.

ISM memberikan deskripsi yang sangat jelas dari elemen-elemen sistem beserta alur hubungannya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Identifikasi Elemen dan Sub Elemen

Hasil diskusi kelompok dengan para pakar diperoleh dua elemen  yang perlu dikaji untuk pengembangan industri akar wangi, yaitu elemen tujuan dan elemen kendala. Dari kedua elemen tersebut dikaji dan diuraikan menjadi sub elemen berdasarkan pendapat para pakar,  dilanjutkan dengan penilaian hubungan kontekstual antar sub elemen dari setiap elemen pengembangan industri akar wangi. Sub elemen dari elemen kendala yang teridentifikasi adalah:

  1. Permintaan minyak akar wangi dipasar internasional yang tidak stabil (K1)
  2. Harga minyak akar wangi dipasar internasional yang tidak stabil (K2)
  3. Petani tidak menerapkan teknologi budidaya anjuran (K3)
  4. Penyuling tidak menerapkan teknologi penyulingan anjuran (K4)
  5. Belum adanya varietas akar wangi dengan produktivitas dan kadar minyak tinggi (K5)
  6. Lemahnya petani akar wangi dalam mengakses modal pada
    lembaga keuangan (K6)
  7. Lemahnya pengusaha agroindustri akar wangi dalam mengakses modal pada lembaga keuangan (K7)
  8. Indonesia hanya sebagai price taker pada perdagangan minyak akar wangi dunia (K8)
  9. Pengusaha agroindustri dan petani tidak berdaya dalam penentuan harga (K9)
  10. Kurangnya pembinaan terhadap petani dan penyuling akar wangi (K10)

Sub elemen dari elemen tujuan yang teridentifikasi adalah :

  1. Meningkatkan produktivitas usahatani akar wangi (T1)
  2. Menstabilkan permintaan terna akar wangi (T2)
  3. Meningkatkan dan menstabilkan harga terna akar wangi (T3)
  4. Meningkatkan pendapatan petani akar wangi (T4)
  5. Meningkatkan efisiensi agroindustri penyulingan akar wangi (T5)
  6. Menstabilkan permintaan minyak akar wangi (T6)
  7. Meningkatkan dan menstabilkan harga minyak akar wangi (T7)
  8. Meningkatkan mutu minyak akar wangi (T8)
  9. Meningkatkan pendapatan usaha agroindustri akar wangi (T9)
  10. Meningkatkan bantuan pemodalan usahatani dan agroindustri akar wangi oleh lembaga keuangan (T10)
  11. Meningkatkan share Indonesia dipasar internasional (T11)

Diharapkan jika setiap sub elemen dari elemen tujuan ini dapat tercapai dan setiap kendala yang ada dapat diatasi maka kinerja industri akar wangi Indonesia dapat meningkat.

Kendala Pengembangan Industri Akar Wangi

Hubungan kontekstual antar sub elemen dalam elemen kendala adalah sub elemen yang satu menyebabkan terjadinya sub elemen kendala yang lain. Hasil analisis menggunakan ISM terhadap elemen kendala menghasilkan tabel RM seperti terlihat pada tabel 2, sedangkan struktur elemen kendala pengembangan industri akar wangi seperti tersaji dalam Gambar 3. Sub elemen permintaan minyak akar wangi dipasar internasional yang tidak stabil (K1), harga minyak akar wangi dipasar internasional yang tidak stabil (K2), belum adanya varietas akar wangi dengan produktivitas dan kadar minyak tinggi (K5) dan kurangnya pembinaan terhadap petani dan penyuling akar wangi (K10) menjadi dasar bagi sub elemen lainnya. Apabila keempat kendala tersebut dapat diatasi, maka dapat mencegah atau mengatasi terjadinya kendala petani tidak menerapkan teknologi budidaya anjuran (K3), penyuling tidak menerapkan teknologi penyulingan anjuran (K4), Indonesia hanya sebagai price taker dalam perdagangan minyak akar wangi dunia (K8) dan pengusaha agroindustri dan petani tidak berdaya dalam penentuan harga (K9). Dengan teratasinya kedelapan kendala tersebut maka diharapkan dua kendala yang lain yaitu lemahnya petani akar wangi dalam mengakses modal pada lembaga keuangan (K6) dan lemahnya pengusaha agroindustri akar wangi dalam mengakses modal pada lembaga keuangan (K7) dapat diatasi.

 

Pengembangan Industri Akar wangi.

Klasifikasi sub elemen kendala berdasarkan nilai DP dan D (Gambar 2) menempatkan sub elemen permintaan minyak akar wangi dipasar internasional yang tidak stabil (K1), harga minyak akar wangi   dipasar internasional yang tidak stabil (K2), belum adanya varietas akar wangi dengan produktivitas dan kadar minyak tinggi (K5) dan kurangnya pembinaan terhadap petani dan penyuling akar wangi (K10) pada sektor independent. Hal ini berarti keempat sub elemen tujuan tersebut merupakan sub elemen kunci karena sangat mendorong timbulnya sub elemen kendala lainnya akan tetapi timbulnya kendala ini sangat sedikit dipengaruhi oleh sub elemen kendala lainnya.

Sub elemen kendala petani tidak menerapkan teknologi budidaya anjuran (K3), penyuling tidak menerapkan teknologi penyulingan anjuran (K4), Indonesia hanya sebagai price taker dalam perdagangan minyak akar wangi dunia (K8) dan pengusaha agroindustri dan petani tidak berdaya dalam penentuan harga (K9) menempati sektor linkage. Hal ini berarti timbulnya keempat kendala tersebut sangat didorong oleh timbulnya sub elemen kendala lainnya sekaligus juga akan sangat mendorong timbulnya sub elemen kendala yang lain, oleh karena itu sub elemen ini harus ditangani secara hati-hati, sedangkan sub elemen lemahnya petani akar wangi dalam mengakses modal pada lembaga  keuangan (K6) dan lemahnya pengusaha agroindustri akar wangi dalam mengakses modal pada lembaga keuangan (K7) berada pada sektor dependent. Hal ini berarti timbulnya kendala sub elemen ini sangat dipengaruhi oleh timbulnya kendala sub elemen lainnya akan tetapi tidak atau sedikit mempengaruhi timbulnya sub elemen kendala lain.

Hasil analisis sub elemen kendala dengan ISM ini menunjukkan bahwa kendala ketidakstabilan permintaan minyak akar wangi serta ketidakstabilan harga minyak akar wangi di pasar internasional menyebabkan ketidakstabilan permintaan dan harga minyak akar wangi didalam negeri yang kemudian tentunya membuat permintaan dan harga terna akar wangi menjadi tidak stabil pula. Hal ini disebabkan industri akar wangi Indonesia sangat tergantung pada pasar internasional mengingat lebih dari 90% produksi minyak akar wangi Indonesia diekspor dan posisi Indonesia yang hanya sebagai price taker dipasar internasional. Kondisi permintaan dan harga minyak dan terna akar wangi didalam negeri yang sangat fluktuatif ini menyebabkan keuntungan usahatani akar wangi serta keuntungan usaha agroindustri penyulingan akar wangi menjadi fluktuatif dan rendah (Indrawanto, et al. 2007).

Tingkat keuntungan yang fluktuatif dan rendah ditambah belum terdapatnya varietas unggul akar wangi dengan produktivitas dan kadar minyak tinggi serta kurangnya pembinaan terhadap petani dan pengusaha akar wangi menyebabkan petani tidak menerapkan teknologi budidaya anjuran dan penyuling akar wangi tidak menerapkan teknologi penyulingan anjuran. Hal ini mengakibatkan produktivitas usahatani dan efisiensi agroindustri penyulingan menjadi rendah dan tentunya mengakibatkan semakin rendahnya pendapatan yang diterima petani dan penyuling akar wangi. Akibat lebih lanjut akses petani dan pengusaha penyuling akar wangi terhadap sumber modal dari lembaga keuangan menjadi lemah, yang mengakibatkan semakin menurunkan kinerja industri akar wangi Indonesia.

Tujuan Pengembangan Industri Akar wangi

Hubungan kontekstual antar sub elemen dalam elemen tujuan adalah sub elemen yang satu memberikan kontribusi terhadap tercapainya sub elemen tujuan yang lain. Hasil analisis menggunakan ISM terhadap elemen tujuan menghasilkan tabel RM seperti terlihat pada tabel 1. Berdasarkan tabel RM tersebut dapat dibuat struktur elemen tujuan pengembangan industri akar wangi seperti tersaji dalam Gambar 1. Sub elemen yang berkaitan dengan permintaan dan harga akar wangi, yaitu menstabilkan permintaan terna akar wangi (T2), meningkatkan dan menstabilkan harga terna akar wangi (T3),  menstabilkan permintaan minyak akar wangi (T6) serta meningkatkan dan menstabilkan harga minyak akar wangi (T7) ternyata menjadi dasar bagi sub elemen lainnya. Apabila keempat tujuan tersebut dapat tercapai maka akan dapat mendorong tercapainya tujuan meningkatkan produktivitas usahatani akar wangi (T1), meningkatkan efisiensi agroindustri penyulingan akar wangi (T5), meningkatkan mutu minyak akar wangi (T8) dan meningkatkan bantuan pemodalan usahatani dan agroindustri akar wangi oleh lembaga keuangan (T10). Selanjutnya apabila kedelapan tujuan tersebut dapat dicapai maka akan mendorong tercapainya tujuan meningkatkan pendapatan petani akar wangi (T4),  meningkatkan pendapatan usaha agroindustri akar wangi (T9), dan Meningkatkan share Indonesia dipasar internasional (T11).

Klasifikasi sub elemen tujuan berdasarkan nilai DP dan D seperti terlihat pada Gambar 2 menempatkan sub elemen menstabilkan permintaan terna akar wangi (T2), meningkatkan dan menstabilkan harga terna akar wangi (T3), menstabilkan permintaan minyak akar wangi (T6) dan meningkatkan dan menstabilkan harga minyak akar wangi (T7) pada sektor independent. Hal ini berarti keempat sub elemen tujuan tersebut memberikan kontribusi yang sangat tinggi terhadap tercapainya sub elemen tujuan lainnya akan tetapi tercapainya keempat sub elemen tujuan tersebut sangat sedikit dipengaruhi oleh tercapainya sub elemen tujuan lainnya. Sub elemen ini berarti sub elemen kunci yang perlu lebih diperhatikan.

Sub elemen meningkatkan produktivitas usahatani akar wangi (T1),  meningkatkan efisiensi agroindustri penyulingan akar wangi (T5),  meningkatkan mutu minyak akar wangi (T8) dan meningkatkan bantuan pemodalan usahatani dan agroindustri akar wangi oleh lembaga  keuangan (T10) menempati sektor linkage. Hal ini berarti tercapainya  tujuan keempat sub elemen tersebut sangat dipengaruhi oleh  tercapainya sub elemen lain sekaligus juga sangat mempengaruhi  tercapainya sub elemen lain pula, oleh karena itu sub elemen ini harus ditangani secara hati-hati, sedangkan sub elemen meningkatkan  pendapatan petani akar wangi (T4), meningkatkan pendapatan usaha  agroindustri akar wangi (T9), dan Meningkatkan share Indonesia  dipasar internasional (T11) berada pada sektor dependent. Hal ini  berarti tercapainya tujuan sub elemen ini sangat dipengaruhi oleh  tercapainya sub elemen tujuan lainnya akan tetapi tidak atau sedikit mempengaruhi ketercapaian sub elemen tujuan lain.

Hasil analisis sub elemen tujuan dengan ISM ini menunjukkan tujuan  menstabilkan permintaan dan harga minyak akar wangi dan terna akar  wangi merupakan dasar untuk mencapai tujuan lainnya. Permintaan  dan harga terna akar wangi yang stabil dan tinggi akan mendorong  petani akar wangi meningkatkan produktivitas usahatani akar wanginya,  sedangkan permintaan dan harga minyak akar wangi yang tinggi akan  mendorong pengusaha agroindustri penyulingan meningkatkan efisiensi usaha dan mutu minyak akar wanginya, yang pada akhirnya akan  meningkatkan pendapatan petani dan penyuling akar wangi. Dampak  lebih lanjut dari peningkatan keuntungan usahatani dan agroindustri penyulingan adalah meningkatnya bantuan pemodalan untuk  pengembangan usahatani dan agroindustri penyulingan sehingga akan  mendorong peningkatan pangsa pasar minyak akar wangi Indonesia dipasar internasional.

KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN

Kesimpulan dan implikasi kebijakan yang perlu diambil sebagai upaya pengembangan industri akar wangi Indonesia berdasarkan hasil ISM diatas adalah:

Kesimpulan

1. Kendala ketidakstabilan permintaan dan harga akar wangi dipasar internasional, belum terdapatnya varietas akar wangi dengan produktivitas dan kadar minyak tinggi serta kendala utama yang harus diatasi untuk mengembangkan industri akar wangi Indonesia, yaitu kurangnya pembinaan terhapat petani dan penyuling akar wangi. Apabila keempat kendala tersebut dapat diatasi maka kendala lainnya akan dapat dicegah atau diatas.

2. Menstabilkan permintaan terna dan minyak akar wangi serta meningkatkan dan menstabilkan harga terna dan minyak akar wangi merupakan tujuan utama yang harus dicapai untuk mengembangkan industri akar wangi Indonesia. Apabila keempat tujuan tersebut dapat diraih maka akan mendorong tercapainya tujuan lain.

Implikasi Kebijakan

1. Perlunya upaya untuk menstabilkan permintaan dan harga terna serta permintaan dan harga minyak akar wangi.

Upaya ini dapat dilakukan melalui pembentukan kerjasama perdagangan antara lima stakeholder yang terlibat, yaitu petani sebagai produsen bahan baku, penyuling sebagai pengolah terna menjadi minyak akar wangi, koperasi atau badan swasta sebagai penampung minyak akar wangi dari penyuling, eksportir yang membeli minyak akar wangi dari koperasi atau badan swasta yang kemudian akan menjualnya kepada pemakai akhir diluar negeri.

Salah satu bentuk kerjasama yang saat ini sedang dirintis adalah program kerjasama perdagangan kultivar akar wangi (Indrawanto, 2008). Dalam program kerjasama ini semua stakeholder yang terlibat bersepakat untuk mengatur harga agar tidak terjadi fluktuasi harga yang tidak menguntungkan bagi semua pihak. Tingkat harga disetiap jenjang rantai tataniaga akar wangi tersebut ditentukan berdasarkan kesepakatan bersama. Harga terna akar wangi yang diterima petani ditentukan berdasarkan biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi terna ditambah keuntungan yang wajar bagi petani, harga minyak akar wangi yang diterima petani ditentukan berdasarkan harga pembelian terna akar wangi ditambah biaya memproduksi minyak akar wangi dan keuntungan yang wajar bagi penyuling, harga minyak akar wangi yang diterima koperasi atau badan swasta selaku pedagang pengumpul ditentukan berdasarkan harga pembelian minyak akar wangi dari penyuling ditambah biaya operasional dan keuntungan yang wajar bagi koperasi/badan swasta, harga minyak akar wangi yang diterima eksportir ditentukan berdasarkan harga pembelian minyak akar wangi dari koperasi atau badan swasta ditambah biaya operasional dan keuntungan yang wajar bagi eksportir. Harga ditingkat eksportir ini merupakan harga akhir yang harus dibayarkan oleh pemakai minyak akar wangi (Gambar 3). Harga akhir yang tinggi akan memberatkan pemakai akhir, sedangkan harga akhir yang rendah akan memberatkan stakeholder lainnya karena akan menerima tingkat keuntungan yang rendah. Kedua kondisi tersebut akan berakibat pada tidak berjalannya program kultivar. Oleh karena itu perlu ditentukan tingkat harga yang seimbang dan adil bagi seluruh stakeholder.

2. Perlu upaya desiminasi teknologi budidaya akar wangi anjuran untuk meningkatkan produktivitas.

Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik telah membuat rekomendasi teknologi budidaya akar wangi yang baik yang dapat meningkatkan hasil hingga sekitar 20 ton terna per ha (Hobir,  2006), tetapi teknologi budidaya ini belum diterapkan oleh petani  sehingga produktivitas usahatani akar wangi petani saat ini hanya  sekitar 11 ton terna per ha. Upaya desiminasi teknologi budidaya  diharapkan akan mendorong penerapan teknologi budidaya akar wangi anjuran sehingga akan meningkatkan produktivitas.

3. Perlu upaya desiminasi teknologi penyulingan akar wangi anjuran  untuk meningkatkan mutu dan rendemen.

Agroindustri penyulingan akar wangi di Kabupaten Garut ada  sebanyak 33 usaha dengan 43 ketel penyulingan sistem uap-air  (Dinas Pertanian, Perkebunan dan Hortikultura Kabupaten Garut, 2007).

Kapasitas 43 ketel rata-rata adalah 500 liter dengan lama penyulingan 12 jam dan menggunakan tekanan sekitar 4 atmg. Bahan baku terna akar wangi yang digunakan umumnya dalam kondisi kering angin dan disuling bersama bonggolnya. Dengan cara ini rendemen minyak akar wangi yang diperoleh hanya sekitar 0,3%, akan tetapi jika bahan baku terna akar wangi yang digunakan dalam kondisi kering jemur dengan kadar air sekitar 15%, tekanan yang dipakai antara 1 – 3 atmg, maka tingkat rendemen akar wangi yang didperoleh akan meningkat menjadi sekitar 1,31%.

Peningkatan ini akan mengurangi biaya produksi persatuan unit minyak akar wangi sehingga akan meningkatkan pendapatan penyuling serta meningkatkan daya tahan usaha agroindustri penyulingan akar wangi terhadap fluktuasi harga terna akar wangi maupun harga minyak akar wangi (Indrawanto, 2006).

4. Perlu dicari varietas unggul akar wangi yang memiliki tingkat  produktivitas terna tinggi dan memiliki kadar minyak tinggi.

Penerapan teknologi anjuran budidaya usahatani akar wangi dapat meningkatkan produktivitas dan penerapan teknologi anjuran penyulingan minyak akar wangi dapat meningkatkan rendemen, tetapi hingga saat ini belum tersedia varietas unggul akar wangi.  Varietas akar wangi unggul, akan lebih meningkatkan produktivitas terna akar wangi dan meningkatkan rendemen minyak akar wangi.

5. Perlu suatu upaya mendorong lembaga keuangan untuk turut serta membantu pembiayaan usahatani dan agroindustri penyulingan akar wangi.

Tingkat harga minyak akar wangi dan terna akar wangi yang fluktuatif menyebabkan tingkat keuntungan yang diperoleh petani dan pengusaha penyuling juga berfluktuatif. Tingkat fluktuatif keuntungan ini menjadi lebih besar karena terdapat resiko  kegagalan panen akar wangi serta resiko dalam proses agroindustri. Kondisi ini menyebabkan lembaga keuangan menjadi  enggan untuk menyalurkan bantuan pembiayaan usahatani dan  agroindustri akar wangi. Dipihak lain, petani menjadi tidak berminat  memperoleh pembiayaan dari lembaga keuangan karena  terdapatnya resiko tidak dapat mengembalikan pinjaman beserta  bunga pinjaman. Untuk itu perlu dikembangkan pembiayaan  dengan pola syariah dengan memakai sistem bagi hasil dan bagi  resiko atau sistem mudharabah untuk pembiayaan usahatani dan  agroindustri akar wangi. Dengan sistem ini pihak Lembaga  Keuangan Syariah (LKS) dan pihak petani dapat memperhitungkan  resiko pembiayaan yang ada. Hasil penelitian Indrawanto (2007)  memperlihatkan pembiayaan usahatani dan agroindustri akar wangi  dengan pola syariah memberikan keuntungan yang baik bagi LKS  dan menghindarkan petani dari resiko tidak dapat mengembalikan  pinjaman.

DAFTAR PUSTAKA

BPS, 2008. Statistik Ekspor Indonesia 2007. BPS – Jakarta. P. 80-83

Dinas Pertanian, Perkebunan dan Hortikultura Kabupaten Garut, 2007. Rekapitulasi Data Agroindustri Minyak Atsiri. Garut. P. 13-14

Hobir, Ma’mun, C. Indrawanto. S. Purwiyanti dan S. Suhirman. 2006. Budidaya Akar wangi. Circular – Balittro. Bogor. P 1-15

Indrawanto, C. 2006. Analisis Finansial Agroindustri Penyulingan Akar  wangi di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Perkembangan  Teknologi Tanaman Rempah dan Obat. Puslitbang Perkebunan, Bogor. P. 78 – 83.

Indrawanto C. 2007. Rekayasa Model Evaluasi Kelayakan Pembiayaan Agroindustri Minyak Atsiri Dengan Pola Syariah. Disertasi.  Sekolah Pasca Sarjana IPB. P. 1 – 169

Indrawanto, C., Eriyatno, A.M. Fauzi, Machfud, Sukardi dan N. Sutrisno.  2007. Prakiraan Harga Akar wangi: Aplikasi Metode Jaringan  Syaraf Tiruan. Jurnal Penelitian Tanaman Industri. Puslitbang Perkebunan. Bogor. P 14 – 19.

Kanungo S dan V.V. Batnagar, 2002. Beyond Generic Models for Information System Quality : The Use of Interpretative Structural  Modelling (ISM). Journal of System Research and Behavior Science. Vol. 19 (2), P 531:549.

Maffei, M. 2002. Introduction to the genus vetiveria. Taylor and
Francis, London. P 1-19

Sabini, D. 2006. Aplikasi Minyak Atsiri pada Produk Home Care dan  Personal Care. Prosiding Konferensi Nasional Minyak Atsiri 2006. Departemen Perindustrian. P. 11 – 19

Saxena, J. P. 1992. Hierarchy and Classification of Program Plan  Element Using Interpretative Structural Modelling. Systems Practice, Vol. 12 (6), P 651:670

One Response to Chandra Indrawanto

  1. Franz Limiart PJ says:

    saya pernah menyuling akar wangi produksi kebun sendiri yang saya usahakan dengan metoda penanaman yang jauh berbeda dengan petani pada umumnya dan hanya menggunakan kotoran sapi dan kotoran domba sebagai pupuknya. Dari 1.000 m2 lahan yg saya uji coba menghasilkan akar sebanyak 400 kg kering angin, disuling di penyulingan dengan system uap pada tekanan maksimal 3 bar dan didapat hasil sebanyak 3,7 kg dengan warna seperti minyak sayur merk vetco. Pertanyaannnya apakah hjasil tersebut baik atau tidak bila ternyata baik maka saya tidak keberatan membagi cara budidaya dan memilih benihnya. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s